Disclaimer : Aoyama Gosho, pemilik sah hak cipta Detective Conan. Daku mah hanya sefruit people yang sangat menyukai karya beliau dan menyukai chemistry antara Shinichi X Shiho atau Conan X Ai. Hahaha mohon maaf yaa, namanya juga fanfic.

WARNING : OOC! PLOTNYA GAK JELAS! BANYAK GESTURE YANG BINGUNG UNTUK DIDESKRIPSIKAN TETAPI ADA DIPIKIRAN.

TOLONG REVIEWNYA YAA SEMUA. TERIMA KASIH.

Untuk uyab4869 terima kasih yaa sudah mampir ke fanficku, ini sudah ku lanjut ceritanya.

HEART

CHAPTER 2

AKU

Normal POV

"Permisi, aku mencari seseorang bernama Ai Haibara-San," seorang anak laki-laki memasuki kelas 4B saat jam istirahat dengan sebuah paket ditangannya.

Beberapa siswa di kelas menoleh ke arah suara tersebut, kemudian seorang anak perempuan berambut pendek sebahu berwarna pirang strawberry menghampiri anak laki-laki tersebut. "Ya, itu aku. Ada apa?"

"Ini, tadi saat aku bermain di halaman depan sekolah, paman kurir menitipkan ini kepadaku. Untuk Ai Haibara kelas 4B, begitu katanya," anak laki-laki tersebut menyerahkan paket yang ada ditangannya, kemudian pamit. Haibara tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada anak tersebut sebelum kembali ke tempat duduknya.

"Ai-Chan, itu apa? Dari siapa?" tanya Ayumi penasaran.

"Entahlah, disini tidak tertulis nama dan alamat pengirimnya," jawab Haibara sekenanya sambil mengamati lebih lanjut paket berukuran sedang dan terdapat tulisan "JANGAN DIBANTING!" tersebut.

Anak-anak lain yang juga penasaran, ikut menghampiri Haibara dan Ayumi, sehingga sekarang di sekeliling meja Haibara ramai dipenuhi anak-anak.

"Ada apa ini?" tanya Conan, Genta, dan Mitsuhiko setelah memasuki kelas dan melihat anak-anak lain berkerumun di meja Haibara.

"Ada sebuah paket misterius yang dikirimkan untuk Ai-Chan," jawab Ayumi.

"Paket misterius?" tanya Genta lagi, kebingungan.

"Iya, karena tidak ada nama pengirimnya. Jadi bukankah itu misterius?" jawab Ayumi lagi.

"H-hati-hati, Haibara. Jangan-jangan isinya benda berbahaya seperti bangkai hewan atau malah bom!" ucap Mitsuhiko membuat seisi kelas sweatdrop.

"Bodoh! Kau ini terlalu banyak menonton drama misteri, sepertinya. Mana mungkin bangkai hewan dipaketkan begitu, bisa-bisa bau menusuknya akan tercium saat ini. Bom juga tidak akan mungkin, kau pikir jasa pengiriman tidak melakukan pemindaian terlebih dahulu sebelum mengirimkan barang?" Conan menanggapi pernyataan Mitsuhiko.

"Ah iya, benar juga," ucap Mitsuhiko menggaruk pipinya yang berbintik itu.

"Coba kau buka, Ai-Chan," saran Ayumi.

Haibara yang daritadi hanya mendengarkan teman-temannya, mencoba membuka isi paket tersebut. Setelah kertas pembungkusnya terbuka, di dalamnya terdapat sebuah kotak kado. Saat Haibara membuka kotak kado tersebut, Haibara sangat terkejut karena isinya berupa dompet Fusae Brand keluaran terbaru yang diluncurkan 3 hari yang lalu berwarna tosca dan sebuah surat yang hanya bertuliskan "Semoga Kau Menyukainya."

Sontak anak-anak terheran-heran melihat isi kado tersebut, karena setahu mereka Haibara memang menykai barang-barang branded yang sudah pasti mahal harganya. Diantara ekspresi keheranan itu, terdapat seorang anak yang tersenyum puas menatap Haibara yang sedang memandangi kadonya tersebut, "semoga kau menyukainya, Ai," batin anak tersebut.

"HAH! Ini kan produk keluaran terbaru dari Fusae Brand, kemarin aku melihat katalognya di websitenya, di sosial media pun viral karena antriannya sungguh panjang, aku saja sudah kelelahan hanya dengan melihat antriannya. Kau beruntung sekali, Haibara-Chan. Apalagi warna tosca ini setahuku limited edition," suara Kobayashi Sensei mengagetkan anak-anak di kelas.

"Wah, wah, sejak kapan Sensei mengetahui perkembangan barang-barang bermerk seperti ini?" tanya Conan dengan muka jahilnya, karena setahu mereka, wali kelas mereka ini tidak begitu peduli terhadap barang-barang bermerek.

"Eh, anu… Shiratori-Kun sering memberiku barang-barang bermerek tersebut, walaupun aku sudah menolaknya, dia tetap memaksaku untuk menerimanya. Aku jadi penasaran dengan brand-brand tersebut, sehingga aku sering mencari informasi mengenai produk mereka di internet. Ternyata menyenangkan juga. Hehehe," jawab Kobayashi Sensei sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Haha, waktu santaimu banyak sekali ya, Sensei," tawa Conan dalam hati dengan ekspresi jahil, ciri khasnya.

"Wah, Ai-Chan, sepertinya kau memiliki penggemar rahasia ya. Aku jadi iri," ucap Ayumi yang membuat anak-anak lain ber 'ciyeee' secara berbarengan.

Haibara hanya tersenyum karena moodnya meningkat seketika melihat barang di depannya. Tidak dapat dipungkiri, dia juga mengincar barang keluaran terbaru Fusae Brand itu, terlebih warna yang dia incar pun sama dengan warna dompet yang ada dihadapannya, tetapi dia belum bisa ikut mengantri karena kegiatan ekskul disekolahnya cukup menyita waktu, sempat merasa putus asa karena takut akan kehabisan barang dengan warna limited edition ini, ternyata justru dia mendapatkannya dengan mudah, tanpa harus ikut mengantri, tanpa mengeluarkan uang sepeser pun, walaupun tidak dapat dipungkiri, dia juga penasaran terhadap pengirim barang ini, bagaimana dia bisa tahu apa yang saat ini Haibara inginkan? Siapa dia? Tapi siapapun dia, Haibara berterima kasih karena saat ini barang incarannya sudah ada ditangannya dengan sepucuk surat berisi kalimat "Semoga Kau Menyukainya."

"Sepertinya kau senang sekali yaa mendapatkan barang mahal secara gratis," ejek Conan sambil kembali ke tempat duduknya, saat itu anak-anak lain juga telah kembali ke tempat duduknya masing-masing karena pelajaran selanjutnya akan dimulai.

Haibara tidak menanggapi ejekan Detektif di depannya karena tidak ingin merusak mood baiknya hari ini. Dia hanya pura-pura tidak mendengarkan dan bersenandung kecil.

"Oi! Oi!" Conan yang merasa tidak diindahkan justru semakin mengganggu Haibara.

Haibara tetap tidak bergeming, benar-benar tidak ingin merusak mood baiknya, mencoba membayangkan dompet yang barusan dia dapatkan, tidak menganggap orang disebelahnya ada.

Conan akhirnya menyerah, toh pelajaran juga telah dimulai, dan dia tahu konsekuensinya jika mood orang disebelahnya ini memburuk. "Hahaha. Bisa-bisa malam ini aku bermimpi buruk karena dia," begitu batin Conan berkata.

Hari-hari selanjutnya berjalan biasa saja, Grup Detektif Cilik menangani kasus seperti biasa, Conan dengan aura Murder Magnetnya masih sering mengundang kasus disektarnya. Haibara juga terkadang masih menerka-nerka siapa pengirim paket misterius itu, namun tidak ada petunjuk, dia sungkan meminta tolong kepada Conan, karena malas membayangkan bocah itu akan mengejeknya habis-habisan.

Selama seminggu ini, Haibara bukannya tidak menerima hadiah misterius. Dia selama ini merahasiakan dari teman-temannya jika sering ada yang menaruh bingkisan berupa sekotak dark chocolate favoritnya di lokernya. Dia tidak ingin membuat heboh teman-temannya, sehingga dia lebih memilih merahasiakannya. Namun dia jadi semakin penasaran sebenarnya siapa yang begitu rajin mengirimi hadiah kepadanya. Dia pernah mencoba menunggu di depan loker hampir seharian (sebelum jam pelajaran dimulai, saat istirahat, dan saat jam pelajaran selesai) tapi dia tidak melihat orang mencurigakan datang ke lokernya, sialnya justru setelah dia selesai melaksanakan ekskul, bingkisan dark chocolate itu sudah berada di lokernya, seakan sang pengirim mengetahui jika Haibara mencoba menangkap basah dirinya. Hari ini, tiba-tiba di atas meja Haibara terdapat sebuah paket lagi, saat itu Haibara dan Grup Detektif Cilik sedang dipanggil ke ruang guru karena Kobayashi Sensei memanggil mereka, Haibara dan Grup Detektif Cilik terkejut melihat paket itu berada di meja Haibara.

"Ano... tadi Hikaru-Kun dari kelas 3C mengantarkan ini. Dia bilang, paman kurir meminta tolong untuk memberikannya kepada Haibara-San," ucap Takami yang merupakan teman sekelas mereka.

"Wah, mungkin dari penggemar rahasiamu lagi, Ai-Chan," ucap Ayumi dengan semangat.

"Lihatlah, seorang Nenek berusia 84 tahun memiliki seorang penggemar misterius yang sudah 2 kali mengirimkan hadiah untuknya," ucap Conan dengan nada mengejek.

"Diam kau!" balas Haibara dengan ekspresi kesal, kemudian dia menuju ke mejanya untuk melihat paket tersebut. Lagi-lagi tidak tertulis nama pengirimnya. Sama seperti paket pertama dan tentu saja bingkisan-bingkisan yang diterima di lokernya itu.

"Coba buka, Haibara. Aku penasaran apa isinya," ucap Genta.

"Iya, Haibara. Aku juga penasaran, aku harap isinya bukan racun," ucap Mitsuhiko yang sepertinya tidak terlalu menyukai jika Haibara memiliki penggemar.

"Bodoh! Kau harus mengurangi kebiasaanmu menonton drama misteri," balas Conan kepada Mitsuhiko, dia tidak habis pikir anak kelas 4 kenapa punya pikiran sejauh itu.

"Yah, siapa yang tahu? Aku sudah sering melihat kasus pembunuhan dengan alasan sepele seperti putus cinta dan sejenisnya, mungkin saja kan?" Mitsuhiko berkilah.

"Kau ini cemburu, Mitsuhiko?" tanya Genta tanpa basa-basi.

"A-ah… Tentu saja bukan karena itu!" jawab Mitsuhiko gugup.

"Bodoh! Ketahuan sekali kalau kau cemburu," ucap Conan dalam hati dengan ekspresi malas saat melihat Mitsuhiko terlihat gugup.

"Ayo buka, Ai-Chan. Aku penasaran sekali!" ucap Ayumi yang nampak tidak sabar. Anak-anak lain pun memenuhi meja Haibara lagi karena mereka juga penasaran dengan isi dari paket tersebut.

"Iya, iya, baiklah."

Haibara merobek kertas pembungkus paketnya dan lagi-lagi terdapat kotak kado di dalamnya, yang berbeda hanya ukurannya lebih kecil dari kado kemarin. Saat haibara membuka penutup kadonya, dia menemukan 2 lembar tiket VVIP sebuah Fashion Show dan sepucuk surat bertuliskan, "ENJOY THE SHOW. PS: Kau boleh mengajak 1 orang lagi untuk menemanimu," Haibara merasa heran, darimana orang ini tahu kalau dia sangat ingin menonton fashion show ini? Haibara sudah mencoba untuk memesan tiket secara online namun selalu gagal karena server websitenya error, sepertinya karena banyak juga yang mengunjungi website tersebut sehingga terjadi traffic. Dan orang ini justru memberikan dia tiket gratis kepadanya, kelas VVIP pula. Untuk tiket kelas biasa saja harganya sekitar 100 Dollar, apalagi ini. Siapa sih orang ini?

"Wah, Ai-Chan. Sepertinya penggemar rahasiamu ini orang yang sangat kaya," goda Ayumi.

"Memangnya harga tiket ini berapa sih? Kenapa kau bisa bilang kalau orang itu kaya?" tanya Genta polos, sambil memperhatikan tiket yang tadi dia ambil dari kotak kado tersebut dan mengamatinya.

"Yah, untuk kelas biasa saja tiketnya sekitar 100 ribu Yen. Kalau untuk kelas VVIP seperti ini, harga tiketnya sekitar satu juta Yen. Tapi kau bisa dapat fasilitas yang istimewa juga," jawab Conan malas, sembari menopang dagunya dengan salah satu tangannya.

"APA? SATU JUTA YEN?" Genta dan anak-anak lain terkejut mendengar perkataan Conan.

"Wah, wah, sepertinya Tuan Detektif di sebelahku ini lebih tahu tentang hal ini ya," ucap Haibara dengan nada mengejek.

"Hah? I-itu… soalnya Sonoko-Neechan membicarakan hal itu di kantor Paman kemarin. Hehehe," ucap Conan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Haibara mengamati perilaku Conan, entah apa yang dipikirkannya.

"Beruntung sekali dirimu. Ah, aku jadi iri padamu, Ai-Chan. Jadi, kau mau mengajak siapa untuk melihat fashion show itu?" tanya Ayumi membuyarkan lamunan Haibara.

"Begitu ya? Hmmm… Menarik sekali. Jadi penggemar rahasiaku ini pastilah sangat kaya, karena sanggup memberiku hadiah mahal begini," Ai menyeringai, menyelipkan satu sisi rambutnya ke belakang telinga, kemudian hawa dingin dan menakutkan mulai terasa di sekitarnya. Anak-anak lain termasuk Grup Detektif Cilik terlihat ketakutan pada Haibara. "Haruskah kumanfaatkan dia untuk membeli semua barang-barang mahal kesukaanku? Pasti dia tahu kalau seleraku itu tinggi sekali. Sepertinya dia begitu mengagumiku, tapi dia terlalu pengecut. Hanya berani mengirim paket tanpa nama ke sekolah, tapi tidak berniat menemuiku. Haruskah aku memeriksa sidik jari yang terdapat pada benda-benda yang dia berikan padaku? Tidak mungkin kan dia datang ke jasa antar barang menggunakan sarung tangan."

"Oi! Oi! Kau berlebihan sekali!" ucap Conan hati-hati, dia juga agak ketakutan karena merasakan aura hitam mengelilingi Haibara. Sementara anak-anak lain sudah kembali ke tempatnya masing-masing karena ketakutan.

"Aku hanya bercanda. Untuk apa aku repot-repot melakukan hal itu, aku tidak paham maksud orang ini mengirimiku barang-barang mahal yang anehnya secara kebetulan barang-barang itu merupakan barang yang sedang kuinginkan. Ada baiknya, aku nikmati saja permainan dia saat ini," balas Haibara santai, walaupun diakhiri dengan senyuman misteriusnya.

"J-jadi, kau akan pergi melihat fashion show itu dengan siapa, Ai-Chan?" Ayumi mengulangi pertanyaannya lagi dengan hati-hati.

"Kau mau menemaniku, Yoshida-San?" tanya Haibara yang sepertinya tahu maksud Ayumi menanyakan hal itu berulang kali kepadanya.

"Benarkah? Tentu aku mau, Ai-Chan," jawab Ayumi sesuai prediksi Haibara, dia terlihat senang sekali dan memeluk lengan Haibara dengan erat. Haibara tahu jika Ayumi juga ingin melihat Fashion Show ini, tapi tabungannya belum cukup untuk membeli tiketnya. Haibara juga tahu jika Ayumi mulai tertarik dunia fashion dan sering meminta saran kepada Haibara tentang tren fashion saat ini. Sepertinya 3 tahun berteman dengannya, membuat Ayumi ikut menyukai hal-hal yang dia sukai juga.

Sementara itu, tanpa mereka sadari, seorang anak laki-laki menatap Haibara lekat sekali sembari mengatakan sesuatu dalam hati, "bersenang-senanglah disana, Ai. Saat ini aku memang masih menjadi pengecut, suatu hari nanti, aku akan menemuimu secara langsung dan mengungkapkan semuanya kepadamu."

Hari-hari yang dinanti Haibara pun tiba, dia sudah menyiapkan outfit yang cocok untuk menghadiri fashion show tersebut. Setelah menyiapkan sarapan untuk 3 orang, yaitu untuknya sendiri, Hakase, dan Tuan Detektif yang entah kenapa pagi-pagi sekali sudah datang ke rumah Hakase untuk menumpang sarapan dengan alasan kalau Ran sedang ada latihan untuk pertandingan karate, sehingga harus menginap di dojo tempat biasa dia berlatih dan Paman Kogoro belum berniat bangun di Minggu pagi ini, sehingga tidak ada sarapan yang tersedia disana dan akhirnya dia ikut sarapan di rumah Hakase, mereka sarapan bersama dan setelah itu Haibara bersiap untuk mandi. Moodnya pagi ini baik sekali, karena dia akan menonton fashion show yang digadang-gadang akan menjadi acara terhebat pada tahun ini, apalagi tema yang diusung adalah Autumn. Haibara sudah berbelanja baju untuk dipakai hari ini. Beberapa hari yang lalu dia berbelanja bersama Ayumi, Ayumi juga meminta saran kepadanya tentang pakaian apa yang cocok untuk menghadiri acara teresebut.

"Sepertinya hari Minggu ini akan cerah sekali ya, Hakase. Karena ada seseorang yang memiliki mood yang baik hari ini," Conan mencoba menggoda Haibara yang sedang bersenandung kecil sambil menyiapkan sarapan untuk mereka.

"Jangan mengejekku, aku tidak akan terpengaruh," ucap Haibara, cuek, tapi tetap bersenandung riang.

"Yah, sepertinya peri baik hati yang muncul hanya saat tengah malam itu belum juga mau kembali dan mencoba mengusir penyihir yang menguasai seseorang di pagi hingga malam hari. Haruskah aku senang?" goda Conan lagi dengan ekspresi jahil yang menjadi ciri khasnya.

"Iya, saat ini peri baik hati masih berkuasa, tunggu saja sampai nanti penyihir kembali dari tidurnya, entah apa yang akan terjadi, aku jadi takut membayangkannya," balas Haibara sambil mengeluarkan senyum seringainya.

Conan merasakan kengerian saat melihat senyum di Haibara. Hakase memilih diam saja daripada ikut menanggapi perdebatan mereka berdua.

Kriiiiingggg…. Kriiiiingggg…. Kriiiiingggg….

Telepon di rumah Hakase berbunyi, Haibara mengangkat telepon tersebut.

"Moshi-moshi," ucap seseorang di seberang sana.

"Moshi-moshi, Yoshida-San. Ada apa kau menelepon ke rumah Hakase pagi-pagi begini?" tanya Haibara.

"Ah, Ai-Chan. Hiksss…. Maafkan aku, aku tidak bisa menepati janjiku untuk menemanimu. Ibuku baru saja mendapat kabar kalau nenekku sakit, sehingga kami harus ke Gunma untuk menjenguknya sekaligus menemaninya. Maafkan aku, Ai-Chan. Hiksss… Padahal kita sudah menyiapkan ini, kau bahkan membantu memilihkan baju yang tepat untukku. Hiksss…" Ayumi terisak di telepon.

"Tidak apa-apa, Yoshida-San. Nenekmu kan sedang sakit, jadi kau harus menjenguknya. Tidak usah memikirkan aku, kan masih ada Hakase yang bisa menemaniku. Kau jangan menangis seperti itu. Baju itu bisa kau pakai nanti saat waktunya tepat. Jangan bersedih lagi yaa, Yoshida-San. Semoga nenekmu cepat sembuh," Haibara mencoba menenangkan Ayumi.

"Huhuhu… Terima kasih, Ai-Chan. Kau memang sahabat terbaikku. Sekali lagi maaf ya, Ai-Chan. Selamat bersenang-senang disana. Tolong kirimkan foto-foto yang bagus untukku yaa. Sudah dulu yaa, Ai-Chan. Aku harus bersiap untuk berangkat. Terima kasih maafkan aku, Ai-Chan."

"Iya, nanti akan aku kirimkan foto yang bagus untukmu dan kau pun tidak perlu meminta maaf kepadaku karena kau tidak salah. Baiklah, Yoshida-San. Hati-hati di jalan."

Haibara menutup teleponnya dan kembali menghampiri Hakase dan Conan.

"Telepon dari siapa, Ai-Kun?" tanya Hakase.

"Yoshida-San. Dia tidak bisa menemaniku hari ini karena harus mengunjungi neneknya yang sedang sakit. Hakase, bisakah kau menemaniku hari ini?"

"Ah, maaf, Ai-Kun. Bukannya aku tidak mau, tapi hari ini aku harus menyelesaikan penemuan terbaru untuk klienku, dia memintaku untuk memperlihatkannya besok, jadi aku harus menyelesaikannya hari ini. Maaf ya, Ai-Kun. Mungkin aku bisa mengantarmu, tapi tidak bisa menemanimu," jawab Hakase dengan jujur.

"Baiklah, baiklah," Haibara menghela nafas. Sesungguhnya dia ingin melihat pertunjukan itu, tapi kalau harus pergi sendirian, entah kenapa dia tidak merasa nyaman, padahal dulu dia terbiasa kemana-mana sendiri, tetapi sekarang sepertinya dia mulai berubah.

Conan yang melihat Haibara menghela nafas seperti itu bingung harus berkomentar apa, mood baiknya barusan hilang seketika.

"Bagaimana kalau kau pergi dengan Shinichi? Aku yakin Shinichi juga tidak akan keberatan," Hakase mencoba memberi solusi yang tentu saja ditolak oleh Haibara.

"Aku tidak ingin dia mengundang mayat disana," keluh Haibara masih tetap menghela nafas dengan berat.

"Oi! Oi! Seenaknya saja kau! Aku juga tidak tertarik menonton pertunjukan orang yang berjalan di depan penonton sambil pamer baju begitu," ucap Conan malas dan melanjutkan menyantap sarapannya, pancake kismis.

Haibara terdiam dan berpikir sesuatu. Dia ingin sekali melihat fashion show itu, tapi dia tidak nyaman jika tidak ada yang menemaninya. Apakah dia harus membatalkan niatnya untuk menonton fashion show itu?

"Baiklah, Haibara, aku akan menemanimu."

Suara itu mengagetkan Haibara. Dia langsung melihat ke arah orang yang sedang menikmati pancakenya tersebut. "Benarkah? Aku tersanjung sekali, Tuan Detektif. Tapi, tidak, terima kasih, sepertinya aku lebih baik menonton dari TV saja nanti, daripada aku menontonnya bersama Murder Magnet."

"Hoho, kau yakin mau melewatkan fashion show itu secara langsung? Kau tahu kan fasilitas apa yang didapat dari kelas VVIP? Akses full ke backstage untuk bisa bertemu langsung dengan para designer dan para model. Aku tahu kau ingin sekali melihat ini karena ada salah satu designer yang kau suka kan? Kau yakin mau melewatkannya?" tanya Conan dengan nada mengejek.

"Wah wah, untuk ukuran orang yang katanya tidak tertarik, kau tahu banyak ya, Kudo-Kun," Haibara bertanya balik, menyeringai, menatap Conan dengan tajam, dan kembali menyelipkan salah satu sisi rambutnya ke belakang telinga.

"A-anu… Aku tahu dari Sonoko. Yah, dia heboh sekali karena keluarganya juga termasuk salah satu sponsor acara tersebut, hehehe. Dia mengajak Ran untuk ikut menonton, tapi sayangnya Ran harus latihan untuk lomba, hehehe," jawab Conan gugup sambil memakan pancakenya dengan canggung.

Haibara masih menatap Conan, dia jadi teringat kembali kejadian saat Conan memintanya untuk lebih terbuka terhadap orang lain, terutama Conan. Saat Conan akhirnya berkata untuk jangan lari dari takdirnya. Setelah itu, dia memang mulai sedikit terbuka terhadap Conan, walaupun dia masih membatasi diri sampai dimana dia harus bercerita, tetapi setidaknya sudah ada kemajuan dari dirinya sendiri.

"Baiklah, tidak ada salahnya juga aku menonton ini bersamamu. Setidaknya jika ada kasus nantinya, aku bersama seorang detektif hebat yang bisa menemukan pelakunya, secepatnya," Haibara membuka suara, kali ini dia tersenyum, senyum yang tulus, bukan senyum seringai seperti tadi.

"B-baiklah," ucap Conan yang sepertinya gugup, tidak mau menatap Haibara, karena semburat merah muncul di pipinya, sayangnya hal ini tidak disadari oleh Haibara.

"Hakase, kau tidak perlu mengantarku, nanti aku dan Kudo-Kun akan naik taksi saja, dan kau Kudo-Kun, kau kembalilah dulu ke Kantor Detektif itu untuk mengganti bajumu, aku tidak mau kau mempermalukan aku di acara nanti dengan pakaian seperti ini," ucap Ai sambil berkacak pinggang, memperhatikan penampilan laki-laki di depannya, bagaimana bisa dia pergi dengan orang ini ke acara fashion show dengan memakai jersey tim sepak bola kesukaan laki-laki itu?

"Eh? Memangnya aku harus pakai baju apa? Begini saja tidak cukup?" tanya Conan bingung, karena menurutnya, penampilannya saat ini sudah cukup keren.

"Tentu saja tidak, bodoh," Haibara langsung facepalm. "Tunggu aku disini, setelah aku mandi dan bersiap, kita akan ke Kantor Detektif itu dan aku akan pilihkan baju yang sesuai untukmu! Masih sekitar 4 jam lagi untuk VVIP dapat masuk ke lokasi, semoga kita tidak harus berbelanja baju untukmu terlebih dahulu."

"Baiklah, Haibara."

Setelah mengatakan itu, Haibara langsung bergegas untuk mandi. Sepertinya moodnya kembali baik, karena Conan dan Hakase dapat mendengar senandung kecil dari Haibara. Mereka berdua melanjutkan sarapannya dan berbincang-bincang mengenai banyak hal, kemudian Hakase pamit untuk ke laboratoriumnya di ruang bawah tanah, untuk menyelesaikan temuannya. Conan yang sendirian akhirnya memilih untuk menonton TV.

30 menit kemudian.

"Dimana, Hakase?" tanya Haibara, setelah keluar dari kamarnya dan sudah siap untuk berangkat.

"Di ruang bawah tanah," jawab Conan tanpa melihat Haibara.

"Baiklah, aku kesana dulu untuk pamit, kau tunggu sebentar ya," Haibara menuju ruang bawah tanah untuk pamit kepada Hakase.

"Hei, Kudo-Kun, mau sampai kapan kau menonton TV? Ayo, berangkat, aku harus melihat isi lemarimu," ucap Haibara kemudian, setelah keluar dari ruang bawah tanah.

"Iya, iya," Conan mematikan TV dan berbalik ke arah Haibara. "Kau ini cerewet seka…" dia tidak menyelesaikan kalimatnya karena takjub melihat penampilan Haibara.

Haibara yang ada dihadapannya saat ini terlihat lebih cantik dan modis dari biasanya, begitu menurut Conan. Haibara mengenakan Mesh Dress model tali spaghetti berwarna merah yang memiliki panjang 10 cm di bawah lutut, dengan kaus putih bercorak dalmation dan roll up jeans pants sebagai innernya, tidak lupa kacamata hitam yang dia sampirkan di atas kepalanya, dan slingbag hitam yang tersampir di bahunya, serta make up natural (bagaimanapun, dia terlihat seperti anak kelas 4 SD) sehingga penggunaan make up tidak boleh terlalu berlebihan. Cukup simpel namun mampu membuat Conan terpana.

"Apa?" tanya Haibara sambil memicingkan matanya melihat Conan yang menatapnya.

"Ah, tidak, tidak ada apa-apa. A-ayo kita berangkat," jawab Conan yang malah berjalan duluan keluar rumah Hakase, meninggalkan Haibara.

"Hey, Kudo-Kun, tunggu! Kenapa kau malah meninggalkanku?" Haibara menyusul Conan dan berjalan dibelakangnya.

"Apa kau tidak terlalu berlebihan, Haibara?" tanya Conan saat mereka sedang berjalan berdua menuju Kantor Detektif Kogoro.

"Berlebihan? Maksudmu apa?" tanya Haibara bingung.

"Penampilanmu. Hahaha. Sepatu boots itu, kacamata hitam, bajumu, dan kau memakai make up, bukankah terlalu berlebihan?" goda Conan, tidak lupa memasang muka jahil untuk membuat Haibara kesal.

"Apa kau bilang?" Haibara sudah memberikan death glarenya, misi Conan berhasil.

"Hahaha. Gomen, gomen. Aku hanya bercanda," Conan tertawa jahil. "Tapi itu cocok untukmu, kau terlihat lebih… cantik."

"Eh?" Haibara berhenti berjalan, mukanya memerah setelah mendengar Conan memujinya.

Conan justru mempercepat langkahnya, setelah memuji Haibara, muka dia juga ikut memerah.

Ada apa dengan mereka berdua?

"O-oi, Haibara. Kenapa kau berhenti? A-ayo, nanti kita terlambat," ucap Conan canggung, setelah sadar Haibara tidak ada disampingnya, dia tidak berani melihat ke arah Haibara.

"Ah, i-iya," Haibara juga nampak gugup, dia juga tidak berani melihat Conan.

Mereka berjalan beriringan lagi.

Hening.

Awkward.

"Kenapa mukaku memerah begini?" batin Haibara.

"Bodoh! Mulutku tidak bisa kukendalikan!" batin Conan.

"Ki-kita sudah sampai," ucap Conan memecah kesunyian.

"I-iya, aku tahu."

Mereka naik ke lantai 2 tempat Kantor Detektif Kogoro Mouri dan melihat Paman Kogoro sedang asyik menonton TV.

"Aku pulang," ucap Conan kemudian.

"Ya, darimana saja kau? Pagi-pagi sudah keluyuran," tanya Paman Kogoro melihat Conan dan Haibara memasuki kantornya.

"Menumpang sarapan di rumah Hakase, karena disini dia tidak diurus selayaknya," Haibara yang menjawab pertanyaan Paman Kogoro dengan nada sinis.

"APA?" Paman Kogoro nampak kesal mendengar jawaban Haibara.

"Apa ada yang salah dari jawabanku, Paman? Lihat saja dirimu, pagi-pagi sudah minum alkohol. Sudah berapa kaleng bir yang kau minum pagi ini? Jangan heran kalau nanti tiba-tiba perutmu membuncit karena hatimu rusak dan terjadi penyusutan otak sehingga kau tidak mampu lagi untuk menganalisis kasus, pekerjaanmu dan mata pencaharianmu satu-satunya ini akan terancam," balas Haibara dengan seringaian khasnya.

"Oi! Oi! Haibara!" batin Conan dalam hati.

"Eh, anu… I-iya, anu…" Paman Kogoro tidak mampu membalas ucapan Haibara karena merasa apa yang diucapkan anak itu benar adanya.

"Sudahlah, Paman. Jangan dipikirkan omongan Haibara, dia hanya bercanda. Hehehe," Conan berusaha menengahi.

"Ya, ya, terserah. Aku hanya mengingatkan Paman untuk hidup sehat. Sekarang, dimana aku harus melihat baju-bajumu?" tanya Haibara kepada Conan.

"Ah iya, ayo kita ke lantai 3, lemarinya ada di dalam kamarku. Paman, aku mengajak Haibara untuk melihat baju-baju di kamarku dulu ya, kami mau menghadiri suatu acara," ucap Conan menjelaskan maksudnya ke Paman Kogoro, agar tidak terjadi salah paham dengan mengajak seorang anak perempuan masuk ke kamarnya.

"Terserah kalian saja, asal jangan macam-macam di kamar."

"Haha. Macam-macam apanya?" batin Conan dengan muka malasnya.

Mereka menuju ke lantai 3 dan Haibara segera melihat baju-baju di lemari Conan.

"Sudah kuduga, selera fashionmu buruk sekali," ucap Haibara sambil facepalm.

"Haha. Maafkan aku yang memiliki selera fashion yang buruk, Nona," balas Conan sambil cemberut dan memicingkan matanya.

"Kita tidak punya waktu untuk berbelanja, toko baju buka jam 10, padahal harusnya jam 10 kita sudah dalam perjalananan ke tempat acara," ucap Haibara sambil melihat jam yang ada di tangan kirinya. "Kurasa, kau perlu memakai ini, ini, dan celana ini, ah, ini juga!"

Di depan Conan, Haibara memperlihatkan outfit yang harus dia kenakan hari ini. Kemeja putih lengan panjang dan celana chinos serta suspender elastis dan dasi kupu-kupu pengubah suara ciptaan Hakase. Conan mempercayakan penuh pilihan Haibara, setelah 'mengusir' sebentar Haibara keluar kamar karena dia akan mengganti bajunya, dia mempersilahkan Haibara masuk lagi ke kamarnya untuk melihat penampilannya.

"Bagaimana?" tanya Conan walaupun dia juga tidak tahu kenapa dia sangat butuh pendapat Haibara.

"Hmmm…" Haibara mengamati penampilan Conan kemudian menghampirinya dan melipat kedua lengan kemeja Conan hingga mendekati siku. "Begini lebih baik. Kau harus berterima kasih kepadaku."

"HAHAHA. Terima kasih, Nona!" ucap Conan dengan tampang jahilnya.

"Ya, ya, terserah. Ayo kita berangkat. Aku lebih baik menunggu disana daripada terlambat," ucap Haibara keluar dari kamar Conan, kemudian Conan menyusulnya.

Setelah pamit kepada Paman Kogoro, mereka pun pergi ke tempat acara dengan naik taksi. Haibara yang sepertinya senang sekali karena akan bertemu designer favoritnya itu pun tidak berhenti bersenandung selama perjalanan. Pandangannya mengarah keluar jendela taksi, melihat pemandangan di jalan yang tidak terlalu ramai di Minggu Pagi yang cerah, tidak seperti hari kerja yang biasanya padat.

"Sesenang itukah kau karena akan melihat fashion show? Bahkan ilmuwan sepertimu punya sisi feminine juga ya ternyata," Conan tidak tahan untuk meledek Haibara. Entah dia yang mulai terlalu peka atau memang Haibara sudah mulai berubah, iya, dia merasa Haibara berbeda sekali dengan Haibara yang dikenalnya 3 tahun lalu. Haibara yang sekarang dihadapannya lebih bisa mengekspresikan perasaannya. Apakah permintaan Conan waktu itu sudah mulai dipahami Haibara? Tanpa sadar, Conan tersenyum melihat Haibara, bukan senyum jahil, tapi memang senyum tulus karena orang di depannya sudah mulai berubah lebih manusiawi.

"Apa maksudmu?" Haibara memberikan death glarenya ke Conan.

"Eh, i-itu, maksudku, kau kan biasanya tidak seceria ini, a-anu, aku pikir kau lebih suka berada di laboratorium dan mengerjakan eksperimen entah apapun itu," jawab Conan mencoba meredam rasa takutnya. "Wanita ini benar-benar menakutkan!" begitu batin Conan berkata.

"Jadi kau pikir seorang ilmuwan tidak berhak menikmati hidupnya dan harus terus berkutat dengan berbagai macam eksperimen di laboratorium? Aku bukan seseorang yang menghabiskan hari-harinya dengan kasus ataupun membaca novel misteri," ucap Haibara sinis.

"Gomen, Haibara. Hehehe. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku senang kalau kau bisa menikmati hidupmu," ucap Conan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Haibara menatap Conan tajam, yang ditatap langsung sweatdrop, masih mengira kalau Haibara tersinggung dengan ucapannya, tapi kemudian Haibara tersenyum dan kembali mengamati keluar jendela melanjutkan senandungnya. Conan langsung menghela nafas, lega.

Sekitar 45 menit kemudian, Conan dan Haibara sampai di lokasi fashion show. Disana sudah ramai wartawan dan beberapa pengunjung yang juga memiliki pola pikir seperti Haibara, lebih baik menunggu di tempat acara daripada terlambat, walaupun masih 2 jam lagi pintu masuk khusus tamu VVIP akan dibuka. Haibara mengenakan kacamata hitamnya agar wajahnya tidak terlihat atau tidak sengaja terpotret kamera wartawan, bagaimanapun, dia masih jadi buronan BO.

"Aku ingin ke toilet," ucap Haibara sambil berjalan meninggalkan Conan yang sedang sibuk mengamati keramaian di hadapannya.

"Ya, aku tunggu disini," ucap Conan kemudian.

Setelah bertanya pada security, Haibara menuju ke toilet. Dia langsung menuju cermin untuk melihat penampilannya dan memperbaiki sedikit make up nya. Suasana di dalam toilet cukup ramai, karena banyak juga pengunjung disana.

"AAAAARRRGGGGHHHHH…" terdengar teriakan dari salah satu pengunjung toilet karena tidak sengaja membuka bilik toilet dengan tulisan "TOILET RUSAK" di depan pintunya dan melihat di dalamnya ternyata terdapat mayat seorang wanita.

"Hufftt… Benar-benar Murder Magnet," Haibara menghela nafas, kemudian menelepon Conan untuk menceritakan apa yang terjadi, sementara itu dia menahan orang-orang yang ada di dalam toilet untuk tidak keluar.

Tidak lama, polisi datang dan mulai melakukan penyelidikan. Korban bernama Mayumi Hana berusia 28 tahun dan bekerja sebagai editor sebuah majalah fashion. Dilihat dari kondisinya, waktu kematiannya sekitar 1 jam yang lalu, dengan perkiraan bunuh diri menggunakan racun sianida, karena ditemukan botol berisi racun sianida tergeletak di dekat korban.

"Menurutku ini bukan bunuh diri, Paman Takagi," Conan muncul tiba-tiba setelah Officer Takagi menceritakan ulang analisisnya ke Inspektur Megure.

"Eh, Conan?" Officer Takagi nampak kaget karena Conan tiba-tiba muncul disebelahnya.

"Kau lagi," ucap Inspektur Megure dengan muka malas, setelah melihat Conan. "Kau benar-benar tertular Kogoro ya, selalu mengundang kasus dimanapun kalian berada."

"Oi! Oi! Apa-apaan itu?" gerutu Conan dalam hati.

"Darimana kau bisa menyimpulkan bahwa ini bukan bunuh diri?" tanya Inspektur Megure.

Conan menjelaskan secara detail temuan serta bukti-bukti yang menunjukan bahwa ini bukan kasus bunuh diri.

AUTHOR'S NOTE: MOHON MAAF, DAKU BELUM MAMPU MEMBUAT CRIME SCENE, ILMUKU BELUM SAMPAI SANA, JADI BAGIAN INI AKAN LANGSUNG AKU SKIP KE BAGIAN DIMANA PELAKUNYA TERTANGKAP. AKU AKAN BELAJAR LAGI UNTUK BISA MEMBUAT CRIME SCENE DENGAN BAIK DAN BENAR. HARAP MAKLUM, YAA. TERIMA KASIH PENGERTIANNYA.

Setelah hampir satu setengah jam melakukan penyelidikan, Conan menemukan salah satu petunjuk penting, senyum khasnya ketika dia berhasil menemukan sesuatu dari petunjuk itu pun muncul. Haibara yang daritadi bersandar di dinding di luar toilet melihat senyum khas Conan dan berkata dalam hati, "akhirnya…" dia sudah terlalu bosan menunggu Tuan Detektif itu, sudah berapa kali dia menguap, dia tidak mau merusak mood acara hari ini, masih sekitar setengah jam lagi gate VVIP akan dibuka, walaupun sedang ada kasus disini, the show must go on, right?

Akhirnya pelakunya terungkap, pelakunya adalah teman seprofesi korban yang juga menghadiri event ini, motifnya dendam karena korban sering membullynya di kantor dan merebut proyek yang sudah diincar lama oleh pelaku. Manusia yang sudah sering tersakiti dan menyimpan dendam pun lama-lama akan lebih jahat dari orang yang menyakitinya.

"Lama sekali, aku sudah bosan menunggumu," ucap Haibara setelah Conan berbincang dengan Officer Takagi untuk meminta ijin karena tidak bisa memberikan keterangan ke Kantor Polisi, dia harus menemani Haibara.

"Oi! Tidak usah mengeluh, kau tidak membantu sama sekali," gerutu Conan.

"Aku tidak mau merusak hari ini dengan aroma mayat disekitarku," balas Haibara santai.

"Ya, ya, terserah. Ayo kita kesana, 5 menit lagi pintu masuknya akan dibuka, kan?" Conan berjalan meninggalkan Haibara, sambil menopang kepalanya dengan tangan yang berada dibelakang kepalanya.

Haibara menyusul Conan dan mereka kembali berjalan beriringan. Di depan pintu masuk VVIP sudah terlihat beberapa orang mulai mengantri untuk masuk. Tiket VVIP ini dibatasi hanya untuk 10 orang saja, Haibara termasuk yang beruntung menjadi bagian dari 10 orang itu, apalagi dia mendapatkan 2 tiket VVIP secara gratis. Wartawan pun mulai banyak yang memotret keadaan di sekitar, termasuk pengunjung yang mengantri di depan pintu masuk VVIP. Haibara dan Conan menarik perhatian wartawan, selain karena pertunjukan analisis Conan tadi, mereka juga tertarik dengan outfit yang dipakai oleh Haibara dan Conan.

"Untuk ukuran anak kelas 4 SD, mereka termasuk modis," begitu pikir wartawan yang kebanyakan berasal dari majalah mode. Banyak kamera yang mulai mengambil gambar Conan dan Haibara, menyadari hal tersebut, Conan melindungi Haibara dengan menggenggam tangan Haibarda dan berdiri di depannya untuk menutupi sosok Haibara. Beruntung tinggi Conan sudah melebihi Haibara, jadi dia bisa menutupi Haibara. Sekali lagi, bagaimanapun, Haibara adalah buronan BO.

Untung saja pintu masuk VVIP sudah dibuka, sehingga Conan dan Haibara bisa segera masuk dan menghindari kamera wartawan. Conan, sepertinya tidak sadar, menggandeng tangan Haibara sejak tadi. Dia melihat-lihat sekeliling dan terus menggandeng tangan Haibara sampai ke backstage. Haibara yang sedari tadi menahan untuk menegur Conan, mukanya memerah, entah kenapa dia juga merasa nyaman karena merasa dilindungi oleh Conan.

"A-anu, Kudo-Kun, mau sampai kapan kau menggandengku? Aku ingin melihat itu, tapi kau terus menggandengku menjauhi tempat itu," ucap Haibara malu-malu sambil menunjuk salah satu stand sebuah brand design yang Haibara incar.

"Eh," Conan yang baru menyadari hal tersebut langsung buru-buru melepas genggaman tangannya ke Haibara. "Ma-maaf, aku tidak sengaja. A-ayo kita lihat tempat itu," semburat merah nampak di pipi Conan.

"I-iya, tidak apa-apa," Haibara yang sudah terlanjur gugup, berjalan meninggalkan Conan. "Sadarlah, Shiho!" begitu batin Haibara berkata.

Conan juga tak kalah gugup, dia menjadi malu setelah menyadari sudah cukup lama dia menggenggam tangan Haibara, tapi tidak menyadarinya. "KAU HARUS MENGENDALIKAN DIRIMU, BODOH!" teriak Conan dalam hati.

Setelah adegan canggung itu, Haibara nampak kembali bersemangat saat melihat-lihat berbagai macam brand-brand fashion di hadapannya. Conan mengamati gadis di depannya ini terheran-heran, baru kali ini dia melihat Haibara sangat bersemangat. Tapi itu cukup membuat Conan lega, karena Haibara menikmati hidup barunya ini.

"Ya ampun, koleksi fall season mereka bagus sekali," ucap Haibara bersemangat melihat beberapa koleksi pakaian salah satu brand ternama.

"Astaga, coat ini sudah lama kuincar!" ucapnya lagi.

"Hei, Kudo-Kun, lihat! Menurutmu suit itu cocok untukku atau tidak?" tanya Haibara ke Conan sambil menunjuk suit coklat bemotif kotak-kotak.

"Ah, i-iya, sepertinya cocok untukmu," jawab Conan bingung karena dia pun tidak terlalu paham fashion.

"Kalau coat itu bagaimana menurutmu?" tanya Haibara lagi kemudian menunjuk sebuah coat yang panjangnya selutut (ukuran anak-anak, iya tentu saja Haibara daritadi menunjuk fashion untuk anak-anak), berwarna kuning cerah dengan hiasan bulu yang dibentuk seperti hati, di bagian dada sebelah kiri.

"Aku rasa, kau lebih paham tentang hal ini, Haibara," Conan mencoba jujur. Yah menurut dia, apapun pilihan Haibara semuanya bagus, karena Haibara memiliki selera fashion yang bagus juga.

"Ah, kau benar. Salah ya aku bertanya padamu. Hidupmu kan hanya dipenuhi kasus, jadi kau tidak punya sense of fashion," sindir Haibara.

"Oi! Oi! Jadi, kenapa tadi kau bertanya padaku?" gerutu Conan dalam hati.

"Aku hanya ingin terlihat sempurna dihadapanmu, Kudo-Kun," ucap Haibara tiba-tiba, membuat Conan terkejut dengan perkataannya.

"Eh? Apa maksudmu? Aku tidak paham."

"Ya, aku tahu, aku tidak ada apa-apanya dibandingkan teman masa kecilmu itu. Aku kalah cantik dibandingkan dengannya. Yang kau lihat selama ini hanya dia. Aku tidak pernah memiliki tempat dihatimu. Aku tahu, aku ini mantan penjahat. Aku membuatmu menderita. Aku… Aku…" Haibara menunduk sedih.

"Hei! Apa maksudmu, Haibara? Tentu saja kau bukan orang seperti itu! Sudah berapa kali kukatakan kepadamu, kau bukan penjahat! Kau tidak pernah membuatku menderita! Dan kenapa kau harus membanding-bandingkan dirimu dengan Ran? Tentu saja kalian berbeda!" ucap Conan sedikit emosi. DIa tidak suka jika Haibara menjelek-jelekan dirinya sendiri. "Aku…"

"Aku…" Haibara memotong perkataan Conan, dia kemudian menatap Conan dengan tatapan sedih. "Aku hanya bercanda!"

"Aku menyukaimu."

Hening.

CHAPTER 2 END.

Btw, beberapa hari ke depan aku akan keluar kota dan tidak yakin bisa menulis fanfic dulu (tapi akan aku usahakan mencuri-curi waktu untuk menulis). Sekarang masih tanggal 16 AGustus, tapi aku ingin mengucapkan DIRGAHAYU INDONESIAKU! MERDEKAAA!