Dislcaimer : Eiichiro Oda & Ichiei Ishibumi

Warning :Non Canon. Typo dan lain-lain


Kehidupan baru.

-(bersama dua orang).

Dua orang sedang berjalan di malam hari yang begitu sepi. Tidak ada seseorangpun yang melewati mereka dikarenakan ini sudah jam tidur. Kecuali untuk kedua orang ini.

Mereka adalah Monkey D. Luffy dan Ayano Himea. Gadis remaja dan seorang bajak laut dari dimensi lain. Setelah kejadian Luffy menyelamatkan Ayano, si gadis SMA yang di selamatkan itu mengundang kapten bajak laut topi jerami ke rumahnya, untuk membalas budi.

Makanan adalah balasan budi yang cocok untuk Luffy.

"Apakah masih lama lagi?" Luffy bertanya. Dia sudah tidak sabar untuk ke tempat Ayano untuk makan dan beristirahat.

Ayano berbalik melihat yang bertanya.

"Sebentar lagi, rumahku mungkin beberapa meter lagi," jawab sang gadis.

"Begitukah, baguslah. Tempat ini luas sekali, lebih besar dari Dressrosa atau Wano, mungkin."

Luffy menatap ke arah kanannya. Dia melihat arah kota yang tentu lebih ramai dari pada perumahan disini. Di sana mungkin orang-orangnya lebih lama merasa mengantuk, sebab terlalu sibuk menikmati duniawi yang nikmatnya.

Pesta, kencan ataupun penyebab kesenangan adalah tujuan beberapa orang untuk hidup. Sama halnya dengan Luffy.

Mereka berjalan beberapa menit hingga Ayano berhenti.

"Itu dia, itu rumahku."

Luffy memandang ke depan yang di tunjuk Ayano, melihat sebuah rumah yang terlihat sederhana.

Rumah itu memiliki ukuran sedang untuk rata-rata rumah biasa, berwarna hijau muda menunjukkan naturalisme, memiliki dua jendela di depan dan tampak ada bunga-bunga yang cantik di depan rumah. Memberikan kesan selamat datang yang ramah bagi yang datang.

"Ayo."

Ayano mengajak Luffy masuk ke dalam rumahnya. Gadis itu membukakan pintu untuk tamu yang datang. Luffy bisa melihat dalam rumah ini yang bisa di anggap sederhana juga, dengan adanya jam dinding besar tua, ruang makan, ruang tamu, dan memiliki dua tingkat ke atas.

Mereka berdua menuju ke ruang makan yang bersatu dengan dapur. Luffy bisa melihat banyak sayuran di lemari kaca yang seukuran kulkas, lemari itu juga menyimpan buah-buahan segar.

Ruang dapur ini tampak memiliki peralatan dapur yang begitu lengkap, dari pisau, tempat pemotong, kulkas, wajan dan barang-barang lainnya. Membuat rumah yang di luar tampak sederhana ini menjadi rumah impian rumah tangga.

"Silahkan duduk, aku segera akan memasak." Ayano mempersilahkan Luffy.

Luffy langsung duduk di meja makan yang dipersilahkan Ayano tadi. Dia masih memakai kimono merahnya yang sudah begitu kotor sejak bertarungan dengan Kaido, di tambah laba-laba yang ada di gudang tempat Ayano di tangkap.

Ayano langsung mulai untuk memasak, dia mengambil beberapa sayuran dan sebuah pisau. Gadis remaja itu mulai memotong sayuran hijau yang di pegangnya, potongannya terlihat begitu rapi seperti menunjukkan bahwa dia adalah koki yang ahli.

Cara memasak Ayano membuat si bocah topi jerami merasa tertarik, caranya memotong sayur membuat Luffy mengingat Sanji saat ini.

Ayano memasukan beberapa bumbu ke dalam wajan yang sedang memasak kuah untuk sayurannya nanti. Dia menaruh bawang, cabai, kunyit dan beberapa rempah-rempah lainnya.

"Kau sangat handal memasak ternyata," ucap Luffy memuji Ayano.

Sepontan Ayano melihat ke arah Luffy.

"Eh! Oh terima kasih." Ayano berterima kasih dengan rasa senang.

Ayano kembali memasak hingga butuh beberapa menit, masakan untuk Luffy pun akhirnya jadi. Dia menaruh masakannya itu ke meja Luffy.

"Silahkan, jangan segan-segan," ucap Ayano mempersilahkan Luffy.

Luffy tentu saja tidak akan segan-segan, air liurnya dari tadi sudah mengalir dengan derasnya ingin segera menelan masakan itu. Dengan cepat si kapten topi jerami memegang sumpitnya dan langsung makan dengan rakusnya.

Gadis di depannya terbengong dengan cara makan pria di depannya. Cara makannya begitu rakus seperti orang tidak makan setelah berhari-hari, membuat Ayano berpikir dia pasti orang jauh.

Beberapa saat Luffy pun selesai menghabiskan mangkuk makanannya. Dia mendesah nikmat merasakan lidahnya terasa asin setelah memakan masakan Ayano itu

"Enak~." ucapnya senang.

"Syukurlah, ku pikir kau tidak akan menyukainya."

"Kau bercanda? Ini salah satu makanan paling enak yang pernah aku makan."

Luffy berkata dengan senangnya, membuat gadis pemilik masakan itu merasa senang dengan pujian yang di berikan.

"Apakah aku bisa nambah?" Luffy tampak memelas.

Ayano terkejut mendengar masakannya ternyata kurang.

"Tentu saja, kau bisa makan sepuasnya," ucap Ayano.

Gadis itu kembali ke dapur, dia sekali lagi mencoba untuk memasak lagi.

Butuh waktu lama untuk Ayano saat memasak lima masakan berbeda-beda, dari sup, kare, mie goreng, sayuran hijau dan daging sapi. Semua itu di sediakan untuk Monkey D. Luffy seorang, dan tentu saja membuat pemilik nama senang.

Dan sekali lagi Luffy memakan habis semua masakan itu, dengan tidak tersisa sama sekali. Semua piring dan mangkuk tampak bersih dari kuah, tidak ada yang disisakan Luffy.

"Kenyang~." Luffy memegang perutnya.

Terkadang dia bersendawa membuat gadis di depannya terkikik kecil, merasa lucu.

"Apakah dia orang jauh?"

Ayano dari tadi bertanya-tanya tentang jati diri Luffy. Siapa dia sebenarnya? Kenapa pakaiannya seperti itu? Kenapa dia dengan mudah mengalahkan monster laba-laba yang menculiknya?

Sudah banyak pertanyaan di kepala Ayano saat ini.

"Jadi siapa kau ini? Dari mana kau berasal?" tanya Ayano langsung.

Luffy terkejut dengan pertanyaan Ayano itu.

"Dia ingin tahu tentangku?"

Luffy bingung untuk menjawab apa, dia ingat perkataan Nami dan yang lainnya. Dia harus merhasiakan siapa jati dirinya, apalagi dia sekarang dia ada di tempat yang asing. Bisa-bisa musuh akan menyerang dirinya tanpa sepengetahuannya.

Namun sayangnya. Luffy bukanlah pria yang pandai berbohong, bahkan tidak bisa sama sekali. Saat berbohong dia pasti menunjukkan wajah menandakan dia bohong, jadi sangat sulit baginya bohong. Tapi dia harus berbohong saat ini juga.

"A-aku hanyalah p-pengembara jauh yang s-sedang lewat di kota ini... ," ucap Luffy dengan gugupnya.

Ayano menaikan alis dan memakai wajah herannya. Dia sekarang melihat pria di depannya memakai wajah aneh dan berkeringat deras entah kenapa. Sekarang dia benar-benar penasaran, tapi dia mencoba menahan dirinya.

"Begitukah... Baiklah aku mengerti. Jadi kau ada pengembara jauh yang lewat kota ini," ucap Ayano pura-pura percaya.

Luffy hanya tersenyum saja saat Ayano terlihat percaya dengan perkataannya. Entah kenapa tapi dia merasa lega sekali.

"Kalau begitu, sekarang sepertinya kau butuh mandi."

Luffy melihat dirinya. Yup, dia butuh mandi sekarang.

"Akan ku tunjukkan kamar mandinya."

Ayano memandu Luffy ke kamar mandi.

(Beberapa saat).

Luffy sekarang sedang berendam di air panas. Tubuhnya akhirnya bisa rileks setelah bertarung dengan dua makhluk aneh. Pertama yang mengakui sebagai malaikat jatuh yang bahkan Luffy tidak tahu apa itu, kedua adalah monster laba-laba di gudang tua yang tampaknya memangsa beberapa manusia sebagai santapannya. Dia juga sudah lelah saat bertarung dengan Kaido sebelum terdampar di dimensi ini.

Dan sepertinya sudah dimulainya petualangan Luffy di dimensi ini.

Dia lalu membasuh kepalanya sekali lagi walaupun tubuhnya harus lemes karena berendam air. Pemakan buah iblis lemah saat setengah bagian tubuhnya terendam air.

Dia memakai sabun yang di gunakan oleh Ayano juga. Tercium bau harum sabun itu sama dengan wangi Ayano, membuat si bocah karet merasa nyaman dengan harum itu, bisa menenangkan dirinya.

"Luffy-san. Aku menaruh pakaianmu di depan." Ayano tampak di depan pintu Luffy.

"Oh terima kasih." Luffy berterima kasih.

Di luar Ayano menaruh pakaian Luffy di depan pintu kamar mandi. Dia bisa mendengar siraman air dan suara keran air yang hidup, memberitahukan kalau tamunya tampak mandi dengan nyaman.

Ayano kembali ke dapur untuk mencuci piring-piring bekas Luffy makan.

Kembali ke Luffy. Sekarang dia tampak sudah selesai mandi, dia berdiri dari air panasnya, menunjukkan tubuhnya yang bugar dan kekar. Setelah di penjara di Wano, otot Luffy semakin terbentuk dengan bagus, saat di suruh mengangkat batu di sana, bersama Kidd. Mungkin para wanita akan merasa malu melihat fisiknya dari pada dirinya sendiri yang merasa malu di lihat oleh mereka.

Luffy membuka pintu, melihat ada pakaian. Dia langsung memakai pakaian itu, yang tampak cocok ukurannya dengan dirinya.

Setelah itu dia menuju ke dapur tempat Ayano berada.

Sedangkan Ayano tampak selesai mencuci piring kotor. Dia sudah merasakan tubuhnya lelah dan hari tampak juga sudah menunjukkan malam. Dia berbalik untuk segera bertemu dengan Luffy, tapi ternyata orang yang dia cari terlihat sudah selesai mandi.

"Oh Luffy-san. Kau sudah selesai rupanya. Sekarang mari aku tunjukkan kamarmu," ajak Ayano.

"Kau mengijinkanku tinggal disini?" tanya Luffy.

"Hmmm? Ya. Memangnya kenapa? Apakah itu salah?" tanya Ayano bingung.

"Itu aneh membiarkan orang asing menginap di tempatmu," ucap Luffy menggaruk belakang kepalanya.

"Hahaha itu masuk akal. Setelah kau menolongku jadi aku akan memberikan tempat tinggal untuk pengembara sepertimu." Ayano berkata dengan lembutnya.

Luffy hanya tersenyum saja mendengarnya, ternyata Ayano ada orang yang baik baginya.

"Mari," ajak Ayano.

Mereka berdua pun menuju ke lantai dua, tempat ruangan tidur Luffy nanti.

Ayano membuka pintu kamar Luffy, menunjukkan ruangan yang lebarnya berukuran sedang. Di kamar itu ada lemari, tempat tidur kayu, lampu tidur dan barang kamar tidur lainnya.

Luffy tampak cukup senang dengan ruangannya ini, setelah tinggal di Sunny Go selama lebih beberapa bulan. Lagian di Sunny Go juga tidak terlalu buruk, kamarnya cukup luas sebagai kapten, namun ini juga tidak terlalu buruk baginya untuk tidur. Dia bisa tidur entah di mana saja.

"Bagaimana menurutmu?" tanya Ayano.

"Tidak buruk. Aku suka ruangan ini," ucap Luffy.

"Syukurlah. Kalau begitu aku permisi dan selamat tidur, Luffy-san." Ayano pun keluar dari ruangan Luffy.

Luffy melihat ruangannya. Cukup senang sekarang dia memiliki tempat tinggal, hingga tak perlu lagi pusing mencari kesana kemari tanpa arah. Dia merobohkan tubuhnya di kasurnya yang cukup empuk, hingga tubuhnya bisa tidur begitu saja.

Dia melihat atas langit-langit, mengingat teman-teman di dunianya.

Hingga kemudian matanya terpejam.

-esok hari

Ayano sedang menyiapkan sarapan. Namun kali ini tampak dia menyediakan dua orang, karena di rumahnya sudah ada penghuni baru. Tapi dia tidak tahu apakah si penghuni baru akan lama tinggal disini dan Ayano masih penasaran dengan siapa Luffy, dan dari manakah dia.

Tinggal beberapa kegiatan lagi, Ayano akan selesai menyediakan sarapan pagi untuk mereka berdua. Hingga beberapa saat kemudian dia pun selesai.

"Sekarang tinggal membangunkan Luffy-san."

Ayano langsung berjalan ke lantai dua, untuk membangunkan Monkey D. Luffy. Seorang bajak laut dari dimensi lain, yang bahkan tidak dia ketahui. Yang dia tahu hanyalah kalau Luffy sudah menyelamatkan dirinya dari monster laba-laba raksasa. Dia sampai di depan pintu kamar milik Luffy.

"Luffy-san. Apakah kau ada di dalam?" Ayano mengetuk pintu kamar si bajak laut.

Namun tidak terdengar jawaban dari dalam. Yang dia hanya dengar adalah suara dengkuran cukup kuat, hingga terdengar sampai di luar.

"Hmmm?... apakah dia masih tidur?" Ayano mendengar suara dengkuran itu membuat dirinya penasaran.

Dia mencoba membuka pintu kamar dan ternyata tidak di kunci, sehingga dia pun masuk ke dalam melihat Luffy yang ternyata masih tertidur. Si kapten bajak laut tergeletak di kasur dengan begitu leluasa, bahkan membuat selimutnya terjatuh ke lantai. Mulutnya menganga lebar dan penyebab dengkurannya begitu kuat.

Ayano menghela nafasnya, melihat kamar yang tadi malam rapi menjadi berantakan seperti ini. Tapi dia cukup merasa senang melihat kamar ini di tempati lagi semenjak kamar ini kosong dengan begitu lama. Dia mendekati bocah topi jerami itu.

"Luffy-san. Ayo bangun!" Ayano berkata dengan cukup kuat, mencoba membangunkan bocah karet.

Tapi tampak Luffy tidak berefek dengan suara panggilan Ayano tadi. Bahkan dengkurannya menjadi lebih kuat.

Itu membuat si wanita menjadi kesal.

"Bangun Luffy-san!" Ayano kali ini berkata dengan lebih kuat. Namun tetap saja suaranya tidak berhasil membuatnya bangun.

Ayano sekarang benar-benar menjadi kesal sekarang, bahkan sudah menampakkan wajah marahnya. Dengan kemarahannya dia mencubit pipi Luffy dengan kukunya yang sedikit tajam, membuat tubuh si bocah karet merasakan cubitan itu.

Dengan kaget, Luffy sedikit lompat dari kasurnya sambil memegang pipinya yang di cubit Ayano tadi. Tampak bekas cubitannya terlihat.

"Apa yang kau lakukan, Ayano?!" Luffy berteriak dengan ada sedikit air mata keluar dari matanya. Luffy ternyata masih bersifat kekanak-kanakan, dan tak akan berubah.

"Sarapan sudah siap," jawab Ayano dengan cemberut.

Luffy yang mendengar kata sarapan lalu dengan cepat berlari keluar, namun kerah bajunya di pegang oleh si gadis pemilik rumah.

"Mandilah dulu," suruh Ayano.

Luffy cemberut sedikit, namun dia menuruti kata gadis itu. Tidak mungkin dia melawan gadis pemilik rumah ini, kemungkinan besar dia malah di hajar seperti Nami menghajar dirinya.

Ayano menghela nafasnya melihat penghuni baru itu, dia kembali ke bawah untuk sarapan lebih dulu karena dia harus pergi ke sekolah.

Beberapa saat Luffy selesai mandi dan mengganti bajunya, yang sudah di sediakan oleh Ayano. Baju putih polos, dengan celana jeans pendek, cocok dengan dirinya. Dia juga membawa topi jeraminya, terikat di lehernya.

"Oh Luffy-san. Kau sudah selesai? " Ayano tampak sedang membersihkan piring kotor miliknya. "Kalau begitu silahkan sarapan, makanannya di atas meja."

Luffy melihat atas meja ada makanan yang begitu banyak. Yang sepertinya kelebihan untuk dua orang saja, namun tidak untuk si Monkey D. Luffy. Bocah karet yang suka memakan segalanya, kecuali satu makanan yang tidak dia sukai, pie apel.

Luffy langsung duduk dengan sigap, dia mengambil sendok dan garpu dan akhirnya bisa menikmati semua makanan di atas meja. Dia begitu cepat hingga nasi yang sebanyak mangkuk besar habis dalam beberapa detik, tanpa ada yang tersisa. Hingga perutnya pun terisi dengan penuh.

"Kenyangnya~"

Sudah dua kali perutnya terisi dengan penuh saat di dunia ini. Dia tidak terlalu khawatir untuk kelaparan karena masih ada Ayano, yang akan memasak untuknya.

"Kalau begitu tolong jaga rumah, Luffy-san. Aku mau pergi ke sekolah."

Ayano tampak mengambil tasnya dengan terburu-buru, tanpa melihat Luffy yang kebingungan di belakangnya.

Luffy menggaruk belakang kepalanya menandakan dia kebingungan.

"Sekolah? Apa itu?" tanyanya dengan merasa penasaran.

Luffy lalu melihat di pintu luar ada sebuah buku yang tergeletak. Dia mendekati buku itu dan melihatnya lebih jelas. Buku itu adalah buku matimatika, namun sayangnya Luffy tidak bisa membaca.

"Aku harus mengejar Ayano."

Si bocah karet itu langsung berlari dengan cepatnya, menuju ke jalan raya yang sudah dikerumuni oleh orang-orang yang sedang pergi untuk bekerja.

Di jam segini memang orang Jepang akan pergi untuk bekerja dengan tergesa-gesa. Mereka bahkan sampai lupa untuk sarapan hingga mereka terpaksa makan di kantor atau tidak sama sekali. Beginilah kehidupan di Jepang yang begitu ketat, namun itulah membuat negara ini begitu memiliki moral bagus dalam suatu negara.

Si bocah topi jerami berlari menyelusuri jalan raya yang ramai, bahkan lebih ramai dari perkiraannya. Padahal tadi malam tempat ini begitu sepi tak ada seorang pun.

"Dimana Ayano? Aku kehilangan jejaknya."

Luffy dari tadi mencari kesana kemari namun tidak menemukan keberadaan Ayano. Mungkin dia perlu menuju ke tempat bernama sekolah untuk menemukan si gadis yang telah memberinya makan. Namun pertanyaannya sekarang dia tidak tahu tempat itu berada.

Hingga dia melihat seorang pria yang tampak memiliki pakaian sama dengan Ayano, namun berbeda gender.

"Hey kau!"

Luffy pun memanggil pria itu, dan tampak berhasil mendapatkan perhatiannya. Pria itu berbalik menunjukkan wajahnya yang masih muda.

Si bocah topi jerami menghampirinya.

"Apakah kau memanggilku?" tanya pria itu.

"Ya, apakah kau tahu tempat sekolah di tempat ini?"

"Sekolah? Maksudmu akademi Kouh?"

"Ya itu, apakah kau tahu dimana tempatnya?"

"Ya, aku tahu. Aku bersekolah disana."

Luffy bergembira setelah mendengar jawaban si pria itu.

"Bisakah kau mengantarku?"

"Tentu."

Mereka berdua pun berjalan bersama, menuju ke akademi Kouh. Tempat si pria dan Ayano berada.

-(beberapa saat kemudian)

Mereka berdua sampai di tempat tujuan. Di sebuah bangunan yang cukup besar dan banyak orang-orang masuk ke dalam bangunan itu, yang kebanyakan pria muda dan gadis muda.

Pria dari dimensi lain melihat tempat itu tampak kagum. Dia tersenyum melihat begitu banyak orang-orang di tempat ini, berpikir seperti markas marinir, namun lebih kecil dari ukurannya.

"Tempat ini seperti markas marinir," ucap Luffy dengan secara tidak sadar.

Membingungkan orang yang sudah menghantarnya. Pria itu menatap aneh pria bertopi jerami, berkaos putih, dan celana jeans pendek itu. Dari ciri-ciri fisik dia memiliki tinggi sedikit pendek darinya, berpupil mata hitam, memiliki bekas luka di bawah mata kiri, dan tampak atletis.

"Terima kasih sudah menghantarku, aku akan mencarinya sendiri!"

Luffy berlari masuk ke dalam wilayah sekolah. Meninggalkan pria yang menghantarnya menjadi kebingungan.

"Apa yang sedang dia cari? Benar-benar pria aneh." pria itu bingung.

"Hey Issei!"

Pria yang ternyata bernama Issei itu melihat siapa yang telah memanggilnya, dan kemudian menghampirinya.

-(dengan Luffy)

Kembali dengan si bocah topi jerami. Dia sedang berlari di lorong sekolah dengan cukup cepat, membuat murid-murid lain kaget melihat orang asing itu. Mereka berpikir-pikir tentang siapa pria itu dan kenapa dia terlihat terburu-buru.

Luffy terus berlari mencari-cari Ayano yang pasti ada di tempat ini. Namun dia tidak tahu ada dimana dia berada karena tempat ini cukup luas dan juga ramai

"Aku bingung untuk kemana, mungkin aku bisa menanyai seseorang." bocah itu melihat kesana kemari mencari orang yang dia bisa tanya.

Namun tampak situasi menjadi sepi dengan begitu cepatnya. Tadinya orang-orang banyak, sekarang malah menghilang entah kemana bahkan tidak ada jejak sama sekali. Ini tentu saja mengagetkan si topi jerami Luffy.

"Mereka cepat sekali menghilangnya." dia menggaruk belakang kepalanya.

Dia kembali mencari lagi hingga di persimpangan saat dia ingin berbelok, dia menabrak seseorang.

Buak!

Suara tabrakan itu begitu kuat, hingga bisa terdengar beberapa radius meter, dan membuat mereka terjatuh satu sama lain. Orang yang mendengarnya pasti berpikir ada tabrakan material yang begitu kuat.

"Kaicho!"

Terdengar juga suara beberapa orang di dekat mereka berdua.

Kerumunan orang itu mendekati sang wanita mencoba membantunya berdiri. Beberapa dari mereka menatap ke arah Luffy dengan mata menunjukkan rasa kesal.

"Apakah anda tidak apa-apa kaicho?" tanya seorang pria berambut kuning di kelompok mereka. Namun jika dilihat-lihat semua kelompok itu hampir semuanya wanita, kecuali si pria tadi yang satu-satunya gender lelaki disitu.

Luffy menatap mereka dengan tatapan heran, mereka membantu gadis yang dia tabrak seperti dia orang yang begitu penting.

"Hey kau!"

Seorang wanita berambut coklat kemerahan menunjuk ke arah Luffy, dengan tatapan tidak senang.

"Siapa kau ini?! Tiba-tiba saja menabrak kaicho!" ucap gadis itu dengan marah.

Si bocah topi jerami tentu saja merasa bersalah. Walaupun dia bodoh namun dia akan meminta maaf jika dirinya salah, seperti yang di ajarkan Makino. Luffy membungkukkan kepalanya ke depan dengan bersungguh-sungguh.

"Maaf," ucap Luffy jelas.

Sikap Luffy tentu saja membuat kelompok itu terkejut dan juga kagum. Mereka tidak menyangka kalau bocah asing itu langsung meminta maaf dengan sopan.

"Kalau begitu aku permisi." Luffy mencoba pergi.

Kelompok itu tampak marah.

"Tunggu dulu! Jangan pergi dengan seenaknya!"

Mereka semua minus si wanita terjatuh, berteriak dengan keras bercampur amarah di nada mereka. Teriakan mereka tentu saja membuat terkejut si kapten bajak laut topi jerami dan dia melihat ke belakang.

"Eh? Bukankah aku sudah meminta maaf?" tanya Luffy menggaruk belakang kepalanya.

Si pria di kelompok itu maju.

"Ya! Tapi jangan seenaknya pergi begitu saja, bahkan permintaan maafmu belum di terima kaicho!"

"Cukup Saji."

Pria bernama Saji itu terdiam setelah mendengar perkataan wanita yang di sebut kaicho. Wanita itu berambut pendek, memakai kacamata, memiliki mata berpupil ungu, tingginya agak pendek dari Luffy dan dia tampak seorang wanita yang serius dari kelihatannya. Ada rasa aura kuat dari gadis itu yang di rasakan Luffy saat ini, namun dia tidak tahu apa.

"Siapa kau ini?" tanya gadis itu dengan nada serius.

Luffy tersenyum. "Namaku Luffy, salam kenal," ucap Luffy dengan nada ceria.

Wanita di panggil kaicho itu memandang Luffy, dengan kesan begitu mengintrogasinya seperti melihat seorang penjahat. Dia pun menghela nafasnya setelah puas melihat si bocah karet dari tadi.

"Jadi mau apa kau kesini?" Sona bertanya pagi.

"Tunggu, bukankah kau seharusnya memperkenalkan dirimu?" Luffy malah tampak cemberut.

Wanita itu dan kelompoknya tercengang mendengar perkataan Luffy. Mereka berpikir tentang pria aneh ini, dan sifatnya juga tidak kalah aneh.

Wanita itu menghela nafasnya, merasa mencoba sabar.

"Namaku Sona. Sona Sitri." Sona pun memperkenalkan namanya.

"Salam kenal Sona," sapa Luffy dengan senyuman lebar.

Sona terdiam mendengar sapaannya. Ada aura ceria terlihat jelas di dekat pria bernama Luffy itu, bahkan dengan tekanan yang abnormal jika di lihat dengan lebih jelas. Dengan dia tersenyum dengan lebar itu saja sudah terlihat jelas aneh.

"Hey apakah kau tahu dimana bisa menemukan gadis bernama Ayano?" Luffy bertanya.

Sona memiringkan kepalanya, dia tampak tertarik dengan kenapa ada seseorang yang ingin mencari si Ayano.

"Memangnya kenapa kau ingin mencarinya?" tanya Sona penasaran.

"Hmmm? Apakah ada yang salah aku mencarinya?" Luffy yang sekarang tampak bingung.

"Ya itu karena dia bukan gadis biasa." Sona membenarkan kacamatanya. "Dia adalah wanita yang terkenal di sekolah ini. Dari kepintarannya dalam semua pelajaran, sikap positifnya, moralnya dan juga penghargaan baik yang sudah dia dapatkan untuk sekolah ini. Dia bahkan mendapat beasiswa yang tak main-main jumlahnya, dia salah satu harapan sekolah Kouh akademi ini. Tentu saja aku merasa penasaran mengetahui orang asing sepertimu mencarinya." Sona menjelaskan dengan jelas tentang Ayano di sekolah ini.

Si bocah topi jerami di depannya tampak terdiam, dia sedikit terkejut dengan semua yang dia ketahui mengenai Ayano. Suasana terdiam beberapa saat.

"Jadi Ayano adalah orang penting?!" Luffy malah berteriak tidak jelas.

"Tentu saja bodoh!" semua kelompok Sona berteriak dengan nada kesal.

Sona tak tahu harus bersifat apa melihat pria aneh di depannya. Tidak tahu harus bersifat marah atau aneh.

"Jadi... siapa kau ini baginya?" Sona masih menyelidiki Luffy.

"Aku adalah temannya," jawab Luffy dengan percaya diri.

Sona dan kelompoknya pun terbengong mendengar jawaban simpel si bocah karet itu.

"Dengar. Semua orang juga mau berteman dengan Ayano-san, tapi tidak mungkin dia memiliki teman pria aneh sepertimu," ucap Saji dengan kata-kata merendahkan, walaupun tidak berniat.

Seluruh kelompok Sona kecuali dia, tampak mengangguk setuju. Mereka semua setuju dengan perkataan Saji tadi, walaupun kata-kata itu mengejek.

Luffy di sisi lain malah cemberut melihat mereka semua.

"Aku tidak peduli, katakan saja dimana Ayano berada," ucap Luffy cemberut.

Sona menghela nafas melihat bocah karet ini.

"Dia ada di ruangan lantai dua, tempatnya di kelas XI-F," jawab Sona.

Luffy tersenyum lebar, "Terima kasih, kalau begitu sampai jumpa." dia pun berlari kencang menuju ke tempat yang di beritahu si wanita bergadis kacamata tadi.

Disisi Sona. Dia tampak heran melihat orang asing itu, pria itu sangat berbeda dengan laki-laki yang dia temui, apakah mungkin dia terlalu ceria? Atau bodoh? Gadis ini sama sekali tidak tahu, tapi ada rasa karisma terpancar dari pria itu.

Sona lalu mengingat sesuatu. Dia seharusnya sedang menuju ke sebuah tempat.

"Ayo semuanya, kita bisa telat."

"Ha'i."

Mereka lalu kembali berjalan menuju ke tempat tujuan mereka.

Saat mereka ingin melewati persimpangan...

"Hey, apakah kalian tahu dimana tempatnya?"

"-!"

Seluruh kelompok Sona beserta pemimpin mereka terkaget, melihat si bocah topi jerami itu kembali dan mengagetkan mereka di persimpangan. Mereka semua terjatuh ke lantai, di ikuti oleh Sona juga. Salah satu dari mereka langsung menatap Luffy dengan tatapan marah.

"Apa yang kau lakukan?!"

"Kau membuat kami kaget!"

"Kau ini bodoh ya?!"

Makian dan teriakan terdengar begitu jelas, hingga mungkin akan terdengar oleh para murid lain yang ada di dekat situ.

Si bocah karet malah tersenyum.

"Maaf, maaf. Aku tidak bermaksud mengagetkan kalian semua, shishishi." Luffy meminta maaf sambil tertawa dengan tawa khasnya.

Mereka masih tampak cemberut, tidak tahu harus memaafkannya atau tidak. Sona sekarang akhirnya terlihat jengkel, tapi dia masih berusaha menahannya untuk tetap menjadi ketua yang baik.

"Tsubaki," Sona memanggil seseorang.

Seorang gadis bernama Tsubaki langsung menghampirinya.

"Ya kaicho."

Gadis bernama Tsubaki itu memiliki ciri-ciri hampir sama dengan Sona, yang membedakannya adalah rambutnya yang begitu panjang menjulang ke bawah. Bahkan Luffy juga kaget melihat rambutnya.

"Antar dia ke kelas XI-F." Sona tampak memerintah.

"Baiklah." Tsubaki menatap ke arah Luffy. "Ikuti aku,"

Luffy mengangguk mengerti hingga mereka pun berjalan. Luffy membalikkan tubuhnya untuk melihat Sona dan kelompoknya lagi.

"Sampai jumpa dan terima kasih," ucapnya dengan ceria.

Sona dan kelompoknya tidak bisa untuk mengatakan apa pun. Mereka hanya bingung melihat bocah topi jerami itu tampak happy going sekali, hingga seperti seorang anak yang masih kecil.

"Jadi bisakah kita berangkat?"

Seluruh anggota Sona mengangguk, menjawab iya.

Kembali dengan Luffy, yang kali ini sedang berjalan bersama seorang gadis asing. Bocah topi jerami itu menatap penasaran gadis di depannya, penasaran kenapa dia dari tadi terdiam tanpa mengatakan sepatah kata pun.

"Jadi namamu Tsubaki?"

Pertanyaan Luffy sedikit berhasil mendapatkan perhatian.

"Ya," jawabnya.

"Jadi kau bekerja disini?"

Pertanyaan berikutnya kali ini berhasil mendapatkan perhatian lebih.

"Bekerja? Aku bersekolah disini," jawab gadis itu dengan rasa heran melihat Luffy.

Si kapten hanya mengangguk-angguk mengerti, walaupun tidak tahu apa itu sekolah, sama sekali. Luffy dari tadi berpikir tempat ini adalah tempat melatih seorang prajurit layaknya markas marinir di dunianya, tapi ternyata dia salah. Ini mungkin tempat untuk mencari pengetahuan yang di ceritakan oleh Robin.

Beberapa saat kemudian mereka pun sampai di sebuah kelas, setelah berjalan beberapa menit.

"Disini tempat Himea-san. Aku akan memanggilnya untukmu," ucap Tsubaki.

Luffy hanya mengangguk mengerti.

Gadis itu mengetuk pintu, memanggil seseorang dari dalam. Pintu pun di buka menunjukkan seorang wanita dewasa, dia adalah guru yang sedang mengajar kelas ini.

"Oh Tsubaki-san? Apakah ada yang bisa aku bantu? tanya guru itu.

"Bisakah anda memanggil Ayano Himea? Ada seseorang yang mencarinya," pinta Tsubaki.

Guru itu tampak mengangguk mengerti. "Baiklah."

Guru itu kembali masuk ke dalam kelas untuk memanggil yang di cari. Tsubaki kembali melihat Luffy.

"Sekarang, sisanya tinggal kau," ucapnya dengan wajah datar.

Luffy tersenyum senang, "Terima kasih, kau sangat membantu sekali." dia berterima kasih, dengan sangat bersungguh-sungguh. Itulah sifat Luffy yang tampak jelas di ajarkan sejak kecil, yaitu berterima kasih dengan jujur.

Tsubaki hanya terdiam melihat laki-laki itu, yang memiliki kesan aneh tapi sangat nyaman. Apakah dia memiliki karisma yang tersembunyi?

"Sama-sama, kalau begitu aku permisi." wanita itu pun pergi meninggalkan Luffy.

Si kapten hanya bisa menatap gadis itu dari jauh, berpikir dia adalah gadis yang baik. Dia kemudian berbalik menyadari pintu kelas kembali terbuka, namun kali ini Ayano yang membuka pintu.

"Luffy-san? Kenapa kau ada disini?" Ayano kebingungan, melihat tamu nya ada disini.

"Aku hanya mengembalikan bukumu yang terjatuh." Luffy menyerahkan buku matimatika milik Ayano.

Wanita itu terkejut melihat bukunya yang tiba-tiba menghilang, sekarang muncul di bawakan oleh tamunya.

"Buku matimatika ku!" Ayano tampak kesenangan.

Ayano mengambil bukunya sambil bernafas lega, dia seperti di selamatkan oleh ksatria memakai armor besi putih, layaknya seperti kisah dongeng.

Luffy di depannya hanya tersenyum senang juga.

"Terima kasih Luffy-san." Ayano berterima kasih.

"Sama-sama. Kalau begitu aku akan kembali ke rumah, takutnya terjadi sesuatu dengan rumahmu." Luffy berbalik untuk berjalan pergi.

"Kalau begitu hati-hati. Nanti malam aku akan memasak makanan yang banyak." Ayano berkata dengan bersungguh-sungguh.

Perkataannya tentu saja membuat Luffy senang, bahkan sangat senang sekali dan tidak sabar untuk makan malam. Makanan adalah benda paling istimewa untuk dirinya sebagai manusia karet, makanan sebagai energinya untuk menggunakan buah iblisnya.

Luffy berjalan keluar lorong sekolah dan sampai di bagian depan sekolah. Dia bisa lihat sendiri kalau situasi menjadi sangat sepi setelah jam pelajaran di mulai, dan malah keadaan di dalam kelas malah menjadi lebih meriah.

Saat sedang berjalan dengan santainya, ada sebuah mobil berhenti di depan pintu gerbang sekolah. Luffy yang berasal dari dunia lain tentu saja kaget melihat mobil itu, walaupun dia sudah melihat banyak sekali benda aneh di dunia ini, namun kali ini mobil di depannya lebih mewah.

Kemudian keluarlah dua orang wanita dari dalam mobil itu. Mereka berdua memiliki ciri-ciri yang berbeda satu sama lainnya. Yang satu memiliki ciri-ciri berambut merah terang, berkulit putih, memiliki wajah cantik, pupil matanya berwarna hijau cerah dan memakai seragam Kouh. Yang kedua berciri-ciri berambut hitam dengan gaya ponytail, memiliki pita mengikat rambutnya, memiliki kulit putih, memiliki wajah cantik juga dan juga memakai seragam sekolah Kouh. Mereka berdua ada wanita cantik dan seksi yang membuat mata semua lelaki tak bisa berpaling, dan akan terus menatap mereka hingga puas.

Kecuali untuk Luffy yang sekarang berjalan dengan santai dan tanpa melihat mereka. Dia bersiul dengan kedua tangannya ada di belakang kepalanya, dia begitu santai. Hingga dia melewati kedua wanita itu tanpa melihat mereka.

Si wanita rambut memerah berpaling dan melihat si bocah topi jerami.

"Akeno, siapa dia?"

"Entahlah bucho, mungkin orang baru."

Mereka berdua menatap bocah laki-laki itu dari jauh.

"Memangnya ada yang salah dengan lelaki itu, bucho?"

"Aku tidak tahu pasti. Mari, kita harus segera masuk ke sekolah."

Si rambut hitam mengangguk mengerti.

-Bersambung