Haloooooooo…
MAAF YAAA LAMA UPDATENYA…..
Sedang bingung dengan ide ceritanya, makanya agak lama uploadnya.
Saatnya membalas review
uyab4869: terima kasih yaa, selalu kasih review ke ffku. Terharuuuu…
SherryIsMe: terima kasih aku usahakan selalu fast update, karena setiap selesai mengupload cerita, rasanya langsung ingin lanjut lagi.
Adelaide Raverin: Tenang, masih ada lanjutannya kok. Terima kasih yaaa sudah membaca cerita ini
Reviewnya jangan lupa yaaa. Terima kasiiiiiihh….
Disclaimer : Aoyama Gosho, pemilik sah hak cipta Detective Conan. Daku mah hanya sefruit people yang sangat menyukai karya beliau dan menyukai chemistry antara Shinichi X Shiho atau Conan X Ai. Hahaha mohon maaf yaa, namanya juga fanfic.
WARNING : OOC, benar-benar OOC! Mungkin banyak typo! Terlalu lebay and drama! Narasi kurang jelas!
HEART
CHAPTER 5
KETIDAKMUNGKINAN ITU NYATA
Normal POV
"Tidak, Kud—Shinichi, kita tidak bisa begini terus," ucap seorang gadis berambut pirang strawberry cemas, sedari tadi dia hanya bolak-balik berjalan di depan lelaki berkacamata dengan rambut hitam legam yang justru tampak santai duduk di sofa sambil membaca novel Sherlock Holmes.
"Aku tidak bisa tenang jik—" gadis tersebut menatap lelakinya dengan tatapan marah, karena merasa diabaikan oleh sang lelaki. "Kau tidak mendengarkanku sedari tadi, SHINICHI KUDO?" terdengar nada penekanan saat nama itu disebut.
"Ah, kau sudah selesai, Shiho?" tanya lelaki itu masih tetap santai, sambil menutup novelnya.
Gadis itu tidak menjawab pertanyaan si lelaki, dia masih menatap lelakinya dengan tatapan marah, ditambah saat ini dia juga berkacak pinggang. Tidak habis pikir kenapa lelakinya bisa sesantai ini padahal saat ini dia merasa sangat cemas memikirkan hubungannya dengan lelaki itu.
"Kau ini terlalu overthinking, Shiho," ucap lelaki itu lagi, semakin membuat gadis itu marah dan hampir berbalik meninggalkan dia, untung saja dia sigap menangkap tangan sang gadis. Didudukannya gadis itu disebelahnya. Digenggamnya tangan gadis itu erat, mencoba menenangkan amarah sang gadis yang sangat dicintainya tersebut. Manik biru itu menatap dalam manik pirus di sebelahnya. Tatapannya teduh, seakan berkata, "Maafkan aku jika perkataanku menyakitimu. Aku mencintaimu"
"Aku belum selesai berbicara, Shihoku. Dengarkan aku dulu. Aku bilang kau terlalu overthinking karena kau selalu memikirkan suatu hal terlalu mendalam. Maksudku, bahkan hal kecil apapun tentang Ran selalu kau kaitkan dengan dirimu, kau jadi menyalahkan dirimu lagi, padahal kenyataannya tidak seperti itu."
Lelaki itu pun lalu membelai rambut pirang strawberry sang gadis dengan lembut dan kemudian berkata, "kau tenang saja, Shiho. Biar aku yang menyelesaikan semuanya. Kau tidak perlu khawatir lagi, kau tahu, kan, aku selalu punya cara dalam memecahkan setiap masalah, jadi kau tidak perlu merasa cemas lagi."
Gadis itu mulai tenang mendapat perlakuan lembut dari kekasihnya. "Yah, mungkin dia benar. Aku terlalu overthinking, sehingga mengabaikan kemampuan dia dalam memecahkan masalah," begitu pikir sang gadis sambil tersenyum menatap manik biru kekasihnya itu.
Sudah satu bulan Ai Haibara (Shiho Miyano) menjadi kekasih Conan Edogawa (Shinichi Kudo). Hatinya diliputi kebahagiaan karena sang kekasih selalu punya cara unik untuk menunjukan rasa cintanya. Seperti saat itu, satu hari setelah mereka resmi berpacaran, Conan menempelkan beberapa foto fullfacenya dengan berbagai macam ekspresi di beberapa barang Haibara, seperti di kotak pensil, di setiap buku milik Haibara, di kotak makan, bahkan di pintu loker sepatu milik Haibara. Tentu saja Haibara mendengus kesal karena itu berarti Conan telah membuka-buka barang pribadinya dan juga dia tidak tahan karena harus terus terkejut saat mendapati poto Conan ada di setiap barangnya. Conan yang melihat kekasihnya kesal, tentu saja tidak bisa menahan tawanya. Haibara jelas semakin kesal karena ulah kekasihnya itu, tapi kemudian dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa setelah Conan menjelaskan alasannya. Conan hanya ingin Haibara tahu bahwa dia selalu mengawasi Haibara walaupun dia sedang tidak berada didekat kekasihnya itu, lagipula itu juga bisa menjadi pelepas rindu (begitu, menurut Conan. Seperti biasa, terlalu percaya diri). Lain pula dengan kejadian dimana Conan memberikan sekotak dark chocolate handmade alias buatan Conan sendiri dengan bentuk wajah (yang harusnya sih Haibara, tetapi apa daya, tangan amatirnya malah membentuk wajah yang cukup abstrak dan sedikit menyeramkan) ke Haibara. Conan bilang, dia belajar dari Subaru Okiya untuk resep dark chocolatenya, sedangkan bentuknya benar-benar dia buat sendiri, mengandalkan beberapa foto Haibara yang ada diponselnya. Menurutnya, membentuk cokelat akan sama seperti membentuk tanah liat, tetapi realita memang kadang tak seindah ekspektasi. Hasilnya benar-benar jauh dari yang seharusnya, wajah cantik Haibara berubah menyeramkan di tangan Conan. Awalnya, Conan tidak berkeinginan untuk memberikan ini ke kekasihnya, tetapi dia tetap memberikannya untuk, tentu saja, menggoda Haibara. Dia berkata sambil mengeluarkan senyum jahilnya, "mungkin saat ini yang kubuat adalah versi dirimu saat menjadi penyihir, tapi lain kali akan kubuat versi dirimu yang telah menjadi peri." Haibara tentu terkejut karena bentuknya benar-benar mengerikan, tetapi dia selalu menghargai setiap pemberian kekasihnya ini, apalagi cokelat ini dibuat sendiri oleh Conan, yang notabene untuk memasak telur mata sapi saja tidak bisa. Dia masih tersenyum di kamarnya sambil menatap cokelat dari Conan itu, kemudian mencoba memakannya.
Pahit…
Pahit…
Pahit…
Astaga, apakah kekasihnya itu salah memasukan kopi alih-alih kakao ke dalam cokelatnya? Tapi Haibara memang tidak terlalu menyukai makanan manis dan dia senang Conan memahaminya.
Ah, dari semua kebahagiaan itu, Haibara masih menyimpan satu perasaan bersalah yang kadang (atau saat-saat sekarang menjadi terlalu sering) membuat dia cemas. Ya, Haibara merasa bersalah dengan Ran. Sahabat kekasihnya itu, yang dia tahu, sangat menyayangi kekasihnya dan setia menunggu Tuan Detektif itu kembali. Haibara tidak pernah mempermasalahkan perasaan Conan di masa lalu, tidak pernah juga mengungkit kenangan Conan saat masih menyukai wanita itu, untuk apa? Toh saat ini Conan telah menjadi kekasihnya. Yang Haibara permasalahkan adalah perasaan wanita itu jika mengetahui orang yang paling ditunggunya telah mengkhianatinya. Saat ini Ran telah berkuliah di salah satu universitas di Tokyo, jurusan manajemen. Dia juga masih disibukan dengan kegiatan latihan taekwondo bahkan setahun belakangan ini dia lebih sibuk karena sedang mempersiapkan diri untuk turnamen tingkat internasional. Inilah mengapa Haibara menjadi cemas, karena beberapa minggu ini Ran terlihat tidak mempedulikan Conan (yah, mungkin ini hanya kecemasan berlebihan seorang Haibara), padahal kenyataannya Ran memang sangat sibuk latihan untuk turnamen itu yang hanya tinggal satu bulan lagi, toh bukan hanya Conan, Paman Kogoro juga menjadi korban kesibukan Ran. Haibara juga cemas karena dia tidak pernah mendengar Ran menelepon atau mengirim email lagi kepada Shinichi Kudo (tentu saja Haibara menanyakan langsung ke Conan, dia tahu jika kekasihnya berbohong atau tidak, dilihat dari jawaban Conan, Haibara tahu bahwa Conan berkata jujur). Haibara jadi semakin cemas karena rasa bersalah itu menguasai dirinya, padahal mungkin saja Ran memang benar-benar sibuk.
Conan's POV
Satu bulan.
Ya, satu bulan sudah Ai Haibara menjadi kekasihku. Aku senang tapi juga masih harus beradaptasi dengan sifat overthinkingnya. Selalu menyalahkan diri sendiri, itulah dia. Terutama menyangkut Ran. Yah, aku memang belum menjelaskan kepada Ran, aku sudah mempersiapkan segala risikonya (termasuk jika Ran nanti menjauhiku atau tidak mau berteman denganku lagi), memang aku yang salah, membuat dia menunggu tetapi aku malah jatuh hati kepada gadis tsundere itu. Bukan maksudku untuk menunda-nunda, tapi Ran sendiri beberapa bulan terakhir ini sangat sibuk mempersiapkan turnamen tingkat internasional perdananya. Sosokku sebagai Conan Edogawa yang tinggal serumah dengannya saja tidak dipedulikannya, maksudku, dia sudah jarang membuat sarapan atau makan malam, bahkan jarang berada di rumah. Akhir pekan disibukan dengan latihan. Makanya aku sering sekali menumpang makan di rumah Hakase. Kekasihku itu juga sudah terbiasa memasakan makanan untukku, bahkan untuk Paman Kogoro juga, karena menurutnya lebih sehat makan masakan sendiri, daripada harus selalu membeli makanan di luar (walaupun harus kutukar juga dengan tas branded keluaran terbaru). Kembali lagi, aku yang seatap dengan Ran saja sudah jarang bertemu dengannya, apalagi Shinichi Kudo yang hanya bisa berkomunikasi lewat telepon atau email, sudah beberapa kali aku menghubungi dia, tetapi jarang sekali dia membalas email atau mengangkat teleponku. Aku juga ingin semuanya berakhir, maksudku, aku tidak ingin lebih lama lagi menyakiti hatinya dan membuat gadis tsundere-ku terus menerus cemas karena rasa bersalahnya.
"Kau tenang saja, Shiho. Biar aku yang menyelesaikan semuanya. Kau tidak perlu khawatir lagi, kau tahu, kan, aku selalu punya cara dalam memecahkan setiap masalah, jadi kau tidak perlu merasa cemas lagi," ucapku mencoba menenangkannya sambil membelai rambut pirang strawberrynya, lembut sekali.
Ya, lagi-lagi kekasihku ini dilanda kecemasan yang berlebihan karena dia tahu bahwa Ran sudah hampir 3 hari terakhir tidak pulang ke rumah, kesibukan di dojo membuat dia memutuskan untuk menginap di mess, lagipula akses untuk ke kampus lebih mudah dari sana. Tapi, Shiho-ku ini malah menganggap bahwa Ran menghindar karena merasa sedih aku tidak juga kembali, Ran merasa sedih karena keberadaanku yang tidak jelas dimana (padahal aku dekat sekali, bahkan serumah dengan Ran), Ran merasa sedih karena blablabla, terlalu banyak alasan kurang logis yang terlontar dari pemikirannya. Apakah wanita selalu seperti ini ya, meskipun dia seorang ilmuwan jenius? Sungguh berbeda sekali Ai Haibara saat pertama kali bertemu, dingin, menyebalkan, penuh rahasia. Saat ini dihadapanku adalah Ai Haibara yang (masih tetap) dingin, namun sudah mulai membuka dirinya, dan ternyata justru dia banyak memberiku kejutan dengan sifat aslinya (salah satunya ya cemas berlebihan hingga membuat dia berpikir kurang rasional).
"Iya, aku percaya padamu. Aku selalu percaya padamu, Shinichi. Maafkan aku, aku hanya…"
"Sudahlah, Shiho," aku memotong perkataannya, sambil meletakkan telunjukku di depan bibir mungilnya. "Aku tahu. Bagaimana kalau sekarang kita jalan-jalan ke taman? Sepertinya kau butuh refreshing sebentar," aku berusaha mengalihkan pikirannya.
"Sepertinya yang ku butuhkan adalah jaket Fendi keluaran terbaru juga sepasang tas dan dompet Prada yang baru saja launching 3 hari yang lalu," ucapnya sambil menggenggam telunjukku dan mengeluarkan seringai jahilnya.
"Oi! Oi! Kau mau membuatku bangkrut?" tanyaku, sweatdrop. Tuan Putri Pengantuk yang Sinis ini selalu punya cara untuk menjahiliku (YAH, SAMA AJA KALIAN BERDUA!).
"Yah, tidak ada salahnya juga berjalan-jalan di taman. Tapi aku tidak mau berlama-lama karena angin musim dingin sudah mulai datang, aku tidak mau terkena flu!"
"Tch! Dasar gadis tsundere! Aku akan memelukmu nanti agar kau tidak kedinginan!" ucapku asal.
"Awas saja kalau kau berani melakukannya di depan umum! Aku tidak akan segan-segan memberimu pil perubah hormon, kebetulan sekali aku baru selesai membuat obat yang dapat merubah hormon testosterone menjadi estrogen, mungkin kau bisa menjadi kelinci percobaanku," balasnya sambil memberikan death glare khasnya.
Aku lagi-lagi hanya bisa sweatdrop mendengar ucapannya. Selama 1 bulan ini aku hanya bisa menggenggam tangannya saat kami hanya benar-benar berdua, tentu saja hal itu jarang kami lakukan karena kesempatan untuk benar-benar berdua dengannya sangat-sangat langka. Aku juga baru menyadarinya. Entah itu Ayumi, Genta, dan Mitsuhiko, atau Hakase, bahkan Subaru Okiya selalu menjadi penghalang waktu kami untuk bisa berdua. Kebetulan saja hari ini Hakase sedang menghadiri reuni bersama teman-teman kuliahnya sehingga Hakase menitipkan gadisku ini kepadaku, karena besok masih hari sekolah, jadi Hakase tidak mengajak Shihoku untuk ikut dengannya. Aku tentu saja senang, karena akhirnya bisa memiliki waktu berdua dengannya, tetapi dia malah mengkhawatirkan hal lain. Aku juga paham kalau untuk saat ini dia belum mau memberitahu yang lain tentang hubungan kami (dan mengancamku untuk menjaga rahasia ini) karena dia ingin menjaga perasaan Ran. Hey, aku malah merasa menjalani hubungan perselingkuhan. Hahaha. Pokoknya aku harus segera menyelesaikan masalahku dengan Ran, agar gadisku itu tidak merasa cemas lagi. Agar hubungan ini tidak menjadi rahasia lagi. Agar semua orang bisa tahu bahwa aku mencintainya.
Berciuman? Tentu saja belum! Eh, maksudku bukan aku mengharapkannya (GAK MAU NGAKU?), errr… maksudku, aku… tentu saja… ingin! Yah, aku juga kan lelaki normal. Siapa yang tidak mau sih? Apalagi dia adalah Shiho Miyano. TIDAK! KALIAN TIDAK BOLEH BERPIKIR BISA MENCIUMNYA! HANYA AKU YANG BOLEH! Errr… aku sepertinya sudah gila, karena bertengkar dengan diriku sendiri.
"Shinichi?"
Uh. Suaranya merdu sekali. Aku suka saat dia memanggil namaku.
"Hey, Kudo!"
Dan aku tidak suka saat dia memanggil nama belakangku, dia masih sering melakukan itu, aku merasa masih ada jarak saat dia memanggilku seperti itu.
"SHINICHI KUDO!"
"EH?"
"Kau ini! Apa yang sedang kau pikirkan sih sampai membuatmu melamun seperti itu?" gadisku menyelidik. "Jangan-jangan…" dia mengernyitkan dahinya, mencurigaiku. "KAU BERPIKIRAN MESUM KAN? ASTAGA! KAU MENGERIKAN! AKU TIDAK MAU KE TAMAN DENGAN DETEKTIF MESUM SEPERTIMU!"
Aku yang baru menyadari maksud kecurigaannya langsung buru-buru menggelengkan kepalaku. "T-tidak, Shiho! Aku tidak berpikir seperti itu! B-barou!" mukaku memerah dibuatnya. Yah, aku memang sempat membayangkan berciuman denganmu, tapi bukankah itu wajar? Aku tidak membayangkan lebih.
Sepertinya dia masih tidak percaya dengan pembelaanku. Susah sekali punya kekasih yang bisa membaca isi pikirmu, kau tidak bisa menyembunyikan apapun darinya.
"Hufffttt…." Dia menghela nafas panjang. "Ayo, jangan lupa pakai jaketmu, aku tidak ingin kau terkena flu dan merepotkanku nantinya," ucapnya sambil menggenggam tanganku.
Aku tahu, Ai Haibara atau Shiho Miyano selalu punya caranya sendiri untuk memberikan kehangatannya kepadaku. Dia bersikap seperti tak peduli, tetapi, aku selalu tahu kalau dia peduli. Benar-benar seperti dark chocolate kan? Pahit di awal tetapi manis di akhir. Dasar tsundere!
End of Conan's POV.
Normal POV.
Angin musim dingin berhembus perlahan seolah tidak ingin mengganggu kemesraan (atau ketidakmesraan?) dua insan yang saling bertautan tangan menyusuri jalanan Beika untuk menuju taman kota. Di bawah sinar lampu jalan itu, kedua insan yang mungkin secara fisik terlihat seperti anak berusia 10 tahun, namun kenyataannya mereka berusia 20 tahunan ini saling melontarkan ejekan dan cemoohan, ah sungguh tidak romantis bagi orang lain, tetapi begitulah mereka, begitulah romantis versi mereka.
Sesampainya di taman, mereka duduk di salah satu bangku taman yang menghadap ke arah sebuah danau yang cukup indah karena memantulkan cahaya lampu Kota Beika termasuk cahaya bulan. Suasana taman tidak terlalu ramai, namun tidak terlalu sepi. Masih terdapat beberapa orang yang sedang duduk-duduk santai sekadar menikmati pemandangan ataupun mendengarkan musik bahkan ada yang sedang menikmati beberapa cemilan sambil bercengkrama dengan teman-temannya.
"Aku tidak tahu ternyata Beika bisa seindah ini," ucap Haibara takjub.
"Makanya kau harus lebih sering keluar rumah, jangan berkutat di laboratorium terus!" ucap Conan.
"Tch! Aku ini kan ilmuwan, mana mungkin aku bisa berdiam diri tanpa membuat penelitian! Lagipula aku masih harus mencari penawar racun itu!" balas Haibara kesal.
"Eh? Kau masih membuat penawar itu?" tanya Conan terkejut.
"Tentu saja, bodoh! Apa kau tidak ingin kembali menjadi Shinichi Kudo?"
"Eh? Asal bersamamu, aku rasa Conan ataupun Shinichi tak ada bedanya."
Haibara memerah mukanya mendengar jawaban Conan.
"B-baka! Jawaban macam apa itu. Tentu saja berbeda," ucap Haibara, malu.
"Kau tidak akan meninggalkanku kan, Shiho?" tanya Conan serius.
"Tergantung."
"Tch! Kau ini memang benar-benar mampu merusak suasana!"
"AAAAAAARRRGGGGGGGHHHHHHHHHHH…" terdengar suara teriakan yang sepertinya tidak jauh dari taman tempa mereka berada.
"Lihat siapa yang berbicara? Dasar murder magnet!" Haibara melepaskan genggaman tangannya dari Conan, kemudian mereka beranjak dari tempat duduknya.
"Ya, maaf saja kalau aku selalu seperti itu!" ucap Conan.
Mereka berdua menghampiri lokasi dimana teriakan itu terdengar, ternyata lokasinya berada di sebuah parkiran apartemen. Seorang wanita muda berteriak ketakutan karena melihat sesosok pria yang terjatuh dari atas dan langsung menghantam aspal tidak jauh dari wanita tersebut, darah mengucur deras disekitar pria tersebut. Sepertinya pria itu sudah tidak bernyawa.
"Aku akan menelepon ambulans dan polisi," ucap Haibara seraya mengeluarkan ponselnya dan memencet angka pada layar ponselnya tersebut.
"Hai. Aku akan menanyakan ke bagian informasi," ucap Conan setelah selesai mengambil beberapa foto TKP, kemudian dia berjalan menuju ke dalam apartemen.
Tidak beberapa lama kemudian, polisi dan ambulans datang. Beberapa petugas kepolisian langsung melakukan olah TKP. Mereka juga menanyai beberapa orang saksi yang berada di sekitar TKP. Pada awalnya Inspektur Megure menduga ini adalah kasus bunuh diri, namun tiba-tiba Conan muncul dan mengatakan bahwa ini adalah pembunuhan berencana setelah Conan menyelidiki TKP dan kamar korban.
Setelah mengumpulkan beberapa keterangan dari beberapa saksi dan melakukan olah TKP, Conan menyimpulkan bahwa tersangka adalah 3 orang terakhir yang berkomunikasi dengan korban. Inspektur Megure lalu mengumpulkan ketiga orang yang salah satunya diduga merupakan tersangka pembunuhan ini. Conan dibantu Haibara mencari beberapa bukti yang dapat menguatkan analisisnya.
"Mau kemana kau?" tanya Conan ketika melihat gadisnya menuju ke lift.
"Ke bawah, aku sudah cukup membantumu kan? Aku ingin membeli minuman hangat. Jika sudah selesai, aku ada di taman tempat kita duduk tadi," jawab Haibara sambil menguap.
"Baiklah, aku tidak akan lama. Jangan pergi kemanapun sampai aku kembali!"
Haibara kemudian memasuki lift. Setelah keluar dari apartemen (tentu saja atas ijin Inspektur Megure), Haibara membeli 2 cup kopi hitam hangat, untuknya dan untuk Conan.
"Semoga kau segera menyelesaikannya, kalau tidak, kopi ini akan berubah menjadi es" batin Haibara. Dia kemudian kembali ke taman untuk menikmati sinar bulan sendirian. Tetapi bukanlah pemandangan indah yang ada dihadapannya sekarang, justru sebuah pemandangan yang membuat Haibara bagai tersambar petir di siang bolong (walaupun ini malam hari), membuat dia mematung bagai es saking terkejutnya, Haibara sampai menjatuhkan kedua cup kopi yang dibawanya.
"Eh…" terdengar suara terkejut dari sepasang pria dan wanita yang sontak menengok ke arah suara terjatuhnya cup kopi yang Haibara bawa.
Sepi.
Tidak ada siapapun.
Hanya ada 2 cup kopi yang tergeletak di paving block dan menumpahkan isi di dalamnya.
Mereka tidak berpikir terlalu jauh, sang wanita menyandarkan kepalanya di bahu kanan sang pria, sang pria mengalungkan lengan kanannya ke pinggang sang wanita, merapatkan jarak di antara mereka.
"Sayang, sepertinya cuaca semakin dingin, lagipula aku lapar, bagaimana kalau kita ke kedai ramen langgananku? Lokasinya tidak terlalu jauh dari sini," ucap wanita itu.
"Sebentar lagi ya, please. Aku hanya ingin menikmati suasana ini sebentar, lagipula aku bisa memberimu kehangatan jika kau tidak keberatan" goda sang pria, sambil tersenyum jahil, membuat wanita tersebut mengangkat kepalanya diiringi jitakan ke kepala sang pria.
"Uh, pervert!" ucap sang wanita lagi, diiringi tawa mereka berdua.
"Aku mencintaimu, Ran."
"Aku juga mencintaimu, Eisuke."
Dan jarak diantara mereka semakin menipis, wajah mereka saling mendekat, Ran sudah memejamkan matanya, Eisuke tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Mereka akhirnya berciuman. Tidak lama, bukan pula ciuman panas yang bisa membangkitkan nafsu, tidak, bukan itu. Ini hanya ciuman biasa antar kekasih, ciuman yang mungkin dirasa manis sekaligus romantis bagi pasangan yang sedang dimabuk cinta. Ya, Ran dan Eisuke, mereka saat ini saling bertukar senyum, senyum kebahagiaan, senyum penuh cinta, ya mereka berdua memang sedang dimabuk cinta.
Seandainya mereka tahu, bahwa sepasang manik pirus sedang mengawasi mereka dengan sangat tidak elegannya karena dia bersembunyi di balik semak di belakang mereka. Tidak lagi mempedulikan image 'Ratu Es' karena pemandangan di depannya membuat dia membeku seperti es. Untung saja semak ini menyelamatkan dia dari kemungkinan dia ketahuan mencuri dengar dan memata-matai sepasang sejoli di depannya itu. Dia masih tidak mempercayai penglihatan dan pendengarannya saat ini. Dia masih berseteru dengan diri sendiri, sebagian dirinya menganggap ini sebuah halusinasi, namun sebagian dirinya yang lain mencoba menyadarkan dia bahwa ini adalah nyata dan bukan fatamorgana.
"Tidak mungkin, Mouri-San dan Hondou-San? S-sejak kapan?" batin Haibara berkecamuk.
CHAPTER 5 END.
Aku minta maaf yaa kalau pairing di akhir cerita ini akan membuat kalian tidak setuju atau tidak menyukainya, tetapi sungguh, aku masih teringat pengakuannya dulu di depan Shinichi, kenapa tidak aku buat saja ceritanya? Hehehe.
Terima kasih yang sudah membaca. Aku sangat menghargai kalian yang mau membaca cerita ecek-ecek seperti ini. Terima kasih banyaaaak…
