disclaimer: Eyeshield 21 © R. Inagaki & Y. Murata
details: Yamato/Kakei. drama/hurt/comfort. AR.
note: (1) judul dipetik dari lirik lagu Here Come the Regrets oleh Epik High feat. Lee Hi. (2) untuk shunshines. enjoy!


.

must have been something cause you keep on calling
© rujakcuka; 2021

.


Pundaknya beradu dengan pundak seseorang tatkala ia memalingkan pandangannya sesaat untuk melihat-lihat lingkungan sekelilingnya yang tak kalah megah dengan Tokyo.

Shun melihat ke arah orang yang tak sengaja ia tabrak dan sesuatu yang familiar tapi tidak bernama menggerogoti dari dalam kurungan tulang rusuknya. Pemuda tersebut berbadan tinggi dan bidang walau tengah berlutut, diperkirakan sepantar dengan Shun, serta terbalut seragam sekolah menengah atas. Ada nama Teikoku di bet sekolahnya.

Rambut kecoklatannya yang ikal dan posturnya yang tegap membuat Shun segera mengenali pemuda tersebut. Pemain American football dari Teikoku Alexanders, sebelumnya dari SMP Notredame; salah satu alasan utama Shun kembali mengenyam pendidikan di tanah kelahirannya; salah satu pemain yang paling sering menghiasi majalah bulanan Amefuto; salah satu pemain yang terpilih untuk mewakili Jepang di turnamen tingkat SMA Amerika Serikat sama sepertinya; Si (Mantan) Eyeshield 21—semuanya membuat rasa ketidakasingan Shun masuk akal.

Tanpa sadar mulutnya bergumam, "Yamato."

Lidahnya terasa aneh. Ini adalah orang yang dulu sempat menjadi obsesi Shun dalam bermain Amefuto. Wajar.

Tapi dia di sini untuk mengikuti karyawisata sekolahnya, bukan untuk menantang ataupun bermain Amefuto.

"Maaf, aku jalannya gak lihat-lihat sekitar." Shun mengulurkan tangannya. "Kamu gak—"

Belum selesai pertanyaannya, bahkan sebelum Shun sempat menanyakan kabarnya, Yamato bergegas berdiri, kemudian berbalik meninggalkan Shun tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Shun mengernyitkan alisnya, tidak paham dengan situasi yang baru saja terjadi. Mereka tidak banyak berinteraksi, tapi mereka sudah mengenal satu sama lain lantaran berada di tim nasional Amefuto SMA Jepang.

Ada rasa sakit di dadanya. Ada banyak kata tertahan di ujung lidahnya, yang Shun sendiri tidak tahu apa saja. Pupil kebiruannya mengikuti punggung Yamato sebelum akhirnya ditelan keramaian di tengah kumpulan gedung perkotaan.


Rasa sakit itu tidak pernah benar-benar hilang bahkan setelah Shun sampai di hotel tempat sekolahnya bernaung. Shun menganggapnya sebagai sakit hati karena tidak disapa balik oleh seseorang yang dia kenal. Sesuatu yang normal. Bukan masalah. Yang begitu bisa terjadi kapan saja.

Hanya saja, rasa sakit itulah yang membuatnya memilih untuk menyelesaikan aktivitasnya melihat-lihat daerah perkotaan Osaka lebih awal dan kembali ke hotel saat murid lain masih sibuk dengan kegiatan individu; hari ini memang dijadwalkan sebagai hari bebas. Rasa sakit itu pula yang membuatnya harus berdiam diri duduk di atas toilet hotel. Raut mukanya tenang, namun sekujur tubuhnya basah bukan main.

Shun selalu beranggapan kalau dirinya adalah pribadi yang tegas dan tidak mudah terpengaruh oleh orang lain. Akan tetapi, sementara jarum detik di jam tangannya masih berjalan, Shun mendapati dirinya masih saja bertanya-tanya mengapa Yamato bersikap demikian padanya, seakan ia tidak pernah menabrak pundaknya, seakan ia tidak pernah berada di sana, seakan mereka tidak pernah kenal—

Shun berkedut saat sakit kepalanya mendadak menyerang. Dia mulai bisa mendengarkan denyut jantungnya sendiri yang berdetak lebih kencang dari biasanya. Rupanya ia terlalu lama berpikir.


Malamnya, ketika Mizumachi memintanya—memaksanya—untuk menemaninya berenang di kolam renang hotel, Shun berkata dari tepi kolam, kedua kaki jenjangnya masuk ke dalam air, "Tadi siang aku ketemu Yamato."

Awalnya dia mengira Mizumachi tidak dapat mendengarnya lantaran tengah berenang dari tengah kolam menuju ke arahnya, namun lelaki berambut pirang itu memunculkan kepalanya dari dalam air, tak jauh dari kaki Shun. "Oh," timpalnya sembari memiringkan kepalanya, kemudian mengetukkan tangannya ke sana, berusaha mengeluarkan air dari telinganya. "Terus? Gimana?"

Shun membelalakkan matanya. Sedikit. Biasanya Mizumachi akan menggodanya atau merespon dengan lebih antusias. Berenang betul-betul membuatnya lebih tenang dan fokus.

"Dia pergi gitu aja, gak bilang apa-apa, padahal jelas-jelas dia liat aku," jawabnya, mencoba memutar kembali ingatannya. Sebelum berbalik meninggalkannya, Yamato sempat melirik ke arahnya.

Pandangannya bergetar.

Shun tahu betul ia hanya satu dari sekian pemain yang menyimpan rasa kagum serta frustrasi pada Yamato sebagai Eyeshield 21 di masa lalu. Kehadirannya di hidup Yamato bisa saja tidak sepenting keberadaan Yamato di hidup Shun. Meskipun berharap tidak demikian, Shun selalu mengingatkan diri sendiri untuk tidak meningkatkan ekspektasinya sejak menginjakkan kaki di tanah Jepang untuk melanjutkan pendidikannya.

Shun tahu.

Tetapi tidak memungkiri bahwa sakitnya bukan main.

Lain kali, dia tidak akan melakukan hal yang dilakukan Yamato. Cukup dia saja yang merasa seperti itu.

Kepalanya yang tertunduk serta pikirannya yang tidak berada di tempat membuat Shun nyaris tidak sadar bahwa Mizumachi menyelam tepat di bawahnya, baru tahu saat temannya itu memegang erat kedua kakinya lalu menarik—

Shun menimbulkan kepalanya ke atas permukaan air, mencoba mengambil napas yang tidak sempat ia tarik sebelumnya. "Mizumachi." Yang dipanggil menyengir sembari mengorek telinganya. "Udah dibilangin aku gak akan renang." Shun menunjuk kausnya yang basah menempel pada badannya. "Ini kaos baru sekali dipake."

"Sorry," balas Mizumachi, terkekeh, tidak mencerminkan apa yang baru saja dikatakannya. "Lagian sayang banget tidur di hotel yang ada kolam renangnya tapi gak renang. Besok juga kita udah balik lagi, kan?"

"Bilang dulu kalau mau narik, kan bisa lepas baju dulu."

"Namanya bukan surprise, dong?"

Shun hanya dapat menghela napas untuk ke sekian kalinya. Tanggung, akhirnya dia memutuskan untuk menanggalkan kausnya, menyimpannya di tepi kolam, dan berenang bersama Mizumachi hingga beberapa menit sebelum jam tidur.

Setelah membersihkan badan, tatkala berjalan di lorong menuju kamar masing-masing, Shun mengira Mizumachi tidak mengindahkan atau sudah lupa dengan apa yang ia coba bahas di kolam renang tadi, tapi tidak. "Mungkin tadi dia lagi buru-buru banget, atau bisa jadi dia yang ngira salah orang, mikirnya kamu bukan Kakei yang dia kenal?" katanya sambil memandang menerawang ke atas, tampak berpikir keras, seakan lampu-lampu yang menerangi lorong sepi ini bisa memberinya ilham. Shun mendengus pelan; Mizumachi teman yang baik walau mur di otaknya hilang satu atau dua atau sepuluh.

Pendapatnya terancam berubah lantaran Mizumachi bertanya, seringai jahil tersemat lebar di bibirnya, "Terus kamunya juga segitunya banget. Kenapa, sih? Sedih gak di-notice idol?"

Shun berusaha menyikut Mizumachi, semburat merah jelas di kedua pipinya. "Idol apaan."

Mereka tiba di depan pintu kamar Mizumachi; kamar Shun berada di daerah ujung lorong. Saat Mizumachi merogoh kunci dari dalam sakunya, tatapan mata Shun tertuju ke arah ujung lorong, di mana terdapat jendela besar yang mempertontonkan langit malam Osaka, dan bergumam pelan, nyaris seperti angin yang berbicara, "Emang gak penting kali, ya."

"Apa, Kakei?" Mizumachi menoleh. Pintu kamarnya sudah terbuka. "Kamu ngomong sesuatu barusan?"

"Nggak," jawabnya lebih cepat dari seharusnya. Kakinya sudah mulai melangkah maju. "Malem, Mizumachi."

"Malem, Kakei! Mimpi indah, ya!" Teriakan Mizumachi bergema di sepanjang lorong. Shun spontan berbalik kembali, berdesis. Ini sudah lewat jadwal tidur. "Jangan lupa minum obat!"

Mizumachi menutup pintunya sebelum Shun bisa membalas perkataannya.

Dia tetap menjawab, senyum tipis terulas di wajahnya yang biasanya minim ekspresi, "Iya."


Rasa sakit yang menggerogoti dadanya tak juga hilang. Kini malah ditambah dengan sakit kepala.

Tidak setiap saat, hanya ketika Shun mengingat kembali pertemuan tak sengajanya dengan Yamato Takeru, kepalanya akan mendadak berdenyut nyeri. Tak parah, tetapi membuatnya mempertanyakan apakah meminum obat nyeri setiap hari selama setahun terakhir tidak membuahkan hasil, padahal Shun yakin obat yang diresepkan dokter bekerja dengan baik pada luka dan lebam yang sempat menghiasi tubuhnya. Mempertanyakan apakah tiga bulan rehabilitasi, tiga bulan berhenti bermain Amefuto, dan enam bulan menahan diri agar tidak menunjukkan performa terbaiknya dalam bermain merupakan sesuatu yang sia-sia.

Idola—dia mengutip apa yang pernah dilontarkan padanya oleh Mizumachi mengenai Yamato Takeru—bukanlah istilah yang tepat. Susah digapai. Hanya dilihat untuk dipuja, untuk dilihat dari sudut pandang bahwa yang bersangkutan adalah pribadi yang baik, untuk dikagumi. Tidak salah kalau dia kagum, cuma kata rival nampaknya lebih cocok.

Mungkin tidak tercermin dari reaksinya setelah disuruh membaca tumpukan majalah bulanan American football oleh Hiruma ketika dulu masih terbaring di rumah sakit. Pemuda personifikasi iblis itu menanyakan nama setiap pemain. Shun mengernyit—Hiruma adalah pengunjung pertamanya selain keluarganya—tapi bisa menjawab dengan lancar hingga Yamato Takeru.

"Yamato Takeru, pemain Teikoku Alexanders, nomor 21, runningback—terus?" Seringai Hiruma sedikit turun. Kalau Shun tidak mengenalnya, Hiruma terdengar takjub. "Itu aja?"

"Iya," respon Shun pendek. "Emangnya kenapa?"

Kemudian Hiruma mengucapkan sesuatu yang Shun cari semenjak bermain Amefuto di Amerika Serikat sampai kembali ke Jepang, bahwa identitas asli Eyeshield 21 adalah Yamato Takeru. Di balik air mukanya yang berupa alis yang terangkat dan senyum yang perlahan merekah karena akhirnya tahu, jantung Shun serasa mau melompat keluar dari mulutnya, karena dia menonton Christmas Bowl, melihat sendiri Deimon Devil Bats yang berhasil meruntuhkan Sang Kaisar Agung. Rasanya informasi sepenting ini tidak mungkin luput darinya.

Dari sanalah Shun mendapati dirinya mengidap amnesia. Mulanya dia kaget, namun lama-lama terbiasa dengan ingatan yang mendadak didapatnya kembali. Kebanyakan mengenai Yamato, tetapi informasi mengenai lelaki tersebut yang dia tahu perlahan-lahan dari ingatannya itu seperti remahan roti—kecil. Seakan tidak berarti. Seakan memang mereka tidak pernah berbicara selain untuk bertegur sapa atau mengobrol tentang Amefuto. Segalanya adalah yang bisa diperoleh di lapangan atau sekitar stadion. Shun tidak memikirkan lebih jauh lantaran Yamato adalah salah satu tujuannya bermain Amefuto selama ini; tidak heran kalau dia sering memikirkan Yamato.

Iya, kan?

(Tidak menjelaskan mengapa ketika menjelang kelulusan, Shun punya ingatan mengenai dia dan Yamato yang saling melempar lirikan dan tawa kecil di satu makan malam bersama pemain timnas lainnya, padahal setelah kecelakaan dan Shun masih memegang posisi sebagai salah satu linebacker timnas, mereka tidak pernah melakukan hal demikian.

Dalam hatinya, Shun menampar diri sendiri, malu atas dirinya di masa lalu yang pernah berimajinasi seperti itu.)


Di hari pertama Shun mengikuti kegiatan klub pertamanya sebagai anggota Saikyoudai Wizards, dia mendapati dirinya bersalaman dengan Yamato.

"Ketemu lagi, ya, Kakei?" ucapnya ringan, tapi Shun menyadari ujung senyum lebar Yamato tidak sampai ke matanya atau bahkan mengangkat pipinya. "Sama kayak pas di timnas: mohon bantuannya."

Shun sudah berhenti mengonsumsi obat nyeri, tetapi rasa sakit di dada serta di kepalanya muncul kembali. Barangkali dia masih marah—atau kecewa?—atas insiden karyawisata waktu itu, yang mana Shun akhirnya putuskan untuk tidak pernah ungkit pada yang bersangkutan. Barangkali rasa sakitnya adalah sebuah pertanda dia akan mendapatkan potongan ingatannya lagi.

Akan tetapi, yang membuatnya terkejut bukan main adalah sensasi familiar yang dirasakannya saat berjabat tangan dengan Yamato. Shun mendapati dirinya tidak merasa asing dengan kapalan tangan Yamato yang merupakan hasil dari bertahun-tahun memegang bola, dengan setiap ruas jari dan garis tangannya—Shun seperti bisa menakar jarak garis tangan yang paling dekat hanya dengan meraba salah satu garis tangan secara acak. Padahal kali mereka pernah bersalaman bisa dihitung dengan jari.

Yamato menarik tangannya kembali sebelum Shun bisa mencerna apa yang baru saja terjadi. Pemuda berambut biru itu menggigit bagian dalam pipinya, merasakan seberapa panas wajahnya, baru sadar dia terlalu lama menggenggam tangan Yamato. Yang dipegang tidak menunjukkan ekspresi malu, namun garis senyumnya lurus, sebelum akhirnya terkekeh pelan, dan Shun menyadari Yamato adalah manusia dengan berbagai macam perasaan di balik perangainya yang penuh percaya diri.

"Santai aja, gak usah malu." Yamato menunjuk ke arah lapangan. "Yuk, kita siap-siap."

Sepanjang latihan, sepulangnya, sampai tiba di apartemennya, Shun masih dapat merasakan telapak tangan Yamato bersentuhan dengannya, seperti mereka tidak pernah saling melepaskan. Shun mulai berpikir apakah ingatan yang dia punya tentang Yamato selama ini bukanlah khayalan belaka.


Pertanyaannya terjawab keesokan harinya, diikuti dengan sakit kepala yang luar biasa hebat dan paru-parunya yang bersikeras mencari oksigen dan air mata yang mengucur deras hingga membasahi bajunya dan ingatan tentang sebuah pertengkaran di telepon tepat sebelum Shun menoleh di dalam gerbong kereta dan—


Pada latihan berikutnya, Takeru beberapa kali memandangi punggung Shun di dalam lapangan dan saat istirahat.

Beberapa orang menatapnya dengan tatapan aneh, seperti dia yang patut dikasihani. Hiruma nampaknya menganggap ini hiburan, lantaran dia sempat berbisik, seringainya seakan dia menemukan bahan ancaman baru, "Jangan ngeliatin banget, dong. Nanti gagal, Rambut Liar Sialan."

Nanti gagal.

Takeru bisa melakukan ini semua. Insiden di Osaka murni hanyalah sebuah kesalahan—dari Takeru yang terlalu berputus asa setelah diberi informasi oleh Hiruma—dan dia sudah melakukan yang terbaik sejauh ini. Kecelakaan kereta yang diumumkan pada segmen berita terkini sore itu memang bukan salahnya, tapi sebelumnya hubungan mereka sudah runyam, Shun pulang lebih awal sore itu agar lebih leluasa berkata-kata di telepon, diksinya lebih tajam dari biasanya, dan setelahnya hampir seluruh anggota Kyoshin Poseidon meminta Takeru untuk mengakhiri secara sepihak. Mereka tidak mengatakan lebih lanjut, tetapi Takeru dapat mendengar dengan jelas di telinganya, di sudut terdalam pikirannya, andai saja—

Takeru bisa melakukan ini semua. Shun dibelikan ponsel baru lantaran yang lama hilang di antara para korban. Takeru memblokir nomor ponselnya yang baru. Saat bertemu tatap muka, ia berusaha sebaik mungkin untuk tidak berinteraksi lebih dalam, bahkan ketika dia yakin ada sesuatu yang Shun ingin katakan di sela-sela obrolan mereka tentang strategi lapangan, ketika dia yakin pupil mata kebiruan itu menatap dengan rasa ingin tahu yang tinggi mengenai sesuatu di luar itu. Bukannya Takeru tidak mau—entah sudah berapa ratus hari dia habiskan dengan menepis pertanyaan apakah mereka bisa kembali seperti dulu kalau dia memilih untuk bersikap egois dan membocorkan semuanya.

Takeru bisa melakukan ini semua.

Akan tetapi, setelah latihan selesai, Shun menariknya ke dekat salah satu gedung fakultas yang sudah sepi, lalu memanggilnya dengan Takeru, bukan Yamato, sembari mengusap-usap jempolnya di punggung tangan Takeru dengan kepercayaan diri yang sebelumnya sudah lama hilang, dan pendiriannya runtuh.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Takeru tidak percaya dengan dirinya sendiri, karenanya dia memilih untuk terus tertunduk. Shun kini memegangi kedua tangannya yang mulai bergetar, sabar menunggu apa yang akan dikatakan atau dilakukannya.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga—

"Maaf," ucap Shun pada akhirnya.

Takeru refleks mengangkat wajahnya. Air muka Shun tidak enak dipandang baginya—pedih. Tinggi mereka yang hampir setara membuatnya terpampang jelas. "Harusnya aku yang minta maaf." Suaranya kini ikut bergetar.

"Nggak." Shun menggelengkan kepalanya pelan. "Aku udah tau semuanya."

Takeru tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Gelaknya terdengar menyedihkan. "Dan kamu masih minta maaf?"

"Iya, karena udah ngebiarin kamu ngelewatin semuanya sendirian." Shun menarik Takeru ke dalam pelukanya, masih kaku seperti dulu, seperti tidak pernah ada yang berubah dalam hubungan mereka sebelumnya. "Emang udah lama, tapi aku harap kita bisa balikan."

Mata Takeru melirik telinga Shun yang sudah merah bukan main. Sentuhan memang bukan bahasa kasih sayangnya. Waktu sudah menunjukkan petang, langit jingga hasil matahari terbenam semakin menggelap. Kedua tangan Takeru yang semula hanya menggantung di kedua sisi tubuhnya mulai terangkat. Ketika telapak tangannya berhasil menyentuh punggung Shun, rasa hangat menjalar dari dalam dadanya, dan Takeru berani untuk berpikir bahwa dia sudah kembali, Shun sudah kembali, dan mereka bisa memulai semuanya lagi.