Balas komen dulu deh

Guest (ku tak tau namamu): Hakase diam-diam menghanyutkan, suka menggoda mereka berdua. Tipikal bapak-bapak yang suka buat dad jokes demi bisa berbaur sama anak muda wkwkwk.

ShiroiKun: Tentu saja ku ingat detail itu hahaha hampir bingung juga sih masukin plot Sera ke Ran dibagian mana, untungnya bisa disambung-sambungin (the power of kepepet).

Zaleha2005: Terima kasih yaa sudah mau membaca fic aku *colorful love emoji*


DISCLAIMER: Aoyama Gosho, pemilik sah hak cipta Detective Conan. Daku hanya reader kentang karya beliau dari kelas 3 SD yang sangat menyukai chemistry ConanXAi atau ShinichiXShiho. Maaf aku terjangkit Second Lead Syndrome!

WARNING: OOC, Typo, Plot lebay, maksa, cringey, dan ngebosenin hahahahaha.

A/N: Aku mau minta maaf karena timeline ceritanya kurang jelas dari awal, trus aku sendiri jadi bingung. Jadi akan kuputuskan mulai dari Chapter ini, anggaplah mereka sedang ada di bulan Maret-April. Jadi di Beika sedang musim semi. Mohon maaf banget kesalahan dari aku sejak awal. LOL!


HEART

CHAPTER 12

MOMENTUM


Ran sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit setelah dua minggu berada di rumah sakit. Selama di RS, Sonoko dan Sera bergantian dengan Kogoro dan Eri untuk menjaga Ran. Conan, Haibara, dan Hakase juga sering berkunjung untuk menjenguk, Shonen Tantei-dan juga kadang-kadang ikut menjenguk Ran. Eisuke setiap hari datang menjenguk Ran, walau terkadang Ran bingung kenapa Eisuke begitu perhatian padanya, tapi Ran tidak berpikir terlalu jauh. Yang tidak Ran ketahui, sebenarnya setelah Eisuke pamit dari hadapan Ran, dia tetap menunggu di depan kamar Ran, memperhatikan Ran dari jauh secara diam-diam. Semua orang kecuali Ran tahu akan hal ini, tapi mereka juga tidak bisa berbuat apapun, kondisi Ran masih menjadi prioritas utama. Hatinya sedih bukan main melihat kekasihnya tidak mengingat apapun tentang hubungan mereka, tetapi Eisuke sudah berjanji pada dirinya sendiri setelah mendengar perkataan Conan dan Sera, dia akan membuktikan jika dia adalah orang yang istimewa bagi Ran.

Selama dua minggu itu pula Ran tidak berhenti menanyakan Shinichi, lewat pesan yang ia kirim dari ponsel pemberian Shinichi dulu –Ran memang sudah tidak menggunakannya lagi setelah berpacaran dengan Eisuke dengan alasan ponsel tersebut sudah rusak, walau yang sebenarnya dia hanya tidak ingin terus terkenang dengan Shinichi dan untungnya Sonoko tahu kalau Ran masih menyimpannya di kamarnya. Dia terus menanyakan kapan Shinichi akan kembali atau minimal menemuinya di rumah sakit, tapi Shinichi tetap tidak bisa datang dan terus meminta maaf pada Ran.

Conan yang notabene adalah Shinichi, selalu menunjukkan pesan yang dikirim Ran ke Haibara. Haibara tidak pernah meminta Conan melakukan itu, tapi setidaknya Conan ingin menjaga perasaan kekasihnya. Seperti hari ini.

DRRRTTT…

One Message From: Ran

Shinichi, hari ini aku sudah boleh pulang ke rumah, tidak bisakah kau menjengukku ke rumah nanti? Shinichi no baka! Kau bahkan tidak menemuiku di rumah sakit!

Conan yang sedang makan siang di sekolahnya membaca pesan tersebut dan lagi-lagi menunjukkannya kepada Haibara.

Sambil mengerutkan alisnya, Haibara menerima ponsel dari Conan dan membaca pesan tersebut.

'Lagi-lagi meminta bertemu,' ucapnya dalam hati.

"Hmmm… Kau membaca pesan dari siapa, Ai-chan? Kenapa Conan-kun hanya memberitahukannya kepadamu?" tanya Ayumi yang penasaran karena melihat Haibara memegang ponsel Conan.

"Apa ada hubungannya dengan kasus?" kali ini Mitsuhiko yang bertanya.

"Wah, kau pelit sekali, Conan! Kau hanya membagi infonya kepada Haibarasaja!" Genta melayangkan protes.

"Bukan tentang kasus. Ran-neechan memberitahuku kalau dia akan pulang hari ini," jawab Conan.

"Benarkah, Conan-kun? Apakah kita boleh menemuinya di rumahmu?" tanya Ayumi lagi dengan mata yang berbinar.

"Sebaiknya kalian jangan menemui Ran-san dulu untuk hari ini. Dia baru saja pulang dari rumah sakit, dia masih butuh istirahat. Masih ada hari lain kan?" Haibara menjawab pertanyaan Ayumi.

"Baiklah, Ai-chan. Apakah Ran-neechan masih mengalami a-a-a…"

Ucapan Ayumi yang tergagap tidak terselesaikan karena Mitsuhiko langsung membantunya.

"Amnesia! Iya, apakah Ran-oneesan masih mengalami Amnesia, Conan?"

"Masih, Ran-neechan masih belum mengingat kejadian empat tahun terakhir ini. Dokter juga masih belum memperbolehkan siapapun untuk mengembalikan ingatannya karena kondisi Ran-neechan yang terkadang masih terserang sakit kepala hebat," jawab Conan menerawang, mengingat kejadian sekitar seminggu yang lalu saat Ran sedang duduk di taman rumah sakit bersama Sonoko dan Sera, lalu tiba-tiba Ran mengalami sakit kepala hebat disertai mimisan dan berakhir tak sadarkan diri. Ketika Ran sudah sadar, dia bilang dia mengingat sesuatu tentang kecelakaan yang menimpanya dimana saat itu dia sedang bersama seseorang, tapi dia tidak bisa mengingat wajah orang itu dengan jelas, dan memori yang muncul walau hanya samar-samar tersebut masih membuat kepala Ran sakit hingga dia mengalami collapse lagi. Oleh karena itu, Dokter masih belum mengijinkan siapapun untuk membahasnya dengan Ran.

"Kalau begitu, bisakah kita main ke tempat Hakase nanti atau main bola di taman? Aku bosan karena akhir-akhir ini tidak terlalu banyak permintaan kasus yang datang ke kita," tanya Genta sambil menyendok penuh nasi dan karenya.

"Jangan dibiasakan makan sambil berbicara, Kojima-kun!" perintah Haibara memelototi Genta. "Hakase pagi ini pergi ke sebuah konferensi, jadi sepertinya seharian ini dia tidak ada di rumah. Kalau kalian ingin main bola, aku tidak ikut. Aku ada urusan."

"Urusan apa?" tanya Conan penasaran.

Haibara menatap Conan dengan malas, lalu kembali fokus pada makan siangnya, tidak menjawab pertanyaan Conan.

Conan tentu saja semakin penasaran, ditahannya tangan Haibara yang sedang menyendok makanan, "oi, oi, urusan apa? Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?"

Ayumi dan Mitsuhiko sedikit cemburu melihat Conan memegang tangan Haibara, Genta tidak peduli dan tetap melanjutkan makan siangnya.

Haibara meletakkan sendoknya, lalu menepis tangan Conan, "rasa ingin tahumu terhadap urusanku sangat besar ya, Tantei-kun?" ucapnya sambil memberikan death glare khasnya. 'Ugh, detektif tidak peka! Lihat anak-anak di depanmu itu, kelakuanmu membuat mereka cemburu! Lagipula urusanku juga menyangkut dirimu, bodoh!'

"Tentu saja, kau kan ke- AWWWW!"

"Edogawa-kun, kau kenapa?" tanya Kobayashi Sensei setelah mendengarkan teriakan Conan.

"T-tidak apa-apa, Sensei. Kakiku terantuk meja," jawab Conan sambil mengusap-usap kakinya yang sebenarnya baru saja ditendang oleh Haibara, tepat di tulang keringnya.

"Kau benar tidak apa-apa, Conan-kun?" tanya Ayumi sedikit cemas.

"Aku baik-baik saja, Ayumi. Hanya sedikit nyeri," jawab Conan lagi sambil melirik ke arah Haibara dari sudut matanya.

Sementara yang dilirik masih cuek melanjutkan makan siangnya.

'Huh, cold hearted princess!' umpat Conan dalam hati.

Seolah bisa membaca pikiran Conan, Haibara balas melirik Conan.

'Huh, dense detective!'

Makan siang pun berakhir dengan tenang, Conan tidak lagi 'mengganggu' Haibara, sedangkan Shonen Tantei-dan atau lebih tepatnya Ayumi dan Mitsuhiko tidak terlalu memikirkan kejadian saat Conan memegang tangan Haibara –benarkah begitu?


"Bisakah kau berhenti menatapku dengan wajah masammu itu, Shin?" tanya Haibara yang kesal karena sedari pulang sekolah hingga diperjalanan, bahkan saat mereka berdua telah berpisah dari Shonen Tantei-dan, Conan tidak berhenti menatap Haibara sambil cemberut dan terkadang menggerutu sendiri.

"Kau tidak menjawab pertanyaanku tadi dan malah menendang kakiku!"

"Kalau aku tidak melakukan itu, kau pasti akan membocorkan rahasia kita, bodoh!" Haibara ber-face palm.

"I-itu…" Conan menggaruk pipinya yang tidak gatal

Haibara meninggalkan Conan dengan ekspresi bodohnya itu sendirian. Bagaimana dia bisa bilang kepada kekasihnya itu kalau dua minggu terakhir ini dia sedang mengembangkan prototype antidote APTX4869 agar bisa bertahan lebih lama? Kalau dia memberitahukan Conan, sudah pasti Conan akan melarangnya, apalagi jika Conan tahu dia membuat ini agar Conan bisa kembali menjadi Shinichi untuk menemui Ran. Aneh memang, dia membuat kekasihnya menemui wanita lain, cinta pertama kekasihnya, tapi Haibara menganggap ini sebagai salah satu penebusan dosa atas rasa bersalahnya pada wanita itu.

"Chotto matte yo, Shiho!"


"Apakah kau tidak menemui gadis itu? Kenapa kau malah mengikutiku?" Haibara mengerutkan alisnya ketika melihat Conan hendak mengikutinya masuk melalui gerbang rumah Hakase.

"Ran masih ada di rumah sakit, dia akan pulang mungkin sore nanti. Aku akan menemuinya saat di rumah saja, lagipula Sonoko, Paman, dan Bibi ada disana menemani Ran, jadi lebih baik aku disini menemanimu," jawab Conan mendahului langkah Haibara dan mengambil kunci rumah Hakase dari tangan Haibara, kemudian membuka pintu rumah itu.

"Siapa yang mengijinkanmu masuk?" tanya Haibara sambil berkacak pinggang.

Tidak menjawab pertanyaan Haibara, Conan langsung melempar tasnya ke atas meja ruang tamu dan dia melempar dirinya sendiri ke sofa di belakangnya lalu menyalakan TV.

Haibara hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kekasihnya itu. Dia lalu masuk ke kamarnya untuk menaruh tasnya.

"Setidaknya cucilah tanganmu dulu, Shin! Kau ini jorok sekali!" ucap Haibara saat dia ada di dapur untuk membuat kopi.

Conan masih tidak merespon omongan Haibara dan malah sibuk mengganti channel TV.

"Terserah kau saja!" ucap Haibara lagi sedikit kesal kemudian melanjutkan membuat kopinya.

Conan bangkit dari posisinya dan berjalan menuju ke dapur, dia mencuci tangannya di wastafel yang ada di dapur, setelah itu ia mendekati Haibara dari belakang dan memeluknya.

"Kudo-kun!" Haibara terkejut karena Conan tiba-tiba memeluknya hingga dia refleks memanggil nama keluarga Conan.

"Shinichi, Shiho. SHI-NI-CHI! Aku tidak suka kau memanggil ku Kudo, aku merasa jauh darimu saat kau memanggilku seperti itu," ucap Conan semakin mempererat pelukannya dan malah mendaratkan dagu di atas pundak Haibara hingga Haibara merinding karena merasakan hembusan napas Conan di lehernya.

"Aku merindukanmu, Shiho." Ucap Conan lagi.

"Kau ini aneh sekali. Setiap hari kita bertemu dan kau masih bilang merindukanku?"

"Aku melihatmu setiap hari, tapi tak pernah bisa memelukmu seperti ini. Bahkan kita hampir tak punya kesempatan untuk bicara berdua saja. Seperti sekarang."

Conan mencium di pipi Haibara.

"Pervert!"

"Biar saja! Aku seperti ini juga hanya kepadamu!"

Haibara memutar bola matanya, 'boys and their hormones!'

"Aku sedang membuat kopi, Shin. Kau mau aku terkena air panas?"

"Kau bisa membuatnya nanti," jawab Conan yang kemudian meletakkan gelas yang sedang dipegang Haibara ke meja dan memutar tubuh Haibara agar berhadapan dengannya.

"Sh-Shinichi…" ucap Haibara gugup setelah menatap mata Conan yang bahkan ia sendiri tak mampu mengartikannya.

"Aku selalu merasa bersalah padamu saat harus berpura-pura dengan Ran," ucap Conan sambil membelai rambut Haibara yang halus dan pipi Haibara yang lembut lalu ia menangkup wajah Haibara. "Maafkan aku, Shiho."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Conan semakin mendekatkan wajahnya dan mendaratkan ciuman di bibir Haibara, kali ini bukan hanya sekadar ciuman singkat seperti yang pernah mereka lakukan dulu, tapi kali ini terasa lebih berat dan dalam. Conan mencurahkan seluruh perasaannya dalam ciuman itu, Haibara tak mampu dan tak ingin menolaknya.

Conan melepas ciumannya setelah mereka berdua hampir kehabisan napas, tersengal-sengal dengan pipi yang masih memerah, mereka berdua saling menatap kemudian tertawa bersama.

"Kau tidak perlu meminta maaf, Shin," kali ini Haibara yang membelai pipi Conan.

Conan kemudian meraih tangan Haibara dan mencium jemarinya satu per satu. "Terima kasih, Shiho. Aku mencintaimu."

"Aku tahu."

"Shiho!" Conan mengerucutkan bibirnya.

"Apa?" tanya Haibara pura-pura tidak tahu.

"Kenapa kau tidak membalas pernyataanku?" Conan melayangkan protesnya.

"Haruskah? Kau kan sudah tahu perasaanku," jawab Haibara dengan nada sarkastiknya. Tidak ada yang lebih seru dari menggoda kekasihnya sendiri.

"Aku ingin mendengarnya lagi darimu!" protes Conan lagi.

"Tidak mau! Bisakah kau menyingkir? Aku ingin melanjutkan membuat kopi!" Haibara kembali untuk membuat kopinya.

"Huh!Kau benar-benar tidak manis sama sekali!" Conan melipat tangan di depan dada dan menatap punggung Haibara dengan tatapan kesal.

"Ara… Bukankah kau juga sudah tahu tentang itu?" Haibara menoleh ke arah Conan sambil memperlihatkan seringaiannya.

"Ya, ya, aku tahu. Kau memang tidak manis, perusak suasana, cold hearted princess, evil-eyed yawny girl," jawab Conan hingga membuat Haibara kembali membalikkan badannya untuk memberikan death glare pada Conan.

"Tapi aku tetap mencintaimu," ucap Conan lagi sambil memeluk pinggang Haibara dan mencoba menciumnya lagi, tapi…

Cklek…

Suara pintu yang dibuka seseorang menghentikan aktivitas Conan, membuat Conan dan Haibara terkejut dan menjadi salah tingkah. Haibara dengan canggung melanjutkan membuat kopinya, sedangkan Conan yang kikuk berjalan ke arah kulkas, seolah mereka tidak melakukan apapun yang mencurigakan.

"Tadaima. Ai-kun, kau ada di rumah? Pintu depan tidak dikunci, jadi aku langsung masuk," Hakase melangkah masuk dari pintu depan.

"Okaeri. Kupikir kau akan pulang malam, Hakase," balas Haibara sudah berhasil mengendalikan ekspresinya.

"Alat yang kubuat tiba-tiba meledak, jadi aku pulang untuk memperbaikinya."

Haibara hanya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Hakase.

"Meledak lagi? Minggu ini kau sudah meledakkan tiga penemuanmu, Hakase. Ha… Ha… Ha…" kali ini Conan yang berbicara sambil sweatdrop.

"Kau ada disini juga Shinichi? Kupikir kau ada di rumah sakit," Hakase sedikit terkejut ketika melihat Conan muncul dari balik pintu kulkas. "Aku juga tidak mengerti, padahal aku sudah melakukan pengecekan ulang, tetap saja masih ada kesalahan yang tidak aku ketahui!" ucap Hakase setengah frustasi mengingat hasil penemuannya selalu mengalami kegagalan.

"Hari ini Ran pulang, jadi aku akan menunggu dia di rumah saja, lagipula sudah ada Sonoko, Paman, dan Bibi disana," jawab Conan mendekati Haibara setelah mengambil sekotak jus apel dari kulkas.

"Oh, syukurlah jika dia sudah diperbolehkan pulang. Aku akan memperbaiki penemuanku ini," ucap Hakase yang kemudian hendak meninggalkan mereka menuju laboratorium pribadinya.

"Hmmm… kalian tidak terlalu bersenang-senang kan sebelum aku datang? Sudah kubilang, kalian harus sedikit menahan diri, jadi saat aku ada di laboratorium nanti…" goda Hakase yang omongannya tidak terselesaikan karena dua orang remaja yang terperangkap dalam tubuh anak SD ini keburu meneriakinya.

"HAKASE!"


04.20 P.M.

Ran beserta orang tuanya dan Sonoko turun dari taksi di depan kantor detektif Mouri Kogoro. Conan yang sudah ada disana segera membuka pintu dan menghampiri mereka.

"Okaeri, Ran-neechan," ucapnya dengan senyum khas anak kecil yang biasa dia tunjukkan di depan orang-orang.

"Tadaima, Conan-kun. Aku rindu sekali dengan kamarku!"

Mereka segera masuk ke dalam kantor Kogoro.

"Bagaimana keadaanmu hari ini, Ran-neechan?" tanya Conan.

"Jauh lebih baik. Aku senang bisa pulang ke rumah, berada di rumah sakit selama itu rasanya membosankan, tapi tetap saja si bodoh maniak misteri itu tidak datang menemuiku! Baka!" jawab Ran dengan muka kesalnya.

Conan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bagaimana bisa Shinichi menemuinya?

"Ran, sebaiknya kau kembali ke kamar ya. Dokter bilang kau masih butuh istirahat," Eri mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Iya, Ran. Aku temani kau ke kamar ya," ajak Sonoko.

Ran menurut dan keluar dari kantor Kogoro menuju ke kamarnya.

"Eisuke-niichan tidak ikut mengantar Ran-neechan?" tanya Conan pada Kogoro dan Eri.

"Kemarin malam dia kembali ke Amerika untuk mengurus cuti kuliahnya, dia bilang mungkin tiga sampai lima hari lagi dia akan kembali ke Jepang, jadi dia tidak bisa mengantar Ran pulang" jawab Kogoro.

"Oh, begitu," ucap Conan sambil menganggukan kepalanya.

"Aku ingin memesan makanan untuk makan malam. Kau ingin makan apa, Conan-kun? Maaf kami jadi tidak mengurusmu selama Ran ada di rumah sakit," tanya Eri.

"Tidak apa-apa, Obachan. Selama Ran-neechan di rumah sakit, Hakase dan Haibarasudah mengurusku dengan baik. Aku akan makan apapun yang Obachan belikan untukku," jawab Conan.

"Hooo… Kelihatannya selama ini pacarmu itu mengurusmu dengan baik. Baguslah! Setelah Ran mulai kuliah, dia jadi jarang pulang ke rumah, aku juga tidak bisa memasak, makanan instant tidak baik untuk pertumbuhanmu. Apa kau juga berencana pindah ke rumah Profesor tua itu? Sepertinya beberapa bulan terakhir kau lebih banyak menghabiskan waktumu disana daripada di rumah ini," goda Kogoro sambil tersenyum lebar, ciri khasnya ketika sedang menggoda seseorang.

"Oh sudah kuduga kau dan gadis di rumah Agasa-san itu memang memiliki hubungan istimewa," tambah Eri.

Wajah Conan memerah mendengar dua orang dewasa itu menggodanya, "P-pacar? S-siapa yang berpacaran dengan Haibara? Ha… Ha… Ha… Kalian pasti bercanda! Hubunganku dengan Haibara tidak seperti itu."

"Kau mau mencoba membohongi Detektif terkenal sepertiku, bocah?"

"Aku jadi teringat pertemuan pertamaku dengan anak Yukiko, dulu dia juga malu-malu saat ku panggil dia sebagai calon menantuku, dan ekspresinya mirip sekali denganmu, Conan-kun."

"A-aku mau mengerjakan PR dulu. Selamat sore, Ojiichan, Obachan."

Kogoro dan Eri hanya bisa menahan tawa melihat Conan yang salah tingkah meninggalkan mereka berdua.


Sudah hampir satu bulan sejak Ran diperbolehkan pulang ke rumah, dia masih menjalani terapi di Neurologist rujukan dari rumah sakit tempat Ran dirawat sebelumnya. Belum banyak kemajuan yang berarti karena setiap Ran mencoba mengingat atau saat tidak sengaja memorinya mengingat kejadian yang ia lupakan, rasa sakit kepala yang sangat hebat akan menyerangnya, walaupun Ran sudah jarang pingsan, tapi rasa sakit tetap saja membuatnya menderita.

Ran memang mulai memahami bahwa memorinya selama empat tahun terakhir menghilang, walau awalnya agak sulit untuk Ran menerimanya karena dia merasa dirinya masih menjadi murid SMA berusia 17 tahun, bukan seorang mahasiswi berusia 21 tahun. Secara perlahan, Ran mulai menerima perubahan-perubahan yang terjadi disekitarnya karena empat tahun sudah berlalu, bukan seperti di ingatan Ran yang terhenti di empat tahun sebelumnya. Neurologist juga sudah menginstruksikan keluarga dan sahabat-sahabat Ran untuk mulai menunjukkan kenangan yang Ran lupakan, tapi tetap tidak boleh terlalu memaksanya, jika Ran sudah mulai menunjukkan tanda-tanda sakit kepala, maka mereka harus berhenti untuk melakukannya.

Seperti ketika Sonoko pelan-pelan menunjukkan foto-foto kenangan masa SMA mereka pada Ran.

*FLASHBACK*

"Ini foto kita saat kita menaiki kereta misteri, ini saat kita pergi karaoke, ini saat kita ke festival musim panas, dan ini study tour di Kyoto, Ran."

Sonoko menunjukkan foto-foto mereka bertiga pada Ran.

"Ini Sera-san kan?" tanya Ran setelah melihat foto itu.

"Iya, kau sebenarnya sudah mengenal Sera, dia murid pindahan di kelas 2 dulu, Ran. Kita bertiga sangat dekat."

"Benarkah? Pantas saja aku sudah merasa akrab dengannya saat pertama kali melihatnya di rumah sakit dulu. Aku jadi merasa bersalah dengannya karena tidak bisa mengingatnya."

"Tidak apa-apa, Ran. Sera memahami itu."

*FLASHBACK END*

Bagaimana dengan Eisuke?

Eisuke sudah kembali dari Amerika setelah mengurus keperluan cuti kuliahnya, dia juga sudah memberitahukan kakaknya tentang ini, dan kakaknya memberikan dia tempat tinggal sementara di Jepang. Eisuke masih terus menemui Ran setiap hari dan menemaninya saat menjalankan terapi. Kogoro mengatakan pada Ran bahwa Eisuke bekerja sebagai asistennya untuk menangani kasus jadi Eisuke setiap hari akan berada di Kantor Kogoro.

Ran masih belum mengingat hubungan mereka. Eisuke juga masih dengan sabar menunggu Ran mengingatnya, dia rela menahan cemburu saat Ran masih membahas Shinichi dan tidak mengingat bahwa Eisuke adalah kekasihnya, daripada harus melihat Ran mengalami kesakitan saat memori-memori itu tiba-tiba muncul.

*FLASHBACK*

"Apa selama empat tahun ini hubunganku dengan Shinichi baik-baik saja, Sonoko?"

Ran bertanya pada Sonoko saat dia sedang dalam perjalanan untuk terapi bersama Sera dan juga Eisuke.

"Apa maksudmu, Ran?"

Sonoko bertanya balik, sedikit terkejut, dia melirik ke arah Eisuke yang sedang menyetir mobil di depan.

Sera yang ada di sebelah Eisuke juga cukup terkejut dan melakukan hal yang sama seperti yang Sonoko lakukan, melirik ke arah Eisuke.

Sedangkan Eisuke tetap menjaga ekspresinya, namun tangannya mencengkram kemudi dengan kuat, menjadikan kemudi itu pelampiasan rasa cemburu yang tidak bisa ia ungkapkan.

"Kau tahu, itu… berpacaran? Sepertinya hubungan kami belum mengalami kemajuan ya?" tanya Ran lagi.

"Kau dan dia memang sampai saat ini masih sebatas sahabat, Ran. Lagipula…"

Belum selesai Sonoko menjawab pertanyaan Ran, Ran sudah memotong jawabannya.

"Sudah kuduga! Pantas saja aku merasa hubunganku dengannya masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berbeda. Kenapa seperti itu ya, Sonoko? Apakah pernyataannya saat di London belum cukup meyakinkanku?" ucap Ran sambil menopang dagu, dan tiba-tiba dia seperti teringat akan sesuatu. "Eh?"

"Ada apa, Ran?" Sonoko menyadari perubahan ekspresi Ran.

"A-aku baru ingat, Sonoko! Dia sama sekali belum memintaku menjadi kekasihnya. J-jadi mungkin ini yang membuat hubunganku dengannya masih sama seperti dulu! Apakah selama empat tahun ini dia pernah menemuiku, Sonoko?" jawab Ran, iris violetnya membulat sempurna.

"Hmmm… beberapa kali, hanya sebentar dan dia langsung pergi, tapi sepertinya aku terakhir bertemu dengannya dua atau tiga tahun lalu, Ran. Mungkin saja dia menemuimu tanpa ku ketahui. Apakah kau pernah bertemu dengannya, Sera?" Sonoko menjawab seadanya.

"Aku belum pernah bertemu dengannya. Study tour ke Kyoto pun dia tidak ikut, jadi aku tidak bisa bertemu dengannya," jawab Sera.

"Sera-chan belum pernah bertemu dengan Shinichi? Sayang sekali padahal sepertinya kalian akan cocok menjadi partner, kalian kan sama-sama detektif."

Ran tidak tahu bahwa Shinichi sudah menemukan partner sesungguhnya, baik dalam menangani kasus maupun dalam kehidupan sehari-hari detektif itu. Hanya Sera dan Eisuke yang tahu kebenarannya.

"Sepertinya kasus yang dia tangani sangat sulit, Ran," ucap Sera.

"Yah, sepertinya begitu. Kalau kau bagaimana, Eisuke? Apakah kau pernah bertemu dengannya saat di Amerika?"

Eisuke yang sedari tadi hanya diam mendengarkan kekasihnya menanyakan keberadaan pria lain sedikit terkejut ketika justru kekasihnya bertanya langsung padanya.

"Hah? Oh, t-tentu saja belum pernah, Ran. Keseharianku disana hanya diisi dengan kuliah dan kerja paruh waktu, dan selama itu aku belum pernah bertemu dengannya."

"Sepertinya kau sibuk sekali disana ya. Apa kau tidak punya pacar, Eisuke? Kau ini kan pintar dan wajahmu lumayan tampan, pasti banyak wanita yang mengejarmu," Ran malah menggoda Eisuke.

Sera dan Sonoko melihat ke arah Eisuke, sedangkan Eisuke menatap lurus ke jalan, dia ingin sekali memberitahukan Ran semuanya, tentang hubungan mereka, tentang rencana-rencana masa depan mereka, tapi jika ia melakukan itu, ia takut Ran akan mengalami collapse lagi. Ia memilih diam.

"…"

"Ah, maaf, Eisuke. Aku hanya bercanda."

Ran merasa tidak enak karena Eisuke tidak meresponnya dan mengira Eisuke tidak menyukai perkataannya.

"Sebenarnya aku sudah punya pacar, kami menjalani hubungan jarak jauh, aku berniat melamarnya saat lulus kuliah nanti."

Eisuke memberikan jawaban tersirat dari pertanyaan Ran.

Sonoko dan Sera kompak mengangkat kedua alisnya karena mereka mendengar rencana Eisuke untuk melamar Ran.

"Benarkah? Waah… Aku senang sekali mendengarnya! Menjalani hubungan jarak jauh memang sulit, kau dan kekasihmu harus sama-sama saling percaya agar tidak terjadi kesalahpahaman yang bisa menimbulkan pertengkaran. Kalau dipikir-pikir, sepertinya aku juga menjalani hubungan jarak jauh dengan Shinichi dan sudah berjalan empat tahun walau aku belum menjawab pernyataannya. Aku ingin bertemu dengannya sekali saja, aku… merindukannya."

Ran tertunduk sedih.

"Ano… Ran, apakah kau mau ke Café X nanti setelah selesai terapi? Aku dengar cheesecake disana enak sekali, bahkan sudah banyak di review oleh vlogger-vlogger terkenal."

Sonoko berusaha mengalihkan topik pembicaraan karena suasana yang mulai tidak kondusif.

"Wah, sepertinya enak. Aku jadi tidak sabar mencicipinya."

Sera membantu Sonoko.

"Hmmm… Ide yang bagus! Tidak ada salahnya jalan-jalan sebentar setelah sesi terapi yang panjang. Aku jadi ingat saat kita bertiga pergi karaoke dulu bersama Conan-kun juga, sayang sekali Sera-chan belum pindah ke Teitan. Hihihi… terasa seperti mengulang masa-masa SMA."

Syukurlah perhatian Ran bisa teralihkan.

Saat Ran sedang menjalani sesi terapinya, Sonoko dan Sera bertanya lagi pada Eisuke tentang rencana Eisuke yang akan melamar Ran.

"Apa benar perkataanmu tadi di mobil bahwa kau akan melamar Ran saat kalian sudah lulus kuliah nanti?"

"Iya, aku sudah membicarakannya dengan Ran. Sebenarnya kami juga akan memberitahukan rencana ini pada orang tua Ran, tapi pengemudi mobil sialan itu mengacaukan semuanya!" jawab Eisuke sedikit emosi mengingat kejadiaan saat itu.

Sera memberikan sebuah saran untuk Eisuke.

"Kalau begitu, sepertinya kau harus pelan-pelan memberitahu Ran tentang hubungan kalian atau kau bisa meminta bantuan Kudo-kun untuk…"

Tapi Eisuke langsung memotong perkataan Sera.

"Aku tidak butuh bantuan detektif sombong itu!"

"Aku sebenarnya juga tidak menyukai detektif bodoh itu, tapi ide Sera tidak ada salahnya untuk kau coba, Eisuke," Sonoko menimpali.

"Cih, anggaplah aku setuju, lalu bagaimana caranya dia bisa membantuku? Sudah empat tahun dia tidak kembali, tidak bisa diharapkan!"

Eisuke menanggapi dengan sinis, dia sendiri tahu keberadaan Kudo Shinichi, dekat sekali dengan Ran. Dia juga tahu detektif itu sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadap Ran. Mungkin detektif itu juga akan membantu Eisuke karena situasi ini juga sama-sama menyulitkannya, tapi bagaimana caranya? Detektif itu masih dalam wujud anak kecil. Bagaimana caranya dia bisa membantu Eisuke?

"…"

"…"

Hening,

Sonoko dan Sera belum menemukan jawabannya. Sera yang tahu akan kondisi Shinichi juga tidak yakin bahwa Shinichi akan kembali untuk saat ini. Haibara Ai atau Sherry belum menemukan antidote permanen yang bisa mengembalikan tubuh mereka semula. Rumit sekali.

"Kita bicarakan lagi nanti, oke?"

Eisuke menutup pembicaraan dan fokus pada ponselnya.

*FLASHBACK END*

Sedangkan Kogoro dan Eri memutuskan agar Ran cuti kuliah hingga kondisinya pulih sepenuhnya. Mereka ingin putri semata wayangnya ini fokus pada penyembuhannya terlebih dahulu.


DRRRTTT… DRRRTTT… DRRRTTT…

Conan yang sedang menonton pertandingan sepak bola dengan Haibara dan Shonen Tantei-dan mengecek ponselnya yang bergetar, tanda ada panggilan masuk.

'Bukan disini, berarti…' Ia menyadari bahwa itu bukan dari ponsel Conan, tapi dari ponsel Shinichi dan Conan sudah bisa menduga siapa yang meneleponnya.

Conan lantas berbisik pada Haibara, "Ran meneleponku."

Haibara memberi isyarat agar Conan segera pergi ke tempat yang sunyi untuk menjawab panggilan dari Ran.

"Moshi-moshi…" jawab Conan dengan suara Shinichi.

"Shinichi, kau sedang sibuk?"

"Yah, begitulah. Ada apa, Ran?" tanya Conan.

"A-aku…"

"Hmmm… Kau kenapa? Kepalamu terasa sakit lagi?" tanya Conan lagi karena suara Ran terdengar terbata-bata.

"Ah tidak, aku baik-baik saja, Shinichi. Ummm… Shinichi, bisakah kita bertemu?"

Conan terdiam, pertanyaan ini lagi. Bagaimana bisa? Sudah cukup lama dia tidak meminum antidote itu dan dia juga tidak memilikinya. Bagaimana mungkin dia meminta pada Haibara, pada kekasihnya, untuk dibuatkan antidote agar bisa bertemu Ran? Lelaki macam apa yang dengan teganya meminta kekasihnya untuk membuat penawar racun agar bisa bertemu wanita lain?

"Aku tidak bisa berjanji tentang hal itu untuk saat ini, Ran. Kau tahu kan, kasus yang kutangani sangat rumit. Aku tidak tahu kapan akan kembali," jawab Conan pada akhirnya berbohong lagi.

"Sampai kapan? Ini sudah empat tahun! Bahkan saat aku hampir meregang nyawa, kau tetap tidak datang menemuiku, Shinichi. Apa kasus itu bahkan lebih penting dari apapun untukmu? Bagaimana jika aku tidak selamat saat itu, apa kau juga tidak akan datang ke pemakamanku? Kau bodoh! Bodoh! Shinichi bodoh!"

Conan mendengar isakan dari ujung telepon. Ran menangis lagi. Tangisan yang penuh kemarahan dan kekecewaan karena Shinichi tidak pernah muncul lagi dihadapan Ran. Seandainya Ran tahu jika selama empat tahun ini Shinichi selalu ada bersamanya dalam wujud Conan.

"Maafkan aku, Ran. Maafkan aku."

"…"

"…"

Hening. Conan hanya mendengar isakan Ran.

"Hey, kau lihat umpan dari Hayashi pada Hideo tadi? Bagus sekali! Ingat taruhan kita! Kalau Tokyo Spirits menang, kau harus menraktirku steak mahal di restoran C!"

"Jangan senang dulu! Higo bahkan belum mengerahkan seluruh kemampuannya di pertandingan ini!"

Suara dua orang yang sedang mengobrol tentang pertandingan sepak bola hari ini cukup keras untuk memecah keheningan antara Conan dan Ran hingga terdengar sampai ke tempat Conan sedang bersembunyi.

GAWAT!

"SHINICHI…"

Conan dapat merasakan aura kemarahan dari suara Ran.

"Kau bilang kau sedang sibuk, tapi ternyata kau sedang menonton pertandingan sepak bola! KAU MEMBOHONGIKU, HAH?"

"E-eh… A-anu… Ran… A-aku tidak b-berbohong. Ada kasus yang…"

"SHINICHI NO BAKA! BAKA! BAKA! BAKA! PADAHAL KAU TAHU AKU SANGAT INGIN BERTEMU DENGANMU!"

"M-maaf, Ran…"

"AKU TIDAK AKAN MEMAAFKANMU JIKA KAU TIDAK MENEMUIKU! AKU TIDAK MAU TAHU! MINGGU DEPAN AKU AKAN KE KYOTO DAN KAU HARUS MENEMUIKU DISANA! KALAU TIDAK… KALAU TIDAK, ANGGAP SAJA KITA TIDAK PERNAH SALING KENAL! AKU TIDAK MAU BERHUBUNGAN DENGANMU LAGI!"

Ran memutuskan panggilannya. Pikiran Conan membuncah. Harus bagaimana dia akan menemui Ran?

Saat Conan sedang galau, sebuah tangan terulur menyentuh pundaknya.

Haibara. Kekasihnya.

Dia datang menghampiri Conan.

"Ada apa dengan Ran-san?" tanyanya setelah melihat ekspresi Conan yang tampak keruh.

"Ran marah padaku. Dia lagi-lagi memaksaku untuk menemuinya," jawab Conan jujur.

Haibara tampak berpikir sejenak.

"Maafkan aku, Shiho," ucap Conan karena mengira dia melukai hati Haibara lagi.

"Untuk apa kau meminta maaf padaku? Kau tidak melakukan kesalahan apapun, Shin," balas Haibara sambil menepuk-nepuk pelan pundak Conan, menenangkan kekasihnya.

Conan menyandarkan pipinya pada punggung tangan Haibara yang berada di pundaknya.

"Apakah dia memintamu menemuinya hari ini?"

"Tidak, bukan hari ini. Dia memintaku menemuinya minggu depan dan dia bahkan memaksaku untuk menemuinya di Kyoto!"

'Minggu depan? Dia ingin merayakan ulang tahunmu disana sepertinya, Shin' pikir Haibara.

"Sudahlah! Mungkin dengan begini aku bisa menghilang dari hidupnya. Ayo, Shi, kita kembali ke dalam!"

Conan menggenggam tangan Haibara dan menariknya untuk menonton pertandingan sepak bola itu lagi.

"Tidak dengan cara seperti itu, Shin!" Haibara bergeming, menghentikan langkah Conan. "Kau tetap harus menyelesaikan semuanya dengan baik. Bagaimanapun dia adalah sahabatmu. Kau tidak bisa menghilang begitu saja dari hidupnya tanpa menjelaskan apapun padanya!"

"Lalu aku harus bagaimana? Meminta kau membuat antidote agar aku bisa menemuinya? Kau pikir aku sekejam itu padamu, Shiho? Aku dulu memang bodoh selalu memaksamu membuat antidote untuk menemuinya dan aku tidak ingin mengulangi kebodohanku lagi!" Conan memijat pelipisnya, frustasi.

Haibara menarik sudut bibir kirinya ke atas. "Kau memang sebodoh itu dulu, bahkan sekarang kau juga masih sebodoh itu, Shin."

Conan mengerutkan alis dan menatap kekasihnya. "Aku tahu aku bodoh, maka dari itu aku tidak ingin mengulanginya."

"Maka dari itu aku tidak akan membiarkan kebodohanmu terulang!" balas Haibara sambil membelai rambut Conan seperti dia membelai seekor anak anjing. "Temui aku di lab nanti malam, aku akan memberikan prototype antidote itu padamu."

Haibara berjalan meninggalkan Conan yang tampak kaget setelah mendengar perkataan kekasihnya.

"HAAAH?"

.

.

.

To Be Continued.


A/N: pola endingnya sama lagi kayak chapter kemarin wkwk. Mau dilanjutin nanti keterusan, jadi gak seru. Jadi mending dibuat untuk cerita selanjutnya aja. Punten ya, LOL! Btw, sekali lagi ditekankan tolong jangan dibayangkan anak 11 tahun ciuman semesra itu, tapi anggap saja itu mereka yang berumur 20 sama 21 tahun *maksa* Akutu gabisa buat scene yang romantis, ini ngetiknya aja sambil teriak-teriak, abisnya takut cringey. Maklum jomblo jadi gatau caranya bermesraan *LAH MALAH CURHAT!* jadi maaf banget banget banget kalo yang harusnya romantis as sweet as sugar malah jadi cringey menjijikan (T.T)

PLEASE READ AND REVIEW YAA.

THANK YOU.