DISCLAIMER: Aoyama Gosho, pemilik sah hak cipta Detective Conan. Daku hanya reader kentang karya beliau dari kelas 3 SD yang sangat menyukai chemistry ConanXAi atau ShinichiXShiho. Maaf aku terjangkit Second Lead Syndrome!
WARNING: OOC, Typo, Plot lebay, maksa, dan ngebosenin hahahahaha.
A/N: Aku sudah beberapa kali mengakui kalau aku belum begitu mampu membangun diksi yang bagus, jadi ceritaku akan didominasi dengan dialog, tapi aku akan berusaha membuat diksi bagus yang tidak membosankan. Harap maklum semuanya.
HEART
CHAPTER 15
I'm Secretly Looking at You
Stasiun Tokyo, 01:34 PM
"Ini Espresso double shot mu," ucap Heiji memberikan secangkir kopi pada Shiho.
"Thanks," balas Shiho singkat lalu menghirup aroma kopi tersebut dan meminumnya. Dia memang membutuhkan ini.
"Kau tidak menghubungi Kudo? Tadi dia yang meneleponmu kan?" tanya Heiji.
Shiho berpikir sejenak sebelum beranjak dari duduknya.
"Mau kemana kau?"
"Toilet," jawab Shiho singkat, meninggalkan Heiji yang terus mengawasinya.
Shiho mengaktifkan kembali ponselnya dan tentu saja banyak notifikasi masuk ke ponselnya. Siapa lagi jika bukan dari kekasihnya yang sedang ada di Kyoto. Ia langsung menghubungi Shinichi, satu kali, dua kali, belum ada jawaban, ketiga kalinya ia menghubungi Shinichi, barulah Shinichi menjawab panggilannya.
"KAU DARIMANA SAJA, SHIHO? KENAPA MENOLAK PANGGILANKU? KENAPA MEMATIKAN PONSELMU?" terdengar kepanikan dari suara khas bariton yang biasa Shiho dengar jika Shinichi dalam wujud Conan menggunakan dasi pengubah suara saat menghubungi Ran.
'Sepertinya berhasil,' ucap Shiho dalam hati.
"SHIHO! Kau baik-baik saja kan?"
"Suaramu berubah, ku rasa kau sudah meminum antidote itu," ucap Shiho.
"Jangan mengalihkan topik, Shiho. Kau tidak menjawab pertanyaanku!" Shinichi terdengar kesal.
"Aku baik-baik saja, ponselku mati karena baterainya habis. Kau tidak perlu berlebihan seperti itu, Shinichi."
"Aku tidak berlebihan! Bagaimana aku bisa tenang jika tiba-tiba kau tidak bisa dihubungi?"
"Ada Hakase disini. Aku baik-baik saja. Aku bukan korban penculikan atau korban luka tembak atau mungkin jadi tawanan teroris. Aku ada di rumah dan aku aman."
"Itu tidak lucu sama sekali, Nona!"
"Dan aku juga sedang tidak bercanda, Tantei-san! Jadi, kau sudah bertemu gadis itu?"
"Tch, kau ini! Aku belum bertemu dengan Ran. Ternyata kau benar, efek antidote ini sangat menyakitkan. Aku hampir tidak sadarkan diri, rasanya tubuhku seperti terbakar. Jadi aku butuh sedikit waktu untuk pemulihanku. Kondisimu bagaimana? Kepalamu masih terasa sakit?"
"Sudah kubilang aku baik-baik saja," Shiho melihat jam di tanganku dan sudah hampir saatnya untuk naik kereta.
"Aku begini kan karena mengkhawatirkanmu, Shiho! Aku…"
Shiho menyela omongan Shinichi karena ia harus segera kembali ke tempat Heiji menunggunya. "Sudah dulu, Shinichi. Hakase memanggilku. Jaga dirimu baik-baik!"
"Ku kira kau sudah pulang," ucap Heiji setelah Shiho kembali.
"Dan ku kira kau tidak akan menunggu ku dan koperku. Terima kasih, Tuan Raiden!" balas Shiho sengit.
"Sama-sama, Nona Elena! Habiskan kopimu, keretanya sebentar lagi akan datang," Heiji tak kalah sengit.
Shinkansen, 02:19 PM
"Maaf jika aku lancang, tapi sudah berapa lama kalian berpacaran?" tanya Heiji saat mereka sudah ada di kereta dalam perjalanan menuju Kyoto.
"Entahlah, mungkin sekitar 4 atau 5 bulan. Aku tidak begitu mengingatnya," jawab Shiho yang masih menatap ke luar jendela, tanpa menoleh ke Heiji.
"Tch! Aku tidak percaya Kudo merahasiakan ini dariku!"
"Aku yang memintanya."
"Hah? Kenapa? Hubungan kalian bukan semacam hubungan terlarang. Lagipula, kakak dari kantor detektif itu juga sudah punya kekasih, jadi ku rasa itu bukan masalah," Heiji mencoba menganalisa.
Shiho menghembuskan napas panjang sebelum akhirnya menatap Heiji. "Aku dan dia baru mengetahui jika Ran-san sudah berpacaran dengan Eisuke setelah kecelakaan itu. Lagipula akan terlihat aneh jika anak kelas 4 SD sudah berpacaran."
"Menurutku hal seperti itu bukan sesuatu yang aneh. Kau hidup di jaman apa sih? Pemikiranmu kuno sekali!"
"Oh, maaf saja jika pemikiranku terlalu kuno. Aku hanya tidak ingin menjadi pusat perhatian!"
"Wow! Apa kau tidak sadar sedari awal kita sampai di Stasiun, kau sudah menjadi pusat perhatian, Nee-chan!" Heiji menaikkan alisnya.
"Aku tahu… Maka dari itu lakukan tugasmu dengan baik! Yukiko-nee sudah memintamu untuk melindungiku walau sebenarnya aku bisa menjaga diriku sendiri," balas Shiho dengan seringai khasnya.
Ya, penampilan Shiho memang menyita banyak perhatian orang-orang. Dengan rambut blondenya dan tampilan make up yang makin menonjolkan wajah British nya walau tertutup kacamata hitam, banyak yang mengira Shiho sebagai seorang artis atau idol. Jujur saja, itu sedikit mengganggu Shiho karena memang dia tidak pernah suka menjadi pusat perhatian. Biasanya ia akan memilih bersembunyi di belakang Shinichi atau Hakase atau Shounen Tantei-dan saat ia terlibat kasus bersama mereka, sekarang mau tidak mau ia harus menghadapi itu. Untung saja saat ini dia sedang bersama Heiji, walau masih sedikit canggung, setidaknya Heiji memainkan perannya sebagai kekasih palsu dengan baik.
Sekitar 1 jam perjalanan hanya terisi dengan sebuah percakapan singkat yang kemudian kembali dalam diam. Shiho lebih memilih menatap jendela, mengamati lamat-lamat bagaimana ia diam-diam menyukai pemandangan dari luar kereta, sedangkan Heiji lebih memilih bermain dengan games di ponselnya. Mungkin karena terlalu banyak yang dipikirkan, tanpa sadar Shiho mengantuk-antukkan kepalanya ke jendela kereta, ia tertidur. Heiji yang melihat posisinya hanya bisa tersenyum, lalu mengarahkan kepala Shiho untuk bersandar di bahunya. Bukan bermaksud bermain api dengan kekasih sahabatnya, ini hanya sebuah manner sebagai seorang lelaki, terlebih ia ditugaskan untuk melindungi wanita di sebelahnya ini.
'Kalau dia terbangun nanti, aku rasa nyawaku akan terancam.' ucap Heiji dalam hati.
Namun tak berapa lama kemudian ia juga tertidur dengan kepala bersandar di atas kepala Shiho. Perjalanan dari Osaka ke Tokyo dengan jadwal penerbangan pagi menyita jam tidurnya, sedari tadi ia sudah menahan kantuk, tapi pada akhirnya netranya menyerah lalu terpejam.
Shiho merasakan sesuatu menindih kepalanya saat ia membuka mata dan mendapati posisinya yang bersandar pada Heiji dan Heiji juga ikut bersandar padanya. Terkejut, ia lalu menegakkan kepalanya hingga membuat kepala Heiji terantuk, namun hal ini bahkan tidak membuat Heiji terbangun, justru ia kembali bersandar kali ini di bahu Shiho, menganggap bahunya bak bantal yang cukup empuk, sepertinya Heiji benar-benar lelah. Tak tega Shiho membangunkan dia, pada akhirnya Shiho membiarkan Heiji menjadikan bahunya sebagai sandaran.
Ia melihat jam di tangannya, sudah hampir jam 5 sore, sekitar 15 menit lagi mereka akan tiba di Kyoto. Shiho menatap lagi pemandangan dari jendela kereta, bias jingga mentari jelang senja sungguh mempesona. Lagi-lagi ia tak bisa menahan senyumnya, entah karena apa yang ada di hadapannya sekarang atau fakta bahwa sebentar lagi ia akan menemui kekasihnya. Shiho tak tahu pasti, tapi mood nya sedang bagus saat ini, terlepas dari pria di sebelahnya yang menjadikan bahunya sebagai sandaran, ia tidak terlalu memikirkan hal itu.
"Seharusnya kau lebih sering tersenyum seperti itu, neechan," suara pria di sebelahnya membuat Shiho mengalihkan pandangannya.
Heiji menguap lebar, menegakkan kepalanya, dan meregangkan tubuhnya. Tidurnya lumayan nyenyak, ia merasa segar kembali.
"Sepertinya kau sudah menganggap bahuku sebagai bantalmu ya?" tanya Shiho menatap Heiji tajam.
"Ahahaha… Maaf, mataku rasanya sangat berat. Kau tahu kan aku harus berangkat pagi-pagi ke bandara. Terima kasih, neechan. Aku jadi bisa beristirahat sebentar. Sekarang aku merasa lebih segar," jelas Heiji kemudian meregangkan badannya lagi.
Shiho berdecak dan menggelengkan kepalanya, ia memandang langit senja lagi, melupakan alasan konyol detektif di sebelahnya.
"Ugh, setelah bangun tidur, aku jadi merasa lapar. Neechan, kau harus mencoba soba ketika di Kyoto. Aku punya rekomendasi restoran soba yang enak di sana. Aku yakin kau juga akan menyukainya," tawar Heiji.
Ide yang bagus. Jika dipikir-pikir, mereka bahkan belum makan siang dengan benar. Mungkin setelah menuju hotel, mereka bisa dengan bebas mencari makan malam.
Mereka sudah tiba di Stasiun Kyoto dan sedang mencari taksi untuk menuju ke hotel yang telah disiapkan oleh Yukiko.
Hotel P, 05:42 PM
"Permisi, kami ingin check in atas nama Ishikawa Raiden dan Elena Danzel," ucap Heiji pada resepsionis hotel.
"Baik. Saya cek dulu sebentar." Resepsionis wanita itu mengetikkan sesuatu pada komputer di hadapannya, lalu menyerahkan 1 kartu pada Heiji. "Kamar untuk Ishikawa-san dan Danzel-san ada di lantai 15, kamar 1509. Ini kuncinya."
"Maaf, kenapa hanya 1 kamar ya? Sepertinya saya memesan 2 kamar di hotel ini?" tanya Heiji bingung, karena Yukiko bilang dia sudah memesankan kamar untuk dirinya dan Shiho. Dia dan Shiho… OH, SH*T! Heiji membelalakkan matanya dan beralih menatap Shiho.
Shiho yang sepertinya paham arti tatapan Heiji ber-facepalm. Harusnya dia ingat jika yang mengurus semuanya adalah seorang Kudo Yukiko, wanita yang pola pikirnya out of the box, sulit ditebak, terlalu bebas.
"Mohon maaf, di data kami untuk Ishikawa-san dan Danzel-san hanya memesan 1 kamar."
"Excuse me, can I book another room right now?" akhirnya Shiho mengambil alih.
"I'm sorry, Miss. We don't have any room available. This weekend is peak season," jawab resepsionis tersebut, membuat Shiho dan Heiji kembali bertatapan.
"Oh… Ok," ucap Shiho mencoba memikirkan solusi lain.
"There is a hotel across the street. M Hotel. I'll help you to call the hotel, if you want," tawar resepsionis itu.
"Sure."
"Please wait…" resepsionis itu menghubungi hotel yang dimaksud. "I'm really sorry, Miss. There are also no rooms available."
Shiho menghela napas, mau tidak mau ia harus menerimanya. "Oh… It's okay. I'll take this room with him. Thank you for your help."
Heiji membelalakkan matanya setelah mendengar keputusan Shiho.
"Are you sure?" Heiji berbisik pada Shiho.
"We don't have choice! Kita urus nanti di sana," balas Shiho juga dengan berbisik.
Heiji dan Shiho menunggu di depan lift, lagi-lagi Heiji menanyakan hal yang sama pada Shiho, apakah dia yakin dengan keputusannya. Bagaimana bisa sekarang ia harus tidur di kamar yang sama dengan kekasih sahabatnya? Apalagi ia belum tahu kapan wanita di sampingnya ini kembali menjadi anak kecil, jika sampai nanti malam efek antidote ini masih bertahan pada tubuh Shiho itu artinya mereka berdua dalam tubuh dewasa akan tidur di kamar yang sama? Bahkan dengan Kazuha, teman masa kecilnya, dia belum pernah tidur di satu kamar yang sama. Sepertinya dia harus menahan keinginannya untuk bersantai sambil meminum bir kalengan favoritnya. Berbahaya jika sampai dia mabuk. Gila!
"Kubunuh kau jika berpikir macam-macam denganku!"
Ancaman Shiho membuyarkan lamunan gila Heiji.
"S-siapa yang berpikiran seperti itu?" tanya Heiji gugup, Shiho sudah siap membunuhnya hanya dari tatapannya saja.
"Kau kira aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan?" Shiho balik bertanya dengan tatapan mengintimidasinya.
"H-hei, aku tidak…"
TING…
Pintu lift terbuka dan Shiho langsung masuk ke dalam lift, Heiji tidak melanjutkan perkataannya dan mengikuti Shiho, ia kemudian menekan angka 15 dan pintu lift kembali tertutup.
'Sial! Nyawaku benar-benar terancam! Kudo, bagaimana kau bisa bertahan dengan wanita menyeramkan ini?' Heiji berteriak dalam hati.
Sementara itu…
TING…
"Shinichi, aku ingin makan soba," ucap Ran setelah pintu lift terbuka.
"Baiklah, Ran," jawab Shinichi, keluar dari lift, namun perhatiannya teralihkan pada lift di sebelah mereka yang baru saja akan menutup, ia mencium aroma familiar dari arah itu. Harum melati yang bercampur dengan cedar dan amber. Parfum yang sangat familiar, yang sering ia hirup dari wanita yang dicintainya. Wangi ini wangi khas parfum Shiho. Apa mungkin?
Shinichi sedikit bergegas ke lift di sebelahnya, melepas genggaman tangan Ran, membuat Ran dan yang lainnya terkejut, tapi pintu lift itu sudah tertutup. Ia coba menekan tombol lift tapi sudah terlambat, lift itu sudah beranjak naik. Sepertinya tidak mungkin, untuk apa Shiho ke Kyoto tanpa mengabarinya? Shiho bahkan menolak saat Shinichi mengajaknya ikut ke Kyoto, jadi untuk apa juga ia ke Kyoto? Sepertinya Shinichi hanya merindukannya. Menghirup parfum yang biasa ia pakai membuat Shinichi membayangkan jika Shiho ada disini. Shinichi menggelengkan kepalanya dan tersenyum sendiri. Ia rindu wanita itu.
"Ada apa Shinichi?" tanya Ran bingung, menghampiri Shinichi bersama yang lain.
"Ah… tidak ada apa-apa, Ran. Ayo, kita makan soba! Aku tahu restoran soba enak di Kyoto," ucap Shinichi mengalihkan topik.
"Tch… Apakah seleramu bisa dipercaya, Detektif Bodoh?" tanya Sonoko sinis.
"Oi… Oi… Tentu saja! Aku yakin kalian juga akan menyukainya!" jawab Shinichi yakin.
Mereka kemudian berjalan keluar hotel, tapi Ran kembali menggenggam tangan Shinichi. Sejak awal mereka bertemu, Ran selalu menempel kepada Shinichi. Rasanya jika ia berpisah barang sedetikpun dengannya, Ran tidak akan bisa lagi bertemu Shinichi. Maka dari itu ia selalu menempel pada Shinichi. Eisuke sedari tadi saat Ran akhirnya bertemu dengan Shinichi hanya bisa menahan cemburu karena Ran tidak ingin berpisah dengan Shinichi, bahkan Ran dengan berani terus menggenggam tangan Shinichi. Ran tidak mempedulikan rasa malunya, ia hanya tidak ingin berpisah dari Shinichi.
Sebaliknya, Shinichi coba menjaga jarak dengan Ran. Toh, saat ini perasaannya hanya sebatas rasa sayang pada sahabat, tidak lebih. Ia juga harus menjaga perasaan kekasihnya, Shiho, dan juga menjaga perasaan kekasih Ran, Eisuke. Tapi, sepanjang hari Ran tidak ingin berpisah darinya, bahkan terus menggenggam tangannya. Shinichi sering menghela napas panjang, ia bahkan tidak bisa menghubungi Shiho karena Ran selalu di sampingnya padahal ia khawatir setelah mendapat kabar bahwa kekasihnya terkena demam.
Mereka akhirnya tiba di restoran soba pilihan Shinichi. Cukup ramai karena sudah memasuki waktu makan malam. Untungnya masih ada meja yang tersedia untuk mereka. Sambil menunggu pesanan yang sepertinya akan lama karena restorannya cukup ramai, mereka berbincang-bincang atau lebih tepatnya Ran dan Sonoko terus menginterogasi Shinichi, terlebih Ran yang terus menanyakan kasus yang sedang dihadapi Shinichi selama 4 tahun ini, meminta Shinichi untuk kembali, bahkan Ran terus menyandarkan tubuhnya pada Shinichi, melepas kerinduannya. Shinichi berusaha untuk sedikit menjauh terlebih jika Ran sudah bersandar padanya, tapi tetap saja Ran tidak ingin menjauh darinya. Eisuke kembali harus menahan rasa cemburunya melihat kekasih hatinya bermanja-manja dengan pria lain di hadapannya.
"Ran, aku harus ke toilet dulu," ucap Shinichi pada Ran, mencari alasan sebentar agar dia bisa menghubungi Shiho.
Ran tidak mau melepas genggaman tangannya.
"Oh ayolah, Ran. Aku hanya pergi ke toilet sebentar, kau tenang saja," ucapnya lagi.
Kali ini Ran melepaskan genggamannya, "kau janji akan kembali kan, Shinichi?"
"Aku hanya ke toilet Ran, tidak akan lama."
Ran mengangguk, Shinichi segera meninggalkan meja itu. Keluar dari restoran, mencari tempat sepi di samping restoran, lalu bergegas menekan angka 1 di ponselnya.
Shinichi's POV.
"Nomor yang anda tuju tidak dapat menerima panggilan ini, silahkan tinggalkan pesan setelah bunyi bip."
Kenapa ponselnya tidak aktif lagi? Shiho, kau dimana?
Aku mencoba menghubungi Hakase saat tiba-tiba aku mencium wangi itu lagi, tidak salah lagi, ini wangi parfum yang biasa ia gunakan. Tapi apakah ia benar-benar ada disini?
"This is the soba restaurant I was talking about . I'm pretty sure, you'll like it!"
Aku mendengar suara pria yang berjalan menuju restoran soba ini. Hmmm… orang asing?
Astaga, bukan saatnya mengamati orang lain. Aku harus menghubungi Hakase, dia pasti sedang bersama Shiho. Aku menghubungi Hakase tapi tidak ada jawaban, mereka ini kemana? Tidak ada yang bisa dihubungi satu pun.
"Oh, I thougt you would take me to a romantic restaurant."
Seorang wanita? Tunggu, parfum ini…
"Since when you like romantic things?"
Kenapa aku jadi menguping pembicaraan orang lain? Tapi wangi parfum ini kenapa semakin dekat? Sudahlah, sepertinya aku sangat rindu pada Shiho, aku akan mencoba menghubunginya lagi nanti.
"Since…"
Wanita itu terbelalak setelah melihatku keluar dari lorong sempit sebelah restoran ini, mungkin terkejut karena ada orang yang muncul dari tempat ini. Ia memilih bersembunyi di belakang lelaki berambut sebahu di hadapannya yang juga sedikit terkejut saat melihatku.
"Sorry, if I startled you," ucapku meminta maaf.
"No, it's okay," balas pria itu. "Are you okay, honey?"
Wanita yang bersembunyi di belakang pria itu mengangguk. Kemudian lelaki itu mengenggam tangan sang wanita, memposisikan wanita agar berdiri di sampingnya, lalu memeluk bahu sang wanita. Aku bisa melihat jelas wajah wanita itu.
Cantik.
Aku jadi teringat dengan Shiho, matanya sedikit mirip dengannya, tapi wanita ini bernetra biru samudera, sedangkan Shiho ku, ia memliki aquamarine di matanya. Rambutnya juga berbeda warna, Shiho ku si strawberry blonde, sedangkan ia rambut panjang dengan warna perak sedikit kecoklatan. Apa Shiho ku juga akan seperti ini jika tubuhnya sudah kembali?
Aku dengan cepat menggelengkan kepalaku, lagi-lagi aku membayangkan Shiho. LDR itu sedikit menyusahkan!
"Excuse me," pamit pria itu padaku. Ia dan wanita yang kemungkinan adalah kekasihnya, kembali berjalan menuju restoran.
Ternyata wanita ini yang wanginya mirip dengan Shiho ku. Mungkin saja parfum yang ia gunakan sama.
"Mohon maaf, saat ini restoran kami sedang penuh. Anda bisa menulis nama anda disini untuk waiting list jika ingin menunggu. Mungkin sekitar 15 atau 20 menit lagi akan ada meja yang tersedia untuk anda berdua."
Aku mendengar pegawai restoran itu berbicara kepada pasangan muda yang baru saja ku temui tadi. Sepertinya mereka harus menunggu untuk bisa makan disini. Hmmm…
"Permisi, jika kalian tidak keberatan, kalian bisa bergabung bersama saya dan teman-teman saya di sana. Kebetulan kami ada tempat kosong," aku mencoba menawarkan.
Dua orang itu menatapku.
"Oh maaf, saya tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian. Dan sepertinya Bahasa Jepang anda cukup fasih, jadi anda pasti paham dengan yang saya katakan. Perkenalkan nama saya Kudo Shinichi, Detektif," aku menjulurkan tanganku, mengajak pria itu bersalaman.
Ia menyambut jabat tanganku, "Ishikawa Raiden. Terima kasih penawarannya, saya tanyakan kekasih saya dulu."
Aku mendengar Ishikawa-san berbincang pada wanita itu, sepertinya memang wanita itu bukan orang Jepang, karena Ishikawa-san terus berbicara dengan Bahasa Inggris padanya.
"Kudo-san, terima kasih atas tawarannya. Kekasih saya setuju, karena kami juga kebetulan sudah sangat lapar. Oh iya, perkenalkan, ini kekasih saya, Elena Danzel."
Elena? Seperti nama mendiang ibu Shiho. Kenapa hari ini banyak hal yang mengingatkanku padanya?
"Hello, I'm Kudo Shinichi," aku mengulurkan tanganku lagi, kali ini ke arah wanita itu.
"Elena Danzel," jawabnya singkat bahkan tidak membalas uluran tanganku. Wow, dingin sekali!
"Maaf, Kudo-san. Kekasihku ini sifatnya memang agak dingin, apalagi kepada orang asing."
"Oh, tidak apa-apa Ishikawa-san. Aku sudah terbiasa menghadapi orang-orang dengan sifat seperti ini."
Sepertinya aku sekilas melihat wanita bernama Elena Danzel itu memutar bola matanya. Mungkin hanya imajinasiku saja.
"Lama sekali kau, Ran hampir menyusulmu. Tch!" Sonoko mencibirku.
"Sonoko!" Ran meneriakinya. "Kau bersama siapa, Shinichi?"
"Gomen… Oh iya, perkenalkan ini Ishikawa-san dan Danzel-san. Aku bertemu mereka di depan restoran, karena penuh mereka harus menunggu di depan, makanya aku ajak bergabung dengan kita. Toh masih ada meja kosong kan di sini. Tidak apa, kan?"
Semuanya mengangguk setuju, aku mempersilahkan Ishikawa-san dan kekasihnya untuk duduk di satu meja dengan Eisuke. Setelah perkenalan singkat dengan teman-temanku, mereka langsung memesan makanan. Ran kembali bersandar padaku, sebenarnya aku merasa tidak enak dengan Eisuke, aku sudah berusaha menjaga jarak, tapi Ran terus menempel padaku. Aku juga merasa bersalah dengan Shiho ku, Sera dan Sonoko sudah berusaha mengalihkan perhatian Ran, tetap saja Ran tidak ingin menjauh dariku dari awal kami bertemu siang tadi.
End of Shinichi's POV
(A/N: Ku tetap menggunakan nama Heiji dan Shiho, tapi dengan visual Raiden dan Elena biar gak terlalu banyak nama berbeda-beda).
"Kalian berdua orang Jepang?" Sonoko memulai pembicaraan.
"Aku orang Jepang, tapi sedang kuliah di London. Sedangkan kekasihku ini, dia Warga Negara Amerika namun sudah cukup lama menetap di London. Jadi, dia tidak bisa berbicara Bahasa Jepang," jawab Heiji.
"I'm also from London. Where do you come from, Miss Danzel?" tanya Sera pada Shiho.
"I'm from Oxford," jawab Shiho singkat.
"You know, Miss Danzel. When I first saw you, you reminded me of someone. Have we met before?" tanya Sera lagi, sehingga membuat Shiho sedikit waspada.
"I'm not pretty sure, maybe we passed each other while in London, Miss Sera."
"No, no, no! Not in London, but maybe I was wrong. Is this your first time visiting Japan?"
"Iya, Sera-san, ini pertama kalinya Elena ke Jepang. Aku ingin dia menikmati musim semi di Kyoto," kali ini Heiji yang menjawab, ia menggenggam tangan Shiho. Akting sebagai kekasih yang baik.
"Elena?" Sera merasa tidak asing dengan nama itu, ia mencoba mengingat di mana ia pernah mendengar nama itu.
"Is there something wrong with my name, Miss Sera?"
"Oh, I'm sorry, I didn't mean that. I just feel like I've heard that name before. By the way, you have a beautiful name, Miss Danzel," Sera merasa tidak enak pada Shiho karena sepertinya hal itu menyinggung Shiho.
"It's okay, but for your information, Elena is common name in this world, so the chances of you having heard that name are very high, and thank you for the compliment, Miss Sera," balas Shiho dingin, menunjukkan smirk nya, membuat Shinichi memperhatikannya. Merasa tidak asing dengan seringaian itu. Sera juga.
Sonoko dan Ran hanya diam, seperti merasa terintimidasi dengan sikap dingin Shiho, sedangkan Eisuke tidak terlalu tertarik dan sibuk dengan ponselnya.
"Maaf, Sera-san. Memang kekasihku ini sedikit dingin pada orang asing. Semoga kau tidak tersinggung dengan sikapnya," Heiji kembali berakting, Shiho cukup puas dengan kemampuan akting Heiji, karena dia bisa bersikap spontan untuk membantunya.
"No problem, Ishikawa-san. Aku tidak ada masalah dengan itu," ucap Sera tersenyum lebar.
"Apakah kalian semua teman satu kampus?" tanya Heiji mengalihkan topik.
"Sebenarnya kami sudah berteman dari SMA, kecuali 3 orang ini, mereka sudah berteman sejak dari TK," jawab Sera sambil menunjuk pada Shinichi, Ran, dan Sonoko. "Aku, Sonoko, dan Ran memang kuliah di kampus yang sama, Eisuke kuliah di Amerika, sedangkan Kudo…"
"Aku sedang terlibat kasus yang rumit, jadi aku lebih sering berada di Luar Negeri," Shinichi menjelaskan kondisinya.
"Oh iya, kau bilang kau seorang detektif. Menarik sekali."
"Tidak hanya dia, aku juga seorang detektif, Ishikawa-san," Sera menyela.
"Wah, menarik sekali. Aku sebenarnya cukup tertarik membaca novel-novel misteri dan mengikuti berita-berita kriminal, ku rasa kemampuan analisaku tidak terlalu buruk, tapi aku belum pernah terlibat kasus secara langsung," ucap Heiji berbohong.
"Aku harap kau tidak perlu terlibat kasus, Ishikawa-san. Kasihan Danzel-san jika kau terlibat kasus rumit, kau harus meninggalkan dia tanpa batas waktu yang tidak pasti," ucap Sonoko menyindir Shinichi.
"Oi… Oi…"
"Sonoko!"
Shinichi dan Ran kompak melayangkan protes pada Sonoko.
"Oh, tentu saja Suzuki-san. Aku tidak mungkin meninggalkan Elena. Melindunginya adalah prioritasku," balas Heiji mencium tangan Shiho, berakting romantis. Membuat Ran dan Sonoko memerah karena sikap gentleman Heiji, bahkan wajah Shiho juga ikut tersipu karena tindakan Heiji. Sementara Shinichi memutar bola matanya.
"Romantis sekali. Sudah berapa lama kalian berpacaran?" tanya Sonoko.
"Besok tepat 1 tahun kami berpacaran, makanya aku mengajak dia ke Kyoto, selain ingin menikmati musim semi di sini, aku juga ingin merayakan first anniversary kami yang pertama di Kyoto," jawab Heiji.
"Wow, ku pikir kau lelaki yang tidak peduli pada hal-hal seperti itu," ucap Shinichi.
"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu? Apa karena penampilanku, Tantei-san?" tanya Heiji menyeringai.
"Maafkan aku. Aku terbiasa menganalisis sesuatu terlebih dahulu sebelum mengambil kesimpulan tertentu," jawab Shinichi balas menyeringai.
"Jadi apa yang kau temukan, Tantei-san?" tantang Heiji.
"Permisi."
Suara pelayan restoran menyela pembicaraan Heiji dan Shinichi, mengantarkan makanan mereka. Berbagai macam menu soba tersaji di depan mereka. Sera dan Eisuke dengan menu Nishin Soba, Shiho, Sonoko, dan Ran dengan Rikyu Soba, sedangkan Heiji dan Shinichi memilih menu Hourai Soba.
"Lupakan saja, Ishikawa-san. Mari kita menikmati makan malam ini," ucap Shinichi.
"Have you ever tried Soba before, Miss Danzel?" tanya Sera pada Shiho.
"Yeah, Raiden has cooked Soba for me several times," jawab Shiho berbohong.
"How's the taste, Honey?" tanya Heiji.
"Of course, it's better than yours, Dear," jawab Shiho berakting manis di depan Heiji.
Heiji membalasnya dengan senyuman lebarnya.
'Senyumannya manis sekali,' ucap Heiji dalam hati.
'Dia bisa tersenyum semanis itu? Kenapa senyumannya mengingatkanku pada Shiho?' tanya Shinichi dalam hati.
Mereka menikmati Soba masing-masing, Ran sesekali menyuapi Shinichi, membuat Shiho melirik tajam ke arah Shinichi, Heiji yang menyadari hal itu langsung mengalihkan perhatian Shiho dengan ikut menyuapinya.
Makan malam berakhir, mereka keluar dari restoran. Sekali lagi, Ran terus menggandeng tangan Shinichi, tak ingin lepas darinya. Shinichi tiba-tiba merinding karena merasa ada yang menatapnya dengan tajam, saat ia berbalik, ia hanya melihat teman-temannya dan juga Heiji yang sedang membelai rambut Shiho. Entah kenapa, Shinichi merasa tidak nyaman jika melihat lelaki berambut sebahu itu memperlakukan Elena (Shiho) dengan baik.
"Terima kasih sudah mengajakku dan Elena untuk makan malam bersama kalian. Kami pamit dulu," ucap Heiji memutuskan untuk berpisah dengan persetujuan Shiho.
"Kau mau kemana setelah ini, Ishikawa-san? Bagaimana jika kalian ikut dengan kami ke…"
"Dasar detektif tidak peka! Kau mengganggu waktu mereka berdua, bodoh!"
Sonoko menyela omongan Shinichi, membuat Shinichi memanyunkan bibirnya.
"Hahaha… It's ok, Suzuki-san. I'm sorry, Kudo-san, aku dan Elena ingin berjalan-jalan santai di Kyoto berdua saja. Jadi aku permisi dulu."
Heiji memeluk pinggang Shiho dan meninggalkan mereka. Shinichi sepertinya tidak rela jika harus berpisah dengan Shiho, ia terus menatap punggung Shiho bahkan ketika mereka sudah agak menjauh.
"Shinichi?"
"Ah… iya, Ran. Ada apa?"
"Ayo, Shinichi."
S Coffee, 07: 37 PM
"Aku tidak tahu aktingmu sehebat itu," puji Shiho dengan seringaian khasnya.
"Kau meremehkanku, neechan," balas Heiji juga dengan menyeringai. "Aku juga tidak tahu ternyata kau bisa cemburu, neechan."
"Tch! Aku tidak cemburu."
"Oh ayolah, aku ini detektif, Nona! Membaca mimik wajah dan gestur tubuh itu hal yang mudah untukku."
"Shut up!"
Heiji tertawa mendengar tanggapan Shiho.
'Neechan bisa bertingkah manis juga,' ucap Heiji dalam hatinya.
"Jadi, apa rencanamu, neechan? Kenapa kau malah memilih menjauh darinya? Kita kesini kan untuk menemui Kudo," tanya Heiji.
"Aku tidak tahu, melihat gadis itu senang sekali saat berada di dekat Shinichi, apa aku harus setega itu menghancurkan kebahagiaannya?"
"Lalu, bagaimana denganmu? Kita jauh-jauh datang ke sini bukan untuk melihat kau menyerah! Ayolah, aku pikir kau bisa lebih baik dari ini, neechan!"
Shiho menatap Heiji lamat-lamat, dalam hatinya menyetujui perkataan Heiji. Bagaimana bisa dia sudah ada di sini, tapi justru hampir menyerah, memilih jadi pengecut lagi, memilih untuk lari lagi?
"Ayo, kita susul mereka!"
Heiji menarik tangan Shiho keluar dari café.
"Eh…" Shiho terkejut dengan tindakan Heiji.
"Aku yakin kau membawa kacamata yang biasa dipakai Kudo dan aku juga yakin kau bisa melacak posisi Kudo saat ini kan, neechan?" tanya Heiji penuh keyakinan.
Shiho tertawa kecil mendengar pertanyaan Heiji. "Kalian para detektif memang menyusahkan!"
Heiji hanya menanggapi dengan tawa dan mereka mulai mencari jejak Shinichi.
Yasaka Shrine, 08:02 PM
Indahnya cahaya lampion menghiasi Yasaka Shrine. Ratusan pengunjung menikmati suasana temaram di sana. Musim semi menambah suasana romantis bagi mereka yang datang dengan pasangan, tapi tidak termasuk pasangan palsu yang justru terlihat sibuk mencari-cari sesuatu.
"Kau yakin mereka ada di sini?" tanya Heiji.
"Menurut titik lokasi terakhir, dia ada di sini," jawab Shiho sambil berusaha menyalakan kacamata pencari jejak milik Conan yang mati.
"Sayang sekali baterai kacamatamu itu habis."
"Tidak masalah, kita bisa mulai mencarinya di lokasi ini."
Mereka berdua mencari jejak Shinichi di keramaian Yasaka Shrine malam ini, namun karena terlalu ramai, Shiho beberapa kali harus menunduk dan bersembunyi di belakang Heiji. Sedari awal Heiji tidak melepas genggaman tangannya, tempat ramai seperti ini dan tanggung jawab Heiji pada Shiho, membuat Heiji memilih meminimalisasi risiko Shiho terpisah darinya di keramaian.
"Kau lelah, neechan?" Heiji mulai menyadari perilaku aneh Shiho.
"Tidak, aku hanya tidak nyaman karena di sini terlalu banyak orang."
Heiji lupa, Shiho ini seorang buronan organisasi mafia terbesar di Jepang. Walau dengan penyamaran, Shiho tetap merasa was-was jika sedang berada di keramaian.
"Kita ke sana dulu, neechan."
Heiji menarik Shiho ke sudut yang tidak terlalu ramai.
"Aku beli minum dulu untukmu, neechan. Kau jangan pergi kemanapun!"
"Aku bukan anak kecil, Hattori-kun! Kenapa kau memperlakukanku seperti anak kecil?" Shiho menatapnya sebal.
"Aku bertanggung jawab melindungimu, jadi aku harus mengawasimu 24 jam penuh! Kau tunggu disini, jangan pergi kemanapun!"
Shiho ber-facepalm setelah Heiji berjalan menjauh darinya, tidak pernah menduga Heiji juga seperti Shinichi atau bahkan lebih parah dari dia, karena perlakuannya pada Shiho. Akhirnya ia memilih menikmati pemandangan lampion dari posisinya saat ini. Melupakan sejenak bebannya.
"Sendirian saja, Nona?"
Shiho melirik tajam 3 orang lelaki di sebelahnya, memilih tidak menanggapi omongan mereka.
"Hey, kau menakutinya."
"Perempuan cantik seperti ini berbahaya jika dibiarkan sendirian. Lebih baik ikut dengan kami, Nona."
Shiho diam, menahan emosinya. Melangkah menjauhi mereka. Bukan tidak mampu melawan, tidak mungkin ia membongkar penyamarannya di sini hanya karena lelaki-lelaki brengs*k seperti mereka. Sialnya, mereka malah mengikuti Shiho.
"Oh ayolah, Nona. Kami tidak bermaksud jahat padamu."
"Iya, kami justru ingin mengajakmu ke tempat yang aman."
"Tidak perlu takut kepada kami, Nona!"
Dengan kurang ajarnya salah satu lelaki itu menarik tangan Shiho membuat Shiho memberontak.
"Memaksa wanita untuk ikut denganmu tanpa persetujuannya adalah salah satu bentuk pelecehan, Paman."
Suara khas bariton yang sangat dikenal Shiho terdengar dari arah belakangnya. Shinichi yang mengenali sosok Shiho dalam penyamaran Elena dari warna rambutnya melepas paksa genggaman tangan lelaki itu dan berdiri di hadapan Shiho, menghalangi 3 orang lelaki itu
"Are you okay, Miss Danzel?" tanya Shinichi mengecek kondisi Shiho.
Shiho mengangguk. Shinichi kembali menghadapi 3 lelaki itu.
"Apa urusanmu? Jangan ikut campur urusan kami!"
"Tentu saja jadi urusanku, kau melecehkan wanita, Paman. Itu termasuk tindakan kriminal!"
"Tch, kami tidak melecehkannya! Jangan asal menuduh jika tidak ada bukti!"
"Kami hanya ingin mengajak dia ke tempat yang aman. Tidak perlu berlebihan!"
"Mudah saja jika kalian ingin bukti, aku melihat beberapa orang merekam video disini, tinggal kumpulkan saja orang-orang itu, dan jangan lupakan ada CCTV di sana jika kalian masih perlu bukti."
Shinichi tersenyum puas setelah 3 lelaki itu mulai terlihat takut.
"Dia hanya ingin mengancam kita, bodoh! Jangan terpengaruh!"
"Aku tidak mengancam kalian, aku hanya menunjukkan bukti."
"Tch, mengganggu saja! Siapa kau sebenarnya?"
"Kud-"
"Ada apa ini?"
Suara Heiji mengalihkan perhatian mereka semua. Heiji menatap Shiho cemas, menarik Shiho dalam pelukannya. Shiho terkesiap dengan tindakan Heiji, sedangkan Shinichi lagi-lagi merasa tidak nyaman melihatnya.
"Sudahlah, kita pergi saja. Terlalu banyak pengganggu!"
3 lelaki itu pergi setelah mendapat tatapan intimidasi dari Heiji dan Shinichi.
"Are you alright, Honey? Did they hurt you?" Heiji juga mengecek kondisi Shiho.
"I'm fine, Raiden," jawab Shiho membelai pipi Heiji, sengaja berakting mesra di hadapan Shinichi, tanpa tahu tindakannya juga sedikit mempengaruhi Heiji.
Shiho tidak merasa takut sama sekali dengan apa yang baru saja terjadi, tidak ada yang lebih menakutkan daripada harus kehilangan lagi orang-orang yang ia kenal karenanya. Hanya saja ia harus menahan diri jika tidak ingin penyamarannya terbongkar dan tidak menarik perhatian banyak orang.
"Terima kasih, Kudo-san, sudah melindungi Elena ku," ucap Heiji.
"Bukan masalah, tapi bukankah kau bilang melindunginya adalah prioritasmu, kenapa kau malah meninggalkannya sendirian di sini, Ishikawa-san?" tanya Shinichi sinis.
"Hmmm… Ada apa ini? Menarik sekali,' Heiji bertanya-tanya dalam hati.
Shiho yang sangat mengenal Shinichi dengan baik, semakin sengaja bersikap manja pada Heiji.
"Aku hanya membelikan minum untuknya karena dia terlihat sangat lelah setelah berjalan-jalan di sekitar tempat ini," jawab Heiji.
"Tetap saja hal ini berbahaya untuknya, Ishikawa-san. Kau tidak lihat dia hampir saja menjadi korban pelecehan para lelaki brengsek itu?" tanya Shinichi semakin sinis, semakin merasa tidak nyaman saat melihat Shiho bermanja-manja pada Heiji. Rasanya ingin memisahkan mereka berdua. Padahal Shinichi baru bertemu sosok Elena Danzel hari ini, baru beberapa jam yang lalu, tapi ia merasa tidak senang jika Elena Danzel ini bersikap manja dengan kekasihnya. Apa karena Elena mengingatkannya pada Miyano Shiho?
"I'm sorry, Honey. I've left you alone, you must be scared," Heiji mencium puncak kepala Shiho.
'Anak ini!' pikir Shiho.
"It's okay, Dear. I'm fine. You're not wrong, don't need to feel guilty," ucap Shiho memeluk Heiji dengan sedikit berjinjit dan membisikkan sesuatu padanya. "Awas kau ya!"
Heiji tertawa setelah mendengar ancaman Shiho, kemudian membelai pipinya.
Shinichi semakin tidak suka dengan adegan di hadapannya. "Tch!"
"Ada masalah, Kudo-san?" tanya Heiji sengaja menggoda Shinichi.
"Tidak ada. Aku permisi dulu," jawab Shinichi memilih pergi daripada semakin lama di sana ia semakin membayangkan Shiho di sana bersama lelaki lain. Tidak, dia bukan Shiho! Dia Elena Danzel!
Shiho dan Heiji saling bertatapan setelah Shinichi pergi. Mereka tertawa bersama.
"Sepertinya dia cemburu melihat kita, neechan!"
"Dan sepertinya kau senang sekali mengambil kesempatan dalam kesempitan," Shiho mencubit lengan Heiji.
"Awww… Awww… Maaf, neechan. Aku kan harus berakting sebagai kekasih yang baik," ucap Heiji mengelus-elus lengannya yang kesakitan karena cubitan Shiho.
"Pervert!"
"Hei, tapi kan sepertinya kita berhasil!"
"Tetap saja aku belum mengijinkanmu melakukan itu!"
"Baiklah, kalau begitu sekarang aku minta ijin padamu, just in case!"
"Nope! Dasar mesum!"
"Hei!"
"Tch! Apa-apaan sih mereka itu! Kenapa harus bermesraan di depanku?" Shinichi menggerutu sendiri.
"Shinichi… Kau darimana saja? Tiba-tiba menghilang seperti itu," Ran menghampiri Shinichi.
"Dasar bodoh! Ran sampai panik mencarimu!" Sonoko memarahi Shinichi.
"Sepertinya tadi ku lihat kau bersama seseorang, Kudo-kun," ucap Sera.
"Tadi aku bertemu Ishikawa-san dan Dazel-san," jawab Shinichi dengan muka masam karena kembali mengingat kemesraan Heiji dan Shiho.
"Aku pikir kau meninggalkanku lagi, Shinichi," ucap Ran dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak, Ran. Maaf membuatmu khawatir," balas Shinichi mencoba menenangkan Ran dengan menepuk-nepuk lembut bahu Ran.
Ran kembali memeluk lengan Shinichi dan tiba-tiba Shinichi merasakan lagi tatapan tajam yang seakan bisa membunuh dirinya. Ia menoleh ke segala arah untuk mencari sumber tatapan itu.
"Kau ini daritadi kenapa sih? Seperti sibuk mencari seseorang," selidik Sonoko.
"Tidak, aku tidak mencari siapapun," Shinichi menggelengkan kepalanya. "Jadi, mau kemana lagi kita?"
"Ayo kita berfoto di sana, Shinichi."
Mereka berpindah tempat menuju bagian tengah untuk berfoto dan justru melihat Heiji sedang sibuk memotret Shiho.
"Danzel-san memang cantik sekali. Sepertinya dia juga berasal dari keluarga kaya. Kalian lihat semua yang ia pakai dari atas hingga bawah, semuanya barang-barang branded. Aku suka sekali warna rambutnya. Pulang dari sini sepertinya aku akan mengubah warna rambutku seperti itu."
Sonoko yang memang berasal dari Klan Suzuki, yang tahu banyak tentang barang ber-merk mahal, memuji penampilan Shiho.
"Tapi dia dingin sekali, mengingatkanku pada anak perempuan di rumah Hakase," lanjutnya lagi.
"Hahaha… Kau benar Sonoko. Sikap dinginnya mengingatkanku pada Ai-chan, tapi ia terlihat manja sekali pada Ishikawa-san. Mungkin jika Ai-chan nanti punya kekasih, dia juga akan seperti itu," balas Ran.
"Haha… Tidak mungkin," gumam Shinichi, mengingat perilaku Shiho padanya selama beberapa bulan ini, mana pernah ia bermanja-manja pada Shinichi? Gadis tsundere nya itu justru lebih banyak mengerjainya.
"Hmmm… Kau mengenal Ai-chan?" tanya Ran.
"O-oh, a-aku hanya pernah mendengar cerita tentang dia dari Conan-kun," jawab Shinichi ber-sweat drop.
"Mata-matamu itu?" tanya Sonoko sinis.
"Oi… Oi…"
"Aku ingin bertanya pada Danzel-san tentang warna rambutnya! Ran, temani aku!" Sonoko menarik tangan Ran meninggalkan Shinichi, Sera, dan Eisuke di belakang.
"Hey, Kudo. Apa sebenarnya rencanamu? Apakah aku harus diam saja seperti orang bodoh menyaksikan Ran terus menempel kepadamu?" Eisuke akhirnya bersuara setelah sepanjang hari diam, tak banyak bicara.
"Maafkan aku, Hondou-san. ARGH! Aku tidak bisa fokus karena Shiho sedang sakit dan aku malah jauh darinya!"
"Sherry sakit?" tanya Sera terkejut.
"Iya dan dari tadi ia tak bisa dihubungi!" Shinichi menjambak rambutnya sedikit frustasi mengingat itu ditambah tiba-tiba ia kembali teringat Elena Danzel yang bermanja-manja pada Ishikawa Raiden dan dia tidak bisa melepas bayangan Shiho dari sosok Elena Danzel, ia jadi membayangkan jika Shiho benar-benar melakukannya. Sial! LDR sialan!
"Detektif cerdas sepertimu jika menyangkut urusan perasaan memang selalu menjadi bodoh ya? Ku pikir akan ada perubahan setelah empat tahun," ucap Eisuke sinis. "Jujur saja, kau tidak punya rencana apapun kan?"
Shinichi memaklumi sikap sinis Eisuke, bagaimanapun wajar jika Eisuke marah padanya. Kekasihnya bermesraan dengan lelaki lain di hadapannya dan ia tidak bisa melakukan apapun tentang itu.
"Rencanaku sebenarnya adalah berbicara jujur pada Ran. Kebohongan ini terlalu melelahkan dan menyakitkan banyak orang. Jika pada akhirnya nanti dia akan membenciku, aku terima. Aku pantas menerima itu," ucap Shinichi dengan kepala menunduk, menutupi kedua mata dengan poninya.
"Dan membuat Ran kembali collapse? Hebat! Kau egois, Kudo! Kau hanya memikirkan dirimu saja, kau tidak memikirkan apa yang akan terjadi pada Ran jika ia mengetahui itu! Kau kira selama ini aku tidak ingin menceritakan semuanya pada Ran? Aku harus menahan sakit hatiku karena ia terus membicarakan dirimu! Aku berekspektasi terlalu tinggi padamu, Kudo! Ternyata ekspektasiku salah."
"Hei, Eisuke, tenanglah. Aku tahu kau marah, tapi tenanglah, kita bisa membahas ini bersama-sama. Dan kau Kudo, kupikir kau punya rencana yang lebih baik dari ini!" Sera mencoba menengahi.
Shinichi akhirnya mengangkat wajahnya dan menyeringai pada Eisuke dan Sera membuat mereka berdua sedikit terkejut karena seringaian ini adalah ciri khas Kudo Shinichi jika sudah berhasil menemukan petunjuk penting untuk mengungkap pelaku kejahatan.
"Kalian percaya padaku, kan?" tanya Shinichi pada mereka berdua. "Aku akan memberi tahu rencanaku pada kalian nanti."
"Hai, kita bertemu lagi," sapa Heiji.
"Ya ya kita bertemu lagi!" balas Shinichi sinis.
"Uhm… Ano… Excuse me, Danzel-san. I-I love your hair color. Could you tell me what is your hair color?" tanya Sonoko agak gugup.
"Ow… Thank you, Miss Suzuki. This is platinum blonde hair."
"Kudo, aku merasa pernah melihat Danzel-san tapi aku tidak tahu di mana. Wajahnya tampak tidak asing," Sera berbisik pada Shinichi.
"Kau yakin? Mungkin kau salah lihat. Tapi auranya mengingatkanku pada Shiho. Dingin. Tatapan matanya juga tajam seperti Shiho. Bahkan dia memiliki nama yang sama dengan…"
"Kau benar-benar merindukan kekasihmu, huh? Aku yakin dia tidak akan segan-segan menjadikanmu kelinci percobaan jika ia mendengar kau menyamakan ia dengan wanita lain," ledek Sera.
'Ha… Ha… Ha… Kau benar Sera-san. Aku tidak akan selamat jika ia mendengar itu,' ucap Shinichi dalam hati, ber-sweatdrop, tanpa melepas tatapannya dari Shiho.
"Is there something wrong on my face, Mister Kudo?" tanya Shiho mengeluarkan seringaian sinisnya setelah pandangan mereka bertemu.
"Ah-uh… I-I'm sorry, Miss Elena. Ugh, I mean Miss Danzel. Nothing's wrong on your face," jawab Shinichi gugup seperti ketahuan setelah melakukan hal yang buruk.
"Aku tahu, Elena ku sangat cantik. Kau juga melihatnya kan, Kudo-san? She's very beautiful!" ucap Heiji sambil merangkul Shiho dan mendekapnya. "Tapi bukan berarti kau bebas memandang wajah cantiknya, Kudo-san. Seriously? In front of your girlfriend? Kau menyakiti hati pacarmu jika kau terus berkelakuan seperti itu, Kudo-san."
"Hah? N-no. She's not my…" Shinichi dengan panik menjelaskan pada Shiho, namun ia tak menyelasaikan kalimatnya dan kemudian menarik napas panjang. "I'm really sorry, Miss Danzel. You just remind me of someone."
"Wow, ini menarik sekali, neechan," bisik Heiji pada Shiho dengan dalih mencium puncak kepala Shiho.
Shiho membalas perilaku Heiji dengan diam-diam mencubit pinggang Detektif Osaka itu.
"There's another woman in your life, Sir? Wow, you're really a Casanova, huh?" Heiji meledek Shinichi hingga membuat Shinichi kesal. Shiho tersenyum sinis.
"EHEM…" Sera berdeham keras untuk mengalihkan perhatian. "Ran, Sonoko, bukankah kalian ingin berfoto di sini tadi?"
"E-eh… Iya, Masumi-chan. Ayo, kita foto, Ran!" ajak Sonoko.
"Kalian ingin berfoto? Bagaimana jika aku bantu?" tawar Heiji.
"Jika itu tidak merepotkan, terima kasih, Ishikawa-san," ucap Ran.
Mereka berpose dengan ratusan lampion sebagai latarnya. Mereka berlima, bahkan saat Ran berpose berdua saja dengan Shinichi, Heiji masih memotretnya.
"Bagaimana jika kalian juga ku foto?" Ran balik menawarkan, Heiji menyerahkan kameranya.
"Biar aku saja Ran."
Shinichi mengambil alih, dengan seringaiannya, ia memotret asal Heiji dan Shiho.
Shiho sengaja berpose " lebih mesra" dengan Heiji, ia mulai menikmati bagaimana Shinichi tetap merasa cemburu walau ia sedang dalam mode penyamaran, dan sedikit memberikan "pelajaran" pada kekasihnya itu.
Hanya sedikit.
Shiho melingkarkan lengannya di leher Heiji, menatap dalam mata lelaki itu, dan semakin mendekatkan wajahnya. Membuat Heiji terkejut dengan tindakan tiba-tiba Shiho. Ia rasa wajahnya saat ini sudah memerah. Ia bahkan bisa merasakan hembusan napas Shiho karena jarak mereka semakin dekat. Refleks, ia memeluk pinggang Shiho. Ia ingin tetap fokus pada misinya, tapi bagaimana bisa jika wanita di hadapannya ini malah membuyarkan pikirannya, membuatnya terlena.
'Sial, kau cantik sekali, neechan! Maaf Kudo, aku tidak bermaksud mengkhianatimu, tapi aku rasa aku menikmati misi ini.'
Di sisi lain, Ran, Sonoko, dan Sera sangat antusias melihat adegan "mesra" antara Shiho dan Heiji, sedangkan Eisuke sibuk mengamati Ran, dan Shinichi…
Bukankah dia seharusnya memotret adegan itu karena dia menawarkan diri menjadi fotografer dadakan pasangan ini? Tapi tidak… dia tidak mengambil satu gambar pun dari adegan ini. Dia merasa sudah tidak waras karena merindukan kekasihnya dan selalu melihat Shiho di dalam sosok Elena Danzel. Akal sehatnya seperti tertimbun longsoran rasa rindu. Ia terus-menerus merasakan bahwa saat ini ia melihat Shiho sedang bermesraan dengan lelaki lain.
"That's enough, Sir! I've taken lots of picture of you two."
Suara itu menyadarkan lamunan Heiji dan membawanya kembali ke realita. Sedangkan Shiho menatap Shinichi tanpa ekspresi sambil melipat tangan di dada.
"O-oh… Y-ya, terima kasih, Kudo-san," balas Heiji yang masih gugup setelah perlakuan Shiho barusan.
"Kau mengganggu saja, Detektif Bodoh!" protes Sonoko pada Shinichi karena ia harus melewatkan adegan yang mendebarkan.
Tidak menggubris ocehan Sonoko, Shinichi menyerahkan kembali kamera itu ke Heiji. "This is your camera."
Tepat saat ia akan kembali, ia mendengar Shiho berbisik.
"Idiot!"
Membuat Shinichi membalikkan badan dan menatap Shiho, hanya untuk melihat Shiho membelai pipi Heiji, seakan-akan ia tidak pernah mengatakan hal itu.
'Shiho?'
Apakah ia berkhayal lagi? Tapi dengan jelas ia mendengar Elena berbisik padanya, mengingatkannya pada Shiho.
"Kau butuh sesuatu, Kudo-san?"
"T-tidak, Ishikawa-san."
Shinichi kembali pada teman-temannya, sedangkan Shiho meminta untuk kembali ke hotel karena ia sudah terlalu lelah dan ia tidak tahu kapan efek antidote ini berakhir.
Shiho telah meminum antidote selama 12 jam lebih dan sangat berbahaya jika ia tiba-tiba kembali ke wujud Haibara Ai di sini.
.
.
.
TBC
A/N: KU TAK TAU HARUS MELETAKKAN TULISAN BERSAMBUNG DI PART MANA, JADI YAUDAHLAH YAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA! HEHEHE.
Btw, aku baru ngeh ternyata Masumi, family namenya itu Sera. Jadi ya ada sedikit perubahan. Yang akrab panggil dia Masumi, yang baru kenal, panggil dia Sera.
Oh iya, maaf banget maaf baaaaaaaaaaaangeeeeeeeeeeeeeeeeet! Diriku lama banget submit cerita, karena kesibukan di real life dan ini tuh sebenarnya udah disiapkan lanjutannya tapi pas dibaca ulang eh kayak ada yang aneh akhirnya buat ulang lagi, dan itu butuh konsentrasi! Hahaha! Jadi aku seliweran aja di ffn nyari inspirasi. SO, yes aku masih ada, masih jadi pembaca setia ff coai/shinshi tapi agak lama aja buat submit cerita.
Mohon maaf sebesar-besarnya ya, kawan-kawan.
Terima kasih masih membaca ff ini, please reviewnya.
