Sebenarnya, cepat atau lambat pasti hal ini terjadi. Sekalipun mereka berada di negara yang berbeda, lingkup pekerjaan mereka masih seringkali berhimpit. Namun kedua belah pihak sangat berhati-hati agar tidak ada garis berpotongan. Tetap saja mereka tidak bisa saling menghindar selama-lamanya. Semakin tinggi karir, dunia semakin terasa sempit. Bukan kejutan bahwa akhirnya Oh Sehun dan Lu Han kembali bertemu.

Hanya saja, meskipun tahu, ia tidak berpikir ia akan pernah siap.

.

.

Sehun berusaha bersikap normal, bicara pada Jongin di sampingnya, menyesap sampanye dengan jumawa seraya menyapa wajah-wajah familiar. Pada pesta malam itu, Paris Fashion Week pertama setelah pandemi, semua nama besar dalam dunia fashion berlomba-lomba untuk memamerkan gaya masing-masing setelah kehilangan kesempatan untuk mematut diri selama hampir tiga tahun. Sehun sendiri datang atas undangan Dior dan Jongin atas undangan Gucci. Dari Jongin ia tahu, bahwa ada nama familiar yang diundang merek ekslusif itu.

Jongin tidak mengatakan apa-apa, hanya menunjukan nama itu di bawah daftar undangan, lalu meremas bahunya simpatik. Sudah bertahun-tahun yang lalu, ia bilang pada Jongin waktu itu, tidak masalah. Sehun tidak akan hidup di masa lalu. Ia bahkan sudah sempat menjalin hubungan dengan beberapa orang. Tentu saja semuanya sangat dirahasiakan, Sehun sudah berdamai dengan dirinya sendiri bahwa dia gay. Ia menyukai lelaki, terutama yang keras kepala dan melawan namun manis ketika di bawah ke kamar hotel. Karirnya akan habis sama sekali kalau sampai ketahuan, jadi dia berhati-hati sekali. Sebagai gantinya, dia dicap artis yang bersih, dan bahkan tidak memiliki skandal dengan perempuan.

.

Sehun melihat Luhan terlebih dahulu.

.

Lelaki itu masuk ke ruangan pesta dengan langkah percaya diri. Tapi bahkan setelah bertahun-tahun, Sehun masih mengenali gerak-geriknya. Bagaimana mata Luhan melebar ketika menoleh ke kanan dan kiri. Ia gugup, Sehun tebak, dan melihat gestur yang familiar itu membuatnya ingin tersenyum.

Ada beberapa orang lain yang didatangi Luhan. Kerumunan kecil beparah Asia Timur, Sehun menebak itu undangan dari Cina. Teman-teman Luhan yang sekarang.

Sehun menyesap sampanyenya. Ia hanya separuh mendengarkan, mengangguk, ketika Jongin berkata ia harus pergi sebentar, gilirannya untuk sesi photoshoot. Mungkin lima menit ia habiskan berdiri sendiri, ia tahu ia terlihat cocok berada di sana. Setelan Dior serba hitam dengan kemeja marun dan aksesoris platina, rambut hitamnya licin ke belakang menampilkan dahinya, rahang dan pipinya dipoles agar wajahnya tampak lebih keras. Ia tahu ia terlihat seperti supermodel di sana, tapi ia merasa canggung.

.

Akhirnya ia meletakan gelas kaca di baki pelayan yang lewat.

Akhirnya ia kabur ke kamar mandi, dengan langkah-langkah panjang, berusaha untuk pergi secepat mungkin tanpa terlihat melarikan diri.

.

Lorong yang menghubungkan aula pesta dengan toilet terasa panjang. Suara langkah sepatunya terdengar bergema di koridor sepi itu. Satu dua pelayan berpapasan dengannya, Sehun tidak melihat ke arah mereka.

Ia baru merasa sedikit lebih tenang ketika sudah masuk ke dalam kamar mandi. Suara keramaian pesta tidak terdengar dari situ, terpendam dinding tebal yang memisahkan ia dan ratusan orang lain. Sehun melangkah ke depan wastafel, menatap bayangannya sendiri. Ia terlihat tampan, ia terlihat lebih tua, lebih dewasa. Ia tidak mengerti kenapa di dalam dirinya, ia masih merasa seperti pemuda tanggung yang patah hati. (Sebenarnya ia tahu alasannya, tapi ia tidak mengerti kenapa meskipun roda waktu sudah berputar, ia sendiri masih berjalan di tempat?)

Setelah menghela nafas panjang, ia menyalakan keran. Ia mencuci tangan, menutupi semua permukaannya dengan busa sabun, membilas tiap jari dengan hati-hati. Suara air dari keran mengisi sunyi di tempat itu, menutupi suara langkah yang mendekat dan derit pintu yang terbuka. Sehun tidak mendengar, tapi ia melihat bayangan Luhan yang masuk dari cermin di atas wastafel.

Ia melihat bagaimana mata pemuda yang lebih tua itu melebar; melihat setelan bewarna merah muda dan rambutnya yang dicat pirang, melihat bibirnya membentuk senyum ragu-ragu muncul sebelum mengucap, "anyeong" pelan.

.

Gucci mendandani Luhan sehingga ia terlihat lembut seperti permen kapas, seperti malaikat. Ia ingat sekali bahwa dulu Luhan sempat benci sekali pada bagaimana SM menjualnya sebagai 'member yang paling cantik, lembut, rapuh'. Sehun ikut senang jika Luhan sudah bisa menerima kualitas dirinya sendiri, tidak lagi merasa bahwa ia kehilangan identitasnya sebagai seorang pria ketika diberikan pakaian merah muda.

.

Sehun terlalu lama memperhatikan pemuda itu sampai ia lupa membalas sapaan yang ditujukan padanya.

"Hyung."

(ia ingat dulu ia tidak suka memanggil hyung. Gege atau Lu-ge, di depan orang lain, karena kata dalam Bahasa Mandarin itu tidak terasa memisahkan usia mereka seperti ia menggunakan kata hyung. Tapi ketika mereka berdua, ia suka mengucap Luhan, Luhan, Luhan)

"Apa kabar?"

Basa-basi itu terasa kering di mulutnya. Tapi Luhan tersenyum lebih lebar, seperti merasa lega, dan Sehun merasa bangga pada dirinya sendiri.

"Aku baik. Bagaimana denganmu?" Luhan berjalan mendekat, meskipun masih ada jarak jauh di antara mereka, "Kalau tidak salah Jongin juga datang ke sini kan?"

Sehun mengangguk.

"Aku juga baik."

Lalu hening yang canggung mengisi jarak di antara mereka. Sehun memperhatikan wajah lelaki itu dengan seksama, mata jernih yang sangat disukainya, anting perak yang menghiasi telinga, bibir yang ia tahu sekali selembut mahkota mawar jika disentuh. Ia ingin menyentuh wajah itu.

.

Kata orang cinta pertama tidak akan bisa dilupakan. Kalau begitu ia mungkin dikutuk karena cinta pertamanya adalah Luhan, dan setelah mereka bertemu muka begini, Sehun tidak yakin ia pernah berhenti mencintainya.

"Uh," suara Luhan terdengar ragu juga, "tidak kembali ke aula?"

Sehun menggeleng.

"Aku mau bersembunyi sebentar."

Mendengar jawaban itu Luhan tersenyum lagi. Matanya menyipit dan ada kerutan di sudut matanya. Sehun masih hapal sekali.

"Tidak berubah, ya," ujar Luhan dengan nada ringan sambil beranjak ke urinal.

Sehun mengikuti langkahnya, menatap punggung pemuda itu. Entah karena merasakan tatapanya, atau mungkin karena Luhan baru ingat bahwa ada waktu di mana mereka bisa dibilang sepasang kekasih. Mungkin karena ia baru ingat bahwa Sehun menyukai lelaki. Apapun alasannya Luhan berhenti dan menoleh, ia terlebih canggung lagi. Sesaat ia tampak seperti ingin berkata sesuatu, mulutnya membuka, tapi tidak ada kata-kata yang keluar.

"Kenapa, hyung?"

Luhan tidak menjawab.

Sehun melangkah mendekat.

"Luhan," ia berbisik. Nama itu terasa seperti madu di bibirnya. Entah sudah berapa lama ia tidak pernah memanggil nama itu. Seperti sebuah tabu, nama itu tidak diucapkan oleh EXO, oleh orang-orang di agensinya; terlebih lagi di depan Sehun.

"Sehun."

Entah itu hanya imajinasinya, tapi ia merasa Luhan mengucap namanya dengan cara yang sama. Seolah merindukan nama itu bertahun-tahun, seakan selama ini mereka dikutuk untuk tak bisa saling memanggil dan akhirnya, akhirnya, kutukan itu terlepas.

"Lu," ia memanggil lagi, kali ini sambil melangkah mendekat.

Luhan bergeming. Mata mereka saling bertatapan dan Sehun ingin sekali mengecup kelopak matanya.

"Urusanmu tidak jadi?" tanya Sehun dengan nada iseng, senyum jahil menghiasi wajahnya. Ia melirik ke arah urinal, menjelaskan maksudnya. Rasa puas dan senang merekah di dadanya ketika melihat wajah Luhan memerah. Oh, pikirnya, jadi bukan hanya ia sendiri yang merasakan sesuatu dalam pertemuan yang tidak direncanakan ini. Fakta bahwa Luhan masih menyadari keberadaannya, tidak menepisnya sebagai lelaki lain, membuatnya senang. Ia tahu bahwa Luhan tidak sepertinya, Luhan masih menyukai perempuan. Ia tahu Luhan serius menyukai pacarnya sekarang, mungkin berniat menikahi perempuan itu malah.

.

Perlahan, hati-hati, ia mengangkat tangannya. Perlahan, dengan lembut, ia menangkup pipi Luhan. Begitu ujung jemarinya menyentuh kulit lembut pemuda itu, ia bisa merasakan Luhan gemetar dan menarik nafas panjang. Tapi ia tidak menolak, tidak pergi.

Sehun harus menunduk sekarang untuk melihat pemuda itu. Perbedaan tinggi mereka semakin jauh selang kepergian Luhan.

"Aku merindukanmu," bisiknya, "Bagaimana kabarmu? Apa kamu bahagia?"

Ada pantulan dirinya di mata Luhan dan Sehun merasa jantungnya seperti diremas. Ia sangat menyukai mata Luhan, bola mata jernih yang tidak pernah bisa berbohong. Segalanya terlihat di sana, keraguannya, mengilap ketika ia bahagia, redup ketika ia sedih, membara ketika ia marah.

Luhan mengangguk tapi tidak mengatakan apa-apa.

Jemarinya mengusap pipi pemuda yang lebih tua itu, kelopak matanya yang menutup ketika ia sentuh, lalu mengerjap terbuka ketika jarinya pergi. Ujung jemarinya seperti sapuan kuas di permukaan kulit, menyusuri tiap lekuk familiar seperti memperhatikan peta menuju rumah. Lalu ujung ibu jarinya menyentuh bibir bawah Luhan dan mulut kecil itu membuka sedikit, terkejut. Luhan menarik nafas tajam.

.

Tapi Luhan masih tidak mengatakan apa-apa, masih tidak menolak, masih tidak pergi.

.

Jadi perlahan, Sehun mendekatkan wajahnya. Jarak di antara bibir mereka sudah amat dekat ketika ia berhenti. Ia membuka matanya, menatap Luhan, cinta pertamanya. Mungkin bukan hanya pertama tapi selamanya.

.

Lalu perlahan Luhan menutup matanya dan Sehun menganggap itu izin untuk mencium bibirnya.