DISCLAIMER: Aoyama Gosho, pemilik sah hak cipta Detective Conan. Daku hanya reader kentang karya beliau dari kelas 3 SD yang sangat menyukai chemistry ConanXAi atau ShinichiXShiho. Maaf aku terjangkit Second Lead Syndrome!
WARNING: OOC, Typo, Plot lebay, maksa, dan ngebosenin hahahahaha.
Btw, chapter ini agak panjang dari biasanya, bonuslah karena lama gak upload :D
HEART
CHAPTER 10
I'LL BE THERE
Conan's POV
Saat ini sudah jam setengah delapan malam, aku masih punya waktu tiga puluh menit sebelum menelepon Ran. Aku sedang menonton TV sendirian di ruang tamu rumah Hakase setelah kami makan malam bertiga tadi, Hakase sudah pamit untuk istirahat karena masih lelah setelah menghadiri reuni dengan teman-temannya, dan Shiho? Sepertinya dia sedang mandi.
Sejujurnya aku merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan hatiku entah apa dan perasaan gugup karena akan berterus terang pada Ran dan mengakhiri kisah cintaku dengannya, aku memang tidak pernah menjadi kekasihnya tapi bagaimanapun aku pernah menyatakan perasaanku padanya hampir empat tahun yang lalu dan aku harus menyelesaikan semuanya sekarang, agar Shiho tidak lagi merasa terbebani dengan perasaan Ran saat menjalani hubungan denganku dan juga aku merasa punya hutang jika masalah ini tidak ku selesaikan.
Aku gugup bukan karena aku masih tidak bisa melepas Ran, bagaimana bisa aku setega itu pada Shiho ku? Aku gugup karena setelah ini aku bingung menghadapi dia dalam sosok Conan Edogawa, walaupun Ran tidak mengetahuinya, tetapi apakah aku bisa bersikap seperti biasa di depannya nanti? Aku sadar kalau aku sudah menyakitinya dan sungguh, aku mungkin lelaki paling brengsek di dunia. Setelah membuatnya menunggu, justru aku akan mencampakkannya karena wanita lain. Maka dari itu, aku bingung harus bersikap bagaimana di depan wanita baik hati itu?
Yah, secara kasar mungkin aku memang mencampakkan Ran, tapi setelah kusadari mungkin aku dan Ran memang tidak bisa bersama, kalau pun dipaksakan sepertinya kami pun tetap akan berpisah. Kenapa? Duniaku dan Ran berbeda. Aku terbiasa membicarakan kasus, berkutat dengan mayat, bahkan aku bisa terlibat dengan organisasi misterius yang bisa dengan mudahnya membunuh orang-orang tanpa ampun. Ran tidak bisa menghadapi itu. Dia kuat secara fisik, tapi bagaimana dengan mentalnya jika harus dihadapkan dengan hal itu setiap hari?
Aku bukan ingin membahayakan Shiho ku, aku pasti akan melindunginya! Setidaknya dia sudah terbiasa menghadapi kehidupan seperti diriku. Kami memiliki dunia kami sendiri. Aku butuh seseorang sepertinya, ah tidak, jika bukan Shiho sepertinya aku tidak akan mau. Aku butuh Shiho. Jika bukan Shiho, mungkin aku tidak akan jatuh cinta lagi. Aku mencintai Shiho. Terima kasih kepada ibuku yang sudah membantuku menyadari perasaanku.
"Apa kau sebahagia itu akan menelepon mantan kekasihmu? Mengerikan melihatmu tersenyum sendirian seperti itu!" Suara Shiho membuyarkan lamunanku, dia baru saja selesai mandi dan sudah memakai piyama dengan rambut tertutup handuk yang digulung di atas kepalanya, aroma shampoo dan sabun strawberry mengudara di dekatnya. Ah, sungguh aku ingin memeluknya karena dia harum sekali!
Shiho lalu duduk disebelahku, aku lalu menyandarkan kepalaku di bahunya.
"Ugh, kau bau, Shin!" ucapnya sambil menghentakkan bahunya agar aku menyingkir.
Aku tegakkan bahuku, tidak lagi bersandar kepadanya dan menatapnya sebal, gadis ini benar-benar hobi sekali merusak suasana romantis! Lihat saja dia malah tertawa melihatku cemberut seperti ini.
"Jangan dekati aku jika kau belum mandi! Badanku jadi ikut bau lagi nanti!" ucapnya lagi dan setelah itu dia tertawa lagi.
Kau sangat cantik saat tertawa seperti itu, Shiho!
Chuuu…
Aku mengecup bibirnya. Sungguh aku tidak bisa menahannya, dia cantik sekali! –sekali lagi kuperingatkan, jangan pernah kalian membayangkan untuk bisa menciumnya meskipun Shiho ku ini benar-benar cantik! Dia milikku!-
Shiho tentu saja terkejut dengan "serangan tiba-tiba" ku ini. Hahaha… Dia membelalakkan matanya dan wajahnya merah sekali.
"P-pervert!" ucapnya menatapku tajam tapi semburat merah itu masih bertengger di pipinya.
"Biar saja! Salahmu sendiri, kenapa kau begitu cantik? Aku kan jadi tidak bisa menahan diriku!"
"Tidak usah gombal, tidak akan mempan kepadaku!"
Lihat siapa yang berbicara seperti itu dengan wajah semerah tomat?
"Lagipula sudah hampir jam delapan, apa kau tidak jadi meneleponnya?" tanya Shiho yang sepertinya sedang mengalihkan topik pembicaraan.
Kulihat jam di tanganku, kurang sepuluh menit lagi sebelum jam delapan. Rasanya enggan sekali meninggalkan Shiho ku sebentar untuk menelepon Ran, aku masih ingin memeluknya.
"Shiho," aku bersandar lagi di bahunya. "Aku tidak bau!"
"Astaga, Shin!" Shiho tertawa mendengar kata-kataku barusan.
Sial! Kalau dia tertawa lagi bagaimana bisa aku menahan diri!
Shiho menyandarkan kepalanya di atas kepalaku dan membelai pipiku dengan lembut, aku memejamkan mataku karena rasa nyaman yang kudapat darinya.
"Sepertinya kau harus bersiap, Shin."
"Sebentar lagi, Shiho. Sebentar lagi. Aku juga tidak harus meneleponnya tepat jam delapan kan?" aku masih tidak rela terpisah darinya.
"Sejak kapan kau jadi tidak menghargai waktu seperti ini?" tanyanya.
"Sejak aku mengenalmu sepertinya, entahlah. Bagaimana mungkin aku mau melepas rasa nyaman ini?" jawabku malas-malasan.
Shiho mendorong tubuhku agar aku duduk tegak, aku ogah-ogahan menurutinya. Dia lalu memegang kedua pipiku dan mengarahkannya untuk menatapnya, aku melihatnya dengan wajah cemberutku, tidak suka, aku masih ingin bersandar padanya.
"Kalau kau terus menundanya, kapan kau akan menyelesaikan ini semua, Shin?"
Shiho menatapku lekat. Aku tahu, aku tidak seharusnya menunda-nunda lagi, tapi…
Chuuu…
Shiho mendekatkan wajahnya dan mengecup bibirku. Setelahnya dia tidak beranjak menjauh dan hidung kami menempel, dengan rona merah di pipinya –dan di pipiku juga- dia tersenyum manis dan berkata, "Kau harus menyelesaikannya, Shinichi. Kalau kau butuh aku, aku akan selalu ada untukmu. Jangan khawatir!"
Lalu ia bangkit dan pergi ke kamarnya, setelah sebelumnya mengacak-acak rambutku –dan juga hatiku-
DAMN YOU, SHIHO! Baiklah, aku harus menyelesaikannya! Jangan ditunda-tunda lagi, Shinichi Kudo!
Aku langsung mematikan TV dan bergegas ke kamar belakang tempatku menginap. Oke, jam delapan lewat dua menit. 'Hufffffff….' Aku menarik napasku untuk menghilangkan rasa gugupku dan langsung kutekan kontak Ran di ponselku.
.
.
.
"Moshi-moshi, Ran!"
End of Conan's POV.
Ai's POV
Aku begitu gugup setelah masuk ke kamarku, sudah hampir tiga puluh menit dan sudah berapa kali aku mondar-mandir tidak jelas di kamarku sendiri. Menanti penyelesaian masalah mereka berdua. Sudah coba kualihkan kecemasanku dengan membaca majalah fashion atau mencoba menggabungkan beberapa rumus senyawa kimia untuk penawar racun ini, tetapi semuanya sia-sia karena pikiranku hanya tertuju padanya.
Kenapa lama sekali? Bagaimana jika Shinichi saat ini sedang menangis? Menangis? Hah, sejak kapan dia jadi cengeng begitu? Sepertinya tidak mungkin. Atau jangan-jangan dia sedang mengamuk di kamarnya? Ugh, Shiho! Hentikan pikiran konyolmu itu!
Aku melihat jam di laptopku. Jam delapan lewat tiga puluh delapan menit dan dia belum mengabariku!
AAARRRRRRGGGGHHHH! TIDAK BISA SEPERTI INI!
Aku menjambak rambutku karena hampir frustasi menunggu kabar darinya.
Aku bersiap keluar kamar untuk menerobos kamarnya dan menanyakan kabarnya, tapi saat sudah memegang kenop pintu kamarku, aku bergeming. Tidak mungkin aku melakukan itu!
KENDALIKAN DIRIMU, SHIHO!
Tiba-tiba…
Tok… Tok… Tok…
"Shiho, kau sudah tidur?"
Suara ini! Akhirnya!
Aku berdehem dan mengatur suaraku. "Belum, Shin."
"Shiho, aku harus ke tempat Paman segera."
Aku langsung membuka pintu karena terkejut, "eh, ada apa?"
End of Ai's POV.
Conan's POV.
"Moshi-moshi, Ran!"
"Moshi-moshi, Ran Mouri disini. Saat ini aku sedang tidak bisa menjawab telepon. Mohon tinggalkan pesan untukku ya. Terima kasih."
Eh, mailbox? Kemana dia?
Aku mencoba menghubunginya lagi, tapi tetap saja tidak diangkat dan selalu terhubung ke mailbox nya. Apakah Ran lupa kalau aku akan meneleponnya?
Aku melihat jam di layar ponselku sudah menunjukkan angka delapan lewat dua belas menit. Sekali lagi kucoba untuk menghubunginya tetapi tetap saja dia tidak mengangkatnya.
Aneh sekali, Ran biasanya tidak pernah ingkar janji dan kenapa daritadi perasaanku tidak enak begini?
Sudahlah! Lebih baik aku mandi dulu, sepertinya aku butuh penyegaran. Siapa tahu setelah ini dia mengangkat telepon dariku.
Aku kembali melihat jam di layar ponselku, sudah jam delapan lebih dua puluh tujuh menit. Sambil mengeringkan rambut dengan handuk, aku kembali menghubungi Ran, tapi tetap saja dia tidak mengangkat teleponku.
Ini benar-benar aneh, tidak seperti biasanya. Sesibuk itukah dia? Lagipula perasaan ku terus merasa tidak enak, kupikir setelah mandi aku bisa lebih tenang, tapi tetap saja perasaan tidak menyenangkan ini terus hinggap.
Akhirnya aku mencoba menghubungi Paman Kogoro dengan ponsel Conan. Sekali, dua kali, tiga kali. Tidak ada jawaban dari Paman Kogoro. Ran dan Paman sama-sama tidak dapat kuhubungi. Aneh! Aku harus ke tempat Paman segera!
Tok… Tok… Tok…
"Shiho, kau sudah tidur?" tanyaku setelah mengetuk pintu kamarnya, aku harus memberitahunya terlebih dahulu.
"Belum, Shin," jawabnya dari dalam kamar.
"Shiho, aku harus ke tempat Paman segera," ucapku lagi.
Dia lalu membuka pintu kamarnya. "Eh, ada apa?"
"Aku tidak tahu. Ran tidak menjawab teleponku dan Paman juga sama. Aku merasakan firasat buruk tentang ini," jawabku dengan ekspresi cemas yang tidak bisa kututupi lagi.
"Aku ikut!" ucap Shiho sambil mengambil jaket di dalam kamarnya.
"Tidak usah, kau disini saja. Biar aku yang mengecek kesana. Lagipula firasatku juga belum tentu benar, mungkin aku hanya kelelahan karena kurang tidur," elakku.
"Tapi…"
"Sudah, tidak apa-apa. Kalau ada sesuatu pasti kau akan langsung aku hubungi. Aku pergi dulu. Jaa nee…"
Aku mengambil Turbo Enginge Skateboard dan segera meluncur menuju rumah Paman. Aku tidak ingin Shiho ikut karena aku hanya akan mengecek keadaan Paman dan Ran saja, lagipula bisa jadi firasatku ini salah.
Saat sampai di depan kantor Paman, aku langsung masuk kesana tapi tidak kutemukan keberadaan Paman. Aku mencoba menelepon Paman lagi, tetap saja tidak ada yang menjawab. Lalu aku naik ke lantai tiga dan tidak menemukan siapapun disana. Aku bergegas ke Kafe Poirot untuk menanyakan keberadaan Paman. Kebetulan ada Azusa-san disana.
"Nee, Azusa-san. Apakah kakak tahu dimana Paman?"
"Conan-kun! Astaga, kau mengagetkanku! Aku tadi melihat Kogoro-san terburu-buru naik taksi dengan wajah yang panik, mungkin sekitar satu jam yang lalu. Aku tidak sempat bertanya padanya karena sepertinya ada sesuatu yang gawat. Apakah Kogoro-san tidak mengabarimu?"
Panik? Sesuatu yang gawat? Jangan-jangan… RAN!
Aku keluar dari Kafe tanpa menghiraukan Azusa-san yang memanggilku dengan bingung karena meninggalkannya tiba-tiba. Aku terus menghubungi Ran dan Paman tapi mereka tetap tidak menjawab panggilanku. Sial! Kalian dimana?
DRRRTTTT… DRRRTTTT… DRRRTTTT…
Aku melihat layar ponselku menunjukkan nama Shiho disana.
"Kau dimana?"
"Aku di persimpangan dekat kantor Paman. Mereka tidak ada di rumah, Shiho!"
"Aku tahu. Tunggu aku disana! Sebentar lagi aku dan Hakase datang."
Shiho menutup teleponnya. Ada apa ini? Apa dia tahu sesuatu tentang Ran dan Paman? Ah, sial! Aku panik sampai tidak mampu berpikir apapun! OTAK KU BERPIKIRLAAAAH!
Sekitar lima menit kemudian aku melihat beetle kuning menghampiriku dan berhenti tepat di hadapanku.
"Ayo masuk! Kita harus bergegas!" Shiho membuka pintu dan menyuruhku masuk.
"Kita mau kemana?" tanyaku bingung setelah ku pasang seatbelt.
Tidak ada yang menjawab pertanyaanku. Hakase fokus menyetir dan Shiho? Dia terus menunduk hingga aku tak bisa membaca ekspresinya. Ada apa ini?
"Hey, bisakah kalian menjawab pertanyaanku? Hakase! Shiho!" aku mulai tidak sabar karena mereka tetap bungkam.
Aku membalikan badanku untuk melihat Shiho yang ada di kursi belakang, samar-samar aku melihat sesuatu menetes di telapak tangannya yang ia kepalkan kuat-kuat hingga memucat. Air mata? Shiho menangis?
"Ada apa, Shiho?" aku berpindah posisi duduk ke belakang untuk menenangkannya, aku tahu ini tidak baik, tapi aku tidak bisa diam saja ketika melihatnya menangis.
Hakase tidak berkomentar apapun melihatku memeluk Shiho, entahlah. Sepertinya ada situasi yang lebih penting dari ini.
"Shinichi…" Hakase akhirnya buka suara.
"Ya, Hakase. Ada apa?" tanyaku
"Kita ke rumah sakit. Sera meneleponku tadi kalau Ran mengalami kecelakaan."
Perkataan Hakase bagai kilatan petir yang bertubi-tubi menyambar diriku, bagai batu-batu besar pegunungan yang berlomba-lomba untuk meremukkan diriku. Tanganku yang sedang memeluk Shiho terkulai lemah. Aku tak bisa menutupi ketakutanku. Ran! Dia… Bagaimana mungkin?
Sepanjang perjalanan aku terus memikirkan Ran, aku tidak mau terjadi apapun padanya. Walau perasaanku padanya berubah, tapi dia tetap menjadi bagian hidupku selama ini sebagai sahabat, bahkan dia yang merawatku selama ini saat menjadi Conan. Aku tidak bisa membayangkan sesuatu yang buruk harus menimpanya.
Mobil beetle kuning ini akhirnya memasuki area rumah sakit, aku ingin segera berlari untuk menemuinya tapi kakiku seperti menentang keinginanku, kakiku melemah, seakan tak lagi memiliki otot untuk sekadar menyangga tubuhku. Shiho menggenggam kuat tanganku, ia menguatkanku dengan pancaran mata pirusnya yang walaupun saat ini tergenang air mata tapi masih mampu untuk memberiku kekuatan dan ketegaran. Aku mengangguk lemah padanya. Terima kasih, Shiho.
Hakase menurunkanku dan Shiho di lobi rumah sakit karena dia akan memakirkan mobilnya terlebih dahulu dan menyuruhku dan Shiho untuk segera ke ruang tunggu kamar operasi karena Paman dan lainnya berada disana. Aku dan Shiho segera berlari untuk menuju ruangan itu, disana ku lihat Paman Kogoro sedang memeluk Bibi Eri dan Sera yang sedang menghibur Sonoko yang terus menangis.
"Paman! Bagaimana keadaan Ran-neechan? Kenapa tidak ada yang memberitahuku?" aku sedikit berteriak, frustasi, karena merasa ini tidak adil, aku tinggal bersama mereka sudah hampir empat tahun, tapi kenapa kejadian seperti ini justru akulah yang terakhir tahu.
"Conan?" Paman sedikit terkejut mendengarku berteriak. "Maafkan aku, aku bukannya bermaksud untuk tidak mengabarimu, tapi ponselku hilang, terjatuh entah dimana. Aku sangat panik mendengar kabar tentang Ran, jadi aku minta maaf."
"Conan-kun. Dokter masih melakukan operasi karena Ran mengalami pendarahan hebat di bagian kepalanya. Mari kita berharap semoga operasinya… berhasil…" Bibi Eri menimpali diiringi isakan di akhir kalimatnya. Paman berusaha tegar dan menguatkan Bibi Eri dalam pelukannya.
Aku terduduk lemas di lantai mendengar kondisi Ran, rasanya sekitarku seketika gelap dan aku terperangkap didalamnya. Mataku menggenang, bahkan sebelahnya sudah tidak mampu lagi untuk membendungnya hingga akhirnya air mataku mengalir membasahi pipiku. Aku tidak peduli dengan imej Shinichi Kudo yang angkuh, aku tidak peduli orang-orang akan melihatku menangis, aku tidak peduli! Aku ingin Ran selamat.
Aku merasakan seseorang menyentuh pundakku. Aku menengadahkan kepalaku untuk melihatnya. Shiho! Aku mengabaikannya sejak sampai di rumah sakit. Kabar tentang Ran terlalu mengejutkanku. Dia menyuruhku untuk bangun dan mengajakku untuk duduk di kursi. Aku tahu dia juga sedih, tapi dia tidak mau menunjukkannya disini, di hadapan orang-orang. Dia wanita yang kuat. Kau juga harus seperti itu Ran. Kau juga wanita yang kuat. Shiho kembali menggenggam tanganku, mengajakku untuk tegar. Dia menggelengkan kepalanya, kemudian menghapus air mataku.
'Aku tahu kau sedih, tapi jangan menangis. Dia pasti tidak suka melihat kau menangis karenanya.'
Aku seperti bisa membaca isi hati Shiho saat menatapku dan menghapus air mataku. Aku mengangguk kepadanya. Ya, aku tidak boleh cengeng. Aku harus kuat, sama seperti Shiho. Kau juga, Ran!
Hakase datang dan langsung berbincang dengan Paman dan Bibi. Aku tidak terlalu mendengar obrolan mereka karena pikiranku tak dapat fokus saat ini. Sera menghampiriku setelah meminta ijin sebentar pada Sonoko. Dia mengajakku ke suatu tempat. Aku meminta Shiho tetap disini agar dia bisa mengabariku nanti jika ada perkembangan tentang operasi Ran. Sebenarnya aku tidak mau meninggalkan ruangan ini, tapi ku lihat ekspresi Sera dan sepertinya ini penting sekali, karena itu ku mengikutinya.
Sera mengajakku ke ruang IGD dan dari kejauhan dia menunjuk satu bed dimana terdapat seorang lelaki yang sedang berbaring disana dengan beberapa perban membalut kepala, tangan, serta kakinya, entah dia tidak sadarkan diri atau memang tertidur, tapi justru itu membuatku terkejut, karena aku mengenal dia walaupun hanya beberapa minggu, tapi dia pernah menjadi murid SMA Teitan dan juga adik dari Penyiar berita terkenal di Jepang. Dia adalah Eisuke Hondou. Kenapa dia ada disini? Bukankah dia sedang kuliah di Amerika? Dan apa hubungannya denganku?
"Kau masih ingat dia kan, Kudo?" Sera membuka pembicaraan.
"Ya, dia Eisuke Hondou. Murid pindahan di SMA Teitan sebelum pindah lagi ke Amerika. Ada apa ini?" tanyaku bingung.
"Dia juga mengalami kecelakaan, tapi kondisinya lebih baik dibandingkan Ran," jawab Sera yang justru membuatku makin bingung.
"Hah? Apa maksudmu? Jadi dia mengalami kecelakaan bersama Ran? Dia? Bersama Ran?" tanyaku lagi karena aku tidak menemukan korelasi kenapa dia bisa mengalami kecelakaan di saat Ran juga mengalami kecelakaan.
"Aku tahu ini bukan urusanku untuk menjelaskannya padamu, tapi untuk saat ini aku hanya bisa bilang kalau Eisuke mengalami kecelakaan saat bersama Ran. Mereka tertabrak mobil karena pengemudinya mengantuk. Pengemudi mobil itu saat ini sudah diamankan pihak Kepolisian. Kau bisa menanyakan semuanya secara detail langsung padanyananti ketika dia sudah sadar. Saat ini mungkin dia masih mengalami shock jadi aku harap kau bisa bersabar dulu," ucapnya lagi sambil mengajakku kembali ke ruang tunggu operasi.
Kami berdua kembali dalam diam, tidak ada percakapan apapun. Aku rasa Sera juga tidak berkeinginan untuk memulai pembicaraan. Dan aku masih memikirkan perkataan Sera tentang Ran yang mengalami kecelakaan saat bersama Eisuke, sebenarnya ada apa? Apakah ada sesuatu yang disembunyikan Ran padaku selama ini?
Dua jam berlalu saat dokter keluar dari ruang operasi, mengabarkan bahwa operasi Ran sukses dan pendarahan di kepalanya sudah berhasil dihentikan, namun kondisi Ran masih belum stabil sehingga tim dokter masih akan terus memantau kondisinya. Ran dipindahkan ke ruang ICU. Kami belum dapat menemuinya. Bibi sudah memintaku untuk pulang bersama Hakase, tapi bagaimana bisa aku pulang sedangkan aku belum melihat Ran? Lagipula aku masih harus bertemu lelaki itu untuk menanyakan semuanya.
"Hakase, sebaiknya kau pulang saja dulu bersama Haibara. Kalian harus istirahat. Aku akan menunggu disini saja," ucapku pada Hakase dan Shiho. Aku tidak tega membiarkan mereka berdua kelelahan menunggu di rumah sakit.
Lalu aku menepuk pundak Shiho, "aku tidak apa-apa, kau istirahat saja di rumah ya. Sepertinya besok aku juga tidak masuk sekolah, tolong sampaikan ke Sensei kalau aku terkena flu."
"Baiklah, aku mengerti. Tolong hubungi aku jika ada kabar terbaru tentangnya. Aku pulang dulu," ucap Shiho.
Hakase dan Shiho pamit pada Paman dan Bibi. Aku dan yang lain masih menunggu di luar ruang ICU. Cepatlah sadar, Ran!
Aku tidak tahu bagaimana akhirnya aku malah tertidur di kursi ruang tunggu ICU, ketika samar-samar ku mendengar dokter berbicara kepada Paman, aku langsung terbangun dan kulihat sepertinya hari sudah pagi, matahari sudah terbit walaupun belum meninggi. Aku langsung mencuri dengar pembicaraan mereka. Ran masih belum sadar, begitu yang dokter katakan. Bukan suatu kabar menyenangkan untuk memulai hari ini.
Aku melihat Sonoko dan Sera juga ikut terbangun karena mendengar pembicaraan Paman dengan dokter. Lalu, aku melihat Bibi Eri dari kejauhan membawa paper cup holder berisi empat cup minuman.
"Ini untukmu, Conan-kun."
Bibi Eri memberiku susu hangat, kopi untuk Paman, dan teh untuk Sera dan Sonoko.
"Bagaimana Ran?" Bibi Eri bertanya pada Paman.
"Dokter baru saja memberitahuku kalau kondisi Ran masih sama, dia belum sadarkan diri juga," jawab Paman murung. "Lalu, apakah kau sudah mengecek anak itu?"
Anak itu? Dare?
"Sudah, aku juga sudah membelikan minuman dan makanan untuknya. Syukurlah dia sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Kondisinya sudah mulai membaik, tapi dia masih tertidur saat aku ke ruangannya, jadi aku belum memberitahukan kondisi Ran padanya. Apakah tidak ada keluarga lain yang bisa dihubungi? Aku tidak tega melihatnya sendirian disini," jawab Bibi Eri.
Apakah yang dimaksud adalah Eisuke?
"Ran pernah bilang kalau dia punya kakak perempuan tapi kakaknya orang yang sangat sibuk, jadi Ran juga belum pernah bertemu dengan kakaknya," timpal Paman.
Oh, benar. Mereka membahas Eisuke. Tapi, kenapa Paman dan Bibi peduli padanya? Bahkan Bibi, sejak kapan Bibi mengenal Eisuke? Kenapa Ran ingin bertemu dengan Rena-san?
"Ano… Bibi… Sebenarnya ada ap-" belum selesai aku berbicara, Sera menarik tanganku untuk mengikutinya.
"Maaf, Paman, Bibi. Aku ingin mengajak Conan-kun jalan-jalan ke taman rumah sakit. Cahaya matahari sangat bagus untuk pertumbuhannya. Sonoko, kau tidak apa-apa kan aku tinggal sebentar?"
"Ya, tidak apa-apa, Sera. Aku disini saja," ucap Sonoko diikuti anggukan dari Paman dan Bibi.
"Kenapa kau seenaknya menarikku untuk mengikutimu?" tanyaku kesal karena sikap seenaknya Sera. "Apa kau sengaja?"
"Paman dan Bibi bukanlah orang yang tepat untuk kau tanyai saat ini. Kau tanyakan langsung saja padanya. Ku rasa dia sudah cukup kuat untuk kau interogasi," jawab Sera tanpa menatapku.
Aku paham maksud Sera.
"Aku tunggu kau di taman, dia ada di lantai 4 ruang A407. Aku harap kau bisa mengontrol emosimu. Dia bukan seorang tersangka pembunuhan, Kudo! Dia korban kecelakaan, jadi kau tidak boleh menggunakan emosimu," ucap Sera membuat alisku mengernyit. Untuk apa aku harus emosi?
"Yah, mungkin saja kan kau tiba-tiba tidak bisa mengontrol emosimu. Whoever knows? Jadi ku harap kau ingat perkataanku dengan baik," ucapnya lagi seakan bisa membaca pikiranku.
Aku mengangkat bahu lalu meninggalkan Sera menuju kamar Eisuke. Kulihat jam di tanganku sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Aku akan menghubungi Shiho dulu sebelum aku bertemu dengan Eisuke.
"Moshi-moshi, Shiho."
"Bagaimana kondisinya?"
"Belum ada perubahan, dia masih belum sadar."
"…"
"Shiho, maafkan aku, sejak di rumah sakit aku terus mengabaikanmu."
"Itu bukan hal penting untuk saat ini. Aku mengerti kekhawatiranmu, aku juga khawatir padanya."
"Baiklah, terima kasih, Shiho. Aku ada urusan sebentar, aku matikan dulu teleponnya. Jaga dirimu baik-baik ya! Jaa nee…"
"Kau juga! Tolong terus kabari aku jika ada perkembangan tentangnya. Jaa, Shin…"
Aku mengakhiri panggilanku dan bergegas menuju lantai 4.
Aku sampai di depan ruangan Eisuke, kulihat dia sedang duduk di tepi bed, menatap ke arah jendela, aku tidak dapat melihat wajahnya karena posisinya membelakangiku.
"Masuklah, Kudo. Aku tahu kau akan datang."
Seperti biasa, dia masih memiliki insting yang kuat mengenai kehadiran seseorang.
"Sera memberitahumu?" tanyaku sambil membuka pintu kamarnya.
"Ya," jawabnya singkat.
Aku duduk di kursi di seberang bed nya, dia masih menatap jendela di hadapannya. Dari sini aku bisa melihat walau hanya dari satu sisi, bahwa matanya menyiratkan luka dan perasaan bersalah.
.
.
.
Hening.
"Aku memang pembawa sial," kalimat darinya memecah keheningan di antara kami.
"Jangan salahkan dirimu. Itu tidak akan mengubah keadaan yang sudah terjadi," ucapku dingin.
"Kalau saja aku tidak mengajaknya keluar saat itu…" suara Eisuke bergetar. "Ran pasti…"
"Sudah kubilang, jangan salahkan dirimu! Pengemudi sialan itu lah yang salah! Sekarang jelaskan padaku, ada apa dengan kau dan Ran? Kenapa kalian bisa bersama saat itu? Kenapa kau bahkan berada di Jepang? Bukankah kau kuliah di Amerika?"
Eisuke menatapku, air matanya sudah mengalir.
"Aku tahu kau akan meneleponnya malam itu."
Aku mengangkat alisku, dia bahkan tahu kalau aku akan menelepon Ran? Sedekat itukah hubungan mereka?
"Aku tahu dan aku tidak suka. Makanya aku mengajaknya keluar, aku bodoh, aku bukan tidak percaya padanya, hanya saja jika menyangkut tentangmu, aku tak bisa mengendalikan diriku, aku takut kau akan merebutnya dariku. Aku memang bodoh, aku tidak percaya diri melawanmu. Kau mengenalnya sejak kecil, bagaimana bisa aku mengabaikan itu? Kalau saja aku lebih percaya diri, kalau saja aku tidak mengajak dia keluar dan membiarkan dia mengangkat teleponmu, kalau saja…" Eisuke tidak meneruskan perkataannya karena dia sudah terisak disana.
Aku membelalakkan mataku dan menjambak rambutku, akhirnya aku paham kenapa dia dan Ran bisa bersama bahkan mengalami kecelakaan bersama, akhirnya aku paham kenapa Paman dan Bibi peduli padanya. Semua kepingan puzzle sudah tersusun sempurna. Kenapa aku bisa tidak menyadarinya? Sepertinya kejadian yang menimpa Ran membuat otakku tak dapat berpikir dengan baik.
"Iya, kau memang sangat bodoh! Kalau kau sungguh-sungguh mencintainya, kau harusnya percaya kepadanya! Ran bukanlah tipe wanita yang tidak setia! Kau ingat kan dia menungguku selama beberapa tahun? Walau pada akhirnya dia memilih kau, dan aku memahami itu, tapi dia tak pernah sekalipun mengingkari janjinya! Sekarang kau yang ada di hatinya, tapi kau lebih mempercayai ketakutanmu itu? Kau menyia-nyiakan kepercayaan Ran! Kau! Bahkan kata bodoh atau idiot pun tidak dapat mewakili kekesalanku padamu!"
Aku jadi teringat perkataan Sera tadi yang menyuruhku untuk menahan emosiku, ternyata karena ini? Aku menyeringai. Jujur saja, aku bahagia jika Ran sudah memiliki orang lain yang dicintainya, tapi aku kecewa dengan perkataan lelaki yang dicintai Ran ini.
"Maafkan aku."
Dia menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Jangan meminta maaf padaku! Minta maaf lah pada Ran! Apa kau tahu kondisi dia sekarang?" tanyaku masih penuh emosi.
"Aku tahu, Sera memberitahuku. Aku juga tahu Bibi Eri datang kesini tadi. Aku hanya…"
"Apa? Kau mau bilang kalau kau takut menghadapi kenyataan bahwa kau lah faktor utama kenapa Ran bisa mengalami kecelakaan? Makanya kau menghindar dan memilih bersembunyi disini dan meminta Sera mengabarimu? Bagaimana bisa aku mempercayakan Ran padamu? Kau ternyata lebih pengecut daripada semua penjahat yang pernah ku temui selama ini!" ucapku dengan emosi yang makin meluap. Kecewa, marah, kesal, semuanya terkumpul di diriku saat ini.
"Apa yang harus kulakukan? Aku sangat mencintainya, aku tidak ingin dia terluka lagi karenaku! Aku takut jika nantinya kesialanku mencelakakannya lagi!"
Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Sera benar, pada akhirnya Eisuke juga adalah korban. Aku tidak bisa terus menyalahkannya. Aku harus mengontrol emosiku.
"Kau benar-benar bodoh ya! Kau dan ketakutanmu yang sia-sia itu! Kemana bocah ceroboh yang dulu pantang menyerah untuk menemukan kakaknya walau harus bertaruh nyawa? Kuliah di Amerika membuatmu semakin bodoh?" ucapku dengan lebih tenang dibandingkan sebelumnya.
Eisuke menatapku.
"Kau harus menemaninya sampai dia sadar! Kau harus ada di sisinya! Itu saja sudah cukup membuktikan perasaanmu! Setelah itu, kau harus minta maaf padanya!" ucapku lagi.
"Sejak kapan kau jadi sepeka ini, Kudo?" tanyanya sambil mengusap air matanya.
Kalau bukan karena situasinya seserius ini, mungkin akan terlihat aneh jika ada lelaki usia dua puluh tahun menangis di hadapan bocah lelaki berusia sepuluh tahun dimana bocah itu daritadi membentaknya, seakan-akan bocah itu yang membuat si lelaki menangis.
"Bukan urusanmu!" jawabku acuh, mengalihkan pandanganku ke arah jendela. Aku jadi merindukan Shiho ku!
"Aku akan ke tempat Ran," Eisuke berdiri dari bed nya, mengambil kruk di sebelah kiri badannya dan menggunakannya untuk menjadi penyangga kaki kanannya yang terluka.
Aku mengikutinya dari belakang.
"Sudah berapa lama kau berpacaran dengannya?" tanyaku di dalam lift saat akan turun.
"Bukan urusanmu!" jawabnya acuh, membalas perkataanku sebelumnya.
Sial!
"Kau tidak marah pada Ran karena dia meninggalkanmu?" dia balik bertanya padaku.
"Untuk apa aku marah? Ran bahagia, itu sudah cukup untukku. Aku tidak tahu kapan aku akan kembali menjadi Shinichi Kudo. Sudah hampir empat tahun tapi belum ada kejelasan apapun tentang kondisiku. Aku juga tidak mau dia menunggu lebih lama lagi. Lagipula…"
Lagipula di hatiku juga sudah ada Shiho.
Eisuke menaikkan sebelah alisnya sambil menatapku, "aneh sekali. Padahal kau dulu mati-matian melarangku saat aku akan menyatakan perasaanku padanya sampai kau membongkar identitasmu padaku. Hahaha…"
Pintu lift terbuka. Kami berdua keluar dari lift menuju ruang ICU.
Aku tertawa kaku mengingat apa yang sudah kulakukan dulu padanya. "People change."
"Yeah, you are right! Good luck with your new relationship!"
"Darimana kau-" aku terkejut.
"Apa kau lupa kalau aku juga lelaki? Kau itu terlalu naif, Kudo. Meskipun kau detektif, tapi untuk urusan perasaan, bahkan orang awam sekalipun bisa melihatnya, kau sudah jatuh cinta pada wanita lain, kan?"
"Apakah sejelas itu?"
"Bodoh! Bahkan aku pun bisa melihatnya! Tch, padahal aku ingin melihat kalian sparing! Ternyata semuanya berakhir dengan damai."
Sera mendekati kami berdua.
"Sudah berapa lama kau menguping?" tanyaku sambil menatapnya dengan malas.
"Hei, tidak usah mengalihkan pembicaraan!" bantah Sera.
"Sudahlah, kita disini bukan untuk membahas tentang diriku!" ucapku mencoba mengabaikan mereka. "Dan kau, bocah ceroboh! Kau juga harus minta maaf pada Paman dan Bibi!"
"Tanpa perlu kau suruh, aku juga akan minta maaf pada mereka," jawab Eisuke sambil menatapku sebal.
Sera menahanku lalu membisikkan sesuatu kepadaku yang membuat wajahku memerah dan dia tertawa puas karenanya. Sial! Bahkan tidak ada privacy dimanapun untukku dan Shiho!
"Aku mendengarmu berteriak seperti orang gila pada malam itu. Manis sekali walaupun terdengar norak! Aku jadi kasihan pada Sherry."
Kami bertiga kembali ke ruang tunggu ICU, Eisuke berbicara pada Paman dan Bibi. Aku, Sera, dan Sonoko sedikit menjauh untuk memberikan mereka waktu.
"Heh, Bocah. Kau sudah beritahu Detektif Bodoh itu tentang Ran?" tanya Sonoko dengan suaranya yang parau karena terlalu banyak menangis.
"Sudah, Sonoko-neechan, tapi Shinichi-niichan belum membaca pesanku. Mungkin dia sedang sibuk," jawabku berbohong.
"Geez, disaat kondisi Ran seperti ini Detektif Bodoh itu masih saja tetap mengabaikannya! Untunglah Ran sudah move on dan…" Sonoko menyadari kesalahannya, dia langsung menutup mulutnya.
"Tidak apa-apa, Sonoko-neechan. Eisuke-niichan sudah menceritakan semuanya. Aku juga sudah berjanji untuk merahasiakannya dari Shinichi-niichan."
"Baguslah! Kalau Detektif Sialan itu sampai tahu tapi bukan dari Ran sendiri, kau adalah orang pertama yang akan menjadi tersangka!"
Ha…ha…ha… Aku disini, Sonoko. Si Detektif Sialan ini sudah tahu semuanya.
Sera menahan tawanya melihatku diancam oleh Sonoko.
Tiga jam berlalu dan Dokter mengabarkan bahwa Ran sudah sadar, namun pihak keluarga masih belum diperbolehkan untuk melihat Ran, kondisinya masih harus tetap dipantau, jika dalam waktu satu jam kondisinya sudah stabil, Ran bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Untunglah kondisi Ran sudah membaik, hingga tim dokter mengijinkan Ran dipindahkan ke ruang perawatan.
Saat di ruang perawatan, setelah dokter sekali lagi memeriksa kondisi Ran, dokter mengijinkan kami masuk untuk menemui Ran.
Ran mengubah posisinya, dia sedang duduk dan seperti kebingungan melihat kami disini dan mengamati ruangan ini dengan seksama.
"Ran, bagaimana keadaanmu? Apa masih ada yang terasa sakit?" Bibi Eri langsung menggenggam tangan Ran dan membelai pipi anak perempuannya itu.
"Aku tidak apa-apa, Okaasan. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa aku bisa ada disini?" tanya Ran bingung.
Dokter sempat menjelaskan kalau Ran tidak mengingat apa yang terjadi padanya dan itu hal yang wajar bagi pasien yang mengalami trauma di kepalanya.
"Ah, syukurlah. Tidak apa-apa, Ran. Lupakan saja! Bagus jika kau tidak mengingatnya, aku juga tidak ingin anakku mengingat sebuah kenangan buruk. Sekarang kau harus segera pulih, Ran," jawab Paman yang juga ikut menggenggam tangan Ran dan Bibi.
Aku bisa paham kenapa Paman berkata seperti itu, kecelakaan ini memang sebuah kenangan buruk bagi Ran, bagi Paman dan Bibi, bagi semua yang mengenal Ran.
"Maafkan aku, Ran," Eisuke mendekati Ran, matanya berkaca-kaca.
"Eh, Eisuke-kun? Kau kenapa ada disini? Bukankah kau sudah pindah ke Amerika? Lalu, kenapa kau minta maaf padaku?" tanya Ran lagi sedikit terkejut.
Kami yang mendengarnya juga terkejut, terlebih Eisuke. Apakah ini juga termasuk salah satu efek dari trauma di kepalanya?
"Otousan, bukankah kita baru saja akan pulang dari London? Aku ingat kita sedang ada di Bandara, aku baru saja bicara pada Minerva-san dan Apollo-kun. Tapi, kenapa aku ada disini? Apa yang sebenarnya terjadi, Otousan? Kenapa kepalaku sakit sekali?" Ran menekan kepalanya dengan telapak tangannya.
Eh?
CHAPTER 10 END.
A/N: Aku tidak begitu baik dalam membangun plot dan membuat sebuah diksi, tapi untuk membuat sebuah dialog kurasa aku cukup baik (self claiming banget). LOL! Jadi mohon maaf kalau narasinya kurang bagus, membosankan, atau malah berlebihan sampai sulit dipahami. Jujur aja, kalau untuk dialog itu selalu ada aja gitu inspirasinya, tapi kalau cuma dialog kayaknya nanti susah dipahami karena gak ada diksinya sama sekali, jadi dialog beres, malah mentok di diksi, itulah mengapa ini beresnya lama hahaha. Aku juga punya beberapa draft cerita lain, tentu saja pairingnya tetap CoAi/ShinShi tapi yaa begitu deh, mentok di diksinya yang gak bagus, jadi masih hapus-tulis ulang-hapus lagi mudah-mudahan bisa upload cerita lain biar fanfic pairing ini tetap ramai.
Btw, awalnya plot ceritanya gak begini, aku udah buat panjang, tapi setelah dibaca ulang, kok membosankan, karena kalau aku paksain untuk diteruskan, ceritanya akan mentok disitu. Kalau Ran sama Shinichi udah beres telfonan, trus udah dong? Ran-Eisuke happy, Shinichi-Shiho juga happy. Beres ceritanya. Tamat dengan kurang mengesankan hahahaha. Jadi, langsung hapus cerita lama dan buat cerita baru dengan sedikit plot twist.
And, ku baru sebulanan ini berani nonton DC lagi, karena otp ku tidak akan canon, jadi aku baper (maaf emang baperan sama chara gepeng ) dan baru tahu kalau ternyata yang canon udah official, ya ampun jadi makin baper, udah gitu diceritaku kan mereka belum official, jadi sedikit spoiler aja, nanti ku buat mereka official biar agak sedikit nyambung ke canon, walaupun aku jahat sama otp non canon ku tapi demi mengembangkan cerita, sebentar aja mereka sedih-sedihan dulu. Huhuhu.
Oh untuk panggilan itu mohon maaf kalau aku salah ya, aku terbiasa baca komiknya, sedangkan di komik kan tidak ada panggilan kun, niichan, neesan, otousan, okaasan, san, dll. Semuanya sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, jadi mungkin akan ada campur-campur bahasa untuk panggilannya. Hehehe.
PLEASE RATE AND REVIEWNYA! THANK YOU.
