Battle Scars

Rated : M

Genre : School, Drama, Action, Slice of Life, Martial Art

Disclaimer

Naruto : Masashi Kishimoto

HighSchoolDxD : Ichie Ishibumi

Warning : Typo bertebaran

.

.

Beberapa bulan yang lalu.

.

Terlihat kondisi sebuah kelas tampak gaduh dan tidak kondusif, tampak para murid sepertinya tak ada niatan atau belum siap untuk belajar itu terbukti dari masih ada yang menikmati makanan, mendengarkan musik, bermain games atapun bergosip ia. Hal itu bisa terjadi adalah karena sang guru yang harusnya sekarang sudah ada di kelas belum datang padahal bel masuk sudah berbunyi dari dua puluh menit yang lalu.

Namun ditengah suasana gaduh tersebut tiba-tiba pintu terbuka dan menampilkan seorang guru berjenis kelamin laki-laki memiliki perawakan tinggi dan berambut silver melawan gravitasi namun hal yang membuat guru tersebut kian nyentrik adalah selalu mengenakan masker baik saat mengajar ataupun tidak.

Begitu sang guru melangkahkan kakinya memasuki ruangan kelas suasana yang tadinya berisik dan gaduh mendadak senyap.

Mata sang guru silver mengamati seluruh penjuru kelas, setelah melihat semua muridnya ada di kelas ia akhirnya berbicara untuk menyapa para muridnya "selamat pagi dan selamat datang di tahun ajaran baru, sepertinya kalian semua kembali sekelas dan untuk satu tahun ke depan wali kelas kalian adalah diriku Hatake Kakashi, sebelum pelajaran dimulai aku ingin memperkenalkan seseorang pada kalian...". Guru bernama Kakashi itu melirik ke arah pintu dan tak lama masuklah seorang murid laki-laki berpakaian rapih, memiliki rambut berwarna blonde serta tak lupa sebuah kacamata bulat membingkai wajahnya.

"Perkenalkan namamu !" perintah sang guru.

Si murid pirang mengangkat wajahnya sehingga bisa melihat seluruh isi kelas dan begitu ia melihat ke salah satu bangku matanya langsung terpana kala melihat seorang murid perempuan yang memiliki rambut merah panjang, namun sang gadis perempuan sayangnya tidak melihat kearahnya karena ia tengah menatap keluar jendela.

.

.

"Ehem... Uzumaki-san, bukankah aku memintamu untuk memperkenalkan nama ?" Kakashi menegur si pirang yang seharusnya ia memperkenalkan diri namun malah melamun.

"A-ah iya, semuanya perkenalkan namaku Uzumaki Naruto umur 17 tahun, salam kenal semuanya semoga kita bisa lebih akrab kedepannya" si pirang membungkuk di depan kelas selama beberapa saat sebelum kembali berdiri dengan posisi seperti semula.

"Nah, jadi apa ada yang ingin kalian tanyakan padanya ?" ucap guru Kakashi setelah perkenalan dari sang murid baru.

Tampak sepertinya tak ada yang tertarik dengan si pirang hingga salah satu murid perempuan mengangkat tangannya.

"Apa yang ingin kau tanyakan Ayaka-san ?" tunjuk guru Kakashi pada murid perempuan di bangku baris kedua dari sebelah kiri.

"Apa kau murid pintar ?" Ayaka langsung bertanya to the point.

"Emmm entahlah, memangnya kenapa ?" Naruto menatap ke arah perempuan itu.

"Biasanya murid berpenampilan cupu dan kutu buku sepertimu itu murid yang pintar" kata-kata dari murid tersebut cukup pedas ditambah saat dia mengatakan cupu dan kutu buku tampak raut wajahnya seakan mengejek sehingga membuat beberapa murid lain harus menahan tawa.

"Semuanya diam... sudah kau bisa duduk di kursi yang kosong Uzumaki-san" Kakashi menenangkan kelas sekaligus menyuruh Naruto untuk duduk di kursi kosong yang dekat jendela di barisan paling belakang.

Naruto mengikuti perintah gurunya dan segera beranjak dari depan kelas untuk segera ke bangku miliknya.

Akhirnya kelas hari itu dimulai walaupun sedikit telat karena guru mereka yang tidak tepat waktu dan itu juga hari pertama Naruto bersekolah di Kuoh setelah kepindahannya ke sana.

Waktu berlalu hingga saatnya memasuki waktu istirahat dan karena Kuoh adalah bekas sekolah khusus perempuan yang berubah menjadi sekolah umum sekitar dua tahun lalu menjadikan di sekolah ini tak banyak murid laki-laki, adapun murid laki-laki di kelas Naruto hanya ada empat orang saja dan ditambah dengannya jadi lima orang sedangkan untuk perempuan ada dua puluh dua, jadi sangat jomplang sekali perbedaannya ditambah murid laki-laki yang sekelas dengan Naruto juga tak jauh berbeda penampilannya seperti si pirang yaitu seperti kutu buku.

Dengan penampilan Naruto yang terkesan cupu tersebut membuat dirinya bahkah hampir tidak dihiraukan oleh murid perempuan di kelas tersebut namun itu tidak membuat si pirang merasa terganggu atau apapun justru dia malah bersyukur karena itu artinya dia tidak perlu menghadapi orang-orang yang merepotkan, karena hal tersebut dia kini tampak berjalan mengelilingi sekolah sendirian hingga akhirnya tiba di kantin sekolah yang menurutnya cukup luas dan terlihat bahkan murid-murid sampai harus mengantri untuk membeli makanan dan lagi-lagi di dominasi oleh perempuan, sepengelihatan Naruto hanya segelintir murid laki-laki yang ada di sana.

Iapun akhirnya ikut mengantri demi bisa membeli makanan dan setelah dapat matanya menelusuri penjuru kantin demi melihat apakah ada tempat kosong supaya dia bisa duduk, matanya tertuju pada bangku yang sudah terisi tiga orang laki-laki dan karena bangku kantin setiap mejanya bisa diisi oleh empat orang yang berarti di sana masih ada satu tempat kosong membuat si pirang menghampiri mereka.

"A-ano... apa boleh aku duduk di sini ?" tanya Naruto dengan sopan pada ketiganya.

"Oh silahkan duduk saja" balas salah satu dari mereka yang berkepala botak.

Usai duduk Naruto berkenalan dengan mereka bertiga dan setelah berkenalan dia mengetahui namanya dimana si pria botak yang menerimanya tadi bernama Matsuda, lalu ada yang berkacamata dengan nama Motohama dan yang terakhir adalah Issei

Tak butuh waktu lama bagi mereka bisa cair dalam mengobrol hingga beberapa saat kemudian suasana kantin sedikit riuh ketika dua orang perempuan datang, dua orang tersebut memiliki paras yang cantik dan sukses membuat ketiga orang laki-laki di meja yang Naruto duduki langsung memandangnya dengan tatapan kagum dan errr sedikit mesum ralat bukan sedikit tapi sangat mesum terutama yang berambut coklat dan bergaya rambut layaknya captain Tsubasa.

"Kenapa semua murid di sini memandang mereka seperti itu ?" tanya Naruto sambil mencolek lengan Motohama.

"Seriusan kau bertanya seperti itu ?, memangnya kau tidak tahu ?" bukannya Motohama yang menjawab tapi malah Matsuda.

"Apa kau lupa ?, bukankah sudah kubilang tadi kalau aku adalah murid baru" Naruto menatap Matsuda jengkel.

"Ah iya juga, jadi begitu pirang... Mereka berdua adalah dewi di sekolah ini sekaligus wanita yang diimpi-impikan oleh semua kaum adam lihat saja bagaimana seksinya tubuh mereka" Matsuda langsung merangkul bahu si pirang.

"Lihat yang berambut hitam itu namanya Akeno Himejima, ia adalah putri dari miko kuil yang di pinggiran kota sementara ayahnya adalah wakil direktur perusahaan listrik di kota lalu yang berambut merah adalah Rias Gremory, dia putri pengusaha terkenal dan orang tuanya juga salah satu dewan sekolah sekaligu dia adalah adik dari Sirzechs Gremory sang walikota" jelas Motohama.

Naruto yang mendapat semua informasi tersebut hanya manggut-manggut namun matanya tak henti mengamati si perempuan berambut merah, memang sejak dia pertama kali melihat gadis tersebut dia seolah-olah mengingatkan si pirang akan seseorang. Si botak yang menyadari pandangan Naruto terus terpaku pada gadis yang baru saja datang ke kantin tersebut menyeringai misterius, "sepertinya kau menyukai salah satu dari mereka ya ?".

Mendengar obrolan kawan-kawannya Issei yang dari tadi memperhatikan dua gadis cantik tersebut akhirnya merasa sedikit tertarik dengan topik yang sedang di bahas, "dari sepengamatanku kau tertarik dengan Rias-sama kan ?" lanjut si botak.

Saat Naruto akan menjawab tiba-tiba Issei menggebrak meja, "hey kau !, aku peringatkan padamu jangan berani-berani mendekati Rias-sama karena dia adalah milikku" deklarasi Issei.

Motohama dan Matsuda yang mendengarnya hanya memutar mata bosan, "kau jangan gila dasar bodoh !, tidak mungkin Rias-sama akan mau dengan pria sepertimu pasti dia akan jatuh kepulanganku!" Matsuda menimpali dengan ngotot.

"Jangan bermimpi sialan, justru Rias-sama akan jatuh kepulanganku dan nanti saat kami pacaran dan menikah maka aku bisa setiap hari meremas dan menyedot payudaranya !" seru Issei dengan lantang tanpa mempedulikan rasa malu padahal mereka saat ini sedang berada di kantin yang banyak murid.

Sontak saja setelah mengatakan hal tersebut orang-orang yang mendengar deklarasi dari Issei langsung menatap kearahnya dengan pandangan jijik dan terkesan merendahkan, namun seakan tak peduli dia malah senyam senyum saja menanggapi pandangan rendah dari semua orang termasuk Naruto, sepertinya dia agak menyesali keputusannya untuk bergabung duduk dengan tiga murid bejat tersebut.

Tak mau ambil pusing Naruto segera menghabiskan makanannya supaya bisa segera pergi dari sana dan terhindar dari tatapan merendahkan murid-murid di kantin juga selain itu demi menghindari dirinya yang akan menjadi bahan pergunjingan di masa depan jika terus bersama ketiga makhluk laknat tersebut.

.

.

Usai menghabiskan makanannya Naruto segera izin untuk bisa pergi meninggalkan ketiga murid tersebut karena dia mulai tidak nyaman dengan pandangan orang pada mereka ditambah obrolan mereka bertiga yang sudah menjurus ke arah cabul namun bukannya malu mereka malah seakan bangga dengan topik mereka itu.

Naruto kembali ke kelas dan demi menghabiskan waktu ia membuka ponselnya untuk mencari aplikasi manga online.

Tak lama setelah itu bel berbunyi dan para murid sudah kembali dari masa istirahatnya untuk kembali melanjutkan pembelajaran.

.

Skip.

.

Kini Naruto terlihat seperti sedang terburu-buru itu terbukti dari dirinya yang menuruni anak tangga dengan cukup cepat, sebenarnya waktu pulang sekolah sudah dari beberapa saat yang lalu namun karena Naruto memiliki urusan terlebih dahulu di ruang guru membuat dia jadi tidak bisa langsung pergi dari sekolah dan karena dia sudah punya janji di tempat lain sehingga demi bisa tepat waktu maka ia mempercepat langkah kakinya bahkan hingga setengah berlari.

Begitu sudah di depan gerbang sekolah ia berbelok ke sebelah kiri dengan cepat hingga tak melihat ada seseorang yang berjalan dari arah tersebut hingga,

Bruuuk...

Naruto dan orang tersebut bertabrakan satu sama lain, karena mereka bertabrakanan cukup kencang karena Naruto yang setengah berlari tadi mengakibatkan kedunya sampai jatuh terduduk, si pirang yang merasa bersalah pun bangkit dan mencoba membantu orang yang dia tabrak.

"Apa kau baik-baik saja ?, tidak ada yang terluka ?" Naruto memastika keadaan orang tersebut yang ternyata adalah murid sekolah sama sepertinya dan dia juga mengetahui yang dia tabrak adalah murid perempuan.

"Yah aku tidak apa-apa, lain jalan pakai mata !" gadis itu membersihkan debu dari roknya dan setelah selesai menegakkan wajahnya ke arah orang yang menabraknya.

Begitu mereka bertatap wajah tampak Naruto langsung terpesona karena gadis yang sejak pagi dia amati kini berada tepat di depan matanya bahkan hidungnya juga bisa mencium aroma wangi parfum yang dikenakan gadis tersebut.

Berbeda dengan Naruto yang terkesima justru si gadis malah sibuk sendiri dengan meraba saku seragamnya seperti mencari sesuatu dan dia juga melihat-lihat ke arah jalan dimana ia barusan terjatuh, Naruto yang menyadari gerak gerik si gadis akhirnya bertanya "apa ada sesuatu yang hilang ?".

"Flashdisk ku tidak ada ?, apakah mungkin tadi terjatuh ?" si gadis terlihat panik mencari keberadaan flashdisknya bahkan dia sampai meraba-raba jalanan dan di bawah tanaman yang tumbuh di pinggiran jalan, Naruto yang merasa bertanggung jawab pun ikut mencari keberadaan flashdisk tersebut namun setelah beberapa saat mencari mereka berdua tidak kunjung menemukannya.

Si gadis yang bernama Rias itupun berbalik dan mendekati Naruto yang masih mencari, begitu tepat dibelakang si pirang dengan kasar Rias menarik kerah si pirang untuk membuatnya berdiri, setelah ia berdiri Rias langsung menggenggam bagian depan seragam Naruto lalu menariknya mendekat, "ini semua salahmu sialan, cepat cari flashdisk itu atau jika tidak ketemu aku akan membuatmu menderita !" ancam Rias dengan wajah penuh emosi.

Naruto yang nelihat ekspresi murka dari gadis merah itu hanya mengangguk ragu hingga akhirnya Rias melepaskannya, karena tak mau makin membuat gadis merah itu marah Naruto langsung kembali mencari.

Tak kunjung menemukan keberadaan benda tersebut kini si pirang cukup kesal juga pasalnya dia harus segera ke tempat tujuan tapi di sisi lain ia harus menemukan flashdisk milik si gadis merah lebih dulu, otaknya terus berpikir kira-kira benda tersebut jatuh di mana hingga satu kemungkinan terbesar tentang keberadaan benda tersebut adalah masuk ke dalam got yang terletak di pinggiran jalan apalagi ia tadi melihat lubang got tersebut berada cukup dekat dengan tempat jatuhnya Rias.

Naruto yang yakin akan hal tersebut kini mencoba berbicara dengan Rias, namun begitu melihat ke arah sang gadis merah nyalinya cukup menciut apalagi dengan pandangan mata tajam dan penuh amarah dari gadis tersebut padanya mau tidak mau Naruto harus menyampaikan hal tersebut pada Rias.

"Kenapa kau berhenti mencarinya sialan ?" belum sempat Naruto berbicara Rias langsung bertanya tajam padanya.

"Emmm mungkin ini terdengar buruk tapi kurasa flashdisk mu iyu jatuh ke dalam got" tunjuk Naruto ke lubang dekat lokasi jatuh Rias.

"Ah seperi itu... kalau begitu cari sana !".

"Hah !?".

"Kenapa ?, cepat cari di sana. Aku tidak peduli kau mau masuk ke dalam sana atau apapun tapi yang jelas aku ingin benda itu kembali !" tegas Rias yang membuat lutut Naruto seakan-akan lemas.

"Kalau tidak mau baiklah..." Rias akan beranjak dari sana namun Naruto tiba-tiba mencegat tangannya.

"Ok Ok... aku akan mencarinya" Naruto tak punya pilihan lain sepertinya apalagi setelah mendapat sedikit informasi latar belakang gadis merah ini tadi saat jam istirahat Naruto menyimpulkan kalau akan terjadi hal merepotkan jika dia membuat masalah pada si merah.

Naruto dengan berat hati melepaskan sepatu dan kaos kakinya lalu menggulung celana hingga selutut, walaupun penuh rasa jijik ia membuka salah satu beton yang menutup gorong-gorong lalu denvan perlahan menurunkan kakinya kedalam tempat yang kotor dan bau tersebut.

Kakinya terbenam di lumpur hitam pekat tersebut, ia menundukkan badan dan meraba-raba bagian dasar gorong-gorong dengan menggunakan tangan. Walaupun jijik dia terus berusaha mencari benda berukuran kecil tersebut hingga setelah beberapa waktu terus mencari ia tak kunjung mendapatkan apa yang dia cari hingga Naruto pun menyerah, dia tak peduli lagi akan masalah yang akan dia dapatkan nanti dari si merah.

.

.

"Apa kau menyerah ?" suara Rias terdengar makin dingin dibandingkan tadi setelah melihat Naruto naik keluar dari gorong-gorong.

"Tidak ada yang bisa aku temukan di sana" Naruto berbicara dengan nada pelan dan terkesan lemah, rupanya dia memang sudah menyerah.

"Baiklah, dengan begitu kau sudah siap apa yang akan kulakukan padamu. Dengarkan aku baik-baik sialan !" seakan tanpa rasa jijik Rias menarik baju Naruto supaya lebih dekat padahal kaki dan tangan si pirang masih penuh akan lumpur berwarna hitam.

"Mulai besok kau adalah budakku, semua yang aku katakan padamu harus bisa kau turuti dan patuhi mengerti ?, dan satu hal lagi... kau jangan berbicara padaku ataupun menatap ke arahku jika tidak aku minta" Rias melepaskan baju Naruto lalu ia beranjak pergi dari sana meninggalkan Naruto yang berlumuran lumpur got.

Akhirnya setelah itu Naruto pergi membersihkan dirinya terlebih dahulu di wc umum sebelum dia pergi ke tempat yang dituju dan begitulah awal kenapa Rias jadi sangat membenci Naruto.

.

Flashback end.

.

.

Naruto menghela nafas kasar kala kembali mengingat kejadian beberapa bulan lalu yang membuat dia sangat dibenci oleh Rias sekaligus alasan dia menjadi kacung atau pesuruh si gadis merah.

Niat awal di sekolah tidak ingin terlibat masalah justru ia malah menghampiri masalah terbesar yang dapat ia terima ditambah sebagian besar murid sudah tahu kalau dia adalah budak dari Rias Gremory yang tentunya membuat dia dibenci oleh seluruh siswa pria di sekolah.

Setelah berjalan cukup lama akhirnya ia sampai di depan sebuah minimarket, langsung saja Naruto berjalan ke dalam dan begitu masuk ia sudah disambut oleh seorang wanita muda berusia kisaran dua puluh empat tahunan, "akhirnya kau sampai juga Naruto-kun".

"Maaf aku sedikit telat Haru-nee, aku akan menyimpan tasku dulu di belakang" balas Naruto kemudian beranjak pergi ke arah pintu di belakang kasir.

Setelah menyimpan tas dan mengganti seragam sekolah dengan kaos biasa dilapisi rompi khas kasir minimarket dan juga ia tidak mengenakan kacamata bulat tebalnya, ia duduk di tempat yang wanita tadi tempati karena dia adalah pekerja paruh waktu di minimarket tersebut.

"Padahak kau punya wajah yang tampan tapi kenapa selalu berpenampilan cupu dengan kaca mata dan rambutmu yang dibuat klimis ?" tanya Haru yang sedang bersiap-siap untuk pergi.

Bukannya langsung menjawab Naruto malah menghela nafas dan memasang wajah bosan, "kau sudah sering menanyakan itu dan jawabanku tetap sama".

"Kau ini memang aneh, oh iya Naruto-kun kalau kau butuh teman kencan hubungi saja aku ok ?, daaahhhh" wanita muda itu pergi meninggalkan Naruto setelah sempat menggoda si pirang.

Setelah ditinggal sendiri kini Naruto hanya duduk di belakang kasir untuk melihat data pemasukan saat dijaga oleh Haru tadi dan mencocokkannya dengan yang ada di mesin kasir, setelah memeriksa semuanya ia mengambil sebuah keranjang dan mengecek apakah ada makanan yang sudah mendekati tanggal kadaluarsa untuk diganti dengan yang baru.

Jadwal kerja Naruto dimulai dari pulang sekolah sampai jam 8 malam nanti sebelum digantikan oleh orang lain karena mini market tersebut buka selama 24 jam dan pekerja terdiri dari beberapa shift.

.

.

.

TBC