DISCLAIMER: Aoyama Gosho, pemilik sah hak cipta Detective Conan. Daku hanya reader kentang karya beliau dari kelas 3 SD yang sangat menyukai chemistry ConanXAi atau ShinichiXShiho. Maaf aku terjangkit Second Lead Syndrome!

WARNING: OOC, Typo, Plot lebay, maksa, dan ngebosenin hahahahaha.


HEART

CHAPTER 11

NUISANCE


Normal POV

"Retrograde Amnesia?" ucap Eri dan Kogoro secara bersamaan saat mereka sedang berada di dalam ruang konsultasi dokter.

Sebelumnya, dokter memeriksa lagi kondisi Ran setelah perkataannya yang mengejutkan. Dia tidak mengingat kejadian sebelum kecelakaan dan dia merasa dirinya masih berada di situasi hampir empat tahun yang lalu?

"Iya, karena terdapat cedera pada bagian otaknya yang disebut hippocampus, sehingga menyebabkan beberapa memorinya menghilang," jawab dokter mencoba menjelaskan kondisi Ran.

"Dulu Ran juga pernah mengalami hal seperti ini, tapi dia bisa mengingat lagi semuanya. Apakah untuk kali ini, Ran juga akan seperti itu lagi?" tanya Kogoro Mouri, mengingat kejadian beberapa tahun lalu ketika Ran juga sempat terkena amnesia untuk sementara.

"Kami belum bisa memastikan karena kondisi Nona Ran yang sempat mengalami pendarahan hebat di kepalanya. Semuanya kembali kepada diri Nona Ran, karena jika dipaksakan, rasa sakit kepala yang kuat akan menyerangnya dan itu cukup membahayakan kondisi Nona Ran saat ini. Jika kondisinya sudah membaik, saya akan berikan surat rujukan untuk ke salah satu neurologist terbaik, kebetulan beliau juga rekan saya yang sudah cukup sering meng-handle kasus amnesia. Beliau tentu lebih paham mengenai hal ini."

"Baiklah, Dok. Kami mengerti. Terima kasih."

Eri dan Kogoro pamit untuk kembali ke tempat Ran dirawat.


Sementara itu di ruang rawat Ran.

"Conan-kun, sejak kapan kau jadi setinggi ini? Bukankah baru kemarin aku tidak bertemu denganmu?" Ran menatap Conan bingung.

Conan terdiam sambil menatap Ran. Dia juga tidak tahu harus menjawab apa.

"Apa kau benar-benar tidak ingat kejadian kemarin, Ran?" tanya Sonoko sambil membelai punggung tangan Ran.

"Kejadian kemarin?" Ran menaikan alisnya lalu seketika wajahnya merah padam. "D-darimana kau tahu, Sonoko? A-aku… baru menceritakannya… hanya pada Minerva-san saja."

Semua yang ada di ruangan itu terdiam. Mereka mengetahui alur pembicaraan Ran, terlebih Conan. Teringat sebuah pernyataan cinta empat tahun lalu di London.

"Kau benar-benar tidak ingat padaku, Ran?" suara frustasi Eisuke memecah keheningan.

"Bagaimana aku bisa lupa padamu, Eisuke?"

Jawaban Ran membuat yang ada disana sedikit berharap walaupun kecil, kecil sekali, tapi mereka berharap Ran bisa mengingat hubungannya dengan Eisuke.

"Kau kan sedikit clumsy. Hehehe… Aku ingat kau beberapa kali terjatuh saat sedang di TKP bersama Otousan. Bahkan kau menabrak lemari di kantor Otousan saat pertama kali kau ke rumahku, sampai-sampai Conan-kun juga jadi korban. Lucu sekali jika mengingatnya, tapi sayang ya kau harus pindah ke Amerika. Padahal aku senang berteman denganmu."

Perkataan Ran ini sontak membuat Eisuke terduduk lemas di lantai samping bed Ran. Dia mengingat Eisuke, tapi sebagai Eisuke empat tahun lalu, saat Eisuke menjadi murid baru di SMA Teitan, saat dia pertama kali mengenal Eisuke. Bukan Eisuke sekarang, saat posisi Eisuke lebih istimewa di hati Ran, saat mereka menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih, saat mereka akan membicarakan keseriusan hubungan mereka nantinya.

Conan dan Sera membantu Eisuke untuk berdiri, sedangkan Ran terkejut karena melihat reaksi Eisuke dan bingung juga melihat Sera. Dia merasa asing dengan sosok Sera.

"Eh, kau tidak apa-apa, Eisuke?" tanya Ran.

"Sebaiknya aku dan Conan-kun mengantar Ei-kun kembali ke kamarnya dulu. Sonoko, kau tidak apa-apa kan kami tinggal sebentar?" tanya Sera yang sedang memapah Eisuke dibantu Conan.

Sonoko mengangguk, "iya, tidak apa-apa, Sera. Sepertinya Eisuke juga butuh istirahat."

Sebenarnya Eisuke tidak ingin meninggalkan Ran, tapi tubuhnya menyerah saat mengetahui kondisi Ran. Conan segera meminjam kursi roda. Untuk saat ini, membiarkan Eisuke untuk berjalan sendiri sepertinya tidak akan mungkin, dia terlalu shock menghadapi kenyataan. Conan dan Sera mengantar Eisuke kembali ke kamarnya.

"Ada apa dengan Eisuke, Sonoko? Apakah perkataanku salah?" Ran bertanya lagi karena dia merasa sedih melihat reaksi Eisuke.

"Kau benar-benar tidak mengingat dia, Ran?" Sonoko balik bertanya pada Ran.

"Apa maksudmu, Sonoko? Aku kan sudah menjawabnya tadi," jawab Ran heran.

"Kau juga tidak ingat apa yang terjadi padamu kemarin, Ran?" tanya Sonoko lagi tanpa menjawab pertanyaan Ran sebelumnya.

"Aku benar-benar tidak ingat, Sonoko. Aku hanya ingat kalau aku sedang ada di Bandara di London dan akan kembali ke Jepang. Apakah aku mengalami kecelakaan saat di London? Tapi kenapa aku bisa ada di Rumah Sakit di Jepang? Apakah aku mengalami kecelakaan saat baru sampai di Jepang, Sonoko? Apakah Shinichi tahu tentang kondisiku? Aku harus mengabarinya! Dia pasti khawatir karena aku tidak menghubunginya."

Ran kemudian mencari-cari sesuatu di meja di sebelah bed nya. Sonoko menepuk pundak Ran, menyuruh Ran untuk tenang.

"Ponselmu tidak ada disini, Ran. Conan-kun sudah mengabari Shinichi tentang kondisimu. Lalu… Sebenarnya… Kemarin kau mengalami kecelakaan bersama Eisuke. Dia…"

Belum selesai Sonoko menjawab pertanyaan Ran, tiba-tiba Ran memegang kepalanya, dia tampak sangat kesakitan dan darah segar mengalir keluar dari hidungnya. Sonoko sangat panik melihat sahabatnya kesakitan seperti itu, dia menekan tombol nurse call untuk meminta bantuan. Kogoro dan Eri yang baru saja kembali dari ruang konsultasi Dokter juga panik melihat anak kesayangan mereka berteriak-teriak karena kesakitan.

Setelah diberikan suntikan obat penenang, Ran kembali tertidur. Dokter kembali menghimbau untuk tidak memaksakan Ran untuk mengingat memori yang dia lupakan saat ini hingga kondisinya membaik, karena efeknya juga membahayakan tubuh Ran.

"Maafkan aku, Paman dan Bibi. Aku tidak tahu jika ini bisa berbahaya untuk Ran," ucap Sonoko sambil terisak karena merasa bersalah.

"Tidak apa-apa, Sonoko. Ini bukan salahmu. Dokter juga baru saja memberitahu kami tadi. Jadi, untuk sementara hingga kondisi Ran membaik, sebaiknya kita jangan memaksakan Ran untuk membuat dia ingat semuanya dulu. Aku juga tidak ingin Ran seperti ini, tapi bagaimanapun Ran harus pulih terlebih dahulu, baru nantinya kita bisa membawanya ke Psikiater untuk membuat dia mengingat semua yang dia lupakan. Kita harus bersabar, Sonoko," ucap Eri memeluk Sonoko, menenangkan sahabat anaknya.

"Sebaiknya kita juga memberitahu anak itu tentang kondisi Ran," ucap Kogoro.

"Eisuke tadi sangat shock saat Ran tidak bisa mengingat hubungan mereka hingga Sera dan Conan-kun harus mengantarnya kembali ke kamar, maka dari itu aku tadi mencoba memberitahu Ran, tapi sebelum aku sempat memberitahunya, Ran… Ran tiba-tiba seperti itu. Maafkan aku sekali lagi, Paman, Bibi," Sonoko terisak lagi.

"Sudah, tidak apa-apa, Sonoko. Aku paham kalau kau ingin membantu Ran mengembalikan ingatannya. Tidak apa-apa. Jangan menangis lagi. Aku dan Kogoro akan mencoba berbicara dengan Eisuke nanti," Eri mengusap punggung Sonoko agar dia lebih tenang.

Saat ini Eri juga memikirkan cara yang tepat untuk memberi tahu kekasih anaknya mengenai kondisi Ran agar Eisuke bisa menerima kondisi ini untuk sementara walaupun menyakitkan.


"Sudah kubilang, aku tidak akan bisa mengalahkanmu."

Suara Eisuke memecah keheningan saat Conan dan Sera mengantarnya kembali ke kamar.

"Kau masih terlalu berharga untuknya, tempatmu di hatinya masih sangat besar. Ha… Ha… Dia bahkan melupakan hubungan kami dan justru mengingat kenangan kalian saat di London," ucapnya lagi sambil tertawa lirih, nada bicaranya terdengar lemah dan frustasi, menunjukkan sebuah kekalahan.

Conan tahu betul Eisuke sedang berbicara padanya, dia sendiri juga tidak paham kenapa ingatan Ran justru berada di waktu empat tahun lalu, di saat mereka ada di London, di saat dia menyatakan perasaannya pada Ran.

"Hei, sudahlah, Eisuke. Ini bukan sesuatu yang Kudo-kun rencanakan pun bahkan bukan sesuatu yang dapat dia kontrol. Kau jangan berbicara seakan-akan kau kalah," ucap Sera mencoba menenangkan situasi.

"Kau tahu kan kenapa terkadang orang yang mengalami amnesia justru mampu mengingat satu kejadian khusus walaupun dia melupakan semuanya? Karena itu sangat membekas di otaknya, juga di hatinya! Huh, sampai kapanpun Kudo Shinichi tetap menjadi pilhan Mouri Ran. Orang lain tidak akan pernah bisa masuk di antara mereka," kali ini Eisuke tersenyum sinis pada Conan.

"Sudah selesai dengan deduksi bodohmu itu? Kau bahkan belum mencoba meyakinkan Ran dan kau sudah menyerah? Pantas saja Ran melupakanmu, kau tidak pernah mempercayainya," balas Conan tak kalah sinis.

"Hey, Kudo-kun. Sudahlah! Jangan memperkeruh suasana! Eisuke saat ini mungkin masih sangat shock, jadi kau juga harus tenang menghadapinya," Sera lagi-lagi mencoba menenangkan situasi.

"Aku selalu mempercayainya!" jawab Eisuke dengan sedikit membentak.

"Kalau kau memang mempercayainya, buktikan! Kau tidak bisa menyerah begitu saja! Bagaimanapun, aku sudah tidak memiliki perasaan apapun kepadanya, hanya sebatas rasa sayang sebagai sahabat dari kecil, tidak lebih! Dan kau juga tahu kalau aku sudah memiliki orang lain di hatiku saat ini, jadi aku tidak akan merebut Ran darimu! Hentikan pikiran bodohmu itu dan bertindaklah sesuai peranmu saat ini, sebagai kekasih Ran!" Conan juga ikut membentak.

Sera hanya bisa facepalm karena usahanya sia-sia dan dia terjebak disini bersama mereka.

"Sudahlah, lebih baik aku keluar dari ruangan ini. Menghadapi seorang pengecut sepertinya membuatku muak!" ucap Conan lalu keluar dari kamar Eisuke dengan sengaja membanting pintu, tidak peduli jika itu memancing perhatian orang-orang disana, saat ini pikirannya benar-benar kalut.

"Lebih baik kau istirahat, Eisuke. Kudo-kun benar, kau tidak boleh menyerah begitu saja, yakinkan Ran kalau kau adalah kekasihnya. Katakan semuanya kepada Ran, bertindaklah sebagai orang yang istimewa untuknya. Aku permisi," ucap Sera dan kemudian ia juga keluar dari kamar Eisuke.


"Bagaimana keadaan Ran-neechan, Paman?" tanya Conan saat melihat Kogoro sedang berada di luar kamar Ran.

"Dia sedang tidur setelah diberikan obat penenang. Dokter bilang dia mengalami Retrograde Amnesia dan tadi Ran sempat collapse. Jadi kau, Conan, dan juga kau, Sera, untuk sementara jangan dulu memaksa Ran untuk mengembalikan ingatannya. Karena Dokter juga sudah mengingatkan jika pada kondisi Ran saat ini kita tetap memaksa mengembalikan ingatannya, maka itu akan membahayakan diri Ran. Kita harus bersabar hingga kondisinya membaik," jawab Kogoro dengan mimik muka serius.

Sera mengangguk tanda bahwa dia paham situasi saat ini.

Sedangkan Conan terkejut mendengar jawaban Kogoro karena itu artinya Ran masih berharap pada Shinichi? Ran dengan perasaan bahagianya setelah menerima pernyataan cinta Shinichi di London? Bagaimana dengan hubungan Ran dan Eisuke? Bagaimana hubungannya dengan Haibara? Dia tidak mungkin meninggalkan Haibara, tapi mendengar jawaban Kogoro barusan kalau Ran sampai mengalami collapse maka membuat Ran mengembalikan ingatannya untuk saat ini akan sangat membahayakan jiwa Ran. Tapi, hati Kudo Shinichi sudah bukan milik Mouri Ran. Haruskah dia bersikap sekejam itu pada sahabat kecilnya? Atau justru malah dia akan bersikap kejam pada kekasihnya saat ini, Miyano Shiho?

"Oh iya, Sera. Bagaimana kondisi Eisuke?" tanya Kogoro.

"Sepertinya dia sangat shock, Paman," jawab Sera jujur.

"Aku dan Eri akan berbicara padanya. Semoga dia bisa mengerti keadaan Ran untuk sementara ini."

Kemudian Kogoro mengajak Eri untuk menemui Eisuke.


Conan, Sera, dan Sonoko menunggu Ran di dalam ruangannya.

Sonoko menceritakan apa yang terjadi pada Ran.

"Hei, bocah. Apakah Detektif Bodoh itu sudah membalas pesanmu?" tanya Sonoko pada Conan.

"Belum, Sonoko-neechan. Pesanku juga belum dibaca Shinichi-niichan, sepertinya dia sangat sibuk sampai tidak sempat memegang handphone," Conan berbohong, tentu saja, Kudo Shinichi ada disini sekarang, sedang membual pada Sonoko.

"Tch. Detektif sialan itu! Aku heran, dia sedang mengerjakan kasus apa sih sampai empat tahun ini tidak selesai juga? Kalau saja Ran sedang tidak dalam kondisi seperti ini, aku juga tidak akan sudi menanyakan kabar detektif sialan itu! Pokoknya kau harus terus mengabari dia tentang Ran! Karena hanya kau anak buahnya yang paling setia!"

'Sial! Aku juga tahu kondisi Ran! Aku ada disini!' Conan mengumpat dalam hati.

"Kalau Ran hanya mengingat kisahnya dengan Detektif bodoh itu, bagaimana dengan Eisuke?" tanya Sonoko lagi, tanpa menuntut jawaban karena dia pun paham situasi ini menyulitkan Ran, Eisuke, dan juga Shinichi.


"Maafkan kami, Nak. Kami juga tidak tega mengatakan ini padamu, tapi ini demi kesembuhan Ran. Untuk sementara ini hingga kondisi dia pulih, tolong rahasiakan dulu hubungan kalian, ya."

Kogoro dan Eri sudah menceritakan mengenai kondisi Ran pada Eisuke dan tentu saja Eisuke hanya tertunduk lemah.

Bagaimana bisa dia membuktikan semuanya jika membahas ingatan Ran justru akan membahayakan hidup Ran? Apakah benar-benar tidak ada kesempatan baginya? Bagaimana jika ingatan Ran tidak pernah kembali? Apakah dia harus merelakan Ran kembali dengan Kudo Shinichi?

"A-aku… Aku mengerti, Paman, Bibi," jawab Eisuke dengan suara parau. "Tapi, bolehkah aku tetap berada di sisi Ran hingga ia sembuh? Walaupun saat ini ia tidak mengingatku, aku tidak ingin meninggalkannya."

"Kami tidak akan melarangmu, Nak, tapi bagaimana dengan kuliahmu?" tanya Eri.

"Aku akan cuti kuliah, Bibi. Aku tidak akan bisa berkonsentrasi untuk belajar jika aku memikirkan Ran terus disini, apalagi kami terpisah jarak yang jauh," jawab Eisuke berusaha tegar.

"Apa itu tidak apa-apa? Kau sudah mengabari kakakmu?" Kali ini Kogoro yang bertanya.

"Tidak apa-apa, Paman. Aku akan mengabari kakakku nanti."

"Baiklah, kalau itu sudah menjadi keputusanmu. Sekali lagi kami minta maaf padamu ya, Nak."

"Tidak apa-apa, Paman, Bibi. Aku mengerti."


04.00 PM

Hakase dan Haibara datang ke rumah sakit untuk menjenguk Ran setelah sebelumnya Hakase bertanya pada Sera tentang kondisi Ran, karena ponsel Conan tidak dapat dihubungi.

Hakase langsung berbincang dengan Kogoro dan Eri di luar ruangan, sedangkan Haibara menanyakan keadaan Ran pada Sonoko dan Sera, tapi dia tidak menemukan Conan dimanapun.

"Dia…" Belum selesai Sonoko menjawab pertanyaan Haibara, Sera memotong jawaban Sonoko.

"Dia sudah sadar, tapi masih butuh banyak istirahat, Ai-chan."

Sonoko bingung dengan tindakan Sera, tapi dia tidak ingin membahasnya sekarang, mungkin Sera yang akan menjelaskannya pada Haibara.

"Hei, Sherry. Kudo ada di taman," ucap Sera berbisik kepada Haibara agar tidak didengar oleh Sonoko.

Haibara paham maksud perkataan Sera, dia mengangguk lalu segera keluar dari ruangan tersebut.

"Mau kemana dia?" tanya Sonoko heran.

"Entahlah," jawab Sera sambil menaikkan bahunya.

Sonoko tidak bertanya lagi dan kembali menatap sahabatnya yang masih tertidur.


Haibara menuju ke taman rumah sakit dan dia melihat Conan sedang duduk sendirian di bangku taman, posisinya membelakangi Haibara, tapi Haibara tetap bisa mengenalinya.

"Hei, apa yang kau lakukan sendirian disini?" tanya Haibara saat ia sudah berada di samping Conan yang sepertinya sedang melamun hingga tidak menyadari keberadaannya.

Conan terkejut saat melihat Haibara ada disampingnya, ia lalu memberikan ruang agar Haibara bisa duduk.

"Kau tidak apa-apa, Shin?" tanya Haibara lagi sambil menatap wajah Conan.

"Shiho, Ran… Dia…" jawab Conan terbata-bata.

"Dia kenapa?"

Conan masih tidak menjawab pertanyaan Haibara.

Haibara mulai kesal karena Conan hanya diam saja.

"Kalau kau diam terus seperti ini, Shin, lebih baik aku pergi saja! Kau bahkan tidak bisa dihubungi daritadi dan sekarang kau tidak menjawab pertanyaanku sama sekali!" ucap Haibara yang sudah berdiri dari posisinya untuk meninggalkan Conan.

Conan segera menahan tangan Haibara. "Maafkan aku, Shiho."

Haibara kembali duduk dan menatap wajah kekasihnya.

"Dia mengalami amnesia, Shiho," ucap Conan sambil balas menatap wajah Haibara, tangannya tetap menggenggam tangan Haibara.

Haibara terkejut mendengar perkataan Conan.

"Apa dia tidak bisa mengingat siapapun lagi seperti dulu?" tanya Haibara.

"Kali ini berbeda. Dia mengingat semuanya, tapi…" Conan meremas tangan Haibara, dia menundukkan pandangannya, tak siap bertemu mata dengan mata pirus kekasihnya saat harus mengatakan ini, "tapi ingatannya terhenti pada kejadian di London, empat tahun lalu."

Haibara lagi-lagi terkejut, tidak yakin dengan perkataan Conan atau mungkin lebih tepatnya dia mengerti tapi dia tidak begitu yakin, daripada menimbulkan kesalahpahaman, maka dia menanyakan lagi maksud perkataan Conan. "A-aku tidak mengerti maksudmu. Bisakah kau menjelaskannya kepadaku?"

Conan menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya menegakkan kepalanya lagi, dia memandangi wajah kekasihnya lagi. "Seperti yang aku katakan Shiho, ingatan Ran terhenti di empat tahun lalu saat dia sedang ada di London. Dia tidak bisa mengingat apapun setelah itu. Memori selama empat tahun terakhir ini seperti menghilang dari kepalanya. Dia bahkan bilang kalau seharusnya dia masih ada di London saat pertama kali sadar."

Haibara terdiam, matanya memang menatap Conan tapi tatapannya kosong.

Menerawang…

Tidak dalam posisinya sekarang.

Menerawang…

Mengingat kejadian empat tahun lalu dimana dia merasakan sakit sendirian karena harus menerima bahwa lelaki yang ia suka menyatakan perasaannya pada wanita lain, cinta pertamanya, dan ia harus berpura-pura tegar seakan tidak terjadi apapun.

Kenapa jadi seperti ini?

"Ho… Shiho… SHIHO!"

Suara Conan menyadarkan Haibara kembali.

"Hah? I-iya, Shin."

Conan menyadari Haibara pasti sedang memikirkan kejadian empat tahun lalu, disaat ia menyatakan perasaannya kepada Ran. Pasti menyakitkan untuk Haibara mengingat hal itu lagi.

"I love you, Shiho. Always," ucap Conan mencoba menenangkan kekasihnya sambil membelai lembut pipinya dengan telapak tangan Conan. "Aku juga tidak tahu kenapa ingatan Ran berhenti di kejadian itu. Kau pun tahu aku sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi kepadanya, Shiho. I'm yours."

"Tapi?" tanya Haibara karena menemukan kejanggalan di nada bicara Conan.

"Kondisi Ran belum stabil, dokter mengatakan untuk tidak membuat Ran mengingat apa yang dia lupakan. Sonoko tadi berusaha mengembalikan ingatan Ran, tapi Ran mengalami collapse, Shiho. Dia mengalami sakit kepala hingga mimisan, bahkan dokter harus menyuntikkan obat penenang untuknya. Paman dan Bibi meminta agar kondisi Ran pulih terlebih dahulu, jadi untuk sementara hingga kondisinya membaik…"

"Aku mengerti, Shin," potong Haibara tiba-tiba.

"Eh?" Conan tampak bingung.

"Kau harus kembali padanya, kan?"

"Hah? A-apa? B-bukan begitu maksudku, Shiho!"

"Aku tahu!" Haibara lalu menggenggam tangan Conan. "Sampai dia pulih."

"Lalu, bagaimana dengan kau? Bagaimana bisa aku melakukan ini kepadamu, Shiho!"

"Aku tidak apa-apa, Shin. Anggaplah ini sebagai balas budiku karena dia telah banyak membantuku."

"Tidak dengan cara seperti ini, Shiho! Aku merasa seperti mengkhianatimu!"

"Astaga, kau berlebihan sekali! Aku hanya minta kau menemaninya hingga dia pulih. Bukan menikahinya! Atau kau justru mempunyai niat lain yang tidak aku ketahui, Kudo-kun?"

Conan lantas melepas genggaman tangan Haibara dan berdiri dari posisi duduknya, gurat kekesalan terlihat di wajahnya karena pertanyaan Haibara ini.

"Tentu saja tidak, Miyano-san! Kenapa kau malah menuduhku seperti ini?"

Haibara juga tidak kalah kesalnya dengan Conan, dia juga ikut berdiri, tangan kirinya berkacak pinggang, sedangkan tangan kanannya menunjuk-nunjuk ke arah Conan.

"Aku tidak menuduhmu, EDOGAWA CONAN! Kalau kau bereaksi terlalu berlebihan seperti ini, justru terlihat semakin mencurigakan!"

"Jadi menurutmu tindakanku yang tidak ingin menyakitimu kau bilang berlebihan, HAIBARA AI? Siapa yang sebenarnya paling berlebihan disini? Aku yang tidak ingin kau terluka atau justru kau yang masih dibayangi rasa bersalah terhadap Ran?"

Haibara tertegun mendengar kalimat Conan, bukan karena perkataan Conan salah, tapi justru perkataannya tepat menusuk jantung Haibara. Conan benar, Haibara memang masih dihantui rasa bersalah yang besar. Kalau bukan karenanya mungkin lelaki dihadapannya sekarang ini tidak akan terpisah dengan Ran. Haibara merasa telah menghancurkan takdir mereka berdua, takdir Shinichi dan Ran. Kehadiran Haibara merusak segalanya.

'Kau bodoh sekali, Shiho. Kau mengharapkan kebahagiaan untuk dirimu, tapi kau merusak kebahagiaan orang lain? Sisi jahatmu memang tidak akan pernah bisa hilang, benar kan, Sherry?' ucap Haibara dalam hati. Pergumulan batin ini tanpa sadar membuat Haibara menitikkan air mata.

Conan yang pada awalnya masih diselimuti kekesalan berubah menjadi penyesalan karena dia melihat Haibara menangis dihadapannya, padahal dia berjanji pada dirinya sendiri akan membuat kekasihnya bahagia, tapi sekarang dia justru membuatnya menangis karena perkataannya.

'KAU SUNGGUH BODOH, KUDO SHINICHI!' umpat Conan dalam hati, memaki dirinya sendiri.

"M-maafkan aku, Shiho," ucap Conan mencoba menghapus air mata Haibara tapi Haibara menepis tangannya, dia memilih menghapus air matanya dengan tangannya sendiri, setelah itu dia melangkah mundur dan berlari meninggalkan Conan sendirian di tengah pandangan beberapa orang yang sempat melihat dua anak sekolah dasar cekcok di taman rumah sakit.

'IDIOT! LIHAT APA YANG KAU PERBUAT PADANYA!' Conan lagi-lagi memaki dirinya sendiri.

Conan segera mengejar Haibara dan mendapati Haibara masuk ke dalam toilet, sehingga Conan menunggunya di luar.

Sekitar sepuluh menit menit Conan menunggu dan akhirnya Haibara keluar dari toilet, dia sudah tidak menangis, wajahnya agak basah, mungkin karena dia habis mencuci mukanya, tapi mata merahnya masih terlihat jelas. Conan segera menahan tangan Haibara.

"Maafkan aku, Shiho. Aku mohon, maafkan aku," Conan memohon pada Haibara yang hanya menatapnya dalam diam.

"Aku ingin kembali ke ruangan Ran-san," ucapnya dingin, sambil berusaha melepaskan tangan Conan yang masih menahannya, tidak menanggapi perkataan Conan.

Haibara sadar omongan Conan tidak salah, tapi entah kenapa dia merasa sangat sulit menerimanya.

Conan tentu saja tidak akan melepas tangan Haibara, mana tahan dia jika harus merasa bersalah karena telah menyakiti kekasihnya.

"Bisakah kita bicara lagi? Aku mohon, Shiho," pinta Conan lagi.

Haibara memejakan matanya dan menarik nafas dalam-dalam, dia mencoba menenangkan hatinya agar tidak terlalu dikuasai emosi, bukan salah kekasihnya.

'Kau yang salah, Shiho! Untuk apa kau marah? Omongan Shinichi jelas-jelas benar, kau masih merasa bersalah pada Ran!' batin Haibara.

Haibara lantas membuka matanya, tanpa menatap Conan, dia berkata, "menurutku toilet bukan tempat yang tepat untuk bicara."

"Eh? I-iya, kau benar," ucap Conan sedikit terkejut. "Bagaimana jika kita bicara di kafe rumah sakit? Kau harus menenangkan dirimu dengan secangkir teh hangat. Bagaimana, Shiho?"

"Terserah kau saja," balas Haibara masih dengan sikap dinginnya.


"Shiho, ku mohon maafkan aku," Conan masih berusaha meminta maaf pada Haibara saat mereka duduk berhadapan di kafe.

Haibara masih tak mau menatap wajah Conan, pandangannya dia pusatkan ke cangkir teh dihadapannya.

"Lihat aku, Shiho. Aku mohon."

Mendengar suara memelas Conan, mau tak mau Haibara menatapnya. Dia juga tidak tega pada kekasihnya.

"Kau benar," ucap Haibara akhirnya.

"Hah? A-aku benar? M-maksudmu apa?"

"Iya, kau benar kalau aku masih merasa bersalah pada Ran-san."

"Maafkan aku, Shiho. Sungguh. Aku tidak bermaksud seperti itu."

"Kau tidak perlu minta maaf, hipotesamu tepat, Tantei-san."

.

.

.

Hening.

Conan bingung harus bagaimana menanggapi perkataan kekasihnya.

"Lalu, apa yang akan kau lakukan? Kau ingin bilang bahwa Kudo Shinichi sudah memiliki kekasih lain dan memberitahu Ran-san bahwa dia mengalami amnesia? Kau sendiri kan yang bilang bahwa dokter melarang siapapun untuk mengembalikan ingatannya untuk saat ini?" tanya Haibara setelah lama mereka berdua terdiam.

"Tentu saja tidak, Shiho. Tapi, aku juga tidak bisa kembali padanya, walau hanya sampai dia pulih. Kau tidak bisa menyuruhku melakukan itu," bantah Conan tegas.

"Jadi, kau punya solusi yang lebih baik dari ideku?"

"Itu…" Conan terdiam karena sebenarnya dia juga belum menemukan solusi yang tepat. Otak cemerlangnya tidak terlalu berguna saat ini.

"Sudah kubilang kan, aku hanya memintamu menemaninya sampai dia pulih. Tidak secara langsung, karena saat ini kau belum bisa kembali ke tubuh lamamu. Kau hanya perlu menelepon dan membalas pesannya, sama seperti biasanya."

"Dan berbohong seolah aku masih menyukainya?"

"Bukankah bohong adalah keahlianmu?"

Pertanyaan Haibara jelas menghujam jantung Conan. Dia memang sering berbohong kepada orang-orang disekitarnya yang tidak mengetahui identitas dia yang sebenarnya, terutama pada Ran.

"Tapi aku tidak pernah berbohong tentang perasaanku padamu, Shiho!" bantah Conan lagi.

"Jangan mengalihkan topik pembicaraan! Kita saat ini sedang membahas tentang Ran-san. Bukan tentangku!" balas Haibara.

"Tentu saja ini menyangkut dirimu juga! You're my girlfriend. ONLY YOU! Aku tidak bisa berpura-pura masih menyukainya ketika dihatiku hanya ada kau, Shiho! Kenapa kau tidak mengerti juga?"

"Bukankah aku sudah jelas mengatakan bahwa kau hanya perlu menemaninya hingga dia pulih, Shinichi! Aku sangat mengerti. Aku berterima kasih kau peduli terhadap perasaanku dan tidak ingin menyakitiku, tapi kondisi kesehatannya saat ini lebih penting! Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padanya. Kau tahu kan, dia, hanya dia saat ini yang bisa membuatku terus mengingat sosok kakakku."

Conan memijat pelipisnya, wanitanya ini sangat keras kepala, sama seperti dirinya. Tidak akan ada yang mau mengalah diantara keduanya.

"Bagaimana denganmu? Apa perasaanmu tidak penting, Shiho?"

Haibara menghela napas panjang, lelakinya ini sangat keras kepala, sama seperti dirinya. Tidak akan ada yang mau mengalah diantara keduanya.

"Aku baik-baik saja, Shin. Kau masih terus bersamaku kan?"

"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku akan selalu bersamamu, Shiho," Conan menjawab dengan sedikit penekanan pada kalimatnya.

"See? It's clear now! Jangan dibuat rumit, Shin!"

"Tapi…"

"Bagaimana dengan Hondou-san? Apakah dia sudah tahu kondisi Ran-san?" tanya Haibara mengalihkan pembicaraan.

"Iya, dia bahkan- eh, tunggu. Kenapa kau tiba-tiba menanyakan tentang dia?" Conan balik bertanya karena bingung.

"Aku bertanya padamu lebih dulu," ucap Haibara sambil melipat tangan di depan dada.

Conan menatap Haibara dengan tatapan menyelidik tapi dia tetap menjawab pertanyaan Haibara. "Ran dan Eisuke mengalami kecelakaan bersama, dia juga dirawat disini, dan ya, dia tahu kondisi Ran saat ini."

"Jadi hubungan mereka juga dilupakan oleh Ran-san?" tanya Haibara lagi.

"Sepertinya aku belum mengatakan apapun mengenai hubungan mereka kepadamu," jawab Conan mengerutkan kedua alisnya.

"Aku melihat mereka berdua di taman," balas Haibara tanpa menatap Conan.

"Apa? Kapan kau melihat mereka? Kenapa tidak memberitahuku?"

Haibara tak menjawab pertanyaan Conan, apakah harus ia jawab?

"Shiho."

"Sudahlah, Shin. Lagipula kau juga sudah mengetahuinya. Kita kembali saja ke tempat Ran-san," ucap Haibara beranjak dari kursinya.

Conan mengikutinya, tidak mendesak Haibara. Dia paham betul, ditanya berapa kalipun jika Haibara tidak mau menjawab, maka percuma. Toh nanti jika kekasihnya ini sudah siap menceritakan semuanya, ia pasti akan menjawabnya.


Saat sampai di depan kamar tempat Ran dirawat, Conan membuka pintu dan melihat Ran sudah sadar dan sedang berbincang dengan kedua orang tuanya, Hakase, Sera, dan Sonoko. Mereka berdua lalu masuk ke dalam dan Ran menatap bingung ke arah Haibara.

"Ai-chan?" panggil Ran.

Haibara mendekat dan langsung menganggukkan kepalanya.

"Kau semakin cantik saja dan rambutmu sudah sepanjang ini? Padahal terakhir kita bertemu sekitar satu minggu yang lalu, rambutmu masih pendek," tanya Ran bingung.

Orang-orang yang ada di ruangan itu terdiam hanya karena pertanyaan sederhana dari Ran.

"Terima kasih untuk pujiannya, Ran-san. Aku sedang mencoba memakai hair extention. Aku melihatnya di majalah fashion favoritku dan sepertinya bagus. Bagaimana keadaanmu, Ran-san?" jawab Haibara santai.

Orang-orang yang mendengarnya menjadi sedikit tenang karena Haibara bisa menutupinya dengan baik.

"Terlihat cantik untukmu, Ai-chan," ucap Ran sambil tersenyum. "Dan aku sudah merasa lebih baik setelah tidur tadi."

Setelah hampir dua jam disana, Hakase dan Haibara pamit, Conan juga mengikuti mereka untuk pulang karena besok Conan harus masuk sekolah setelah hari ini dia membolos. Sedangkan Sera dan Sonoko dipaksa pulang oleh Ran. Alasannya, dia ingin menikmati momen kebersamaan dengan kedua orang tuanya dan sebenarnya Ran juga tidak tega melihat gurat kelelahan di wajah teman-temannya itu. Ran memang tidak mengenal Sera, lebih tepatnya melupakan Sera, karena Sera belum muncul saat itu, sehingga Sera memperkenalkan dirinya lagi pada Ran dan entah kenapa Ran langsung merasa akrab padanya, seperti sudah mengenal lama. Jadilah hanya Kogoro dan Eri yang menunggu Ran disana.

Sera dan Sonoko juga tidak langsung pulang, mereka berdua menemui Eisuke untuk mengetahui kondisi lelaki itu lagi. Bagaimanapun, Eisuke adalah teman mereka juga. Apalagi Eisuke hanya sendirian dan kejadian Ran membuat dia sangat shock. Jadilah, mereka berdua menjenguk lelaki itu sebelum pulang.


"EHHEMMM…" Hakase memecah keheningan yang terjadi di dalam mobil.

Conan yang duduk di sebelah Hakase menoleh ke arah Profesor tua itu. Sedangkan Haibara masih tetap memandangi jalanan dari jendela di sampingnya, tidak peduli.

"Ada apa, Hakase?" tanya Conan.

"Jadi sudah berapa lama kalian… hmmmberpacaran?" Hakase balik bertanya, sehingga membuat Conan sedikit terkejut. Haibara yang awalnya tidak peduli, juga ikut terkejut dan melihat ke arah Hakase dari belakang.

"P-pertanyaan macam apa itu, Hakase? B-bagaimana mungkin aku dan Haibara… berpacaran?" tanya Conan sembari melirik ke arah Haibara, wajahnya sedikit memerah. Conan sebenarnya tidak ingin menyangkalnya, tetapi Haibara memintanya untuk tetap merahasiakan hubungan mereka. Padahal Conan sangat ingin semua orang tahu kalau dia berpacaran dengan Haibara.

'Kalau ekspresimu seperti itu justru makin mencurigakan, bodoh!' umpat Haibara dalam hati sambil memberikan death glare ke kekasihnya itu.

"Sudahlah, tidak usah berkelit. Aku juga pernah muda. Aku pernah mengalami hal-hal seperti itu. Tapi jujur saja aku kecewa dengan kalian berdua. Kenapa kalian merahasiakan ini dariku? Apa aku terlihat seperti orang yang tidak bisa dipercaya?"

Ucapan Hakase membuat Haibara merasa bersalah.

"Maafkan aku, Hakase. Aku bukan tidak mempercayaimu, hanya saja aku belum siap memberitahukanmu tentang ini."

"Ai-kun, kau sudah kuanggap sebagai anakku sendiri, jadi kau tidak perlu merasa sungkan untuk menceritakan apapun kepadaku. Dan kau, Shinichi, padahal aku sudah mengenalmu dari kau kecil, kenapa kau tidak memberitahuku? Ckckck…"

Belum sempat Conan berbicara, Haibara sudah terlebih dahulu menjawabnya.

"Aku yang melarangnya, Hakase. Tolong rahasiakan ini dari Shonen Tantei-dan ya."

"Baiklah, tapi ku harap kalian bisa menahan diri untuk tidak terlalu bermesraan saat berdua saja. Walaupun usia kalian yang sebenarnya sudah memasuki dua puluhan, tapi fisik kalian masih terlihat seperti anak sekolah dasar, jadi jangan sampai lupa diri. Hahaha…"

"A-APA?"

.

.

.

To Be Continued…


A/N: Sorry for the bad ending, because I've been attacked by this mf writer's block. No excuse. LOL! Ku sudah berencana buat chapter selanjutnya tapi chapter ini stuck di pertengahan menuju ending, jadilah bad ending! But, it's ok. Ku sudah membuat konflik yang lebih seru untuk chapter selanjutnya. Semoga kalian tetap mau membaca chapter ini hehehe.

Btw, ada yang ku ubah sedikit. Penulisan nama, jadi nama keluarga di depan dan nama kecil di belakang, sesuai standard penulisan nama yang benar dari Jepang. Lalu aku ubah panggilan Ai ke Ran dari Mouri-san jadi Ran-san biar gak bingung aja sama bapaknya hahaha. Udah sih segitu aja.

Jangan lupa juga untuk baca ceritaku yang lain: l' espérance

Oh iya please tinggalin review di cerita ini dan ceritaku yang lain, biar aku tau kalau misal ceritaku ada yang kurang bagus penulisannya, atau sudah cukup memuaskan kalian atau belum sebagai pembaca, pokoknya reviewnya ditunggu ya. Ku baca fic English version, yang ngereview panjang-panjang banget, tapi justru itu yang bikin author lebih semangat buat berkarya, karena berarti tulisannya benar-benar dibaca. Gapapa kalau reader di fic aku ngereview pendek pun gapapa, yang penting aku tau kesan kalian sama fic aku bagaimana. Please.

Thank you so much.