HALOOOO SEMUANYAAAAA! AKU KEMBALIIIIIIIIIIIIII!

MAAFKAN KE-HIATUS-ANKU YANG TERLALU LAMA! (T.T) PADAHAL GAK SUKA DI PHP, EH INI MALAH PHP-IN ORANG :(((((((((((((

MAAF BANGET! BUTUH 2 TAHUN LEBIH ASTAGA!

SEMOGA MASIH ADA YANG MAU BACA TULISANKU. SOALNYA AKU LIHAT FF SHINSHI COAI MULAI SEPI NIH :(((((((

BTW, SUDAH LAMA GAK MENULIS JADI MUNGKIN ADA PERUBAHAN GAYA TULISAN KE ARAH YANG LEBIH BURUK HAHAHA MOHON MAAF SEKALI LAGI.

DISCLAIMER: Aoyama Gosho, pemilik sah hak cipta Detective Conan. Daku hanya reader kentang karya beliau dari kelas 3 SD yang sangat menyukai chemistry ConanXAi atau ShinichiXShiho. Maaf aku terjangkit Second Lead Syndrome!

WARNING: OOC, Typo, Plot lebay hahahahaha


HEART

CHAPTER 6

KEBOHONGAN SEMU


Ran's POV

Sudah 3 tahun ya, Shinichi.
Aku sampai lupa kapan terakhir kali aku bertemu denganmu.
Saat ini aku sudah menjadi mahasiswi, bukan lagi anak SMA.
Saat ini aku rasa aku tidak akan menunggumu lagi.
Saat ini aku rasa aku sudah tidak merindukanmu lagi.
Saat ini hatiku sudah bukan milikmu lagi.
Maafkan aku, Shinichi.
Saat ini aku sudah melupakanmu.
Kita tetap sahabat kan?

Drrrttt... Drrrttt... Drrrttt...

"Moshi-moshi. Selamat pagi, sayang. Bukankah disana masih jam 4 pagi? Ada apa kau meneloponku?"
"Tidak, kau tidak menggangguku, aku hanya heran, ada apa kau meneleponku di waktu sepagi itu disana?"
"Dasar gombal!"
"Iya, aku juga merindukanmu, sayang. Tunggu dulu, jangan bilang kau belum tidur sedari malam?"
"Kau ini! Iya aku tahu kalau kau sedang menyelesaikan thesismu, tapi kau juga harus beristirahat, aku tidak ingin kau malah sakit nanti."
"Aku kan mengkhawatirkanmu, aku tidak ingin kekasihku yang berada jauh disisiku terbaring sakit, sedangkan aku tidak bisa merawatmu! Kau ini menyebalkan sekali!"
"Iya, aku tahu. Aku juga mencintaimu, Eisuke. Sebaiknya kau istirahat dulu, nanti kita lanjutkan lagi, kalau kau tidak mau menurutiku, aku tidak akan mau mengangkat telepon darimu lagi!"
"Hehehe. Jaa nee..."

Eisuke? Iya, dia Eisuke Hondou, lelaki yang pernah menjadi murid pindahan di SMA Teitan dan pernah sekelas denganku sebelum akhirnya dia memutuskan untuk pindah ke Amerika. Awalnya aku tidak menanggapi perasaannya padaku, karena aku masih berharap pada seseorang yang bahkan aku pun tidak tahu keberadaannya, hanya bermodalkan keyakinan bahwa perasaanku terhadap orang ini adalah rasa cinta karena kami telah mengenal sejak kecil, hingga aku mengabaikan perasaan lelaki lain yang menyukaiku, termasuk Eisuke.

Aku masih menunggunya, walau aku pun tidak tahu kapan pastinya dia akan kembali atau bahkan mungkin dia tidak pernah kembali lagi?

1 bulan, 2 bulan, 6 bulan, 1 tahun …

Waktu terus berjalan dan aku masih menunggunya, bahkan Sonoko sudah berulangkali memarahiku karena menurutnya aku terlalu polos atau lebih tepatnya bodoh, menunggu orang yang lebih mementingkan kasus daripada menemuiku. Apakah aku terlalu egois jika aku ingin dia selalu ada disisiku?

Awalnya aku pun terkejut dengan pengakuan cinta Eisuke, aku tidak menyangka pria ceroboh yang sering terjatuh dengan wajah konyolnya itu mendadak berubah menjadi orang yang sangat serius ketika dia mengatakan dia menyukaiku. Saat itu hatiku masih diisi oleh perasaan cintaku pada Shinichi, sehingga aku hanya menganggap Eisuke sebagai teman biasa. Aku pikir dia akan menyerah karena dia tahu seberapa cintanya aku terhadap Shinichi, tetapi ternyata usahanya sangat gigih bahkan melebihi usaha Shinichi selama ini. Perlahan dinding pertahananku mulai runtuh. Aku masih menyangkal itu, tapi setelah 1.5 tahun ternyata cinta itu tumbuh. Mungkin kalian menganggapku "gampangan" karena mudah sekali luluh padahal aku baru mengenalnya tidak lebih lama dibandingkan aku mengenal Shinichi, tapi apakah aku tidak berhak bahagia?

Memang terdengar sangat klise, tapi aku tetap seorang remaja perempuan yang selalu menangis karena merindukan seseorang namun kemudian datang orang lain yang terus berusaha untuk membahagiakanku. Aku manusia biasa. Aku bukan Malaikat. Aku juga ingin dicintai dan bahagia dengannya.

Shinichi, selamanya kamu akan selalu ada di hatiku, namun kali ini tempatmu hanya sebagai sahabat masa kecilku, hanya sebatas itu.

Terima kasih dan maaf, Shinichi.

Aku mencintai Eisuke.

END OF RAN's POV.


Normal POV.

"Sayang, aku sudah ada di depan depan Mini Market M, kau dimana?" Seorang wanita berambut hitam panjang terlihat antusias menelepon seseorang.

"Baiklah, kau ingin dibelikan apa? Kebetulan aku ingin sekalian membeli camilan," tanya wanita itu lagi.

"Baiklah. Segeralah datang! Aku merindukanmu! Hahaha," godanya lalu menutup teleponnya dan masuk ke dalam mini market.

10 menit kemudian seorang pemuda dengan terengah-engah memasuki mini market, membuat kaget kasir dan pengunjung lain karena pemuda ini membuka pintu dengan suara yang cukup keras.

"Hahh… M-maaf aku t-tidak.. hah… sengaja membuka pintu… hah… dengan keras," ucapnya terengah-engah sambil membungkukan badan 90 derajat sebagai permintaan maaf ke kasir dan pengunjung lain.

"Eisuke!" panggil seorang wanita dari dalam mini market, setengah berteriak, melambaikan tangannya. Ekspresinya menunjukkan kebahagiaan.

"Ran!" Eisuke menghampiri Ran dan langsung memeluknya. Melepas kerinduan setelah 4 bulan 18 hari tidak bertemu. Hahaha dia selalu menghitungnya sedetail itu.

"Kenapa kau terengah-engah begitu? Jangan bilang kau berlari dari hotel untuk kesini?"

"Apapun ku lakukan untuk menemuimu! Meskipun harus berlari dari Amerika ke Jepang!" godanya.

"Astaga! Aku masih belum terbiasa mendengar gombalan mengerikanmu itu! Hahaha," Ran tertawa mendengar perkataan pacarnya itu.

"Aku sangat merindukanmu! Terima kasih dan maaf karena harus menungguku selama ini. Aku sangat sangat merindukanmu!" ucap Eisuka antusias, kembali memeluk kekasihnya itu.

"Aku juga merindukanmu, tapi sebaiknya kita membayar ini sebelum orang-orang memarahi kita karena mengganggu kenyamanan mereka," ucap Ran dengan muka memerah karena menyadari orang-orang memperhatikan mereka.

Eisuke tersenyum bahagia, tidak peduli dengan orang-orang disana, ia menggenggam tangan kekasihnya itu dan menuju kasir untuk membayar belanjaan mereka.

Dua sejoli ini berjalan-jalan menyusuri Kota Beika, suasana sore itu cukup ramai karena akhir pekan banyak orang-orang yang menghabiskan waktu mereka untuk melepas penat dengan berjalan-jalan di Pusat Kota.

Ran dan Eisuke menghabiskan waktu mereka dengan menceritakan kesehariannya masing-masing walaupun mereka juga sering membicarakan itu lewat email, telepon atau video call, tapi tetap saja tidak se-spesial saat mereka menceritakannya secara langsung, face to face.

Tidak terasa sudah malam hari ketika mereka memilih untuk menikmati pemandangan indah danau di Taman Beika, duduk berdua, bersentuhan secara langsung, tidak ada lagi jarak yang memisahkan.

"BRUKKK…"

"Eh…"

Mereka berdua terkejut mendengar sesuatu jatuh dari arah belakang mereka, tapi mereka tidak melihat siapapun disana, hanya ada 2 cup kopi yang terjatuh dan tumpah. Mungkin terjatuh karena angin, pikir mereka.

Mereka kembali menatap danau yang memantulkan cahaya lampu-lampu kota yang sangat indah. Ran menyandarkan kepalanya di bahu Eisuke yang disambut Eisuke dengan mengalungkan lengannya ke pinggang Ran. Merapatkan jarak mereka.

"Sayang, sepertinya cuaca semakin dingin, lagipula aku lapar, bagaimana kalau kita ke kedai ramen langggananku? Lokasinya tidak terlalu jauh dari sini," ucap Ran kepada Eisuke.

"Sebentar lagi ya, please. Aku hanya ingin menikmati suasana ini sebentar, lagipula aku bias memberimu kehangatan jika kau tidak keberatan," goda Eisuke sambil tersenyum jahil.

"Uh, pervert!"

Mereka berdua tertawa.

"Aku mencintaimu, Ran."

"Aku juga mencintaimu, Eisuke."

Mereka berciuman dengan latar pantulan lampu-lampu kota yang indah. Bukan ciuman panas pembangkit nafsu, hanya ciuman biasa yang mungkin terasa manis dan romantis menurut mereka yang sedang dimabuk cinta. Keduanya bertukar senyum kebahgiaan dan penuh cinta. Romantis sekali.


AI's POV.

HAH! APA YANG AKU LIHAT INI? MOURI-SAN DENGAN HONDOU-SAN?

Tidak mungkin Mouri-san dan Hondou-san? S-sejak kapan?

Kalau memang ini benar, bukankah harusnya aku bahagia? Aku bukan perebut kekasih orang! T-tapi kenapa aku harus bersembunyi seperti ini? Kenapa justru aku tidak ingin Shinichi melihat ini? APA YANG AKU PIKIRKAN SEBENARNYA?

Bersembunyi dan melihat secara diam-diam orang lain sedang bermesraan sungguh bukan seperti diriku, tapi kenapa justru aku sekarang melakukan itu?

HAH? MEREKA BERCIUMAN!

DRRRTTTT… DRRRTTTTT… DRRRRTTTT…

GODDAMNIT! Aku terkejut bukan main ketika ponselku bergetar. Hampir saja membuatku menjatuhkannya! Untung tanganku masih bisa menangkapnya. Mereka tidak menyadarinya kan?

Shinichi! Apa kasusnya sudah selesai? Aku tidak mungkin menjawab panggilannya sekarang. Bagaimana jika mereka mendengar suaraku?

DRRRTTTT… DRRRTTTTT… DRRRRTTTT…

Ah, maafkan aku, Shinichi. Aku tidak bisa menjawab panggilanmu saat ini.

Jangan telfon aku dulu, hp ku sepertinya error.

Secepat kilat aku mengetik pesan itu kepadanya.

HEI, KAPAN AKU BISA KELUAR DARI PERSEMBUNYIAN INI?

DRRRRTTTT…

Kasusnya sudah selesai, kau masih ada di tempat kita tadi kan? Tunggu aku! Aku kesana sekarang.

Tidak mungkin aku membiarkan Shinichi melihat ini! Aku tidak tahu alasanku menyembunyikan ini, tapi Shinichi tidak boleh melihat ini!

TIDAK! Aku ada di belaka-

HAH? KENAPA DI SAAT SEPERTI INI PONSELKU MATI? TAK BISAKAH KALIAN MEMBIARKANKU MENENANGKAN DIRI DULU SEJENAK?

Bagaimana caranya aku keluar dari persembunyian ini? Mereka berdua pasti akan sadar ada sesosok manusia muncul dari semak-semak di belakang mereka.

"Sayang, aku tidak dapat menahannya lagi. Aku lapar sekali!"

Aku mendengar wanita itu merengek pada errr… kekasihnya (mungkin). Hei, segeralah kalian pergi, apa kau tega membiarkan wanita itu kelaparan?

"Hahaha… Baiklah! Ayo kita makan ramen! Maaf yaa, membuatmu kelaparan. Ayo, Sayang."

Aku melihat punggung mereka berdua semakin menjauh dari tempat persembunyianku, HAH… Syukurlah aku tidak ketahuan dan Shinichi belum melihat ini.

"Shiho!" Aku melihat Shinichi berlari menghampiriku.

"Shiho, kenapa kau duduk disini? Astaga! Wajahmu sangat merah! Hei, ada apa ini? Kenapa ada cangkir kopi yang tumpah? Kau tidak apa-apa? Apa yang terjadi?" Shinichi terlihat sedikit panik melihat kondisiku. Aku juga tidak tahu kenapa aku bertingkah seperti stalker sekarang ini, bersembunyi untuk mengawasi orang yang sedang berpacaran! Memalukan!

"Aku tidak apa-apa," jawabku sekenanya, berusaha menenangkan diriku sendiri agar tidak membuat Tuan Detektif di depanku ini curiga, walaupun aku yakin dia tidak akan berhenti bertanya.

"Tidak mungkin! J-jangan bilang kau habis melihat anggota organisasi disini?" tanyanya lagi sambil mengawasi sekitar dengan waspada.

"Tidak, aku tidak apa-apa dan aku tidak melihat orang dari organisasi itu. Kau juga tau kan, mereka selalu bisa merasakan kehadiran seseorang walaupun orang itu bersembunyi. Jadi kalaupun aku melihat mereka, mungkin aku sudah tidak ada lagi disini, Kudo-Kun," jawabku sambil berdiri, perasaanku sudah mulai sedikit lebih tenang, begitu pikirku awalnya, tapi tubuhku bereaksi sebaliknya. Tubuhku terhuyung, tidak mampu menjaga keseimbangan. Entah kenapa tiba-tiba lututku terasa lemas.

"EH… SHIHO!" Shinichi dengan sigap menangkapku dalam pelukannya. "Kau ini kenapa? Bagaimana bisa kau berkata tidak apa-apa tapi malah hampir terjatuh begini?" tanyanya panik sambil memapahku ke kursi taman tempat Mouri dan Eisuke duduk tadi.

"Aku tidak apa-apa, Kudo-Kun. Berhentilah khawatir secara berlebihan seperti ini. Aku hanya lelah, sepertinya aku makin menua. Aku duduk disana tadi karena kakiku sakit setelah lumayan lama dalam posisi jongkok. Aku sedang mencari antingku yang hilang," aku berkelit sambil memperlihatkan satu anting yang ku genggam kepadanya. Untung saja tadi saat Shinichi memapahku, aku menemukan alasan yang bagus dan langsung melepas satu antingku.

"Tapi kenapa mukamu sampai merah begitu? Dan bukankah kau tadi akan memberikanku kopi, lalu kenapa kau malah menumpahkannya, bukan hanya satu, tapi dua cangkir kopi sekaligus?" tanyanya lagi, masih tidak puas dengan jawabanku sebelumnya. Memang sulit sekali mengelabui Tuan Detektif ini.

Hufff...

Aku menarik napas perlahan, menenangkan diri agar lelaki di depanku ini -setidaknya- mempercayaiku untuk sekarang.

"Aku kedinginan karena angin tiba-tiba berhembus kencang, menumpahkan 2 cangkir kopi yang kuletakkan disana. Kau tau kan tubuhku sensitif sekali terhadap udara dingin? Mencari barang sekecil itu di malam hari dengan udara yang cukup dingin. Ayo, kita pulang saja. Urusanmu sudah selesai kan, Shinichi?" aku berusaha mengalihkan pembicaraan dengan mengajaknya pulang.

"Kau yakin kakimu sudah lebih kuat? Atau perlu aku gendong?" aku tau dia masih tidak percaya dengan kata-kataku, tapi aku juga tau, dia tidak akan tega membiarkanku seperti ini, jadi saat ini dia menyerah untuk bertanya lebih lanjut kepadaku.

"Kau pikir aku bayi yang tidak bisa berjalan sendiri, huh?" aku mencoba berdiri perlahan berharap kakiku bisa bekerja sama kali ini dan BERHASIL!

"Hahaha… Baiklah, Nenek Shiho. Kau memang bukan bayi, tapi kau seorang wanita lansia yang sekarang berusia 87 tahun!" ucap Shinichi sambil menggenggam tanganku dengan senyum jahil mengembang di wajahnya.

Maafkan aku, Shin.

CHAPTER 6 END