Battle Scars

Rated : M

Genre : School, Drama, Action, Slice of Life, Martial Art

Disclaimer

Naruto : Masashi Kishimoto

HighSchoolDxD : Ichie Ishibumi

Warning : Typo bertebaran

.

.

Setelah kurang lebih satu setengah jam berkutat dengan dua puluh lima soal yang diberikan guru, soal yang seharusnya dikerjakan oleh dua orang itu kini hanya dikerjakan oleh Naruto seorang tanpa sedikitpun si gadis merah membantu bahkan untuk menoleh saja tidak. Dia malah dari tadi asik menonton movie dari anime kesukaannya yaitu Detektif Komar.

Begitu movienya usai barulah ia menoleh pada seorang laki-laki yang duduk di sisi lain sofa, "kenapa kau diam saja bukannya mengerjakan soal ?".

"Aku sudah selesai dari sepuluh menit yang lalu" Naruto menghela nafas pelan lalu membenarkan posisi kacamata tebalnya.

Rias mengambil kertas soal itu untuk mengecek apakah yang dikatakan si pirang itu benar, dan setelah ia cek semua ternyata sola tersebut sudah sepenuhnya selesai dengan menggunakan rumus dari buku yang ia berikan tadi walaupun tidak tahu apakah jawabannya benar atau tidak, karena walaupun sudah menggunakan rumus yang sesuai bisa saja salah.

"Ternyata kau bisa mengerjakannya, kukira kau tidak akan mampu" puji sekaligus menyindir dilakukan oleh Rias pada Naruto.

"Aku itu tidak bodoh, hanya saja di mata pelajaran matematika agak kurang" timpal Naruto atas ungkapan Rias itu yang sama sekali tak membuatnya panas kuping.

"Karena sudah selesai apakah aku bisa pulang ?".

"Pulang saja sana, lagi pula kau tidak punya alasan untuk berada di dekatku hus hus pulang sana" dengan entengnya Rias mengusir si pirang, dan karena memang mereka tak ada urusan lain lagi Naruto segera pergi meninggalkan ruang klub si gadis Gremory namun disaat ingin membuka pintu ia keduluan oleh seorang murid perempuan yang Naruto ketahui adalah ketua osis yaitu Sona Sitri.

"Sedang apa kau di sini Uzumaki ?" tanya gadis muda di hadapan Naruto dengan tegas dan penuh curiga.

Mendapatkan dirinya seakan diinterogasi Naruto menjawab dengan agak terbata, "em a-ano aku di-sini hanya mengerjakan tugas dengan Gremory-san".

Sona yang mendapat jawaban dari Naruto tak menjawab apapun lalu ia pergi masuk ke dalam meninggalkan Naruto di depan pintu sendirian.

"Ketua osis di sekolah ini lebih mengerikan daripada sekolahku yang dulu" ujar pelan si pirang sambil memperhatikan Sona berjalan dari belakang, setelah beberapa saat barulah Naruto keluar melewati pintu yang terbuka itu dan segera pulang ke rumah.

.

.

Diperjalanan pulang menuju kediamannya Naruto beberapa kali berpapasan dengan orang-orang yang tinggal di wilayah sekitar rumahnya dan karena Naruto harus melewati beberapa toko untuk sampai ke rumah ia biasanya akan mendapatkan beberapa pemberian makanan dari pemilik toko seperti saat ini contohnya dia mendapat tiga buah jeruk dari penjual buah-buahan kenalannya.

Begitu sampai rumah Naruto melihat ada sebuah kotak berwarna coklat di depan pintunya, ia mengambil kotak tersebut dan melihat apakah paket tersebut benar-benar miliknya atau salah alamat karena seingatnya ia tak membeli atau memesan apapun. Saat dilihat memang di kotak tersebut tertulis alamatnya bahkan namanya juga tertera tapi sayangnya nama dari pengirim tidak tercantum di sana.

Tanpa rasa curiga atau apapun ia membawa kotak tersebut masuk ke dalam rumah lalu meletakkannya di meja untuk segera ia buka, dan saat sudah terbuka di dalam sana hanya berisi secarik kertas dengan amplop putih dan sebuah sebuah ponsel yang masih dikemas dalam dus kecil.

Naruto mengeryit heran, siapa yang mengirimkan hal tersebut padanya dan saat ia membaca pesan yang terkandung dalam secarik kertas itu wajahnya langsung berekspresi dingin dan datar. Dia meremas kertas yang ada digenggamnya lalu melempar kembali ke dalam box.

Tangannya mengepal kuat dengan raut wajah emosi, dengan kasar ia menutup kembali kotak tadi dan segera beranjak menuju meninggalkannya diatas meja.

Usai dari dalam kamar dan berganti pakaian dengan baju santai ia bergegas pergi meninggalkan rumah, dengan perasaan jengkel dan kesal Naruto terus melontarkan sumpah serapah dalam hati sepanjang perjalanannya menuju tempat tujuan.

Dan akhirnya sampailah ia di sebuah gym yang sama seperti kemarin malam ia datangi. Tak mau berlama-lama ia memasuki tempat tersebut dan saat sudah di dalam suasana di sana cukup ramai apalagi banyak pria dan wanita yang sedang belajar bela diri kick boxing. Kedatangan si pirang rupanya diketahui oleh pria berambut putih panjang dan berperawakan tinggi besar, "tumben sekali kau sudah datang ?".

"Aku sedang tidak masuk kerja" jawab si pirang dengan roman tidak berminat.

"Yasudah cepat ganti baju sana, hari ini kau akan latihan sparing karena nanti sabtu itu hari pertandinganmu". Naruto tak menjawab perkataan pria itu dan langsung berjalan keruang ganti pria.

.

.

Setelah kembali dari ruang ganti Naruto segera melakukan pemanasan sebelum akhirnya ia dipakaikan sarung tangan dan memasuki arena kecil di ruangan gym tersebut.

"Lawanmu sabtu nanti adalah petarung tipe striker sama sepertimu, jadi dalam latih tanding ini aku ingin melihat kau bisa kreatif mengkombinasikan berbagai macam pukulan atau tendangan sehingga bisa menjadi senjata yang ampuh untukmu menumbangkan lawan" jelas pria tua itu yang ternyata adalah pelatih dari si pirang sekaligus pemilik dari gym tersebut.

Naruto yang mendapat instruksi hanya mengangguk lalu mengenakan helm pelindung sebelum memulai latih tandingnya.

Di dalam arena tersebut Naruto berhadapan dengan pria yang berusia lebih tua darinya namun terlihat kemampuan Naruto lebih unggul itu terbukti dari dia yang berhasil menghindari beberapa pukulan dari lawannya, tapi sebaliknya Naruto dapat dengan dominan mendaratkan berbagai macam kombinasi serangan dari bela diri yang cukup ia kuasai yaitu karate.

Si pria tua yang terus mengamati jalannya pertandingan dengan seksama mencoba menganalisis dimana letak kekurangan dari anak didiknya itu supaya bisa ia jadikan masukan untuk si pirang karena ketika dalam pertarungan yang sesungguhnya celah sekecil apapun dapat membuatnya dalam masalah.

Setelah kurang lebih lima menit bertanding tibalah saatnya bagi mereka untuk beristirahat sejenak, saat Naruto sedang minum ia dihampiri oleh pria tua yang tak lain adalah pelatihnya, "kerja bagus tapi kau harus waspada jika lawan menyerang kakimu karena kulihat tadi kuda-kuda yang kau lakukan sangat terbuka lebar. Jika mendapat lawan yang sedikit lebih pintar kau akan kesusahan tadi" ia menjelaskan celah pada pertahanan si pirang.

Naruto mendengarkan dengan baik masukan sang pelatih sambil beristirahat dan tak lama kemudian ronde kedua dimulai. Sama seperti sebelumnya Naruto dengan lincah serta gesit terus menghindar dari serangan lawan dan terus balas menyerang jika ada celah. Ia tidak seganas ronde tadi ketika menyerang karena jika seperti ronde awal maka pertahanannya terekspos sehingga bisa dimanfaatkan lawan.

Akhirnya setelah melakukan pertandingan selama tiga ronde yang masing-masing berdurasi lima menit Naruto saat ini sedang beristirahat dambil menikmati minuman yang disediakan dan tak lupa sang pelatih memperlihatkan sebuah video analisis mengenai calon lawannya di pertandingan nanti.

"Hari ini kau banyak sekali membuka celah tidak seperti biasanya, apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya sang pelatih kala mereka selesai melihat video di laptop.

"Bukan hal besar, tapi aku janji besok dan kedepannya akan seperti biasa lagi".

"Baguslah... kalau kau masih seperti itu jangan harap bisa bertahan lama di atas sana".

Ketika mereka berdua berbincang tak terasa waktu berlalu hingga hari mulai gelap, Naruto yang mengetahui hal tersebut segera menyudahi latihannya dan ingin kembali ke rumah untuk beristirahat.

Namun sebelum ia benar-benar pulang ke rumah Naruto menyempatkan diri untuk membeli makanan disebuah kedai kecil dan begitu ia selesai membeli makanan secara tak sengaja dirinya berpapasan dengan seorang gadis cantik berambut merah panjang.

Tapi sayangnya mereka sama sekali tak menyadari satu sama lain, kemudian Naruto melanjutkan perjalanan pulangnya.

.

.

Begitu tepat di depan rumah dan akan membuka pintu dia merasakan sesuatu yang aneh, "perasaan saat aku pergi pintu ini sudah dikunci".

Merasa curiga Naruto membuka pintu dengan perlahan dan berupaya tidak membuat suara sama sekali, berjalan pelan dan mengendap-endap dia merasakan hawa keberadaan orang lain di kediamannya itu. Lalu terdengar juga suara dari arah dapur yang langsung membuat si pirang ingin mengecek sumber suara tadi.

Dengan keahlian bela diri yang ia miliki Naruto sudah bersiap-siap jika memang yang masuk ke dalam rumahnya adalah pencuri dan sudah siap menangkapnya.

Saat sudah berada di dapur dengan lampu yang sedikit redup Naruto dapat melihat dengan jelas ada seseorang di sana, jika dilihat secara fisik dia menyimpulkan bahwa orang yang menyusup ke rumahnya itu lebih pendek darinya. Saat sudah dalam jarang jangkauan serangannya Naruto langsung menarik kedua tangan orang tersebut dan menariknya ke arah belakang. Mendapat sedikit perlawanan Naruto langsung melakukan gerakan bantingan hingga membuat pesnyusup tidka bisa bergerak lagi.

"Siapa kau dan mau apa memasuki rumahku ?" tanya si pirang yang sedang memegangi kedua tangan orang itu dipunggungnya.

"Dasar gila, ini aku sialan" terdengar suara dari orang yang saat ini sedang berada di bawah Naruto, tapi si pirang merasa suaranya itu terdengar familiar di telinganya.

Naruto mulai memperhatikan sang penyusup yang saat ini sudah sangat jelas bisa dia lihat, tampak rambut berwarna merah panjang dengan tangan yang saat ini Naruto pegang juga tampak halus ditambah suara tadi seakan membuat Naruto tersadar, "Karin nee-chan ??".

Dia melepaskan kuncian lengannya dan segera beralih dari posisi yang tadinya berada di atas orang yang dia panggil nee-chan.

Wanita itu mulai bangkit dari posisi tadi dan kini terduduk di hadapan Naruto, "dasar sinting, apa kau harus membanting kakakmu sendiri hah ?".

Naruto tak berani menjawab sang kakak karena merasa bersalah dan kelewatan membanting kakaknya yang adalah seorang perempuan, dia hanya beberapa kali mengucapkan maaf.

"Sudahlah ayo duduk, kau pasti belum makan malam" wanita cantik itu mengajak Naruto bangkit dari lantai untuk duduk di kursi dan makan malam bersama.

Akhirnya kedua adik kakak itu makan bersama dengan masakan dari Karin dan juga yang dibawa oleh si pirang, hingga ketika sudah usai dan Karin tengah mencuci piring sambil mengajak adiknya itu mengobrol.

"Apa bersekolah disini menyenangkan ?".

"Ya cukup menyenangkan, apalagi dengan tinggal di sini juga aku tidak perlu berurusan dengan mereka" jawab si pirang yang masih duduk di kursi dan menekankan kata 'mereka'.

Karin yang mengerti maksud sang adik hanya mendesah pelan, memang setelah ibu mereka meninggal dan sang ayah yang ketahuan selingkuh membuat Naruto pergi dari rumah ditambah istri baru ayah mereka cukup dibenci oleh si adik pirang. Saking tidak mau berurusan dengan kedua orang itu sampai tidak mau menerima dan memakai semua yang diberikan oleh ayahnya. Untuk biaya masuk ke Kuoh Gakuen saja yang menanggungnya adalah Karin.

"Nee-chan bolehkah aku nanti minta tolong ?".

Karin yang sudah selesai mencuci piring dan mengeringkan tangannya kini ikut duduk dengan sang adik.

"Apa yang bisa kubantu ?".

Naruto bangkit dari kursi dan berjalan untuk mengambil kotak yang tadi siang, "bisa tolong kembalikan ini pada orang itu ?" ia menyerahkan sebuah box pada Karin.

Merasa tak perlu bertanya hal apakah dan pada siapkah Karin menerimanya.

.

.

Waktu terus berlalu dengan kedua kakak beradik itu banyak mengobrol tentang kehidupan Naruto di Kuoh serta sekolah barunya, memang Karin sebagai sosok kakak adalah satu-satunya tempat bersandar bagi si pirang, apalagi dengan meninggalnya ibu mereka membuat Karin memiliki tanggung jawab lebih pada Naruto ditambah hubungan antara adiknya dengan sang ayah bisa dibilang buruk.

Malam pun kian larut dan beberapa kali Karin sudah menguap, "nee-chan lebih baik kau segera tidur di kamarku, jangan pergi malam-malam begini" pinta Naruto pada Karin.

"Huum baiklah, aku tidak boleh begadang karena besok harus menemui klien baru. Padahal baru beberapa hari yang lalu aku menang sidang tapi harus cepat-cepat mengambil kasus baru" Karin sedikit mengeluh dengan kehidupannya, memang menjadi seorang pengacara yang bekerja di salah satu firma hukum top di Jepang membuat dirinya selalu sibuk walaupun firma hukum tersebut adalah milik ayahnya sendiri Minato.

Minato Namikaze adalah pimpinan sekaligus pendiri dari UN Law. Dia adalah pria berperawakan tinggi, berambut pirang, dan bermata biru indah mirip seperti putranya Uzumaki Naruto. Setahun yang lalu ia harus kehilangan istrinya karena sang istri mengidap suatu pengakit hingga akhirnya meninggal dan kurang dari sebulan kemudian ia menikah lagi dengan wanita yang ternyata adalah tak lain dan tak bukan merupakan assisten nya sendiri. Namun dibalik itu semua rupanya Minato dan wanita tersebut sudah menjalin hubungan gelap disaat Minato masih berstatus suami dari Uzumaki Kushina sang istri.

Bahkan tanpa orang-orang ketahui dari hubungan gelap tersebut mereka sudah mempunyai anak yang sebaya dengan Naruto, namun pada akhirnya beberapa bulan terakhir secara tak sengaja Naruto mengetahui hal tersebut dan menyebabkan ia makin membenci ayahnya sendiri padahal sebelumnya ia memang sudah membenci Minato bahkan ketika Kushina sang ibu masih hidup.

Usai mengantarkan Karin sang kakak ke kamarnya untuk beristirahat Naruto kini sudah berbaring di atas sofa sederhana yang berhadapan dengan televisinya, dengan tubuh yang sudah tiduran di sofa Naruto tampak memegangi sebuah foto kecil yang rupanya menampilkan seorang wanita berambut merah panjang sama seperti kakaknya tengah tersenyum.

Ia terus memandangi foto tersebut hingga secara tak sadar matanya mengeluarkan beberapa bulir air, Naruto yang menyadari langsung menghapus air mata tersebut dan tersenyum getir. Ia sungguh merindukan sosok yang berada di dalam foto tersebut. Sosok yang selalu ada untuknya, untuk kakaknya, bahkan untuk orang yang dibenci Naruto pun ia selalu ada namun hati si pemuda pirang selalu terasa sakit kala mengingat kejadian yang terjadi di hari kematian sang ibu.

.

Flashback on

.

Saat itu Naruto yang baru pulang dari sekolah langsung menuju ke rumah sakit tempat dimana sang ibu tengah dirawat, karena selama beberapa waktu belakangan ini kondisinya sempat kembali memburuk sehingga harus melakukan rawat inap di rumah sakit tersebut, tapi memang sebelumnya ia kerap kali harus masuk rumah sakit karena menderita kanker darah.

Begitu sampai di depan pintu ruangan sang ibu Naruto segera masuk dan ketika di dalam ia melihat ibunya tengah tertidur, ia segera menghampiri wanita yang sedang terbaring di kasur tersebut dengan sedikit mengendap-endap namun rupanya kegiatannya itu tidak berguna karena wanita yang dari tadi tertidur itu langsung membuka matanya kala Naruto sudah berjarak lebih dekat dengannya.

Si pirang yang ketahuan tampak cemberut, "ternyata Kaa-chan hanya pura-pura tidur".

"Kaa-chan tidak pura-pura tidur tahu, lima menit yang lalu kaa-chan baru bangun tidur dan kebetulan saat kau masuk kaa-chan memang sedang memejamkan mata" timpal wanita itu dengan senyuman menghiasi wajah cantiknya.

Walaupun tubuhnya tampak kurus namun tidak menyembunyikan aura kecantikan dalam dirinya. Naruto menaruh tas punggungnya di sebuah sofa yang berada di ruangan tersebut lalu selanjutnya dia mendudukkan diri tepat di samping ranjang sang ibu yang memang di situ terdapat sebuah kursi.

Seperti biasanya ketika Naruto pulang dari sekolah ia akan menemani Kushina dengan mengobrol bagaimana kegiatan si pirang ketika di sekolah atau mendengarkan curhatan tentang para gadis di sekolah yang selalu mengejarnya.

Semenjak sang ibu dirawat di rumah sakit Naruto sudah jarang pulang ke rumah dan jika pulang pun ia hanya mengganti baju sekolahnya saja, ia lebih suka menginap di rumah sakit menemani ibunya dan sesekali sang kakak yaitu Karin akan ikut menginap juga ataupun menggantikan Naruto jikalau si pirang pulang atau bersekolah, tapi karena pekerjaan Karin yang sebagai pengacara membuat waktu yang ia miliki tidak seleluasa Naruto dalam menjaga Kushina.

Waktu terus berlalu hingga akhirnya sore hari mulai terlewati dan di dalam ruangan tadi kini sudah ada tiga orang dengan tambahan Karin di sana selain Naruto dan Kushina tentunya, ia datang sekitar setengah jam yang lalu .

.

"Naru sebaiknya kau pulang dulu, pasti badanmu gerah setelah beraktivitas di sekolah. Biar nee-chan saja yang menjaga kaa-chan dan selagi ia tidur" pinta Karin pada adiknya itu, Naruto yang memang merasa gerah dan tidak enak lagi mengenakan seragam sekolahnya menurut pada kakaknya Karin.

Dia mengangguk setuju lalu mengambil tasnya dan segera ia sampirkan di punggung, "aku pulang dulu kalau begitu nee-chan, setelah mandi aku akan kembali ke sini" tegasnya.

"Kau naik taxi saja ya, nee-chan tidak bawa mobil kemari karena sedang di bengkel" Karin lalu membuka dompetnya seraya memberikan Naruto beberapa lembar uang untuk ongkos pulang sekaligus kembali nanti, tadinya Naruto ingin berjalan kaki untuk pulang namun karena diluar sedang hujan maka ia harus naik taxi walaupun jarak rumah mereka ke rumah sakit tidak terlalu jauh.

Naruto segera pergi dari ruangan itu meninggalkan Karin dan sang ibu yang tadi kembali tidur setelah diberikan obat.

.

.

Namun andai Naruto tahu saat itu adalah kali terakhir ia bisa melihat ibunya memiliki kesadaran maka tidak mungkin dirinya akan pulang hanya untuk berganti pakaian dan mandi.

Ketika sekembalinya ia ke rumah sakit dan menuju ruangan ibunya ia melihat Karin yang sedang berdiri di depan pintu dengan badan terlihat gemetar dan air mata yang terus berjatuhan, merasa ada yang tidak mengenakan Naruto dengan cepat menghampiri kakaknya itu. Degup jantungnya berdetak kencang dengan otaknya yang otomatis membayangkan hal paling buruk tengah terjadi.

Karin yang melihat adiknya itu berjalan cepat menghampirinya ditambah raut wajah yang tidak bisa ia gambarkan tercetak jelas di wajah tampan adiknya, saat jarak mereka hanya berbeda dua langkah saja Karin langsung memeluk Naruto dengan erat.

"Nee-chan ini tidak seperti yang kubayangkan bukan ?" Naruto bersuara lemah di dekat telinga Karin.

Wanita bersurai merah itu tidak menjawab pertanyaan sang adik dan makin mengeratkan pelukannya, dalam hatinya ia terus berdoa pada Kami-sama semoga ibu mereka di dalam bisa diselamatkan.

Jujur saja Karin masih sangat terguncang saat tadi sekembalinya dari kamar mandi ia mendengar alat pengukur detak jantung ibunya bersuara nyaring menandakan jantung sang ibu berhenti berdetak, dengan panik Karin segera memencet tombol untuk memanggil dokter dan perawat hingga akhirnya mereka datang lalu meminta Karin keluar dari ruangan.

Masih dengan perasaan tak karuan kedua kakak beradik itu menunggu dengan harap-harap cemas di dekat pintu, dan sedari tadi juga Karin terus berusaha menghubungi ayahnya untuk mengabari keadaan ibunya itu sedang memburuk tapi sayangnya usaha Karin sia-sia karena baik pesan ataupun telfonnya tidak diakat dan dibalas.

Sementara itu di dalam sana seorang dokter pria dan perawatan wanita tengah melakukan pertolongan pada pasiennya dengan menggunakan alat pacu jantung, ia terus berusaha membuat jantung sang pasien kembali berdetak namun masih tak ada respon.

"Tanggal 07 April 20xx pukul 18:43 pasien atas nama Uzumaki Kushina meninggal dunia karena kegagalan fungsi jantung" ucap sang dokter dengan berat hati.

Perawat yang membantunya itu mengangguk lalu segera melepaskan semua alat-alat yang terpasang pada Kushina dan setelah itu menutup wanita cantik itu dengan menggunakan selimut.

.

Begitu dokter dan perawat keluar dari ruangan tersebut membuat Naruto dan Karin yang sedari tadi kalut dengan isi otak mereka langsung mendekati sang dokter dan menanyakan kondisi dari ibu mereka, "dokter bagaimana keadaan ibu kami ?" Karin demgan cepat bertanya.

Dengan berat hati dokter itu memberitahu kalau nyawa ibu mereka tak tertolong, seketika ketika Naruto mendengar penuturan dari orang yang berusaha menyelamatkan nyawa sang ibu dunianya terasa sepi dan gelap. Rasa panas menjalar dari matanya membuat air mata yang dari tadi ia tahan langsung meledak.

Dia tak mendengarkan lagi ucapan sang dokter dan langsung pergi melewatinya dengan berlari untuk segera memasuki kamar yang terdapat sosok sang ibu. Dengan air mata yang terus bercucuran dan tangan yang bergetar hebat ia mencoba menyibakkan selimut yang menutupi wajah ibunya.

Begitu bisa melihat sosok ibu yang kini sudah berbaring tanpa nyawa membuat si pirang jatuh terduduk dengan pandangan kosong, Karin yang habis menerima semua informasi dari si dokter kini berjalan masuk mendekati ranjang ibunya serta Naruto yang jatuh terduduk di dekat sana. Dia pertama-tama melihat wajah dari ibunya terlebih dahulu yang tampak sudah mulai pucat pasi lalu ia menutup kembali wajah sang ibu dan beralih pada adiknya yang tengah terguncang.

"Nee-chan... ini semua bohong kan ?" suara Naruto terdengar lirih dengan ekspresi wajah seakan kehilangan cahaya. Karin yang berlutut untuk mensejajarkan dirinya dengan sang adik menggapai kepala pirang Naruto lalu mendekapnya pelan ke dada dan terdengarlah suara tangisan pilu dari si pirang di pelukan sang kakak.

Sama halnya dengan si pirang, Karin juga menangis namun ia mencoba sebisa mungkin mencoba untuk tetap kuat.

Saat Naruto sudah agak terkontrol Karin mengajak adiknya itu untuk duduk di sofa yang ada di sana dan memberikan si pirang segelas air minum, Karin menyeka air matanya lalu terasa ponsel yang terletak di saku celananya bergetar. Dia mengangkat panggilan itu yang merupakan telfon dari kerabat ibunya, ditengah obrolan Karin dengan orang itu yang tak lain adalah memberitahukan bahwa ibu mereka baru saja meninggal.

"Kakek sedang dalam perjalan kesini, kita akan menunggu mereka" ujar wanita bersurai merah itu setelah menutup telfon.

"Nee-chan... apa orang itu bisa dihubungi ?" Naruto menatap wajah cantik kakaknya yang berwajah sembab itu dan seperti yang ada di kepala Naruto tentang orang yang ia maksud, Karin hanya menggeleng pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Naruto.

Naruto bangkit dari duduknya dan tanpa Karin duga remaja pirang itu berlari dengan kencang meninggalkannya, dengan gerakan yang sudah tertinggal jauh Karin mencoba mengejar adiknya itu namun dengan cepat si pirang sudah menghilang dari pandangannya.

Tanpa Karin tanya atau tebak pun ia sudah tahu kemana perginya sang adik, pasti ia ingin mencari Minato ayahnya namun di kondisi luar sana yang sedang hujan lebat ia agak khawatir tapi ia tidak bisa menyusul Naruto karena harus menunggu kakeknya dan mengurus semua administrasi sang ibu, biarlah nanti ia minta pada kerabatnya saat sudah tiba di sana untuk mencari si remaja pirang.

.

.

Dengan langkah yang cepat Naruto menembus derasnya guyuran air hujan, ia terus berlarian sepanjang trotoar untuk menuju tempat yang ada di otaknya kini, pakaian yang ia kenakan tampak sudah basah kuyup dan derasnya hujan seakan tak membuatnya lelah atau kehabisan tenaga hingga akhirnya ia sampai di sebuah gedung.

Kaki gontainya membawa ia masuk ke dalam, orang-orang yang ia lewati tampak memandang Naruto dengan heran pasalnya orang mana yang keluar rumah tanpa mengenakan payung ataupun jas hujan di hari yang sudah beranjak malam tersebut ditambah derasnya hujan bisa membuat mereka masuk angin dan demam. Tak mempedulikan tatapan orang padanya Naruto terus melangkah untuk selanjutnya menaiki tangga hingga sampailah ia di lantai ke lima bangunan tersebut.

Tanpa permisi ataupun mengetuk pintu Naruto membuka pintu kayu yang ada di sana, matanya menelusuri ruangan gelap tersebut yang tanpa pencahayaan, ia masuk itu dan di dalam sana memang ak ada siapapun dengan hanya ada meja-meja berderet rapi dan banyak tumpukan kertas di setiap meja. Begitu Naru makin masuk ke dalam dan mendekati sebuah pintu yang terletak di ujung sana.

Naruto berjalan mendekati pintu tersebut yang ternyata tidak tertutup sempurna dan masih ada celah untuk orang mengintip kedalam, saat jaraknya kian dekat sayup-sayup Naruto dapat mendengar ada suara-suara dari dalam ruangan ayahnya.

Begitu tepat berada di depan pintu Naruto sedikit menggeser pintu tersebut dan matanya harus membulat kala melihat seorang pria yang mirip dengannya tengah asik menggoyangkan pinggul dan memadu kasih dengan seorang wanita yang berusia sedikit lebih muda darinya, berambut coklat kemerahan.

Tampak wanita itu sepertinya sangat menikmati permainan dari pria pirang tersebut, itu terbukti dari baju kemeja berwarna biru navy nya sudah terbuka di bagian atas dan memamerkan buah dada besarnya ditambah suara desahan yang keluar dari bibir seksi tersebut makin menambah suasana panas diantara mereka.

Naruto yang melihat hal tersebut kian merasakan sakit di hatinya, setelah tadi ia kehilangan sang ibu kini di hari ibunya meninggal justru suami dari ibunya yang merupakan ayahnya Minato Namikaze tengah bercinta bersama wanita lain, dan dari sepengetahuan Naruto wanita itu adalah sekertaris ayahnya.

Desahan dan erangan terus terdengar dari mereka hingga saat Naruto akan pergi dari sana telinganya mendengar obrolan dari ayahnya dan wanita tersebut, tangannya mengepal erat dan dengan perasaan penuh amarah ia meninggalkan tempat tersebut.

Remaja pirang itu meninggalkan gedung dan berjalan di bawah guyuran air hujan, dengan isi kepala yang entah memikirkan apa dan hati yang panas sekaligus sakit ia menangis, namun air mata yang keluar dari matanya terhapuskan dengan derasnya air hujan yang menimpa sekujur tubuh si remaja blonde.

Saat tengah berjalan di trotoar tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti disampingnya, wajahnya menoleh untuk melihat siapakah yang berhenti di dekatnya.

"Ternyata kau ada di sini, Naruto" ucap seseorang dari mobil yang berhenti itu memiliki rambut merah lurus.

"Nagato-nii ?"

Pria bernama Nagato itu mengajak si pirang masuk dan segera pergi membawa remaja itu pergi.

.

Flashback off.

.

.

.

TBC