HALLLLOOOOOOOO LAMA TAK BERJUMPAAAAA!

Maaf banget beberapa bulan tidak update karena kesibukan hehehe. Membuat cerita ternyata tidak semudah membayangkannya. Aku pasti akan menyelesaikan cerita ini walaupun waktu update nya tidak konsisten. Mohon maaf dan harap maklum.

DISCLAIMER: Aoyama Gosho, pemilik sah hak cipta Detective Conan. Daku hanya reader kentang karya beliau dari kelas 3 SD yang sangat menyukai chemistry ConanXAi atau ShinichiXShiho. Maaf aku terjangkit Second Lead Syndrome!

WARNING: OOC, Typo, Plot lebay, maksa, dan ngebosenin hahahahaha.

A/N: Aku mau minta maaf karena timeline ceritanya kurang jelas dari awal, trus aku sendiri jadi bingung. Jadi akan kuputuskan mulai dari Chapter ini, anggaplah mereka sedang ada di bulan Maret-April. Jadi di Beika sedang musim semi. Mohon maaf banget kesalahan dari aku sejak awal. LOL! Aku juga minta maaf karena sudah lama tidak menulis jadi sepertinya aku kehilangan kemampuan dan tulisanku sedikit kacau. Semoga kalian masih mau baca tulisanku. Terima kasih.

Btw, aku sudah beberapa kali mengakui kalau aku belum begitu mampu membangun diksi yang bagus, jadi ceritaku akan didominasi dengan dialog, tapi aku akan berusaha membuat diksi bagus yang tidak membosankan. Harap maklum semuanya.


HEART

CHAPTER 13

Renaissance


Kediaman Hakase, 09:13 P.M

Conan terlihat tidak sabar saat menekan bel di depan pintu rumah Hakase. Sedari awal perjalanannya menuju kesana, Conan diliputi rasa penasaran dengan perkataan kekasihnya.

"Temui aku di lab nanti malam, aku akan memberikan prototype antidote itu padamu."

Kalimat itu terus terngiang-ngiang di kepalanya.

Apakah maksudnya Haibara akan membiarkan dirinya menemui Ran dalam wujud Shinichi?

Conan masih belum sepenuhnya memahami jalan pikiran kekasihnya, dia bagai sebuah teka-teki, dan Conan harus memecahkan teka-teki itu untuk bisa menyelami isi pikirnya.

"Shinichi?" suara Hakase terdengar saat ia membuka pintu.

"Dimana dia, Hakase?" tanya Conan tampak tidak sabar memasuki ruang tamu rumah Hakase.

"Ai-kun? Dia ada di laboratoriumnya. "

Conan setengah berlari menuju laboratorium bawah tanah milik Hakase. Namun, dia tampak ragu-ragu saat telah berada di depan pintu laboratorium itu. Haibara lah yang akhirnya membuka pintu laboratorium setelah wanita itu merasakan kehadiran seseorang disana. Insting yang ia miliki saat berada di Organisasi sepertinya masih tertanam kuat pada dirinya.

"Kenapa kau tidak masuk?" tanya Haibara.

"A-ah, itu… Aku masih tidak paham dengan perkataannmu tadi siang," jawab Conan tergagap.

"Masuklah, akan aku jelaskan semuanya kepadamu."

Conan mengikuti langkah Haibara memasuki laboratorium itu. Lalu, dia duduk di kursi yang berhadapan dengan Haibara.

"Ini."

Haibara menyerahkan 3 pil berwarna putih merah, prototype antidote yang sudah lama tidak Conan lihat karena sudah cukup lama ia tidak mengonsumsi pil itu.

"Aku membuat 3 pil ini dengan formula terbaru yang aku temukan. Daya tahannya mungkin hingga 12 jam, tapi itu jika tubuhmu masih memiliki reaksi yang baik dan belum kebal terhadap dosis antidote terbaru ini. Kau harus mengabariku semuanya, reaksi yang kau dapatkan setelah meminum antidote ini, berapa lama efeknya bertahan di tubuhmu, semuanya tanpa terkecuali!"

"Kau sungguh menyuruhku untuk meminum ini lalu menemui Ran?" Conan mengangkat kedua alisnya heran.

"Tentu saja. Kau pikir aku bercanda? Tapi kau harus mematuhi tiga peraturan dariku sebelum kau meminum ini!"

"Hah? Tiga peraturan? Apa saja itu?"

"Pertama, jangan langsung mengonsumsi pil kedua saat tiba-tiba efek dari pil pertama hilang! Kau harus menunggu delapan jam setelah mengonsumsi pil pertama!"

Conan mengangguk.

"Kedua, kau harus memiliki rencana lain, jadi orang-orang di sekitarmu tidak menyadari jika kau kembali mengecil! Bekerja samalah dengan Masumi-san untuk membantumu ketika kau berubah menjadi bocah lagi!"

Conan kembali mengangguk, mungkin dia juga akan meminta bantuan Hattori.

"Ketiga, jangan terlalu menarik perhatian sekitar ketika kau menjadi Kudo Shinichi! Ingat, kau seharusnya tidak muncul ke muka publik karena kau sedang menghadapi kasus yang sulit dan kau tahu Organisasi itu belum musnah, saat mereka mengetahui bahwa kau yang seharusnya sudah tewas ternyata masih hidup, kau tahu apa yang akan terjadi selanjutnya kan, Tantei-san?"

Conan memikirkan kemungkinan terburuk jika identitasnya sebagai Kudo Shinichi terkuak ke Organisasi dan pastinya ia akan membahayakan orang-orang di sekitarnya termasuk gadis yang dicintainya, yang saat ini berada dihadapannya. Itu tidak boleh terjadi!

"Dan jangan terlalu sering menggoda dia!" ucap Haibara pelan, tidak selantang saat ia mendeklarasikan tiga peraturan awal.

"Hah? Apakah itu peraturan ke empat? Kau bilang ada tiga peraturan?" tanya Conan bingung.

"Sudahlah, yang terakhir tadi tidak terlalu penting!" jawab Haibara memalingkan wajahnya dari hadapan Conan, menutupi rona merah di pipinya.

"Apakah kau…" Conan menyadari sesuatu, lalu ia tersenyum lebar dan menangkup pipi kekasihnya agar Haibara kembali memandangnya. "Shiho, kau tidak perlu memaksakan dirimu. Jika kau tidak menyukai hal ini, aku tidak akan menemuinya," ucap Conan seraya mengecup lembut kening Haibara.

'Apakah aku punya pilihan, Shinichi?' Haibara memejamkan matanya, menikmati kecupan dari kekasihnya. Ia tidak punya pilihan lain, ini adalah salah satu bentuk penebusan dosa dari rasa bersalahnya. Ia masih menyalahkan diri sendiri karena telah "merebut" lelaki dihadapannya walaupun Ran sudah memiliki kekasih, tapi tetap saja ia masih menyimpan rasa bersalah yang teramat besar karena merusak takdir mereka berdua.

Haibara melingkarkan tangannya pada pinggang Conan lalu mendekatkan tubuhnya untuk memeluk kekasihnya, erat. Memejamkan matanya seraya tersenyum. "Aku tidak memaksakan diriku, Shin. Tidak sama sekali."

Conan menyesap aroma strawberry dari rambut kekasihnya, sungguh menenangkan. Ia tahu keputusan ini juga cukup berat untuk Haibara, tapi Haibara tetaplah Haibara, wanita tangguh yang tidak akan seegois itu mengingkari janjinya hanya karena perasaan pribadinya. Cemburu? Ia pun paham jika ada rasa cemburu yang tidak sengaja kekasihnya itu tampakkan padanya. Sekeras apapun ia menolaknya, perintah Haibara adalah mutlak, titah yang harus ia laksanakan. Selama ia tidak melewati batas -dan ia pun sadar batasan mana yang tidak boleh ia lewati- maka semuanya akan berjalan lancar sesuai rencana.

"Bagaimana jika kau ikut? Atau kita bisa mengajak Shounen Tantei-dan juga!" ucap Conan yang membuat Haibara melepas pelukannya, Conan sedikit kecewa karenanya.

"Apa kau sudah tidak waras, Shinichi? Bagaimana bisa kau mengajak aku dan anak-anak itu dalam wujudmu sebagai Kudo Shinichi? Kita tidak saling mengenal, bukan?" Haibara menoyor pelan kepala kekasihnya.

"Tapi, kita juga bisa mengajak Hakase. Anggap saja aku mengenal kalian lewat Hakase," Conan tetap bersikukuh.

"Kau memang benar-benar tidak peka, Tantei-san! Kau pikir untuk apa Ran-san memaksa bertemu denganmu? Kau akan merusak suasana jika kau malah mengajak kami untuk ikut."

"Tapi, Shiho…"

"Sudahlah, Shinichi! Jangan membuat ini menjadi lebih rumit! Aku baik-baik saja, tak perlu mengkhawatirkanku. Aku tahu, aku sangat tahu, kau tidak akan melewati batasmu. Aku mempercayaimu, Shinichi," ucap Haibara, kemudian mengecup pipi Conan dengan lembut, dan kembali memeluk kekasihnya.

"Terima kasih, Shiho. Aku mencintaimu!"

'Aku juga, Shinichi. Aku juga mencintaimu.'


3 Mei, Stasiun Tokyo, 08.10 A.M

"Jadi, dimana Detektif sialan itu, Ran? Kau yakin kali ini dia tidak membohongimu lagi?" tanya Sonoko dengan tatapan malas sambil melipat tangannya di depan dada.

"Shinichi bilang akan langsung menemuiku di Kyoto, Sonoko. Aku yakin kali ini dia akan benar-benar datang," jawab Ran tersenyum penuh keyakinan teringat Shinichi kemarin memberi kabar bahwa dia akan menemui Ran di Kyoto. Ran sangat senang akhirnya dia bisa bertemu lagi dengan Shinichi setelah sekian lama, lagipula dia sudah menyiapkan kejutan untuk ulang tahun Shinichi besok.

"Lalu, dimana Sera? Bukankah dia bilang akan ikut, tapi aku tidak melihatnya," tanya Sonoko lagi sembari celingukan mencari sosok Sera.

"Sera akan menaiki kereta berikutnya, karena saat ini ia sedang mengurus sesuatu, jadi tidak bisa berangkat bersama dengan kita," kali ini Eisuke membuka suaranya. Sedari tadi ia diam, menahan emosi melihat pujaan hatinya bahagia akan menemui pria lain dan justru ia harus menyaksikan itu. Conan sudah menjelaskan semua rencana yang ia miliki saat di Kyoto nanti, termasuk ketidak hadiran Sera sekarang. Sera sebenarnya berada di kereta yang sama dengan mereka, tapi ia berangkat bersama Conan yang masih dalam sosok Conan, karena tidak mungkin Conan berangkat sendiri ke Kyoto dalam sosok anak kecil. Ya, dia belum berubah menjadi Kudo Shinichi, entah apa rencananya, tapi dia meyakinkan Eisuke bahwa sosok Shinichi akan muncul di Kyoto dan Conan berjanji akan membantu Eisuke untuk mengembalikan Ran padanya.

"Kau tidak apa-apa, Eisuke? Sepertinya kau sedang tidak enak badan, wajahmu pucat sekali," tanya Ran menatap Eisuke dengan cemas.

"O-oh, aku tidak apa-apa, Ran. Hanya sedikit pusing karena kurang tidur. Sepertinya aku terlalu bersemangat untuk jalan-jalan hingga tidak bisa tidur," jawab Eisuke berbohong yang dibalas dengan tawa dari Ran.

Jika Sonoko tidak mengetahui situasi yang sebenarnya, ia pasti langsung akan menggoda Eisuke habis-habisan, tapi ia paham semuanya. Sonoko menatap Eisuke dengan tatapan prihatin, ia sendiri tidak yakin akan bisa sekuat Eisuke jika berada di posisi Eisuke. Bagaimana bisa ia harus mengantarkan kekasihnya yang melupakannya menemui pria lain bahkan membantu menyiapkan pesta kejutan untuk ulang tahun pria itu dan ia tidak bisa berkata jujur untuk membuat kekasihnya mengingatnya kembali?

"Kau menangis, Sonoko? Ada apa?" tanya Ran bingung setelah melihat setetes air mata turun dari pelupuk mata sahabatnya.

Eisuke sepertinya tahu penyebabnya dan langsung menatap Sonoko lalu meyakinkan Sonoko bahwa ia baik-baik saja.

"T-tidak apa-apa, Ran. Mataku sepertinya baru saja kemasukan debu. Perih sekali. Aku ke toilet dulu ya," Sonoko langsung berlari meninggalkan mereka berdua. Tatapan Eisuke justru membuat Sonoko semakin ingin menangis. Eisuke sungguh lelaki yang baik, ia bahagia Ran memilih Eisuke sebagai kekasih walau saat ini Ran melupakannya, tapi ia sangat yakin bahwa ingatan Ran pasti akan kembali dan mereka berdua bisa berbahagia lagi.

"Ran, minumlah ini. Aku membuatnya sendiri. Kau sering terserang mabuk perjalanan jika melakukan perjalanan jauh dan aku yakin minuman ini cocok untuk meredakan mabuk perjalananmu nanti," ucap Eisuke sambil menuangkan segelas minuman dari termos kecil yang ia bawa dan memberikannya pada Ran.

Ran menerima dengan sedikit terheran-heran. Seingatnya, ia tidak pernah menceritakan kepada siapapun jika ia mengalami mabuk perjalanan, karena tidak ingin merepotkan siapapun, Ran pasti langsung meminum obat anti mabuk perjalanan, oleh karena itu, ia akan langsung tertidur dalam perjalanan. Apakah dalam waktu empat tahun ini ia mulai menceritakannya kepada teman-temannya?

"Terima kasih, Eisuke," Ran tidak memikirkan lebih lanjut dan menyesap aroma ginger dan cinnamon dari minuman itu. Aromanya membuat tubuhnya merasa rileks. Tegukan pertama melesat ke dalam tenggorokannya. Ran sangat menikmati minuman buatan Eisuke.

"Sayang, kau sudah meminum ginger tea mu? Kau hari ini akan bertanding di Sendai kan? Jangan lupa ginger tea mu. Kabari aku jika kau sudah tiba di Sendai. Aku mencintaimu, Ran."

Sebuah suara terngiang-ngiang di dalam kepala Ran. Ran tidak mengenali suara itu karena tidak begitu jelas terdengar tapi suara itu membuat Ran sedikit merasakan sakit kepala, untung saja tidak separah biasanya. Ran memijat kepalanya.

"Kau tidak apa-apa, Ran? Apakah kepalamu sakit lagi?" Eisuke panik melihat Ran tiba-tiba memijat kepalanya.

"Tidak apa-apa, Eisuke. Hanya saja tiba-tiba kepalaku sakit, tapi sekarang sudah tidak apa-apa."

Tanpa Eisuke sadari, ia membawa Ran ke dalam pelukannya. Ia tidak tahan lagi melihat kekasihnya merasakan kesakitan dan ia tidak bisa melakukan apapun untuknya.

Ran tentu saja terkejut dengan pelukan tiba-tiba dari Eisuke, ia berusaha melepas pelukannya, namun tiba-tiba ia mendengar suara-suara lagi di dalam kepalanya.

"Ran, aku mencintaimu. Tidak peduli berapa lama aku harus menunggu hingga kau benar-benar melupakannya, aku akan tetap menunggumu, Ran."

"Aku tidak akan memaksamu untuk menjawabnya sekarang, tapi aku akan menunggumu, Ran."

"Terima kasih, Ran. Terima kasih kau mau menerimaku. Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu!"

Ran mencengkram pakaian Eisuke dengan kuat karena sakit kepalanya tiba-tiba bertambah parah. Suara itu terdengar tidak asing, tapi ia tidak bisa mengenalinya. Siapa lelaki ini? Kenapa ia mau menunggu Ran? Melupakan siapa? Apakah ada hubungannya dengan Shinichi?

"Ra… Ran… RAN!"

Suara seseorang yang setengah berteriak memanggil namanya mulai mengembalikan kesadaran Ran.

"Shin…ichi…"

Ran yang sudah tidak merasakan sakit di kepalanya lagi perlahan membuka matanya dan ia tidak menemukan sosok lelaki yang namanya baru saja ia sebut, justru ia melihat Eisuke menatapnya dengan tatapan yang… entahlah, sulit mengartikannya jika kau baru saja sadar dari serangan sakit kepala yang sangat hebat. Seperti ada kekecewaan yang tersirat dari sorot mata Eisuke.

"Kau tidak apa-apa, Ran? Kau tiba-tiba tidak sadarkan diri barusan. Maaf aku meneriakimu," tanya Eisuke yang kembali panik setelah sempat kecewa mendengar kekasihnya justru menyebut nama pria lain di hadapannya.

"Ada apa ini?" Sonoko yang baru kembali dari toilet juga terlihat panik melihat Eisuke panik.

"Maaf, Eisuke. Kepalaku tadi tiba-tiba sakit sekali. Tapi sekarang rasa sakitnya sudah hilang, tidak terasa apapun lagi," jawab Ran.

"Astaga, kepalamu sakit lagi, Ran? Kita batalkan saja perjalanan ini, sebaiknya kau beristirahat di rumah saja!" ucap Sonoko juga ikut panik.

"Sonoko benar, Ran. Kau harus istirahat. Kita bisa mengatur jadwalnya lagi nanti," Eisuke hendak membelai pipi Ran, tapi urung karena teringat jika saat ini kondisi Ran masih belum stabil dan ia belum ingat apapun. Bisa-bisa, Ran kembali tidak sadarkan diri.

"Tidak, aku sudah tidak apa-apa. Sungguh! Aku harus bertemu dengan Shinichi. Kalian tahu kan aku sudah mempersiapkan kejutan untuk ulang tahunnya besok?" jawab Ran memelas.

Eisuke dan Sonoko terpaksa menuruti keinginan Ran, sementara itu di sudut lain stasiun, terlihat Sera dan Conan duduk dalam sebuah Kafe yang jauh dari kerumunan, sengaja menyembunyikan diri agar tidak tertangkap mata oleh Ran, Eisuke, dan Sonoko.


"Hei, katakan padaku, bagaimana Kudo Shinichi akan muncul di Kyoto? Kau dan Sherry? Aku tidak mengerti, apa yang sebenarnya kalian rencanakan? Saat ini kau masih dalam wujud Conan, lalu dimana Kudo? Apakah kau meminta pencuri itu menyamar menjadi dirimu?" Sera memberondong Conan dengan beberapa pertanyaan.

Sera sendiri juga belum mengetahui rencana Conan dan Haibara mengenai kemunculan Shinichi di Kyoto. Dia hanya diminta untuk menemani Conan naik Shinkansen menuju Kyoto.

"Tentu saja tidak, untuk apa aku minta tolong pada pencuri sialan itu! Kudo Shinichi akan muncul di Kyoto, aku pastikan itu, karena aku sendiri yang akan kembali. Shiho memberiku 3 pil penawar sementara dan setiap pil memiliki efek hingga 12 jam. Maka dari itu aku ingin meminta tolong padamu untuk membantuku mencari alasan jika ternyata tiba-tiba efek obat ini berakhir lebih cepat sebelum waktunya. Aku sebenarnya juga minta tolong pada Heiji, tapi ternyata dia sedang ada urusan dan tidak bisa menemaniku di Kyoto."

"Kau meminta Sherry untuk membuatkanmu penawar? Kau kejam sekali, Kudo!" Sera menatap Conan dengan pandangan tidak percaya.

"Tentu saja tidak! Kau pikir aku akan sekejam itu padanya? Aku tidak pernah meminta dibuatkan penawar lagi, dia yang tiba-tiba memberiku ini," bantah Conan tegas.

"Tapi, kenapa? Maksudku, kenapa dia justru memberikanmu kesempatan untuk bertemu Ran? Aku tidak memahami pikiran ilmuwan sama sekali!"

"Dia dan segala kerumitan isi pikirnya. Aku juga belum bisa memahami dia sebaik dia memahami diriku. Jadi, kau bisa membantuku kan, Sera?"

"Baiklah, lagipula aku juga sudah terlibat. Aku hanya tinggal mengalihkan perhatian mereka ketika kau tiba-tiba kembali ke wujud Conan kan?"

"Iya, kira-kira seperti itu. Terima kasih banyak, Sera."

Dua orang itu kembali menikmati minumannya masing-masing dalam diam.


Kediaman Hakase, 07.30 AM

Ting… Tong…

Ting… Tong…

Terdengar suara bel pintu berdering di rumah Hakase.

Ting… Tong…

Ting… Tong…

Tamu ini dengan tidak sabar terus menekan bel pintu itu.

Lalu tak lama, pintu itu terbuka, Hakase muncul dan mencari tahu siapa tamu yang berkunjung ke rumahnya di pagi hari ini.

"Yukiko?" ucap Hakase sedikit terkejut melihat tamu yang muncul di depan rumahnya.

"Hakase, sudah lama kita tidak bertemu! Bagaimana kabarmu?" tanya tamu yang ternyata Kudo Yukiko itu lengkap dengan senyum ramahnya.

"Aku baik-baik saja. Mari masuk!"

Yukiko memasuki rumah Hakase sambil menarik koper cokelat berukuran sedang dan kemudian mengikuti Hakase duduk di sofa ruang tamu.

"Dimana Yusaku?" tanya Hakase.

"Dia sedang ada di New York, membicarakan tentang ide novel terbarunya dengan beberapa koleganya. Aku pulang ke Jepang sendirian," jawab Yukiko.

"Oh. Lalu, ada apa kau kemari? Shinichi tidak memberitahumu bahwa dia akan ke Kyoto untuk menemui Ran?"

"Tentu saja Shin-chan memberitahuku, Hakase. Tentang rencana Ai-chan juga. Maka dari itu aku datang ke rumahmu untuk menemui Ai-chan. Dimana dia, Hakase?"

"Sepertinya dia masih tertidur di kamarnya, aku sudah mengajaknya untuk sarapan, tapi tidak ada jawaban darinya. Mungkin dia kelelahan karena beberapa minggu terakhir menyelesaikan prototype antidote itu. Kau tahu Ai-kun juga seperti Shinichi, mereka berdua sama-sama keras kepala, jika sudah bertekad, tidak ada yang bisa menghentikannya."

"Aku mengerti. Boleh aku ke kamarnya, Hakase?"

Hakase mengangguk, mempersilahkan Yukiko menuju kamar Haibara. Sedangkan ia melanjutkan sarapannya.

Tok… Tok… Tok…

Yukiko mengetuk pintu kamar Haibara.

Tidak ada jawaban.

Tok… Tok… Tok…

"Aku belum lapar, Hakase. Kau sarapan dulu saja!"

Terdengar suara Haibara dari dalam kamarnya.

Yukiko tersenyum mendengar suara Haibara.

"Ai-chan, ini aku. Apakah aku boleh masuk?" tanya Yukiko.

Pintu kamar itu terbuka dan Haibara agak terkejut setelah melihat Yukiko berada di depan kamarnya.

"Y-Yukiko-sama. Silahkan masuk."

"Maaf, aku mengejutkanmu, Ai-chan! Tapi apa kau lupa? Panggil aku Yukiko-nee. YU-KI-KO-NEE! Tidak perlu sungkan," Yukiko duduk di kursi menghadap Haibara.

"Baiklah, Yukiko-nee. Apakah Yukiko-nee ingin bertemu dengan Shi- maksudku Kudo-kun? Tapi sepertinya dia sudah berangkat ke stasiun," tanya Haibara mencoba bersikap tenang walau sebenarnya dia merasa sedikit gugup. Bagaimanapun ini pertemuan pertama mereka setelah Haibara resmi menjadi kekasih Conan.

"Tidak perlu segugup itu, Ai-chan. Aku sudah mengetahui hubungan kalian berdua. Apakah belum terlambat untukku mengucapkan selamat kepada kalian berdua?" Yukiko tersenyum jahil.

Haibara merasakan pipinya memerah, tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

"Akhirnya anak itu berhasil menyadari perasaannya! Dan kau juga, Ai-chan! Semoga Shin-chan tidak terlalu menyusahkanmu. Aku percaya, kau bisa mengimbangi langkahnya. Kalian berdua menjadi partner juga bukan tanpa alasan kan? Sepertinya kalian berdua memang ditakdirkan untuk bersama ya?"

"T-terima kasih, Yukiko-nee."

"Shin-chan juga sudah menceritakan rencanamu agar dia bisa bertemu dengan Ran. Kau masih merasa bersalah pada Ran, Ai-chan?" kali ini Yukiko bertanya dengan nada yang cukup serius.

"…"

Haibara menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mata Yukiko.

"Kau bisa menceritakan semuanya kepadaku, Ai-chan," ucap Yukiko sambil menarik Haibara ke dalam pelukannya. "Aku sudah mengenalmu selama 4 tahun, bisakah kau menganggapku seperti ibumu? Aku senang sekali memiliki anak perempuan cantik dan pintar sepertimu, Ai-chan. Jadi kau tak perlu sungkan jika ingin menceritakan apapun kepadaku."

Haibara terkesima dengan perkataan Yukiko. Dia juga merasakan ketenangan dalam pelukan Yukiko. Sedikit mengusir kegalauan hatinya pagi ini, mengingat Conan akan menemui Ran dalam wujud Shinichi.

"Aku…" Haibara membuka suara.

Yukiko melepas pelukannya dan menatap Haibara.

"Iya, aku memang masih merasa bersalah pada Ran-san. Jadi setidaknya hanya ini yang dapat kulakukan untuk menebus rasa bersalahku," jawab Haibara masih menunduk dan menunjukkan senyumnya, tapi senyumannya terasa menyedihkan.

"Ai-chan, kau tidak perlu merasa bersalah sepert itu," Yukiko mengusap lembut rambut Haibara.

Haibara mengangkat pandangannya untuk menatap mata Yukiko.

"Kau tidak merebut Shinichi dari Ran. Kau tidak menyakiti hati siapapun, justru malah kau yang menyakiti dirimu sendiri dengan melakukan hal seperti ini."

"Apa aku punya pilihan? Tidak apa jika aku yang harus merasakan sakit, aku sudah terbiasa dengan itu, Yukiko-nee."

Yukiko menghela napas panjang. Haibara adalah wanita yang sulit, seperti yang dikatakan Conan. Tapi, Yukiko datang menemuinya bukan untuk menyerah begitu saja.

"Kau selalu punya pilihan, Ai-chan. Aku akan memberikanmu pilihan lain dan kau harus menerima pilihanku ini!"

"Aku tidak mengerti maksudmu, Yukiko-nee," Haibara menaikkan alisnya, kebingungan.

"Berapa penawar sementara yang kau buat?" tanya Yukiko tersenyum lebar, membuat Haibara semakin kebingungan.

"Hah? Aku berencana membuat 10 butir pil antidote, namun ada sedikit kesalahan, dan aku sudah memberikan 3 butir kepada Shinichi, jadi hanya tersisa 4 butir pil saja. Apa hubungannya dengan pilihan yang kau bicarakan tadi, Yukiko-nee?"

"4 butir ya? Kurasa itu cukup untukmu. Berbeda dengan Shin-chan, kau jarang kan mengonsumsi antidote sementara itu? Jadi aku rasa, ketahanan tubuhmu lebih baik dibandingkan Shin-chan," Yukiko mencoba menganalisis kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.

"Maksudmu, aku juga harus mengonsumsi antidote itu?" Haibara tidak yakin dengan perkataan Yukiko.

"BINGO! Tepat sekali! Kau akan menyusul Shin-chan ke Kyoto setelah kembali ke wujudmu sebagai Miyano Shiho!" Yukiko menjawab pertanyaan Haibara.

Haibara terbelalak mendengar perkataan Yukiko, ia akan kembali jadi Miyano Shiho dan menyusul Kudo Shinichi ke Kyoto? Itu tidak mungkin!

.

.

.

To Be Continued