Naruto © to original writer, Kishimoto Masashi
Penulis tidak memperoleh dan menerima keuntungan material dalam penulisan cerita ini
This story is belong to 23stuck
Cerita murni ditulis dari imajinasi dan pemikiran penulis
Dilarang mengutip atau menyalin sebagian atau seluruh isi cerita
Warning: mature content such nudity and sex thing
Please be a wise reader
.
.
Satu minggu yang lalu Sasuke berlutut, menawar, dan memohon untuk kelanjutan status hubungan mereka. Berujung pada adegan seorang lelaki dengan setelan khas pekerja kantoran bersimpuh kepada sebuah kursi kosong. Seorang perempuan yang berjalan cepat dengan isakan tertahan juga tak luput dari penglihatan pengunjung lain.
Hinata berlari kecil meninggalkan kedai minuman kesukaan mereka. Pundaknya semakin bergetar dan isakannya telah lolos dari telapak tangan saat langkahnya berhasil mengeluarkan tubuhnya dari kedai minum itu. Hinata hanya dapat melambaikan tangan di tepi jalan, berharap ada mobil kuning yang dapat melihatnya. Tangan kirinya masih berusaha menutup erat bibirnya, enggan menarik peratian pengguna jalan trotoar lainnya. Di perpotongan lengan kanannya, tas kerjanya ikut bergetar mengikuti gerakan pundaknya yang terisak. Sedang tangan kanannya meremas erat ponsel yang tak dapat dia gunakan. Penglihatannya terganggu. Air mata yang terus mengalir dan yang menggenangi pelupuk matanya benar-benar mengganggu. Hatinya menjerit berharap taksi di sekitar sini dapat lebih cepat menjangkaunya daripada taksi online.
Bisa jadi sekarang adalah fase kritis hubungannya dengan Hinata. Sasuke baru tersadar saat matanya melihat Hinata yang sedang memasuki mobil kuning. Belum sempat Sasuke berlari mengejar Hinata, taxi itu telah melaju kencang untuk kembali bergabung menjadi bagian dari arus ramai jalanan di petang hari.
Masih ada waktu, pikirnya. Rencana dan permintaan Sasuke tadi pasti akan Hinata pikirkan. Mereka membutuhkan waktu untuk perubahan ini. Banyak hal yang harus diurus dan diselesaikan Sasuke. Pembekalan materi, perancangan rencana, pemberkasan, dan rentetan jadwal lainnya yang semakin mendesaknya. Mereka berdua memiliki hari untuk menenangkan pikiran. Pasti ada hari untuk mereka membahas perbahan hubungan mereka. Hinata tak mungkin melepaskannya.
Hubungan mereka terlalu indah dan sempurna jika harus selesai hanya karena berpisah beberapa ribu mil jauhnya. Teknologi sekarang ini dapat memfasilitasi keduanya untuk tetap terhubung. Meski ungkapan Hinata tadi mengingatkannya pada hubungan jarak jauh yang pernah mereka jalani. Memang tak mudah tapi Sasuke dan Hinata memiliki keyakinan dan kepercayaan yang kuat bukan?
Tak lucu bila mereka berpisah hanya karena ini. Sasuke telah berencana untuk menikahi perempuan itu saat tabungannya sudah aman setidaknya untuk sepuluh tahun ke depan.
Kali ini berbeda.
Satu hari setelah Sasuke memberitahunya bahwa dia benar-benar akan bekerja di Jerman, Hinata banyak termenung.
Dua hari kemudian, Hinata berusaha menggunakan waktu luangnya untuk memikirkan rencana masa depan, tanpa Sasuke. Di sela dua hari itu, Hinata kembali menghubungi teman-teman lamanya.
Akhirnya di hari keempat, Hinata dapat kembali fokus pada pekerjaannya.
Hari selanjutnya, ada sidang panjang yang menjadi panggung panas wanita itu. Sidangnya yang paling menegangkan dalam sejarah Hinata memulai karirnya sebagai pengacara. Mungkin setelah ini, ongkos jasanya akan naik beberapa persen.
Hinata menemui beberapa orang baru di kencan buta yang ditawarkan teman kuliahnya di hari keenam. Sore harinya Hinata pulang ke rumah orang tuanya, di sana dia menanam beberapa bibit blueberry dan memetik anggur.
Keesokan harinya, Hinata kembali ke apartemennya. Kembali di pusat kota sehari sebelum memulai hari kerja adalah pilihannya. Jauh lebih efektif dari rencana berangkat pada pagi buta dari rumah orang tuanya. Sore hingga malam ini Hinata berencana akan ia habiskan untuk bersantai dan sedikit pemanasan untuk hari esok, mempersiapkan diri untuk memulai pekan baru dari apartemennya sendiri.
Baru saja Hinata membaca beberapa lembar berkas perkara, wanita itu dikejutkan oleh insiden 'pembobolan' yang dilakukan mantan pacarnya. Satu pekan yang tidak mudah telah dia jalani untuk segera mengembalikan fokusnya.
Tapi perkataan Sasuke seolah menertawakan usahanya. Datang tanpa diundang, masuk tanpa izin, ingin tidur di tempat tinggalnya, dan apa?
Ingin mengadakan perpisahan?!
Bukankah Sasuke terlalu disibukkan dengan ambisinya mengejar pengakuan dari sang ayah?
"Kalau begitu, biarkan kita memiliki perpisahan." Sasuke mengucapkannya dengan nada menuntut. Ekspresi dan nada seperti saat Sasuke menagih kencan rutin atau janji mereka yang batal.
Untuk sesaat mulutnya terbuka menampilkan empat gigi depannya. "Kau ingin melakukan pesta perpisahan?" Hinata berucap ragu. Matanya menyipit. Heran, Sasuke bukan orang yang suka menghambur-hamburkan uang.
Perpisahan yang menandakan mereka telah lulus atau perpisahan untuk merayakan kebebasan?
Seingatnya, Sasuke selalu menghargai tiap apa yang dia berikan. Suara dan wajahnya begitu lepas, menyampaikan apa yang dia rasa tanpa enggan kepada Hinata. Sasuke ekspresif padanya, hanya padanya. Semua orang berkata mereka saling jatuh cinta.
Salahkah anggapannya selama ini?
Apakah selama ini Sasuke tidak sebahagia itu dengannya?
"Bukan," Sasuke menggeleng. Dahinya berkerut, dan dengan mulutnya bergerak tanpa ragu Sasuke melanjutkan, "bukan pesta perpisahan."
Sasuke tak akan merayakan perpisahan dengan kekasihnya, tak akan mengumumkan pada dunia bahwa keduanya telah usai. Semua orang tau bahwa Sasuke begitu mencintai Hinata dan Hinata yang sangat menyayangi dan menghargainya.
Hei, siapa yang senang berpisah dengan wanita pujaan hatinya?
Apa yang tampak, memang itulah kebenarannya. Sasuke adalah pria yang tidak suka berbelit-belit. Dia bukan pria dengan segala kode rumit untuk menunjukkan kasih-cintanya.
Hinata semakin dibuat heran. Sasuke merogoh saku jaket bombernya. Tangan kirinya menarik keluar dompet yang- ah bukan deburan kenangan yang kini menjadi fokusnya. Kali ini Sasuke berniat membentuk kenangan.
Sebuah tiket disodorkan pada Hinata. Kertas itu berhubungan satu sama lain dan dapat dipisah dengan mudah karena lubang-lubang kecil yang berbaris rapi di antaranya. Sudah lama mereka tidak menggunakan benda itu.
Belum selesai Hinata mengenali tiket-tiket itu, kedua tangannya ditarik pelan oleh genggaman erat Sasuke. Tubuh Hinata kembali bangun dari duduknya. Sasuke berjalan mundur, matanya terus pada kedua iris mata Hinata dan mata Hinata menatapnya.
Sebelum Hinata berhasil membaca tulisan pada tiket itu, Sasuke telah menyalakan lampu kamar Hinata. Bola LED itu memfasilitasi netra Hinata untuk membaca tulisan pada kertas yang ada di genggamannya.
Sasuke lah yang mencetuskan ide untuk membuat kupon itu. Kupon yang hanya dimiliki mereka berdua, untuk menunjukkan keinginan melakukan 'hubungan dalam'. Milik Hinata berwarna biru sedangkan yang Hinata pegang berwarna merah muda. Dibentuk saat hubungan mereka masih terbilang baru. Saat hubungan mereka ada di tahap awal dan keduanya baru merasakan gerakan indah yang menghasilkan puncak kenikmatan dunia di antara keduanya. Saat Hinata masih -sungguh- segan mengungkapkan dalam bahasa atau bahkan dalam kode rumit untuk mengungkapkan keinginan lahiriah itu, kebutuhan yang begitu wajar bagi wanita dan pria dewasa.
Terinspirasi dari kupon belanja yang Hinata kumpulkan untuk mendapatkan harga potongan atau sekedar undian untuk mendapatkan hadiah kecil di salah satu supermarket yang berjarak satu blok dari apartemennya. Pemilihan warna juga dipilih sendiri oleh Sasuke.
"Aku akan menggunakan semuanya, Hinata." Mata kelamnya menunjuk kupon yang baru berkurang satu per empat bagian.
Matanya selesai memindai hingga kupon terakhir. Tangan kanannya hendak meraih tangan Hinata yang sedang meremas kertas berwarna saat sebelah tangan Hinata melayang. "Setelahnya, ini-" Ucapan pria dengan rambut yang mencuat itu terpotong, digantikan oleh suara dua permukaan kulit yang keras.
PLAK!
Napasnya memberat, tak hanya hatinya tetapi juga jantungnya menemani pemilik tubuh itu untuk bersiap mengatakan kenyataan yang belakangan ini membebani otaknya. Sudah cukup pria itu tak memberi kabar atau hanya sebuah salam untuk memulai pembahasan kelanjutan hubungan mereka. Hinata merasa sangat cukup.
"Kau anggap aku pelacur?" Wajah jelita itu telah penuh dengan merah. Tangannya mengangkat lembar pink pada dagu Sasuke, "Kita bukan ada di situasi untuk melucu." Sasuke terdorong ke belakang berkat telapak tangan Hinata yang dibatasi oleh kupon sialan itu. Keterkejutan akan tamparan Hinata barusan juga penyebab Sasuke hampir terjerembab.
"Fine! Silakan tidur sepuasmu di sini. Aku yang pergi." Hinata berbalik menuju meja tempat ponselnya tergeletak. Kembali mendekati Sasuke untuk melewatinya dan mengenakan sandalnya di genka.
Sasuke sungguh membenci mendengar isakan tangis Hinata. Maka dari itu Sasuke berusaha menebus kesalahannya. "Hinata dengar!" Hinata tentu memberontak dari pelukan mantannya. Tangan kanan Sasuke menggenggam erat lengan atas Hinata. Perut wanita itu ada dalam rengkuhan sebelah tangannya yang lain.
Helaan napas Sasuke menabrak surai lembut Hinata. Sasuke berusaha menjadi pihak yang lebih terjaga aliran emosinya. Di tempat ini, cukup Hinata yang menangis. Sasuke yang akan menjadi penenangnya meski dialah penyebab tangis Hinata.
"Aku tak pernah memandangmu rendah. Sungguh tak pernah." Rambut Hinata terobrak-abrik oleh gelengan Sasuke. "Maaf, sungguh."
Hatinya berteriak 'Tolong lihat aku.' Dan Sasuke memutar tubuh Hinata. Kembali merengkuh pemilik pipi yang masih memerah dalam pelukannya.
Kecupan tercipta. Yang biasa Sasuke lakukan atau bisa disebut Hinata lah sang pelopor untuk memberi ciuman saat salah satu dari mereka menangis.
Tangan Hinata menggesek dada Sasuke, hendak menghapus air matanya. Sasuke yang merasakan gerakan Hinata, menarik kedua tangan yang terasa lembab itu untuk melingkari pinggang padatnya. Lelehan air mata yang menganak di pipi bersih Hinata telah terhapus oleh sapuan jari-jari lentik Sasuke.
Tujuan mata hitam itu beralih dari bola mata kanan hinata menuju bola mata kirinya. Menatap penuh hati. Berusaha meyakinkan.
"Hinata ini yang terakhir." Alisnya bergerak memohon.
Hinata menghela napas. Hinata paham akan watak Sasuke. Dia tak akan membatalkan rencananya menjadi delegasi ke negara German. Maka dari itu Hinata berusaha tak mengusik Sasuke.
"Ya?"
Tangan hinata terulur ke depan untuk meraih punggung sasuke. Tangannya membelai lemah punggung Sasuke.
"Tidak sekarang. Kita lakukan dengan aman saja." Hinata menolak Sasuke. Di dunia ini berapa persen pasangan yang melakukan farewell sex?
"Aku masih menyimpan satu di dompetku untuk kita, seperti biasa." Sasuke merogoh akhir kasur Hinata. Memaksa tangannya memasuki perbatasan kasur dengan ranjang, berusaha meraih sesuatu. Hal yang merelakan tangannya dijepit mesra oleh kasur. Sasuke mengangkat tangan. Tangan kanannya berhasil meraih tiga kondom yang masih tersegel.
"Begitu juga kamu. Masih ada beberapa di sela kasurmu."
Tentu saja hinata menyimpannya. Bahkan ada satu kotak kondom yang masih tersegel dia simpan di bawah lemari pakaian. Hubungan mereka selalu baik-baik saja, tentu saja mereka membutuhkan pengaman.
Dua bungkus dilempar pelan ke kasur. Sasuke menggigit ujung bungkus kondom. Tangannya menuntun hinata untuk duduk di kasur. Pria itu sudah mendudukkan diri di atas selimut saat tangan kirinya menarik ujung kondom.
"Hinata.. pasangkan." Mencoba merayu hinata. Sasuke mengulurkan bungkus yang telah terbuka. Lalu jari panjangnya membelai selangkangannya yang menggembung.
"Aku sudah keras" Sasuke kembali meyakinkan hinata dengan memperlihatkan bagian dirinya dari celana kain yang sudah turun. Kedua pipi wanita itu tersipu melihat Sasuke menggodanya. Selalu begitu dan ini akan menjadi kali terakhir untuk mereka.
Telunjuk dan jari tengahnya mengusap-usap ujung kepala penis miliknya sendiri. Masih memikat si wanita. Gerakannya tampak seperti menyebar cairan persiapan yang terus keluar dari celahnya.
Serangan visual itu berhasil memperdaya Hinata. Kini Hinata bertekuk lutut di antara telapak kaki Sasuke, "Ini milikmu. Hanya milikmu." Empat jari sasuke menggengam dirinya yang keras. Sementara ibu jarinya membelai belahan kepala penis.
Hinata menundukkan kepala untuk mengecup singkat garis yang tadi dibelai sasuke. Kini kepalanya sedikit terangkat, mendekati puncak benda tegak itu. Lidahnya terulur membersihkan cairan precum yang telah sasuke sebar hingga seluruh kepala bagian dirinya. Tangan kiri Sasuke sudah menyangga tubuhnya di belakang, bentuk antisipasi bilamana dirinya terkejut pada pemanjaan yang Hinata berikan. Tangan kanannya menyentuh pipi halus Hinata, sesekali terasa angin dari napas pelan wanita yang sedang berlutut untuknya.
Setelah kondom telah terpasang dengan benar. Sasuke menangkap kepala hinata. Menarik pelan untuk mendekati organ yang biasa dia lumat. Tak perlu lagi sasuke bertingkah genit untuk memiliki perhatian hinata sepenuhnya. Lidah wanita itu sukarela ikut berdansa. Di atas selimut biru langit dengan posisi duduk, keduanya bercumbu. Gerakannya beriringan dan kental.
Penyatuan terjadi. Mereka dapat meraih kedalaman yang mampu menggetarkan kedua jiwa. Persetubuhan menggairahkan yang tak jauh dari kata luar biasa mereka bentuk ungkapan rindu dan akan merindu.
Menjadi rangkuman atas dua tahun kebersamaan. Kebiasaan, apa yang mereka sukai, frekuensi yang selama ini menggetarkan seolah diputar ulang. Kapal penuh memori dan emosi mereka berlayar dari atas kasur yang ikut melengking, hingga menjelajahi tiap sudut tempat tinggal Hinata sampai berlabuh kembali di kasur–tempat mereka memulai kegiatan bercinta mereka.
Kepala dan hatinya bekerja secara terpisah. Tapi kedua organnya terasa sakit. Seolah mengenali kejadian ini sebagai penutup atas rutinitas bersama yang telah terjalin selama dua tahun, Sasuke terdorong untuk memberikan kisah perpisahan di tiap sudut flat hinata.
Hawa panas terpancar dari dua tubuh. Beberapa bekas cinta mereka di kasur telah kering. Bibir vagina Hinata berkedut. Tak lama cairan putih yang di awal tampak menguning keluar dari pintu surgawi itu.
Tubuh mereka terbaring miring, saling berhadapan. Napas mereka saling menyapa, masih terengah-engah. Kedua manusia dewasa itu masih dalam euforia dari akhir senggama. Rasa nikmat masih terasa tinggi.
Kelingking dan jari manisnya menyisir anak rambut hinata, sedang jempol dan telunjuknya membelai pipi kenyal hinata.
"Aku akan merindukanmu." Ucap sasuke. Matanya terpaku iris perak keunguan di depannya.
Hinata masih menyesapi udara dan aroma lembab yang mereka ciptakan. "Aku.. aku juga akan merindukanmu."
...
Sasuke membenci Hinata yang memutuskan hubungan mereka hanya karena asumsinya yang mengatakan mereka tidak bisa melakukan hubungan jarak jauh.
Sasuke melihat sekretarisnya yang sedang menelpon kekasihnya. Otaknya memutar kenangan manis yang terasa pahit. Dulu mereka juga sering menelpon, saat sasuke sedang merasa muak dengan cibiran orang-orang di perusahaan atau karena ayahnya yang selalu memuji itachi-kakaknya di depan- rasa kesalnya akan lepas setelah sedikit mendongeng pada sang pendengar setia. Tak lama imajinasinya membangun rasa bahagia, mengganti rasa kesal dan lelah yang tadi ada. Membayangkan kekesalan Hinata saat bercerita tentang klien yang selalu membanggakan anjing poodle miliknya. Kesal karena Hinata belum bisa ikut merasakan memiliki hewan peliharaan karena pemilik flat tak menghendaki adanya hewan peliharaan di gedungnya.
Hari ini Sasuke sungguh lelah, tenaganya seolah diserap siluman meski tadi pada jam makan siang sasuke telah menyelami alam bawah sadar. Banyak orang di kantor ini mengira dirinya gila kerja. Padahal selama ini waktu luangnya digunakan untuk hasil pekerjaan yang maksimal juga melakukan hal-hal yang dapat mencegahnya melamunkan wanita itu.
Sasuke ingin mengakhiri nostalgia.
Hinata sungguh luar biasa. Hinata benar-benar memukau. Hinata selalu cantik di matanya, dari layar juga secara langsung. Sasuke bersyukur pernah dapat bersama dengan Hinata. Mereka selalu menantikan saat-saat bersama. Juga saat keduanya memanggil dan menyahut dengan nama satu sama lain di hawa yang panas.
Ingatan bibir penuh Hinata muncul, disusul suara tawa renyahnya yang menggema di gendang telinga Sasuke. Kemudian hidungnya mencium aroma khas rambut kepala Hinata. Semua kenangan lama ini terlalu berat untuk Sasuke tanggung sendiri. Biasanya saat rindu memuncak tak berujung seperti sekarang ini, Sasuke akan segera menuju pada Hinata atau membuat Hinata tak akan melepaskan pelukan pada tubuhnya.
Rindu yang Sasuke derita terlalu berat untuk dia tanggung sendiri. Apakah sasuke satu-satunya pihak yang menjadi gila akan kenangan mereka? Apakah di sana Hinata juga sedang merindu?
Hinata selalu ada di hari Senin, saat kenyataan menampar dirinya keras agar terbangun dari hari liburnya. Hinata juga ada di hari Jumat, saat hari kerja telah usai dan mereka akan mengawali hari libur mereka bersama. Di setiap pekan Sasuke, Hinata ada di sana. Bergitu juga di tiap pekan Hinata. DI hari-hari yang mereka lalui selalu terselip waktu untuk menemani masing-masing berkeluh kesah dan mereka akan memberi masukan juga solusi atau ikut mengumpat.
...
Sasuke masih mengenang kebersamaan mereka. Tubuhnya ditidurkan miring ke kiri, menjemput kerinduan pada salah satu kenangan bersama hinata. Dengan earphone wireless pada kedua telinganya yang disetel agar dapat melantunkan kenangan terakhir mereka dengan lantang. Kedua tungkai kakinya terpisah. Telapak kakinya bersatu membangun kekuatan untuk bergerak. Bunyi deritan kasur terus terdengar. Sesekali dengan frekuensi sedang dan sering kali pada ritme cepat yang tak teratur.
Sikutnya menekan pelan pertengahan bantal padat dengan sarung biru gelap. Tangan kanannya meremas ujung bantal dan tangan kirinya menggelitik ujung lain bantal biru itu. Kaki kanannya terangkat, lututnya menjulang. Kedua telapak tangannya terus meremas gemas bantal dalam dekapannya. Otaknya terus mengeluarkan dopamin. Memori kecilnya mengingat sensasi saat Hinata ada dalam dekapannya.
Kepala kasur menghentak tembok dengan hebat. Suara yang mungkin akan ditemukan di kamar pengantin baru. Namun telinga Sasuke hanya dipenuhi kenangan. Pinggulnya terus bergerak maju-mundur, berharap ujung panasnya dapat menyentuh ujung rahim wanita itu sehingga tusukan pinggulnya serasi dengan suara di telinga yang disalurkan oleh benda mati yang tersemat di telinganya. Suara kenangan. Suara yang sempat Sasuke rekam saat mereka berdua melakukan perpisahan yang menggairahkan.
Sasuke terus menghembuskan napas dan menarik napas dari bantal biru itu. Menyesap parfum yang biasa Hinata kenakan. Sayangnya parfum itu menghasilkan aroma yang berbeda, aroma tubuh Hinata yang bercampur parfum ini lebih hebat menyentuh akalnya. Kepalanya terus menggesek permukaan bantal, berharap menemukan sensasi atau lenguhan yang lebih kencang.
Sasuke harus berterima kasih pada pencipta silicon berlubang ini. Cairan kental yang hangat menyusul cairan berwarna serupa yang telah dingin, cairan yang dulunya keluar saat ada Hinata di sisinya.
Apakah hanya sasuke pihak yang menggila setelah menjadi tuna asmara?
.
.
.
Passionate Goodbye, finished.
Penulis terbuka akan kritik dan saran dalam penulisan ataupun dalam penyampaian cerita.
-March, first 2022
