DISCLAIMER: Aoyama Gosho, pemilik sah hak cipta Detective Conan. Daku hanya reader kentang karya beliau dari kelas 3 SD yang sangat menyukai chemistry ConanXAi atau ShinichiXShiho. Maaf aku terjangkit Second Lead Syndrome!

WARNING: OOC, Typo, Plot lebay, maksa, dan ngebosenin hahahahaha.

A/N: Aku sudah beberapa kali mengakui kalau aku belum begitu mampu membangun diksi yang bagus, jadi ceritaku akan didominasi dengan dialog, tapi aku akan berusaha membuat diksi bagus yang tidak membosankan. Harap maklum semuanya.


HEART

CHAPTER 16

Happy Birthday, Shinichi!


Hotel P, Kamar 1509, 09:28 PM.

Shiho langsung merebahkan diri di bed tanpa mempedulikan Heiji yang menatapnya bingung.

"Don't ask! I'm tired!" ucap Shiho seakan bisa membaca pikiran Heiji.

"Aku tidak mengatakan apapun."

"Aku tahu apa yang kau pikirkan. Aku lelah, Hattori-kun!"

"Hei, aku juga lelah!"

Shiho mengangkat kepalanya untuk melihat Heiji. "Jika maksudmu kau ingin berbaring di sebelahku, silahkan! Aku tidak peduli, tapi jangan pikir kau bisa macam-macam denganku. Ingat, aku bisa membuat Kudo-kun mengecil karena obat, jadi aku juga bisa melakukan itu padamu, bahkan mungkin lebih parah dari itu!"

Ia kembali berbaring, menutup sebagian wajahnya dengan lengannya.

"Oh wow! Aku lupa "pacarku yang manis" ini sudah kembali jadi neechan yang dingin! Dan HEI aku tidak akan melakukan itu padamu! Sudah kubilang, aku juga lelah!" Setelah membuka jasnya dan melepas properti penyamarannya, Heiji akhirnya berbaring di sebelah Shiho.

"Terima kasih, Hattori-kun. Kau sudah membantuku hari ini," ucap Shiho pelan tanpa melihat ke arah Heiji.

"Sudah tugasku membantumu, neechan. Tidak perlu sungkan."

"Tapi…" Shiho memalingkan wajahnya ke arah Heiji, membuat Heiji terkejut dan sedikit merona karena tatapan Shiho yang dalam padanya.

"E-eh… K-kenapa, neechan?" tanya Heiji gugup.

"Bukan berarti kau bebas menyentuhku semaumu, pervert!" sambung Shiho sambil mencubit pipi Heiji.

"AWWW… AWWW… M-maaf, neechan. Aku kan sudah minta ijin padamu. Lagipula kau lihat kan tadi Kudo sepertinya cemburu melihat kita," ucap Heiji mengusap pipinya yang kesakitan karena dicubit Shiho.

"Aku tidak ingat pernah mengijinkanmu untuk itu!" Shiho kembali menutup wajah dengan lengannya. "Lagipula, aku heran padanya. Dengan penyamaran ini bagaimana bisa dia merasa cemburu? Apakah ada yang salah dengan penyamaranku, Hattori-kun?"

"Hmmm… Kekuatan cinta mungkin?"

"Stop it, Hattori-kun! Atau aku akan mengusirmu dari sini!"

"Ugh, aku pun merinding mendengar ucapanku sendiri! Tapi bisa saja kan, neechan. Maksudku, Kudo memiliki insting yang kuat, mungkin saja dia merasakan auramu yang dingin itu."

Hening…

"Kau sudah tidur, neechan?"

"…"

"Aku tahu kau belum tidur."

"…"

"Neech-"

"Seriously, Hattori-kun? Aku bahkan baru berbaring sekitar 10 menit."

Shiho yang kesal, memilih untuk bangun dan berjalan menuju kamar mandi, Heiji kembali tertawa karena berhasil membuat Shiho kesal.

'Aku tidak pernah menyangka ternyata neechan bisa semanis itu. Ah, sial! Baru beberapa jam bersamanya sudah membuatku susah untuk fokus!' keluh Heiji dalam hati.

Sepertinya Heiji terlalu lelah, pada akhirnya ia tertidur. Shiho yang baru keluar dari kamar mandi setelah membersihkan dirinya, menggelengkan kepalanya setelah melihat Heiji yang tertidur pulas di hadapannya.

"Ckckck… Anak ini! Setidaknya ganti bajumu dulu, Hattori-kun!"

Tidak ada tanggapan dari Heiji. Shiho menyerah dan memilih menonton TV dan sayangnya tidak ada acara tv yang menarik perhatiannya. Shiho membuka balkon kamarnya, menikmati pemandangan malam di Kyoto. Mengingat kembali pertemuannya tadi dengan Shinichi. Ingin sekali rasanya ia memeluk Shinichi saat pertama kali mereka bertemu. Ingin rasanya ia mengatakan bahwa ia ada di sini, aku ada di hadapanmu, Shinichi! Terlebih lagi, ingin sekali ia menarik tangan Shinichi, mengatakan di depan Ran bahwa saat ini ia adalah kekasih Shinichi. Shiho tertawa kecil, ia tidak bisa seegois itu. Ia yang menyuruh Shinichi menemui Ran. Biarlah nanti Shinichi yang menyadari sendiri bahwa ia ada di sini, bersamanya.

"Sudah 14 jam dan aku masih belum berubah," Shiho bergumam sendiri, sepertinya efek antidote di tubuhnya bertahan lebih lama dari yang ia perkirakan. Mungkin karena ia jarang mengonsumsi antidote itu, sehingga ketahanan tubuhnya lebih lama dibandingkan Shinichi. Ia juga memikirkan efek antidote di tubuh Shinichi, sudah hampir 10 jam dan ia tidak tahu kondisi Shinichi saat ini bagaimana.

Shiho masuk ke dalam kamar untuk mengambil ponselnya, yang sialnya justru saat ini ponselnya benar-benar mati karena baterainya habis. Shiho lelah, tapi tubuhnya menolak untuk berbaring. Bukan karena ada Heiji di sampingnya, ia tidak peduli. Tapi, memang dia hanya tidak ingin saja beristirahat. Padahal biasanya ia lebih memilih untuk diam di kamar, membaca majalah atau menonton tv, tapi malam ini, ia ingin sekali berjalan-jalan ke luar kamar sendirian. Apalagi ia dengar di rooftop hotel ini terdapat bar. Sepertinya segelas Sherry bisa membuatnya rileks. Sudah lama sekali…

Setelah berganti pakaian dan mengecek keadaan Heiji, diam-diam ia keluar kamar untuk menuju rooftop. Shiho segera memakai hooodie, menutupi wajah dan menggulung rambutnya dengan topi baseball miliknya, pemberian dari Shinichi. Ia hanya ingin menikmati segelas Sherry dengan nyaman, sendirian, toh tidak akan ada yang mengenalinya di hotel ini. Ia meninggalkan catatan kecil di meja sebelah Heiji agar Heiji tidak terlalu panik saat bangun dan menyadari bahwa ia tidak ada di kamar.

"One Sherry, please!" ucap Shiho pada bartender di hadapannya. Ia kini telah berada di bar. Cukup banyak pengunjung, mungkin karena weekend dan peak season. Sudah lama ia tidak ke bar, saat masih di BO dulu, jika sedang stress dengan penelitiannya atau saat harus menghadapi Gin, ia pasti akan ke bar, menikmati segelas Sherry sendirian. Ia tahu bahwa usianya belum termasuk usia legal untuk mengonsumsi alcohol, tapi sebagai member BO, ia memiliki privilege akan hal itu.

Saat ia sedang menikmati minumannya, ia mendengar suara seseorang yang familiar di sebelahnya.

"Martini, please."

'Hondou-san?'

"Oh, look at here! Should I call you Miss Haibara or Miss Danzel?"

"How did you know?"

"It's easy if you keep staring at that stupid detective. Just like me staring at my girl."

"CIA, huh?"

"You bet..."

"Jadi, dimana mereka?"

"Entahlah, aku terlalu lelah menghadapinya. Apakah itu permanen? You know… penawar racun itu?"

"Tidak, mungkin sekitar 2 jam lagi efeknya habis."

"Berlaku untukmu juga?"

"I'm not sure about that. Sudah 14 jam dan belum ada efek apapun."

Mereka kembali diam, menyesap minuman masing-masing.

"Jadi, apa rencanamu datang ke Kyoto?" tanya Eisuke setelah menghabiskan gelas pertamanya.

"Membunuhnya mungkin," jawab Shiho santai.

"I wish I could do that too."

"Kenapa kau diam saja saat melihat pacarmu terus menempel pada Kudo -kun? Aku tahu idiot itu menghindarinya, tapi gadis itu terus mendekatinya. Setidaknya kau harus melakukan sesuatu," Shiho memutar-mutar gelasnya.

"Aku bisa apa? Melarangnya? Mengatakan semuanya pada Ran dan membuat dia kembali collapse? Dia bahkan sempat pingsan sebelum kami berangkat. Mau tahu apa yang lebih konyol? Dia ingin aku membantunya memberikan kejutan untuk ulang tahun pacarmu tengah malam nanti! Apa yang bisa aku lakukan?" Eisuke membalas dengan penuh emosi.

"Then, do something. Kecuali kau ingin terus menahan emosi melihat kekasihmu menempel pada lelaki lain dan kau tahu 78% kasus pembunuhan terjadi karena kecemburuan. Konyol sekali, tapi memang itu faktanya," ucap Shiho menenggak habis minumannya. "Kau punya Suzuki-san dan Sera-san yang bisa membantumu, bahkan Kudo-kun juga ingin membantumu."

Drrrttt… Drrrttt… Drrrttt…

Ponsel Eisuke bergetar, ia melihat nama Sonoko di layarnya.

"Halo…"

.

.

.

"Aku segera ke sana!"

"Ada apa?" tanya Shiho yang melihat Eisuke sedikit panik dan buru-buru membayar minumannya.

"Ran tiba-tiba pingsan lagi."

Shiho mengikuti Eisuke untuk mengecek keadaan Ran. Ia melihat Sonoko dan Sera tapi tak melihat Shinichi di sana. Ia menunggu di luar kamar, melihat jam di tangannya, sedikit cemas karena jika hipotesanya benar, maka efek antidote dalam tubuh Shinichi akan hilang.

"Wow, this is really… you, Sherry!"

Sera menghampiri Shiho di luar kamar.

"I knew it!" ucap Sera masih antusias.

"Yeah, it's me, Sera-san. Bagaimana keadaannya?" tanya Shiho.

"Ran belum sadar, tapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Eisuke sudah memberikan obat padanya," jawab Sera sambil tersenyum, membuat Shiho sedikit curiga.

"What?" Shiho menaikkan satu alisnya.

"Siapa lelaki yang bersamamu tadi? Aku bertaruh, Kudo akan mengamuk jika ia tahu kau, Sherry, bermesraan dengan lelaki lain di hadapannya. Hahaha… You're really really insane!"

"Dimana dia?"

"Dia bilang dia ingin menghubungimu. Setelah dia pergi, Ran tiba-tiba pingsan. Mungkin sekarang dia ada di kamarnya jika kau ingin menemuinya. 1508."

'1508? Kamarku bersebelahan dengan kamarnya? Yukiko-nee pasti sengaja melakukannya!' ucap Shiho dalam hati.

"Terima kasih, Sera-san! Tolong rahasiakan ini darinya, biar aku sendiri yang mengatakan padanya."


Shiho bergegas menuju lift, saat pintu lift terbuka, ia melihat Shinichi di dalam sana dengan ekspresi cemasnya. Seketika, ia langsung menundukkan kepalanya agar Shinichi tak melihatnya dan masuk ke dalam lift.

Mungkin karena terburu-buru, Shinichi menabrak bahu Shiho hingga Shiho hampir terjatuh.

"Maafkan saya," ucap Shinichi berniat membantu Shiho, namun Shiho langsung masuk ke dalam lift.

Shiho menekan tombol lift sehingga pintu lift menutup. Shinichi sedikit bingung, tatapannya masih tertuju pada Shiho. Ia merasa mengenali hoodie yang dikenakan Shiho dan parfum itu…

"Apa kau juga akan seperti itu jika sesuatu terjadi padaku, Shinichi?"

Shiho tahu, tidak sepatutnya ia menanyakan pertanyaan bodoh itu. Namun saat ini hatinya sedang kalut setelah melihat ekspresi Shinichi barusan.


"Bagaimana keadaan Ran? Kenapa dia tiba-tiba pingsan?" ucap Shinichi saat melihat Ran masih terbaring tak sadarkan diri di kamarnya.

"Untuk apa kau datang ke sini? Sudah ada kami yang menemani Ran," Sonoko terlihat sebal pada Shinichi.

"Oi, Sonoko! Sepertinya kita harus bicara!" ucap Shinichi.

"Untuk apa? Tidak ada yang harus kita bicarakan," balas Sonoko ketus.

"Untuk menjelaskan semuanya. Aku tidak ingin kau terus menyalahkanku tanpa tahu kebenarannya!"

Kali ini Sonoko melihat keseriusan di mata Shinichi, sepertinya memang harus ada yang mereka bicarakan. Ia menatap Sera dan Eisuke, lalu keduanya mengangguk.

"Baiklah, kita bisa bicara di luar."

Sonoko mendahului Shinichi untuk keluar kamar.

"Jadi apa yang mau kau bicarakan?" tanya Sonoko sambil bersandar pada dinding di luar kamar Ran.

"Aku sudah tahu semuanya, tentang hubungan Ran dan Hondou-san."

Perkataan Shinichi membuat Sonoko sedikit terkejut.

"Mata-matamu itu memang tidak bisa menjaga rahasia!"

"Oi, Conan-kun tidak pernah mengatakan apapun padaku. Aku tahu semuanya, aku ini Detektif, kau ingat?"

"Detektif ya? Kalau begitu kau harusnya tahu, berapa lama Ran menunggumu! Aku bersyukur Ran akhirnya memilih Eisuke, mereka sangat bahagia sebelum kecelakaan ini! Tapi kenapa saat Ran mengalami amnesia, memori tentang Eisuke hilang dan justru malah mengingat lelaki brengsek sepertimu?" Sonoko terlihat sangat marah pada Shinichi, bagaimanapun, Sonoko adalah sahabat Ran dari kecil, kejadian ini juga tentu membuatnya sedih.

"Maafkan aku. Aku tahu aku brengsek, silahkan jika kau mau menganggapku seperti itu. Kasus yang kukerjakan sangat rumit. Aku bahkan tidak tahu kapan aku bisa kembali lagi, Sonoko. Dan aku juga senang saat tahu Ran sudah bahagia dengan Hondou-san. Ku rasa ini pilihan terbaik untuknya," ucap Shinichi menenangkan Sonoko. "Kau bisa membantuku untuk mengembalikan ingatan Ran, kita bisa memperbaiki hubungan Ran dan Hondou-san."

Sonoko memicingkan matanya, menyelidik perkataan Shinichi. "bagaimana caranya? Kau punya ide yang bagus, huh?"

"Bantu aku untuk menjauhkan Ran dariku. Maksudku, kau pasti paham seharian ini ia terus menempel padaku. Aku tidak enak pada Hondou-san, tapi menolak Ran? Bagaimana aku harus mengatakannya? Aku tahu ini bukan waktu yang tepat, mungkin kau akan marah besar padaku. Tapi, ada seseorang yang menungguku di tempat lain, Sonoko. Aku juga harus menjaga perasaannya."

"M-maksudmu?" Sonoko menegakkan badannya.

"Kau pasti paham maksudku," jawab Shinichi.

"Detektif bodoh! Kau membuat Ran menunggu dan kau malah sibuk berpacaran dengan alasan terlibat dalam kasus yang rumit. Aku tidak peduli pada urusan percintaanmu! Tapi kau menyakiti Ran! Bodoh!"

"Aku minta maaf. Aku mencoba memberitahunya di malam kecelakaan itu, aku ingin mengatakan semuanya pada Ran. Aku sudah mencobanya. Kita bisa bahas ini lain waktu, saat ini kita harus fokus pada Ran, ok?"

Sonoko terdiam menyimak perkataan Shinichi.

"Ok, maaf aku terlalu terbawa emosi. Kita fokus pada rencanamu untuk mengembalikan ingatan Ran," Sonoko melunak pada akhirnya. Mungkin ia juga terlalu lelah. Ran dan Shinichi adalah sahabatnya dari kecil. Ia memang marah pada Shinichi, tapi tetap tidak mengubah statusnya sebagai sahabat. Lagipula ia tidak punya hak apapun untuk mengatur perasaan seseorang.

Shinichi menjelaskan beberapa rencananya lagi, kali ini Sonoko sudah tidak semarah sebelumnya. Sonoko juga menjelaskan kondisi Ran. Mereka bahkan sudah bisa saling mengejek lagi seperti dulu.

"Hei, Detektif bodoh," panggil Sonoko, menghentikan langkah Shinichi masuk ke dalam kamar Ran. Perbincangan mereka sudah selesai.

"Hmmm…"

"Aku tadi mendengar Sera berbicara pada seorang wanita. Aku tidak begitu jelas melihat wajahnya, ia memakai hoodie ditambah topi hingga menutupi kepalanya. Tapi Sera memanggilnya Sherry. Apa kau mengenalnya? Ku rasa ia mengenalmu dan Ran, karena Sera sepertinya membahas kalian," ucap Sonoko sambil mengingat-ingat apa yang ia dengar tadi.

Shinichi membelalakkan matanya, sangat terkejut dengan apa yang dikatakan Sonoko.

"Hei, kau tidak apa-apa?" tanya Sonoko bingung. "Keringatmu banyak sekali."

"Kau bilang tadi Sera memanggilnya Sherry?" Shinichi bergegas meninggalkan kamar Ran, tapi tiba-tiba dadanya terasa sakit, tubuhnya panas seperti terbakar.

'Sial! Di saat seperti ini?'

"Hei, Shinichi, kau tidak apa-apa?" Sonoko terlihat panik, membuat Sera dan Eisuke keluar dari kamar untuk mengetahui apa yang terjadi.

"Kau tidak apa-apa, Kudo?" tanya Sera yang melihat jam di tangannya. 11 jam lebih. Efek antidote sepertinya akan segera berakhir.

"A-aku… tidak… apa-apa," jawabnya sambil terengah-engah menahan sakit. "Shi…ho… dimana… dia?"

"Sepertinya dia menyusul ke kamarmu," jawab Sera. "Mau ku antar, Kudo?"

"Sebenarnya ada apa ini?" Sonoko yang sepertinya belum mengetahui apa yang mereka bicarakan nampak kebingungan.

"Bukan apa-apa, Sonoko. Bisakah kau menemani Ran? Aku akan menyusul sebentar lagi," jawab Eisuke berusaha mengalihkan perhatian Sonoko.

Sonoko segera masuk ke dalam kamar untuk menemani Ran.

"Tidak… perlu… Aku bi…sa sendiri…"

Shinichi dengan terengah-engah berjalan menuju lift. Sera menemaninya hanya sampai di lift, sedangkan Eisuke kembali ke dalam kamar.

"Shiho… Dia… benar-benar… ada di sini?" tanya Shinichi saat pintu lift akan menutup.

"Kau harus melihatnya sendiri, Kudo. Dia sudah menunggumu," jawab Sera sebelum akhirnya pintu lift tertutup.


Rasa sakit pada dada Shinichi semakin parah, tubuhnya juga terasa semakin panas. Sepertinya tulangnya akan meleleh saat itu juga. Shinichi terduduk di dalam lift. Nafasnya tak beraturan. 5 lantai lagi dan ia akan sampai di lantai 15, setidaknya ia harus bertahan. Dia sedikit menyesal karena tidak menyadari wanita yang ia temui di lift tadi adalah Shiho. Ia juga meminum penawar antidote itu. Harusnya ia sadar hoodie itu, ia pernah memberikannya pada Shiho 3 tahun lalu.

"Shiho…"

TING…

Dengan terseok-seok, Shinichi melangkah ke luar lift. Pandangannya buram. Ia tidak sanggup lagi untuk berdiri. Sepertinya ia akan mengecil saat itu juga.

"11 jam 9 menit. Lebih cepat 1 jam dari waktu yang seharusnya."

Seorang wanita berdiri di hadapan Shinichi, sosok yang sedari tadi ia rindukan, sosok yang ia cari walau kondisi tubuhnya sesakit ini. Ia tidak bisa melihat dengan jelas, tapi ia mengenali sosok itu.

"Shiho…"

"Aku di sini, Shinichi," ucap Shiho, mengusap keringat di wajah Shinichi dan membantunya untuk berdiri. "Ayo kita kembali ke kamarmu."

Dengan dipapah Shiho, mereka menuju kamar Shinichi. Ia tak memalingkan wajahnya pada hal lain, ia terus menatap Shiho di tengah rasa sakitnya, seakan dunianya hanya berpusat pada sosok di sampingnya.

"Aku tahu, aku cantik," ucap Shiho sambil menyeringai, mereka sudah ada di dalam kamar Shinichi, Shiho membaringkan Shinichi di bed.

"Jangan… pergi… Shi…"

Belum sempat menyelesaikan perkataannya, rasa sakit itu menyerang lagi bertubi-tubi, tubuhnya semakin panas, peluh membasahi sekujur tubuhnya. tulangnya mulai meleleh. Shinichi kehilangan kesadaran karena proses perubahan wujudnya.

"SHIHO!"

Shinichi tersadar dan tidak menemukan siapapun di kamarnya. Tidak ada Shiho di sana. Apakah ia bermimpi? Tapi dengan sangat jelas ia mengingat Shiho mengantarkannya ke kamar. Ia melihat perubahan fisik di tangannya, tubuhnya sudah kembali mengecil dan pakaiannya sudah berganti dengan pakaian Conan. Ia yakin, ini bukan mimpi. Karena tidak mungkin ia mengganti pakaiannya sendiri. Ia mencari ke segala sisi di kamarnya, tapi tidak ada seorang pun di sana. Shiho telah pergi. Tapi, ia yakin, Shiho masih ada di hotel ini.

Shinichi mengambil ponselnya dan segera menghubungi Shiho, namun berkali-kali ia menghubunginya, Shiho tak menjawab teleponnya.

'Shiho, kenapa kau melakukan ini padaku? Angkat teleponnya, Shiho! Aku tahu kau ada di sini! Jangan membuatku gila!'

Karena tak kunjung mendapat respon, Shinichi akhirnya menghubungi Sera untuk meminta penjelasan. Ia tak bisa keluar kamar saat ini untuk menghampiri Sera di kamar Ran, tidak dalam wujud Edogawa Conan.

"Moshi-moshi, Sera-san. Bisakah kau ke kamarku sekarang? Terima kasih, Sera-san."

Tak menunggu waktu lama, Sera telah sampai di dalam kamar Shinichi.

"Dimana Sherry? Ku pikir kau sedang bersamanya sekarang," tanya Sera bingung karena melihat Shinichi yang sekarang kembali menjadi Conan sendirian di kamarnya.

"Harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu, Sera-san. DImana dia? Saat aku tersadar, ia sudah tak ada di sini. Aku sudah menghubunginya, tapi dia tidak menjawab panggilanku."

"Aku juga tidak tahu dia ada dimana, Kudo-kun. Aku pun terkejut dia tiba-tiba muncul di kamar Ran tadi."

Conan menjambak rambutnya, frustasi. "ARGH! Dia benar-benar membuatku gila! Di saat seperti ini masih saja ia tak membuat segalanya mudah untukku!"

Sera tertawa melihat Shinichi. "Bukan Sherry namanya jika ia bersikap seperti wanita pada umumnya, Kudo-kun. Harusnya kau paham akan hal itu."

"Sera-san, bisakah kau menanyakan pada resepsionis hotel ini tentang keberadaannya? Aku yakin ia juga menginap di hotel ini. Pasti ia bersama Agasa Hakase di sini. Karena tidak mungkin ia pergi ke tempat ini sendirian," pinta Shinichi memohon.

"Baiklah, akan aku coba tanyakan pada resepsionis."

"Terima kasih banyak, Sera-san. Maaf merepotkanmu."

"Tak perlu sungkan, Kudo-kun."

Sera segera meninggalkan kamar Shinichi.

'Tentu saja takkan ada nama Hakase di hotel ini, Kudo. Ia tak ada di sini bersama Hakase,' Sera tahu yang sebenarnya tapi ia tetap menuju ke resepsionis untuk menanyakan pertanyaan lain.


Menanyakan informasitamu lain tentu bukan hal yang mudah untuk Sera, tapi dengan segala usahanya, ia berhasil meyakinkan pihak resepsionis untuk memberitahu dimana kamar Shiho berada.

"Nona Elena Danzel menginap di kamar 1509," jelas resepsionis pada Sera.

'Hah? Kamarnya bersebelahan dengan Kudo? Kau memang gila, Sherry!' ucap Sera dalam hati.

Setelah mengucapkan terima kasih, Sera bergegas memasuki lift, menekan angka 15, ia menuju kamar Shinichi dan menekan bel pintu kamarnya.

"Kudo-kun, ini aku."

Shinichi membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan Sera masuk.

"Bagaimana, Sera-san?"

"Sayang sekali, tidak ada pengunjung atas nama Agasa Hiroshi di hotel ini, Kudo. Aku juga sudah mencoba mencari pengunjung atas nama Miyano Shiho atau Haibara Ai, just in case, mereka menggunakan nama itu, tapi tetap tidak ada. Kau yakin ia menginap di hotel ini? Bisa saja ia hanya kebetulan berkunjung ke sini karena tahu kau ada di hotel ini," jawab Sera berbohong. Ia masih merahasiakan keberadaan Shiho pada Shinichi, sesuai dengan permintaan Shiho.

"Tidak, aku yakin ia ada di hotel ini. Kau tahu kan saat ini sedang peak season, jadi tak mudah untuk memesan hotel secara mendadak karena dimanapun penuh. Lagipula, walau samar, aku sempat mencium aroma Sherry dari tubuhnya. Ia takkan pergi ke sembarang bar di Kyoto. Bagaimana pun, ia adalah buronan organisasi. Tak mungkin ia pergi ke bar di luar dengan pakaian sesantai itu seorang diri. Hanya hotel ini yang memiliki bar di rooftop. Ia tak perlu keluar dari hotel untuk menikmati segelas Sherry."

"Analisis yang hebat, Maitantei-san! Tapi buktinya, tak ada nama dia atau Hakase di hotel ini."

"Dia pasti memakai nama orang lain. ARGH! Dia masih tidak bisa dihubungi! Aku juga mencoba menghubungi Hakase tapi tak ada respon!"

Sera menyeringai, mengeluarkan gigi taringnya.

"Sudahlah, Kudo. Kau bisa mencari dia lagi besok. Oh ya, sudah berapa lama kau mengecil? Bukankah kau harus mencatatnya?" Sera mengalihkan topik.

Shinichi melihat jam di tangannya. "Sekarang sudah hampir jam 1 pagi, itu artinya, sudah hampir 2 jam aku kembali mengecil."

"Kau tidak lupa dengan peraturan yang diberikan Sherry padamu kan, Kudo?"

"Tentu saja, aku harus menunggu 8 jam sebelum mengonsumsi antidote kedua. Sera-san, kau tadi membicarakan apa saja dengan Shiho?" tanya Shinichi penasaran.

"Tidak banyak yang kami bicarakan, dia hanya bertanya kondisi Ran dan keberadaanmu."

"Ugh, wanita itu memang tidak ada manis-manisnya! Bisa-bisanya dia menemuimu tapi tak menemuiku lebih dulu! Dia sudah membuatku cemas dengan kondisinya yang terkena demam, ternyata dia ikut meminum antidote dan sudah berubah kembali menjadi Miyano Shiho, tapi dia merahasiakan ini padaku! Kau yakin hanya itu yang kalian bicarakan?" Shinichi mencoba menyelidiki.

"Aku sempat menanyakan tentang keberadaannya, tapi kau tahu dia, kan. Wanita misterius itu, dia tak menjawab pertanyaanku dan malah menanyakan Ran dan dirimu."

"Ya. Dia memang seperti itu."

"Ya sudah, Kudo. Kau sebaiknya istirahat. Aku juga sudah lelah. Aku akan kembali ke kamarku," Sera berpamitan pada Kudo.

"Baiklah, terima kasih banyak, Sera-san untuk bantuanmu hari ini. Selamat istirahat."


Sera keluar dari kamar Shinichi, tapi ia tak berencana kembali ke kamarnya, ia menunggu di depan lift selama beberapa menit sebelum menuju ke kamar di sebelah Kudo. Ia langsung menekan bel di kamar 1509.

Setelah beberapa kali ia menekan bel itu, akhirnya pintu di kamar 1509 terbuka, dan tampak Heiji yang dilihat sekilas pun jelas sekali ia baru bangun dari tidurnya. Masih mencoba mengumpulkan nyawa.

"Huh, kau kan…"

Sera sebenarnya cukup terkejut saat melihat Heiji yang membuka pintu kamar ini, tapi ia langsung menyuruh Heiji untuk diam dan ia menerobos masuk ke kamar itu. Setelah memastikan pintu tertutup rapat, ia akhirnya bicara pada Heiji.

"Apa yang kau lakukan di sini, Hattori-kun?"

"Harusnya aku yang bertanya hal itu padamu, Sera-san. Apa yang kau lakukan di sini? Dari mana kau tahu aku ada di sini?"

"Aku mencari Sherry, resepsionis di bawah bilang dia menginap di kamar ini. Tapi tak ku sangka, aku malah bertemu denganmu. Kau tidur satu kamar dengannya? Kalian benar-benar gila!"

"HEI! Jangan berprasangka buruk padaku! Aku dan neechan hanya menjalankan rencana dari ibunya Kudo. Semuanya sudah disiapkan Obachan. Kami juga tak tahu jika Obachan hanya menyiapkan satu kamar untuk kami. Neechan sudah mencoba memesan kamar di hotel ini dan hotel lain, tapi semuanya penuh. Obachan memang benar-benar tak bisa ditebak! Oh iya, bagaimana kau tahu kami ada di sini? Kau sudah bertemu neechan?" Heiji mencoba menjelaskan agar Sera tak salah paham.

Mendengar penjelasan Heiji sangat masuk akal untuk Sera. Apalagi ia tahu betul seorang Kudo Yukiko seperti apa.

"Tentu saja, Hattori-kun. Dia mendatangiku di kamar Ran. Sekarang dia ada di mana?"

"Tadi dia berbaring di sebelahku, TAPI AKU TIDAK MELAKUKAN APAPUN PADANYA! Kami kelelahan dan aku langsung tertidur."

"Tenang, Hattori-kun. Aku paham. Kau tak perlu sepanik itu," Sera tertawa melihat kepanikan Heiji. "Jadi, bolehkah aku menemuinya?"

Heiji mempersilahkan Sera masuk, tapi mereka tak melihat Shiho di sana.

"Terakhir dia berbaring di sebelahku."

Heiji menemukan catatan yang ditinggalkan Shiho di nakas di sebelah tempat tidurnya.

"Hah? Dia pergi ke bar? Kenapa dia tak membangunkanku!"

"Dia memang tadi pergi ke bar dan bertemu Eisuke di sana, lalu mereka ke kamar Ran karena Ran tiba-tiba pingsan, dan aku bertemu dia di sana. Dia juga sempat menemui Kudo saat efek antidote nya habis, tapi dia tak ada di sana saat Kudo sadar."

"Sial! Aku terlalu lelah sampai dia pergi keluar sendirian."

"Aku yakin dia ada di kamar ini, Hattori-kun. Dia tak akan berani keluar dalam wujud Sherry terlalu jauh. Mungkin dia ada di toilet."

Sera mengetuk pintu toilet namun tak ada jawaban.

Heiji dan Sera mulai panik karena pintu toilet itu terkunci, tak mungkin jika tak ada orang di dalam sedangkan pintunya terkunci.

Heiji dan Sera mencoba mendobrak pintu itu dan menemukan Shiho yang sudah berubah wujud menjadi Haibara, tergeletak tak sadarkan diri, wajahnya pucat pasi, ada darah yang sudah mengering di dahinya dan di bathub di sebelahnya.

"Neechan!"

"Astaga, Sherry!"

Heiji dengan tangan gemetar langsung mengecek denyut nadi Shiho. Ia kalut. Ia menyalahkan diri sendiri yang tak bisa melindungi Shiho.

"Biar aku saja, Hattori. Tenangkan dirimu!"

Sera menggantikan Heiji mengecek denyut nadi Shiho, ia memang panik, tapi ia masih bisa mengontrol dirinya.

Sera terduduk lemas, menghembuskan napas panjang. Lega mengetahui bahwa wanita di hadapannya ini masih hidup.

"Dia sepertinya pingsan karena terantuk pinggiran bathub ini, Hattori. Mungkin ia kesakitan karena efek antidote sudah habis dan tanpa sengaja malah terantuk bathub. Sekarang lebih baik kita bawa dia keluar dari sini," ucap Sera agar Heiji sedikit lebih tenang.

Heiji menggendong Shiho dan membaringkannya di bed. Sera membersihkan darah di kening Shiho dan mengobati lukanya.

"Aku rasa kita harus membawanya ke rumah sakit, Hattori. Aku sudah mencoba menutupnya, tapi tetap harus dijahit untuk menutup lukanya karena luka robeknya cukup dalam. Akan aku coba tanyakan lokasi rumah sakit terdekat di hotel ini."

Sera menelepon resepsionis, menanyakan lokasi rumah sakit terdekat dari hotel dan meminta dipesankan taksi.


Rumah Sakit K, 03:24 AM

Shiho membuka matanya, ia mencium aroma antiseptik yang kuat dan mengamati sekelilingnya. Tangannya tersambung dengan selang infus.

"Syukurlah kau sudah sadar, She –Ai-chan."

"Sera-san? Aku ada dimana?" Shiho mencoba duduk.

"Jangan bergerak dulu, kau baru saja sadar. Sekarang kau ada di IGD rumah sakit. Tadi kami menemukan kau tak sadarkan diri di kamar mandi. Dahimu robek terantuk pinggiran bathub jadi kami harus membawamu ke sini agar luka robekmu segera dijahit," Sera menahan Shiho agar tetap berbaring.

"Neechan, kau sudah sadar?" Heiji terburu-buru membuka tirai tempat Shiho terbaring.

"Hattori-kun. Kau tak perlu berteriak seperti itu! Kita sedang di rumah sakit!" Haibara menegur Heiji walau masih dalam kondisi lemah.

"Bagaimana keadaanmu? Dahimu? Ada bagian lain yang sakit? Maafkan aku, neechan. Aku harusnya menjagamu, tapi aku malah tertidur," Heiji menunduk sedih, merasa bersalah.

"Aku sudah tidak apa-apa, Hattori-kun. Kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Terima kasih sudah menjagaku," Shiho membalas dengan senyum, ia tak ingin Heiji merasa bersalah padanya.

Sera menaikkan alisnya melihat pemandangan di hadapannya. Ada apa dengan suasana ini?

"Kapan aku boleh keluar dari rumah sakit? Aku sudah baik-baik saja. Lukaku juga sudah dijahit."

"Dokter bilang kau bisa keluar dari sini setelah cairan infusmu habis. Mungkin sekitar satu jam lagi," jawab Heiji.

"Bisakah kau ceritakan pada kami apa yang terjadi padamu, Ai-chan?"

"Kalian tidak mengatakan apapun pada Kudo-kun, kan?" Shiho teringat sesuatu yang penting. Shinichi tidak boleh tahu dia ada di rumah sakit, apalagi hari ini ulang tahun lelaki itu. Ia tak ingin merusak suasana.

"Kau tenang saja, Kudo tidak tahu kau ada di sini. Jadi, bagaimana, Ai-chan?"

"Neechan, aku harus tahu semuanya."

"Baiklah, baiklah. Maaf membuat kalian khawatir," Shiho menarik napas panjang. "Setelah mengurus Kudo-kun, aku kembali ke kamar. Saat sedang di toilet tiba-tiba tubuhku terasa panas dan sakit sekali. Setelah itu, aku tidak ingat apapun."

"Jadi, berapa lama efek antidote itu di tubuhmu?"

"Sepertinya sekitar 15 atau 16 jam, Sera-san. Oh ya, kenapa kau bisa ada di kamarku?"

"EHEM… Kamar kita. Aku juga ada di sana, neechan!" protes Heiji.

Shiho memutar bola matanya. "Untuk apa kau mempermasalahkan hal sekecil itu? Kekanak-kanakan sekali!"

"Tapi memang benar kan aku juga ada di sana! Aku juga ada di kamar itu! Jadi itu bukan kamarmu, tapi kamar kita!"

"Stop it, Hattori-kun! Kecilkan suaramu! Berhenti meributkan hal yang tidak penting!"

Sera ber-facepalm melihat perdebatan mereka berdua.

"Hei, kalian berdua! Aku masih ada di sini!" Sera menghentikan keributan ini.

Shiho dan Heiji kompak mengalihkan pandangan ke Sera.

"Aku tahu kamar KALIAN dari resepsionis. Kudo memintaku mencari namamu di daftar tamu hotel. Tentu saja namamu tidak ada, Sherry. Jadi, aku terpaksa berbohong pada kudo. Lagipula akhirnya aku berhasil mendapat nomor kamar KALIAN!" Sera menekankan kata "kalian" dalam penjelasannya.

"Bagaimana kondisi dia?" tanya Shiho pada Sera. Sedikit menyesal karena ia meninggalkan Shinichi saat Shinichi belum sadar.

"Dia baik-baik saja, hanya merindukanmu. Kau tega sekali padanya!"

"Aku hanya ingin memberinya sedikit pelajaran, tapi sepertinya aku terkena karma karena perbuatanku," balas Shiho sambil menunjuk dahinya yang luka. "Kondisi Ran-san bagaimana? Apakah dia sudah sadar?"

"Pikirkan dulu kondisimu, neechan! Lebih baik kau beristirahat lagi sampai infusmu habis," sela Heiji.

"Ran baik-baik saja, ada Eisuke yang mengurusnya. Lagipula Hattori-kun benar. Kau sebaiknya istirahat. Aku dan Hattori akan menunggumu di luar."

"Baiklah. Terima kasih kalian berdua sudah membantuku."

Heiji dan Sera mengangguk, mereka berdua meninggalkan Shiho agar ia bisa istirahat.

"Hei, Hattori. Ternyata aktingmu bagus juga. Aku benar-benar mengira kalian sepasang kekasih! Dari mana kau mempelajari itu? Setahuku kau kan tak pernah berpacaran. Kau dengan Kudo sama-sama tak peka, bedanya ia lebih berani daripada kau!" goda Sera pada Heiji.

"Maksudmu aku penakut? Tch! Aku hanya berimprovisasi. Lagipula tak perlu punya pengalaman berpacaran dulu kan jika berakting? Terlebih partner aktingku itu neechan!" balas Heiji dengan wajah sedikit merona, mengingat kembali kedekatannya dengan Shiho.

"Hm?" Sera menaikkan alisnya. "Memangnya ada apa dengan Sherry?"

"T-tidak apa-apa! Hanya saja dia pandai berakting, jadi lebih mudah untukku mengikutinya! Itu saja," Heiji menjelaskan sedikit terbata-bata.

'Hattori, jangan-jangan kau…'

"Memangnya kau dekat dengannya? Aku tak pernah melihat kalian akur. Aku ingat Sherry selalu menghindarimu karena menurutnya kau menyebalkan."

"Hahaha… Kau pikir kami langsung menyetujui rencana Obachan? Tentu saja tidak! Bahkan kami berdua sempat beradu argumen. Tapi aku ingin membalas kebaikan Kudo padaku, jadi pada akhirnya aku menyetujuinya."

"Membalas kebaikan Kudo? Kau yakin hanya itu saja tujuanmu?"

Kali ini Heiji mengerutkan alisnya, "apa maksudmu, Sera-san? Tentu saja hanya itu. Kau pikir aku akan minta imbalan seperti uang atau barang-barang mahal pada Kudo?"

"Hahaha… Aku hanya bercanda, Hattori!"

'Dasar detektif lamban. Kau dan Kudo ternyata memang lamban jika menyangkut urusan hati.'


Hotel P, 04:30 AM

Shiho, Heiji, dan Sera kembali ke hotel setelah Shiho sudah diperbolehkan pulang oleh dokter.

"Beristirahatlah lagi, neechan!" perintah Heiji saat mereka sudah tiba di kamar.

"Harusnya aku yang mengatakan itu pada kalian. Kalian sama sekali belum istirahat kan? Terlebih lagi kau, Sera-san. Kau pasti belum tidur. Aku sudah membaik, kau kembalilah ke kamarmu untuk istirahat.

"Baiklah, aku akan kembali ke kamarku. Hubungi aku jika terjadi sesuatu padanya, Hattori-kun. Oh iya, kamarku ada di lantai 9, 906, di sebelah kamar Ran."

Heiji mengangguk.

"Terima kasih, Sera-san," ucap Shiho yang dibalas lambaian tangan oleh Sera sesaat sebelum ia meninggalkan kamar mereka berdua.

"Kau juga istirahatlah, Hattori-kun."

"Kau tidak usah mencemaskan aku, neechan. Kau yang harus beristirahat. Aku sudah tidur tadi. Kalau kau tidak menurut, aku akan membacakan dongeng untukmu hingga kau tertidur!" perintah Heiji.

Shiho tersenyum mendengar ancaman Heiji, dia benar-benar memperlakukan Shiho seperti anak-anak. "Baiklah, baiklah. Aku istirahat sekarang. Terima kasih, Hattori-kun. Aku sangat merepotkan kau dan Sera malam ini."

"Sudahlah, tidak perlu dibahas. Tugasku selama di sini adalah menjagamu, jadi kau tak perlu sungkan, neechan. Panggil aku jika kau butuh sesuatu."

Heiji memilih duduk di sofa depan tv, membiarkan Shiho beristirahat. Tak mungkin ia berbaring di sebelah Shiho karena menurutnya Shiho membutuhkan ruang untuk beristirahat dengan nyaman. Ia memilih bermain games di ponselnya. Kazuha sedang berlatih untuk turnamen Karuta dan biasanya ia tak akan mengaktifkan ponselnya agar ia bisa berkonsentrasi penuh, sehingga seharian ini ia tak menghubungi Heiji dan Heiji juga tidak memberitahu bahwa ia sedang di Tokyo pada Kazuha. Hubungan mereka masih sebatas sahabat, Heiji yang lamban ini belum juga menyadari perasaan Kazuha padanya. Benar-benar lamban dan bodoh memang detektif yang satu ini.


Cahaya mentari pagi yang masuk dari sela-sela jendela hotel menyilaukan wajah Heiji. Ia terbangun karena terganggu dengan kilauan sinar itu dan menemukan dirinya terbaring dengan selimut menutupi dirinya. Sepertinya ia ketiduran lagi dan Shiho menyelimuti dirinya. Ia terduduk, tak melihat Shiho berada di ranjang, namun kemudian ia melihat Shiho keluar dari kamar mandi, masih dalam wujud Haibara.

"Kau sudah bangun, Hattori-kun."

"Maaf aku tertidur lagi."

"Tak apa, aku tahu kau masih lelah."

Shiho membuat kopi dan menyajikannya untuk dirinya sendiri dan Heiji.

"Bagaimana keadaanmu, neechan?"

"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Luka di dahiku juga tak parah. Terima kasih sekali lagi untukmu dan Sera-san, berkat kalian aku sudah kembali pulih."

"Syukurlah kalau begitu," Heiji menyeruput kopinya, menyesap aroma khas kopi tersebut. Rasanya sungguh nikmat.


Sementara itu di kamar sebelah…

RIIIIIIIIIING… RIIIIIIIIIIING…

Suara nyaring alarm dari ponsel Shinichi membangunkan ia dari tidurnya. Memaksakan diri membuka matanya, ia melihat layar ponselnya dengan malas.

'Masih jam 7 pagi' pikirnya.

Ia terduduk di bed nya, sepagi ini otaknya sudah dipenuhi akan banyak hal. Ia harus mencari tahu keberadaan Shiho, ia harus bertemu dengan Shiho, ia harus menanyakan semuanya pada Shiho, dan ia harus menjalankan rencana yang sudah ia susun untuk Ran dan Eisuke.

"Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi. Silahkan tinggalkan pesan setelah bunyi beep."

"Kau masih saja menyiksaku, Shiho!" keluh Shinichi setengah berteriak membanting ponselnya ke kasur karena Shiho masih tak menghubunginya, membalas pesannya dari semalam pun tidak.

Ia beranjak dari tempat tidur untuk membuka tirai agar cahaya mentari pagi masuk ke kamarnya. Ia butuh pencerahan.

DRRRTTT… DRRRTTT…

Baru saja menikmati cahaya matahari, ponsel Shinichi bergetar, ia langsung senang bukan kepalang, berharap Shiho menghubunginya, tapi saat ia melihat layar ponselnya, bukan nama Shiho yang terpampang di sana, melainkan Ran. Ia segera mencari dasi pengubah suara di tas yang ia bawa, namun tak menemukannya. Ia mencari di nakas juga tak menemukan apapun, lalu ia ingat ia memasukkan dasi itu ke saku mantelnya yang ternyata Shiho letakkan di kursi bersamaan dengan pakaian yang Shinichi kenakan kemarin saat ia tak sadarkan diri.

Saat hendak mengambil dasi, ia menemukan sebuah kotak kado berwarna biru terbungkus pita merah. Ia melupakan telepon dari Ran dan segera memeriksa kotak itu. Cukup terkejut saat ia membukanya, di dalamnya ada sebuah dompet kulit berwarna biru merk Montblanc dan sebotol parfum Giorgio Armani. Ia juga menemukan kartu ucapan tulisan tangan yang ia hapal betul siapa penulisnya.

HAPPY BIRTHDAY, MY DENSE DETECTIVE, KUDO SHINICHI…

In your arms, I find the peace and strength to continue and live.

You are the person who always keeps me comfortable and save.

I hope all your wishes come true.

With love from your favorite Scientist.

Shinichi tersenyum lebar membaca kalimat di kartu itu. Tak pernah menyangka ia akan mendapat kejutan kado ulang tahun dari wanita tsundere-nya. Ia bahkan tak ingat hari ini ulang tahunnya.

"Sialan kau, Shiho! Kau benar-benar menyiksaku! Aku mencintaimu, Shiho! Berhentilah bersembunyi, aku ingin bertemu denganmu, aku ingin memelukmu, AKU MERINDUKANMU!" teriak Shinichi sendirian di dalam kamar seperti orang tak waras.

DRRRTTT… DRRRTTT…

Ponselnya bergetar lagi, menyadarkan Shinichi kembali ke dunia nyata.

"Moshi-moshi," ucap Shinichi setelah mengatur dasi pengubah suaranya.

"Shinichi… Kau baru bangun?"

"I-iya, Ran. Bagaimana kondisimu?"

"Aku baik-baik saja. Maaf aku mengacaukan liburan kita. Kepalaku tiba-tiba terasa sakit kemarin malam."

"Tidak masalah, Ran. Kau tidak perlu memikirkan itu. Apa kau sudah sarapan?"

"Belum. Mungkin sebentar lagi aku dan yang lain akan ke restaurant untuk sarapan. Kau akan menemuiku di sana kan? Sebenarnya kau menginap dimana, Shinichi? Apa aku tak boleh mengunjungi kamarmu?"

"Bukannya aku tidak mau kau mengunjungiku, tapi aku masih sibuk menyelesaikan kasusku jadi banyak dokumen penting di kamarku. Kamarku berantakan sekali. Aku juga baru bisa menemuimu mungkin sekitar satu jam lagi, Ran. Kita bertemu di restauran, ok?"

"Huh, selalu saja tentang kasus, kasus, dan kasus. Baiklah, aku tunggu kau di sana. Dan Shinichi…"

"Hmmm… Ada apa, Ran?"

"Selamat ulang tahun. Aku senang kita bisa bertemu di hari ulang tahunmu."

"Terima kasih, Ran."

Shinichi mengakhiri telepon dari Ran. Ia masih memegang erat kartu ucapan dari Shiho dan membacanya sekali lagi dengan seksama, senyuman lebar itu masih menghiasi wajahnya. Apakah Shiho sengaja berpura-pura sakit, lalu meminum antidote, dan diam-diam mengikutinya untuk menberikan kejutan ulang tahun untuknya? Tapi ia telah mengenal Shiho selama empat tahun dan tak pernah sekalipun ia tahu Shiho peduli pada hal-hal seperti ini atau mungkin ia memang tak peka untuk menyadarinya?

Entahlah…

Yang pasti pagi ini ia sangat bahagia walau sedikit –hanya sedikit, ia merasa kesal karena belum bisa menghubungi Shiho. Setidaknya, gadis tsundere-nya itu tahu bagaimana membangkitkan mood-nya walau dengan cara yang tidak manis sama sekali.

.

.

.

To Be Continued…


A/N: Maaf ya, lagi-lagi updatenya slow banget. Mudah-mudahan gak pada kabur hehehe. Oh iya untuk yang ngeship HeiKazu, maaf banget nih kalau diceritaku ada perbedaan. Jangan serang aku, please!

Terima kasih masih membaca ff ini, please reviewnya.