Naruto © to original writer, Kishimoto Masashi
Penulis tidak memperoleh dan menerima keuntungan material dalam penulisan cerita ini
This story is belong to 23stuck
Cerita murni ditulis dari imajinasi dan pemikiran penulis
Dilarang mengutip atau menyalin sebagian atau seluruh isi cerita
Warning: mature content such nudity and sex thing
Please be a wise reader
.
.
Hinata terperanjat saat mendengar kunci kombinasi pintu apartemennya berusaha dibuka. Di apartemen ini, dia tinggal sendirian. Hinata tidak membagi kode password apartemennya pada satu pun temannya. Keluarganya yang mengetahui password hanya akan datang setelah memberi kabar padanya, "S-siapa?" Hinata reflek terbangun dari duduknya.
Orang itu berhasil membuka pintu. Menyadari tak ada benda di sekitar yang dapat ia jadikan sebagai alat pertahanan diri, Hinata meraih sandal yang ia kenakan. Benda yang dapat ia gunakan sebagai pertahanan yang paling tepat adalah tongkat bisbol di kamarnya dan orang asing itu telah berhasil membuka pintu apartemennya. Tak akan sempat! Semoga sandal rumahnya dapat menggertak pelaku pembobolan itu.
Tapi apa yang terlihat oleh Hinata yang sedang bersembunyi di balik sofa sungguh mengejutkanya.
"Sasuke?"
'Kenapa dia ke sini?'
Sasuke masih mematung di belakang heels Hinata yang disusun rapi. Kepalanya menunduk, mata hitamnya mengikuti langkah perlahan Hinata yang mendekati genkan.
Dalam raut datar, Hinata berdiri di depan Sasuke. "Sangat tidak sopan. Tidak bisakah kau melihat bel di luar sana?" Tentu saja orang asing yang memiliiki kepentingan harus menekan bel di lantai satu.
Sasuke menatap mata inata yang kini telah ada di depannya, tepat di depan dagu. Tinggi genkan lebih rendah sembilan sentimeter dari permukaan lantai masih tak dapat membantu hinata mengungkuli tinggi Sasuke. 'Orang asing' itu masih berdiri di genkan. Raut wajahnya sama datarnya dengan Hinata. Namun, sorot mata Sasuke mengisaratkan lelah.
"Aku tidak tau di mana dirimu sekarang. Meski aku menekan bel pun," Giginya terkatup keras. Pandangannya dia alihkan dan figura itu berhasil memaku matanya.
'Masih terpasang rupanya.'
Pemandangan pantai itu mengalihkan perhatiannya. Mungkin sudah satu tahun foto itu terpasang di lorong masuk apartemen Hinata. Pemandangan yang Sasuke ambil saat mereka berdua berkunjung di rumah nenek Hinata. Untuk mengobati keinginan berlibur dan menghirup aroma laut, kata Hinata saat menjelaskan alasannya mencetak foto hasil jepretan Sasuke. Padahal mereka telah pergi ke beberapa negara bersama, juga mengabadikan momen. Tapi kenapa foto di kampung halaman neneknya?
"Kamu pasti tidak akan membuka pintu untukku." Lanjut Sasuke setelah helaan napas terdengar.
"Lalu ada apa?" sahut Hinata datar.
"Aku ingin datang ke si-"
"Cepat katakan perlu apa kau ke sini." Hinata memotong perkataan Sasuke dengan nada memerintah. Kedua tangan Hinata memeluk satu sama lain, tanda dia 'menolak' Sasuke.
Kini sudah sepenuhnya perhatian Sasuke ada untuk Hinata, "Aku akan berangkat besok pagi. Seharusnya memang lima hari lagi di hari Jumat depan tapi di sana benar-benar membutuhkan delegasi secepatnya." Sasuke mengucapkannya dengan nada berat. Ucapannya dia percepat, enggan untuk disela lagi.
"Lalu apa urusannya denganku?!" Hinata sudah lelah akan Sasuke dan perkataan yang baru saja Sasuke ucapkan menyulut amarahnya.
"Aku ingin menemuimu. Meskipun kamu tak ada di sini, aku ingin di sini sampai aku akan pergi."
"Kau selalu saja membicarakan dirimu sendiri. Tak pernakah kau memikirkan perasaan orang lain?"
'Tak tau diri!', alasan apa lagi kali ini? Sungguh konyol!
"Memangnya aku apa? Kau kira aku akan membiarkan orang asing masuk dan tidur di sini?"
Mata sasuke kini tertuju pada lengan kiri Hinata yang diremas keras oleh ruang jari-jarinya sendiri. Semarah itu kah Hinata? Apakah mereka benar-benar berakhir hanya karena alasan konyol?
"Hinata, tak bisakah kita tetap bersama? Sebagai sepasang kekasih?" Tangan kanan Sasuke terulur untuk menghentikan genggaman Hinata yang menyakiti dirinya sendiri.
"Ck! Kita sudah membahasnya, Sasuke." Hinata menggeram kesal. Menyentak tangan kanan Sasuke yang hampir berhasil menggenggam pergelangan tangannya.
Sasuke mengikuti Hinata yang melangkah menuju sofa tradisionalnya, "Tak bisakah kita berhubungan jarak jauh?" Lawan bicaranya berjalan cepat, segera mendudukkan tubuhnya. Konon jika kau sedang marah saat berdiri, duduk bisa menekan amarahmu.
Tangan Hinata terangkat, mengisyaratkan Sasuke untuk diam. Hatinya tercabik melihat penolakan Hinata.
"German terlalu jauh." Nada bicara Hinata mulai bergetar.
Tanpa sadar Sasuke melangkah maju. Tanpa sadar, kakinya terkantuk sisi kanan sofa. Sasuke menatap miris Hinata yang tak ingin melihatnya. Apakah benar langit senja dari jendela sangat menarik seperti perkataan orang-orang? Lebih menarik daripada dirinya yang sedang memperjuangkan nasib hubungan mereka?
"Jika hanya sekedar Korea Selatan, mungkin kita bisa." Mereka memang pernah menjalin hubungan jarak jauh, saat Sasuke melakukan penelitian di Korea Selatan. Sesekali mereka berjumpa, satu kali dalam dua pekan. Pernah mereka melewati satu setengah bulan tanpa berjumpa. Sering kali mereka bertemu di Korea Selatan. Hinata mengosongkan jadwal untuk bertemu Sasuke atau Sasuke terbang menghampiri Hinata.
Satu semester itu menguras emosi Sasuke, membuat Hinata mempertanyakan kehadirannya bagi Sasuke. Pembicaraan masih ada. Namun tak se-intens saat hubungan mereka masih normal. Berbicara tepat di depan wajah atau saat di pelukan kekasihmu jauh lebih baik daripada obrolan dari layar bukan?
Kali ini berbeda.
Perjalanan dari Jepang menuju German dan sebaliknya membutuh waktu yang panjang. Sasuke akan pergi untuk menyelamatkan cabang perusahaan yang ada di ambang kematian dan Hinata yang baru bergabung dengan advokat. Waktu dan emosi akan semakin menekan kedua belah pihak. Lebih banyak orang baru yang akan mereka temui. Bisa jadi lebih baik dari kekasihmu. Apakah Hinata dan Sasuke sekuat itu?
Hari-hari keduanya terlampau sering mereka habiskan bersama. Mereka sudah terbiasa dalam pelukan masing-masing. Hubungan mereka selalu baik-baik saja.
Di hari Jumat Setelah jam kerja Sasuke usai maka sisa hari itu akan dia gunakan untuk berdua saja. Mereka akan memulai pekan bersama. Pagi di hari Senin, mereka akan terbangun dalam satu selimut yang sama. Yang pertama Hinata lihat saat bangun adalah Sasuke. Dan yang pertama Sasuke rasakan saat terbangun adalah napas teratur Hinata. Mereka terbangun dalam pelukan hangat.
Sasuke selalu menceritakan harinya pada Hinata di malam hari. Sedangkan Sasuke hapal di luar kepala apa yang pernah Hinata lalui, anak kecil yang menabrak Hinata di pertengahan bulan di tahun pertama mereka, atau jadwal sidang Hinata.
"Kali ini kamu bisa ikut denganku, Hinata." Mungkin Hinata salah dengar tapi nada mantan kekasihnya terdengar memelas.
Hinata masih dalam rangkaian studinya saat mereka menjalin hubungan jarak jauh Jepang-Korea.
Kali ini berbeda.
Hinata baru bergabung empat bulan, kontrak baru dengan perusahaan yang menjanjikan. Jika Hinata memutuskan untuk 'kabur', penalti yang harus dibayar tidaklah angka yang sedikit. Memang alasan utamanya bukan hanya uang. Tetapi citra dan sejarah karirnya tak akan mulus lagi.
"Tidak mudah untukku memulai karir di German. Kau tau sendiri." Hinata telah menanti panjang untuk dapat bekerja sebagai pengacara. Bekerja di German? Jangan lucu. Hukum di Jepang berbeda dengan hukum di German. Budaya dan kebiasaan tentu saja berbeda. Semua orang tahu itu. Tak akan mudah untuk memulai karirnya di sana. Siapa yang akan menggunakan jasanya, pengacara dari negara asing saat ada pengacara hebat asli German yang mengetahui bagaimana hukum di sana bekerja dan mengenal seluk-beluknya?
Bisakah seseorang menghentikan keegoisan Sasuke?
Sasuke lelah menjelaskannya lagi pada Hinata, "Aku juga tak bisa berdiam di sini, Hinata."
Mengurus perusahaan yang ada di ujung tanduk memang bukanlah pilihan aman. Jika peluang keberhasilan yang hampir mustahil dia ambil terjadi, pasti ayahnya akan mengakui bahwa anak bungsunya tak kalah hebat dari anak sulungnya. Ayahnya akan memberikan Sasuke jauh lebih banyak tanggung jawab. Meski tak tahu kapan dapat bertolak kembali dari German, masa depan Sasuke dan keluarga kecilnya bersama Hinata kelak akan sejahtera bukan? Sasuke sangat yakin pada tangan emasnya.
Kapan Hinata akan memahami ambisi terbesar Sasuke?
"Tidak akan bisa, Sasuke." Wanita itu hampir terisak.
Rambut gelapnya bergerak ke kanan dan ke kiri karena sang pemilik sedang menggelengkan kepalanya, "Kita belum mencobanya. Jangan pesimis, ya?" Hinata selalu menuruti permintaannya, kali ini akankah dia mencobanya?
"Tidak. Terlalu berat untuk kita." Hinata menyudahi pengamatannya pada perubahan langit sore ini. Kelopak matanya mengerjap, Sasuke berlutut untuk hubungan jarak jauh. Lagi.
.
.
"Kalau begitu, biarkan kita memiliki perpisahan."
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued
Penulis terbuka akan kritik dan saran dalam penulisan ataupun dalam penyampaian cerita. You can give it through comment or/and personal massage.
-January, 16 2022
