Halooooooooo semuanyaaa...
Saatnya membalas review:
XIII-hades: tenang saja, cerita ini masih berlanjut kok.
uyab4869: iya, dia terpojok karena ulahnya sendiri. Hahaha.
SherryIsMe: ini sudah dilanjut. Terima kasih yaaa.
HUHUHUHUHU…. Aku baca ulang Chapter 3, ternyata banyak kesalahan pengetikan. Harusnya setelah judul, tulisannya chapter 3, eh ternyata aku lupa ganti setalah ku copas. Lalu harusnya flashback terakhir, Conan masih manggil Haibara, kok malah jadi Ai. Sudah terlanjur diupload, ternyata banyak kesalahan. Maafkan aku yaa. Semoga chapter ini gak ada lagi kesalahan-kesalahan fatal kayak begitu.
Dan terima kasih untuk kalian yang menantikan kelanjutan cerita ini. Jadi makin semangat untuk menulis.
Disclaimer : Aoyama Gosho, pemilik sah hak cipta Detective Conan. Daku mah hanya sefruit people yang sangat menyukai karya beliau dan menyukai chemistry antara Shinichi X Shiho atau Conan X Ai. Hahaha mohon maaf yaa, namanya juga fanfic.
WARNING : OOC, benar-benar OOC! Mungkin banyak typo! Terlalu lebay and drama! Narasi kurang jelas!
HEART
CHAPTER 4
AKU JUGA MENYUKAIMU
Normal POV
"Buktikan padaku!" ucap Haibara kepada Conan.
"Baiklah! Kau ingin aku melakukan apa agar kau percaya?" tantang Conan.
"Beritahu identitasmu yang sebenarnya kepada Mouri-San. Apakah kau berani?" Haibara menyeringai, meremehkan Conan.
"Baiklah, jika itu dapat membuatmu mempercayaiku, aku akan mengatakannya sekarang juga!" ucap Conan percaya diri, dia lalu menggenggam pergelangan tangan Haibara, kemudian memberhentikantaksi dan mereka langsung pergi meninggalkan Gedung tersebut.
"Eh, t-tunggu, Kudo-Kun!" Haibara nampak terkejut mendengar perkataan Conan, namun terlambat, saat itu juga tangannya sudah ditarik oleh bocah berkacamata itu dan kemudian mereka berdua pergi dengan menaiki taksi.
"Blok 5, Beika. Kantor Detektif Kogoro Mouri," Conan dengan lantang mengucapkan alamat tujuannya kepada supir taksi yang kemudian dibalas dengan anggukan oleh supir taksi tersebut.
"Kau! Kau sudah gila, Kud—Edogawa-Kun!" ucap Haibara sedikit membentak lelaki disebelahnya.
"Bukankah kau yang menyuruhku membuktikan langsung kepadamu agar kau percaya? Kenapa sekarang kau ragu-ragu?" tanya Conan sambil menyeringai, membalas seringaian Haibara tadi.
"Lepaskan dulu tanganku," ucap Haibara sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Conan di pergelangan tangannya, namun Conan semakin erat menggenggam tangan Haibara.
"Tidak akan! Jika kulepaskan, kau akan memaksa untuk turun dari taksi ini dan melarikan diri lagi."
"A-aku tidak akan lari," Haibara nampak gugup, dia kemudian menghela napasnya, lalu melanjutkan perkataannya, "Ku mohon, Edogawa-Kun. Kita pulang saja ke rumah Hakase. Aku sangat lelah."
"Tidak. Kau sendiri yang tadi menyuruhku berbicara jujur kepada Ran mengenai identitasku. Kau sendiri yang meminta bukti keseriusanku. Aku tidak akan berhenti disini," ucap Conan menghindari tatapan Haibara. Dia lebih memilih melihat ke arah luar jendela taksi.
Ai Haibara yang saat ini merasa kebingungan, hanya terdiam memandangi Conan. Di satu sisi, dia, dia tidak ingin jika nanti Conan membongkar identitasnya kepada Mouri-San, senyum di wajah Mouri-San akan lenyap. Padahal senyum itu sangat mirip dengan senyum kakaknya, Akemi Miyano. Namun di sisi lain dia ingin Conan membuktikan perkataannya. Semuanya membingungkan untuk Haibara. Harga diri dan kebimbangan yang begitu tinggi membuatnya harus memilih di antara dua sisi jembatan dengan medan yang sama-sama menyulitkan.
Haibara melipat lengannya di depan wajah untuk menutupi kedua matanya. Dia merasa bodoh karena memberikan tantangan ke Tuan Detektif disebelahnya, yang justru malah menyulitkan dirinya sendiri. "BODOH!" seperti itu kata yang telontar terus menerus dari dalam batin Haibara.
Conan melirik sebentar ke arah Haibara yang nampak kesulitan menghadapi situasinya saat ini, dia melihat Haibara bersandar ke kursi lalu menutup kedua matanya dengan lengannya sendiri. "Kau tahu kan, aku tidak akan menyerah semudah itu!" batin Conan berkata seperti itu yang kemudian diiringi dengan seringaian dari bibir Conan.
Taksi pun kini sudah berhenti di depan Café Poirot, dimana di atas Café tersebut merupakan Kantor Detektif Kogoro Mouri dan juga merupakan tempat tinggal Conan, Ran, dan tentu saja Paman Kogoro.
Conan membuka pintu taksi dan tetap menggenggam pergelangan tangan Haibara. Dilihatnya Haibara yang tidak bergeming dari kursinya, menahan tarikan tangan Conan. Memegang handling pintu, tidak mau keluar. Conan merasa takjub dengan pemandangan di depannya ini. Haibara selalu merasa setakut ini hanya ketika berhadapan dengan Gin, tapi saat ini bukan Gin yang akan dia temui, bukan juga anggota BO lain, pun mereka tidak akan menyerbu markas BO (yang entah dimana keberadaannya), mereka hanya akan menemui Ran di rumahnya, di Kantor Detektif Kogoro Mouri.
"Kalau kau setakut itu, kenapa tidak menyerah saja, sih? Kenapa tidak langsung mempercayaiku?" batin Conan berkata.
"Hei, Haibara. Mau sampai kapan kau disini? Paman driver sudah harus pergi untuk mencari penumpang lain. Kau tidak bisa terus menerus duduk disini," Conan berusaha meyakinkan Haibara untuk keluar dari taksi, sambil menghela nafas, Conan memegang kedua tangan Haibara, membimbingnya pelan untuk keluar dari taksi.
"Terima kasih, Paman. Mohon maaf atas kelakuan temanku ini," ucap Conan sambil menundukan kepalanya ke supir taksi tersebut saat mereka berdua sudah keluar dari taksi.
"Bagaimana? Apakah kau menyerah?" batin Conan bertanya dalam hati, dia menatap gadis di depannya yang juga sedang menatapnya dengan pandangan yang sulit terdefinisikan maksudnya (baiklah, Conan memang sulit membaca isi pikir Haibara, bertolak belakang dengan Haibara yang selalu bisa membaca isi pikir Conan).
"Entahlah, Kudo-Kun. Aku ingin bukti, tapi aku juga tidak siap jika senyum diwajahnya menhilang karena hal ini," jawab Haibara dalam hati, benar-benar bisa membaca isi pikir lelaki didepannya ini.
Conan menarik tangan Haibara untuk menuju lantai 2, dimana Kantor Detektif Kogoro Mouri berada, dia berteriak sejak di tangga, memanggil sahabat sedari kecilnya itu.
"RAAAAAAN…."
Tidak ada jawaban.
"RAAAAAAN…."
"RAAA-"
Haibara yang sedari tadi sudah pucat pasi berharap bahwa wanita yang sedang diteriakan Namanya itu tidak ada di tempat akhirnya memilih menarik Conan yang tidak sempat menyelesaikan panggilan terakhirnya tadi untuk bersembunyi di ruangan lain, di seberang ruangan kantor Detektif Kogoro Mouri, di dapur, beruntung tidak ada siapapun disana. Dia langsung menutup mulut Conan dengan tangannya.
Kemudian, mereka berdua mendengar suara seseorang turun dari lantai 3.
"Eh, Conan-Kun?" suara seorang wanita mencari-cari orang yang memanggilnya tadi, iya, itu Ran.
Haibara gugup. Takut. Takut jika Ran mengetahui keberadaan mereka, takut jika akhirnya Ran juga harus mengetahui identitas asli orang dihadapannya yang sedang mencoba untuk bersuara.
Conan menyingkirkan tangan Haibara dan kemudian berkata, "Kau! Kenapa kau-" namun, lagi-lagi Conan tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena mulutnya kembali ditutup oleh tangan Haibara.
"Kau terlalu berisik!" bisik Haibara dengan nada marah, namun rasa khawatir juga nampak dari ekspresinya, keringat mengucur dari dahinya.
"Kau sendiri yang menantangku, kan!" balas Conan juga sambil berbisik, yang membuat Haibara memberikan death glarenya
"Conan;Kun? Apa itu kau?" Ran masih mencari-cari Conan yang diyakini telah meneriakan namanya barusan.
Haibara yang bersembunyi di belakang pintu dapur, semakin mempersempit jarak antara tubuhnya dengan Conan, dia menempel erat pada Conan, mendorong Conan ke dinding, tentu saja dengan satu tangannya menutup mulut cerewet Tuan Detektif ini dan satu tangannya yang lain masih digenggam erat oleh Conan. Dia berharap Ran tidak membuka pintu dapur.
Conan yang tentu saja dalam situasi tidak dapat berbuat apa-apa ini merasa sangat panas, mukanya memerah, apalagi dia bisa merasakan nafas Haibara di depan wajahnya, sangat dekat. (HEY ANDA SEMPAT-SEMPATNYA YAA!).
"Astaga! Aku harus fokus!" Conan mencoba menyadarkan dirinya sendiri. Bukan saatnya berpikir hal lain. Wanita cantik didepannya ini sedang cemas dan takut.
Mereka melihat kenop pintu dapur bergerak, menandakan seseorang akan membuka pintu tersebut.
"Bagaimana ini? Dia tidak boleh kesini! Dia tidak boleh tahu!" batin Haibara cemas.
Kriiiiiiiiingggg… Kriiiiiiiiingggg… Kriiiiiiiiingggg…
Suara telepon dari dalam Kantor Detektif memecah keheningan yang mendebarkan ini.
Kriiiiiiiiingggg… Kriiiiiiiiingggg… Kriiiiiiiiingggg…
Tidak ada yang mengangkat.
Kriiiiiiiiingggg… Kriiiiiiiiingggg… Kriiiiiiiiingggg…
Ran yang hampir saja membuka pintu dapur, memilih masuk ke Kantor itu untuk mengangkat telepon. Sepertinya Paman Kogoro sedang tidak ada di tempat. Beruntung sekali mereka!
Haibara merasa lega, dia langsung terduduk lemas setelah Ran pergi.
Conan kemudian ikut duduk dihadapannya. Dia melepas genggaman tangannya, kemudian memegang dagu Haibara dan mengangkat wajah cantik yang tertunduk lemah untuk bertatapan dengannya. Dilihatnya keringat mengalir di sela-sela poni wanita berambut pirang strawberry yang membuat poninya sedikit lepek. Conan mengambil sapu tangan dari kantong celananya, lalu ia menyeka secara perlahan keringat yang ada di wajah wanita itu.
Haibara yang masih diliputi kecemasan tidak mengelak dengan segala perlakuan Conan terhadapnya, dia masih merasa cemas walaupun ada kelegaan juga dalam hatinya.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu ketakutan," ucap Conan masih menyeka keringat di wajah Haibara.
Haibara tidak merespon perkataan Conan, tidak juga mau menatap wajah Conan.
"Maafkan aku, Ai."
Haibara yang merasa tidak nyaman karena Conan memanggil nama depannya langsung menatap tajam ke arah Conan, sepertinya dia sudah mulai sadar.
Conan yang tidak tahan ditatap seperti itu oleh Haibara, langsung memegang wajah Haibara dengan kedua tangannya (tentu saja satu tangannya juga masih memegang sapu tangan), mendekatkan wajahnya ke wajah Haibara, sangat dekat, hingga Haibara yang masih terkejut dengan tindakan Conan ini terlambat untuk menghindar. Dia hanya bisa memejamkan matanya.
Chu…
Conan mengecup kening Haibara.
Haibara membuka matanya.
Kemudian Conan menempelkan dahinya ke dahi Haibara, sehingga wajah mereka benar-benar sangat dekat saat ini. Mau tak mau mata mereka bertatapan. Kedua insan ini merasakan semburat merah keluar dari wajahnya masing-masing.
"Maafkan aku, Ai," ucapnya tulus, lalu Conan melepaskan tangannya dari wajah Haibara (yah, walaupun dia pasti tidak rela momen ini berakhir). Dia bangkit untuk mengamati keadaan di luar.
Haibara masih termangu dalam duduknya. Mukanya masih sangat merah. Dia tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya. Menurutnya, Conan selalu punya cara tersendiri untuk menyelesaikan masalahnya, termasuk melakukan hal berbahaya, dan ini juga berbahaya untuk jantung Haibara yang degupannya meningkat semakin cepat karena perlakuan Conan terhadapnya tadi.
"Sepertinya sudah aman, Ai. Ran sudah tidak ada di lantai 2. Sebaiknya kita segera keluar, agar tidak ketahuan," ucap Conan sambil menjulurkan tangannya ke arah Haibara, dia baru saja mengecek ruangan kantor dan tidak ada siapapun disana. Ran sepertinya sudah kembali ke kamarnya di lantai 3.
"Sudah kubilang, jangan panggil nama depanku!" Haibara menepis tangan Conan, dia bangkit sendiri, kemudian berjalan meninggalkan Conan.
Conan yang melihat itu tidak bisa menahan senyumnya. Biarpun nada sarkastik terlontar dari bibir wanita itu, tapi semburat merah itu masih terlihat diwajahnya. "Lucu sekali! Jadi ini sisi tsundere mu?" pikir Conan.
"Ai, ah, gomen, Haibara, aku ingin bertanya sesuatu padamu," ucap Conan saat mereka berdua berjalan menuju rumah Hakase. Saat itu sudah sekitar jam 5 sore. Senja mulai menyapa Kota Beika.
"Apa?" tanya Haibara seadanya. Dia masih berusaha menata hatinya agar kembali normal seperti biasa.
"Kau tahu darimana jika aku yang memberikan semua barang, termasuk tiket ini, kepadamu?" tanya Conan sambil menopang dagunya, mencoba menganalisis letak kesalahannya sendiri sehingga dia bisa ketahuan sebagai pengagum rahasia Ai Haibara.
"Hanya menebak," jawab Haibara sekenanya, singkat, padat, dan jelas. Tapi jawaban ini tidak memuaskan rasa penasaran Conan. Dia masih terus memaksa Haibara untuk menjawab jujur pertanyaannya.
"Jika ini bisa membuatmu berhenti menanyakan pertanyaan yang sama, baiklah…" Haibara sudah terlihat tidak sabar karena terus didesak oleh Conan. "Detektif dari Timur pun terkadang bisa sangat ceroboh membiarkan seorang wanita membuka lemari pakaiannya dan menemukan faktur pengiriman barang yang ditujukan untuk wanita tersebut dan sebuah struk pembelian dompet Fusae dengan warna dan jenis yang sama dengan yang diterima wanita tersebut. Apakah ini sudah bisa menjawab pertanyaanmu?"
Mendengar jawaban Haibara, sontak Conan menepuk jidatnya, menyadari kebodohannya tersebut. Bagaimana bisa dia lupa jika dia menyembunyikan faktur dan struk itu di dalam lemari dan malah membiarkan Haibara dengan bebas mengacak-acak lemarinya untuk mencari pakaian yang pas seperti yang dia pakai saat ini? "BODOH!" umpat Conan dalam hati.
Haibara terus berjalan meninggalkan Conan, dia tidak ingin Conan melihatnya menahan tawa karena kebodohan Conan itu. "Bagaimana bisa dia seceroboh itu? Baka!" batin Haibara, senyum tersungging dari bibirnya.
"Haibara!" Conan sedikit berlari menyusul Haibara yang sudah agak jauh meninggalkannya, setelah berada disebelahnya, dia langsung menggenggam tangan Haibara, memasukan jari-jarinya ke jari-jari Haibara, erat, tidak akan dilepaskannya genggaman itu walau sekarang Haibara mencoba untuk melepaskan diri.
"Kau! Siapa yang memperbolehkanmu menyentuhku?" Haibara masih mencoba melepaskan genggaman tangan Conan, hatinya berdebar lagi, lelaki ini tidak membiarkan jantungnya untuk beristirahat.
"Matahari senja hari ini indah sekali. Kita nikmati saja situasi saat ini, Ai," ucap Conan santai sambil tersenyum ke Haibara, masih menggenggam erat tangan wanita di sampingnya ini.
"Kan sudah kubilang, kau tidak boleh memanggil nama depanku! Lagipula, apa-apaan ini? A-aku bukan anak kecil, Tuan Detektif! Tidak perlu kau menggandengku seperti ini!"
Conan menatap Haibara, yang ditatap justru memberikan death glare kepadanya.
"Aku tidak ingin kau meninggalkanku lagi, Ai, bukan, Shiho. Aku tidak ingin kau meninggalkanku lagi, Shiho."
Haibara tertegun mendengar Conan memanggil nama aslinya, sudah lama dia tidak mendengar nama itu disebut. Hatinya makin tidak karuan. Hanya karena lelaki di depannya ini memanggil nama aslinya, dia merasa… malu? Ah, iya, mukanya sudah memerah.
"Cantik," pikir Conan saat melihat wajah kemerahan Haibara yang berpadu dengan sinar matahari senja. Dia tak henti-hentinya tersenyum memandang wajah wanita yang berbagi takdir dengannya ini, wanita yang saat ini hanya terdiam dan menunduk malu.
"Apa kau masih tidak mempercayai perasaanku, Shiho?" tanya Conan memecah keheningan di antara mereka berdua.
"A-aku… Aku tidak tahu, Kudo-Kun," jawab Haibara masih tertunduk malu, tidak berani menatap Conan.
"Kenapa?" Conan menyentuh pipi Haibara dengan sebelah tangannya, kemudian dia menyelipkan rambut Haibara ke balik telinganya. Haibara yang memang tidak pernah mendapat perlakuan seromantis dari seorang laki-laki begitu terkejut, dia mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk, menatap Conan, tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dalam hatinya dia merasa bahagia.
Conan tersenyum saat Haibara menatapnya. Dia benar-benar tidak habis pikir, kenapa Haibara masih tidak bisa mempercayainya. Toh, tadi dia sudah hampir membuktikan keseriusannya walaupun Haibara justru ketakutan karena hal tersebut.
"Kenapa kau masih sulit mempercayaiku, Shiho?" tanya Conan lagi.
"A-aku merasa… tidak pantas. Aku ini penjahat, Kudo-Kun," jawab Haibara ragu-ragu.
"Sudah berapa kali aku bilang kepadamu, kau bukan penjahat. Kau adalah Shiho Miyano, seorang ilmuwan pintar dan cantik berusia 21 tahun yang terjebak dalam organisasi jahat dan korban dari kekejaman mereka, namun 3 tahun lalu kau berhasil melarikan diri dan menjadi buronan organisasi itu hingga saat ini. Kau bukan penjahat, Shiho," ucap Conan dengan nada selembut mungkin, agar wanita dihadapannya tidak lagi selalu menyalahkan dirinya sendiri.
"Tapi aku tidak ada apa-apanya dibandingkan Mouri-San. Dia sangat baik, sedangkan aku? Aku tidak bisa seperti dia, Kudo-Kun. Aku tidak sebaik dia," Haibara masih berkilah.
"Hei, aku tidak pernah memintamu untuk menjadi seperti Ran. Kau bukan Ran, kau adalah Shiho Miyano. Aku tidak peduli jika kau tidak bisa sebaik Ran. Karena yang aku cintai itu adalah Shiho Miyano atau yang biasa ku kenal dengan nama Ai Haibara, dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirinya. Ah, aku bisa gila! Susah sekali meluluhkan hatimu!" ucap Conan sambil facepalm.
Haibara tidak bisa menahan tawanya saat mendengar kalimat terakhir dari Conan. Ah, hatinya bahagia. Dia tidak begitu paham apakah ini termasuk kata-kata romantis atau bukan, dia tidak peduli, yang jelas saat ini dia bahagia.
"Oi! Oi!" Conan memberikan tatapan oi-oi, khasnya. Tapi dia juga senang melihat Haibara tertawa.
"Maafkan aku jika kau kesulitan untuk meluluhkan hatiku, sepertinya itu adalah konsekuensi yang harus kau terima karena menyukai orang sepertiku," ucap Haibara dengan nada sarkastiknya. Dia sudah kembali!
"Ah iya, sepertinya begitu. Dan sepertinya Penyihir jahat sudah kembali menguasai dirimu," Conan mulai kembali menggoda Haibara.
"Ya, ya, terserah! Jadi, bisakah kau lepaskan tanganmu ini?" Haibara masih mempermasalahkan genggaman tangan Conan tersebut.
"Tidak, kan sudah kubilang, aku tidak akan melepaskanmu, aku tidak ingin kau meninggalkanku lagi, Shiho!"
"Kau ini keras kepala sekali! Aku hanya ingin mengambil barang di dalam tasku, genggaman tanganmu ini membuatku kesulitan menjangkau tasku sendiri. Kau bisa kan melepasnya sebentar, setelah itu, kau bisa menggenggam tanganku lagi," ucap Haibara yang membuat Conan terkejut.
"Eh."
Conan melepaskan genggaman tangannya dari Haibara,
"Kau sendiri kan yang bilang untuk tidak lari dari takdirku sendiri?" ucap Haibara lagi, sambil sibuk mencari sesuatu ditasnya. "Kau benar. Aku tidak akan bisa berlari dari takdirku sendiri."
Haibara mengambil 2 bungkus dark chocolate pemberian dari Conan, membuat Conan kebingungan dengam maksud perkataannya barusan. Haibara membuka bungkus pertama cokelat tersebut dan memakannya, sedangkan bungkus kedua ia berikan kepada Conan (lebih tepatnya, Haibara menyuapi Conan!).
"Aku tidak akan lari lagi, Shinichi."
Conan benar-benar terkejut dengan tindakan Haibara yang tiba-tiba menyaupinya cokelat, lalu memanggilnya dengan nama depannya.
"Sudah hampir waktunya makan malam, bisakah kita mampir ke supermarket dulu untuk membeli bahan makanan untuk kumasak nanti?" Haibara menyadarkan Conan dari keterkejutannya.
"Eh? B-baiklah," jawab Conan gugup. Masih tak menyangka dengan perlakuan Haibara kepadanya, namun dia juga bahagia karena Haibara menyambut positif perasaannya. Conan menggenggam tangan Haibara lagi, kali ini Haibara tidak memberontak seperti tadi.
"Bagaimana rasa cokelatnya?" tanya Haibara.
"Pahit pada awalnya, namun terasa manis di akhir. Aku rasa ini cocok sekali denganmu," jawab Conan sambil tersenyum ke arah Haibara.
Saat ini di bawah sinar matahari senja yang sudah akan tenggelam ke ufuk barat, mereka berjalan bergandengan tangan menuju supermarket.
"Cocok? Apa maksudmu, Kudo-Kun?" Haibara terlihat bingung.
"Hey, kenapa kau tidak memanggil dengan nama depanku lagi?" kali ini Conan balik bertanya.
"Aku lebih suka memanggilmu Kudo-Kun," jawab Haibara dengan pokerfacenya.
"Oi! Oi! Tapi aku lebih suka jika kau memanggilku Shinichi!" paksa Conan dengan ekspresi khasnya. "Tch! Wanita ini sungguh mampu merusak suasana!" begitu batin conan berkata.
Haibara tertawa lagi melihatnya. Sungguh senang rasanya bisa menggoda Conan. (MEREKA BERDUA SAMA SAJA!)
"Baiklah, Kudo Shinichi," ucap Haibara masih sambil tertawa.
"Ah, sial! Kau cantik sekali saat tertawa seperti ini!" ucap Conan dalam hati. Semburat merah muncul dikedua pipinya.
"Sudah kubilang kan, kau sama seperti dark chocolate, sikapmu itu, menyebalkan di awal, membuat orang lain sering salah paham, kau bahkan mampu merusak momen indah ini, seperti merasakan pahit. Namun, pada akhirnya kau juga mampu membuat semuanya terasa manis, bahkan sangat manis hingga membuatku semakin jatuh cinta padamu. Itu benar-benar cocok denganmu, Shiho."
"Eh," Haibara tertegun mendengar penjelasan Conan. Terutama pada bagian "hingga membuatku semakin jatuh cinta padamu." Kali ini semburat kemerahan itu muncul di kedua pipi Haibara. Kalimat Conan mampu membuatnya malu, karena dia merasa seperti melayang ke awan saat mendengarnya, maklumi saja, dia tidak pernah mendengar orang berkata romantis terhadapnya. Dia juga seorang wanita, kan?
"J-jangan menggombal seperti itu! Kau pikir aku akan luluh?" sungguh kata yang keluar dari mulut Haibara berkebalikan 180 derajat dengan keadaan hatinya saat ini yang bisa dilihat dari ekspresi wajahnya, yang sialnya masih belum bisa terkontrol dengan baik. Kali ini Conan yang tertawa melihat Haibara.
"S-sudahlah! Bisakah kita segera ke supermarket? I-ini sudah hampir gelap!" ucap Haibara lagi, masih setengah gugup, menarik tangan Conan untuk terus berjalan. Lucu sekali.
Conan masih tertawa melihat sikap Haibara. Dia tahu, wanitanya ini memang agak tsundere. Eh, tunggu, wanitanya? Iya, menurut Conan, Haibara sudah menjadi miliknya. Terlalu percaya diri memang detektif yang satu ini.
Setelah sampai di supermarket, Haibara berjalan di depan Conan, sedangkan Conan mengekor Haibara sambil membawa trolley belanjaan.
"Situasi ini… Aku merasa seperti seorang suami yang sedang menemani istrinya berbelanja," pikiran Conan mulai melayang jauh, membuat pipinya memerah lagi.
Haibara yang baru akan memasukan sebungkus plastik berisi daging ke dalam trolleynya, melihat Conan sedang melamun dengan pipi kemerahan, membuatnya terheran-heran.
"Kau sedang memikirkan apa, sih? Wajahmu mengerikan!" tanya Haibara sambil mengernyitkan dahinya.
"A-ah… T-tidak. Aku tidak sedang memikirkan apapun. Hahahaha," jawab Conan gugup, sweatdrop, kemudian dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Awas saja kalau kau berpikir macam-macam!" ancam Haibara dengan death glarenya.
"Bodoh! Pikiranmu itu terlalu jauh!" Conan merutuk dalam hati, sambil menjambak rambut depannya, mencoba menjernihkan pikirannya lagi.
Setelah dirasa cukup mereka menuju kasir untuk membayar belanjaannya.
"Kau akan memasak apa?" tanya Conan sambil menenteng 2 kantung belanjaan di kedua tangannya.
"Steak salad."
"Baiklah, aku sudah tidak sabar untuk mencobanya," ucap Conan riang.
"Siapa yang bilang aku akan membuatkannya untukmu? Sampai kapan kau mau terus menumpang makan di rumah Hakase? Merepotkan!" ucap Haibara sambil melipat tangannya di depan dada.
"Oi! Oi! Aku kan juga ingin memakan masakan yang dibuat oleh pacarku," balas Conan sambil mengeluarkan ekspresi khasnya lagi.
"HAH? Pacar?" tanya Haibara terheran-heran, namun jantungnya kembali berdegup kencang. "Maksudmu Mouri-San?" Haibara berusaha mengontrol ekspresinya dengan menggoda Conan.
"Bodoh! Kau ini mau terus berpura-pura tidak tahu?" Conan menanggapi dengan malas, walau sebenarnya dalam hati cemas, sepertinya dia baru sadar, Haibara belum mengatakan suka atau tidak kepadanya. Sebagai seorang detektif, dia tidak ingin mendapatkan jawaban yang bias, karena kebenaran selalu hanya ada satu.
"Ano… Shiho," Conan nampak ragu-ragu.
"Ada apa?" tanya Haibara.
"Apakah kau menyukaiku?"
Haibara yang mendengar pertanyaan itu sontak langsung berhenti berjalan dan menatap Conan. Pria yang ditatapnya ini juga sedang menatap Haibara penuh harapan. Sepertinya dia tidak menerima jawaban tidak.
Haibara kemudian menyelipkan rambutnya ke belakang telinga lalu menyunggingkan senyumnya. "Kau memang pintar dalam menganalisis sebuah kasus ya, Tuan Detektif. Tapi, sayang sekali, untuk urusan perasaan kau benar-benar payah."
"A-apa maksudmu?" tanya Conan gugup.
"Dasar bodoh!" jawab Haibara, membuang muka, lalu berjalan meninggalkan Conan lagi dan lagi. (Kasihan!)
"Chotto matte yo, Shiho." Conan berusaha menyusul Haibara. "Bisakah kau langsung menjawab pertanyaanku tanpa berbelit-belit seperti ini?" Conan mengerucutkan bibirnya.
Haibara berhenti dan berbalik untuk menatap Conan, melihat ekspresi Conan membuat Haibara kembali tertawa lagi. Ah, sore ini dia banyak tertawa. Dia lalu berjalan mendekati Conan, kemudian Haibara meletakkan telapak tangannya di kedua pipi Conan. Tentu saja Conan langsung terkejut dan saat ini mukanya menjadi sangat merah.
"Bodoh! Kau ini memang benar-benar tidak peka. Aku selalu menyukaimu, tapi mungkin kau tidak pernah menyadarinya. Terima kasih, Shinichi, karena telah menyukaiku. Aku juga menyukaimu."
Haibara melepaskan tangannya dari pipi Conan, kemudian berjalan meninggalkan Conan yang sedang mematung karena perlakuan dan pernyataan Haibara tadi. Sedangkan Haibara tersenyum puas karena akhirnya bisa menyatakan perasaannya ke Tuan Detektif yang tidak peka itu.
"T-tunggu aku, Shiho!" Conan sudah mulai tersadar dari kekagetannya dan berlari untuk menyusul wanitanya (IYA, SEKARANG DIA YAKIN AI HAIBARA ATAU SHIHO MIYANO ADALAH MILIKNYA!) yang sudah berada agak jauh di depannya.
Matahari sudah terbenam di ufuk barat, berganti dengan bulan yang sinarnya pun tak kalah indah dari sinar matahari senja. Saat ini, dua insan itu sedang menapaki perjalanan cintanya dengan sinar bulan menjadi saksinya. Entah ke depannya akan bagaimana cerita mereka, namun yang pasti untuk sekarang, hati mereka diliputi kebahagiaan karena rasa cinta ini begitu kuat.
CHAPTER 4 END.
Author's note: Di dalam cerita ini, Ai Haibara telah lama menyukai Conan, namun dia selalu denial dengan perasaannya sendiri, karena yang pertama, dia belum pernah mengalami jatuh cinta, ya wajar saja kalau dia bingung dengan perasaannya sendiri. Lalu, yang kedua, dia merasa tidak pantas bersaing dengan Ran, yang menurutnya benar-benar seperti malaikat, Ai merasa berhutang budi kepada Ran karena Ran pernah menyelamatkannya. Kemudian yang terakhir karena Ai merasa bahwa perasaan Conan atau Shinichi itu sudah pasti hanya untuk Ran, terlebih lagi, Conan pernah menyatakan perasaanya kepada Ran saat di London. Jadi Ai merasa tidak mungkin jika Conan menyukainya, sehingga dia terus-menerus menekan perasaannya, menolak untuk menyatakan bahwa dia menyukai Conan, dan selalu berkata bahwa cinta Shinichi hanya untuk Ran. Tapi karena authornya bersikukuh menyukai chemistry antara Conan dan Ai, maka terciptalah kisah ini. HAHAHAHAHAHA *evil laugh* Oh iya, diceritaku ini, Conan lebih suka memanggil Ai dengan nama aslinya, Shiho. Jadi tidak usah bingung yaa, kawaaaan.
