Semua Ninja yang ikut dalam perjalanan ke desa Suna sudah menunggu digerbang.

Pandangan mata Ino tanpa sengaja beralih pada Shisui, ia terlihat memakai lengkap pakaian Anbu.

Ino heran kenapa anggota Anbu mau menampakan diri disini, divisi mereka itu kan bersifat rahasia.

Mereka memang akan ikut serta tetapi misi mereka hanya akan mengawasi dari jauh.

Sesaat pandangan Ino dan Shisui bertemu, Ino pun cepat-cepat mengalihkan pandangannya.

Agar tidak terjadi interaksi antara ia dan Shisui.

Namun tanpa diduga Shisui menghampirinya, Ino membulatkan matanya, ia kini menatap kaku kearah Shisui.

Matanya kini menatap sekeliling dan ia mendapati Izumi yang sedang berbicara dengan Junin lain.

Wanita itu juga ternyata ikut, dan jika dilihat-lihat sepertinya dia bertugas sebagai pasukan pengawal.

"Kau juga ikut Ino?" Tanya Shisui, ia mengikuti arah pandang Ino yang kini terlihat tidak nyaman saat menatap ke suatu arah.

Shisui tertawa.

"Jangan hiraukan Izumi, dia sedang ada masalah makanya kau yang terkena imbas amarahnya"

Ino mengalihkan tatapannya, "Iya, tapi sepertinya memang dia tidak suka aku berteman dengan kalian Shisui Nii"

Shisui tersenyum tipis, "Sudahlah, jangan dipikirkan"

Ino mengangguk, "Jadi kau akan ikut juga Shisui Nii"

"Ya aku ditunjuk sebagai kapten Anbu" Jawab Shisui.

"Sou Desu Ka" Jawab Ino singkat.

Matanya sesekali melirik kearah Izumi.

"Aku bersama Itachi, tapi Itachi belum datang. Mungkin masih ada urusan" Ujar Shisui yang kini mencari-cari sosok Itachi ditiap barisan ninja.

"Ah itu Itachi sudah datang" Shisui menunjuk kearah samping.

Ino mendaratkan pandangannya pada sosok yang ditunjuk.

"Itachi" Panggil Shisui, pipi Ino seketika bersemu.

Ia jadi malu berhadapan dengan Itachi, ia jadi canggung bertemu Itachi setelah menyatakan perasaannya.

Itachi menatap Ino.

Nafas Ino serasa berhenti, tatapan Itachi membuatnya seolah tidak bernyawa.

Tubuhnya bahkan mendadak lemas.

Ino berusaha menguatkan dirinya.

Dengan menahan perasaan gugup, Ino pun melayangkan sebuah senyum dan dibalas oleh Itachi.

DEG!

Jantung Ino seketika berdegub kencang.

Apalagi saat Itachi berjalan mendekatinya dan Shisui, jantung Ino rasanya ingin melompat keluar.

Ino mencuri pandang kearah Izumi yang ternyata kini tengah memandangnya.

Seketika Ino membeku.

"Ayo Shisui kita menghadap Hokage Sama" Ujar Itachi sambil memperhatikan gerik tubuh Ino.

"A – aku pergi dulu Shisui Nii San, Itachi Nii San" Jawab Ino terbata.

Sesekali ia melirik Izumi yang masih mengawasinya.

"Kalian berhati-hatilah nanti dijalan" Ino membungkukkan badannya.

Itachi maupun Shisui tertawa melihat tingkah Ino.

"Tidak Usah terlalu formal Ino, kau pun berhati-hatilah nanti dijalan" Sahut Shisui.

" Hai" Ino menyematkan senyum kaku lalu kemudian melangkah pergi menuju kumpulan teman-temannya.

o

o

o

Sakura menarik tangan Ino, dan jika dilihat dari jarak 1 meter, tubuh Ino terlihat diseret oleh Sakura.

"Hey Ino, apa kau tidak merasa kalau Shisui itu menyukaimu?" Tanya Sakura sembari berbisik.

"Hah?"

Sakura mengangguk, "Iya, lantas mengapa tadi Shisui mendatangimu?"

Ino mendesis, "Isss tidak begitu Sakura, Shisui Nii San itu memang baik hati"

Ino menoleh kearah Shisui dan Itachi yang kini berjalan sejajar menuju kedalam desa.

"Yosh semuanya perhatikan" Kakashi menginterupsi mereka semua.

Sakura yang akan melanjutkan pertanyaannya kini mengatupkan bibirnya.

Karena sebentar lagi mereka semua akan berangkat, Sakura memutuskan untuk membahasnya lagi di desa Suna saja.

Semua teman-teman mereka yang ikut serta kini diam memperhatikan.

"Yang akan menjadi pemimpin dalam perjalanan ini adalah aku, Asuma dan Kurenai Sensei" Ujar Kakashi.

"Apabila ada kendala pada teman yang lain atau ada sesuatu yang dibutuhkan beritahu aku, Asuma atau Kurenai Sensei"

"Karena kami bertanggung jawab atas keselamatan kalian semua selama perjalanan menuju Sunagakure"

"Apa semuanya sudah siap" Tanya Kakashi memastikan.

Semuanya serentak menjawab, "Iya siap!"

"Kalau begitu Ayo!"

"Kita pergi sekarang!"

"Hai!" Jawab mereka serentak.

Ino dan Sakura pun berjalan mengikuti teman yang lain, saat mulai berjalan Ino sesekali menatap kebelakang.

Entah kenapa pandangan Izumi itu masih betah menatap dirinya, merasa tidak nyaman Ino pun menarik Sakura berjalan diposisi tengah agar menjauh dari pandangan Izumi.

" Nani yo Ino?!" Interupsi Sakura dengan wajah kesal.

"Tidak apa-apa!" Jawab Ino ketus.

o

o

Pikiran Ino sedang berkecamuk, ia sudah menjadi seorang pengecut, karena terus menghindari Izumi.

Seakan-akan ia penjahat yang tertangkap basah karena melakukan tindak kejahatan.

Padahal tidak.

Sebenarnya ia tidak perlu takut pada Izumi, lagipula niatnya bukan untuk mencelakai Itachi dan Shisui.

Lagipula ia sudah menjauh kan dari Itachi dan Shisui?

Lalu untuk apa ia takut!?

Menghindar secara terus menerus itu sangat melelahkan, ia saja sekarang sedang haus.

Ino mengurangi kecepatannya dan membiarkan tubuhnya kini berada dibarisan belakang, tepatnya ia berada didepan pasukan pengawal.

Kalau Izumi berani macam-macam dengannya Ino akan layani.

Tap Tap

Seseorang mendekati Ino dan saat menoleh ternyata orang tersebut adalah Izumi.

Ino menatapnya sinis.

Ino tidak takut dengannya.

Ino melihat iris mata hitam perempuan itu berubah merah.

Yang membuat Ino heran, tiga tanda kecil dalam mata itu pun ikut berubah bentuk seiring berubahnya warna pada mata Izumi.

Entah kenapa rasanya Ino seperti hilang ingatan, namun untungnya ia masih tetap bisa bergerak, Ino memutuskan untuk mendahului Izumi.

Namun saat bergerak mendahului Izumi, Ino merasa tubuhnya oleng dan tubuhnya terasa seperti menghantam sesuatu dengan sangat keras.

BUGH!

Pandangan Ino berubah gelap.

o

o

o

"Apa yang terjadi padanya?"

"Aku menemukannya sudah dalam kondisi seperti ini"

"Apa kita bawa saja wanita ini kembali ke Konoha "

"Bagaimana? Apa kau sudah memberitahu Shisui Taicho?"

"Sudah! Taicho sedang menuju kesini"

Samar-samar Ino mendengar suara percakapan tersebut.

Ia secara perlahan membuka matanya, sesaat ia meringis ketika merasakan sakit dikepalanya.

"Sshh!"

Tidak mampu menahan sakit Ino kembali memejamkan matanya.

Ino merasakan seluruh tubuhnya dipenuhi rasa sakit.

" Taicho!"

" Taicho saat kami temukan, dia sudah seperti ini"

Ino merasakan seseorang menyentuh lengan dan lehernya, namun Ino masih belum mampu membuka matanya.

"Masih bernafas" Ujar sebuah suara yang sangat Ino kenal.

"Tinggalkan saja dia denganku, dia tidak akan bisa meneruskan perjalanan dengan kondisi seperti ini"

"Baiklah Taicho, kami duluan pergi" Ujar beberapa orang yang lain.

"Beritahu Itachi untuk segera meyusulku kesini" Suara yang sangat Ino kenal tersebut kembali bersuara.

"Baik Taicho"

Ino bersusah payah membuka matanya dan saat kelopak matanya berhasil terbuka, pemandangan yang menyapanya adalah Shisui yang kini berjongkok disamping tubuhnya.

"Ino Daijoubu Ka?"

Ino mencoba untuk bangkit namun terhenti saat merasakan sakit yang amat sangat disekujur tubuhnya.

Ino menatap Shisui.

Cukup lama.

Hingga didetik berikutnya Ino menangis terisak, Shisui yang mendengar tangisan Ino pun menjadi semakin panik.

"Ino? Apa yang terjadi?" Tanya Shisui khawatir.

Tak lama Itachi pun datang, Ino pun semakin menambah volume tangisannya.

Itachi segera mendekat dan berjongkok didekat tubuh Ino.

"Apa yang terjadi?" Tanya Itachi.

"Yang lain menemukan Ino pingsan dengan luka seperti ini" Jawab Shisui.

Tangisan Ino kini berubah menjadi sesenggukan, Itachi dan Shisui pun saling bertukar pandangan.

"Kita tidak akan sempat kembali ke desa, sebentar lagi waktu akan memasuki malam"

Itachi mengangguk.

"Penginapan jauh dari sini, kita bermalam disini saja" Sahut Itachi.

" Hai , kita akan merawat lukanya seadanya saja, apa kita perlu memanggil ninja medis kesini?" Tanya Shisui.

"Besok saja Shisui, mereka mungkin sudah jauh" Jawab Itachi.

"Ya, tapi kita tidak punya persiapan disini" Ujar Shisui lagi.

Shisui bergerak dari posisinya, "Aku akan memindahkannya, buatlah api Itachi"

Shisui menyelipkan tangannya ditubuh Ino lalu mengangkatnya agak jauh dari lokasi awal Ino ditemukan.

Itachi melirik sebentar dan kemudian pergi memungut ranting kayu.

Shisui secara perlahan membaringkan tubuh Ino.

Tangisan Ino kini mulai berhenti, Shisui duduk didekat wajah Ino.

"Bisa kau ceritakan apa yang terjadi padamu Ino?" Tanya Shisui.

Ino mengusap airmatanya.

" Hai" Jawab Ino lesu sembari menahan isakan.

Itachi membakar beberapa kayu yang berhasil terkumpul.

"Aku ingat berada diposisi paling belakang, tidak lama Izumi datang lalu menatapi aku dengan mata Sharingan yang bentuknya aneh"

Ino kembali menghapus airmatanya.

"Setelah itu aku tidak ingat lagi Shisui Nii, hingga aku terbangun seperti ini"

Ino kembali menangis terisak.

"Aku tidak tahu salahku apa pada dia, padahal kupikir aku sudah menjauhi kalian berdua"

Ino kembali menangis.

Shisui dan Itachi kembali saling memandang.

Ino sekuat tenaga mencoba untuk bangkit, namun baru saja setengah dari badannya bergerak, Ino memekik sekencang mungkin saat merasakan sakit dibagian kaki.

"Arrgh!"

Merasa kasihan dengan Ino, Shisui pun secepat kilat bergerak membantu menyangga tubuh Ino.

Shisui menyandarkan tubuh Ino didadanya.

"Kenapa kakiku sakit sekali!?" Ringis Ino disela tangisannya.

Kini tubuh Ino bersandar ditubuh Shisui, karena Ino tidak mampu menahan tubuhnya sendiri, mau tak mau Shisui meletakan tangannya dipinggang Ino.

"Badanku sakit semua" Ino pun kembali menangis.

Kini pemandangan yang membuat canggung tertera didepan mata Itachi.

Didepan sana, Shisui terlihat sedang memeluk tubuh Ino yang masih menangis.

Itachi berjalan mendekati keduanya.

"Mungkin kakinya terkilir"

Shisui mengangguk, "Apa kau bisa meluruskan kakinya Itachi? Dengan sekali sentak"

"Aku ragu melakukannya, kau saja Shisui" Jawab Itachi.

Ino masih menangis, sehingga tidak mendengar dengan jelas percakapan yang terjadi antara Itachi dan Shisui.

"Baiklah, kau yang menjaga tubuhnya"

Itachi dan Shisui kini berpindah tempat, hingga kini Itachi yang mengambil alih tubuh Ino.

"Mungkin lebih baik tubuhnya dibaringkan saja Shisui" Ujar Itachi.

Ino yang sadar apa yang sedang terjadi kini membeku, dari jarak sangat dekat Ino merasakan sentuhan Itachi.

Jantung Ino berdentum hebat.

Apalagi saat Itachi membaringkan tubuhnya.

"Tenanglah, ini mungkin sedikit sakit tapi kau akan sedikit membaik" Ujar Itachi dengan senyuman tipis yang terukir dibibirnya.

Ino tidak mampu menjawab, ia masih terpana oleh wajah Itachi.

Apalagi sekarang Itachi menyunggingkan senyum padanya.

Lama memandang wajah Itachi Ino dikagetkan dengan rasa sakit yang luar biasa.

TAK !

"Ahk!" Pekik Ino.

Kelopak matanya saling menutup karena menahan rasa sakit.

Ino tidak mampu menahan rasa sakit yang menderanya ini, rasanya Ino sebentar lagi akan dijemput dewa kematian.

Tak tahan dengan rasa sakitnya Ino kembali mengeluarkan tangisan.

Ia tidak peduli dengan keberadaan Itachi, yang ia rasakan sekarang adalah rasa sakit yang benar-benar menyiksa.

Ino merasakan kini wajahnya diusap dengan air, entah siapa pelakunya Ino tidak tahu.

Ia masih merasakan sakit yang mendera kakinya.

"Apa kau yakin dia akan bertahan dengan kondisi seperti ini?" Tanya Itachi.

Shisui menatap lama Ino.

"Ya.." Gumam Shisui ragu.

Namun Shisui buru-buru beranjak dari tempatnya.

"Aku akan melihat-lihat daerah sekitar sini, kau jagalah dia Itachi"

" Hai"

Ino yang masih merasakan sakit, kini menajamkan pendengarannya.

Ino tidak tahu lagi harus berbuat apa.

Ia tidak mau ditinggal berdua dengan Itachi dalam kondisi begini.

Pasti terasa canggung.

Setelahnya Shisui pergi, hingga kini Ino hanya berdua dengan Itachi.

Ino menghentikan tangisannya hingga yang terdengar hanya isakan kecil.

Ino tidak berani membuka matanya, karena takut bertatapan dengan Itachi.

"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Itachi ditengah keheningan.

Ino reflek membuka matanya hingga kini ia bertatapan langsung dengan Itachi.

"-"

Belum sempat Ino menjawab, Itachi sudah terlebih dahulu memotong kalimatnya.

"Apa yang kau rasakan sekarang" Tanya Itachi lagi.

"Masih sakit, tapi tidak seperti tadi" Jawab Ino canggung.

Ino berusaha untuk bangkit sendiri, namun dengan sigap dibantu oleh Itachi yang seketika membuat pandangan mereka bertemu.

Itachi memutuskan pandangan, ia menyandarkan tubuh Ino didadanya hingga kini pandangan mereka kembali bertemu.

Nafas mereka saling berhembus dan menyapu wajah masing-masing.

Sejenak Ino dan Itachi saling menikmati keindahan masing-masing, sebelum kemudian kedua belah bibir mereka bertemu.

Itachi membawa tubuh Ino dalam pangkuannya, hingga tautan bibir mereka terlepas.

"Apa tubuhmu masih sakit" Gumam Itachi.

Ino menggeleng, "Rasa sakitku hilang saat berada dalam pelukanmu Itachi Nii"

Itachi tertawa pelan.

"Syukurlah kalau posisi ini bisa mengurangi rasa sakitmu"

Ino tersenyum lalu menyentuh wajah Itachi.

"Hidupku tidak akan tenang jika Izumi melihatku dipangku olehmu"

Itachi terdiam, lalu kemudian menatap Ino.

"Aku tidak akan membiarkan Izumi menyakitimu lagi" Ujar Itachi.

Ino memberanikan diri melingkarkan tangannya dipinggang Itachi.

Sesuai dengan keinginan Ino, ternyata perlakuannya tersebut tidak ditolak oleh Itachi.

"Terima Kasih Itachi Nii"

Itachi membalas pelukan Ino.

"Iya" Ujar Itachi singkat.

"Ino" Panggil Itachi membuat Ino sesaat terdiam, akhirnya Ino mendengar Itachi memanggil namanya.

"Hai"

"Apakah yang kau katakan malam itu benar?"

Ino mematung, ia malu bila diingatkan dengan kejadian itu.

Ino masih mengatupkan bibirnya.

Hingga ia kembali diinterupsi oleh Itachi.

"Ino?"

Ino menarik nafas panjang lalu menatap kedalam mata Itachi.

"Benar Itachi Nii" Jawab Ino gugup.

"Aku memendam perasaan ini sudah lama sekali"

"Saat aku menjadi Genin" Jawab Ino lancar tanpa beban.

Ino kebingungan, entah dari mana keberanian itu datang. Sehingga lidahnya bergerak semaunya mengucapkan kata-kata tersebut.

Ditempatnya Itachi terdiam.

"Benarkah" Gumamnya pelan.

"Tapi aku baru berani mengatakannya sekarang" Ino masih betah memandang wajah Itachi.

"Sokka" Sahut Itachi singkat.

Ino melepaskan pelukannya dari Itachi, dan kini mereka berdua kembali saling bertatapan.

"Shisui datang" Ujar Itachi, Ino mendesah kecewa.

Ia pikir kejadian romantis akan kembali terjadi.

Tapi tidak apa-apalah.

Tetapi yang membuat Ino bingung, apa Itachi sudah menerima perasaannya ya?

o

o

o

"Tidak ada desa disekitar sini Itachi" Ujar Shisui yang baru datang.

Kakinya melangkah mendekati Itachi yang masih menumpu tubuh Ino yang terlihat terlelap.

"Mungkin kita harus membawanya kembali ke Konoha" Sahut Itachi.

"Hai aku sudah mengirim pesan kedesa untuk mengirim ninja medis kesini" Sahut Shisui lagi.

Itachi mengangguk, "Akan lebih baik jika mereka dikirim sekarang"

"Iya" Jawab Shisui singkat.

Shisui dan Itachi kini saling diam, hanya terdengar suara hembusan angin disekitar mereka.

Shisui menambah ranting kayu pada api yang masih menyala.

"Itachi" Panggil Shisui memecah keheningan.

"Ya"

"Kita perlu berbicara dengan Izumi" Ujar Shisui.

"Aku rasa begitu" Sahut Itachi.

Keduanya kembali diam.

Sedangkan Ino kini mulai gelisah dipangkuan Itachi, ia merasakan kepalanya tiba-tiba berputar dan tubuhnya menggigil.

Padahal Ino masih ingin mendengarkan obrolan antara Shisui dan Itachi.

Namun karena kondisinya yang tiba-tiba memburuk membuatnya harus melupakan keinginannya itu.

Malahan tubuhnya kini tidak dapat ia kendalikan.

"Dingin~" Ino meracau.

Shisui dan Itachi saling bertatapan.

Shisui berjalan mendekat.

"Ino Daijoubu?" Tanya Shisui.

"Dia menggigil" Itachi menjawab pertanyaan Shisui.

"Bagaimana ini" Gumam Shisui khawatir.

Shisui menyentuh badan Ino.

"Dia deman Itachi"

Itachi tampak terkejut, ia pun meraba dahi Ino dan benar.

"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Itachi.

"Satu-satunya pertolongan pertama hanya –" Shisui menggantung kalimatnya.

Ia ragu meneruskan kalimatnya.

"Merendam tubuhnya disungai tapi – aku tidak berani melepas bajunya"

Itachi dan Shisui sama-sama terdiam.

"Bagaimana Ini? Kita tidak mungkin melakukannya" Jawab Itachi semakin khawatir.

"Kita bawa saja dia kembali ke Konoha, akan lebih baik jika kita bertemu dengan ninja medis secepatnya" Usul Shisui, dan Itachi pun menyetujui.

"Baiklah ayo!" Ajak Itachi.

"Ayo, aku saja yang menggendong Ino" Ujar Shisui.

Itachi tak bergeming.

"Itachi?" Interupsi Shisui.

"Oh Hai"

Setelahnya Itachi dan Shisui melesat pergi.

ooOoo

Setelah melewati 3 hari perjalanan, akhirnya para ninja Konoha sampai di Sunagakure.

Sakura beberapa kali menoleh kearah depan dan belakang, namun tidak melihat wujud Ino.

Sakura menautkan alisnya heran, "Kemana dia?" Tanya Sakura.

Sakura mendatangi Lee yang berada pada barisan belakang saat keberangkatan.

"Lee kau lihat Ino tidak?" Tanya Sakura.

Lee menggeleng, "Ah tidak Sakura"

"Baiklah terima kasih Lee" Ujar sakura lalu berbalik pergi kebarisan depan.

Kini mereka semua diarahkan menuju kantor Kazekage.

Dengan dipandu oleh Shinobi Suna, sembari berjalan mengikuti arahan, Sakura masih bertanya-tanya kemana perginya Ino.

Lama berjalan menyusuri tiap bangunan di Suna akhirnya mereka semua sampai.

"Silahkan masuk, tuan Kazekage sudah menunggu" Mereka dipersilahkan masuk.

Dan saat masuk, Kakashi sedang berbincang serius dengan Gaara.

Pada saat mereka memasuki ruangan pun Kakashi dan Gaara masih fokus berbicara.

Sakura memperhatikan mimik wajah Gaara yang tegang.

"Maaf semuanya, kita mendapat kabar yang kurang baik dari Konoha"

Kakashi menginterupsi satu ruangan, Sakura sejenak melupakan tentang Ino.

"Salah satu teman kita mengalami kecelakaan saat ditengah perjalanan"

Pikiran Sakura langsung berpusat pada Ino.

Mungkin karena Ino sedang tidak berada disini, pikiran Sakura langsung menebak orang yang dibahas Kakashi adalah Ino.

Namun sesegera mungkin Sakura menggelengkan kepalanya.

Ia hanya berharap semoga bukan sahabatnya itu yang mengalami kejadian tersebut.

"Yamanaka Ino ditemukan pasukan Anbu dalam keadaan terluka dan harus dibawa kembali ke Konoha karena mengalami luka serius"

DEG!

Sakura diam tak bergeming, didengarnya teman-teman yang lain sama terkejutnya dan Shock.

Rasanya Sakura pun sulit percaya.

Benarkah korban tersebut Ino?

"Kenapa bisa Pig" Gumam Sakura lemas.

Didepan sana Gaara menatap lurus kearah mereka, dan tak bergeming saat ditegur oleh Kakashi.

Sedangkan Sakura kini masih mematung tak percaya, tanpa bisa dikendalikan airmata jatuh begitu saja dari kelopak matanya.

"Sakura kau baik-baik saja?" Tanya seseorang.

Sakura kini terisak, ia shock.

Padahal pada saat keberangkatan si bodoh itu masih sehat-sehat saja.

ooOoo

Hari ini tepat seminggu Ino berada dirumah sakit, dan hari ini pula Ino sudah diperbolehkan pulang dari Rumah Sakit.

Ia tengah duduk menghadap jendela yang memperlihatkan penduduk desa sedang berlalu lalang.

Sekilas Ino melihat pantulan wajahnya dikaca jendela.

Samar-samar Ino melihat lebam disebagian wajahnya mulai menghilang.

Ino tertawa sinis, wajahnya terlihat jelek dengan lebam berwarna merah itu.

Ino tidak mau bertemu dengan Itachi dengan penampilan wajah begini, ia malu ia takut Itachi tidak tertarik dengannya lagi.

Besok teman-temannya sudah pulang dari desa Suna, termasuk Itachi.

Ino memandang lurus kedepan, mengingat wanita bernama Izumi seketika membuat darahnya langsung mendidih.

Kurang ajar!

Makin hari perempuan itu semakin berani menindasnya.

Apa ia beritahu saja pada ayahnya? Biar wanita sialan itu diadili?

Tindakannya itu sudah melewati batas.

Sampai sekarang orang tuanya hanya mengetahui bahwa Ino kecelakaan karena terpisah dari rombongan teman-temannya.

Mungkin kalau ia menceritakan kejadian yang sebenarnya desa Konoha akan heboh karena yang melakukan tindakan kriminal ini adalah anggota kepolisian.

"Cih!?" Ino mendecih.

"Ino ayo pulang, apa kau sudah bisa berjalan sendiri?"

Ino menatap kearah ibunya.

" Hai, Ibu pulang duluan saja. Aku akan pergi keluar sebentar"

"Baiklah, tapi jangan lama-lama ya, kau harus minum obat tepat waktu."

"Iya" Jawab Ino singkat.

Ia mengambil baju rajutan tebal berlengan panjang lalu memakai tanpa mengancingnya.

Ia kemudian pergi melewati ibunya.

Keluar ruangan dan berjalan dikoridor rumah sakit.

"Ino Chan sudah sembuh?" Tegur Shizune yang kebetulan lewat.

Shizune merupakan asisten Tsunade yang merawatnya selama dirumah sakit.

Ino mengangguk, " Hai, aku pulang dulu Shizune Nee San"

" Hai Ino Chan, hati-hati ya" Jawabnya.

Ino mengangguk dan berlalu pergi.

Ino melangkahkan kakinya hingga berhasil keluar dari rumah sakit.

Ia kini berjalan mengikuti arah jalan.

Ditengah-tengah ia berjalan, ia melihat Sasuke dan ibunya berjalan bersama.

Ino mengalihkan tatapannya saat Sasuke melirik kearahnya.

Dia tidak ikut ternyata?

Meski kakak beradik namun keperibadian mereka ternyata berbeda jauh ya?

Itachi itu cenderung ramah kesemua orang dan baik hati.

Sasuke ini memang pria yang anti sosial dan sombong.

Rasanya Ino beruntung tidak ditakdirkan jatuh hati pada pria seperti itu.

o

o

o

Ino memutuskan untuk duduk ditaman yang biasa menjadi tempat bersantai dengan teman-teman yang lain.

Ia duduk menghadap patung Hokage seraya menikmati hembusan angin yang menyapu permukaan wajahnya.

Kegiatan tersebut Ino lakukan selama 30 menit, Ia masih menikmati udara yang bertiup disekitar hingga ia dikejutkan dengan kedatangan teman-temannya, serta para Sensei yang memandu perjalanan pada saat pergi ke Sunagakure.

"Pig!? Kau tidak apa-apa?" Sebuah suara yang terdengar menyebalkan menginterupsinya.

Kini teman-teman yang lain pun mulai mengajukan pertanyaan yang sama.

Ino menahan tubuhnya yang kini dipeluk Sakura.

"Kenapa bisa kau terpisah Ino?" Tanya Ten Ten.

"Apa yang kau pikirkan Ino sampai-sampai bisa terluka begini" Naruto bertanya.

"Kenapa kau tidak berteriak saat terpisah dari kami?" Tanya Shikamaru.

"Iya, untungnya kau ditemukan oleh Anbu"

"Kalau tidak, sampai sekarang kau mungkin tidak selamat Ino"

Beberapa pertanyaan dari teman-temannya bagaikan suara gerombolan lebah yang memenuhi kepala Ino, rasanya kepala Ino jadi makin pusing.

Ia bahkan bingung mau jawab yang mana.

"Tapi yang penting kau sudah sehat Ino" Kalimat tersebut dilontarkan oleh Sakura.

Sakura menepuk punggungnya, tampaknya Sakura paham apa yang sedang dirasakan Ino.

"Iya, yang penting kau selamat" Suara tersebut berasal dari guru Asuma.

"Jadi bagaimana perasaanmu sekarang Ino?" Tanya Kakashi.

"Aku sudah bisa berjalan Sensei, waktu itu kakiku mengalami cedera parah, engsel kakiku patah"

"Tapi berkat nona Tsunade semuanya membaik, aku sudah sembuh total" Sambung Ino.

Kakashi menghela nafas, "Syukurlah kalau keadaanmu sudah membaik"

"Masa pasukan pengawal dibelakang tidak melihatmu?" Tanya Kiba yang mendapat dukungan dari teman-teman yang lain.

Kakashi dan Asuma saling bertukar pandangan.

"Iya benar, bukankah mereka ditugaskan untuk mengawal kita" Celetuk Lee.

"Mungkin mereka kelelahan jadi tidak terlalu fokus melihat sesuatu yang terjadi disekitar" Ten Ten menengahi.

"Yasudah kalau begitu kau beristirahatlah Ino, kami menghadap Hokage Sama dulu" Ujar Kakashi.

"Iya kau jangan terlalu banyak keluar dulu" Ujar Asuma.

"Baiklah Ino kami pergi dulu" Ujar Kurenai.

Ino mengangguk, "Hai"

"Aku masih tidak habis pikir kenapa kau bisa mengalami kejadian seperti ini Ino?" Tanya Naruto tidak percaya.

"Mungkin kau harus herhati-hati lagi Ino, jadikan ini pelajaran" Sahut Shikamaru.

Ino mengangguk, "Iya Shika"

"Jadi apa yang kau rasakan sekarang" Tanya Sakura.

"Aku sudah membaik Sakura" Jawab Ino.

"Syukurlah" Jawab Sakura dan diangguki oleh teman-teman yang lain.

"Aku pikir kalian pulang besok" Tanya Ino.

"Sebenarnya setelah selesai acara kami akan langsung pulang, apalagi saat mendengar kabarmu" Sahut Sakura.

Ino menatap Sakura.

"Iya kami semua prihatin padamu Ino" Sahut Naruto.

"Benar, karena terjadi badai pasir terpaksa rencana pulang ditunda" Sahut Shikamaru.

"Ohh" Gumam Ino.

"Gaara ikut serta dengan kami, tapi dia menemui ayahku dulu" Celetuk Naruto, Ino sesaat terpaku.

"Iya, Gaara ingin melihat keadaanmu" Timpal Sakura.

Ino menatap tidak percaya.

o

o

Saat tanpa sengaja menoleh kearah jalan, Ino melihat Gaara dan Kankuro berjalan beriringan.

Jantung Ino seketika berdegub.

Gaara dan Kankuro menghampirinya, Ino mengulas senyum kaku.

"Apa kabar Ino San?" Tanya Kankuro.

"Aku baik-baik saja" Jawab Ino kaku.

"Syukurlah" Jawab Kankuro.

Ino kini menatap Gaara.

"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Gaara.

Ino gelagapan menjawab, "B – baik, sudah baik"

"Kalian berbicara ditempat lain saja, cari tempat yang agak tenang" Ujar Sakura memberi usul.

Gaara menyetujui, "Ayo" Ajak Gaara.

Ino mau tidak mau pun mengikuti saja.

o

o

o

Kini Gaara dan Ino berdiri disebuah jembatan dengan air yang mengalir dibawahnya.

Gaara beralih menatap Ino.

"Bagaimana ini bisa terjadi padamu" Tanya Gaara perhatian.

Tangan Gaara kini menyentuh area wajahnya yang lebam.

"Jangan ditekan Gaara, sakit" Ino ikut menyentuh permukaan wajahnya yang dipegang Gaara.

"Maaf," Ujar Gaara.

"Kenapa bisa terluka seperti ini?" Tanya Gaara lagi.

"Aku sepertinya jatuh dan mungkin menabrak pohon" Jawab Ino.

Gaara menggenggam tangannya, membuat tubuh Ino mematung.

Ino tidak bisa berbuat apa-apa, ia tidak enak melepaskan tangan Gaara.

"Saat mendengar kabarmu kecelakaan, aku begitu khawatir dan tidak bisa tidur" Ujar Gaara.

Ino masih mematung.

"Aku sampai lupa kalau hubungan kita sudah berakhir" Lanjut Gaara.

Ino memandang Gaara.

Ia memutar tubuhnya hingga kini menghadap Gaara.

"Maafkan aku" Ujar Ino lirih.

Gaara menyentuh wajahnya.

"Tidak apa-apa, sepertinya aku memang harus belajar menerima kenyataan"

Satu buliran lolos dari mata Ino.

Gaara mengusap airmata yang jatuh dipipi Ino.

"Kuharap kedepannya kau bisa menjaga diri" Ujar Gaara.

Gaara menarik Ino kedalam pelukannya.

Setelah beberapa menit Gaara melepaskan Ino.

"Aku akan pulang besok" Ujar Gaara.

Ino hanya mengangguk seraya menghapus sisa airmata dipipinya.

"Baiklah berhati-hatilah nanti" Ujar Ino.

"Aku menemui Naruto dulu, apa kau mau pulang? Aku akan mengantarkanmu"

Ino menggeleng, "Pulang saja duluan, aku akan pulang nanti Gaara"

Ino menatap kesembarang arah dan pandangannya berhenti saat melihat Shisui dan Itachi berdiri tak jauh dari tempatnya berpijak sekarang ini.

Hah?

Ino kaget bukan main.

Sejak kapan mereka berdua berdiri disitu?

Itachi pasti melihat yang dilakukan Gaara tadi padanya.

"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu" Ujar Gaara, lalu menyentuh sekali lagi pipi Ino.

Ino diam tak bergeming, matanya kini menyorot Itachi yang diam melihat adegan tersebut.

"Hai " Jawab Ino, lalu pergi.

Gaara sempat bertegur sapa dengan Shisui dan Itachi, sebelum kemudian pergi.

Ino merasakan tubuhnya memanas, ia cemas Itachi akan menganggapnya sebagai perempuan yang tidak benar.

Tubuh Ino panas dingin saat Shisui dan Itachi melangkah mendekatinya.

"Bagaimana keadaanmu Ino?" Tanya Shisui.

Ino mengatur nafasnya.

"Aku sudah mulai membaik Shisui Nii" Jawab Ino.

"Syukurlah" Jawab Shisui.

Ino menatap Itachi yang kini masih mengatupkan bibirnya.

Ino rasanya susah bernafas, ia takut Itachi marah.

"Apa Kazekage Sama kekasihmu?" Tanya Shisui memecah keheningan.

Ino secepat mungkin menggeleng

"Bukan! Hubungan kami sudah lama berakhir Nii San. Dia datang karena khawatir padaku" Ino menjelaskan panjang lebar.

Shisui tersenyum, "Oh kupikir kekasihmu"

"Bukan" Jawab Ino.

"Baiklah beristirahatlah, jaga kondisimu sampai benar-benar membaik." Ujar Shisui.

Ino mengangguk, "Hai Nii San"

"Sebelum menghadap Hokage aku mengajak Itachi untuk melihat kondisimu terlebih dahulu, dan ternyata kau sudah jauh lebih baik"

Shisui menyunggingkan senyuman hangat.

"Hai Shisui Nii San" Jawab Ino singkat.

"Baiklah kami pergi dulu" Shisui menatap Ino sekilas sebelum kemudian mengalihkan pandangannya pada Itachi.

"Ayo Itachi" Ajak Shisui.

"Duluan saja Shisui, ada yang harus kutanyakan pada Yamanaka San" Sahut Itachi.

Ino merasa agak kecewa saat Itachi memanggilnya dengan embel-embel San.

Ia ingin Itachi memanggilnya, Ino.

Hanya Ino!

Tapi.. Apa mungkin Itachi marah padanya ya?

"Baiklah tapi jangan lama Itachi kita semua harus segera berkumpul menghadap Hokage, aku duluan"

"Hai" Jawab Itachi.

"Ino aku pergi dulu" Shisui sekali lagi berpamitan dengan Ino.

"Hai Nii San" Jawab Ino.

Mereka berdua memandangi Shisui yang berjalan menjauh.

Kini ganti Itachi yang menatap Ino.

Ino dengan gugup membalas tatapan Itachi.

"Kau sudah pulang I – Itachi Nii?" Tanya Ino terbata.

Itachi masih menatapnya.

"Jadi kalian sudah tidak punya hubungan?" Tanya Itachi balik, bahkan pertanyaan yang menjadi topik Itachi tersebut adalah hal yang sangat Ino takutkan, nyali Ino jadi semakin ciut.

Ino mengangguk lemas.

Ino takut perasaan Itachi yang baru tumbuh untuknya akan memudar.

"Kenapa membiarkan dia memelukmu –"

Belum sempat Itachi menyelesaikan perkataannya, Ino secepat mungkin memotong ucapan Itachi.

Ino buru-buru menggeleng.

"Itachi Nii, dia yang langsung memelukku aku tidak sempat menolak" Jawab Ino lantang.

Ino menggenggam tangan Itachi.

"Kumohon jangan berpikiran yang tidak-tidak" Ino menatap memelas Itachi.

"Tidak ada yang lebih kucintai didunia ini selain dirimu" Ujar Ino yang kini berdiri menghadap Itachi.

Ekspresi dingin yang terpasang diwajah Itachi kini mulai mencair, hal tersebut disebabkan oleh kepolosan Ino saat meyakinkannya.

Akibatnya Itachi tidak dapat menahan senyumnya.

"Sou Desu Ka" Ujarnya pelan.

Ino mengangguk dengan tatapan sendu.

"Bagaimana kalau kau pulang dulu untuk beristirahat, nanti malam kita bertemu lagi disini"

Itachi balik menggenggam tangan Ino.

"Tapi.. Apa kau tidak marah padaku Itachi Nii?" Tanya Ino ragu.

Itachi meremas perlahan tangan Ino, lalu menggeleng.

"Tidak" Ujarnya seraya tersenyum.

Bibir Ino pun sedikit demi sedikit mulai mengembangkan senyum.

"Akan lebih baik kalau kau beristirahat dulu dirumah, nanti malam kan kita ada janji bertemu" Ujar Itachi.

Ino seketika tersipu, "Hai"

"Ayo pulang" Ajak Itachi lalu melepaskan genggaman tangan Ino.

"Tidak baik dilihat orang-orang, kalau kita berpegangan tangan disepanjang jalan"

"Hai " Ino mengangguk.

o

o

o

Ino menumpu dagunya dipembatas jembatan sembari menatapi air yang mengalir.

Ia sengaja datang lebih awal, karena sejak tadi siang Ino sudah gelisah, ia tidak bisa tidur nyenyak sambil menunggu waktu malam.

Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Itachi.

Wush

Angin barusan menerpa poni didahinya, Ino menengok kearah kanan dan saat menoleh kearah kiri ia dikejutkan oleh sosok Itachi yang berdiri disampingnya.

Ino tersenyum sumringah.

Itachi pun balas tersenyum.

"Ayo ikut aku" Ajaknya, Ino pun mengangguk mengiyakan.

Ia mengikuti Itachi berjalan kearah barisan pepohonan yang tak jauh dari lokasi jembatan tempat mereka berdiri.

Tempat ini berada tepat diposisi paling pinggir didesa, jadi tidak heran pepohonan masih agak rapat diarea ini.

Dan tempat ini sangat jarang dikunjungi oleh penduduk desa.

"Ayo" Itachi meraih tangan Ino lalu memijaki pohon secara bersamaan.

"Apa kau bisa?" Tanya Itachi memastikan, Ino mengangguk sembari tersipu.

"Hai"

Mereka memijaki beberapa pohon hingga dirasa jauh dari biasan cahaya lampu desa.

Keduanya berhenti disebuah tempat yang agak lumayan gelap.

Itachi meraih tubuh Ino dengan cara mengangkatnya, lalu membawanya turun dari dahan pohon.

Ino dengan kondisi terkejut masih diam membeku.

Saat tubuhnya diturunkan Itachi, ia baru menyadari bahwa mereka sudah turun dan memijak tanah.

Kini Ino dan Itachi saling berhadapan.

Keduanya saling memandang, Ino memberanikan dirinya mengelus wajah Itachi untuk pertama kali.

"Aku merindukanmu Itachi Nii" Ujar Ino.

Itachi tersenyum lalu meraih pinggang Ino.

"Benarkah" Gumam Itachi.

Ino mengangguk dengan polos, "Hm – mm"

Tangan Itachi yang memeluk pinggang Ino kini beralih meraba tangan hingga pundak Ino.

Sesaat Ino menutup matanya karena merasakan sensasi panas dan geli yang menjalari tubuhnya.

"Saat diSuna aku memikirkan keadaanmu" Ujar Itachi.

Itachi merapatkan tubuh Ino dengannya.

Tangan Itachi yang semula berada dipundak Ino kini berpindah mengelus anak rambut Ino yang terhurai.

"Selama disana aku terus berharap semoga kau baik-baik saja" Ujar Itachi lagi.

"Karena setelah mengantarmu aku dan Shisui langsung pergi menyusul teman-temanmu yang masih berada dalam perjalanan"

"Terima kasih Itachi Nii" Ujar Ino sembari menatap Itachi.

Itachi menyunggingkan senyum, kemudian ia menggeleng.

"Berterima kasihlah juga pada Shisui, dia paling banyak andil dalam perjalanan mengantarkanmu kesini"

Ino mengangguk, "Baiklah aku akan berterima kasih pada Shisui Nii San nanti"

Itachi menganggukan kepalanya, "Sejak kau terluka, Shisui itu jadi perhatian sekali padamu"

"Mungkin karena dia merasa bersalah"

Itachi mengalihkan tatapannya pada Ino yang diam tak bergeming.

"Aku dan Shisui tidak menyangka bahwa Izumi berani bertindak sejauh itu padamu" Ujar Itachi.

Itachi terdiam saat melihat Ino tidak nyaman dengan pembahasannya.

"Tapi yang penting kau sudah sembuh dan sekarang berdiri dengan tubuh yang sehat dihadapanku" Itachi mencoba mencairkan suasana.

Dan benar saja, setelahnya Ino mendongak menatap Itachi, senyuman kembali terkembang dibibirnya.

Pandangan mata Ino dan Itachi kini saling bertemu.

Kedua iris mata mereka pun kini saling beradu, tak menunggu waktu lama bibir Ino dan bibir Itachi pun kini saling menyatu.

Ino mengalungkan kedua lengannya dileher Itachi.

Sesaat Ino dibuat melayang ketika Itachi meraba bagian perutnya.

Ciuman mereka sejenak terjeda oleh desahan Ino.

" Nande?" Tanya Itachi setengah menggoda.

Padahal ia tahu persis bahwa Ino menikmati perlakuannya.

Ino menatap wajah Itachi, "Tidak.." Jawab Ino.

Sebuah senyum nakal terbentuk disudut bibir Itachi.

Itachi kembali mendekatkan wajahnya kewajah Ino, namun tidak untuk melanjutkan ciuman tetapi memperhatikan wajah Ino.

Sedangkan Ino yang sedari tadi menutup mata kini kembali membuka matanya.

"Kenapa.." Tanya Ino ragu.

Itachi kembali melayangkan senyuman nakal, "Kenapa apanya?"

Ino menyembunyikan wajahnya didada Itachi.

"Itachi Nii~" Protes Ino dengan nada manja.

Itachi membenamkan wajahnya dileher Ino, ia mengendus leher Ino.

Ino memejamkan mata saat Itachi mulai menciumi lehernya.

Namun setelahya Itachi menyudahi perlakuannya, ia kini memandangi paras Ino.

Merasa dipandangi oleh Itachi, Ino pun membuka matanya.

Tangan Itachi kini berpindah meraba wajahnya.

"Apa masih sakit?" Tanya Itachi, Ino menggeleng.

"Sedikit" Jawab Ino.

Itachi mendudukan tubuhnya dan bersandar disebuah pohon.

"Kemarilah" Ajak Itachi.

Ino mengangguk lalu dengan gerakan kaku merebahkan tubuhnya dipangkuan Itachi.

"Lebih baik seperti ini kan, daripada berdiri?" Tanya Itachi.

Ino dengan kaku mengangguk.

"Aku sampai lupa bahwa gadisku masih sakit" Ujar Itachi lagi yang membuat sekujur tubuh Ino memanas.

Ino lagi-lagi tersipu.

Selanjutnya mereka berdua sama-sama terdiam.

Ino sesekali mencuri pandang kearah Itachi.

Kedua lengan Itachi bergerak memeluk pinggangnya.

Ino menahan nafasnya, entah kenapa ia masih canggung saat disentuh oleh Itachi.

Padahal barusan ia sudah melakukan hal yang lebih intim dari sekedar pelukan.

Tampaknya saraf ditubuhnya tidak mau bekerja sama untuk memahami bahwa ini adalah keinginan hati Ino yang sesungguhnya.

Dimana Itachi menjadi miliknya seutuhnya.

"Itachi Nii~" Panggil Ino masih dengan menundukan kepalanya.

"Hm Nande?" Jawab Itachi lembut.

Kini Itachi menatap kearah Ino.

"Apa sekarang kita berdua sepasang kekasih?" Tanya Ino malu-malu, ia sesekali mencuri pandang kearah Itachi.

Itachi tersenyum dan mengangkat dagu Ino agar menatap kearahnya.

"Menurutmu bagaimana?" Itachi balik bertanya.

Ino pun tersipu malu.

Ia langsung memeluk tubuh Itachi dan tanpa ragu menenggelamkan wajahnya dipundak Itachi.

"Ino~" Panggil Itachi.

Telinga Ino memanas mendengar kalimat barusan.

Setelah sekian lama bermimpi, akhirnya Ino mendengar lagi kalimat tersebut keluar dari mulut Itachi.

" Hai Itachi Nii"

Itachi mengelus puncak kepala Ino.

"Izumi dilaporkan atas pelaku tindakan kriminal" Ino terdiam.

Itachi melirik Ino.

"Tindakan yang dilakukannya padamu sudah dilaporkan pada pimpinan tertinggi kepolisian" Ujar Itachi menyambung kalimatnya.

Ino tertegun sejenak sebelum kemudian tertawa pelan, "Benarkah?"

"Ya.." Sahut Itachi.

"Jadi kau harus mempersiapkan diri, karena kau akan dipanggil sebagai korban dan saksi"

Ino mengatupkan bibirnya, ia tidak tahu bagaimana harus bersikap.

Sejujurnya ia masih dendam dan sakit hati pada wanita itu.

Ino maunya dia sendiri yang akan menuntut balas pada wanita itu.

TBC