HAAAAAIIIIII... AKU KEMBALIIIIIIIIIII! :DDD
Saatnya membalas review :
Citra Zaoldyeck: MERDEKAAAA!
uyab4869: Pastinya sampai tamat dong. Aku juga gak suka di php sama cerita yang menggantung saat lagi seru-serunya. Huhuhu.
coffeemuffin: Uuuwhhh….. Terima kasih kamuuu. Jadi makin semangat untuk nulis.
XIII-hades: Masih ada kok, hehehehe. Maaf lama, efek liburan masih agak sulit meningkatkan mood, padahal sudah tinggal sedikit lagi chapter 3 selesai. Tapi tenang aja, ini chpter 3 sudah selesai. Semoga suka sama ceritanya yaaa.
Terima kasih juga untuk kalian yang sudah memfavoritkan fanficku ini. Aduh, aku terharu, ternyata menulis itu semenyenangkan ini yaa. Maafkan kalau masih banyak kekurangan ditulisanku. Plotnya kurang jelas. Terus masih ada kesalahan seperti alur ceritanya (aku kadang lupa kalau bikin cerita mereka setelah 3 tahun kemudian, yang artinya usia mereka juga bertambah). Aku akan terus berusaha untuk memperbaiki penulisanku ini. Mohon bersabar dan harap maklum yaa. Hehehehe. Jangan lupa Reviewnya yaaa. Terima kasih.
Disclaimer : Aoyama Gosho, pemilik sah hak cipta Detective Conan. Daku mah hanya sefruit people yang sangat menyukai karya beliau dan menyukai chemistry antara Shinichi X Shiho atau Conan X Ai. Hahaha mohon maaf yaa, namanya juga fanfic.
WARNING : OOC! Mungkin banyak typo!
HEART
CHAPTER 2
PENGAKUAN
Conan's POV
"Aku menyukaimu."
"Aku hanya bercanda!"
Hening.
Kata-kata yang keluar secara bersamaan itu sungguh bertolak belakang dengan artinya, membuat hening seketika, membuat aku dan dia terdiam tanpa kata dan hanya saling menatap.
Aku bingung harus bagaimana menghadapinya setelah ini. Hei, kalian tahu kan, aku ini makhluk paling tidak peka terhadap permasalahan perempuan, terutama perasaannya. Tapi... aku sudah tidak tahan. Bahkan mungkin aku sangat ingin berteriak di hadapan dia bahwa aku menyukainya. YA, AKU MEMANG MENYUKAINYA! AKU MENYUKAI AI HAIBARA! Jika kalian menganggap aku gila, mungkin aku memang gila, lebih tepatnya tergila-gila padanya. Berlebihan? Anggap saja begitu, karena kalian tidak pernah mengalami takdir seperti aku (dan Ai, tentunya). Apakah kalian pernah mengalami penyusutan tubuh sehingga menyebabkan tubuh berusia 17 tahun menjadi seorang anak kecil berusia 7 tahun? (Well, sekarang umurku 20 tahun). Atau, apakah kalian pernah mendengar anak berusia 7 tahun memecahkan kasus dari yang paling ringan seperti pencurian sampai pembunuhan yang melibatkan FBI atau CIA? Jadi, kalian masih berpikir aku berlebihan jika merasa tergila-gila padanya? Mungkin dulu aku pernah begitu membencinya karena dia yang membuat tubuhku menyusut begini (atau lebih tepatnya, dia yang membuat racun itu, walaupun Gin dan Vodka sialan itu yang meminumkannya padaku), dia membuatku sangat menderita karena harus membuat Ran (teman masa kecilku, orang yang pernah kusukai) ikut menderita karena harus menungguku, padahal aku ada di depan matanya, padahal aku sangat dekat dengannya, tapi aku harus berpura-pura menjadi anak berusia 7 tahun agar dia tidak mengetahui identitasku sehingga dia tidak terlibat dalam bahaya karenaku. Yah, dulu aku sangat membencinya. Sangat sangat benci. Tapi, saat pertama kali aku melihat air matanya, hatiku ikut merasakan pedih. Aku merasa bersalah karena gagal menyelamatkan kakaknya yang harus jadi korban BO. Dia sudah tidak punya siapapun di dunia ini, dia tidak punya keluarga yang dapat memeluknya disaat dia bersedih atau menolongnya disaat dia sedang ada masalah. Semua karena BO sialan itu!
Pada awalnya aku hanya merasa aku perlu melindungi gadis ini karena dia sudah tidak punya siapapun di dunia ini (sindrom hero complex memang melekat pada diriku). Pada awalnya aku merasa bahwa dia adalah wanita menyebalkan dan tidak tahu terima kasih. Pada awalnya aku merasa bahwa kami hanya kebetulan memiliki takdir yang sama, hanya itu. Pada awalnya juga aku merasa bahwa dia orang lemah yang berpura-pura kuat untuk menutupi kesedihannya. Tapi ternyata aku salah. Selama 18 tahun hanya menghabiskan hidup di laboratorium dan tidak pernah bersosialisasi seperti remaja pada umumnya membuat dia merasa canggung jika harus berteman dengan orang baru. Aku salah, kita memang berbagi takdir, dia melengkapiku, aku tak pernah sadar kehadirannya begitu berarti untukku, keselamatannya merupakan prioritas utamaku. Aku salah, dia memang benar-benar wanita yang kuat. 18 tahun terjebak bersama BO, kehilangan orang tua dan kakaknya karena menjadi korban kekejaman BO, tidak memiliki seorang pun teman, tapi dia masih sanggup bertahan. Justru dia menyesal, sebagai ilmuwan, dia merasa ilmunya tidak bermanfaat karena hasil temuannya justru digunakan untuk membunuh banyak orang. Aku kagum kepadanya, pada awalnya. Benci menjadi kagum, kagum menjadi suka, dan saat ini aku menyukainya, aku membutuhkannya, aku tidak tahu apakah aku bisa hidup tenang jika tanpa dirinya. AKU MENYUKAIMU, AI HAIBARA, SHIHO MIYANO, SHERRY, KAMU!
"Hello, little girl. I like your outfit."
Suara seorang laki-laki memecah keheningan di antara kami berdua. Aku dan Ai seketika menoleh ke arah sumber suara tersebut. Ai terlihat sangat terkejut melihat orang itu, sementara aku menatap orang tersebut dengan pandangan berterima kasih karena dia menyelamatkan suasana canggung ini.
"T-thank you so much, Mr. Lagerfeld," ucap Ai gugup. Aku cukup paham kenapa dia menjadi gugup seperti itu. Ai merupakan salah satu penggemar orang ini. Sudah berapa kali aku mendengar dia membicarakan karya-karya orang ini. Walaupun Ai memang penyuka barang-barang branded (yang sungguh menguras uangku karena harus membeli beberapa barang itu untuknya) tapi brand ini merupakan brand yang paling disukai Ai. Entahlah, aku juga tidak tahu alasannya.
"You're welcome. I hope you're having fun with this show. Bye, little girl."
Usai mengatakan itu, Mr. Lagerfeld pamit untuk mengurus shownya nanti dan meninggalkan kami berdua lagi. Aku belum siap dengan segala kecanggungan ini. Bodohnya aku!
Tapi aku bersyukur, Ai tidak terlalu membahas situasi tadi, dia terlihat bahagia sekali karena telah bertemu orang yang dia sangat gemari, orang yang sering dia bicarakan setiap melihat majalah fashion. Senyum mengembang di wajah cantiknya. Ah, aku benar-benar tidak tahan untuk tidak jatuh cinta pada senyumannya.
"Kudo-Kun, apakah tadi aku terlihat memalukan di depan Mr. Lagerfeld? Aku rasa tampangku seperti orang bodoh," tanya Ai padaku sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Baru kali ini kulihat dia segugup ini, hey, kenapa kau tidak pernah begitu dihadapanku? Aku kan juga tidak kalah keren dibandingkan orang itu!
"Iya, wajah gugupmu jelek sekali, harusnya tadi aku mengambil gambarmu, kau tidak sadar kan kau terus membuka mulutmu lebar-lebar saat menatap orang itu tadi? Hahahaha," jawabku berbohong.
Ai langsung memberikan death glare andalannya kepadaku. Aku tertawa lagi, merasa berhasil menggodanya.
"Yah, kurasa kau masih punya cukup uang untuk membelikanku ini kan?" tantang Ai seraya menunjuk coat yang tadi dia tunjukan padaku.
"Hah? Kenapa aku harus membelikan ini untukmu? Kau pikir aku bank berjalan?" tanyaku bingung.
"Apakah dompet limited edition, dark chocolate premium, dan tiket VVIP ini sudah menguras tabunganmu?"
"Eh?"
"Kau pikir aku tidak tahu? Aku tidak bodoh, Kudo-Kun. Kau bilang apa tadi? Menyukaiku? Kau sedang sakit ya? Atau kelelahan setelah mengungkap kasus tadi hingga membuatmu meracau seperti itu?" Ai menatapku serius. Sulit sekali meluluhkan hati orang ini.
"D-darimana kau tahu aku yang mengirimkannya untukmu?" aku bertanya gugup.
"Aku ini selalu bisa membaca pikiranmu, apa kau lupa?"
Aku terkejut mendengar jawabannya, maksudku, aku tahu orang ini selalu bisa membaca pikiranku, tapi, bukankah ini terlalu hebat?
"Kalau kau bisa membaca pikiranku, seharusnya kau tahu maksud perkataanku tadi. Aku tidak sedang sakit, aku tidak sedang meracau, aku serius."
"Tidak untuk yang satu itu, aku rasa kau kelelahan," Ai melipat kedua tangannya di depan dadanya, masih menatapku tajam, aku merasakan sedikit aura kemarahan di dalam tatapannya.
"Hei, aku serius! Aku benar-benar menyukaimu!" ucapku sambil memegang bahunya erat. Aku benar-benar serius menyukainya. Aku tidak sedang dalam mood untuk bercanda. Aku tidak habis pikir kenapa dia masih menganggapku meracau.
"Sudahlah, Kudo-Kun. Aku ingin menikmati hari ini dengan baik, bisakah kita tidak membicarakan ini lagi?" Ai mengibaskan telapak tangannya di depan wajahku, lalu dia berjalan meninggalkanku. Apakah aku melakukan kesalahan? Dia mengabaikanku!
Setelah puas mengelilingi backstage (dalam keheningan, tentu saja), kami menuju tempat khusus tamu VVIP untuk menonton fashion show tersebut. Aku dan Ai mendapatkan posisi paling depan, dia nampak semangat sekali dan tetap mengabaikanku. Aku memaklumi karena mungkin dia benar-benar ingin menikmati fashion show ini, tapi setelah acara ini berakhir kenapa dia terus mengabaikanku?
"Oi, Haibara!" panggilku sedikit berteriak, karena dia terus berjalan meninggalkanku padahal situasinya masih cukup ramai. Kami sudah keluar dari gedung pertunjukan itu.
"Oi, Haibara! Tunggu!" aku berhasil meraih tangannya. "Kau ini kenapa?"
Ai berusaha melepas genggaman tanganku, tapi tentu saja aku tidak akan semudah itu melepasnya. Aku butuh penjelasan.
"Hei, lepaskan tanganku!"
"Tidak, sampai kau menjelaskan alasan kenapa kau..." aku ragu untuk mengatakannya, tetapi harus! "...marah kepadaku?" lanjutku.
"Aku tidak marah, untuk apa aku harus marah kepadamu, Kudo-Kun? Lepaskan dulu tanganmu, kau menyakiti tanganku."
Aku langsung melepaskan genggamanku, tidak ingin menyakitinya lagi, kulihat pergelangan tangannya sedikit memerah di kulit pucatnya, kurasa aku tidak sadar telah menggenggam tangannya dengan kuat.
"Maafkan aku, Ai. Aku tidak bermaksud menyakitimu."
"Tapi nyatanya kau membuat tanganku sakit. Huh, sudahlah. Aku tidak ingin membahasnya. Aku lapar," ucapnya sambil mengelus pergelangan tangannya, kemudian berjalan meninggalkanku lagi.
"Oi, Haibara!" Aku menyusulnya dan berhenti tepat di depannya. Aku tidak suka caranya mengabaikanku. Daritadi dia berkata tidak ingin membahasnya, seperti ingin berlari dari segalanya, aku benar-benar tidak suka dengan sifatnya yang satu itu (yah, walaupun aku menyukainya, aku tidak ingin dia selalu lari dari masalah). "Apakah harus seperti ini? Apakah kata-kataku salah? Apakah pernyataanku menyakitimu?"
Ai terdiam mendengar pertanyaanku. Wajah pokerfacenya membuatku tidak bisa membaca pikirannya.
"Kau tidak salah, Kudo-Kun," jawabnya memecah kesunyian.
"Lantas, kenapa kau mengabaikanku?" tanyaku tidak sabar. Aku butuh penjelasan secepatnya!
"Aku..." Ku lihat Ai menghela nafas. "Sepertinya ini salah. Kurasa perasaanmu adalah sebuah kesalahan. Kurasa kau terlalu lelah dengan keadaanmu sehingga kau salah mengartikan perasaanmu sendiri. Kau tidak menyukaiku, kau hanya menyukai Mouri-San, temanmu sedari kecil itu. Kau tidak lupa dengan pernyataanmu kepadanya saat di London dulu kan? Jadi, aku rasa kau salah mengartikan kedekatan kita sebagai rasa suka," jawabnya lagi, jawabannya membuatku marah. Kenapa dia bisa menilai bahwa rasa sukaku ini sebagai sebuah kesalahan? Aku ini detektif, analisisku selalu benar! Aku tidak mungkin salah dengan perasaanku sendiri! Walaupun aku sedikit bodoh, tidak peka, dan terlambat menyadari hal ini.
"Kau yang salah, Haibara! Aku menyukaimu bukan karena aku menyalah artikan kedekatan kita! Tidak! Aku memang menyukaimu. Aku membutuhkanmu, Haibara. Lalu untuk Ran, justru mungkin aku yang salah mengartikan perasaanku ini sebagai rasa suka. Aku baru menyadarinya. Aku menyukai Ran, tapi hanya sebagai sahabat," ucapku sedikit membentaknya. Entahlah, aku benar-benar tidak bisa mengendalikan emosiku saat ini.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk membentakmu," ucapku lagi setelah melihat dia agak terkejut karena aku membentaknya.
"Suka sebagai sahabat itu seperti apa, Kudo-Kun? Apa bedanya dengan perasaanmu terhadapku saat ini? Kau bilang kau menyukaiku kan?" tanya dia lagi, kali ini dia kembali dengan pokerfacenya.
"Jelas berbeda! Perasaanku terhadap Ran hanya sebatas aku menyukai dia karena dialah orang yang bersedia dekat dan menjadi sahabatku sejak kecil, tapi rasa sukaku ini tidak tumbuh menjadi cinta. Aku memang bodoh, karena telat menyadarinya. Aku harus berterima kasih kepada ibuku karena dialah yang menyuruhku untuk mencari tahu perasaanku yang sebenarnya. Kau? Aku menyukaimu, tidak, lebih tepatnya, aku mencintaimu, Haibara! Aku tidak pernah merasakan ini saat dengan Ran. Kau membuatku selalu menjadi diriku sendiri, bukan seperti saat aku dengan Ran yang harus selalu terlihat seperti lelaki pintar tanpa ada kekurangan apapun, Ran memang tidak pernah menuntutku secara langsung, tetapi aku tahu, aku tidak boleh terilhat tidak sempurna dihadapannya. Sedangkan kau? Kau bahkan selalu tahu cara untuk membuatku malu di depan banyak orang, tapi entah kenapa aku menyukainya. Kau memahamiku, bahkan sepertinya kau selalu bisa membaca pikiranku, walaupun untuk hal ini kau bodoh sekali," mendengar kata bodoh, membuat Ai menatapku tajam, tidak terima. Aku menggaruk pipiku yang tidak gatal.
"Aku mencintaimu, Ai," ucapku lagi, kali ini aku yang menatapnya serius. Aku melihat semburat merah dipipinya saat aku menatapnya barusan. Apakah dia malu?
"K-kau gila! Dan siapa yang memperbolehkanmu memanggil nama depanku?" ucapnya lalu menepis tanganku dibahunya, dan berjalan meninggalkanku (lagi!).
Ah benar! Dia malu! Aku bisa melihatnya. Astaga, Putri pengantuk yang sinis itu pikir aku tidak tahu?
*Flashback*
Aku begitu bersemangat saat Agasa Hakase memintaku untuk menginap di tempatnya, menemani Ai yang harus ditinggal olehnya karena beliau harus pergi ke Fukushima. Tapi sepertinya Ai terlihat begitu lelah, hingga tidak menyadari kehadiranku disana. Dia langsung masuk ke kamarnya setelah Hakase pergi dan itu masih jam 8 malam. Aku yang kelaparan karena tidak sempat makan malam akhirnya hanya menghabiskan waktu dengan menonton TV, hingga tidak terasa aku mendengar Ai membangunkanku. Ah, apakah dia selalu secantik ini? Entahlah, apakah definisi cantik untukku itu terlalu aneh? Melihat "muka bantalnya" dengan rambut sedikit berantakan seperti ini membuatku ingin memeluknya lalu mengacak-acak rambutnya. (Hei, wajar saja, aku berusia 20 tahun!).
Aku sungguh tidak tahan untuk tidak bertanya tentang keadaanya akhir-akhir ini, aku melihat dia begitu kelelahan seperti banyak beban yang ada di punggungnya. Tak kusangka justru dia menangis lagi dihadapanku. Iris biru kehijauan itu kini tertutup air mata.
Kenapa kau selalu menahan diri, Ai? Ada aku yang selalu siap melindungimu. Aku memeluk tubuh kurusnya. Hangat.
"A-ano… Kudo-Kun, mau sampai kapan kau memelukku?" Ai bertanya kepadaku di tengah keheningan.
Ah sial! Aku merasa bodoh sekali karena baru menyadarinya. Aku harus bagaimana? Mukaku pasti sudah berubah menjadi tomat merah. Ah, pancake ini kenapa terlalu besar untuk kumakan? Bersiaplah menjadi bubur, wahai kau pancake!
"Terima kasih, Kudo-Kun. Terima kasih karena kau peduli kepadaku."
"Tentu saja aku peduli, karena kau adalah Watsonku yang paling berharga!"
Aku berani bersumpah, wajahnya langsung memerah setelah aku mengatakan itu padanya. Lucu sekali melihatnya, tapi aku harus menahan ekspresi tenangku ini. Aku jadi semakin ingin menggodanya.
"Temani aku makan ya, Haibara," ucapku sambil memikirkan ide apalagi untuk menggodanya. AHA!
"Apakah kau demam? Mukamu merah. Kau tidak apa-apa kan, Haibara?" Aku mencoba mendeteksi (yah, walaupun ini cuma akal-akalanku saja) suhu tubuhnya dengan metode dahi ke dahi, aku ingin tahu reaksinya.
"Tapi ini tidak panas."
YES! Aku berhasil! Tidak sia-sia aku memiliki Ibu seorang mantan aktris terkenal yang selalu mengajariku untuk berakting. Astaga, mukanya benar-benar merah sekarang. Hei, Ai, kau harus melihat rupamu sekarang. Uh, aku tidak tahan, kau sangat manis saat merasa malu seperti ini. Rasanya aku benar-benar ingin memelukmu!
"Bisakah kau mempercepat makanmu? Itu hanya 3 lapis pancake dan kau belum selesai makan juga walaupun sudah hampir setengah jam. Aku mengantuk."
Hei, aku tahu kau menahan perasaanmu! Aku masih melihat semburat merah di wajah cantikmu, Ai. Walaupun kau menutupinya dengan nada sarkastikmu, aku tahu kau malu! Bagaimana kalau kulanjutkan saja menggodamu? Hahaha. Maafkan aku, Ai. Aku tidak tahan untuk menggodamu, sungguh, melihat wajahmu memerah seperti itu membuatku bahagia. Kau memang tidak seperti Ran yang mudah sekali mengekspresikan perasaannya, justru hal itu yang membuatku makin tertarik kepadamu. Shinichi Kudo mungkin sudah gila!
Aku terus menggodanya, pancake buatannya memang sangat enak, walaupun dengan, uh, kismis! Tapi aku benar-benar menikmatinya, ah, terima kasih untuk diriku sendiri yang tadi memotong pancake ini menjadi beberapa bagian yang sangat kecil, sehingga aku bisa lebih lama menghabiskannya. Aku melihatnya mulai kembali menjadi si Ratu Es, membuatku langsung menyuapinya sepotong pancake secara tiba-tiba. Aku benar-benar tidak bisa menahan diri lagi melihat mukanya memerah kembali. Kau cantik! Baiklah, akan aku coba!
"Aku suka Haibara. Terima kasih pancakenya enak sekali dan sekarang aku sudah kenyang. Terima kasih juga segelas susu hangatnya. Aku suka sekali Haibara."
Apakah dia menyadarinya? Aku menyatakan perasaanku padanya (yah, walaupun dengan embel-embel pancakenya yang enak itu).
Eh tunggu, kenapa kau malah pergi?
"Jangan lari, Ai. Jangan pernah lari dari takdirmu."
Dia berbalik menatapku yang mengatakan itu sambil tersenyum ke arahnya. Aku tidak ingin dia lari lagi, tapi aku masih ingin membuktikan perasaannya kepadaku. Tunggulah, Ai. Aku pasti akan mengatakan langsung kepadamu.
*FLASHBACK END*
"Ayolah, Haibara! Kau tidak bisa menghindariku terus!" aku masih mencoba membujuknya. Sayangnya, dia masih tidak mau berbicara denganku dan terus berjalan tanpa mempedulikanku yang sedari tadi berada di sampingnya.
"Kau… Kau tidak menyukaiku?" pertanyaan ini akhirnya terlontar dari mulutku. Aku sangat menghindari pikiran negatif tentang perasaanya terhadapku, aku tidak ingin menerima kenyataan pahit kalau ternyata dia tidak menyukaiku.
Ai berhenti dan kemudian menatapku, aku tidak bisa membaca isi pikirannya, wajah pokerfacenya membuatku bingung.
"Kau ingin aku bagaimana, Kudo-Kun?" tanyanya setelah menghela napas.
"Eh," aku bingung harus menjawab apa.
"Aku masih tidak yakin dengan pernyataanmu tadi. Aku masih merasa ini salah. Maksudku, kita baru bertemu 3 tahun yang lalu dan terima kasih selama 3 tahun ini kau selalu melindungiku, tapi bukankah kau selalu memaksaku untuk menyelesaikan penawar racun itu agar kau bisa kembali menjadi Shinichi Kudo dan juga kembali pada Mouri-San yang setia menunggumu itu?" dia masih tetap pada pendiriannya, menganggap perasaanku sebagai suatu kesalahan. Ah, susah sekali meluluhkan hatimu!
"HAIBARA! Dengar!" ucapku sambil mencengkram bahunya, aku tidak peduli lagi aku berteriak di hadapannya, aku tidak peduli orang-orang disekitar memperhatikan kami, aku tidak peduli, aku hanya ingin menjelaskan semuanya!
"Tidak ada yang salah dengan ini! Aku menyukaimu, tidak, aku mencintaimu! Aku berani bersumpah demi Kami-Sama bahwa aku benar-benar mencintaimu! Aku tidak pernah memaksamu lagi, Haibara! Maafkan jika aku dulu memaksamu karena keegoisanku dan kebodohanku. Tapi aku sudah tidak ingin lagi memaksamu menyelesaikan penawar racun sialan itu! Selesaikanlah semampumu, asal kau tetap ada disampingku, semuanya akan baik-baik saja. Aku akan terus melindungimu, yah walaupun aku yakin kita tidak akan mati semudah itu, tapi asal kau tahu, aku bersedia mengorbankan nyawaku demi melindungimu yang terkadang bodoh dan pesimis ini."
Mendengar kata bodoh dan pesimis, ekspresinya yang semula terkejut menjadi kesal. Hei, aku benar, kan?
"Buktikan padaku!" ucapnya sambil memandangku masih dengan tatapan kesal.
"Baiklah! Kau ingin aku melakukan apa agar kau percaya?" tantangku kemudian.
"Beritahu identitasmu yang sebenarnya kepada Mouri-San. Apakah kau berani?" aku melihat seringai dari wajah cantiknya. Apakah dia meremehkanku?
"Baiklah, jika itu dapat membuatmu mempercayaiku, aku akan mengatakannya sekarang juga!" ucapku dengan percaya diri, kemudian aku menarik tangannya dan langsung memberhentikan taxi. Aku siap menerima apapun risikonya, asal gadis dihadapanku ini tidak lagi menganggap perasaanku sebagai sebuah kesalahan. Lagipula aku juga memang tidak bisa selamanya berbohong kepada Ran tentang identitasku.
"Eh, t-tunggu, Kudo-Kun!"
CHAPTER 3 END.
