Title: Chase

Author: Nabila

Summary:

RK900 ditugaskan Amanda untuk membunuh Connor a.k.a RK800. Bisakah dia menyelesaikan misinya? atau malah melindungi Connor?

Hank Anderson memasuki kamar tidurnya yang nampak sangat berantakan, terlihat Connor yang sedang berdiri tegak di ambang pintu kamar Hank. Tidak ikut masuk ke dalam.

"Perjuangan yang melelahkan, Connor? Istirahatlah. Isi energimu buat nanti sore."

"Ya, Hank." Jawab Connor singkat.

"Tidak, tidak, tidak. Aku sekarang adalah ayahmu, Connor. Camkan itu di memorimu."

"...Ayah."

Hank segera membuka jaket kulit coklatnya lalu melemparkannya ke sembarang tempat.

"Sial, sore ini aku harus tetap masuk kantor setelah Revolusi besar-besaran para Deviant."

Connor akhirnya memasuki kamar lalu menutup pintunya. Ia melangkah mendekati jaket kulit coklat Hank yang sudah tergeletak dilantai sehabis dilempar Hank.

Connor berjongkok dan mulai menganalisa.

Jaket Kulit Imitasi Buatan Phillips & co.

100% Kulit Sintesis

Tanggal Pembuatan: 2035/04/11

"Phillips..." gumam Connor pelan. Memorinya kemudian mengingat seorang bocah perempuan bernama Emma Phillips yang menjadi sandera seorang Deviant bernama Daniel diatas rooftop apartemen. Terakhir kali Connor melihat Emma saat sedang menangis dengan kaki kanannya yang berdarah.

"Connor! Connor! Kau mendengarku?!"

Suara Hank membuyarkan ingatan di slot memorinya.

"Ya, Hank? Maksudku, Ayah?"

Mulut Hank manyun. Ia duduk diatas tempat tidur dengan selimut menyelimuti setengah badannya.

"Apa yang sedang kau lakukan dengan jaketku?"

"Maafkan aku. Aku menganalisa jaketmu."

"Demi Tuhan, Connor. Itu terbuat dari kulit sapi imitasi bukan dari kulit manusia. Sekarang jadilah anak baik dan tidur sianglah." Hank segera rebahan dan menarik selimut keatas sehingga tubuhnya sepenuhnya tertutupi selimut.

"Android tidak tidur." Ucap Connor.

"Ya Tuhan, andai saja kau manusia sungguhan. Seperti Pinnochio dari manusia kayu hingga jadi manusia benaran." Lirih Hank sebelum akhirnya tertidur.


12 November 2038

Jam: 15.10

Hank membuka kedua matanya, terbangun dari tidur nyenyaknya. Ia segera turun dari tempat tidurnya lalu melangkah pelan keluar dari kamar tidurnya.

"Connor!" Hank melangkah sambil berteriak memanggil Connor.

Connor menghampiri Hank dari ruang tengah. Terlihat Sumo berjalan mengikuti Connor.

"Hai, Hank. Aku sedang bermain dengan Sumo sambil beri dia makan. Dia anjing yang pintar." Terlihat tangan kiri Connor mengelus Sumo dengan lembut. Sumo terlihat senang saat dielus Connor.

"Sumo tidak pernah begitu pada orang lain. Inilah pertama kalinya dia senang dielus ora-"

Connor segera mengangkat kepalanya lalu menatap Hank biasa.

"Lupakan saja kata kataku tadi." Lirih Hank dengan ekspresi agak kecewa.

Hank masih lupa bahwa Connor adalah android bukan manusia biasa. Dia sangat berharap Connor adalah manusia tulen. Tapi apa boleh buat, Cyberlife membuat android dengan penampakan dan fisik yang sangat persis dengan manusia, kecuali darah dan bagian dalam tubuh.

"Aku harus mandi." Kata Hank sambil melangkahkan kakinya ke kamar mandi.

Connor kembali mengelus Sumo lalu duduk dilantai, Sumo segera duduk di pangkuan Connor.

"Nak!" Hank menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi. Connor langsung menoleh dengan senyum simpul.

"Jangan mengintip aku mandi."

"Ok, Hank."


12 November 2038

Jam: 15.45

"Oke, aku pergi. Tolong jaga rumah. Hajar saja kalau ada penyusup masuk." Ucap Hank sembari bersiap bersiap dengan memakai jaket kulit coklat.

Connor menatap Ayah angkatnya itu dengan senyum ramah semampunya yang ternyata dianggap Hank sebagai senyum kaku menyeramkan.

"Nak, mungkin aku akan mengajarimu senyum alami kapan-kapan." Hank bergegas keluar rumah, Connor dan Sumo mengikuti dari belakang.

Hank menekan tombol buka pada kunci mobilnya, lalu membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Connor membantu menutup pintu mobil.

"Segala kebutuhan ada di dalam. Di kulkas masih ada pizza 4 potong dan pasta. Kau boleh makan jika ususmu merasakan lapar."

"Baik, Hank." Jawab Connor.

"Sumo, jadilah anjing yang baik. Aku mungkin akan pulang besok pagi atau sore jadi... ok bye." Hank menyalakan mobil lalu menancap gas.

Sumo sedang memakan makanannya di mangkuk saat Connor mengelusnya.

"Sumo, aku berpikir bagaimana kalau kita jalan jalan ke taman. Gimana menurutmu?"

"Woof!" Sumo langsung berhenti makan dan kemudian menggesek-gesekkan kepalanya ke tangan Connor.

"Hank pasti jarang membawamu jalan-jalan."

"Woof!"

"bisa kau tunjukkan dimana tali kekangmu, Sumo?"


"Hello, Connor. Senang melihatmu." Amanda menyapa sambil menatap sosok android yang berdiri tegak di depannya dengan jaket semi formal putih dan hitam dengan kerah tertutup tinggi dan celana hitam.

"Halo, Amanda." Sapa android itu juga.

"Aku punya tugas pertama untukmu, Connor."

Android itu hanya diam saja tetapi mendengarkan.

"Cari RK800 lalu bunuhlah dia. Dia sudah tidak diharapkan lagi."


Hank sedang melamun di mejanya saat Chris menghampirinya. "Anda baik-baik saja, Letnan?"

Hank langsung tersadar dari lamunannya.

"Ya, ya? Apa yang kau perlukan? Ah, Chris! Bikin kaget aja!"

"Maaf menggangumu, Letnan. Ada kasus baru. Kasus perampokan bank."

"Oleh android?"

"Bukan, manusia."

"Kembali ke kehidupan normal." Jawab Hank.


Sebuah taxi berhenti di depan rumah Hank. RK900 segera melangkah keluar dari taxi. Dengan tatapan datar, ia berjalan mendekati pintu depan rumah Hank. Pistol sudah ada ditangan kanannya.

"Connor! Ini aku, Hank! Buka pintunya! Ini penting!" RK900 berpura pura sebagai Hank dengan cara meniru suaranya sambil mengetuk-ngetuk pintu.

Ia berdiri menunggu sembari melihat sekeliling.

Sudah 1 menit tidak ada yang membukakan pintu.

RK900 mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu.

BRAAAK

RK900 langsung melangkah masuk segera. Ia memeriksa ruang tamu kemudian ruang tengah.


"Bagaimana menurutmu, Sumo? Apa keren kalau aku pake t-shirt ini?" Connor terlihat memegang hanger dengan t-shirt stripe kuning hitam.

"Woof! Woof!" Sumo menggonggong. Sepertinya dia setuju.

Connor tersenyum. Ia segera mendekati seorang penjaga toko manusia. Penjaga toko wanita itu pun segera melangkah mundur ketakutan. Mengira Connor akan membunuhnya.

"Itu gratis untukmu, kumohon jangan bunuh aku!"

"Aku tidak akan membunuhmu. Kenapa aku harus membunuhmu?" ucap Connor tenang.

Penjaga toko wanita itu tetap ketakutan dan memilih pergi dari hadapan Connor.

"Kamu adalah android yang baik." Ucap seorang gadis kecil 10 tahunan yang mengenakan sweater pink dan celana panjang ungu.

Connor segera mengenali suara itu. Emma Phillips kini ada di hadapannya!

Bocah perempuan itu masih hidup. Menatap Connor dengan polosnya.

Apa jadinya jika ia ikut terjun bersama Daniel pada saat itu? Pasti hati ibunya akan hancur. Gadis sekecil dan sepolos ini akan mati karena ulah Deviant yang cemburu akibat ia akan digantikan oleh android yang baru.

"Kau baik baik saja?" Connor terlihat berusaha akrab.

Sebelum gadis kecil itu akan menjawab, terlihat ibunya menghampiri.

Caroline Phillips.

"Emma, jangan dekati orang asing! Setelah apa yang terjadi pada ayahmu?"

Caroline Phillips kemudian memandang Connor dengan raut tak suka.

"Tolong jauhi putriku."

Connor mengangguk mematuhi.

Caroline segera menarik tangan putrinya tanpa mengetahui bahwa sosok yang ada di hadapannya sudah menyelamatkan nyawa putrinya.

"Let's go, sweetheart." Caroline dan Emma bergegas keluar dari toko baju.

Connor menatap mereka berdua dari dalam toko dengan tatapan biasa.


Connor segera melangkah keluar dari mobil taxi lalu diikuti Sumo. Connor menampakkan wajah terkejutnya saat melihat pintu rumah Hank terbuka lebar seperti habis didobrak paksa.

Connor tanpa berpikir panjang langsung merogoh sebuah pistol dari saku jaket hitamnya.

"Ada penyusup." Gumam Connor.

"Woof! Woof! Woof!" Sumo menggonggong sambil mengendus-endus lantai teras kemudian masuk ke dalam rumah.

Connor segera mengikuti Sumo ke dalam.

Sumo masih mengendus-mengendus lantai sambil berjalan ikuti jejak. Anjing itu akhirnya berhenti di depan pintu kamar Hank.

"It's ok, Sumo. Biar aku yang mengatasinya."

"Woof!" Sumo segera berjalan ke ruang tengah.

Connor dengan pistolnya akhirnya mendobrak pintu kamar Hank.

Connor mengecek kamar.

Kamar nampak kosong.

Tapi bukan berarti Connor lantas lengah.

"Keluarlah. Aku tahu kamu bersembunyi."

Kamar hening.

Connor memperhatikan lemari baju Hank. Connor segera mendekati lemari baju tersebut.

"Aku takkan melaporkanmu ke polisi, tapi dengan syarat perlihatkan dirimu" nada Connor tegas.

"Kuberi hitung mundur sampai 3 kalau begitu."

Kamar masih hening.

"3..."

"2..."

"...1!"

Connor membuka lemari dengan cepat.

RK900 menembak Connor.

DOR

"Argh!" rintih Connor segera. Pelurunya mengenai bagian selangka. Darah biru terlihat menembus t-shirt stripe kuning hitamnya.

Sumo yang berada diruang tengah langsung berlari keluar rumah sambil menggonggong keras sesaat mendengar suara tembakan dari dalam kamar Hank.

"Aku diberi perintah untuk membunuhmu." Ucap RK900 dingin.

"Siapa kau?!" Connor menodongkan pistol kepada sosok didepannya. Ia tak peduli pada luka di selangkanya.

"RK900. Aku selalu menyelesaikan tugasku." Jawab RK900.

"Kau disuruh oleh Amanda, bukan?" Connor mulai menganalisa RK900.

"Pengkhianat sepertimu pantas mendapatkannya." RK900 menarik pelatuk pistolnya kembali.

Connor terkena tembakan kembali. Connor segera menendang RK900 sampai terjatuh.

Connor menembaki RK900 tiga kali kemudian kabur keluar dari kamar Hank.

RK900 segera berdiri dan mulai mengejar Connor.

"Sh*t! Amanda wants me dead!"

RK900 terlihat masih mengejar di belakangnya.

Connor menemukan tong sampah. Segera saja ia mendorong tong sampah hingga tong sampah jatuh dan isinya berserakan.

RK900 melompat menghindari tong sampah yang menghalangi jalannya.

Connor berpaling dan menembak lagi. Dia mempercepat larinya.

RK900 terkena tembakannya tetapi masih terus berlari mengejarnya.

Tibalah Connor di pinggir jalan raya. Pandangannya tertuju pada zebra cross. Segera saja ia berlari melewati zebra cross dan berhasil.

RK900 akan juga berlari melewati zebra cross namun lampu lalu lintas kini berubah menjadi warna merah, tanda tidak boleh menyebrang.

"Sh*t!"