Transformers © Hasbro
Focused: Transformers: Prime
or
Aligned family continuity
Ribuan tahun terus berlalu dan berlalu. Planet-planet berevolusi melalui orbit yang sudah digariskan. Bintang demi bintang berpijar, bergerak, bertabrakan, bergesekan, meredup–
dan hati itu belum berubah semenjak ia dikecewakan pada kenyataan yang terlalu pahit untuk ia terima.
Kubus besi berisikan energon berkonsentrasi tinggi ia main-mainkan di tangan, melambungkan benda itu pelan ke atas berulang-ulang, sembari duduk di singgasana yang keras dan gelap. Rasa, kalau dihiraukan, kecamuknya takkan pernah berhenti. Rasa yang bertengger di sana tak hanya kecewa–amarah, murka, rasa-rasa yang lebih kuat–yang begitu menggerogoti dan ingin ia tuntaskan sedini mungkin–
Ia mengatasinya dengan baik. Tindakan memang lebih bersuara dibandingkan ucapan–ia pernah cukup mengandalkannya hingga untaian kata yang lebih indah dari sang juru arsip mengalahkannya telak.
Kecewa, iri, marah—kecewa, dengki, murka—kecewa, amarah—
"Lihatlah hadirin sekalian yang menjadi saksi atas kedatangan kami berdua. Temanku, Orion Pax, datang menemaniku kemari untuk membantu membela kita semua memperjuangkan hak yang mestinya ada untuk kita. Ia berbicara tentang perdamaian, tetapi ternyata yang diinginkannya adalah kekuasaan semata!"
Megatron di beberapa waktu masih bisa mengingat peristiwa menghadap Dewan Tinggi itu. Tak sekali dua kali juga ia merenungkannya.
Ia menekuri anggapan benarnya pada hal tersebut.
Di waktu lain menertawakan ucapannya sendiri. Geli, tentu saja.
Lalu, pada saat yang lain, ia terlalu tenggelam pada perasaan gelap yang sudah terlanjur menyelimuti.
Rasa, kalau dibiarkan terus, memang akan semakin menggerogoti. Kalau mau dipikirkan terus-menerus, kuat dan kacau yang diakibatkannya takkan pernah hilang.
Namun, Megatron tentu pintar. Rencana menuju tindakan nyata memang hal yang paling membantunya untuk menuntaskan rasa-rasa yang bergejolak dalam diri.
Sayangnya, satu hal yang ia tak pernah tahu—tak pernah ingin ia tahu.
Tindakan yang menurutnya mengantarkan pada ketuntasan, justru semakin menjauhkannya dari kata 'tuntas'.
