Wuss~

TABB ! TABB !

Itachi dan Shisui secara bersamaan melompati dahan pohon untuk menyeimbangkan gerak tubuh mereka, sesaat tubuh mereka terbang sejajar.

"Bagaimana pendapatmu tentang Yamanaka Ino?" Celetuk Shisui secara tiba-tiba.

Itachi bergeming, "Maksudmu?"

TABB ! TABB !

Shisui dan Itachi kembali melompati beberapa pohon lain.

"Kau tidak tertarik padanya?" Tanya Shisui yang membuat Itachi kebingungan.

Tak lama Itachi pun terkekeh.

"Apa maksudmu Shisui? Aku belum memikirkan hal-hal yang mengarah pada tujuan seperti itu"

Shisui menyunggingkan senyum tipis.

"Yamanaka Ino gadis yang sangat cantik kan" Tanya Shisui lagi.

Dan pertanyaan tersebut sukses membuat Itachi tertawa.

Pertanyaan Shisui terdengar begitu aneh ditelinga Itachi, hal yang sedang menjadi Topik pembahasan ini benar-benar tidak ada sangkut pautnya dengan misi mereka.

Lagipula membahas topik sejenis ini bukanlah gaya dari Shisui.

"Ya kuakui Yamanaka Ino memang cantik, tapi aku tidak memiliki niat untuk mengejar cintanya"

Giliran Shisui yang kini terkekeh.

"Benarkah?"

Itachi balas menatap Shisui.

"Benar Shisui, masih banyak hal dan urusan yang harus aku selesaikan. Lagipula memikirkan permasalahan cinta masih terlalu jauh untukku"

Shisui menahan senyumnya. "Kau tahu Itachi kehidupan didunia ini tidak selamanya hanya bersama dengan keluarga, Ayah, Ibu dan Saudara"

Itachi menarik senyum.

"Ya aku tahu Shisui, aku berkata demikian bukan berarti aku tidak memiliki keinginan untuk membangun sebuah keluarga."

Itachi menatap kedepan.

"Suatu saat nanti aku pasti akan membangum sebuah keluarga, tapi bukan sekarang"

Shisui menatap Itachi.

"Jika pendamping hidupmu diutus untuk datang sekarang dan dia berada tepat didepan matamu, kau tidak akan pernah bisa menolaknya Itachi"

Itachi berdeham.

"Benar sekali, siapa yang tahu jika perkataanmu benar-benar terjadi."

"Tapi aku akan membuka pintu hatiku untuknya, jika kau yang duluan menikah Shisui"

Shisui terbahak.

"Hahaha! Ya doakan saja semoga sahabatmu ini segera bertemu dengan wanita cantik dan baik hati"

"Agar aku bisa secepatnya melihat seorang Uchiha Itachi menikah"

Itachi tertawa geli. Mendengar kata menikah membuat darah yang mengalir ditubuhnya serasa berhenti.

"Ya tentu Shisui Nii, semoga kau mendapatkan kekasih yang sesuai dengan keinginanmu"

Shisui terkekeh.

"Sepertinya Yamanaka Ino masuk dalam kriteria wanita idamanmu" Itachi menyambung kalimatnya.

Shisui kembali tertawa.

"Ya semoga Yamanaka Ino adalah gadis yang diturunkan dewa untuk menjadi pendamping hidupmu" Ujar Itachi lagi.

"Tampaknya seorang Uchiha Itachi memang belum memiliki niat untuk menjalin hubungan cinta ya" Sahut Shisui.

Itachi tertawa ringan.

"Aku sangat konsisten dengan pendirianku Shisui, jadi apapun masalah yang berkaitan dengan perihal cinta aku sama sekali tidak tertarik"

Keduanya saling melemparkan tertawaan ringan.

"Sebaiknya kita singgah ke lokasi peninggalan Uchiha dulu Itachi"

Itachi mengangguk.

"Hai"

"Baik Ayo"

Kini keduanya berlari menelusuri hutan lebat dengan pergerakan yang sama cepat.

Hingga bayangan Itachi maupun Shisui tertelan oleh gelapnya hutan.

o

o

o

"Aaaaaaaaaah!"

Rasanya Yamanaka Ino ingin terbang keangkasa, berputar mengelilingi planet bumi lalu setelah itu kembali kebumi.

Lalu terbang diatas awan dan kemudian setelah itu Ino melompat kedalam lautan kutub utara, berenang sepuasnya disana hingga suhu tubuhnya yang panas menjadi normal kembali.

Astaga! Yamanaka Ino seperti orang gila.

Bertemu dengan Itachi sudah membuatnya hampir kehilangan akal.

Lihatlah ia sekarang, pipinya bagaikan kepiting rebus yang dimasak dalam suhu 100 derajat Celcius.

Kenapa ya, perkataan Itachi itu bagaikan mantra untuk dirinya.

Bahkan setelah diantar pulang, seakan patuh dengan perkataan Itachi, Ino langsung pulang menuju rumahnya kemudian masuk kedalam kamar.

Dan tidur.

Ajaib sekali.

Tok Tok Tok

Suara ketukan pintu itu sukses membuyarkan khayalan tingkat tinggi Ino.

"Ino? Ada Sakura diluar, Sakura menunggumu"

Oh sijidat lebar benar-benar sudah merusak suasana hatinya yang sedang berbunga-bunga.

Padahal sebenarnya Ino masih ingin menikmati perasaan bahagianya seorang diri.

Tapi biar bagaimanapun Sakura adalah sahabatnya.

Disaat ia sedang berada dalam kesedihan Sakura lah yang selalu ada menghiburnya.

Harusnya dalam keadaan senang pun Ino tidak boleh melupakan Sakura.

Ya kan?

"Hai Kaa Chan, aku akan segera keluar"

"Baiklah, jangan lama-lama Ino"

Ino pun segera merapikan tempat tidurnya, lalu membuka ikatan rambutnya dan menyisirnya.

Kemudian Ino keluar kamar menemui Sakura.

"Ino ayo ikut denganku"

Belum sempat Ino bertanya maksud dari kedatangan Sakura.

Kalimat Sakura sudah terlebih dahulu menyambutnya.

Ino mengernyitkan alisnya.

"Memang ada apa Sakura?"

Sakura berbisik ditelinganya.

"Sabaku bersaudara datang, kau tahu tidak Gaara ingin bertemu denganmu"

Mata Ino membulat.

Astaga! Ino sampai lupa jika memiliki seorang kekasih.

Karena terlalu fokus dengan Itachi, Yamanaka Ino jadi lupa dengan rencananya yang akan mengakhiri hubungannya dengan pemuda Sabaku itu.

"Ibu aku keluar sebentar ya, temanku dari desa Suna baru saja datang" pekik Ino.

"Iya ino" Ibunya menyahut dari dalam.

Ino dan Sakura pun melangkah keluar rumah.

o

o

o

Semua rekan tingkat Chunin yang menjadi sahabat Ino berkumpul seperti biasa ditaman yang berhadapan langsung dengan ukiran patung Hokage.

Sudah menjadi kebiasaan mereka berkumpul ditempat tersebut, baik itu istirahat setelah latihan, maupun setelah pulang dari menyelesaikan misi, saat masih menjadi Genin pun tempat tersebut sudah menjadi favorit mereka.

Tiap kali melihat patung Hokage itu, semangat mereka untuk menuntun masa depan jadi semakin tinggi.

Ya, semua dari mereka ingin menjadi pemimpin yang hebat seperti Hokage terdahulu.

Anak muda wajib bermimpi kan?

Disana terlihat sosok sang kekasih, Gaara mengobrol sangat akrab dengan para sahabatnya.

Apalagi dengan Naruto, seakan akan Naruto itu adalah saudara kandung bagi Gaara.

"Oy Ino, kemarilah dari tadi Gaara mencarimu!" Ujar Naruto.

Pandangan Ino dan Gaara saling bertemu, sedetik kemudian ia dan Gaara saling melemparkan senyum.

"Naruto kau ada disini juga? Bukankah kau sedang berlatih dengan ayahmu"

Seperti biasa Naruto mengeluarkan cengiran khasnya.

"Hey berlatih tidak harus seharian penuh, lagipula kan setelah selesai istirahat latihannya bisa dilanjutkan lagi"

Ino tertawa menyetujui perkataan Naruto.

Teman-teman yang lain pun sama, mereka bahkan mengucapkan kata 'Ya' tanda mereka setuju dengan pendapat Naruto.

"Kau dan Gaara butuh waktu berdua kan" Celetuk Kiba.

Yang lain pun sependapat dengan Kiba.

Mendengarnya Ino tidak mengangguk tidak juga menggeleng.

Perasaannya kali ini begitu gundah.

"Iya ajak Gaara mengelilingi desa saja Ino, kalau kalian disini kalian tidak akan bisa saling melepaskan perasaan rindu kan" Goda Naruto.

Shikamaru tertawa, "Ya perkataan Naruto benar"

Ino pun hanya balas tertawa, beberapa temannya tersebut dibuat heran dengan sikap Ino yang agak pendiam.

Biasanya Ino adalah pribadi yang cerewet, periang dan galak.

"Ayo" Ajak Ino.

Gaara pun mengangguk.

Sesaat pandangan mata Ino dan Sakura saling bertemu.

Ino mengerti arti tatapan yang dilayangkan Sakura, ino melihat dengan jelas kata apa yang terlukis didalam mata Sakura.

Ino sesegera mungkin mengalihkan pandangannya, ia takut terpengaruh dengan pandangan Sakura.

Sakura tidak setuju dengan keputusan yang Ino ambil.

Karena menurut Sakura, Gaara adalah laki-laki yang sangat cocok untuk mendampingi dirinya.

Tapi itu kan menurut Sakura, yang menjalani kisah kan Ino.

o

o

o

Hingga kini Ino dan Gaara saling berdampingan menyusuri jalan.

"Bagaimana kabarmu?" Tanya Gaara memecah keheningan.

Ino menatap Gaara dengan canggung.

Seolah mengerti dengan keadaan Ino yang terlihat tidak nyaman, Gaara pun menarik pandangannya dari Ino.

"Aku baik-baik saja, bagaimana dengan kau?" Jawab Ino kaku.

Gaara kembali menatap Ino.

"Aku baik-baik saja" Jawab Gaara.

Ino menggumam seraya mengangguk. Setelahnya tidak ada pembicaraan.

Ino masih mengatupkan mulutnya, sedangkan Gaara kini dipenuhi dengan berbagai pertanyaan.

Perubahan sikap Ino yang menjadi pendiam, membuat Gaara mau tidak mau melemparkan pertanyaan.

"Kau sakit Ino?"

Ino mengangkat alisnya, lalu menatap Gaara.

"Tidak, aku sehat Gaara"

Tatapan Gaara beralih kedepan.

"Lama tidak bertemu sikapmu jadi berubah pendiam Ino, aku jadi khawatir"

Ino mengigit bibirnya, lidahnya serasa kelu.

Ia tidak ingin bertele-tele seperti ini, Ino ingin segera mengutarakan semua isi hatinya.

Lama berbincang dengan Gaara membuat Ino semakin dihujami perasaan bersalah.

"Ino kau baik-baik saja?" Tanya Gaara.

Ino mengangguk.

Gaara menyentuh tangan Ino lalu menggenggamnya.

"Apa yang terjadi? Apa kau punya masalah?"

Gaara menautkan jemarinya dengan jemari Ino.

"Kau bisa ceritakan masalahmu padaku, aku akan berusaha mencari solusi untuk masalahmu ini"

Ino jadi semakin merasa bersalah, lihatlah perlakuan Gaara padanya.

Gaara begitu perhatian, namun kalimat yang akan ia ungkapkan nanti pasti akan melukai perasaan lelaki ini.

"Ino"

Ino memberanikan dirinya menatap Gaara.

"Aku – ingin bicara denganmu Gaara"

Gaara mengangguk, "Boleh, ayo kita cari tempat yang aman"

Ino mengangguk menyetujui.

Tak berapa lama butiran pasir keluar dari wadah yang berada dibelakang Gaara, hingga mengumpul menjadi gundukan pasir yang besar dan tebal.

Lalu Gaara membawa Ino menaiki pasir tersebut.

Lalu terbang tinggi hingga posisi mereka berada lebih tinggi dari atap rumah para penduduk.

Mereka berdua saling mengatupkan bibir, tidak ada yang mau membuka pembicaraan.

Apalagi Ino, ia kini disibukkan dengan pikirannya.

Ino melihat kebawah, dibawah sana banyak anak-anak bermain. Jika singgah disana pembicaraannya dengan Gaara akan terganggu.

Ino memperhatikan beberapa pohon dibawah sana, hingga pandangannya berhenti pada sebuah sungai yang mengalir.

jika dilihat lihat air tersebut berasal dari gunung dibelakang desa. Tempat itu pun berada diluar desa, Ino rasa berbicara ditempat itu akan lebih leluasa karena tidak ada yang bisa mengganggu pembicaraan mereka.

"Gaara kita berhenti disitu saja"

Ino menunjuk kearah sungai yang mengalir deras.

"Baiklah"

Gaara pun meng - iyakan permintaan Ino. Gaara mengendalikan cakra dipasirnya agar terbang lebih rendah untuk menghampiri sungai tersebut.

Setelah itu Gaara dan Ino pun turun dari pasir dan memijakan kaki pada batu kerikil ditepi sungai.

Ino memandang Gaara.

"Emm Terima Kasih"

Gaara tertawa.

"Terima Kasih untuk apa?" Tanya Gaara heran.

"Ya.. karena kau sudah mau mengikuti permintaanku untuk turun disini"

Gaara berjalan selangkah mendekati Ino. Lalu merapatkan tubuhnya dengan Ino.

"Tidak perlu berterima kasih, karena hal itu tidak merepotkanku sama sekali"

Seraya mengelus pipi Ino, Gaara mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Ino.

Membuat Ino seketika terkejut, mereka sudah sering melakukan kegiatan ini, namun karena Ino memiliki niat untuk menyudahi hubungannya dengan Gaara, respon Ino untuk membalas ciuman tersebut jadi sedikit kaku.

Bibir Gaara ia biarkan menari diatas bibirnya.

Hingga ciuman Gaara beralih pada bagian lehernya.

Ino memejamkan matanya.

"eunhhh~"

Gaara menyudahi perlakuannya, lalu memeluk tubuh Ino.

"Aku merindukanmu Ino"

Ino menghela nafasnya.

o

o

o

"Ino?"

Gaara menginterupsi.

Sudah dua jam lebih Ino bergumul dengan pikirannya. Antara ingin menyampaikan niatnya yang sebenarnya atau tidak.

Dari tadi responnya terhadap kalimat yang dilontarkan Gaara pun hanya seadanya.

Membuat Gaara jadi semakin heran, Gaara berpikir Ino yang ada bersamanya sekarang bukanlah Ino yang Gaara kenal.

"Ada masalah apa Ino, bisa kau ceritakan masalahmu padaku? Jangan menyimpannya sendirian"

Ino jadi semakin berat.

Gaara begitu perhatian padanya, dan perhatian itu seolah menjadi senjata yang balik menyerangnya.

Ino menarik nafasnya dalam-dalam.

"Begini Gaara.." Ino berujar dengan penuh keraguan.

Rasanya sungguh sulit untuk berterus terang.

Gaara pun kini terlihat menajamkan pendengarannya.

"Akuu"

Gaara menunggu dengan sabar kalimat yang akan diucapkan Ino.

"Aku rasa aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini – "

Ino menarik nafasnya, ia tidak percaya jika kalimat itu berhasil keluar dari mulutnya.

Padahal sekarang Ino merasa seolah tenggorokannya tercekik, disisi lain ia merasa takut namun disisi lain pula ia ingin menunda keinginannya.

Namun kata-kata itu sudah terlanjur keluar dari mulutnya, tidak bisa ditarik lagi dan Gaara pun sudah mendengarnya.

Hahh~

Ino merasakan suasana yang tadinya hangat seketika berubah menjadi dingin.

Ino memberanikan dirinya menatap Gaara.

"Aku –" Ino susah payah menelan liurnya.

Dilihatnya ekspresi Gaara yang kini berubah.

Ino menarik nafasnya yang tersendat.

"Maafkan aku"

Ino menatap Gaara lalu menggenggam tangannya.

Gaara kini balas menatapnya dengan mimik wajah yang sangat dingin.

"Aku tidak bisa berhubungan dengan jarak yang jauh seperti ini, aku butuh tempat bersandar saat aku sedih"

Gaara mengangkat sudut bibirnya.

"Jadi kau akan mencari seseorang yang bisa kau jadikan tempat bersandar saat sedih?"

Ino dengan ragu mengangguk.

"Baiklah jika itu yang kau inginkan, hubungan kita berakhir"

Mata Ino mulai memanas.

"Maafkan aku Gaara"

Gaara melepaskan genggaman tangan Ino, lalu berbalik.

Butiran pasir mulai mengelilingi tubuh Gaara hingga pasir tersebut membentuk sebuah tempat pijakan.

"Ayo pulang" Gaara berujar dingin.

Ino menghapus air matanya.

"Aku akan pulang sendiri, kau duluan saja"

Gaara berbalik menatapnya, Ino seketika membeku.

Tatapan Gaara berubah tajam seakan siap menguliti dirinya.

"Kau pergi bersamaku, apa kata orang Konoha nanti ketika melihatku kembali tanpa kau"

Ino menggeleng pelan, "Aku bisa pulang sendiri. Kau bisa mengatakan pada orang desa kalau aku ada urusan"

Gaara melayangkan tatapan mematikan, kali ini dengan rahang yang mengeras.

Gaara lalu mendekati Ino, mencengkeram tangannya lalu menariknya agar ikut bersama dengannya.

Namun Ino memberontak, Gaara tidak harusnya sekasar itu pada dirinya kan, Ino tidak terima.

Ino melepaskan diri dari Gaara hingga membuatnya terjatuh dipermukaan batu kerikil.

"Itai!" Ringisnya.

Kali ini Gaara menatap Ino dengan penuh amarah.

"Apa sebenarnya yang kau inginkan hah!"

Gaara menarik lengan Ino hingga membuat posisi Ino yang awalnya terduduk menjadi berdiri.

"Aku sudah mencoba untuk tidak lepas kendali terhadap dirimu Ino! Tapi kau sendiri yang sengaja membuatku tambah emosi!"

Airmata Ino kini mengalir deras.

"Aku memikirkanmu siang dan malam di Suna, aku mengkhawatirkan keadaanmu, aku berusaha mengatur waktu dan mencari celah agar bisa mendatangi Konoha untuk bertemu denganmu!"

Gaara menyentak tangan Ino.

"Tapi apa yang kudapat setelah menemuimu!?"

Ino tidak dapat menahan tangisannya, hingga kini isakan tangisnya pecah.

"Tapi aku tidak memaksamu untuk tetap terus mencintaiku. Kalau keinginanmu adalah berpisah aku kabulkan!"

"Maafkan aku Gaara" Ino menangis sejadinya.

"!" Gaara mendecih.

"Gaara.."

Gaara mengalihkan pandangannya, "Ayo pulang"

Ino menggeleng, "Tidak Gaara, aku akan pulang sendiri"

Tatapan mematikan kembali menyorot Ino.

"Kau jangan membuatku melakukan hal yang melewati batas Ino!" Kali ini Gaara memekik sekeras mungkin.

"Jangan sia-sia kan kebaikanku seperti kau menyia-nyiakan pengorbananku untuk datang kesini!"

Tangisan Ino semakin pecah. Namun tidak diperdulikan oleh Gaara.

"Teman-teman yang lain mengetahui kau pergi denganku! Kalau aku kembali tanpa membawa kau apa yang akan mereka katakan!"

Gaara benar-benar berada diambang batas.

Padahal Gaara yang selama ini Ino kenal adalah sosok pemuda yang lembut dan perhatian, namun kali ini berbeda.

Ino menyadari dirinya yang salah, Gaara sudah jauh-jauh datang dari Suna untuk melepas rindu, namun malah diberi hadiah dengan permintaan mengakhiri hubungan.

Wajar saja Gaara marah, kecewa dan sakit hati.

Memang Ino yang salah.

Daripada membuat keadaan semakin keruh dengan menolak tawaran Gaara, lebih baik Ino turuti saja kemauan Gaara untuk terakhir kali.

"Baik – lah"

Ino mendekati Gaara dan ikut menaiki pasir tersebut, hingga terbang tinggi.

Disepanjang perjalanan Gaara membisu, sedangkan Ino masih menangis terisak.

"Gaara maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakitimu" Ucap Ino sambil terisak.

Ino memeluk tubuh Gaara, "Tapi aku berkata jujur, aku tidak bisa berhubungan dengan jarak yang jauh"

Gaara tidak bergeming.

"Aku ingin berhubungan dengan orang yang berada satu desa denganku, aku tersiksa dengan hubungan yang jauh Gaara"

"Kau ingin kusinggahkan dimana?" Tanya Gaara tanpa menghiraukan penjelasan Ino.

Ino melepaskan pelukannya lalu menatap kedalam mata Gaara.

"Maafkan aku, aku mohon jangan membenciku" Ujar Ino disertai dengan isak tangis.

Namun lagi-lagi tidak dipedulikan oleh Gaara.

Ino mengerti.

Dan Ino tidak boleh egois untuk memaksakan kehendak Gaara agar mau memaafkan dirinya.

Karena ia tahu bagaimana sakitnya jika sedang kecewa.

"Ditaman itu saja" Ino menunjuk sebuah taman lapang, keadaan disana terlihat sepi.

Ino pikir ia lebih baik menyendiri disana.

Gaara pun mengantarnya ketempat tersebut, lalu pergi dengan pasirnya entah kemana.

Ino meneteskan airmatanya, ia merasa amat sangat bersalah.

Ia sudah berpikir yang tidak-tidak tentang Gaara, namun ternyata berbeda, Gaara justru mengkhawatirkan dirinya, Gaara setia terhadapnya.

Apa yang harus Ino lakukan?

Ia tidak akan sanggup bertemu dengan Gaara lagi.

Ia sudah menyakiti hati seorang laki-laki yang mencintainya dengan tulus.

o

Ino menatap lurus kedepan, matanya tanpa sengaja menyorot pada beberapa orang-orang Uchiha yang tengah mengobrol.

Ino mencari-cari sosok Itachi disana, namun tidak menemukannya.

Oh iya Ino baru ingat jika Itachi dan Shisui kan pergi keperbatasan negara Api.

Hey lihat! Kenapa disela sela perasaan bersalahnya ia masih sempat sempatnya memikirkan Itachi?

Astaga Ino!

TBC

Hello~ i hope you like it :D