My heart that is stained with a belated self-hatred
Gets emptied even by that wind brushing by
—Outro Tear, Bangtan Seonyeondan
An AgonUnsui fanfiction
Tear
By Lala-chan ssu
Disclaimer: Eyeshield 21 milik Riichiro Inagaki dan Yuusuke Murata, Yesterday belong to The Beatles and Tear belongs to BTS and BigHit
Warning: Many OCs, Incest, omegaverse AU, mpreg, angst, OOC, TYPO, trigger warning, timeline after Enma, dll
ADA ORANG KETIGA DI CHAP INI GAIS
Read at your own risk
~~oo00oo~~
Chapter 16: Yesterday
~~oo00oo~~
Kemarin
Seluruh masalahku terasa sangat jauh
Sejak ia lulus dari kuliahnya, ia sudah terbiasa hidup sendirian. Bangun di pagi hari tanpa ada seorang pun yang menyapanya, bersiap berangkat kerja sendirian, dan pulang disapa oleh keheningan. Karena itu seharusnya bangun pagi hanya disapa udara dingin sudah biasa baginya.
Seharusnya menjadi kata kuncinya.
Unsui mengerang. Ia harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum liburan musim dingin. Yang berarti pekerjaannya harus selesai dalam waktu kurang dari seminggu. Ia membuka ponselnya untuk mengecek apa saja yang harus diselesaikan dan disapa dengan ratusan pesan tak terbaca. Paling banyak ada dari grup kelas di mana ia menjadi wali kelas tahun itu. Entah kenapa ia dimasukan ke dalam grup itu meski akhirnya murid-muridnya hanya bercanda dan mengirimkan gambar dan stiker aneh.
Matanya berhenti melihat chat terakhir dari Agon. 5 hari yang lalu. Ia menekan balon chatnya dan mendapati adiknya terakhir mengecek chat sekitar 23 menit yang lalu.
Ia mengetikkan satu kata sebelum akhirnya ia hapus. Ia menggeleng dan membuka laptopnya. Mengerjakan pekerjaan yang ia tinggalkan beberapa hari, dan mencoba melupakan apa yang terjadi berhari-hari lalu.
~~oo00oo~~
Sekarang rasanya seolah mereka memilih untuk tinggal
Aku percaya pada hari kemarin
~~oo00oo~~
Udara yang semakin dingin dan perutnya yang keroncongan mengingatkannya akan waktu. Sudah pukul setengah satu lewat dan ia hampir tak pergi dari posisi duduknya. Hanya sempat menyeduh air untuk teh dan mengambil selembar roti. Biasanya bila ada Agon dia akan protes jika tak ada sarapan.
Unsui menumpukan sikunya ke meja. Kedua telapak tangan menyentuh bibirnya, mengingat sensasi bibir mereka yang saling menyapu satu sama lain. Satu sentuhan halus, dan bebannya akan sentuhan fisik menghilang. Selama ini yang ia ingat adalah ketika mulutnya dibungkam paksa, tak dibolehkan berteriak. Tak dibolehkan untuk berhenti. Tak bisa kabur.
Kemarin itu berbeda.
"Ukhh…" kepalanya rasanya ingin pecah memikirkan itu. Ia memutuskan untuk menyimpan progress pekerjaannya dan membuat makanan. Apapun itu, meski rasanya ia ingin tenggelam dalam pekerjaannya dan tak bertemu siapapun. Setidaknya ia tak perlu keluar rumah hingga pekerjaannya selesai.
"...tidak ada makanan."
Unsui makin menghela napas kasar. Tentu saja, sudah berapa hari ia tak ada di rumah ini. Akhirnya mau tak mau ia meraih jaket dan mengambil dompet. Berjalan keluar rumah dan berharap ia tak akan bertemu siapapun.
Perjalanan menuju ke supermarket hanya memakan beberapa menit. Lagipula ia hanya membeli beberapa keperluan saja. Agon mungkin tak akan kembali lagi jadi ia hanya akan membeli sedikit barang.
Tapi anehnya meski dengan pikiran begitu ia tetap membeli sedikit lebih banyak.
Ia merapatkan jaketnya dengan satu tangan sementara tangan lainnya memegang kantung belanjaan. Helaan napasnya membentuk asap tebal menandakan betapa dinginnya suhu hari itu. Tak banyak orang yang berlalu-lalang di jalan karena dinginnya udara. Ditambah ini masih di jam kerja.
Satu hal yang ia sadari, jalannya jadi semakin melambat. Selain karena tubuhnya dirasa semakin berat, rasa lelah mudah menghampirinya sekarang. Belum lagi masalah yang seolah tak bosan menghampirinya.
"Ini karma masa lalu atau apa sih?" gerutu Unsui seiring ia berjalan. Saat ia memasuki distrik perbelanjaan, banyak hiasan natal sudah terpajang di seluruh distrik. Mulai dari hiasan langit-langit, bahkan pohon natal sudah disiapkan di tengah-tengah jalan tempat orang beristirahat. Benar juga, sebentar lagi natal. Yang berarti liburan musim dingin akan segera datang.
"Kalau tidak salah jawaban ujian sudah diberikan. Harus segera dinilai."
Tapi tentu saja dunia tidak ingin Unsui berfokus ke pekerjaannya. Tapi, hei. Dunia memang kadang bajingan.
Di antara pikirannya, kantung belanjaannya terlepas dari genggamannya dan menjatuhkan beberapa barang. Unsui menghela napas lelah dan mencoba mengambil barang-barangnya, sampai ia melirik dari ujung matanya ada yang membantu mengambil barang lain yang tercecer.
"Ah, terima kasih banyak.
"Tidak biasanya kau bengong, Unsui-san."
Suara yang familiar. Unsui menoleh dan dilihatnya sepasang emerald dan senyuman tertoreh lebar.
"…Riku?"
"Yo. Sendirian saja?"
Riku menyerahkan barangnya dan membantunya berdiri tegap. Unsui sedikit kebingungan kenapa Riku melakukan itu. Ia sendiri ingat Riku tak ada saat ia bertemu dengan rekan-rekan Enmanya. Kalau tidak salah, Riku kini bekerja sebagai dokter hewan dan sesekali masih membantu dosen Enma untuk memberi kuliah. Dan sepertinya salah satu kuliahnya dijalankan di Kyoto dan ia harus ke sana selama satu semester.
"Sejak kapan kau kembali ke Tokyo?" tanya Unsui langsung, membuat Riku terkekeh.
"Sebenarnya baru kemarin. Dan aku baru ingat ada banyak barang yang sudah habis di rumahku jadi aku keluar untuk belanja sebentar. Unsui-san sendiri?"
"Sama sepertimu, kurasa." Jawabnya kalem. Mereka saling bertatapan sejenak, sampai Riku berdeham.
"Aku dengar dari Sena soal…kondisimu." Ujar Riku. Unsui mengangguk. Tentu saja Sena memberitahunya.
"Kau baik-baik saja, Unsui-san?" tanya Riku. Unsui mengangkat alis.
"Seperti yang kau lihat." jawab Unsui kalem. Riku hanya terkekeh dan mengusap lehernya mendengar jawaban ambigu seperti itu.
"Aku senang jika Unsui-san merasa baik-baik saja. Tapi akan lebih baik jika kau memang merasa butuh bantuan, kau mengatakannya pada orang lain."
Kalimat begitu lagi. Ia sudah sering mendengarnya, tapi apakah siapapun bisa menyalahkannya? Ia terbiasa mengandalkan dirinya sendiri.
"Udara semakin dingin, ya." Riku memasukan kedua tangannya ke kantung jaketnya. "Apa mau kubantu membawa belanjaanmu?"
"Hah? Tidak, tidak usah. Nanti merepotkan."
"Aku tidak merasa repot, kok." Riku terkekeh dan mengambil sebuah kantung dari tangan Unsui. "Apartemenmu masih yang lama?"
"Eh? Ya... masih..."
"Kalau begitu tidak jauh dari sini, kan? Ayo. Makin lama makin dingin."
Riku menarik tangannya pelan. Unsui refleks menarik tangannya, membuat mereka saling menatap dalam kecanggungan. Riku menelan ludah dan tersenyum.
"Ayo."
"...ung."
Mereka berjalan beriringan, membelah jalan yang kini lebih ramai. Riku memasukkan kedua tangannya ke saku, menahan dingin. Sesekali ia memperlambat langkahnya agar Unsui tak tertinggal jauh darinya. Meski ia sadar sejak awal langkahnya tetap tak sepanjang Unsui, tapi sepertinya dengan kondisi saat ini langkah Riku agak lebih cepat.
Mereka sampai di apartemen Unsui tanpa bertukar kata apapun. Unsui membuka kunci pintu dan membiarkan pintu terbuka, menaruh belanjaan yang ia bawa diikuti oleh Riku. Riku berbalik dan tersenyum.
"Nah, sekarang kau sudah pulang dengan selamat. Kalau begitu, aku kembali du—"
"Ah, tunggu." Unsui menahan tangannya. Riku mengerjap. Unsui berjalan menuju kompor dan menyalakannya, dengan teko air panas di atasnya.
"Kau sudah membantuku, ditambah di luar dingin. Duduklah dulu." ujarnya. Riku langsung menggeleng, gelagapan.
"T-tidak usah. Unsui-san sibuk, kan? Aku akan segera pulang."
"Aku tidak enak sudah merepotkanmu." Unsui terkekeh. "Tidak apa. Duduklah."
"K-kalau begitu, permisi."
Riku duduk sementara Unsui menyeduh teh untuk mereka. Sebuah laptop yang sedikit terbuka dan beberapa catatan berserakan di depannya. Sedikit rasa khawatir menelisik di dadanya. Ia tahu sejak masa kuliah dulu pun Unsui selalu memaksakan dirinya mengerjakan semua pekerjaannya dan sedikit sekali beristirahat. Meski berkali-kali ia mengatakan ia tahu batasan dirinya sendiri, ada sesuatu dalam dirinya yang terus membuatnya khawatir akan mantan kaptennya itu.
"Ini tehnya." Unsui menaruh dua cangkir teh di meja dan sebuah mangkuk berisi cemilan, sambil merapikan catatan dan laptopnya dari meja. "Maaf berantakan, sebentar lagi akhir semester dan aku harus menyiapkan rapor anak-anak."
"Tidak masalah, aku tahu kok." Riku tersenyum dan menyesap tehnya. "Tapi jangan terlalu paksakan dirimu, Unsui-san."
"Iya, iya aku tahu." Unsui tersenyum. "Kau orang kesekian yang memberitahuku hal itu."
"Itu karena banyak yang mengkhawatirkanmu, kan?"
Unsui terkekeh kecil. Riku meletakkan cangkirnya, berdehem sejenak.
"Jadi, pekerjaanmu sudah selesai di Kyoto?" tanya Unsui. Riku menoleh dan tersenyum.
"Sebenarnya aku diminta memperpanjang waktu mengajarku di sana. Meski aku belum memutuskan." jelas Riku. "Kebetulan sudah liburan musim dingin di tempatku mengajar, jadi kupikir aku bisa pulang dan memikirkannya."
"Begitu, ya." gumam Unsui. "Kau sendiri sebenarnya ingin mengambilnya atau tidak?"
"Ya sebenarnya aku ingin berfokus bekerja di klinik hewan sekitar sini saja, namun rasanya tak enak menolak tawaran dosenku. Ditambah juniorku pasti kewalahan mengajar sendirian."
"Hoo, kau di sana tak sendirian?" tanya Unsui. Entah kenapa ia jadi tertarik dengan pengalaman Riku. Riku mengangguk.
"Dia lulusan universitas di Kyoto. Kami baru bertemu saat awal semester ini karena kami dipasangkan mengajar kelas yang sama." Riku menyisip tehnya lagi. "Dia orang yang cerdas, tapi masih terasa dia sering ragu-ragu menyampaikan sesuatu. Tapi dia sangat teliti. Sesuatu yang kuakui, tak kukuasai."
Mendengar itu, Unsui refleks tertawa lepas. Riku mengerjap lalu menyunggingkan senyuman juga.
"Apa itu, Unsui-san setuju aku bukan orang teliti?"
"Ya, mengingat bagaimana kau dulu, selalu meninggalkan tugas di ruang klub dan datang ke kelas terlambat..." Unsui menumpukan sikunya di meja. "Sepertinya kau bertemu rekan yang cocok denganmu."
"Iya..." Riku berbisik, lalu menaruh cangkir tehnya lagi. Sesaat ia nampak menunjukan ekspresi yang tak terbaca sebelum ia kembali mengulas senyum.
"Unsui-san sendiri? Bagaimana mengajari anak SMA? Aku ingin tahu perbedaannya dengan mengajar mahasiswa." tanya Riku. Unsui menggumam.
"Selama aku mengajar di SMA, rasanya tak ada hari tanpa memarahi satu murid." Unsui mengingat sambil tersenyum. "Entah yang tidak mengerjakan tugas, tidak memperhatikan pelajaran, atau bolos saat meditasi pagi."
"Terdengar berat sekali." Riku meringis. Unsui mendesah panjang.
"Tahun ini aku ditugaskan menjadi wali kelas salah satu kelas dua. Rasanya lelah setiap hari ada saja yang membuat masalah." Unsui mendengus, namun senyuman tertoreh di wajahnya. "Setiap saat aku berpikir apa ini yang dirasakan pelatih dulu saat mengurus kita semua."
"Hee...begitu, ya."
"Ah, tapi biasanya mereka anak-anak yang baik kok." Unsui mengibaskan tangannya. "Entah kenapa mereka memasukanku ke grup mereka meski akhirnya mereka asik sendiri mengatakan hal yang tak kumengerti."
"Hahaha, ketika kita tak mengerti perkataan anak SMA artinya kita sudah terlalu tua, kan?"
"Ayolah kita bahkan tak setua itu."
"Lalu kau sendiri?" Unsui mengambil sebuah cemilan dan menatap Riku. "Bagaimana rasanya mengajar mahasiswa?"
"Sepertinya sedikit lebih rumit." Riku tertawa kecil. "Karena mereka sudah dewasa dan jarak umurku dengan mereka lebih mirip kakak-adik dibanding murid dan pengajar, mereka lebih berani bicara balik. Adu argumen dengan mereka benar-benar tak mudah." Riku tertawa. Unsui mengangguk mendengarnya.
"Tapi itu hal bagus, kan? Itu tandanya mereka berwawasan luas."
"Ya, kau benar. Jadi hal paling mudah adalah memahami mereka dan mengajar sesuai dengan pemahaman mereka sehari-hari dan membiarkan mereka berkembang sendiri. Selain itu, mereka akan senang jika pendapat mereka didengar dengan baik."
"Saran yang bagus." gumam Unsui. Riku tersenyum mendengarnya.
"Lalu, bagaimana keadaan di sini? Aku belum bertemu teman-teman yang lain."
Lama mereka berbicara satu sama lain, bahkan tak sadar the di cangkir yang mendingin. Riku tak banyak berubah. Cara bicaranya yang apa adanya, dan raut wajahnya yang santai. Unsui sedikit menyukainya. Karena mungkin ini pertama kalinya, ia tak merasa dikasihani.
Ia berbicara bebas dengan Riku. Seolah melupakan seluruh bebannya selama ini. Mereka terasa benar-benar seperti anak-anak yang berbicara mengenai topik apa saja yang mereka lalui dan terpikirkan di kepala. Sejak beberapa bulan ke belakang, ia merasa orang-orang yang bicara dengannya nampak canggung. Berbicara terlalu berhati-hati dan dengan raut wajah yang jelas saat menanyakan apakah ia baik-baik saja. Terasa jelas mereka canggung dan mengkasihaninya.
Tapi Riku tak seperti itu. Ia berbicara dengan nada biasa. Membuatnya merasa lebih santai. Unsui sendiri tak ingat kapan ia bicara santai seperti ini, bahkan dengan Agon sekalipun.
Unsui menelan ludah. Kenapa juga ia mengingat hal itu. Riku menyadari Unsui yang tiba-tiba berhenti berbicara dengan ekspresinya yang berubah muram. Ia menelengkan kepalanya, mencoba memperhatikan Unsui lebih dekat. Unsui menyadarinya dan langsung gelagapan.
"Maaf, hanya... teringat sesuatu." Unsui menggeser cangkir tehnya yang sudah habis ke tengah meja. Riku terus menatapnya beberapa saat.
"Ini sudah mulai larut." Riku mengangkat suara, lalu meraih cangkirnya dan Unsui. "Akan kubantu mencuci ini, setelah itu aku pulang."
"Ah, tak usah. Dibilas saja, nanti aku bisa mencucinya sendiri."
"Tidak apa. Unsui-san harus banyak istirahat."
"Ayolah, Riku. Aku tak serapuh itu." Unsui menghela napas dan bangkit dari tempatnya, mengikuti Riku menuju wastafelnya. Riku sendiri sudah mengalirkan air.
"Aku tahu." ujar Riku, membuat Unsui mengernyitkan alisnya.
"Aku tahu Unsui-san kuat. Tapi, bukan berarti orang lain tak bisa membantumu kan?"
Unsui mengalihkan pandangannya. Riku tak salah, hanya saja ia tak mau terlalu merepotkan orang.
"Mau sampai kapan kau seperti itu?"
Unsui menggelengkan kepalanya dan meraih gelasnya sendiri, mencucinya dan menaruhnya di rak. Riku meliriknya sedikit dan mengulas senyum.
"Terima kasih. Maaf aku mengganggumu di tengah pekerjaanmu." ujar Riku.
"Tak apa. Terima kasih sudah membantuku mengangkat belanjaan."
"Unsui-san juga jika memerlukan bantuan tidak usah ragu meminta bantuanku, oke?" pinta Riku. "Aku akan membantumu, sekecil apapun itu."
Riku pamit pergi. Unsui melambaikan tangannya dari balkon apartemennya, sembari mengernyit heran.
Entah kenapa suasana perkataan Riku sangat tidak asing di telinganya.
~~oo00oo~~
Tiba-tiba saja aku bukan diriku yang dulu
Ada bayangan yang menghantui diriku
~~oo00oo~~
"Selesai."
Unsui menghela napas. Akhirnya semua murid sudah diberikan nilai dan siap dikirimkan melalui email. Dua hari sebelum tenggat waktu, memang segala bisa dilakukan jika kalian tidak bergerak dari tempat kalian dan fokus bekerja.
Bukan hal yang baik untuk dilakukan, memang.
Unsui merapikan laptopnya. Sekarang sudah hampir jam makan malam. Sesekali ponselnya berbunyi dan saat ia melihatnya, isinya adalah grup guru yang mengingatkan akan tenggat waktu pengisian nilai dan tentunya grup kelasnya yang masih berisi foto-foto dan stiker aneh. Unsui hanya mengangkat bahu dan membiarkan mereka. Mungkin beban ujian mereka sudah terlalu berat.
Baru ia membuka kulkas untuk membuat makan malam, suara bel mengalihkan perhatiannya. Ia mengernyit. Siapa yang datang di pukul segini?
Apa Agon?
Unsui mengintip dari lubang pintu. Bukan Agon, namun sosok yang masih familiar baginya. Dibukanya pintu dan dilihatnya Riku yang memasang senyum.
"Riku. Ada perlu apa semalam ini?"
"Aku baru pulang ke rumah orang tuaku dan kebetulan lewat sini, jadi aku ingin mampir." Riku mengusap belakang kepalanya. "Unsui-san sudah makan malam?"
"Ah, belum. Aku baru mau memasak."
"Kalau begitu, mau makan bersamaku? Ibuku membawakanku makanan tapi terlalu banyak untuk kumakan sendirian."
"T-tidak perlu. Nanti merepotkan—"
"Ayolah, mumpung aku sudah kemari."
Unsui membuka dan mengatupkan mulutnya. Ia menghela napas dan mengizinkan Riku masuk. Sebelum ia dapat berpikir lagi, ia sudah duduk berhadapan dengan Riku dengan beberapa makanan di depan mereka.
"Riku, apa benar tidak apa-apa?" tanya Unsui. Riku meliriknya dan tersenyum.
"Tidak apa. Aku sempat cerita juga pada ibuku, jadi dia membawakan lebih banyak dari biasanya."
"Astaga, Riku. Kau tak perlu sampai sejauh itu—"
"Sudah, tenang saja."
Riku memakan makanannya dengan santai, sementara Unsui masih menatapnya ragu. Namun melihat Riku balik menatapnya, ia juga ikut memakan hidangan yang diberikan padanya. Meski ia khawatir pada akhirnya ia akan memuntahkan makanannya lagi seperti biasanya.
"...enak."
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu."
Riku terkekeh memperhatikan Unsui. Jujur mereka jarang berduaan seperti ini. Ia memang terkadang diam-diam memperhatikan Unsui disela waktu mereka makan bersama anggota tim yang lain, namun berakhir ia ribut dengan Mizumachi atau Kotaro. Bahkan saat ia akhirnya memiliki keberanian, Unsui sudah tidak bisa digenggam olehnya.
Tapi kini ia bisa duduk di depannya. Memperhatikan wajahnya dengan dekat, nampak menikmati makanannya dan sesekali sorot matanya nampak menerawang, seolah tak ada di hadapannya.
"Unsui-san, apa saat natal nanti kau ada waktu?"
Unsui mengangkat alis. Natal, ya. Sekarang sudah tanggal 20 jadi memang perayaan natal sudah hampir di depan mata.
"Pekerjaanku sudah selesai dan sebentar lagi sudah liburan musim dingin jadi harusnya aku ada waktu." jelas Unsui. "Ada apa?"
"Kalau tidak ada kegiatan apa-apa, mau jalan keluar tidak saat malam natal?"
Unsui mengerjap. Ia menggumam sejenak.
"Tentu. Dengan siapa lagi?"
"Berdua saja."
Hening.
"Ah, tapi aku tak ada maksud apa-apa kok. Hanya ingin mengajakmu pergi saja. Kau pasti bosan kan bekerja terus di sini?"
"Apa kau tidak merayakan natal bersama keluargamu?"
"Ya, aku sudah tanya tapi adikku pergi bersama teman-temannya dan orang tuaku tidak tahu aku akan pulang jadi mereka sudah reservasi restoran untuk berdua. Jadi aku sendirian nanti."
"Ah, begitu ya."
Unsui terdiam menatap Riku. Riku tak mungkin berniat aneh padanya. Dan lagipula memang benar ia tak ada kegiatan apapun saat natal.
"...baiklah kalau begitu."
"B-benarkah?" kedua mata Riku langsung bersinar senang. Senyuman lebar tertoreh di wajahnya.
"Kalau begitu, tanggal 24 jam 7. Eeenngg..." Riku bergumam sebentar.
"Bagaimana jika bertemu di hiasan natal pusat perbelanjaan?" tawar Unsui. Tempat di mana mereka bertemu kemarin.
"Eh? Tidak apa nih?"
"Tidak apa-apa. Toh tidak jauh dari tempat kita berdua."
"B-baiklah kalau begitu..."
Unsui tersenyum, menghabiskan makanannya dan merapikan piring di meja. Sementara Riku diam-diam mengepalkan tangannya senang.
~~oo00oo~~
Unsui merapatkan pakaiannya dan berjalan keluar. Udara malam rupanya benar-benar menjadi sangat dingin. Ia rapatkan jaketnya dan mengusap kedua tangannya. Di perjalanan, nampak banyak orang berjalan berpasangan, beberapa menenteng bungkusan hadiah. Semakin ia mendekati pertokoan, hiasan natal semakin terlihat menjamur dan mendominasi sekitar.
Ia hampir sampai di depan pohon natal yang kini menjadi pusat tempat perbelanjaan yang ia tuju. Ia agak berekspektasi Riku belum datang seperti biasanya, namun ia melihat sosok alpha mungil itu sudah duduk dan melihat ke arah ponselnya. Unsui mengerjap, seolah sedang menyaksikan hal yang luar biasa. Riku nampak menyadari kehadirannya dan segera mengulas senyum.
"Unsui-san. Kau datang juga." sapa Riku. "Kau baik-baik saja kan selama di jalan?"
Unsui mengerjap. Ia mengangguk pelan dan dihadiahi tatapan bingung dari Riku. Unsui sendiri sedikit terkejut melihat Riku memakai pakaian yang sangat rapi. Jaket hitam yang jadi khasnya, sweater turtleneck hitam, serta celana berwarna cokelat ditambah syal warna hijau gelap. Mengingat penampilan Riku biasanya cukup santai, ia agak terkejut melihat Riku nampak lebih rapi.
"Unsui-san?"
"Hm? Ah, maaf. Aku hanya terpikir sesuatu." ujar Unsui. "Jadi kita mau ke mana?"
"Aku hanya ingin mengajakmu berkeliling saja, sih." Riku terkekeh. "Ayo, siapa tau kita melihat sesuatu yang menarik."
Unsui mengangguk. Kini mereka berjalan beriringan menyusuri pusat perbelanjaan. Cukup ramai orang yang datang untuk merayakan natal bersama orang terkasih, atau sekadar membeli hadiah natal sebelum pulang ke rumah.
"Oh, ada arena skating."
Unsui menoleh ke arah Riku. Di sebelah mereka, ada sebuah arena skating kecil-kecilan yang ramai disambangi pengunjung. Riku berdiri di tepi rink dan menatap orang-orang yang tengah bermain. Beberapa orang berseluncur dengan santai sementara ada juga yang masih belajar menyeimbangkan diri di es.
"Sejak aku kecil dulu, kami sekeluarga suka bermain ice skating bersama." ujar Riku. "Rasanya sudah jadi tradisi untuk kami sekeluarga. Jadi rindu rasanya. Tapi sejak aku mulai masuk SMP kami tak pernah melakukannya lagi."
"Karena kau sibuk bermain football?"
"Yap, itu benar."
Mereka tertawa. Unsui menaruh tangannya di pembatas ring dan ikut Riku memperhatikan sekeliling.
"Tadinya aku ingin mengajakmu bermain, tapi aku khawatir terjadi sesuatu." jelas Riku sambil terkekeh. Unsui menatapnya dan memasang senyuman miring.
"Maaf, ya."
"Tidak apa, kok. Masih banyak yang bisa kita lakukan." Riku terkekeh. "Unsui-san sendiri? Hari natal biasanya seperti apa di keluargamu?"
"Hmm...bagaimana, ya..." Unsui menggumam. "Biasanya, keluargaku memberikanku dan Agon hadiah yang sama. Kami masing-masing mendapat hadiah, tapi pasti selalu barang yang sama. Bahkan terkadang kita diminta berbagi satu hadiah."
"Hee...misalnya?"
"Hmm... yang kuingat sepertinya dulu saat kami 10 tahun, kami dibelikan gameboy dan diminta untuk menggunakannya bergantian."
"Jadi apa kalian bertengkar karena itu?"
"Tidak juga." Unsui menggeleng. "Aku tidak terlalu suka bermain game. Jadi Agon lebih sering menggunakannya."
"Kau memang seperti itu ya, Unsui-san." Riku terkekeh canggung. Unsui menelengkan kepala bingung.
"Mau lihat tempat lainnya?" tawar Riku. Unsui mengangguk dan mereka beranjak dari ice rink tersebut dan menelusuri tempat lainnya. Riku menoleh ke sekitar dan menyadari Unsui tak lagi berjalan di sebelahnya. Ia menoleh dan dilihatnya Unsui berdiri di depan etalase sebuah pet shop. Riku mengernyit dan berdiri di sebelah Unsui. Dilihatnya seekor kucing tengah menjilat-jilat ketiga anak kucing lainnya. Mata abunya sama sekali tak terlepas dari hewan-hewan itu, membuat Riku sedikit terkekeh geli.
"Unsui-san?"
Unsui menoleh. Entah rona merah di wajahnya karena kedinginan atau karena Riku menangkapnya memperhatikan anak kucing, yang jelas ia segera mengalihkan pandangannya.
"Maaf, aku melihat ada anak kecil keluar dari sini, jadi—"
"Tidak apa, kok." Riku tertawa dan ikut memperhatikan induk kucing itu. Salah satu anak kucing mendekati etalase dan menaruh kedua telapaknya di kaca. Unsui terkekeh dan menaruh jemarinya di depan telapak anak kucing itu. Sang induk kucing mengeong dan anak kucing itu kembali pada ibunya.
"Dulu saat kecil aku pernah memungut anak kucing." Unsui membuka suara. "Itu pertama kalinya ayah marah padaku karena anak kucing itu mengotori dapur. Setelah itu, ibuku membelaku dan mengizinkanku merawatnya."
"Manisnya..." Riku tersenyum. "Tak kusangka kau bisa membuat orang tuamu marah juga."
"Kita semua pernah jadi anak-anak, Riku."
"Benar juga, ya."
Riku memperhatikan lagi keluarga kucing itu. Induk kucing kembali menjilati anak-anaknya, dan kedua anak kucing sudah tertidur pulas di dekat ibu mereka. Sementara yang satu masih nampak masih ingin bermain dan berlarian kesana kemari. Riku menoleh ke arah Unsui yang masih menatap dengan lekat. Napasnya tercekat kala ia menangkap tangan Unsui perlahan menyentuh perutnya. Tatapan mata masih tak lepas dari kucing-kucing yang ia perhatikan sejak tadi. Riku menelan ludah dan mengepalkan tangannya.
"...kau bisa kedinginan jika di sini terus."
Unsui menoleh ke arah Riku dan tersenyum. Ia mengangguk dan mengajak Riku pergi ke tempat lain. Mereka berjalan beriringan, namun rasanya jarak mereka terasa begitu jauh. Riku menatap tangan Unsui, perlahan meraih tangannya.
"Kau ingin makan sesuatu?"
"Ya?"
Riku menarik tangannya cepat dan memasukannya ke kantung celananya. Ia berdehem sejenak.
"Kau lapar? Ayo cari tempat makan." ajak Riku. Unsui menelengkan kepalanya dan mengangguk, mengikuti Riku ke manapun arahnya melangkah.
~~oo00oo~~
Kemarin cinta terasa seperti permainan yang mudah
Tapi kini aku butuh tempat bersembunyi
~~oo00oo~~
Riku berterima kasih pada pegawai yang menaruh semangkuk ramen di depannya. Ia melirik sedikit ke arah Unsui yang tanpa bicara banyak mengambil sumpit dan melepasnya dari bungkusnya.
"Maaf, uangku terbatas jadi hanya bisa mengajakmu kemari." ujar Riku. Unsui menoleh ke arahnya dan tersenyum.
"Tidak masalah. Udara dingin begini juga lebih enak makan sesuatu yang hangat, kan?"
"Ya, benar."
"Lagipula kau tak perlu terlalu memikirkannya, kau tidak sedang mengajak pacarmu jalan-jalan."
"Hahaha. Ya..."
Riku hanya menatap mangkuk ramennya, dalam hati ingin memijit kepala. Terkadang mantan seniornya ini memang terlalu polos untuk menyadari gestur orang di sekitarnya. Andai saja ia lebih peka, tapi mungkin ia tak akan ada di situasi sekarang jika begitu.
Ponsel Riku yang ditaruh di atas meja berbunyi. Layarnya menyala menampakan sebuah chatroom. Unsui mengangkat alis melihat Riku tak bergeming, lalu beralih melihat chat yang terpampang.
Maizaki Yurika
"Riku, sepertinya kau mendapat pesan penting."
Riku menoleh, diraihnya ponselnya dan dilihatnya sejenak. Ia mengangguk dan menutupnya lagi. Unsui menatapnya penuh tanya.
"Itu junior yang kuceritakan. Dia mengirim ucapan selamat natal."
"Sepertinya kalian sangat dekat."
"Ya tentu saja. Kami bekerja sama selama semester ini."
"Kau tertarik padanya?"
Riku tersedak ramen yang tengah ia makan. Unsui dengan tenang memberinya air yang langsung diterima. Gelas yang kosong ditaruhnya ke meja, membuat tatapan matanya menuju ke arah Unsui yang tersenyum kalem.
"U-Unsui-san, bercanda begitu tidak lucu."
"Aku kan hanya bertanya." Unsui terkekeh. "Tak biasanya kau bereaksi begitu, Riku. Apa ucapanku benar?"
"Tidak, kok." Ia tidak bohong.
"Tidak masalah jika kau tertarik padanya, kan? Kau tidak pernah terlihat tertarik pada seseorang." celetuk Unsui.
"Siapa bilang? Aku pernah tertarik pada seseorang."
"Oh begitu, ya? Siapa?"
Kau.
"Ra-ha-si-a." Riku terkekeh iseng dan menyeruput ramennya, dihadiahi tawa dari Unsui. Matanya melirik ke arah mantan seniornya yang kembali memakan makanannya. Sedikit ia merasa hatinya agak sakit. Tangan mereka hanya berjarak beberapa centimeter, tapi bahkan untuk mendekatkan tangannya lagi saja ia tak bisa.
Selama ini, Riku tak pernah memusingkan perasaan orang lain padanya. Ia memiliki tujuan yang jelas, ia memilih berfokus pada hal itu. Meski rekan setimnya berkali-kali menggodanya karena banyaknya orang yang menaruh perasaan padanya namun tak bisa mengungkapkan karena bagi mereka, Riku terasa terlalu dingin. Tapi kini ia justru merasakan dirinya berada di posisi mereka yang tak bisa berbuat apa-apa. Unsui yang dahulu terasa bisa ia gapai, kini terasa begitu jauh. Dan meskipun memang bisa ia menggapainya, apa Unsui bisa menerimanya? Apa ia bisa diterima olehnya?
Notifikasi lain muncul dari ponselnya. Masih dari orang yang sama seperti sebelumnya. Ia terdiam dan memutuskan memasukan ponselnya ke saku. Ia melirik ke arah Unsui, lalu ke arah televisi yang berada di sudut toko.
"Ah iya, besok christmas bowl." Ujar Riku membuka topik lain. Unsui menoleh, lalu melihat ke arah televisi.
"Ah, benar juga. Rasanya sudah lama sekali."
"Kau mau nonton, Unsui-san?"
"Mungkin aku menonton dari televisi saja."
Kali ini saja. Setidaknya biarkan Riku berpikir ia bisa mendapatkannya.
~~oo00oo~~
Kenapa ia harus pergi?
Entahlah, ia tak mengatakan apapun
~~oo00oo~~
Unsui menggosok kedua tangannya saat mereka keluar dari restoran ramen. Riku menoleh ke arahnya, kemudian menyadari napasnya yang juga sedikit mengeluarkan asap dingin.
"Kau kedinginan, Unsui-san?" tanya Riku, yang hanya dibalas senyuman. "Lebih baik kita segera pulang."
Mereka berjalan kembali, menelusuri distrik perbelanjaan yang masih terbilang ramai meski tak seramai tadi. Sebuah butiran putih tertangkap di depan kedua iris hijaunya sebelum Riku mendongak ke atas.
"Salju..." gumam Unsui. Riku menoleh ke arah Unsui yang kini memasukan kedua tangannya ke saku jaketnya. Riku sendiri juga memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Kupikir tahun ini tidak akan turun salju saat natal." Unsui terkekeh. Riku juga balas tersenyum.
"Seperti dulu, ya?"
"Ya. Seperti dulu."
Riku terus mengatakan itu. Percakapan yang ia perbincangkan hanyalah soal masa lalu mereka. Karena ia terus terpaku akan hal itu. Terus berandai akan masa lalu. Seandainya ia tak mengenal Unsui, apa ia akan merasakan perasaan putus asa ini? Seandainya ia selangkah lebih maju, akankah ia bisa menggenggam tangan itu? Akankah ia bisa memberikannya kehangatan yang ia butuhkan?
Tanpa disadari, mereka tiba di komplek apartemen Unsui. Jarak tempat tinggal mereka tak jauh, jadi Riku terus berjalan bersama Unsui. Saat Unsui hendak berbalik, Riku segera tersenyum dan berjalan ke sebelahnya.
"Aku antar sampai ke depan."
"Tidak perlu, kau kembalilah. Udara semakin dingin."
"Sudah, tidak apa-apa. Jangan bersikap seolah aku orang asing, ah."
"Dasar..."
Unsui tersenyum. Suara tangga besi yang sudah termakan usia terdengar membelah malam di perkomplekan apartemen yang sunyi. Meski sayup-sayup ia bisa mendengar suara televisi tetangganya, suasana di luar terbilang cukup sunyi. Mereka sampai di atas tangga dan mata Unsui menatap sosok yang berdiri di depan apartemennya.
Agon.
Unsui membeku di tempat. Agon menoleh dan dilihatnya Unsui, lalu beralih ke arah Riku yang hanya mengerjapkan matanya melihat Agon.
"...kenapa kau kemari?" Unsui membuka suara. Agon mengernyitkan alisnya ke arah Unsui, lalu ke arah Riku.
"...jika kau bisa pergi dengan alpha lain berarti kau sudah lebih dari baik-baik saja, huh? Sampah." Agon membalas perkataannya tajam. Riku mengernyitkan alisnya.
"Apa maksudmu?" Riku berjalan mendekati Agon namun bahunya ditahan oleh Unsui yang menggelengkan kepalanya.
"Kembalilah, Riku. Biar aku yang bicara dengannya." ujar Unsui mencoba menenangkan. Riku membuka mulut hendak protes, tapi melihat tatapan Unsui ia hanya bisa menghela napas.
"...hubungi aku jika terjadi sesuatu."
"Terima kasih."
Riku berbalik, namun melayangkan tatapan tajam terakhir pada Agon, yang dibalas juga dengan tatapan yang tak kalah membunuh. Unsui menarik lengan Agon dan membuka kunci apartemennya. Ia berbalik ke arah adiknya.
"Masuk."
Tak ada kata lagi yang tertukar. Mereka memasuki ruang apartemen dan menatap satu sama lain seiring Agon menutup pintu di belakangnya.
Apapun itu, mereka tetap harus mengatakan apa yang ada di pikiran mereka.
Aku mengatakan sesuatu yang salah
Sekarang aku menginginkan hari kemarin
~~~TO BE CONTINUED~~~
*DATANG DENGAN AWESOME* /digeplak
Huhuhu halo semua maafkan saya yang lama banget updatenya
BAYANGIN DUA TAHUN BUAT UPDATE CHAPTER SEBEGINI PENDEK DAN GAJELAS /banting hp/ /jangan
BAYANGKAN GAIS, SAYA UPDATE INI PAS MASIH JADI MABA UNYU NAN INNOCENT DAN IMUT BARU UPDATE LAGI PAS UDAH JADI MABA (mahasiswa bangkotan) BAU KOYO hadehh shame on me sekali.
Sebenarnya ini karena saya agak dimanjakan dengan AO3 sih hehehe 😊 Dan sempet kepikiran apa Tear ini dipindahin aja ya ke AO3?
Tapi saya takut dicancel SJW /PLAK
Dan sekarang ADA ORANG KETIGA PERMISA OOOOOOOOHHHHH
Ayoo kalian tim Agon ato tim Riku nih?! /jangan memancing perkara deh/ /author dibuang ke Ciliwung/
Sebelum beres, bales review dulu~
whiters402 AAAAA KAGET PAS LIAT REVIEWNYA NAMBAH HALOOO APA KABAARR /gausah sokab/ Akuakuaku masih nulis fanfic kok ueueue cuma belakangan ini saya butuh duit lebih aja jadi yaa— /heh Tenang hubungan mereka pasti akan baik tapi...ehehe /WOY
Terima kasih yang sudah mereview atau tetap setia baca dan nungguin FF ini xD seneng banget loh kalo tau banyak yang suka pair dan karya ajaib bin laknat saya /heh
Akhirnya, RnR~~
