Battle Scars

Rated : M

Genre : School, Drama, Action, Slice of Life, Martial Art

Disclaimer

Naruto : Masashi Kishimoto

HighSchoolDxD : Ichie Ishibumi

Warning : Typo bertebaran

.

.

Beberapa jam berlalu, langit yang tadinya terang benderang sudah digantikan dengan warna hitam sebagai tanda kalau saat ini sudah malam. Naruto saat ini ia sedang mengecek apakah data di komputer dan uang yang berada di kasir sudah pas karena takutnya ada kurang dan jika itu terjadi dia harus bertanggung jawab, saat sedang mencatat semuanya tiba-tiba lonceng yang terletak diatas pintu berdenting tanda ada seseorang yang membuka pintu.

Naruto mengalihkan perhatiannya sebentar untuk mengetahui apakah itu adalah pembeli atau malah orang lain dan yang ia lihat adalah sepasang suami istri yang berusia di awal 50an namun walaupun begitu mereka masih tampak segar dan penuh energi.

"Maaf Naruto-kun kami sedikit terlambat," ucap sang istri sambil bergandengan dengan suaminya menghampiri Naruto.

"Hmm tidak apa-apa kok bibi, lagipula aku juga belum selesai menghitung keuangan di jam kerjaku" timpal Naruto sambil tersenyum tipis dan kembali berkutat dengan buku untuk memasukkan datanya.

Tak butuh waktu lama iapun selesai dengan kegiatannya itu, Naruto menyimpan buku besar tersebut ke dalam laci dan menguncinya lalu beranjak pergi ke tempat penyimpanan yang terletak di belakang untuk mengambil barang-barang sekolahnya.

.

.

"Sudah selesai Naruto-kun?" suami dari wanita tadi bertanya padanya setelah melihat Naruto yang keluar dari tempat penyimpanan sambil menggendong tas punggungnya.

"Tugasku semua sudah selesai, aku juga memisahkan barang yang sudah kadaluarsa di keranjang yang itu dan juga paman bisa beritahukan pegawai di jam yang lain ketika memasang barang yang baru lebih baik diletakkan di belakang barang yang sudah lebih lama soalnya aku menemukan beberapa yang kadaluarsa berada di rak bagian dalam" pinta Naruto dengan sopan.

"Ah begitukah ?!, baiklah-baiklah akan kuberi tahukah nanti" timpal sang pria tua sambil mengangguk.

"Kalau begitu aku pamit pergi dulu paman, bibi".

Saat akan melangkah pergi ia tiba-tiba dia dipanggil oleh istri dari pria tua itu, "tunggu Naruto-kun".

Mendengar namanya disebut Naruto beralih menatap sang wanita tua, "ini untuk makan malammu" wanita itu menyerahkan kotak makanan berwarna coklat pada si pirang.

"Aduh bibi, apa ini tidak merepotkan?" Naruto dengan sopan menerima kotak makanan tersebut, begitu ia menerimanya tampak senyuman terpatri di wajah wanita tua itu.

"Tidak apa-apa Naruto-kun, aku kelebihan saat memasak tadi. Jadi tidak usah sungkan" wanita itu ingin membuat Naruto supaya tidak terlalu diambil pusing dan merasa bahwa dia sudah merepotkan.

"Terima kasih banyak bibi, paman..." Naruto lagi-lagi membungkuk pada mereka berdua.

"Sudahlah, sekarang lebih baik kau pulang lalu beristirahat. Biar kami yang berjaga disini sembari menunggu Yusuke dan Hotaru datang" ucap sang paman sembari menyebutkan nama kedua anaknya yang dimana Yusuke saat ini berada di bangku kuliah lalu Hotaru yang merupakan anak perempuan mereka umurnya sebaya dengan Naruto namun dia tidak disekolahkan di Kuoh tapi di sekolah lain tak jauh dari sana.

.

.

Setelah pergi meninggalkan mini market ia kini sedang dalam perjalanan namun bukannya pulang Naruto malah memasuki sebuah tempat yang jika dilihat dari luar seperti semacam sasana olahraga ataupun gym. Entah apa yang Naruto lakukan di sana namun setelah sekitar dua setengah jam di dalam sana ia akhirnya keluar dari tempat tersebut dengan keadaan rambut yang basah.

Usai dari tempat tersebut Naruto kembali melanjutkan perjalanannya sampai akhirnya ia tiba di sebuah kompleks apartemen sederhana dan hanya terdiri tak lebih dari tiga lantai saja. Kakinya melangkah menaiki tangga untuk sampai di unit apartemen sewaannya yang terletak di lantai paling atas dan urutan nomer tiga dari tangga.

Begitu masuk ke dalam Naruto segera memencet saklar lampu, saat lampu menyala langsung terlihat seluruh penjuru apartemen tersebut yang terdiri dari satu kamar tidur, satu kamar mandi, lalu dapur kecil dan ruangan depan dimana hanya ada satu sofa yang menghadap langsung ke arah televisi. Si pirang berjalan ke arah dapur dan membuka lemari pendingin untuk mengambil sebotol air yang langsung ia teguk habis.

Dia menyimpan botol tersebut di dekat bak cuci piring dan lanjut pergi ke arah kamar setelah sebelumnya menyimpan baju seragam kotor yang ia siang kenakan.

Saat di dalam kamar dirinya langsung merebahkan tubuh di kasur, "lelah sekali... um ? sudah jam sebelas ternyata" ucapnya dan langsung memejamkan mata untuk segera masuk ke alam mimpi, tak butuh waktu lama bagi Naruto untuk segera terlelap itu terbukti dari deru nafasnya yang beraturan dan sedikit dengkuran kecil terdengar, mungkin karena ia sudah lelah lalu untuk pr ataupun tugas dari sekolah sudah ia kerjakan ketika menjaga mini market disaat ada waktu luang tentunya.

.

.

.

Tak terasa malam berlalu dan hari pun berganti, walaupun langit masih sedikit gelap karena sekarang baru pukul 05:10 pagi. Namun rupanya itu bukanlah penghalang bagi si pirang bangun pagi itu dibuktikan dengan dirinya yang saat ini baru terbangun dan sedang duduk di atas kasur sebelum hendak beranjak ke kamar mandi untuk cuci muka serta menggosok gigi.

.

.

Sepuluh menit kemudian Naruto sudah berada di depan pintu apartemennya dan sedang mengenakan sepatu. Terlihat sepertinya saat ini ia mengenakan baju manset berlengan panjang dilapisi oleh sebuah hoodie tanpa lengan berwarna abu-abu lalu untuk bagian bawah Naruto mengenakan celana training panjang berwarna senada seperti hoodie yang ia kenakan.

Saat sepatu sudah dikenakan Naruto segera berjalan pergi keluar untuk melakukan kegiatan yang sudah menjadi rutinitasnya yaitu lari pagi. Kakinya terus melangkah dengan ritme yang tak terlalu cepat, suasana pagi hari yang sepi dan masih belum banyak lalu lalang kendaraan sangat disukai oleh si pirang karena dia bisa merasakan udara sejuk dan segar yang menerpa wajahnya berbeda ketika nanti sudah mulai memasuki jam kerja ataupun sekolah, udara yang tadinya segar akan berubah jadi sumpek karena asap kendaraan.

Naruto terus melanjutkan kegiatan lari paginya dengan perasaan senang dan penuh semangat apalagi dari tadi telinganya sudah disumpali dengan earphone berwarna putih untuk mendengarkan lagu-lagu kesukaannya sekaligus menemani kegiatannya.

.

Diwaktu yang sama namun di tempat yang berbeda.

.

Seorang gadis berambut merah panjang nan indah saat ini sedang menggeliat karena merasa terganggu dengan suara deringan alarm yang sudah ia setel.

Walaupun masih ingin berbaring dan bergelung dengan selimut namun seperti sudah menjadi kebiasaan ia pun bangkit dari kasur dan segera bergegas menuju kamar mandi setelah sebelumnya mematikan alarm.

Begitu selesai dari kamar mandi tampak wajah cantik dari gadis tersebut sudah segar dan tak menunjukkan raut wajah mengantuk, ia melanjutkan aktivitas dengan membereskan tempat tidurnya. Begitu sudah selesai kakinya melangkah pergi meninggalkan kamar dan pergi ke arah dapur, terlihat unit apartemen milik gadis tersebut bukan hanya besar namun juga lengkap mulai dari kamar mandi, meja makan, dapur, ruang tengah, kamar tidur bahkan ada juga tempat bagi gadis itu berolahraga seperti sepeda statis, treadmill, dumble, dan sebuah samsak tinju berwarna hitam di sana.

Rias mendekati salah satu alat olahraganya yaitu sepeda statis, ia menggunakan alat tersebut sekitar setengah jam lalu gadis cantik itu mengambil tali skipping dan segera meloncat-loncat sesuai dengan irama putaran yang ia lakukan. Peluh mulai membasahi tubuhnya dan justru pemandangan tersebut makin mengeluarkan aura kecantikan dari si gadis merah.

Dia mencoba beristirahat sebentar sambil meminum air sebelum kembali melanjutkan olahraganya, dia mengambil sarung tangan tinju dan mengenakannya.

Tampak saat ini dirinya sudah siap dengan sarung tangan yang terpasang, ia mengangkat kedua tangan sehingga berada di depan wajah, kakinya meloncat-loncat kecil beberapa kali hingga dirinya mulai melancarkan pukulan-pukulan ke arah samsak tersebut. Gerakan dan berbagai macam kombinasi pukulan ala tinju terus dia luncurkan dengan gesit dan terarah, sesekali ia juga sisipkan tendangan ke arah samsak tersebut untuk menambah variasi.

Dari semua gerakan yang gadis cantik itu lakukan bisa kita simpulkan kalau dia sudah cukup mahir melakukannya, memang bagi wanita di jaman sekarang bisa menggunakan bela diri adalah sebuah keharusan demi bisa terhindar dari berbagai kejahatan walaupun tidak mungkin bisa terhindar sepenuhnya. Tingkat kejahatan pada perempuan memang cukup tinggi apalagi karena dari segi fisik dan tenaga tidak sebesar pria jadi perempuan harus memiliki keterampilan self defense jadi semisal ada yang berniat jahat minimal bisa sedikit memberikan perlawanan dan membuat celah untuk kabur jika memang tidak bisa menang.

.

Keringat mulai deras bercucuran dari tubuhnya dan rambutnya yang tadi ia ikat juga sudah setengah basah ditambah jam dinding sudah menunjukkan pukul 06:50 yang berarti gadis cantik tersebut sudah berolahraga sekitar satu jam.

Dia mengakhiri kegiatannya tersebut dan kembali melepas sarung tangan yang ia kenakan, nafasnya terdengar terengah-engah tapi badannya terasa segar setelah membakar beberapa ratus kalori barusan. Karena merasa gerah dia melepaskan bajunya hingga kini ia hanya mengenakan bra berwarna merah dan celana pendek sepaha, terlihat bagaimana tubuh gadis muda itu terpahat dengan sempurna dengan wajah cantik, leher jenjang, dada dan bokong besar nan kencang, perut yang rata bahkan di sana juga tergaris dengan jelas otot abs dari gadis muda tersebut.

Setelah beristirahat dan keringatnya sudah tidak bercucuran seperti tadi barulah kini gadis tersebut beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

.

Ketika ia sudah selesai mandi dan memakai seragam sekolahnya barulah ia mulai memasak sarapan sebelum berangkat ke sekolah, namun kebetulan pagi itu dia sedang malas jadinya ia hanya memanggang beberapa lembar roti lalu dioles dengan selai rasa buah. Saat jadi ia memakan semuanya dengan lahap dan barulah ketika makanan sudah habis dan minum segelas air ia sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah.

Jarak dari apartemennya ke sekolah memang tidak terlalu jauh dan hanya membutuhkan waktu sekitar 10-15 menit saja berjalan kaki, beruntungnya walaupun berangkat agak siangan dia tidak akan terlambat karena jadwal masuk di Kuoh adalah pukul 08:00 sehingga membuat dia maupun murid yang lain tidak perlu terburu-buru namun tetap saja walaupun jam masuk cukup siang masih saja ada beberapa murid lelaki yang bisa terlambat.

Saat sedang dalam perjalan ke sekolah bibirnya terdengar terus bersenandung ria sebagai tanda suasana hatinya sedang bagus.

Dirinya terus berjalan dengan santai sampai ketika berada di sebuah pertigaan matanya menangkap seonggok makhluk berwarna kuning tengah berjalan menuju ke lokasi yang sama seperti tujuannya, dengan seringai yang lebar wanita berambut merah itu melepaskan tas punggungnya lalu memanggil makhluk kuning tersebut supaya berbalik.

"Hoyyy !" panggilannya dengan agak keras sehingga dapat di dengar oleh orang yang ia panggil.

Sama seperti dugaannya orang tersebut berbalik ke arah si merah lalu dengan enter wanita cantik tersebut melemparkan tas miliknya ke arah orang tersebut, "tangkap ini...!".

.

.

Beralih kembali ke Naruto.

.

.

Saat ini pemuda berambut pirang itu sudah kembali dari lari paginya, dengan sambil menenteng sebotol air mineral ia memasuki apartemennya dan segera masuk ke kamar mandi setelah sebelumnya membuka baju dan memasukannya ke keranjang pakaian kotor.

Usai beres mandi Naruto segera memakai baju seragam sekolah yang lainnya karena yang kemarin sudah kotor, sebelum berangkat sekolah ia menyempatkan diri untuk sarapan karena lauk pemberian bibi pemilik mini market masih tersisa dan bisa ia makan pagi ini.

Setelah sarapan dan membersihkan piring kotor yang barusan ia pakai, Naruto sudah bersiap-siap untuk berangkat sekolah dengan saat ini ia tengah mengenakan sepatu.

.

Kakinya melangkah keluar dari dalam rumah untuk segera menyusuri jalanan menuju lokasi sekolahnya, saat ini penampilannya lagi-lagi seperti seorang kutu buku dengan kacamata bulat berframe hitam, rambut yang disisir rapih ke arah kanan dan jangan lupakan pakaiannya yang sangat rapih.

Penampilannya tersebut sangat berbeda ketika ia beres menjaga mini market semalam, entah apa yang menginspirasinya untuk berpenampilan seperti kutu buku padahal seperti apa yang dikatakan oleh wanita bernama Haru kalau si pemuda pirang tersebut punya wajah yang bisa dibilang tampan ketika tidak berpenampilan seperti sekarang.

Tak terasa kini si pirang sudah berjalan cukup lama dan kini ia tak jauh dari SMA Kuoh, begitu berjalan melewati pertigaan telinganya mendengar suara seseorang yang memanggilnya, "Hoyyy" dan dari suaranya saja dia sudah tahu siapa yang memanggilnya dengan tanpa rasa sopan santun sedikitpun.

Naruto memutar tubuhnya untuk melihat orang yang memanggil dan tanpa basa-basi dia langsung melihat bagaimana sebuah tas tengah melayang padanya, mau tak mau lelaki pirang itu menangkap tas tersebut. Yah dia tidak bisa banyak protes pada sang pelaku karena orang tersebut sudah terbiasa melakukan hal seenaknya pada si pirang itupun juga karena kesalahannya beberapa bulan lalu saat pertama kali bersekolah di sini ia langsung terlibat masalah dan sialnya itu melibatkan salah satu wanita pujaan satu sekolah sekaligus putri dari salah satu founder yayasan yang menjadikannya tidak bisa banyak berkutik.

Jika boleh jujur Naruto cukup kesal dan jengah karena kelakuan si gadis merah yang semena-mena padanya tapi saat ia melihat sosok di belakang si merah nyalinya selalu menciut, ia membayangkan bagaimana jika gadis tersebut marah dan mengadukan pada orangtuanya bisa-bisa Naruto dikeluarkan dari sekolah.

Sungguh dilema di satu sisi ia sudah cape dengan semua kelakuan si merah namun di sisi lain wanita tersebut terlalu over power untuk dilawan, Naruto juga heran apakah gadis tersebut tidak bosan terus berurusan dengannya ?, padahal ini sudah beberapa bulan.

.

.

Ditengah pikirannya yang terus merambat kesana kemari sampai dia tak sadar kalau dirinya kini sudah berada di depan gerbang sekolah.

"Hoy brengsek, ayo cepat !. Jalanmu lambat sekali seperti siput" hardik si gadis merah memprotes jalannya Naruto yang menurutnya lambat.

"Ha ?, Oh ya..." Naruto yang baru tersadar dari lamunannya mempercepat gerang langkahnya untuk berada tak jauh dari si gadis merah.

Begitu berjalan di belakang wanita itu Naruto beberapa kali mendapat sorotan tajam dari beberapa orang terutama murid laki-laki yang bersekolah di sana, bagaimana tidak jika ia bisa berada di dekat sang primadona ditambah juga bisa membawakan tas miliknya. Mungkin jika Naruto tanya siapa yang rela untuk menggantikan dirinya menjadi kacung wanita tersebut maka lebih dari 95% siswa di sini mau menggantikan posisinya.

Berbeda dengan Naruto yang mendapat tatapan tajam dari orang-orang namun sang gadis yaitu Rias Gremory justru diperlakukan berbeda. Murid-murid baik itu laki-laki bahkan wanita terus menatapnya dengan pandangan kagum dan mengidolakan, setiap orang yang berpapasan dengan si merah pasti akan mencoba menyapa dan menghormatinya, sungguh Naruto sudah tak habis pikir kenapa mereka seperti itu.

Tapi jujur saja ketika Naruto pertama kali melihat Rias dia juga langsung terpana apalagi dengan rambut merahnya itu sangat identik dengan salah satu orang yang paling Naruto hargai dan sayangi di dunia ini.

.

.

Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di kelas, Naruto sendari tadi terus mengekor di belakang si gadis Gremory hingga sampailah di meja tempat duduk gadis tersebut. Tak banyak omong ia menyimpan tas gadis itu di atas meja sementara wanita cantik tersebut sudah duduk manis di kursinya tanpa menghiraukan Naruto sama sekali.

Naruto yang sudah biasa mendapatkan perlakuan seperti itu juga berekspresi biasa saja karena pada saat-saat tertentu atau suasana hati gadis tersebut kurang baik maka dia akan lebih menyiksa Naruto dengan menyuruh hal ini dan itu atau bahkah memintanya mengerjakan PR.

Si pemuda pirang itu meninggalkan Rias demi bisa segera ke bangku miliknya dan segera duduk, karena jam pelajaran dimulai sekitar lima belas menit lagi ia tak punya banyak kegiatan seperti murid laki-laki di sekolah lain karena memang di sana perbandingan murid laki-laki terlalu jomplang kalaupun ada murid laki-laki ya tipenya sama seperti dia yaitu pendiam dan kutu buku, sedangkan jika ia bergabung bersama murid-murid nakal semacam Issei and the gang malah akam membuat harinya buruk saja.

Karena itulah ia lebih memilih membaca buku ataupun bermain games di ponsel.

.

Waktu lima belas menit bukanlah waktu yang lama sampai tak terasa bel tanda masuk kelaspun berbunyi dan semua murid yang tadi ada di luar segera berbondong-bondong masuk, untuk kali ini mereka tidak ingin sampai telat karena jika satu menit saja telat maka nama mereka akan dianggap tidak hadir di jam pelajaran tersebut.

.

Skip.

.

Hari itu berjalan cukup lancar seperti biasanya bahkan begitupun juga menurut Naruto, walaupun memang dia di jam istirahat kembali disuruh-suruh oleh si gadis merah namun seperti dugaan si pirang tadi pagi bahwa mood dan suasana hati gadis itu memang sedang baik jadinya ia tidak atau mungkin belum melakukan kontak fisik seperti memukul atau menampar.

Saat si pirang sedang membereskan alat-alat sekolahnya tiba-tiba saja ada seseorang yang duduk di atas mejanya dan tak perlu bertanya lagi siapa orang itu karena hanya ada satu orang di sekolah ini yang tidak punya sopan santun dan tata krama ketika berhadapan dengan si pirang.

"Kau ikuti aku !, kita akan mengerjakan tugas matematika itu sekarang di runagan klubku" tanpa bertanya apakah orang yang dia ajak bisa atau tidak ia dengan seenak jidat memutuskan hal tersebut.

"Apa bisa kita kerjakan besok saja ?, aku harus kerja part time dan belum meminta izin" Naruto berkata dengan agak ragu-ragu, walaupun tahu apa yang akan dikatakan oleh wanita itu namun siapa tahu iyakan karena sedang dalam suasana hati yang baik ia mau mengalah pada si pirang.

Tapi secuil harapan itu musnah ketika si gadis merah buka suara, "aku tidak peduli mau kau ada urusan sekaliber dipanggil presiden aku tidak peduli, asal kau tahu saja dari pagi moodku sedang bagus jadi bukankah kalau kau membantah itu akan membuatku jadi badmood, mengerti !?" tegas wanita itu sembari menarik dasi si pirang, tahu tak bisa membatah Naruto hanya mengangguk pasrah dan itu artinya ia akan kedua kalinya dalam bulan ini tidak masuk kerja, ia hanya bisa terima jika nanti gajinya di potong.

Setelah menunggu si pirang menyimpan semua buku dan alat tulis di kelas kini keduanya segera menuju ke lokasi yang dimaksud oleh Rias, yaitu ruang klubnya walaupun Naruto sampai sekarang masih belum tahu klub apa yang wanita itu ikuti karena tidak pernah terlihat atau terdengar kegiatannya dan juga ruang klub mereka berbeda dari ruang klub yang lain.

Jika klub yang lain seperti klub drama, klub sastra, klub musik dan lain-lain itu ruangannya menyatu dan berderet seperti kelas kecuali klub olahraga. Nah yang membuat Naruto kian penasaran adalah klub Rias ini mendapat tempat tersendiri yang terpisah dari sekolah bahkan agak jauh dari bangunan utama, jika diperhatikan lagi malah klib tersebut terlihat seperti sebuah villa jika dilihat dari luar.

.

.

Akhirnya tibalah mereka berdua di bangunan tersebut, Rias membuka kunci lalu segera memasuki ruangan tersebut atau lebih tepatnya bangunan, menyadari Naruto tidak mengikutinya wanita cantik itu berbalik dan tampak Naruto masih berdiri di sana sambil melihat-lihat bentuk bangunan tersebut dari luar.

"Hoy apa sedang kau lakukan diam di sana seperti orang bodoh?".

Menyadari kelakuannya Naruto segera melangkahkan kakinya memasuki bangunan itu dan berjalan di belakang Rias. Matanya tak henti-hentinya melihat sekeliling ruangan dan satu hak yang ia pahami adalah tempat tersebut tidak bisa disebut sebuah klub dan memang lebih seperti villa.

Naruto kembali ditakjubkan begitu sampai di sebuah ruangan cukup luas apalagi dengan fasilitas seperti sofa, televisi big screen, meja, bahkan ada dapur juga di sana lengkap dengan lemari pendingin.

Rias langsung mendudukkan dirinya di sofa sekaligus memerintahkan Naruto untuk segera ikut duduk di depannya dengan terhalang oleh sebuah meja. Ia mengeluarkan sebuah kertas dari dalam tasnya lalu meletakkannya di meja, "cepat kerjakan tugasnya !".

"Hah ?!" Naruto kini malah bengong usai mendengar perkataan si gadis merah.

"Iya cepat kerjakan, saat ini aku sedang malas dan kau kerjakan sendiri" Rias mempertegas ucapannya tadi.

"Tapi bukankah ini kerja kelompok ditambah ini mata pelajaran matematika" Naruto masih belum terima dan sukses membuat si gadis merah menatap tajam dirinya.

Dengan wajah jengkel gadis merah itu bangkit dari sofa dan berjalan kearah Naruto, seperti tahu bahaya akan segera tiba ia segera mempersiapkan dirinya apabila Rias menghantamkan tinjuan padanya. Namun saat jarak makin dekat dan si pirang sudah siap gadis itu malah melewatinya dan membuat Naruto cukup keheranan.

Tampak Rias kini sedang berdiri di depan lemari yang terletak banyak buku di sana, dia mengambil buku yang berukuran sedang dan cukup tebal lalu kembali ke tempat duduknya.

"Lihat dan cari rumusnya di situ, kerjakan saja dan saat sudah selesai aku akan memeriksanya" dengan nada datar dan seakan tanpa minat, ia menaruh buku tersebut di samping kertas soal tadi. Naruto yang mengerti akhirnya menuruti apa yang dibilang gadis tersebut dan segera mengambil buku tersebut lalu membukanya untuk mencari rumus yang bisa digunakan sebagai penyelesaian soal tersebut.

Disaat Naruto sedang fokus mencari dan mempelajari rumus berbanding terbalik dengan si Gremory muda yang kini malah dengan santainya menonton anime di televisi lebar yang terletak di sana.

.

.

.

TBC