"Sejak kapan kau dekat dengan gadis Yamanaka itu Shisui" Izumi membuka percakapan.
Itachi melirik Shisui.
"Aku berpapasan dengan Yamanaka San jadi kami mengobrol sebentar" Jawab Shisui.
Izumi berdeham. "Iya tapi sejak kapan kau berteman dengan dia?" Tanya Izumi lagi.
Shisui menatap Izumi.
"Kami hanya bertegur sapa, kita semua bebas bertegur sapa dengan siapapun bukan?"
Izumi menghela nafasnya, "Iya tapi aku tidak setuju kalau kau berteman dekat dengan Yamanaka itu Shisui"
Shisui mengernyit bingung, "Memang kenapa?"
"Yamanaka Ino terlalu populer dikalangan laki-laki, dia itu jadi pusat perhatiaan anak laki-laki. Jadi gadis itu tidak baik kau jadikan teman"
Izumi memaparkan kalimat tersebut panjang lebar, berharap Shisui menuruti perkataannya.
"Ya tidak masalah, lagipula kan hanya berteman. Tidak lebih" Jawab Shisui.
Itachi yang sedari tadi diam kini memandangi dua manusia yang sedang adu argumen didekatnya.
Tidak, bukan adu argumen, menurut Itachi yang cerewet itu hanya Izumi.
"Benar, tidak masalah kalau hanya berteman. Lagipula Yamanaka tidak pernah berbuat salah dengan kita kan" Celetuk Itachi.
Raut wajah Izumi berubah kesal.
"Jadi kau juga dekat dengannya Itachi Kun ?"
Shisui menatap Izumi heran, "Tidak ada salahnya berteman dengan siapapun Izumi, kau pun boleh berteman dengan Yamanaka atau siapapun"
Izumi mendecak kesal, "Tidak akan pernah! Lagipula aku tidak menyukai Yamanaka itu"
"Dan temannya yang suka mengejar-ngejar adikmu itu Itachi Kun " Lanjut Izumi.
Itachi tertawa. "Hahaha, memangnya kau ada masalah apa dengan mereka?"
Shisui melirik Izumi, "Iya, apa mereka pernah melukai mu?"
Izumi melayangkan tatapan sinis, "Tidak, aku hanya tidak suka karena mereka menjadi pusat perhatian kaum laki-laki. Padahal didesa ini banyak perempuan yang lebih cantik daripada si Yamanaka Ino itu"
Lama terdiam akhirnya Shisui bergeming, tanpa bisa ia tahan sebuah tertawaan keluar dari mulutnya.
"Jadi kau iri dengan mereka?" Tanya Shisui.
Seketika kelopak mata Izumi melebar, "Iri apa?! Untuk apa aku iri dengan ninja rendahan seperti mereka!" Izumi berujar setengah memekik.
Itachi pun hanya tertawa, lalu menatap kearah Izumi.
"Kau tidak boleh memandang rendah orang Izumi, kita boleh merasa hebat tapi tidak boleh meremehkan kemampuan orang lain"
Shisui bergeming, "Iya kurasa Itachi benar, membenci seseorang boleh tapi jangan sampai memandang remeh orang lain"
Itachi mengangguk, "Iya lagipula mereka tidak pernah menyakitimu kan?"
Izumi mendelik, "Tidak tahu" Jawabnya keasal, lalu pergi meninggalkan Itachi dan Shisui yang menatapnya heran.
ooOoo
Ino menumpu wajahnya, ia lelah setelah berlatih.
Tiap hari berlatih Jutsu klan nya tidak berhasil membuat hatinya puas, Ino tidak puas karena Jenis Jutsu mereka bukan jenis Ninjutsu yang mampu melumpuhkan lawan.
Fungsinya hanya mengambil alih tubuh orang, mengendalikannya, menunggu tubuh tersebut diserang oleh Chouji, setelah itu Ino secepatnya harus keluar dan kembali ketubuhnya.
Tidak asik!
"Oy Ino? Mau kemana kau?" Celetuk Chouji.
Ino menoleh kearah Chouji.
"Aku mau jalan-jalan, berlatihnya sudah selesai kan" Ujar Ino setengah kesal.
Ia sedang tidak berada dalam mood yang baik hari ini.
Kejadian tadi malam masih berputar dikepalanya, dimana Itachi berjalan dengan wanita Uchiha itu.
" Hai baiklah" Jawab Chouji.
Shikamaru mengalihkan pandangannya dari Ino. " Mendokusai"
"Ayo Chouji, kita pergi"
o
o
Kemana ia harus pergi kira-kira? Ino rasanya malas berada didesa, darahnya seolah mendidih tiap kali memandang perempuan-perempuan Uchiha.
Ino masih kesal, perasaan tidak suka masih memenuhi benaknya.
Biasanya saat dalam keadaan mood yang buruk seperti ini Sakura yang akan menghiburnya, akan tetapi karena ia masih kesal dengan perkataan Sakura kemarin dirinya masih enggan untuk mendatangi Sakura.
"Hahh~" Ino menghela nafas.
Kakinya berpijak pada pos penjaga gerbang desa, Ino menghampiri Kotetsu.
"Aku mau kebelakang desa Kotetsu San " Ujar Ino masih dengan mood yang jelek.
Kotetsu menatap Ino heran, "Ada keperluan apa kau disana?"
Ino pun balas menatapnya sebal, "Ya aku ada urusan!"
Kotetsu mengeryit heran, "Yasudah kalau begitu, silahkan pergi"
"Baik Terima Kasih!" Ujar Ino jutek.
Kotetsu dan yang lain bertukar pandangan, "Kenapa anak itu?"
Yang lain mengibaskan tangan, "Sudahlah jangan pedulikan"
o
o
Ino berlalu pergi, melewati gerbang dan kemudian melangkah keluar.
Lalu melompati beberapa pohon yang menjulang tinggi didepannya.
Ino memijakan kakinya disalah satu pohon dan kemudian kembali melompati beberapa dahan pohon yang lain.
Ia memiliki tujuan untuk menenangkan diri disatu sungai yang berada dibelakang desa.
Sebenarnya tindakannya ini berbahaya, karena berjalan hanya seorang diri apalagi ia perempuan dengan kemampuan Taijutsu dibawah standar.
Tapi tidak apa-apa selagi masih berada didekat desa, lagi pula beberapa Junin penjaga yang bertugas diluar desa ini berada tak jauh.
Jika terjadi apa-apa Ino bisa berteriak.
Tap Tap
Ino melompati sebuah pohon dan berhenti, ia menerawang jauh kedepan sana, Ino hampir lupa jalan menuju sungai tersebut.
Ino kembali melompati beberapa pohon, terus berlanjut hingga ia kembali berhenti untuk memastikan jalannya benar.
Ia pernah kesini dulu bersama teman-teman yang lain saat merayakan kelulusan ujian Chunin.
Sudah lama sekali tapi sedikit banyak Ino masih bisa mengingat, waktu itu ia bersama teman-teman yang lain dan juga...
Ditemani oleh Gaara yang sudah terlebih dahulu menyandang status Chunin.
Ino menggelengkan kepalanya, ia berusaha mengusir kenangan dengan pria itu dari ingatannya.
Ia tidak berani mengingat pria itu, menyebut namanya pun enggan, perasaan bersalah selalu timbul tiap mengingatnya.
Tap Tap
Deg!
Tap Tap
Didepan sana terlihat Itachi dan Sasuke bergerak menuju arah berlawanan dengan Ino.
Kemungkinan mereka berdua akan pulang.
Itachi dan Sasuke sempat melirik kearahnya, namun karena sudah berpapasan Ino tidak sempat bertegur sapa dengan Itachi.
Sedetik kemudian Ino mengendikkan bahunya, melihat Itachi..
mengingatkannya pada kejadian tadi malam.
Ino melanjutkan perjalananya.
Ino jadi berpikir, bagaimana jika Itachi sudah menjadi kekasihnya ya?
Apakah Ino akan sanggup menahan sakit dibatinnya jika Itachi berteman dengan perempuan.
Belum berhubungan seperti ini saja Ino sudah menaruh perasaan cemburu.
Ino tertawa seraya menepuk jidatnya.
"Ino No Baka" Ujarnya pada angin.
Ino melanjutkan pergerakannya, melompati beberapa pohon didepannya hingga telinganya berhasil menangkap suara arus dari aliran air.
Ino melanjutkan aktifitasnya hingga ia sampai pada sebuah sungai, Ino melompat turun dari pohon hingga kakinya kini memijaki tiap batu kerikil yang terhampar disana.
"wahh~" Ujarnya dengan mata berbinar.
"Tempat ini masih bagus ya" Ujarnya lagi.
Ino langsung bergerak menuju aliran sungai, dan tanpa ragu membasuh tangan beserta wajahnya disana.
SHREK
Ino menghentikan aktifitasnya saat mendengar suara tersebut, ia menoleh saat menyadari kehadiran seseorang.
Ino mengusap wajahnya untuk memperjelas pandangannya.
Dan ia terkejut saat mendapati Sosok Shisui disana.
"Shisui Nii San" Ucap Ino.
Ia tidak percaya melihat sosok Shisui berdiri disana.
"Apa yang kau lakukan disini Yamanaka San ?" Tanya Shisui seraya berjalan mendekat kearahnya.
Ino berdiri dari posisinya lalu menghadap Shisui, "Aku memang mau pergi kesini, Shisui Nii San sendiri kenapa berada disini?" Tanya Ino balik.
"Aku melihatmu menuju kesini jadi aku mengikutimu dari belakang" Shisui menatap Ino.
"Kenapa hanya seorang diri Yamanaka San ? Tidak baik seorang gadis berjalan sendirian dihutan apalagi ini diluar desa" Ujar Shisui.
Ino tersenyum kaku.
" Ano aku hanya ingin berjalan sebentar Shisui Nii San setelah itu aku akan pulang" Sahut Ino.
"Iya tapi tidak baik berada disini sendirian Yamanaka San"
" Hai~" Jawab Ino, ia sesekali menatap Shisui.
Andai yang berada didepannya ini Itachi apa mungkin mood Ino langsung membaik ya?
"Kebetulan aku dan Itachi berada disini untuk melatih Sasuke, tapi Itachi dan Sasuke memutuskan untuk pulang lebih dulu."
Ino mengangguk-angguk, " Hai tadi aku berselisih dengan Itachi Onii San dan Sasuke "
Shisui bergeming. "Oh ya?"
Ino mengangguk, "Iya Shisui Nii San"
"Aku juga sebenarnya akan pulang mengambil keperluanku, tapi saat melihatmu sendirian aku tidak jadi pulang" Ujar Shisui.
Ino bersorak dalam hati, akhirnya tujuannya untuk mendekati Shisui berhasil.
Setidaknya Ino sudah bisa masuk dalam ruang lingkup kehidupan Itachi sehingga ia tidak perlu bersusah payah untuk mengejar Itachi.
"Terima Kasih Shisui Onii San" Ino berujar semanis mungkin.
Shisui menatapnya, "Tidak masalah Yamanaka San"
Ino tidak percaya bisa mengobrol dengan Shisui sedekat ini.
Ditambah lagi suasana disekitar sepi, tidak ada orang yang melihat.
Ino bisa jadi leluasa untuk mengajak Shisui berbincang.
"Panggil aku Ino saja Shisui Nii San"
Shisui mengangguk.
"Baiklah, Ino"
Ino berusaha mencari topik pembahasan agar tidak terjadi keheningan diantara mereka.
"Kalian sering berlatih disini ya Nii San" Tanya Ino.
Beruntung Shisui mau-mau saja meladeni pertanyaannya.
Setidaknya Ino tidak canggung.
"Iya kadang aku dan Itachi berlatih disnini, tapi terkadang kami berlatih ditempat yang berjauhan dari desa ini"
Ino mengetuk jari didagunya, "Ohh tidak heran Shisui Nii San dan Itachi Onii San menjadi ninja yang hebat, ternyata kalian rajin berlatih ya"
Shisui tertawa, "Ohh tidak, Kau terlalu berlebihan Ino"
Ino menyambut tertawaan Shisui, "Yasudah kalau Nii San tidak mau mengakui, yang jelas itu sebuah fakta! Aku saja mau menjadi ninja hebat"
Dalam hati Ino berteriak senang, percakapan mereka semakin hangat.
Ino jadi tidak takut lagi untuk segera mencari topik untuk dibahas.
"Semua ninja bisa menjadi hebat asal mau berusaha dan rajin berlatih" Ujar Shisui.
Ino mengangguk menyetujui kalimat Shisui.
Benar yang dikatakan Shisui, harus rajin berlatih bukannya memperbanyak ambisi seperti dirinya.
Ino ingin menjadi ninja hebat tapi tidak mau berusaha.
Ino menutup mulutnya seraya tertawa, "Benar Shisui Nii San, jadi Shisui Nii San dan Itachi Nii San hari ini hanya melatih Sasuke?"
Shisui menggeleng, "Tidak, kami berdua akan lanjut berlatih. Itachi hanya menemani Sasuke pulang sekalian akan mengambil keperluan untuk berlatih"
" Sokka kalau begitu Shisui Nii San temui Itachi saja, aku akan pulang sebentar lagi" Ujar Ino.
Shisui menggeleng, "Tidak usah, Itachi tahu aku berada disini"
"Hah Sugoi Shisui Nii San~"
Shisui tertawa, Ino terlihat sangat polos dimatanya.
"Aku meninggalkan jejak disetiap pohon yang kulewati"
"Ohh~" Gumam Ino.
"Jadi kalian akan berlatih disini, Shisui Nii San ?" Tanya Ino.
Shisui mengangguk, " Hai"
"Itachi sudah datang" Shisui menengok kearah belakang, dan benar saja, Itachi terlihat melangkah keluar dari balik pohon.
Deg Deg Deg!
Jantung ino berdetak tak karuan, momen ini yang telah lama dinantikannya, yaitu dimana ia bisa memandang Itachi lebih dekat seperti ini.
Namun Ino tidak yakin bisa bertahan lama untuk sekedar berbincang dengan Itachi.
Lihat! Melihat Itachi dari jauh saja sudah membuat tubuhnya gemetaran.
Apalagi berdekatan.
Sosok yang menjadi pujaan hatinya itu kini berjalan kearah mereka.
Ino merasakan pipinya memanas.
"Shisui?" Interupsi Itachi.
Itachi kemudian menatapnya, "Bersama Yamanaka San juga ya?" Tanya Itachi.
Ino dengan pipi bersemu mengangguk, " Hai"
Pandangan Itachi kembali berpindah kearah Shisui, "Jadi kita akan berlatih disini?" Tanya Itachi.
Shisui mengangguk, "Iya, kita langsung mulai saja Itachi"
"Baiklah" Tanpa banyak bicara Itachi meraih sebuah pedang.
Begitu pun dengan Shisui.
Mereka berdua berpindah ketempat yang agak jauh dari Ino, namun kata-kata yang dilontarkan mereka berdua masih bisa didengar Ino.
"Kita mulai" Ucap Shisui memberi aba-aba.
" Hai" Jawab Itachi, setelahnya mereka berdua pun bergerak secara bersamaan.
Itachi dan Shisui sama-sama mengayunkan pedangnya, entah siapa yang memulai, kini yang terlihat hanya Shisui yang berhasil menepis serangan Itachi.
Hingga mata pedang mereka berdua terlihat saling bertemu dan beradu.
Kini Itachi dan Shisui bergerak bagaikan kilat dengan kondisi saling menyerang.
Ino menggeleng tidak percaya.
Melihat dua ninja yang sangat hebat saling beradu, rasanya Ino malu dengan kemampuannya sendiri.
Kalau ia berhadapan dengan salah seorang dari mereka berdua, mungkin baru semenit mulai Ino sudah langsung K.O.
Pasti!
Ninja berkelas seperti mereka itu mungkin tidak perlu melawan, dengan sekali tiupan saja ninja lemah seperti dirinya pasti sudah terpental.
Bug!
Itachi terlihat tersungkur namun secepatnya terbangun.
"Itachi Onii San !" Pekik Ino tanpa sadar.
Dan pekikannya tersebut berhasil menyita perhatian Itachi dan Shisui.
" Daijoubu Ka?" Pekik Ino lagi.
" Hai Yamanaka San Daijoubu Desu" Jawab Itachi.
Ino tanpa sadar menghela nafas lega, dan pemandangan tersebut berhasil ditangkap oleh Shisui.
Namun tampaknya Ino tidak menyadari kala sedang diperhatikan oleh Shisui.
Ino pun kembali memfokuskan pandangannya pada Itachi dan Shisui yang kembali adu kemampuan.
Ino tidak dapat melihat dengan jelas serangan Itachi maupun Shisui, namun kali ini Itachi terlihat berhati-hati.
Kini serangan mereka berdua terlihat imbang.
Ino hanya bisa melihat pergerakan mereka yang seperti kilat.
Cepat sekali.
Ino melangkah mundur, ia mendekat kearah pohon, lalu duduk disana sambil menyandarkan tubuhnya.
Angin yang berhembus membuat mulutnya menguap.
Lama memperhatikan mereka, Ino secara perlahan menjadi hilang ingatan dan terlelap.
o
o
o
"Hari sudah menjelang sore Shisui, tidak baik dilihat orang desa jika kita bertiga pulang malam" Itachi memperhatikan paras Ino.
Shisui menganggukan kepalanya, "Benar, tapi aku tidak berani menyentuh untuk membangunkannya"
Itachi menatap Shisui, "Iya, aku juga tidak berani"
Shisui balas menatap Itachi.
"Bagaimana kalau salah satu dari kita kembali kedesa untuk memanggil Izumi kesini?"
Itachi menggeleng, "Kurasa solusi itu tidak akan berjalan baik Shisui" Sahut Itachi.
Baru saja Shisui akan menjawab perkataan Itachi, tubuh Ino kini bergerak menggeliat.
Itachi dan Shisui saling memandang.
Tak lama Ino membuka matanya dan mengerjap.
Shisui dan Itachi kini memperhatikan Ino.
Sedangkan Ino terlihat terkejut, ketika pertama kali bangun pandangan yang menyapa indera penglihatnya adalah pujaan hatinya serta Shisui.
Iris biru lautnya kini beralih menatap langit, alangkah terkejutnya Ino saat melihat cahaya sekitar sudah menjelang sore.
Ino pun reflek berdiri.
"Shisui Nii San, Itachi Nii San Gomennasai aku tertidur, aku tidak sengaja tertidur" Ujar Ino dengan ekspresi menyesal.
Itachi dan Shisui mengangguk.
"Tidak apa-apa, ayo kita segera kembali kedesa" Ujar Itachi.
"Aku didepan, Ino ditengah dan Itachi dibelakang ya"
"Baiklah " Jawab Itachi.
Sesuai dengan arahan Shisui, ketiganya pun melesat pergi.
ooOoo
Hari demi hari telah berlalu, sejak kepulangan mereka bertiga dari sungai waktu itu Ino sudah mulai berteman dekat dengan Shisui dan Itachi.
Ino bersorak senang karena pada akhirnya berhasil mendekati dua sahabat tersebut sekaligus.
Sekarang tinggal menjalankan rencana Ino untuk menarik perhatian Itachi.
"Aku akan menemui Fugaku San dulu pagi ini, ada yang harus dibicarakan dengannya mengenai tawanan yang ditangkap kemarin malam"
Kalimat barusan sukses menyita perhatian Ino.
"Oh begitu, baiklah Anata hati-hati dijalan ya" Ujar ibunya.
Ino pun langsung mengejar ayahnya didepan pintu, mengetahui ayahnya akan pergi ke lingkungan Uchiha, Ino bermaksud untuk ikut dengan ayahnya.
Siapa tahu ia bisa bertemu Itachi disana.
Ya kan?!
" Tou San Matte! " Cegah Ino.
Ayahnya menoleh.
" Nande Ino?" Tanyanya.
" Tou San mau pergi kerumah kepala polisi Konoha ya?" Tanya Ino balik.
"Tidak kerumahnya tapi ke kantornya langsung"
Ino tersenyum, "Aku ikut Tou San boleh kan"
Ayahnya memasang ekspresi heran.
"Ya boleh saja, tapi aku heran kau tiba-tiba ingin ikut kekantor polisi?"
Ino memutar matanya malas, "Tidak apa-apa, aku hanya ingin melihat bagaimana Tou San bekerja"
"Yasudah baiklah, ayo" Ajak ayahnya.
Ino dan ayahnya melangkah pergi, sesekali ia dan ayahnya berbicara tentang aktifitas Ino sehari-hari.
Hingga ia dan ayahnya melewati pemukiman Yamanaka, mereka pun pergi menyusuri jalan.
Dan tanpa terasa mereka sudah memasuki area Uchiha dan menuju kantor kepolisian Konoha.
Ino kali ini berjalan dibelakang ayahnya, mereka kemudian masuk kedalam gedung kepolisian.
" Tou San aku tunggu disini saja ya?" Ujar Ino, ayahnya mengangguk.
"Baiklah, kalau ayah lama kau pulang saja duluan ya Ino" Sahut ayahnya.
"Baik Tou San"
Ino kini duduk dikursi yang tersedia disekitar, Ino melirik ayahnya yang kini bersalaman dengan salah satu anggota kepolisian disana.
'Apa Fugaku San sudah datang?' Ayahnya bertanya pada orang tersebut.
'Sudah Inoichi San silahkan naik keatas, Fugaku San ada diruangannya' Lelaki tersebut mengarahkan ayahnya menuju tangga.
Ino mengalihkan pandangannya kearah jalan.
Tak berapa lama Ino melihat Sasuke datang, tanpa menghiraukan keberadaannya Sasuke melangkah melewatinya.
Ino memutar matanya.
Heh!?
Sombong sekali. Jadi tipe seperti ini yang masih diperjuangkan Sakura?
Ino menahan tawa, tampaknya Sakura harus lebih banyak bersabar.
Ino tidak yakin hati Sasuke akan luluh secepatnya.
Ino memgalihkan lagi pandangannya kedepan gedung.
Tak lama wanita yang dulu berjalan dengan Itachi datang, ia sempat bertemu pandang dengan wanita itu, melihatnya Ino jadi ingin cepat pergi dari gedung ini.
Ino baru tahu wanita itu bekerja dibagian Kepolisian.
Wanita itu menarik tatapannya dan lanjut melangkah tanpa menghiraukannya.
Ino menautkan alisnya, lalu kemudian Ino mendecih.
Baguslah wanita itu tidak tersenyum padanya, lagipula Ino tidak sudi memberikan senyum padanya.
Lama berada disini Ino rasanya tidak nyaman, kedatangan wanita itu lagi-lagi merusak mood nya.
Dengan perasaan kesal Ino beranjak dari tempat duduknya, namun saat akan melangkah pergi Ino dikejutkan dengan suara seseorang yang memanggilnya.
"Hey Yamanaka Ino San"
Ino menoleh dan mendapati wanita yang membuat moodnya hancur berjalan kearahnya.
" Hai?" Sahut Ino.
"Bisa bicara sebentar?" Tanya wanita tersebut.
"Bisa" Jawab Ino singkat.
"Ayo ikut aku" Ajaknya.
Ino berjalan sejajar dengan wanita tersebut, dan dengan perasaan heran Ino mengikuti arah langkah wanita itu, hingga mereka keluar dari area gedung kepolisian.
"Ada hubungan apa kau dengan Shisui dan Itachi?" Tanya wanita tersebut secara tiba-tiba.
Ino memasang ekspresi bingung.
"Hah? Tidak ada" Jawab Ino singkat.
"Benarkah?" Tanya wanita itu lagi.
"Ya, kami hanya berteman" Jawab Ino lalu menatap kearah lain.
"Apa benar Shisui dan Itachi mau berteman dengan orang sepertimu?" Pertanyaan barusan sukses membuat Ino berhenti melangkah.
Nada itu terdengar mengintimidasi dirinya, Ino menatap wanita itu tidak suka.
"Apa maksudmu?" Tanya Ino dengan nada sinis.
Seolah menantang wanita itu balas menatap tajam kearahnya.
"Begini, kalau kau berniat mendekati mereka karena memiliki perasaan suka, lebih baik kau mundur saja." Ujar wanita tersebut, seketika membuat Ino membeku.
"Karena Shisui maupun Itachi belum mau punya hubungan semacam itu dengan wanita manapun" Ujar wanita itu tak kalah sinis.
Ino bahkan tidak bisa menjawab perkataan wanita itu.
Sampai-sampai pelupuk matanya kini mulai dibanjiri cairan bening.
Kalau wanita ini tidak dekat dengan Shisui dan Itachi sudah pasti dari tadi Ino menampar mulutnya.
Kata-kata yang dilontarkannya barusan sangat kurang ajar.
Siapa dia? Berani-beraninya mengatur hidup Ino?
Jadi wanita ini menyuruhnya menjauh dari Shisui dan Itachi?
"Kenapa kau membuntuti Shisui dan Itachi yang sedang berlatih dihutan sana?" Wanita itu semakin berani mengatainya.
Tanpa terasa buliran airmata lolos dari kelopak mata Ino.
Hh~
Harga dirinya sudah jatuh didepan wanita itu.
Pasti wanita itu memandang rendah dirinya sekarang.
"Yang kau lakukan itu hanya mengganggu ketenangan orang"
"Dari caramu berinteraksi dengan Shisui maupun Itachi aku sudah bisa membaca kalau kau hanya ingin merayu mereka berdua bukan?" Lanjutnya.
Ino bisa saja membalas perkataannya, namun Ino membenci airmata yang sedang menetes mengaliri pipinya.
Ino tidak mau semakin dipandang remeh oleh wanita itu.
"Menjauhlah dari Shisui dan Itachi, mereka bukan tipe pria yang mau mengurusi permasalahan cinta" Setelah mengatakan kalimat tersebut, wanita itu berbalik pergi meninggalkan Ino seorang diri.
Ino menghapus airmata dipipinya, seraya melangkah Ino tertawa.
Penyebabnya tertawa adalah wanita itu berhasil membaca siasatnya.
Yang dikatakannya itu memang benar tapi Ino hanya berniat menarik perhatian Itachi.
Bukan Shisui.
Ino pergi secepatnya meninggalkan tempat tersebut, ia menutup mulutnya agar tidak terisak.
Tanpa disadari oleh Ino, salah seorang yang menjadi bahan pembicaraan tengah berdiri ditempat lain, iris kelamnya memperhatikan Ino yang berlalu pergi.
o
o
o
Hembusan angin menyapu permukaan kulit gadis bernama Yamanaka Ino yang sedang duduk disebuah batang pohon yang tumbang.
Maniknya memperhatikan beberapa tanaman bunga yang terhampar ditaman tersebut.
Namun sedetik kemudia isak tangis kembali terdengar dari bibirnya.
Kalimat wanita Uchiha itu masih terngiang dikepalanya, jujur saja ia sakit hati, malu dan marah.
"Oy Ino! Kau disini ternyata"
Ditengah tangisannya Ino mendecak kesal, kenapa disaat seperti ini anak itu datang.
Dan lagi bagaimana anak itu tahu kalo ia berada ditempat ini.
"Ino kau kemana saja!?"
Pluk!
Seseorang tersebut menepuk punggungnya.
Ino hanya pasrah dan mau tidak mau membiarkan temannya itu mendengar tangisannya.
"Hiks.. Hwaa!"
"Eh? Nani? Apa yang terjadi Ino?" Tanyanya panik.
Ino semakin menambah volume tangisannya.
" Damare Naruto~" Ujar Ino serak lalu menangis sejadinya.
Naruto pun melongo.
Dalam benaknya bertanya-tanya.
Naruto pun duduk disamping Ino.
Dan membiarkan Ino melampiaskan tangisannya.
Sekitar setengah jam kemudian tangisan Ino mulai berhenti.
"Boleh aku bertanya?" Tanya Naruto.
Ino mengangguk sembari mengusap airmatanya.
"Kau kenapa Ino?" Tanya Naruto lagi.
"Tidak apa-apa Naruto. Ada apa?" Tanya Ino seraya terisak.
Ino sesekali menyeka airmatanya.
Melihatnya Naruto pun memekik heran.
"He – eeee ? Apa kau bercanda Ino? Setelah kau menangis sekeras itu kau bilang kau tidak apa-apa?" Tanya Naruto setengah memekik.
"Aku punya masalah tapi aku tidak bisa menceritakannya pada orang lain, memang kenapa?!" Tanya Ino kesal.
"Kalau tidak ada yang ingin kau sampaikan lebih baik kau pergi saja" Usir Ino.
Naruto mendengus, "Yasudah kalau kau tidak mau berbagi. Begini Gaara mengundang kita kedesa Suna untuk ikut merayakan pesta penyambutan Kazekage yang baru"
Ino menatap Naruto, " Hontou Ni ?" Tanya Ino.
Naruto mengangguk. "Iya masa Gaara tidak memberi tahumu?"
"Tidak ada" Jawab Ino.
"Heh? Bagaimana bisa? Kau kan kekasih Gaara?"
Ino mengusap airmatanya, "Aku akan memberitahumu nanti kalau aku jadi ikut, kau boleh pergi"
Naruto menatap Ino penuh tanya, "Jangan-jangan kau menangis karena sudah putus dengan Gaara ya?" Tanya Naruto.
BUGH !
Ino memukul kepala Naruto, " Baka!"
" It – t – te" Naruto meringis kesakitan.
"Bukan! Aku menangis karena masalahku sendiri. Enak saja kau ini bicara"
"Ah Sokka Sokka kalau begitu aku pergi dulu, kalau kau jadi ikut beritahu aku. Jadi aku bisa memberi daftar nama yang ikut ke Suna pada ayahku!"
Ino mengangguk, "Ya! Oh ya Naruto jangan bilang pada siapapun kalau aku menangis ya? Awas kau!"
"Iya iya aku tidak akan cerita pada siapa-siapa" Sahut Naruto lalu berdiri sebelum kemudian beranjak pergi.
"Bagus!"
Naruto pun pergi meninggalkan Ino yang kini menghela nafas lesu.
Apa mungkin ini balasan karma untuk dirinya ya?
Masa perjalanannya untuk mendekati Itachi berhenti sampai disini.
Ia disuruh untuk menjauhi Itachi.
Padahal Ino benar-benar menyukai Itachi, ia sudaj berjanji pada dirinya sendiri, apabila ia berhasil mendapatkan Itachi ia tidak akan mempermainkan perasaan orang lagi.
ooOoo
Satu persatu teman-teman yang lain bubar, disusul dengan Ino dan Sakura.
Mereka habis mengikuti pengarahan untuk persiapan berangkat kedesa Suna 3 hari lagi, Ino memutuskan untuk ikut.
Sebenarnya dia tidak mau, karena harus bertemu lagi dengan Gaara, tetapi karena dipaksa oleh Sakura akhirnya Ino memutuskan untuk ikut saja.
Kini mereka berdua berjalan menuju arah jalan pulang, diujung jalan Ino dan Sakura berpisah.
"Aku duluan ya Ino pig" Ujar Sakura lalu pergi.
Ino memutar matanya malas, "Ya pergi sana jidat"
Malam ini tidak seperti biasanya, jalanan menuju perumahan Yamanaka terlihat agak lengang.
Ino meneruskan langkahnya.
Bahkan seorang pun tidak ada yang lewat.
Apa mungkin dirinya yang terlalu larut pulang ya?
Ino mempercepat langkahnya, ia akan berbelok menuju perumahan Yamanaka sebelum akhirnya suara seseorang membuatnya berhenti melangkah.
"Yamanaka San "
Ino terkejut bukan main.
Bagaimana tidak, ia hanya berjalan seorang diri tanpa melihat satu orang pun, namun tiba-tiba sebuah suara memanggilnya.
Jujur saja, Ino sedang takut.
Saat menoleh kebelakang Ino melihat sosok pria yang sangat dikenalnya berjalan mendekat.
Ino bergerak mundur saat orang tersebut mendekat.
"Itachi Onii San ?"
Ini seperti mimpi.
Tumben Itachi mendatanginya seperti ini, meski kini perasaannya berbunga melihat pria itu.
Namun saat mengingat perkataan perempuan Uchiha waktu itu, Ino sesegera mungkin mengalihkan pikirannya untuk mengusir perasaan bahagia yang memenuhi benaknya.
" Hai Yamanaka San bisa bicara sebentar?" Ujar Itachi.
Ino mengangguk pelan.
"Bisa itachi Nii San, tapi sebentar saja" Jawab Ino.
Itachi tersenyum tipis.
" Hai, waktu itu aku melihatmu berbincang dengan Izumi"
'Ohh jadi nama wanita itu Izumi' gumam Ino dalam hati.
"Kalau boleh tahu, apa yang dikatakan Izumi?" Tanya Itachi lagi.
Ino tertawa sinis saat mengingat kembali kejadian tersebut, "Itachi Onii San bisa tanya langsung dengan dia"
Itachi terdiam.
"Dia bilang aku tidak pantas berteman dengan kalian" Ino tersenyum kecut.
Ino memalingkan wajahnya.
"Tapi yang dikatakan Izumi San memang benar, aku ini harus menjauhi kalian karena keberadaanku hanya mengganggu"
Ino menghapus airmatanya yang berhasil lolos.
"Apa Izumi berkata begitu" Tanya Itachi.
Ino mengangguk dan menatap Itachi dengan mata memerah.
"Iya"
Itachi menghela nafas, "Jangan dengarkan Izumi, aku dan Shisui tidak merasa terganggu"
Untuk kesekian kali Ino mengusap airmatanya.
"Terima Kasih Itachi Nii San"
Itachi menatap Ino prihatin.
"Apa perkataannya ada yang mengancammu Yamanaka San?" Tanya Itachi.
Ino menggeleng.
"Tidak ada. Tapi aku berterima kasih pada Izumi, berkat dia aku bisa jadi berpikir"
Ino diam sejenak lalu menatap Itachi.
"Dia menyuruhku untuk menjauh kalau aku memiliki perasaan terhadap kalian" Ujar Ino sembari berjalan mendekati Itachi.
Ino merasa puas memandang wajah Itachi sedekat ini, meski hanya malam ini tapi Ino merasa bahagia.
Itachi mengangkat sebelah alisnya, "Maksudnya bagaimana?"
"Maafkan aku Itachi Nii San"
Itachi memasang ekspresi bingung.
"Aku mencintaimu"
Itachi membeku ditempatnya.
"Aku sudah lama memendam perasaan ini tapi aku tidak pernah berani mengatakannya"
Ino menghapus sisa airmata dipipinya.
Sedangkan Itachi terlihat masih membeku.
"Maafkan aku sudah lancang Itachi Nii "
Ino menatap kedalam mata Itachi.
"Tapi sebelum aku benar-benar menjauh. Aku hanya ingin kau tahu perasaanku"
Ino mundur selangkah.
"Sudah malam, aku pulang dulu Itachi Nii San" Ujar Ino lalu berbalik pergi.
Ino menghela nafas lega, perasaan yang selama ini ia pendam sudah disampaikan pada Itachi.
Ino tidak peduli apakah Itachi mau membalas perasaannya atau tidak.
Yang penting Itachi sudah tahu perasaannya.
"Tunggu" Suara barusan membuat Ino berhenti melangkah.
"Ayo, aku antar pulang"
TBC
Hello Readers kesayangan aku terutama buat yg udah Review, thankyou ya.
Setelah 2 Tahun ngilang aku baru buka akun ini lagi, sorry sibuk bgt soalnya.
Tenang aja aku comeback emang niatnya untuk lanjutin fict ini sampe selesai. So ditunggu aja
Thankyou atas sambutannya Guest, hope you like it oke?!
