Disclaimer : Eiichiro Oda & Ichiei Ishibumi.
Warning :Non Canon, typo dan lain-lain.
Sang Ratu Kembali.
Situasi menjadi tidak terkendali. Pertarungan pun tidak terelakkan oleh kedua belah pihak. Situasi menjadi tegang dengan pertarungan ini dimana setiap orang mencoba mengungguli lawan mereka, dan langsung mengalahkannya. Namun itu tidak begitu mudah oleh orang-orang di kedua pihak. Mereka bertarung dengan kemampuan mereka sendiri.
"Sialan! Dimana kedua orang tolol itu?! Kenapa di situasi ini mereka malah tidak datang." Sanji mengatakan perkataan kesal.
Sudah beberapa menit berlalu sejak dia melawan seorang pria besar di depannya. Pria yang dia lawan begitu berotot yang membuat siapa saja yang melihatnya pasti berpikir tenaga miliknya kuat, dan itu memang faktanya. Sang koki mengalami masalah melawan pria besar ini, lebih bermasalah yang dari dia bayangkan. Setiap kali Sanji menendangnya, pria besar itu selalu berhasil menangkisnya dengan mudah.
Bahkan terkadang pria besar itu membalas serangan milik sang koki sehingga posisi Sanji yang tadinya menyerang, menjadi bertahan dengan sekuat tenaga. Jika memang satu lawan satu Sanji bisa mengatasi itu, namun masalahnya adalah dengan para teman-temannya. Mereka semua tampak kesulitan melawan lawan-lawan mereka, ini adalah situasi yang gawat bagi tim Gremory, dan Sanji adalah bantuan yang paling besar disitu.
Sanji melihat rekan-rekan timnya. Issei tampak sedang melawan seseorang yang bernama Cao Cao itu, Irina melawan wanita pirang, Xenovia dan Kiba melawan pria bernama Siegfried yang dengan mudah melawan mereka, dan yang terakhir Rossweisse adalah bantuan jika ada yang membutuhkan, bersama Asia. Di sisi lain Sanji melihat rubah raksasa yang sebenarnya ratu para yokai sedang melawan Saji yang dengan menggunakan Sacred Gear nya untuk menjadi ular raksasa.
Sanji terlalu banyak berpikir hingga sebuah pukulan mengenai pipinya. Tubuhnya mundur ke belakang karena pukulan itu dan dia memegang pipinya yang telah terpukul, merasakan sakit yang begitu terasa. Sanji menatap ke depan melihat orang yang memukulnya saat lengah, dia merasakan kekesalan melihat orang itu tersenyum.
"Hey bukankah kau ingin melawanku satu lawan satu?" tanya pria itu dengan senyuman sombong dan percaya diri.
"Cih kau tak perlu mengatakannya, aku sudah tahu. Yang aku khawatirkan bukanlah diriku yang di hajar olehmu melainkan para wanita di tim ini." Sanji menatap serius
"Hm? Kau takut mereka terluka?"
"Bodoh, tentu saja aku takut. Mereka adalah harta yang berharga di dunia ini dan aku harus melindunginya," kata Sanji yang kali ini tersenyum percaya diri.
Sanji memposisikan kakinya seperti akan menggunakan suatu trik. Dia berputar dengan cepat hingga kakinya menciptakan api yang cukup besar, tentu saja ini membuat musuhnya merasakan kaget. Ini adalah situasi Sanji benar-benar akan serius, saat menggunakan trik ini.
"Diable Jambe," ucap Sanji.
"Wah wah kau memiliki trik unik dan aneh ternyata."
"Namamu Heracle bukan?" tanya Sanji.
"Ya itu benar," jawab Heracle.
"Namaku Sanji. Mari kita bertarung dan menunjukkan seberapa kuat kita," kata Sanji dengan wajah semangat sekarang.
Heracle tersenyum merasa tertarik melihat Sanji.
Di sisi lain Issei sedang kewalahan melawan Cao Cao. Manusia itu ternyata memiliki skill yang luar biasa, gerakan tombaknya begitu cepat sehingga Issei tidak bisa melihat kalau Cao Cao mengenai dirinya. Dia terpojok yang bahkan saat sedang memakai [Balance Breaker] miliknya. Kekuatan dan skill milik Cao Cao mungkin ada di atas Issei sehingga dari tadi sang kaisar naga merah tidak bisa melawannya secara langsung, di tambah lagi Cao Cao sepertinya memiliki tombak yang tentu bukan tombak biasa. Tombak itu memiliki model simpel layaknya tombak dengan adanya sedikit aksesoris.
Dari tadi tombak itu menebas atau menusuk diri Issei dengan pelan, namun ternyata efek tombak itu lebih besar dari sang kaisar naga merah rasakan. Armornya akan hancur dan tertembus dengan begitu mudahnya, seolah-olah armor milik sang kaisar naga merah tidak ada gunanya lagi.
Issei juga sadar akan dirinya yang terpojok.
"Ada apa? Kau kelihatan lemah dari yang aku bayangkan? Maaf juga aku merendahkanmu," kata Cao Cao dengan wajah penuh kejujuran.
Kejujuran itu membuat kemarahan Issei mendidih sehingga dia bangkit dan mulai bertarung lagi. Rasa tidak mau menyerah miliknya memang sangat membantu sekali, bahkan membuat musuhnya harus kesulitan melawannya.
"Draig, kuserahkan perbaikan armor kepadamu!" seru Issei.
"Aku mengerti! Kau bertarunglah semampumu!"
Issei tersenyum mendengar perkataan partnernya, entah kenapa hubungan mereka berdua semakin baik di tiap pertarungan. Issei siap-siap menerjang lagi dan dia pun maju ke depan, dengan begitu cepat, lebih cepat dari sebelumnya. Dia berhasil memukul Cao Cao tempat di wajahnya, sejak dari tadi terus menghindari semua pukulannya, namun kali ini dia berhasil mengenai. Apakah karena Cao Cao lengah atau karena kecepatannya terlalu cepat untuk Cao Cao?
Cao Cao mundur kebelakang setelah merasakan pukulan Issei yang jelas terlihat kuat itu. Ada bekas pukulan Issei terlihat di wajahnya.
"Wah wah wah. Kau memang bisa membuat semua orang terkejut, tapi kali ini aku akan mulai serius." Cao Cao berkata dengan cukup serius.
Issei dari tadi memerhatikan tombak yang di gunakan Cao Cao. Tombak itu bahkan tidak tergesek sama sekali setiap pukulan yang dia luncurkan kepada benda itu, jelas-jelas itu tombak yang sangat kuat.
"Tertarik?" Cao Cao ternyata memerhatikan Issei yang melihat tombaknya dari tadi.
Dia memajukan tombaknya ke depan.
"Apakah kau percaya kalau benda ini adalah [Longinus]?" Cao Cao tersenyum setelah mengatakan perkataan itu.
Jelas saja Issei tahu itu. Sacred Gearnya juga adalah salah satu dari [Longinus]. Sekarang itu baru masuk akal setelah mengetahui tombak itu yang sudah menebas armornya berapa kali. Dan bahkan tombak itu memiliki aura suci dan itu sangat berbahaya, untuk iblis sepertinya.
"Nama tombak ini adalah Holy Spear. Ada banyak nama-nama yang di berikan banyak orang untuk tombak ini, namun aku hanya akan menyebutnya Holy Spear." Cao Cao menjelaskan.
Issei mulai merasakan gemetaran. Tidak hanya salah satu [Longinus] tapi tombak itu juga memiliki energi suci yang bisa menghancurkan iblis. [Longinus] dan energi suci, kombinasi yang mengerikan, untuk Issei sekarang ini. Dia menggenggam tinjunya mencoba melawan rasa takutnya dan terdengar bunyi suara mekanik dari gauntletnya.
Boost! Boost! Boost!-
Suara itu terus berbunyi berapa kali hingga terlihat sampai sepuluh kali, atau lebih. Issei tiba-tiba menerjang Cao Cao dengan cepat, lebih cepat lagi dari serangan sebelumnya.
"Oy oy kau benar-benar serius berpikir bisa mengalahkanku. Baiklah, ayo kita bertarung sebagai sesama pengguna [Longinus]!" seru Cao Cao merasa bersemangat sekarang. Dia menahan pukulan Issei namun tenaga nya lebih kuat dari Cao Cao bayangkan. Pria berambut hitam itu terpental ke belakang.
Pertarungan mereka pun berlanjut.
Irina, sedang kesulitan juga melawan wanita bernama Jeanne ini. Pedang miliknya adalah pedang suci yang tidak bisa mempengaruhi lawannya dengan lebih efektif, karena wanita itu manusia. Manusia yang memiliki jiwa seorang pahlawan di masa lalu.
"Hey hey~ ayolah. Kau bisa lebih dari itu, pirang-chan. Sebagai seorang wanita berambut pirang, kita harus sama-sama kuat." Jeanne tampak menggoda Irina.
"D-diamlah! Jangan menggodaku!" Irina entah kenapa begitu marah. Dia lalu melemparkan lingkaran suci bulat ke arah wanita itu. Serangan miliknya bisa di hindari oleh lawannya, membuat Irina semakin geram.
Jeanne mengeluarkan rapiernya bersiap-siap untuk menggunakan Sacred Gearnya. Dia menggerakan rapiernya ke depan dan secara tiba-tiba muncul dari tanah pedang-pedang yang begitu banyaknya. Serangannya membuat Irina terkaget saat terbang di atas langit, dia terbang lagi lebih tinggi untuk menghindari serangan itu, tetapi pedang-pedang itu ternyata cukup panjang hingga berhasil mengenai dirinya. Lutut Irina berdarah akibat tusukan beberapa pedang itu.
Irina geram melihat Jeanne yang malah tersenyum, melihat dirinya terkena serangan simpel itu.
"Kemarahanmu bisa mempengaruhimu lho." Jeanne mengejek. "Dan itu bisa membuatmu kalah dengan mudah."
Irina tambah geram. Dia mencoba berdiri dengan kaki yang terlukanya. Si malaikat pirang itu menarik nafas mencoba menenangkan dirinya. Percuma melawan musuh dengan kemarahan, yang hanya membuat dirinya mudah di baca musuhnya. Lagia dia ini malaikat, jadi dia harus menahan kemarahannya.
"Aku tidak akan kalah semudah itu!" seru Irina yang mulai bersemangat. Ada emosi yang percaya diri yang tinggi yang dikeluarkan gadis itu, aura suci menyinari dirinya seperti bersiap membantunya. Ini adalah rasa semangat Irina yang mencapai titik tinggi.
Jeanne tidak merasakan perubahan sikap. Dia hanya menatap Irina dengan tatapan santai.
"Kalau begitu mari kita bertarung di tingkat seru lebih tinggi lagi." Jeanne memposisikan tubuhnya, seperti akan melakukan sesuatu, hingga dia berkata, "Balance Breaker~."
Sebuah lingkaran gelombang pedang muncul disekitar gadis pahlawan itu. Pedang-pedang itu begitu banyak bahkan seperti hutan yang terbuat dari pedang-pedang. Beberapa saat kemudian muncul sesuatu dari hasil semua bentukkan pedang itu. Seekor makhluk seperti naga, yang terbuat dari pedang-pedang Jeanne tadi. Makhluk itu mengaung dengan cukup keras hingga Irina harus menutup telinganya dengan kuat, tak mau gendang telinga nya terkoyak. Di sisi lain, Jeanne hanya tersenyum.
"Baiklah, mari kita mulai lagi pertarungannya!" seru Jeanne dengan semangat.
Irina dalam situasi bahaya.
Xenovia dan Kiba. Mereka mengalami hal buruk sekali. Entah bagaimana tapi kedua pendekar pedang ini tidak bisa melawan Siegfried yang di depan mereka, ini adalah hal mengejutkan bagi kedua pendekar yang Rias banggakan.
"Cuma inikah kemampuan pendekar pedang milik keluarga Gremory? Sejujurnya aku merasa kecewa," ucap Siegfried dengan tersenyum angkuh.
Xenovia kembali berdiri dan mencoba menyerangnya lagi. Dia menerjang kedepan dengan cepat dan mulai menebasnya dari samping. Siegried tentunya menangkus serangan itu dengan mudahnya karena lengannya yang ada empat itu, dia lalu menyerang balik dengan salah satu pedang iblisnya yang hampir mengenai Xenovia. Namun ada tebasan lagi di belakang Siegfried yang ternyata Kiba yang diam-diam menyerangnya. Tetap saja tebasan milik kiba sangat mudah di tangkis dan salah satu tangannya mencoba menabas Kiba namun dia bisa menghindarinya.
Kiba dan Xenovia mundur kebelakang untuk menarik nafas. Mereka sudah benar-benar lelah dengan pertarungan ini, yang dari tadi mencoba menebasnya namun tidak ada celah untuk menebas tubuh Siegfried.
"Wohoho itu tadi hampir mengenaiku. Kalian benar-benar licik dari yang aku bayangkan," ucap Siegfried dengan tawaan senang entah kenapa.
"Sial, Sacred Gearnya benar-benar menyebalkan. Memiliki empat lengan memang memiliki keuntungan drastis." Xenovia terlihat begitu kelelahan.
"Ya kau benar. Ini terlalu menyebalkan," balas Kiba setuju dengan Xenovia.
Siegfried tersenyum melihat mereka berguman kesal satu sama lain. Seperti di ambang putus asa.
"Baiklah. Aku rasa aku akan mengalahkan kalian dengan cepat," ucap Siefried. "Balance Breaker," tambah Siegfried dengan cukup keras, tiba-tiba muncul dua tangan lagi di punggungnya dan terlihat mengeluarkan dua pedang juga di genggamnya. Satu pedang iblis lain dan satu terlihat seperti pedang cahaya. Ini sesuatu yang bisa membuat pertarungan menjadi tambah berat sebelah.
Xenovia dan Kiba tentu saja kaget melihatnya. Melawan empat tangan saja sudah membuat mereka kelelahan apalagi di tambah dua tangan lagi. Ini situasi menjadi tambah kacau untuk Kiba dan Xenovia.
"Mari kita lanjutkan pertarungan kita." Siegfried tersenyum sadis melihat mereka berdua.
Kembali dengan Issei yang bernasib sama dengan kedua temannya. Sang kaisar naga merah menerima banyak sekali kerusakan di armornya, setelah tebasan dan tusukan oleh tombak suci itu. Ada juga darah yang keluar dari bekas-bekas tusukan itu menandakan tusukan Cao Cao sampai melukai kulit Issei. Ini sangat fatal bagi Issei, yang sebagai iblis.
Cao Cao tampak puas melihat semua luka-luka Issei. Namun beberapa detik kemudian armor Issei kembali seperti semula berkat kekuatan Ddraig.
"Cukup hebat, aku mengakui itu. Kau memang cocok memakai Sacred Gear itu, sangat cocok melihat sang kaisar naga merah yang tidak mau kalah," ucap Cao Cao yang memuji namun malah Issei merasa itu adalah hinaan.
Issei kembali ingin bertarung lagi namun aura di sekitarnya tampak lebih tebal. Aura merah dari Issei sepertinya berasal dari tekad kuatnya hingga menciptakan ledakan yang sangat kuat dari dalam tubuhnya. Cao Cao tersenyum melihat ini, karena ini adalah niatnya memancing Issei untuk marah agar bisa memberikan potensinya. Cao Cao ternyata cukup maniak bertarung, apakah karena gagal beberapa kali menaklukan Kyoto karena Law? Yang pasti dia merasa bersemangat.
Dengan tiba-tiba Issei menerjang ke depan namun kali ini tampak sangat mencurigakan. Dia menyerang dengan serangan mudah di baca Cao Cao sehingga membuatnya merasa curiga. Sebuah pedang muncul dari gauntlet Issei yang memiliki ukuran sedikit panjang, pedang itu adalah salah satu pedang pembunuh naga, Ascalon. Issei mendapatkan dari Michael.
Cao Cao yang melihatnya tentu kaget, dia mencoba menggunakan tombaknya untuk menangkis tapi Issei menggunakan tangan kirinya untuk memegang tombaknya. Cao Cao tidak bisa bergerak saat tombaknya di kunci oleh Issei, dan dengan cepat Issei menggunakan pedangnya untuk menebas Cao Cao. Lengan sebelah kiri Cao Cao tertebas hingga putus dan terbang ke atas, membuat Cao Cao harus mundur ke belakang sambil menutup luka lengan kirinya yang putus. Dia terlihat kesakitan dengan lengan kirinya terus mengeluarkan darah.
"Bagaimana hah?! Apakah kau sudah merasakan kekalahan?!" Issei berkata dengan keras. Ada rasa senang dari Issei saat berhasil memutuskan lengan kiri musuhnya.
Cao Cao terdiam dengan wajahnya yang tampan. Beberapa detik dia mengangkat tangan kanannya ke atas, untuk mengambil lengan kirinya yang jatuh ke bawah. Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah botol kecil, botol yang begitu familiar. Cao Cao memposisikan lengan kiri seperti semula dan meneteskan cairan aneh dari botol tadi. Dengan tiba-tiba lengan kiri Cao Cao bersatu kembali dengan bahunya walaupun masih ada noda darah.
"Apa itu?! Apakah itu air mata Phoenix?! Bagaimana kau bisa mendapatkannya?!" Issei terkaget melihatnya.
"Hmm seperti kau tahu. Air mata dari keluarga Phenex begitu terkenal hingga pasar gelap menciptakan air yang sama persis, namun aku tidak tahu bagaimana cara mereka membuatnya tapi air ini memiliki kualitas yang sama," jawab Cao Cao.
Issei terkejut mendengar jawaban Cao Cao. Ya benar, air mata dari clan Phenex begitu terkenal hingga mungkin beberapa orang akan menciptakan copycat air mata itu, tapi Issei tidak tahu kalau efeknya bisa sama persis. Bahkan mungkin saja memiliki kualitas yang sama persis! Ini benar-benar gila, apalagi benda itu di jual kepada beberapa teroris terutama Cao Cao bersama anak buahnya.
Cao Cao masih menunggu Issei sadar dari kagetnya. Dia adalah orang yang cukup terhormat sebagai pahlawan.
"Jadi bisakah kita lanjutkan pertarungan kita?" tanya Cao Cao.
Issei kembali memposisikan tubuhnya lagi untuk bertarung. Dengan cepat Issei kembali menyerang Cao Cao yang masih santai menunggu serangan lawannya. Issei mencoba kembali memukul Cao Cao namun dengan mudah di hindari, namun dia juga mencoba untuk menendang namun di tahan oleh tombaknya, Issei terus menyerang dengan membabi buta tapi memiliki sasaran. Namun semua itu dengan mudah di hindari oleh Cao Cao dan dengan cepat sang pemimpin faksi pahlawan itu mundur ke belakang, tapi Issei tidak membiarkan itu.
Untuk terakhir kali Issei mencoba memukul dengan sekuat tenaga yang bisa membunuh Cao Cao dengan serangan itu. Namun Cao Cao menggerakan tombaknya ke atas seperti menebas Issei dengan kecepatan yang begitu cepat, hingga Issei tidak bisa melihatnya. Dengan tiba-tiba armor Issei hancur terkena tebasan yang begitu banyaknya yang anehnya tebasan Cao Cao tadi hanya satu tebasan saja.
Issei tertunduk sambil memuntahkan darah dari mulutnya, dan juga dari semua luka-luka tubuhnya.
"Itu tadi tebasan tombak secepat kilat hingga kau tidak bisa melihatnya," kata Cao Cao.
Issei merasa ceroboh yang bisa terkena serangan simpel itu. Di dalam dirinya dia menyalahkan kecorobohannya yang begitu mudah terbaca.
"Oy partner! Kau baik-baik saja?" Ddraig bertanya dengan panik.
Issei tidak bisa menjawab. Lukanya terlalu dalam dari tombak cahaya milik Cao Cao tadi.
"Aaaaah!"
Issei mendengar suara. Dia melihat asal suara jeritan itu yang terlihat kalau Kiba di tembas oleh Siegfried, di bagian lengan tangannya hingga putus. Kiba pun terjatuh ke tanah seperti pingsan dengan darah bercucuran deras dari lengan kanannya. Bisa di lihat juga Xenovia sudah terjatuh tak sadarkan diri.
"Fufufu mereka memang cukup lemah." seorang gadis lalu datang sambil menggendong Irina. Dia menjatuhkan Irina ke bawah dengan cukup kasar.
Issei melotot kaget. Rata-rata temannya sudah di kalahkan dengan begitu mudah tanpa sepengetahuannya. Bahkan Issei bisa melihat Rossweisse dan Asia yang tergeletak di tanah dengan luka di sekujur badan, sehingga sekarang hanya Sanji yang masih bisa bertarung. Issei benar-benar merasa dirinya terlalu lemah, sehingga tidak bisa membantu teman-temannya, yang dia sendiri pun tidak bisa mengalahkan Cao Cao satu lawan satu.
Sanji tampak masih melawan Heracle. Dengan mode diable jambe yaitu membakar kakinya, Sanji mendapatkan keuntungan melawan Heracle kali ini. Dia berhasil mendaratkan tendangan ke tubuh dan wajah pria besar itu namun terlihat dia masih bisa menahannya. Baru kali ini tendangan Sanji bisa di tahan seseorang.
Sanji melihat ke arah para teman-temannya. Dia langsung kaget mereka semua tampak sudah kalah dan tak sadarkan diri satu persatu namun terlihat Issei masih sadar dengan luka-luka di sekujur tubuhnya. Sanji merasakan kemarahan melihat para wanita babak belur hingga pingsan, dia lalu mencoba mengakhiri pertarungan ini. Sanji memposisikan diri seperti ingin menendang dengan kuat.
"Poitrine Shoot!" Sanji menendang ke dada Heracle dan tiba tiba dia langsung terpental kebelakang dengan jauh.
Sanji lalu berlari menuju ke arah Issei untuk segera menyelamatkannya. Niatnya tadi dia ingin menyelamatkan para wanita terlebih dahulu namun karena sekarang situasi Issei lebih parah, sehingga dia menyelamatkan pria mesum itu terlebih dahulu. Sanji melompat dan mulai ingin menyerang Cao Cao dengan diable jambe miliknya namun tampak dihadang oleh Jeanne, yang menyerang dirinya dengan rapiernya. Tentu saja Sanji tidak akan membalas serangan itu, karena kita semua tahu sifat Sanji.
Sanji mendarat ke tanah. Ada rasa geram melihat kejadian ini, namun dia tidak bisa menyalahkan Jeanne sebab dirinya selalu menghormati wanita. Di sisi lain Siegfried terlihat akan membantu Jeanne untuk melawan dirinya, di tambah lagi Heracle yang sudah dia tendang tampak masih baik-baik saja. Situasi menjadi tidak adil dengan satu melawan tiga orang.
"Kau tidak terlalu beruntung di situasi ini," ucap Cao Cao melihat Sanji.
Siegfried langsung meluncurkan serangan ke arah Sanji dengan beberapa pedangnya. Sang koki menghindari semua tebasan pedang itu dengan [Observasi Haki] miliknya, namun tampak sulit juga karena tebasan Siegfried begitu cepat. Sanji merasakan ada serangan di belakangnya yang berasal dari Heracle, yang sudah menyiapkan tinjunya. Sang koki masih bisa menghindarinya namun Jeanne sudah bersiap-siap dengan rapiernya, wanita itu menusuk Sanji tepat di perut bagian kanannya hingga mengeluarkan darah, di tambah lagi pukulan mengenai punggung Sanji dan tebasan pedang lain hampir mengenai kepala Sanji tapi pipinya tampak kena hingga mengeluarkan darah.
Sanji mundur ke belakang dan mengelap darah di pipinya. Dia juga menutupi perutnya yang mengeluarkan darah, membuat Sanji harus berhati-hati karena bisa kehabisan darah.
"Kau tahu, sudah seharusnya bantuan kalian datang. Ini bertambah jadi tidak adil," ucap Cao Cap seperti mengejek.
Sanji hanya bisa menggeram kesal. Entah butuh berapa lama lagi untuk bisa bertahan dengan luka ini. Sanji tidak tahu kalau situasi bisa seperti ini.
Siegfried menerjang ke depan mencoba menebas Sanji, menoba membuatnya tidak sadarkan diri seperti teman-temannya yang lain. Satu tebasan mencoba mengenai kepala Sang koki. Sanji berpikir untuk menghindari serangan ini namun tidak tahu apakah Jeanne atau Heracle yang akan menyerangnya saat menghindar, atau mungkin keduanya sekaligus. Hanya satu cara untuk mencari tahu, Sanji sudah bersiap-siap...
Hingga...
Ctang!
Sebuah suara benturan pedang terdengar. Siegfried kaget melihat ada katana yang menangkis serangan miliknya. Dia langsung mundur kebelakang saat mengetahui siapa pemilik katana itu.
"Ada apa koki mesum? Kau bisa kalah oleh mereka?"
Sanji memasang wajah sinis mendengar perkataan orang yang menyelamatkannya. Orang yang dia benci namun memiliki sedikit rasa pertemanan dengannya, orang berambut hijau dan memiliki tiga pedang di pinggangnya. Ciri-ciri lain memiliki anting-anting di telinga kirinya dan mata sebelah kirinya juga. Dia yang lain adalah Roronoa Zoro, yang akhirnya sampai di tempat ini.
"Wah sepertinya yang lainnya kalah." lalu datang seseorang di belakang Zoro. Sang kapten dari bajak laut topi jerami, Monkey D. Luffy yang akhirnya sampai juga.
Di sebelah Luffy terlihat ada Lulu yang seperti biasa tersenyum dengan ceria namun jadi kaget melihat Issei dan yang lainnya sudah babak belur di hajar Cao Cao beserta anak buahnya. Tapi Succubus kecil ini tidak terlalu terpengaruh atau takut. Dia tetap tersenyum ceria atau tersenyum dengan maksud lain?
"Dari mana saja kalian?" tanya Sanji cemberut.
"Hah? Tentu saja menuju kemari," jawab Zoro.
"Kalian terlalu lama! Pertarungan ini sudah hampir satu jam berlalu!" teriak marah Sanji kepada kedua orang tolol di depannya.
Zoro hanya terdiam tidak menghiraukan kemarahan Sanji, sedangkan Luffy terlihat bersiul ke samping seperti menyembunyikan sesuatu. Tiba-tiba datang Kunou di belakang Sanji.
"Itu karena Zoro-dono begitu keras kepala! Aku hanya menyuruhnya untuk mengikutiku untuk segera sampai di kuil terakhir tapi dia selalu menghilang saat mengikutiku! Aku terus mencarinya entah berapa kali hingga akhirnya ketemu hingga sebelas kali, bahkan dia hampir keluar dari Kyoto karena salah arah!" seru Kunou yang malah marah sekarang. Wajahnya memerah karena marah, telinga rubahnya menjadi tegang hingga memberikan kesan imut.
Sanji terbengong dengan kaku ke arah Zoro. Hanya gara-gara sering nyasar dia hampir terlambat menyelamatkan teman-temannya, sang koki tidak tahu harus bereaksi apa kepada Zoro, apakah harus marah atau kasihan melihat kutukan Zoro itu?
"Lalu bagaimana denganmu Luffy?" tanya Sanji melihat kaptennya. Aneh jika Luffy ikut terlambat juga.
"Eh? Kami hanya salah jalan saja," jawab Luffy dengan berkeringat deras.
Sanji tentu tidak percaya. Jelas-jelas kaptennya sedang menyembunyikan sesuatu.
"Ah? Bukankah kita singgah dulu di tempat makanan, papa?" Lulu bertanya dengan polos
"Pssssssst!" Luffy menyuruh Lulu diam.
Sanji dan Kunou terbengong mendengarnya. Kunou sudah pusing dengan Zoro sekarang ada orang yang sama parahnya sedangkan Sanji menahan kemarahannya dengan mencoba menghidupkan rokoknya. Dia sudah lelah kejadian ini dan sekarang dia tidak perlu khawatir, karena ada dua orang tolol di depannya yang akan mengurus sisanya.
"Aku serahkan mereka kepada kalian," ucap Sanji sambil merokok santai. Padahal perutnya sedang terluka.
"Serahkan kepadaku!" seru Luffy bersemangat.
"Yaaa!" Lulu bersemangat juga.
"Kau duduk saja. Bisa-bisanya kau kalah hanya karena ada wanita di tim musuhmu," kata Zoro.
"Diamlah!" protes Sanji.
Zoro hanya terdiam. Bersama Luffy dan Lulu, mereka berjalan bersama ke depan.
Kunou melihat ada rubah raksasa. Kunou menyadari kalau ibunya yang menjadi rubah raksasa, sedang bertarung dengan seekor ular raksasa. Ibunya di lilit ular raksasa itu dengan cukup kuat, namun ibunya ternyata cukup tangguh melawan ular itu. Dua makhluk raksasa itu bertarung satu sama lain dan berisiko mengenai kerumunan masyarakat.
"Ibunda!" seru Kunou khawatir melihat ibunya. Dia akhirnya bisa bertemu dengan ibunya walaupun dengan situasi seperti ini. Dia sangat takut jika ibunya pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.
"Tenang saja tuan putri. Kedua orang tolol itu pasti bisa menyelamatkan semuanya. Mereka orang kuat walaupun penampilan mereka biasa saja ataupun sifat mereka yang bodoh itu. Percayalah." Sanji berkata untuk mencoba menenangkan Kunou.
Kunou terdiam mendengarnya. Gadis rubah itu bisa merasakan kepercayaan yang keluar dari kata-kata Sanji, entah kenapa tapi Kunou sekarang merasa memiliki harapan. Harapan kepada beberapa orang.
Zoro dan Luffy berjalan dengan santai sambil terlihat melakukan pemanasan. Mereka sudah begitu bersemangat untuk segera bertarung melawan kelompok Cao Cao. Sudah cukup lama mereka tidak bertarung dan mengasah kemampuan mereka di dunia ini.
Cao Cao tampak penasaran dengan kedua orang dewasa itu. Mereka tampak berjalan santai menuju ke arah mereka, dan ada sedikit aneh dengan kedua pria itu. Mereka sepertinya adalah manusia sama seperti dirinya dan anggotanya, dan inilah yang membuatnya tertarik. Pria yang satu cukup tinggi, berambut hijau, mata sebelah kirinya terluka, memiliki anting-anting dan dia memakai pakai kaos hijau dan jeans panjang. Yang satunya berambut hitam, memakai topi jerami, ada bekas luka di bawah mata kanannya dan dia memakai kaos polos merah dan jeans pendek.
"Ohhh~ sepertinya mereka orang yang menarik," ucap Cao Cao tertarik.
Luffy dan Zoro ada beberapa puluh meter di depan Cao Cao dan anak buahnya, ada Lulu juga di sebelah Luffy.
"Jadi kalian bantuan yang sudah datang?" tanya Cao Cao sambil tersenyum.
"Ya, sekarang kau akan bertarung dengan kami." Luffy bersemangat.
"Apakah kalian sanggup melawan kami berempat?" tanya Cao Cao dengan sombong.
"Tenang saja. Kalian tidak perlu khawatir, kami tidak akan mengecewakan kalian," jawab Zoro.
"Baiklah, aku berharap kepada kalian." Cao Cao memposisikan tubuhnya dengan mode bertarung, di ikuti oleh para anak buahnya.
"Lulu apakah kau bisa melawan orang besar itu dan wanita pirang itu?" tanya Luffy kepada putrinya.
"Ya, aku tidak terlalu yakin tapi aku pikir aku bisa melawan mereka beberapa saat, setelah itu mungkin aku kehabisan sihir, papa," jawab Lulu.
"Tidak masalah." Luffy mengerti.
"Biar aku yang melawan pendekar pedang mereka." Zoro tersenyum sadis dari tadi menatap Siegfried.
"Dan aku akan melawan orang bernama Cao Cao itu," kata Luffy menatap Cao Cao.
Beberapa detik berlalu, dua kubu terdiam sementara seperti sedang memikirkan sesuatu seperti strategi. Situasi ini benar-benar begitu tegang saat dua kelompok itu melihat satu sama lain musuh mereka.
Hingga tiba-tiba mereka semua maju ke depan dengan begitu cepat, dan menyerang musuh mereka. Luffy memukul Cao Cao namun di tangkis dengan tombaknya, Pedang Zoro dan Siegfried bentrok satu sama lain, dan Lulu menahan serangan Jeanne dan Heracle dengan sihir pelindung.
"Oh... aku tidak tahu kita memiliki pemikiran sama, aku memang ingin melawanmu," ucap Cao Cao yang terlihat senang.
"Ya.. aku juga," ucap Luffy.
Cao Cao memutar tombaknya dan mencoba menusuk dada Luffy, tapi sang kapten menghindari serangan itu dan mencoba membalas dengan pukulannya namun Cao Cao menghempas pukulan Luffy itu dengan tombaknya. Cao Cao melompat ke atas Luffy dan menusuknya dari atas, sang kapten menyilangkan kedua tangannya untuk menangkis. Cao Cao hanya tersenyum kalau serangannya hanya di tangkis dengan tangan kosong, berpikir kalau tangan si bocah topi jerami itu yang akan terluka, namun tombaknya mengenai benda hitam yang tiba-tiba saja muncul di tangan lawannya.
Ctang!
Terdengar suara benturan benda keras, yaitu berasal dari tombak Cao Cao dan [Armament Haki] milik Luffy. Sang pemimpin faksi pahlawan kaget melihat tombaknya tidak bisa menebus tangan Luffy.
"Apa itu?" batin Cao Cao heran melihat kedua lengan Luffy menjadi hitam.
"Sekarang giliranku." Luffy langsung menerjang ke depan mulai menyerang Cao Cao. "Gomu-gomu no pistol!" lengan Luffy lalu meregang ke depan dengan cepat.
Cao Cao yang selalu berwajah santai langsung panik melihat lengan lawannya yang tiba-tiba saja memanjang, dan menuju ke arahnya. Dia masih bisa menahan pukulan Luffy walaupun mundur beberapa centimeter ke belakang. Belum selesai dari kagetnya, tiba-tiba muncul lagi serangan yaitu kaki Luffy yang tiba-tiba memanjang dan mencoba menendangnya dari samping. Cao Cao lompat ke atas menghindari tendangan itu.
Sang kapten tidak diam, dia juga lompat ke atas dengan pukulan yang sudah di aliri oleh [Armament Haki] miliknya. Luffy memukul Cao Cao tapi tetap saja dia masih bisa menangkis pukulan Luffy walaupun ada sedikit getaran di tombaknya, karena pukulan Luffy sekuat baja itu. Cao Cao langsung mengangkat tombaknya dan bersiap menebas kepala sang kapten tapi dia menghindar walaupun masih ada di udara.
"Gomu-gomu no bazoka!" Luffy juga mencoba memukul Cao Cao saat di udara.
Cao Cao memiringkan kepalanya ke samping, saat mengetahui serangan itu ingin mengenai kepalanya. Entah kenapa serangan Luffy selalu tertuju ke bagian vital musuh saat ini. Cao Cao mendarat ke tanah dengan aman, begitu juga dengan Luffy. Ada perasaan aneh yang di rasakan Cao Cao saat melihat serangan Luffy tadi.
"Hmmm Sacred Gear mu bisa memanjangkan lengan. Itu sangat menarik sekali, karena baru kali ini aku melihat Sacred Gear mempengaruhi fisik pemakai secara aneh sepertimu," ucap Cao Cao merasa tertarik.
"Aku memakan buah iblis, bukan pengguna Sacred Gear," kata Luffy mencoba memperjelas.
"Buah iblis? Oh menarik-menarik, aku sudah pernah melihat kekuatan aneh sepertimu dan aku sepertinya sudah tahu jawabannya." Cao Cao memposisikan gaya bertarungnya. Ujung tombaknya tempat di depan wajah Luffy.
Dengan tiba-tiba Cao Cao menerjang ke arah Luffy dengan secepat kilat, hingga tombaknya tinggal beberapa centimeter lagi mengenai wajah Luffy, tapi untungnya masih bisa di hindari tapi mengenai pipi Luffy. Dan sang kapten terlihat masih syok dengan serangan itu, yang berhasil mengenai wajahnya dan untungnya pipi nya tadi di aliri [Armament Haki] sehingga tidak terluka. Sebuah tusukan tombak lagi datang menuju ke arah, bahkan menjadi beribu tusukan menyerang Luffy. Semua tusukan tombak itu ada yang ditepis Luffy dan ada yang mengenai dadanya namun di lindungi [Armament Haki] sehingga tidak bisa melukainya.
Pertarungan Luffy dan Cao Cao tampak imbang walaupun disisi lain Cao Cao tampak kesulitan menangkis semua serangan Luffy. Pemuda itu tempak seperti menahan beban yang berat saat menahan pukulan Luffy, yang terkadang dia harus mundur ke belakang karena dorongan pukulan itu. Sebaliknya saat dia menyerang, semua serangannya begitu mudah di hindari dan walaupun dia berhasil mengenai sang kapten, serangannya tidak membuatnya terluka.
"Sial, orang ini memiliki gaya bertarung yang seimbang. Bisa menghindari seranganku dan serangan miliknya kuat sekali. Ini malah menjadi masalah bagiku," batin Cao Cao tampak kesal.
"Gomu-gomu no gatling gun!"
Serbuan pukulan beruntun tiba-tiba langsung menyerang Cao Cao. Semua pukulan sang kapten di tangkis dengan tombaknya, namun masih ada yang tidak tertangkis tapi bisa di hindari oleh Cao Cao. Semua pukulan itu membuat pemuda tampan itu merasakan kebas di tangannya, tombaknya tidak berhenti bergetar hingga membust tangan si pemilik harus bergetar hingga ke tulang.
"Gomu-gomu no riffle!"
Cao Cao melihat tangan lawannya memutar dengan elastis dan memukulnya. Pukulan itu terlalu kuat untuk Cao Cao hingga dia terpental cukup jauh ke belakang. Dia menarik nafas karena kelelahan setelah dari tadi menangkis serangan aneh dari lawannya.
Luffy sisi lain juga kagum. Baru kali ini dia bertemu seseorang yang bisa melukainya tanpa buah iblis maupun Haki, bahkan dia sendiri harus menggunakan [Armament Haki] untuk menyerangnya dan itu juga masih belum cukup.
"Kau ternyata kuat juga ya." Luffy memuji lawannya.
"Aku juga mau bilang seperti itu kepadamu. Baru kali ini aku melihat iblis menggunakan kekuatan seperti itu," kata Cao Cao yang sedikit penasaran.
"Iblis? Bukan. Aku manusia," jawab Luffy.
Mata Cao Cao terbuka sedikit lebar, mendengar perkataan yang tidak dia duga. Ternyata lawannya adalah manusia selama ini, cukup terkejut ada manusia yang bisa melawannya. Yang membuat aneh adalah orang di depannya menggunakan kekuatan asing yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.
"Oh sekarang ini semakin menarik." Cao Cao malah terlihat bersemangat.
Di sisi lain ada Zoro yang bertarung dengan Siegfried. Tidak perlu lagi di jelaskan dengan pertarungan mereka, yang pasti Siegfried merasa terponjok sekali melawan si rambut lumut. Setiap pedang mereka bentrok, si pemegang pedang iblis kaget kalau pria yang dia lawan bukanlah manusia biasa, terlihat gaya bertarungnya lebih bringas dari dirinya. Walaupun tangan naga di punggungnya terlihat keras dan kuat, masih bisa di imbangi oleh tangan milik Zoro.
Zoro menggunakan tiga pedangnya, menunjukkan dia serius sekarang. Kecepatan tebasannya di atas rata-rata manusia hingga membuat Siegfried harus menggunakan keenam tangannya untuk mengimbangi kecepatan tebasan Zoro. Namun tetap saja ada tebasan yang hampir mengenai Siegfried hingga harus menghentikan bentrokan mereka.
"Katana macam apa itu? Jelas-jelas itu bukan katana biasa dengan warna hitam seperti itu. Bahkan tidak ada bekas lecet akibat bentrok tadi." Siegfried berguman pelan.
Sebuah tebasan angin tiba-tiba saja menuju ke arah Siegfried. Dia pun menghindari serangan itu dan tebasan itu memotong habis pepohonan di belakangnya. Sungguh Siegfried seperti akan terpotong-potong jika terkena serangan itu.
"Wah wah ada apa? Bukankah kau ingin melawanku? Sekarang kenapa kau malah terlihat ketakutan?" Zoro bertanya dengan senyuman sadis di bibirnya.
Siegfried terpancing dan kemudian langsung menyerang Zoro. Mereka kembali menebas satu sama lain lagi dengan kecepatan di atas logika manusia. Mereka tapi merasa ragu lagi untuk meluncurkan serangan, Siegfried terkena dia bagian bahunya dan Zoro terlihat kena di bagian dadanya, namun untungnya di lindungi dengan Haki.
Pertarungan mereka masih berlanjut satu sama lain.
Lulu terlihat kelelahan setelah bertarung selama dua menit lebih. Ini rekor luar biasa baginya sebagai anak-anak dan melawan dua orang sekaligus. Walaupun lawannya tidak terlihat terluka parah, dan masih bisa bertarung. Ini bukan situasi yang bagus untuk Lulu.
Sebuah serangan pedang datang menuju ke arah Lulu, membuatnya harus menggunakan sihir pelindung. Di sisinya lagi ada sebuah roket mendekatinya namun Lulu membelah roket itu dengan sihirnya yang di buat seperti pedang.
Lulu menembakkan beberapa sihir ke arah mereka berdua tapi terlihat mereka menghindarinya dengan mudah. Lulu terus mengeluarkan lima lingkaran sihir dan mengeluarkan begitu banya tipe sihir seperti air, api, petir ataupun angin yang begitu besar sabetannnya.
Jeanne dan Heracle kesulitan menghindari semua serangan itu, karena begitu banyaknya dan memiliki tipe-tipe tertentu. Api tipe membakar dan mudah menyebar, petir juga memiliki area penyebaran yang luas jika bercampur dengan air. Semua serangan itu menuju ke arah Jeanne dan Heracle tanpa henti, namun sihir Lulu bukan berarti tidak bisa habis.
Pertarungan mereka berlanjut.
Issei yang di belakang mereka terlihat masih tertunduk dan terluka cukup parah. Di dalam dirinya ada emosi yang terbaca, yaitu kemarahan. Dia dari tadi mencoba untuk berdiri dan kembali untuk bertarung.
"Ayo! Kau harus bangkit tubuhku!" seru Issei kesal.
"Partner, kau sudah cukup terluka parah. Biarkan mereka yang mengurus sisanya." Ddraig berkata mencoba menenangkan Issei.
"Bagaimana aku bisa diam. Luffy-san dan yang lainnya sekarang sedang berusaha keras, jadi aku harus membantu mereka."
"Kau benar-benar keras kepala, tapi baiklah. Berusahalah semampumu aku akan membantumu!"
Energi di sekitar Issei semakin terasa, dengan energi merah itu terlihat area di sekitarnya goyang. Tiba-tiba armornya terlihat berubah dengan aura di sekitarnya, ini membuat seluruh orang di sekitar situ menjadi memerhatikan Issei.
"Apa ini? Tubuhku tiba-tiba saja berubah dengan aura ini." Issei bertanya-tanya penasaran.
"Itu adalah energi kita bersama partner. Sepertinya energi yang lama telah kembali. Dan hanya satu hal kenapa kau bisa mengaktifkannya, dan itu adalah. "
"Semangatku dan oppai!" Issei berkata dan lalu terlihat armornya berubah lebih kecil.
"Welsh Sonic Boost Knight!" terdengar suara mekanik dari gauntlet milik Issei.
Luffy dan Cao Cao sudah bertarung selama berpuluh-puluh menit dan mereka terlihat kelelahan satu sama lain. Luffy bernafas dengat berat melihat Cao Cao yang juga bernafas berat sama sepertinya. Tapi kali ini pemimpin faksi pahlawan itu tersenyum senang entah kenapa melihat Luffy.
"Hebat, kau sangat hebat. Kecepatan, instingmu dan kekuatanmu di atas diriku. Bahkan tanganku tidak kuat lagi untuk menahan pukulanmu," kata Cao Cao dengan tersenyum senang. Tangan Cao Cao terlihat gemetar setelah menahan pukulan Luffy di atas-atas rata itu.
"Ya, kau juga. Kau masih bisa melukaiku walaupun aku bertarung melawanmu memakai [Armament Haki] dan [Observasi Haki] milikku, bahkan buah iblisku juga." Luffy ikut mengakui Cao Cao.
Cao Cao masih tersenyum dan berkata, "Kau layak melawan [Balance Breaker] milikku!" Cao Cao terlihat senang.
Luffy terlihat heran mendengar perkataan Cao Cao itu. Tapi dia tahu arti dari maksud kata [Balance Breaker], ya itu adalah tingkat pengguna Sacred Gear menjadi lebih kuat.
Di sisi lain Siegfried terhempas oleh angin yang begitu kuat, bahkan sangat besar. Pembuatnya yang tidak lain adalah Zoro yang memakai teknik Tatsumaki miliknya. Ini memang pertarungan yang tidak adil.
"Baiklah, saatnya mengakhiri ini," kata Zoro yang terlihat kali ini berposisi untuk menyerang lagi.
"Minggir! Luffy-san! Zoro-san!"
Sebuah teriakan tiba-tiba saja terdengar. Semua orang melihat ke arah suara itu, terutama Luffy dan Zoro yang mengenal pemilik suara itu.
Terlihat Issei terbang cepat menuju ke arah Cao Cao dengan cepat, sehingga membuat pemimpin faksi pahlawan itu kaget melihatnya. Armor milik Issei terlihat berbeda kali ini, dia terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Dia jadi lebih cepat dari sebelumnya membuat kedua belah pihak yang bertarung tadi malah melihat ke arahnya dengan penasaran.
Luffy yang melihat Issei menuju ke arahnya langsung menghindar ke samping sehingga Issei melewatinya dan mulai menyerang Cao Cao. Sang pemimpin faksi pahlawan itu sadar dari kagetnya dan menangkis serudukan dari Issei, namun dia harus terpental karena begitu kuatnya kekuatan Issei karena kecepatannya. Mereka berdua terbang ke atas langit dengan Cao Cao yang tampak kesulitan menahan Issei dan mereka pun menabrak batu di belakangnya.
''Sial!'' Cao Cao memuntahkan sedikit darah dari mulutnya.
Issei terbang mundur dan terlihat armornya berubah lagi seperti yang tadi, yang kali ini terlihat lebih besar dan penuh dengan berat.
''Welsh Dragonic Rook!'' suara mekanik terdengar lagi dari gauntlet milik Issei.
Sekarang armornya menjadi lebih tebal. Dengan secepat kilat Issei kembali menyerang Cao Cao yang sudah kelelahan dan terluka dengan cukup parah di sekujur tubuhnya. Cao Cao bersiap-siap dengan menggunakan tombaknya untuk menahan serangan Issei yang kali ini namun dia malah kembali terdorong oleh serudukan Issei. Dia tergesek di bebatuan membuatnya harus menahan rasa sakit di punggungnya.
''Solid impact!'' Issei menggunakan sikunya untuk menyerang Cao Cao lagi. energi di sikutnya terlihat semakin besar dan menyerang dada Cao Cao.
Cao Cao terpaksa memuntahkan darah lebih banyak dari sebelumnya dan terjatuh ke darah. Seluruh teman-temannya langsung menghampirinya untuk melindunginya dari serangan Issei yang lagi.
Issei mendarat ke tanah dan menghadap ke para kelompok pahlawan yang masih kaget dengan apa yang terjadi.
''Welsh Blaster Bishop!'' kali ini terlihat Issei memiliki energi yang begitu banyak di armornya. Kemudian muncul dua meriam di punggungnya dan mengarah ke arah Cao Cao dan para teman-temannya. Kedua meriam itu terlihat sedang mengisi energi sihir yang begitu banyak seperti akan menembakkan sesuatu yang begitu kuat. ''Dragon Blaster!'' seru Issei.
Sebuah tembakan energi muncul yang memiliki ukuran yang sangat besar. Energi itu begitu besar hingga bisa membinasakan apa saja di depannya. Untungnya kelompok pahlawan bisa menghindar bersama Cao Cao juga, tapi tembakan itu mengenai dimensi buatan ini hingga tembus.
''Apa?!'' seru Heracle kaget melihatnya.
Begitu juga Cao Cao dan teman-temannya lain nya, terutama Georg yang kaget karena dimensi buatannya tertembus hanya satu tembakan saja.
Yang kaget tidak hanya mereka saja namun terlihat kelompok topi jerami, Kunou dan Lulu. Luffy yang paling kegirangan melihat perubahan armor milik Issei yang terlihat begitu keren sekali baginya, Zoro hanya terdiam santai merasa terganggu karena pertarungannnya di ganggu oleh Issei tadi, Lulu dan Kunou terkejut dengan wajah mereka masing-masing. Ini sebuah hal yang begitu mengagetkan melihat Issei yang tadinya tidak berdaya sekarang bisa menghajar Cao Cao dan yang lainnya.
''Hebat!'' seru Luffy dengan matanya yang bercahaya terang.
''Cih menyebalkan, dia mengambil mangsaku,'' kesal Zoro.
Issei di sisi lain terlihat kelelahan setelah menggunakan ketiga perubahan tadi. Ternyata itu membuatnya menggunakan energi sihir yang begitu banyak, hingga akhirnya dia tidak bisa menggunakan perubahan itu lagi.
''Sial, aku kehabisan sihir.'' Issei terlihat kesal.
Cao Cao menarik panjang nafasnya mencoba untuk tenang setelah apa yang terjadi. Tubuhnya di penuhi oleh luka yang dibuat oleh Luffy dan juga Issei, dia sepertinya sudah mencapai batasnya, tetapi terlihat dia masih bisa tersenyum melihat ke arah Issei. Dia benar-benar pria yang keras kepala.
''Jadi begitu, aku mengerti. Itu tadi adalah gerakan yang tidak terduga rupanya, Illegal Move Triaina,'' ucap Cao Cao sambil melihat ke arah Issei.
''Illegal Move Traina? Itu nama yang bagus, aku akan menamai jurusku dengan itu,'' kata Issei tampak senang.
''Tapi sepertinya energimu sudah habis bukan? Jadi sekarang kau malah kembali menjadi lemah.'' Cao Cao tersenyum lebih lebar lagi setelah mengatakan perkataan itu.
Issei terdiam kesal, sebab perkataan Cao Cao tadi benar. Dia sudah kehabisan energi sihir untuk menggunakan lagi serangannya dan bahkan dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Tidak ada lagi yang bisa Issei lakukan sekarang.
''Kalau begitu sekarang hanya ada kedua orang itu tersisa, bahkan gadis kecil yang melawan Heracle dan Jeanne tampak sudah kehabisan juga sihirnya.'' Cao Cao melihat ke arah Lulu yang terduduk sambil menarik nafas karena kelelahan, matanya terlihat ingin tertidur pulas saat ini juga.
''Dan lagi terlihat kalau sang ratu bisa mengalahkan si Vritra.'' Cao Cao menatap ke arah Yasaka yang masih melawah Saji. Memang bisa di lihat kalau Saji sedang terpojok di sini.
Apakah karena level mereka berbeda? Atau Saji sudah kelelahan? Yang pasti Saji terlihat terpojok melawan Yasaka.
Luffy dan Zoro kembali ke mode bertarung mereka walaupun terlihat juga sudah kelelahan. Namun tampak Zoro tersenyum senang kalau pertarungannya akan di lanjutkan, ada rasa tidak puas dengan pertarungan tadi dan kali ini dia pasti akan melawan dua orang sekaligus. Luffy sudah cukup lama bertarung dengan Cao Cao dan tahu kalau pria itu cukup kuat melawannya, ini membuat Luffy berpikir kalau pertarungan selanjutknya akan menjadi lebih berbeda dari sebelumnya, dimana Cao Cao akan menggunakan [Balance Breaker] miliknya.
Luka-luka Cao Cao mulai sembuh dan mulai ingin bertarung kembali. Dia bersiap-siap menggunakan tombaknya dan segera menusuk antara Luffy atau Zoro dengan kecepatan yang begitu cepat. Saat menggerakan satu kakinya ke depan tiba-tiba ada ada tongkat panjang menyerang para kelompok Pahlawan. Mereka semua menghindari serangan tongkat itu dan melihat siapa yang telah menyerang mereka.
Muncul seseorang pria yang sepertinya sudah cukup tua, dia pendek, berambut putih yang sepertinya uban, matanya tidak terlihat karena di tutupi oleh penutup mata berwarna hitam, memiliki janggut dan pipa rokok. Dia juga memegang sebuah tongkat yang di gunakan untuk menyerang para Faksi pahlawan tadi. Pakaiannya seperti pakaian biksu dan beberapa aksesoris biksu juga.
''Oh cukup kaget mengetahui kalau san Sun Wukong generasi datang ke tempat ini,'' kata Cao Cao melihat pria tua itu, yang ternyata adalah Sun Wukong generasi pertama yang di sebut-sebut Monkey King.
''Sepertinya aku tidak terlambat. Kau memang pembuat masalah ya, Cao Cao.'' Sun Wukong menatap Cao Cao dengan tatapan santai, tidak merasa takut sama sekali.
''Hey, kita berasal dari daerah yang sama. Jadi aku sudah tahu pasti kau mengetahuiku,'' kata Cao Cao. ''Sebenarnya apa yang kau lakukan di sini, wahai Sun Wukong pertama?'' tanya Cao Cao dengan wajah penasaran.
Sun Wukong merokok sebentar lalu membuat asap rokoknya ke atas langit. ''Aku hanya melakukan tugasku dan mengantar orang ini.''
Datang lagi satu orang di belakang Wukong. Pria itu membawa katana yang panjang, dia memakai topi putih bercorak hitam, memiliki janggut hitam tipis, memakai pakaian jaket hijau dan celana jeans panjang. Beberapa orang mengenal dirinya, terutama Luffy, Zoro dan Sanji yang tampak kaget melihat siapa orang itu. Kelompok Faksi Pahlawan juga terlihat kaget melihat pria itu datang.
''Torao!'' seru Luffy senang melihat pria itu.
Pria bernama Torao yang tidak lain adalah Law itu menatap si bocah topi jerami dan mantan pemburu bajak laut. Wajahnya menunjukkan rasa kaget juga melihat mereka berdua, dia juga bisa melihat si Vinsmoke Sanji dari kerajaan Germa di belakang mereka berdua, sedang bersama Kunou yang menjaganya. Terlihat juga Kunou sedang menggendong gadis kecil di punggungnya yang sedang tertidur pulas. Law mengetahui mereka semua sudah bertarung cukup lama.
Law lalu melihat ke arah Yasaka yang dalam mode rubahnya sedang bertarung dengan seekor ular raksasa berwarna hitam. Dia menghela nafasnya tidak menyangka kalau situasinya menjadi sekacau ini saat dirinya pergi.
''Wukong-ya, bisakah kau membantu ratu Yasaka,'' pinta Law.
''Hohoho~ itu tidak masalah.'' Wukong menggerakkan tongkatnya dan kemudian muncul sebuah aura berwarna hijau menuju ke atas langit, aura itu begitu besar hingga bisa menutupi langit Kyoto.
Muncul makhluk seperti naga cina di atas langit, dia berwarna hijau terang dan begitu panjang. Aura hijaunya menunjukkan kesan karismatik kepada siapa pun yang melihatnya.
''Yu-Long, bisakah kau membantu Vritra,'' perintah Wukong kepada temannya itu.
''Vritra? Oh jadi benar dia telah menjadi Sacred Gear. Baiklah, tapi sebagai imbalannya aku mau kuliner dari Kyoto.'' Yu-Long langsung terbang menuju ke arah Yasakan dan juga Saji atau Vritra.
Wukong melihat ke arah Cao Cao beserta para teman-temannya.
''Oh ternyata muncul juga si Penjaga Kyoto, aku bertanya-tanya kemana saja kau belakangan ini?'' Cao Cao bertanya ke arah Law.
Law hanya santai menatap Cao Cao. ''Hanya melakukan tugas yang harus di lakukan,'' kata Law langsung to the point.
''Oh begitu. Ini akan menjadi sangat sulit mengetahui ada dua lagi bantuan yang datang.'' Cao Cao masih tampak santai berbicara di situasi seperti ini.
Siegfried tanpa banyak bicara lalu mencoba menyerang Wukong dengan pedang iblisnya, namun Wukong dengan sigap menggunakan tongkatnya mendorong Siegried hingga kembali ke arah Cao Cao, dan langsung menabrak tanah dengan kuat. Pendekar pedang itu langsung tak bisa bangun lagi setelah menerima luka cukup parah oleh Zoro saat pertarungan mereka.
Wukong lalu menaruh tongkatnya ke tanah dan dengan tiba-tiba kabut yang menyelimuti tempat itu langsung menghilang dengan begitu mudahnya.
Cao Cao menggunakan tombaknya dan mencoba menusuk Wukong dari jarak jauh, tombak Cao Cao memanjang namun di tangkis oleh Wukong dengan jari telunjuk miliknya. Cao Cao tentu kaget melihatnya namun dia langsung kembali ke wajah biasanya.
''Jadi begitu, sekarang kita dalam situasi yang buruk saat ini. Atau bisa di bilang kita tidak akan bisa menang jika pertarungan ini di lanjutkan.'' Cao Cao menjentikkan jarinya dan Georg langsung ada di sebelah Cao Cao. ''Kita mundur,'' kata Cao Cao.
Georg mengangguk dan mulai menciptakan sihir teleport agar mereka semua bisa pergi dari tempat itu. Bagi Georg hanya butuh beberapa detik untuk menciptakan sihir teleport.
''Tidak aku biarkan!'' Issei yang dari tadi terdiam lalu menembakkan energi sihir ke arah Cao Cao.
Karena kelengahan Cao Cao, dia harus menerima mata kanannya terkena dan terluka. Darah muncrat dari mata kanan milik Cao Cao dan dia terlihat kesakitan. Seluruh anggotanya melindunginya dengan sigap setelah kaget pemimpin mereka di serang dengan tiba-tiba.
''Sialan kau kaisar naga merah!'' Cao Cao menatap Issei dengan kemarahan. Dia lalu memegang tombaknya dengan kedua tangannya. Dia lalu sedang mengucapkan sesuatu namun langsung di tahan oleh Georg.
''Tidak, ini belum saatnya. Kau harus menahan amarahmu Cao Cao, kita harus pergi dari sini,'' kata Georg.
Cao Cao menarik nafas mulai tenang kembali. Dia kali ini tampak lepas kendali saat kehilangan matanya. Tatapannya menuju ke arah Issei dan kedua bajak laut di sampingnya.
''Suatu hari nanti aku akan kembali,'' kata Cao Cao.
Para kelompok Pahlawan itu lalu menghilang secara perlahan dengan sihir teleport yang di ciptakan oleh Georg. Mereka pun menghilang tanpa meninggalkan jejak apa pun setelah sihir teleport itu menghilang.
Yasaka tampak terjatuh dengan tubuh rubah raksasanya, dia terlihat tidak sadarkan diri setelah Yu-Long membantu Saji untuk melawan dirinya. Saji juga tampak kembali ke tubuh normalnya dengan rasa kelelahan setelah bertarung hingga satu jam lebih dari tadi.
Zoro menyarungkan ketiga pedang miliknya. Ada rasa kesal di wajahnya merasa tidak puas dengan pertarungannya dengan Siegfried. Dia ingin lebih merasakan pertarungan yang bisa membuat dirinya menggunakan semua tekniknya namun ternyata pertarungan tadi membuatnya sedikit kecewa.
''Sial,'' ucap Zoro kesal.
''Fiuh, akhirnya pertarungan ini selesai juga,'' kata Luffy terlihat menarik nafas panjang.
Para peerage Gremory lain terlihat mulai sadar satu persatu, saat di obati oleh Asia. Mereka terkejut mengetahui kalau mereka masih selamat saat melawan Cao Cao beserta teman-temannya. Terlihat yang paling para adalah Kiba yang tangan kanannya sudah putus namun untungnya masih bisa di sambung lagi.
Law dan Wukong menghampir mereka semua, Law langsung membantu Asia untuk mengobati mereka semua.
''Ibunda!'' Kunou menuju ke arah ibunya.
Wajahnya terlihat khawatir melihat keadaan ibunya yang terlihat cukup parah karena pertarungan tadi. Matanya mulai mengeluarkan air mata tak sanggup melihat ibunya tergeletak tidak berdaya di tanah.
''Ibunda! Apakah kau tidak apa-apa?! Kumohon bertahanlah!'' Kunou menangis dan memeluk ibunya itu, walaupun pelukannya begitu kecil bagi ibunya yang berukuran rubah raksasa itu.
Kelompok topi jerami, Gremory dan Sun Wukong tampak terdiam menyaksikan kejadian menyedihkan ini. Seorang gadis kecil yang menangis terisak-isak melihat ibunya yang tak berdaya di depannya, gadis itu terus menangis dan berharap kalau ada keajaiban datang dan membuat ibunya baik-baik saja. Tapi Kunou hanyalah gadis kecil yang masih memerlukan pangkuan ibunya untuk berdiri, dia membutuhkan ibunya untuk menjadi wanita hebat di masa depan nanti dan bahagia selama-lamanya. Itu hanya harapan Kunou untuk sekarang.
Sun Wukong menghampiri Issei di sampingnya.
''Wahai Kaisar naga merah, bisakah kau memberikan sedikit energimu kepada nona Yasaka,'' pinta Wukong.
''Hah? Oh aku bisa,'' walaupun bingung namun Issei menuruti permintaan Wukong itu.
Gauntlet Issei bercahaya dan sebuah energi muncul dari gauntletnya. Energi itu langsung menuju ke arah Yasaka dan terlihat masuk ke dalam tubuhnya, secara tiba-tiba tubuh rubah Yasaka menjadi bercahaya dan ukurannya semakin mengecil. Tubuhnya yang berubah menjadi rubah raksasa tadi menjadi kecil dan mulai membentuk tubuh humanoid, menunjukkan Yasaka berubah menjadi tubuh normalnya.
Yasaka memeluk balik Kunou dengan senyuman hangat melihat putrinya itu ternyata masih menyayanginya. Dia sudah tahu kalau Kunou adalah anak perempuan yang nakal, suka membuat masalah dan keras kepala. Tetapi dia tetap saja memiliki rasa sayang kepada ibunya.
''Tenang saja Kunou, ibu akan selalu berada di sampingmu,'' kata Yasaka dengan lembut.
Kunou tambah menangis, menangis bukan karena sedih melainkan bahagia melihat ibunya terlihat baik-baik saja.
Suasana hangat antara ibu dan putri perempuannya berhasil memasuki hati orang-orang yang melihatnya. Semua orang akan tersenyum melihat kejadian ini di depan mereka...
''Hey Torao! Kemana saja kau? Kenapa kau tiba-tiba saja menghilang?'' Luffy memukul punggung Law dengan wajah cemberut.
Law hanya membalas tatapan cemberut Luffy dengan tatapan datar. Cukup kaget dia akan menemui dua Supernova saat ini selain dirinya, dan ini memberikan rasa positif kepada Law mengetahui kalau dia tidak sendirian berada di dunia ini.
''Aku hanya mencoba bertahan di dunia ini, sambil berpikir untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi,'' jawab Law dengan wajah sebal.
''Ha? Kau yakin tidak tersesat di tempat ini?'' tanya Zoro.
''Jangan mulai!'' seru Law marah menatap Zoro.
''Hahaha yang pasti kita berempat bisa bertemu kembali.'' Sanji ada di samping mereka sambil memegang perutnya yang terluka.
''Hey Sanji, kau tidak perlu memaksakan diri.'' Luffy tampak khawatir melihat Sanji.
''Hey hey hey, ini semua gara-gara kalian berdua! Jika saja kalian tidak melakukan hal bodoh dulu, maka kalian bisa datang lebih cepat!'' Sanji menatap Luffy dan Zoro.
Kedua orang yang di teriak tadi hanya terdiam seperti orang bodoh menatap Sanji.
Sun Wukong menghampiri keempat orang itu.
''Haha akhirnya kalian bertemu. Ngomong-ngomong aku ingin berbicara dengan kalian nanti.'' Sun Wukong berkata sambil tersenyum melihat mereka.
''Wah dia kakek kuat! Dia menangkis tombak Co Co dengan satu jari!'' Luffy melihat Sun Wukong.
''Pria tadi bernama Cao Cao.'' Zoro menatap bengong kaptennya.
Mereka berlima berbicara satu sama lain atau bertingkah kocak seperti di dunia mereka sebelumnya. Di dekat mereka ada Lulu yang tampak tertidur dengan pulas, terlihat ada gelembung ingus di hidungnya, dia juga mengeluarkan suara dengkuran.
Sekali lagi situasi kembali normal.
-Bersambung
Pertama-tama aku minta maaf karena begitu lama up.
Yup. Ini chapter panjang untuk sebuah pertarungan, dan aku minta maaf jika pertarungannya tidak terlalu seru.
Akhirnya Law kembali ke Kyoto setelah melakukan tugasnya dan dia pun bertemu dengan trio monster walaupun pertemuan mereka begitu simpel. Untuk chapter depan aku berpikir Law akan ikut ke Kouh saat Kunou bersekolah di Kouh Akademi, tapi itu masih kemungkinan.
Aku juga sudah merevisi chapter 1 sampai 5, well itu juga yang membuatku cukup lama update.
Saatnya membalas Review.
Guest: Thanks.
Genesis 0417: Hmmm mungkin saja hehehe.
Austintristan16: Hmmm mereka mungkin akan ikut jalan-jalan setelah itu arc berikutnya akan di mulai. Kalau soal hubungan mereka, ini cukup rumit mereka memiliki anak namun belum resmi menikah.
Nameilham k: Maaf-maaf, mengalami terus writer block hehehe...
Darkness4 ess15: Sudah nih.
Bebas87: Sudah nih hehehehe.
IK: Oke!
nelaA q: Yup aku setuju dengan perkataanmu. Sangat sulit jika semua char masuk ke dalam sebuah cerita seperti DxD yang charnya juga banyak. Untuk Kaido dan Big mom pasti akan menjadi masalah jika mereka datang ke dunia ini juga atau mungkin sudah ada? Kita tunggu saja!
Gamelover41592: Gracias Espero que la traducción de google te haga entender :)
Dan satu lagi!
Akan ada atau kru dan bajak laut lain akan di tampilkan di chapter berikutnya. Siapakah mereka?
Sampai jumpa di bab berikutnya.
Salam author.
