Touch

Disclaimer: Harry Potter J.K Rowling

Author: MilesMalfoy

Rated: MA (Please be careful)

Warning: this book has an 18+ content so please be wise. Typo, OOC, Muggle World

Tidak ada keuntungan apa pun yang saya ambil dalam pembuatan fict ini.

Summary: Dan ketika Draco menjadi orang yang dipilih oleh Hermione dan teman-temannya sebagai partner s*eks Hermione, Draco mendapati dirinya tak pernah merasa cukup dengan Hermione. Lalu Hermione mulai tak bisa berhenti memperhatikan Draco jika Draco muncul di sekitaran. Sebaiknya dibaca dengan bijak oleh mereka yang cukup umur. No judge please.

Touch

Hari Kamis adalah hari terakhir untuk pembahasan tugas kelompok Hermione bersama Nate, karena pada keesokannya akan menjadi hari presentasi tugas. Keduanya sudah berjanji akan bertemu di perpustakaan seusai sekolah untuk persiapan terakhir mereka, memastikan bahwa semuanya telah sesuai dan siap seperti yang selama ini mereka kerjakan.

Hermione mengirimi pesan kepada Draco, mengatakan bahwa ia akan menemuinya saat jam makan malam di asrama Slytherin karena rencananya dia akan belajar dan berdiskusi dengan Nate hingga mendekati jam makan malam. Dan Draco mengatakan oke untuk itu. Lagi pula cowok itu juga perlu belajar sebentar karena besok dia juga memiliki kuis.

Hari sekolah memang sulit untuk berkumpul. Biasanya para murid hanya bisa bertemu secara bebas saat jam istirahat atau ketika jam sekola selesai saja. Bahkan saat malam pun, mereka masih disibukkan dengan tugas-tugas lain.

Nate mengerang, melengkungkan badannya ke belakang akibat stres yang dilandanya. "Ahhhhh." kedua tangannya mengacak keras rambutnya sebagai bentuk pelampiasan atas kefrustasiannya. Ada satu bagian yang terus dia lupa untuk sebutkan saat sedang berlatih presentasi.

"Kau tidak perlu terburu-buru, Nate. Jika sulit untuk mengingat poin nomor lima, cukup ingat inti dari poin tersebut. Kau bisa menyampaikannya dengan bahasamu sendiri. Hanya perlu berimprovisasi." Hermione mencoba untuk memberikan saran atas kesalahan berulang Nate. Dia tentu berharap agar Nate tidak melakukan kesalahan saat presentasi besok, tetapi saat ini yang lebih penting adalah membuat Nate tenang dan menjauhkan cowok itu dari rasa bersalah. Yang Hermione butuhkan adalah usaha perbaikan Nate, rasa bersalah cowok itu tidak diperlukan saat ini.

"Aku tidak mengerti bagaimana bisa kau menghafalkan seluruh materi presentasi, Hermione, sungguh. Otakku rasanya mau meledak."

Hermione tertawa mendengar ucapan Nate. "Ayo, semangatlah. Kau pasti bisa. Tenang, aku akan membantu."

Nate mengembalikan diri ke posisi semula. "Serius, aku tidak akan sanggup jika harus mengimbangi porsi belajarmu. Bahkan begini saja rasanya sudah begitu memusingkan. Tidak heran jika kau selalu di peringkat pertama."

"Semua hal perlu usaha, hanya tinggal kembali pada dirimu sendiri, seberapa kau ingin mengusahakan dan mengupayakannya."

"Kau benar. Dalam hal ini, sepertinya belajar bukan hal yang ingin kuusahakan dengan keras." jawaban Nate sontak membuat tawa Hermione tersembur lagi, dia memukul pelan bahu temannya itu. Keduanya tertawa hingga mengundang pengurus perpustakaan datang menghampiri mereka sekedar untuk menegur yang membuat mereka berakhir dengan menahan tawa.

"Come on, Nate, fokus lagi." ujar Hermione mengembalikan topik ke tempat semulanya.

Keduanya terus belajar, saling mengoreksi dan memperbaiki latihan presentasi mereka. Kali ini Nate sudah jauh lebih baik dibanding saat awal mereka memulai sesi latihan. Laki-laki berkonsentrasi penuh pada lembaran-lembaran kertasnya yang dia dan Hermione beri banyak coretan untuk mempermudah, sekaligus sebagai pengingat.

Hingga langit telah menggelap dan waktu telah mendekati jam makan malam. Nate melirik arloji di pergelangan tangannya. "Hampir jam makan malam."

"Kalau begitu, kita sudahi saja. Lagi pula menurutku latihan kita tadi sudah cukup baik."

Nate menganggukkan kepala mendengar jawaban itu. "Aku lapar sekali." sahutnya sembari merenggangkan tubuh, mencoba untuk lebih rileks setelah belajar intens selama beberapa jam.

"Aku juga."

Keduanya sibuk membereskan buku-buku mereka sembari saling mengobrol dan bercanda ringan. Nate selesai lebih dahulu dan dia memilih untuk menunggu Hermione supaya mereka bisa berjalan keluar dari perpustakaan bersama. Buku dan barang-barang bawaan Hermione jauh lebih banyak dari milik Nate, sehingga butuh waktu yang lebih banyak ketimbang dirinya.

"Semoga saja tidur malam ini tidak membuatku lupa dengan seluruh materi tadi." Nate mengungkapkan kekhawatirannya. Kini keduanya mulai beranjak meninggalkan meja yang mereka tempati tadi dan melangkah bersama menuju pintu keluar dari perpustakaan.

"Aku percaya kau pasti bisa melakukannya dengan baik besok. Jangan terlalu khawatir dan gugup, itu justru bisa mengalihkan konsentrasimu."

"Bagaimana aku tidak gugup, aku satu tim dengan murid paling pintar di angkatan kita. Kalau sampai nilainya buruk, aku pasti akan merasa bersalah."

Hermione menepuk pundak Nate. "Aku akan membantumu. Jika ada poin yang kau lewatkan, aku yang akan menjelaskannya. Jangan khawatir."

"Inilah sisi terang dari berkelompok bersama murid pintar." celoteh Nate tersebut mengundang tawa mereka lagi, namun segera mereda ketika mereka berdua berpapasan dengan Debby Fleming. Langkah keduanya terhenti, begitu pula dengan Debby. Kontak mata di antara ketiganya terjadi beberapa saat dan terputus ketika Debby mendengus kemudian melanjutkan langkahnya memasuki perpustakaan.

"Apa dia baik-baik saja?" tanya Hermione setelah Debby tak lagi di hadapan mereka berdua.

Nate mengedikkan bahu. "Entahlah. Mungkin dia masih kesal dan tidak terima. Bagaimana pun, baginya kau adalah penyebab hubungan kami berakhir."

"Dasar kepala batu."Hermione menggelengkan kepalanya. "Ayo, pergi. Aku juga akan ke Asrama Slytherin."

"Kau tidak ke asramamu?"

"Nanti, setelah selesai makan malam. Aku mau bertemu Draco dulu."

Nate tertawa kecil dan menggelengkan kepala. "What a lovebirds!"


Draco sedang belajar di dalama kamarnya untuk persiapan kuis besok pagi, ditemani Nina yang memperhatikanya lewat panggilan video. Layar laptop Draco menampilkan wajah Nina yang mengamati Draco sedang menunduk, membaca lembar buku pelajarannya sembari sesekali mengajak lelaki itu berbincang.

Sebenarnya Draco enggan melakukan panggilan video karena baginya hal itu membuatnya tidak bisa berkonsentrasi secara menyeluruh, terlebih ketika dia tahu bahwa Hermione akan datang kemari. Jika dia tidak salah memperkirakan, waktunya sebentar lagi.

Jika Hermione melihatnya seperti ini, matilah dia. Hubungannya dengan cewek itu baru saja dimulai, jangan sampai sudah mendapat masalah besar.

Draco berpikir sejenak, mencoba mencari cara untuk mengakhiri panggilan video. Dia kemudian berlagak melirik arlojinya. "Sudah jam makan malam. Teman sekamarku akan datang sebentar lagi." ucapnya berdusta.

"Oh, sudah jamnya ya? Baiklah kalau begitu…"

Draco tidak lagi mendengar kalimat lanjutan dari Nina karena ia mendengar suara ketukan di balik pintu kamarnya, terdengar juga secara sama suara Hermione yang memanggilnya. Tanpa tedeng aling-aling Draco langsung menutup layar laptopnya, memutus percakapan dengan Nina secara sepihak.

Jantung Draco bergemuruh panik.

Yang dilakukannya sungguh tepat waktu, karena detik itu pula Hermione membuka pintu.

Draco membuang napas lega, membuat Hermione mengernyit. "Ada apa, Draco?" tanya Hermione sembari menutup pintu.

"Nothing, hanya lelah."

"Oh." Hermione menghampiri Draco, lalu memeluk pacarnya itu dan memejamkan mata. Rasa lelahnya baru datang sekarang.

Sementara Draco mendekap Hermione erat dan mencium puncak kepalanya. Jejak samar dari parfum Hermione masuk tercium, membuat Draco memeluk lebih erat lagi.

Mereka berpelukan selama beberapa saat.

Hermione yang berusaha mengusir lelahnya dan Draco yang berusaha menenangkan diri.

Nyaris saja, batin cowok berambut platina itu.

Keduanya kemudian saling melepas pelukan. "Let's have dinner." ajak Draco yang dijawab Hermione dengan anggukan kepala. Hermione meninggalkan barang bawaannya di ranjang Draco lalu mereka berdua keluar dari kamar.

Ruang makan penuh dengan siswa-siswa Hogwarts dari berbagai angkatan. Celotehan-celotehan mereka mengisi atmosfer, hampir menutupi suara langit yang terdengar bergemuruh, tanda hujan akan turun. Hermione menoleh ke belakang karena Draco berdiri antri di belakangnya. "Aku harus cepat kembali ke asramaku sebelum hujan turun."

"Ada payung, jangan khawatir."

Hermione menganggukkan kepala. "Tiba-tiba saja aku teringat saat pertama kali kemari."

"Waktu itu juga hujan, ya. Sama seperti sekarang."

"Kau benar. Situasinya sungguh berbeda sekarang. Aku tidak lagi canggung."

"Bahkan kau jadi pacarku sekarang. Siapa sangka."

Hermione tersenyum. "Siapa sangka." ucapnya mengulang kalimat terakhir Draco.

Draco maju selangkah, merapatkan dirinya pada Hermione, menghapus jarak di antara mereka. Tanpa malu tangannya melingkari bahu Hermione, memeluk cewek itu lagi. "Draco!" tegur Hermione, jemarinya memukul-mukul pelan tangan Draco.

"Tidak akan kulepaskan."

"Orang-orang melihati!"

"So? Aku tidak peduli."

"Ayolah, lepas. Jangan begini."

Keduanya terlihat tak terpisahkan dengan posisi Draco yang terus menautkan dirinya pada Hermione. Beberapa cewek yang berada di sana bergumam gemas. Kapan lagi bisa melihat Draco dalam mode bucin?

Mereka seperti menjadi tontonan di sana.

Sementara Hermione terus merengek minta dilepaskan sembari melangkah maju karena jumlah antrian yang semakin berkurang. Draco akhirnya menyerah dan menuruti permintaan Hermione. "Kau tidak nyaman, ya?" tanyanya.

"Sedikit. Kau tahu aku tidak suka jadi pusat perhatian."

Draco mengangguk. "Right."

Setelah mendapat baki berisi makan malam, lensa kelabu milik Draco berfokus untuk mencari tempat kosong untuk bisa diduduki keduanya. Saat pandangannya mengedar ke penjuru ruangan, didapatinya Blaise melambai padanya. Draco langsung mengajak Hermione untuk mengikutinya.

"Hai, kalian." sapa Hermione sembari mendudukkan diri. Persis di depannya ada Theo dan Blaise yang sudah terlebih dahulu menikmati makan malam.

"Hai, Hermione. Kau baru datang?" Theo menjawab.

Kepala Hermione mengangguk sebagai respon. "Bagaimana kabarmu dan Judine?"

"Ha! Sesi interogasi dimulai." Blaise menyahut yang seketika mendapat putaran mata dari Hermione. Meski sudah terbiasa dengan kehadiran Blaise, namun dia masih belum terbiasa dengan cara cowok itu bercanda.

"Diam, Blaise." Theo menimpali, melirik sahabatnya itu dengan pandangan tidak-ada-yang-lucu. Pandangannya lalu kembali ke Hermione. "We're good."

"Aku dengan dari Draco, kau berencana mengenalkan pacarmu yang di luar Hogwarts itu padaku."

"Kau sudah memberi tahunya?" Theo menoleh pada Draco yang sejak tadi hanya mendengarkan karena sibuk melahap makanannya. Draco menganggukkan kepala. "Well, rencananya begitu, tapi aku masih cari waktu yang tepat."

Hermione menganggukkan kepala juga. "Kuharap kau tidak menyakiti Judine."

Theo tersenyum. "I won't. I love her, Hermione."

Blaise mendengus mendengarnya. "Kalau kau memang mencintainya, harusnya lepaskan dulu pacar lamamu."

"Blaise." Draco menukas. Nadanya terdengar memperingati.

Blaise mengangkat kedua tangannya.

Hermione melirik Draco. "Ada apa?"

Draco menggeleng. "Nothing." jawaban singkat dari Draco itu justru semakin membuat Hermione penasaran, tapi untuk saat ini dia tidak akan bertanya lebih jauh dan membiarkannya begitu saja. Keningnya hanya mengernyit, tetapi tak ada respon lanjutan lagi dari Hermione.

Suasana sempat canggung selama satu-dua menit, tak ada yang membuka suara. Masing-masing dari mereka hanya berfokus pada makanan. "Mate, kau pulang besok malam?" Theo membuka topik lagi.

"Yes, ibuku bertanya soal kalian juga. Lebih baik kalian ikut aku besok malam dan temui beliau."

"Ibumu mencari Theo dan Blaise?" Hermione terdengar bingung.

"Mereka berdua seperti anak tiri ibuku."

"Wow." Herrmione kehabisan kata-kata. Sekejap dia membayangkan betapa dekat hubungan mereka dengan Mrs. Malfoy.

"Kami berteman sejak kecil, hal itu perlahan membangun relasi antar keluarga hingga menjadi sedekat sekarang." Hermione mengangguk-anggukkan kepala mendengar penjelasan Draco. "Omong-omong soal keluarga, ayahku berulang tahun akhir pekan ini. Kau ingat soal rencanaku dan ibuku yang menyiapkan pesta kejutan?"

"Oh, yang itu. Ya, aku ingat."

"Kau mau datang?" tawar Draco sembari menatap Hermione. Cewek itu membalas tatapan Draco dengan perasaan yang bercampur-campur.

Sementara Theo yang duduk persis di depan Draco terbelalah saat pertanyaan itu keluar dari mulut Draco. Kakinya langsung menyenggol kaki Draco, memberi kode. Matanya menatap Draco dan Hermione penuh waspada, begitu pula Blaise.

"Apa aku boleh datang?" Hermione ganti bertanya.

"Tentu, sayang. Ibuku akan senang bertemu denganmu."

Senyum Hermione seketika terkembang gembira. "Kalau begitu aku akan datang."

"Good." Draco ikut tersenyum.

"Aku masih tidak percaya kau akan membawaku ikut ke acara keluargamu."

"It is what it is."

Suara berisik gelas jatuh yang beradu dengan piring sontak memecah suasana. Semua atensi beralih ke meja yang kini basah karena air di dalam gelas itu tumpah, mengalir mengenai Hermione. "I'm sorry, tanganku licin." tukas Blaise berpura-pura menyesal. Padahal dia yang sengaja melakukannya.

Seragam Hermione perlahan basah terkena tumpahan air minum. Hal itu membuat Hermione bangkit dari duduknya. "It's okay, Blaise. Aku ke toilet dulu." Hermione langsung beranjak pergi menuju toilet.

Begitu Hermione pergi dari sana, Blaise melotot pada Draco. "Kau sudah gila?! Bagaimana dengan Nina?!"

"Chill. Aku akan mengaturnya."

Blaise membuang napas gusarnya. "Kau jelas tahu Nina dan keluarga pasti akan datang! Bagaimana bisa kau membawa Hermione? Kau mau menyakiti mereka dan membuat semuanya berantakan?!"

"Blaise benar, mate. Kemunculan Hermione akan sangat beresiko untukmu."

"That's why I'm gonna need your help, guys."

Blaise menggeleng keras. "Nope. Jangan libatkan aku." Sejak awal dia sudah menentang dan sangat tidak setuju dengan perilaku dua sahabatnya yang berselingkuh ini.

Theo mendecak. "Come on, Blaise."

Draco menoleh ke arah toilet, mengawasi kemunculan Hermione. "Blaise." panggil cowok itu.

"She is coming." Theo memperingati begitu Hermione terlihat dari kejauhan, berjalan ke arah mereka.

"End of discussion, you gotta help me, both of you." tandas Draco tegas.


The end of chapter 19

Halooooooo

Pasti kaget ya tiba-tiba dapat notif touch update padahal sudah bertahun-tahun tidak ada update wkwkw

Semoga masih ada yang membaca Touch.

Maafkan ke-random-an saya ya.

Semoga chapter ini mengobati rasa rindu dan penasaran kalian.

Anw, apa kabar kalian?

Sejak covid, banyak hal berubah ya. Semoga kita semua diberi kekuatan untuk melalui setiap masalah dan fase dalam hidup ini. Amin.

Maaf ya kalau chapter kali ini pendek dan buruk. Maklum, sudah lama tidak menulis.

Jangan lupa cek karya saya yang lain The Heart Maze. Tahun lalu saya ada update di situ.

Sampai jumpa.