hetalia © hidekaz himaruya.
tidak ada keuntungan komersial yang diambil penulis dalam pembuatan karya ini. karya dibuat semata-mata untuk keperluan hiburan.
note: teenage and up (T+) rating for swearing.
.
Kopinya terlalu manis, pikir Natalya. Ia mencecap-cecap jejak rasa di lidahnya, berusaha untuk mengusirnya. Ia tidak keberatan jika kopi yang terlalu manis adalah kopi yang dingin, penuh es. Ia bisa menunggu esnya mencair untuk mengurangi rasa manis tersebut. Namun seperti ini, jika kopinya panas—Natalya benci membuat takaran baru untuk menambahkan air, bubuk kopi instannya lagi, lalu mencoba-cobanya untuk memastikan rasa yang pas.
Atau ia hanya tidak suka membuat kopi sendiri. Kopi instan (atau kafe) di tanah seberanglah yang paling nikmat, yang paling tepat. Bahkan kopi terbaik di Minsk (atau Ankara dan Istanbul, saat suatu waktu Alfred mengajaknya jalan-jalan ke sana) pun tidak bisa menyaingi apa yang dia temukan di tanah Alfred. Si sialan itu dan kopinya, menyebalkan sekali, ia terjerat.
Saat ia merutuki kopinya, ponselnya yang berada di dekat jendela kabin berbunyi. Natalya meninggalkan mugnya di konter.
Panjang umur, pikir Natalya. Ia berdiri di depan jendela, membersihkan kacanya yang berkabut. Ada noise dari seberang, Natalya sadar diri sinyalnya jelek, ia mencari ketenangan begitu jauh di pedalaman, masih beruntung ia bisa menerima sinyal.
Krskkkrssk. "Nat? Halo, Nat? Jelek benar. Kau di mana?"
"Di kabinku, dekat Smarhon. Kenapa?"
"Ada hal gawat."
"Klasifikasikan gawat-mu."
Helaan napas. Krskskkk. "Mulai dari mana, ya."
"Cepat atau kututup."
Krkskkk. "Galak betul." Kekehan menyebalkan Alfred membuat Natalya mendengkus. "Tim IT Gedung Putih menemukan usaha pembobolan ke lapisan pengamanan arsip data digital Gedung Putih, dan ada percobaan untuk masuk ke Kode Nuklir."
"Wow?" Natalya menanggapi datar. "Kurasa hal itu bukan yang pertama."
"Memang, dan tentu saja, tim kami bisa dengan mudah menemukan itu siapa dan memodifikasi lapisan keamanan untuk mencegah hal itu terulang lagi." Alfred menggosok hidungnya, Natalya bisa membayangkannya dengan mudah. "Tapi masalahnya bukan di situ."
"Aku tidak mau mendengarmu pamer-pamer kemampuan tim IT lulusan MIT-mu."
"Bukaaaan, Bunga Saljuku, bukaan." Alfred diam sesaat yang membuat Natalya yang tadinya ingin sekali mengakhiri panggilan ini menjadi penasaran. Benar saja, nada bicara Alfred berubah kemudian, "Timku melacak bahwa sumbernya berasal dari sebuah komputer di sebuah kabin di Massanutten."
Natalya berpikir cepat, menghubungkannya. Jantungnya berdetak lebih kencang. "Jangan bilang itu kabin—"
"Ya, tepat sekali. Kabin yang kuberikan padamu."
"Aku tidak melakukannya!"
"Aku tahu." Alfred berubah menjadi dingin, jika bukan prasangka Natalya yang berpikir negatif. "Timing-nya jelas membuktikan itu bukan dirimu. Kau sudah pulang ke Minsk saat itu terjadi, aku tahu itu dan aku sudah meyakinkan mereka, walaupun sebagian masih sangsi padaku."
"Kalian yakin sumbernya memang dari sana?"
"Aku tidak meragukan timku."
"Jangan menyombong."
"Natalya, ini bukan lagi waktuku untuk bercanda." Embusan napas berat menyela. "Ini akan menjadi tentang kita."
Oh shit.
"Ya, aku tahu. Oh shit. Oh, fuck. Ya, begitulah." Natalya bisa membayangkan Alfred menjadi gelisah, berjalan bolak-balik di kamarnya, atau tepi jendela apartemen lantai tiga puluhnya, atau mungkin di kantornya. "Tim menemukan bahwa sumbernya dari sana, benar-benar dari sana. Jangan tanya aku bagaimana cara mereka menemukannya. USA just finds. Sekarang Bos dan yang lain mempermasalahkan hubungan kita. Tentang aku yang memberimu sebuah kabin, lalu kau dituduh menaruh seseorang di sana untuk membahayakan keamanan data digital Amerika Serikat."
"Oh, fuck."
"Oh ya tentu saja mereka mengutuk hubungan kita." Alfred mendesah. "Mereka tentu saja mencari-cari alasan untuk menyangsikan hubungan kita."
"Double fuck."
"Sama, Natalya. Aku juga berpikir begitu. Namun sekarang bukan waktunya untuk itu. Sekarang waktunya untuk panik, karena mereka memberiku waktu dua kali dua puluh empat jam untuk menemukan orang yang sebenarnya dan membawanya ke mereka, lalu membuktikan bahwa kau tidak mengkhianatiku dan negaraku."
"Kalian dengan tim yang katanya paling hebat itu tidak bisa menemukan pelakunya?!"
"Well, Natalya, selalu ada kelemahan dan ada orang yang bisa berpindah tempat dengan cepat, semua itu tidak bekerja semudah yang kita bayangkan!"
"Lalu apa yang harus kulakukan—ah!"
"Natalya? Natalya? Halo, Natalya?!"
.
Natalya menunggu. Ia bisa memberontak sekarang, bermanuver dan melakukan tendangan atau memberikan tinju pada rahang, tetapi ia ingin melihat apa yang dilakukannya setelah ini.
Tangan Natalya ditahan di balik punggungnya, moncong pistol berada di pelipisnya. Natalya bisa dengan mudah mengenali bahwa benda itu palsu, hanya untuk gertak sambal belaka. Namun walaupun itu asli, tetap tak terlalu mengganggunya. Seorang negara takkan mati hanya karena perbuatan satu orang manusia biasa.
Lantas, apa motifnya? Natalya bukan sekali mengalami hal ini tetapi selalu dalam motif berbeda. Yang sekarang, apa manfaatnya menyerang dirinya di tengah pedalaman seperti ini?
"Bicara sekarang," perintah Natalya.
Pistol di pelipisnya bergetar. Natalya pelan-pelan menyeringai, amat tipis.
"Kalian ... sialan, aku ingin yang kalian miliki."
Sudah cukup bagi Natalya—ia pun mengubah situasi dengan berputar di genggaman pria itu, memulas tangannya, lalu menghantam dagunya dan area arteri karotisnya dengan hempasan tangan kosongnya. Mudah sekali untuk membuatnya berlutut mengaduh, pistol itu terlempar ke lantai dan Natalya hanya menginjaknya untuk membuatnya menjadi belah dua.
Natalya bersimpuh di hadapannya. "Yang kami miliki?" Ia menelengkan kepala. "Kau yang mencoba membobol arsip digital Gedung Putih dengan cara memalukan itu, hm? Naif."
Pria tersebut meludah, liurnya bercampur darah. Lemah, pikir Natalya.
"Aku mencintaimu, Natalya Arlovskaya."
Natalya nyaris tersedak karena tawa yang berusaha ia tahan. "Omong kosong."
"Kau wanita tercantik yang pernah kutemui." Dia tertunduk. "Aku menginginkanmu, aku mencintaimu ..."
Natalya maju dan mengangkat dagunya. "Bukan seperti ini caranya cinta."
"Aku ingin seperti kau dan Alfred!" Dia bangkit, memegang kerah kemeja Natalya, membuatnya nyaris terjungkal jika tangannya tidak bertopang ke lantai di saat yang tepat. "Dia mencintaimu, dan kalian memiliki selamanya. Kalian bisa memadu kasih sampai kapan pun, sampai selamanya! Dan aku akan mati, tidak bisa menikmati waktu bersamamu!"
Dia memaksakan diri ingin mencium Natalya, tetapi Natalya menendang iganya dengan lututnya. Dia terjengkang, lutut Natalya menekan dadanya.
"Kau ingin memiliki apa yang kami miliki? Hiduplah selamanya dengan berbagai luka, kepedihan, cinta dihalangi oleh kepentingan manusia, dan dipaksa bermusuhan dengan teman dekat hanya karena hawa nafsu manusia!" Natalya menekankan lututnya lagi sampai pria itu merasa sesak. "Rasakan luka yang abadi karena perbuatan manusia, dan rasakan sakit karena ketika kau ingin kedamaian, yang bisa manusia lakukan hanya berperang! Ketika kau adalah simbol yang harusnya dihormati tapi kenyataannya kau adalah budak yang melayani!"
Napas pria tersebut tersengal, matanya melotot nyaris keluar, dan Natalya pun memberi pukulan terakhir pada dagunya hingga terdengar bunyi dislokasi.
Natalya juga berusaha mengatur napasnya. "Naif," ucapnya pelan.
Ia pun berdiri, menuju ponselnya yang tersingkir ke bawah meja dan sedari tadi berdering.
"Halo, Alfred?"
.
"Can't be helped." Alfred mengangkat bahu sambil mengamati pria itu diangkut menuju helikopter. "Mereka menyegel kabinmu."
"Dan kutebak." Natalya menyilangkan tangan di dada. "Aku tidak akan mendapatkannya kembali sampai waktu yang tidak ditentukan."
"Kurasa begitu. Sayang sekali, padahal view di Massanutten bagus." Alfred malah tertawa. "Memangnya semudah itu, mereka pikir? Aku masih punya di banyak tempat. Kau mau yang mana, hm, Bunga Saljuku?"
"Kau ini ..."
"Sini, aku pilihkan," Alfred membuka ponselnya, wajahnya tidak menunjukkan bahwa mereka baru saja menghadapi sesuatu yang mengejutkan. "Hei? Tidak bisa memuat cloud-ku—Natalya, sinyal di sini jelek sekali!"
"Sudah kubilang." Natalya berbalik, melangkah masuk ke kabinnya.
"Kau mau kabin yang bersalju? Kita bisa pilih di sekitar daerah utara, atau aku akan bertukar dengan salah satu milik Matthew! Hei," Alfred mengejarnya masuk ke kabin. "Atau yang di Florida, supaya tidak jauh-jauh dari pantai? Kau suka pantai, negaramu terkurung daratan, kau pasti suka kabin dengan view pantai! Di Sebring, kau bisa sekalian mendaki—"
Natalya menghentikan Alfred dengan meletakkan jari di bibirnya. "Berisik."
Alfred menarik tangan Natalya, tapi tetap menggenggamnya. Dia tersenyum lebar sampai-sampai matanya tenggelam dengan jenaka. Natalya benci bahwa ia suka sekali dengan senyuman itu.
"But, hey, kau percaya apa yang dikatakan si bodoh itu?" Alfred memberi isyarat dengan menunjuk melewati bahunya. "Dia iri dengan kita, Natalya. Dia waras?"
"Begitulah cinta." Natalya mengangkat bahu.
"Ya, cinta memang gila. Misalnya memberikan kabin pada seorang wanita meskipun bosnya selalu sinis dengan aksi itu."
Natalya mendengkus. Alfred membuka ponselnya yang baru saja bergetar, dan dia mengangkat alisnya. "Piatro Mackievič. 37 tahun. Sedang menempuh sekolah graduate di Massachusetts. Duda. Hm? Orang ini rupanya."
"Aku sering bertemu dengannya saat aku di tempatmu." Natalya menjauh dari Alfred, menuju sofa kecilnya. "Satu dari sedikit mahasiswa Belarus yang berada di sana—aku berusaha mendekati dan menemani mereka semua."
"Kau pernah tidur dengannya?"
Natalya memandang Alfred dengan malas. "Fuck you, Jones."
"Oh, dengan senang hati!" Alfred merentangkan tangannya lebar-lebar. Dia tertawa sangat keras. "Dia tampaknya terobsesi denganmu. Kupikir karena kalian pernah tidur bersama sebelumnya."
"Fuck you."
"Sekarang juga boleh!"
Natalya mendengkus, memberengut.
Alfred tidak peduli, dagunya bertopang pada punggung sofa, tepat di samping Natalya. "Dia ingin apa yang kita punya, hmm, begitu rupanya." Ia mengecup pelipis Natalya, nyaris tanpa diduga oleh perempuan itu. "Mereka tidak tahu apa yang kita alami, so they don't deserve love like we have."
Natalya tidak bisa menyangkal.
end.
a/n: setelah selesai jadi kepikiran; kayanya potensial buat dibikin prekuel-sekuelnya. hm mari kita lihat nanti
