Disclaimer:

Aku bukan pemilik dari setiap karakter yang akan terlibat dicerita ini, aku hanya meminjam/menggunakan karakter tersebut. Semua karakter adalah milik pengarang mereka masing-masing.

Naruto milik Masashi Kishimoto dan High School DxD milik Ichiei Ishibumi.


[Arc 1: Magic Academy ]

[Chapter 1: Worst Type Magic - Bagian I: Kesedihan]


Hm… serius sihirku yang terburuk?

Hei coba perhatikan baik-baik!

Regenerasi Phoenix? Kau pasti bercanda!

Coba bayangkan diri kalian menjadi diriku saat ini, aku yakin kalian pasti akan berpikir bahwa aku sangat menyedihkan.

Ayah dan Ibuku berharap tinggi padaku tapi saat dilakukan pengecekan tipe sihir yang aku miliki… harapan itu berakhir dengan menyakitkan.

Iya, tipe sihir yang aku miliki adalah satu-satunya yang memiliki kelas rendah.

Repairing Magic, itulah tipe sihirku. Tipe sihir langka tapi dikategorikan sebagai kelas rendah, menyedihkan bukan?

Tipe sihirku hanya untuk memperbaiki benda rusak? Kata siapa?!

Aku Namikaze Naruto akan membuktikan bahwa Repairing Magic itu hebat, tidak percaya? Mari aku ajak kalian menyaksikan kisah penuh akan rasa sakit ini.

Kalianlah yang akan jadi saksi seberapa hebatnya Repairing Magic itu, ini adalah kisahku.

Lowclama!


Menghela nafas untuk yang kesekian kalinya, Naruto tidak habis pikir bahwa kehidupannya sekarang menjadi begitu suram. Berawal dari pengujian kapasitas mana, lalu diakhiri dengan pengecekan tipe sihir, huft~ melelahkan dan sangat menyedihkan.

Naruto berjalan lesu menuju bangunan asrama laki-laki, dia benar-benar tidak ada niat untuk melakukan aktivitas apapun setelah dua hal yang telah dia lewati beberapa jam sebelumnya.

Saat dalam perjalanan menuju asramanya, Naruto tidak sengaja menabrak seseorang karena dirinya berjalan sambil menunduk.

Bruk!

"Ah, maaf, aku tidak sengaja."

Berjalan pergi begitu saja tanpa melihat siapa yang dia tabrak karena memang dia berjalan pelan sehingga tidak mungkin orang yang dia tabrak itu terjatuh. Naruto terlalu stres memikirkan apa yang harus dia katakan pada Ayah dan Ibunya mengingat hasil dari pengujian kapasitas Mana dan pengecekan tipe sihir miliknya yang bisa dibilang bermasalah.

Berjalan dengan langkah lemas seakan dia bisa jatuh kapan saja jika tidak berpegangan, Naruto akhirnya bisa sampai ke kamarnya yang memiliki papan nama Namikaze Naruto setelah jatuh bangun dengan penuh drama.

"Aku harus bilang apa pada, Tō-san dan Kā-chan? Huh~"

'Jujur saja lah, dimarahi juga tidak masalah.'

Ckleck!

Membuka kunci kamar asramanya, setelah terbuka Naruto langsung masuk dan melepaskan sepatu yang dia kenakan lalu meletakkannya di lantai dibelakang pintu.

"Semoga saja Kā-chan tidak marah besar nanti."

Berjalan menuju ranjang tempat tidur sederhana miliknya, dia kemudian langsung menjatuhkan dirinya keatas kasurnya dan diam dalam posisi tengkurap.

Sring! Trank!

Ah, itu adalah suara alat komunikasi unik yang dibuat oleh seorang pengguna Crafting Magic, alat itu disebut Moco, entah dari mana datangnya nama itu tapi berkat adanya alat itu tidak perlu susah-susah ngirim surat, jika ingin bicara hubungi saja orangnya menggunakan alat bernama Moco itu yang bentuknya mirip jam tangan lalu bicara saja sepuasnya sampai Mana milikmu habis tidak tersisa. Ya, alat itu menggunakan Mana sebagai biaya komunikasinya.

Naruto yang mendengar suara alat Moco miliknya hanya mampu tersenyum hambar.

"Pasti mau bertanya tentang hasilnya, huah!~"

Naruto dengan enggan menekan tombol berwarna hijau di alat Moco tersebut dan secara otomatis Mana miliknya diserap oleh alat itu sedikit, tidak lama setelah itu terdengar suara sang Ibu yang langsung bertanya hasilnya.

[Bagaimana hasilnya, Dattebane?]

"Um, Kā-chan…"

Naruto ragu untuk mengatakan hasilnya pada sang Ibu yang menaruh harapan yang tinggi padanya bahwa dia akan menjadi Mage yang hebat suatu saat nanti, tapi nyatanya dia tidak memiliki kapasitas untuk memenuhi harapan orang tuanya itu.

[Ada apa, Naru-kun?]

"Ah, tidak… hanya saja…"

Naruto berguling untuk merubah posisinya menjadi telentang, dia kemudian menatap langit-langit kamarnya.

[Katakan saja, Naru-kun. Ada apa? Apa ada masalah?]

"Kā-chan, sebelum aku jawab pertanyaan Kā-chan… apa aku boleh bertanya sesuatu?"

[Hm, tentu saja Dattebane, memangnya Naru-kun mau menanyakan apa?]

Naruto menghela nafas untuk mempersiapkan diri, setelah dirasa cukup yakin, dia berbicara.

"Jika aku tidak bisa menjadi Mage, apa tanggapan Kā-chan?"

Sang Ibu, Namikaze Kushina terdiam mendengar pertanyaan putranya yang menyimpan masalah serius didalamnya.

"Kā-chan?"

Naruto terdiam dengan gelisah, dia tahu Ibunya pasti kecewa saat mendengar pertanyaannya. Ibunya itu pasti sudah menebak kemana arah pertanyaan yang dia tanyakan itu, hah~

Naruto menunggu sang Ibu menjawab, namun beberapa menit telah berlalu namun Ibunya itu masih tidak memberikan jawaban atas pertanyaannya, yang bertanya tentang tanggapan Ibunya jika dia tidak bisa menjadi seorang Mage.

[Naruto.]

"Tō-san?"

[Ada apa kau menanyakan tanggapan Kā-chan mu? Dan bukankah sudah jelas, kau pasti bisa menjadi seorang Mage yang hebat nantinya.]

"Huft~ Tō-san, aku akan jujur, Kā-chan juga dengarkan lalu berikan tanggapan kalian… kapasitas Manaku 1 poin, tipe sihirku Repairing Magic…"

Hening.

Itu hal yang wajar terjadi jika kalian terlalu terkejut akan sesuatu, berteriak ataupun mengeluarkan suara bukanlah tanda valid keterkejutan yang berlebih, justru terdiam mematung adalah tanda bahwa seseorang tengah terkejut, sangat terkejut.

"Aku tahu, kalian pas-"

Tut! Tut! Tut!

Diam, Naruto terdiam saat sambungan komunikasi itu terputus secara sepihak, dia terdiam dengan segala kemungkinan terburuk yang bisa dia pikirkan untuk ke depannya.

"Rasanya mereka seperti membuangku… kenapa?"

Naruto tidak tahu kenapa, tapi dia merasa bahwa orang tuanya seperti sudah membuangnya atau lebih tepatnya seperti akan meninggalkannya sendirian. Ini baru pertama kali terjadi, sambungan Moco dari Ibunya diputus sebelum pembicaraan selesai.

Naruto berharap apa yang dia pikirkan tidak menjadi kenyataan, mungkin kedua orang tuanya masih terlalu syok saat mendengar kabar darinya, saat menerima informasi darinya.

Naruto tidak tahu apa yang akan menantinya dimasa depan, dia akan segera sadar bahwa kedua orang tuanya telah diturunkan kedudukannya sebagai seorang bangsawan. Itulah aturan tidak tertulis di Kerajaan Starlight jika kondisinya saat ini diketahui oleh para bangsawan lainnya…

Satu minggu kemudian…

"Hey lihat, bukankah dia…"

"Pfftt hahaha!"

"Kau benar, seorang Loser terbaik tahun ini, hahaha!"

"Bisa-bisanya ada orang seperti dia di dunia ini, hahaha!"

Naruto hanya diam dengan kepala menunduk saat mendengar ejekan dan hinaan yang berterbangan disekitarnya. Sudah satu minggu sejak hari pengujian kapasitas Mana dan pengecekan tipe sihirnya, dia selalu mendapatkan ejekan dan hinaan, pandangan merendahkan dan bahkan dia mendapatkan julukan terhormatnya berkat hari itu juga, yaitu…

"Repairman, perbaiki pedangku yang patah, hehahha!"

"Mana bisa dia memperbaiki, mananya saja cuma satu, pfft hahhaha!"

"Hahaha!"

Yap, tukang reparasi, tukang servis benda rusak, tukang… yah tidak bisa apapun karena kapasitas Mana miliknya hanya satu poin, dia dikenal sebagai… The Worst Repairman.

Naruto berlari setelah suara ejekan itu semakin menyakiti batinnya, dia tahu sekarang alasan kenapa orang tuanya langsung memutus komunikasinya, karena jika dia sudah terkenal seperti sekarang maka otomatis orang tuanya akan hancur hanya gara-gara hal kecil yang disebut Failed.

Bruk!

Naruto terjatuh saat seseorang menjegal kakinya saat sedang berlari, dia tahu siapa orangnya, dia tidak tahu apa penyebabnya dan apa yang salah dari dirinya? Kenapa orang itu sampai melakukan kekerasan fisik padanya, penjegalan itu bukan satu-satunya yang dia alami, pemukulan, dan jenis kekerasan lainnya dia juga alami selama satu minggu terakhir ini. Dia marah, dia benci, dia ingin membalas orang itu dan orang-orang lainnya yang sudah menginjak-injak dirinya dan menghina kedua orang tuanya, tapi dia tidak punya kapasitas untuk membalas mereka, mereka adalah anak-anak para bangsawan, dan orang itu adalah anak bangsawan yang paling berpengaruh di Kerajaan ini, dia adalah Uchiha Sasuke.

"Heh, kalau lari yang benar, Pecundang."

Naruto mengeraskan wajahnya, tapi dia berusaha menahan diri agar tidak menerjang pemuda berambut model pantat ayam itu, dia akan kalah dalam waktu singkat jika melakukannya sekarang, dia harus menjadi kuat apapun caranya bahkan jika dia harus mengorbankan seluruh tubuhnya, ataupun menghancurkan jiwanya, dia akan tetap melakukannya, meski dia harus mati karenanya.

'Aku bersumpah pada diriku sendiri, akan aku balas dia, akan aku buat dia menjilat ludah yang telah dia ludahkan padaku dengan hina, akan aku pastikan itu terjadi ditempat itu, di dalam tempat yang bernaungkan nama dunia, The World Class Battle Turnament, The God of War!'

Perlahan Naruto bangkit, dia tanpa mengatakan apapun langsung berjalan dengan wajah dingin sedingin es. Naruto bukan orang yang memiliki hati mulia yang bisa memaafkan siapa saja, dia hanya anak manusia biasa yang bisa merasakan apa yang disebut kebencian, namun dia juga bukan orang jahat, dia hanya orang yang sadar akan dirinya sendiri dan keluarganya, jika mereka ingin Monster, maka dia akan menjadi Monster untuk mereka, karena Namikaze Naruto hanya menjadi malaikat untuk orang yang dia sayangi.

Waktu terus berjalan, Naruto tidak masuk ke dalam kelas sihirnya karena Repairing Magic miliknya tidak butuh teori ataupun praktek apapun, karena sihir itu begitu mudah untuk digunakan karena hanya memperbaiki benda yang rusak kembali pada keadaan yang semula.

Saat ini, Naruto sedang menyendiri di dalam perpustakaan, tidak ada orang di tempat penuh buku itu karena semua orang di Magic Academy tidak begitu memperdulikan buku-buku yang ada disana, hanya segelintir orang saja yang mau masuk ke dalam tempat itu.

Naruto duduk di pojokan, dia duduk di lantai benar-benar di pojok perpustakaan itu, dia menekuk lututnya dan menyembunyikan wajahnya sambil memikirkan bagaimana caranya dia menjadi kuat.

Sring! Trank!

Suara khas itu akhirnya muncul lagi setelah satu minggu tidak mendengarnya, tidak ada yang bisa menghubunginya kecuali orang-orang yang dia berikan kode khusus untuk menghubunginya dan itu hanya orang tuanya yang memiliki kode itu. Naruto mengangkat wajahnya, dia kemudian mengangkat tangan kanannya yang terkulai lemas ke atas lututnya dan menggunakan tangan kirinya untuk menekan tombol hijau pada Moco yang dia kenakan disana.

Naruto tidak berbicara, dia hanya diam menunggu orang tuanya berbicara, sekitar dua menit berlalu akhirnya orang tuanya mulai berbicara, lebih tepatnya ayahnya.

[Nak… ini bukan sebuah rahasia lagi di Kerajaan ini… wilayah Tō-san sudah jatuh dalam keterpurukan. Tapi dengarkan ini, meski sangat menyakitkan untuk menerima kenyataan ini, berjuanglah nak, disini Tō-san dan Kā-chan mu akan selalu mendukungmu, meski hanya lewat suara karena Tō-san dan Kā-chan mu ini sudah bukan lagi bangsawan.

Kami akan pergi ke Kerajaan lain, lebih tepatnya ke Kerajaan Camelot di benua barat. Tolong jangan membenci kami, kami pergi bukan karena ingin meningalkanmu, kami hanya ingin membangun kembali kejayaan klan Namikaze disana karena Tō-san dan Kā-chan mu punya teman disana yang bisa membantu kami, Tō-san dan Kā-chan mu akan membawa seluruh penduduk wilayah Namikaze dan sekarang kami semua sedang dalam perjalanan kesana.

Jaga dirimu baik-baik nak, Tō-san dan Kā-chan sangat menyayangimu dan seluruh penduduk klan Namikaze menunggu kesuksesanmu, setidaknya hanya itu yang bisa Tō-san dan Kā-chan mu lakukan untuk meredam amarah seluruh penduduk wilayah Namikaze yang jatuh akibat tersebarnya rumor tentang kapasitas Mana dan tipe sihirmu. Tapi ingat ini baik-baik nak, Repairing Magic bukanlah sihir sembarangan, hanya Tō-san dan Kā-chan mu yang tahu tentang kemampuan tipe sihir itu karena kami juga memilikinya disamping tipe sihir utama kami.

Kalau begitu sampai disini saja apa yang Tō-san ingin sampaikan, maaf sudah menelantarkanmu sendirian di Kerajaan Starlight. Sampai jumpa di Kerajaan Camelot. Datanglah menyusul kami jika kau sudah mampu dan kondisi klan sudah mulai pulih. Tō-san dan Kā-chan sangat mencintaimu, Naruto, anakku.]

Tut! Tut! Tut!

Setelah komunikasi itu terputus, Naruto kembali menunduk dan dia menangis.

"Tō-san… Kā-chan… maafkan aku… gara-gara aku klan Namikaze jadi terpuruk… maafkan aku… hiks… hiks…"

Tanpa Naruto sadari ada seseorang yang mendengar apa yang ayahnya katakan dan termasuk mendengar suara menyedihkan dari dirinya yang menangis. Orang itu mengepalkan tangannya dan meninggalkan perpustakaan sebelum keberadaannya disadari oleh Naruto, siapa orang itu? Tidak tahu.

Naruto terus menangis di pojok perpustakaan itu selama beberapa jam hingga akhirnya dia tertidur dengan posisi yang begitu menyedihkan, tubuhnya meringkuk, dia memeluk lututnya dan sesekali terdengar suara mengigau dari mulutnya yang memanggil kedua orang tuanya.

Naruto bagaikan anak kecil yang kehilangan orang tuanya, dia bagai anak yatim-piatu yang hidup terlantar di ibukota kerajaan, tidur ditempat yang tidak seharusnya, menangis dalam kesunyian, dan yang pasti… sendirian meringkuk dalam kedinginan, jauh dari orang lain yang hanya bisa menghina dan melecehkannya. Naruto hanya korban ketidakadilan, dia tidak pernah membuat masalah apapun terhadap siapapun, tapi kenapa orang lain bisa setega itu menyakiti nya, baik mental dan fisiknya telah jatuh dari ketinggian, jika sebelumnya dia anak yang ceria dan murah senyum, maka sekarang setelah apa yang dia alami itu, jangankan untuk peduli, wajah datar tanpa ekspresi adalah jawaban dari dirinya untuk siapapun diluar dari keluarganya, setidaknya sampai dia menemukan sesuatu yang disebut teman yang sebenarnya…

Perlahan namun pasti, kelopak mata yang menyembunyikan permata biru safir itu terbuka. Menampakkan warna biru yang tidak lagi cerah, mata yang seharusnya indah itu kini telah tertutup oleh kesedihan sehingga warna aslinya menjadi kusam.

Naruto terbangun dari tidurnya, dia bangkit dari posisi meringkuknya dan mendudukkan dirinya. Dia memperhatikan sekitarnya dan tidak ada siapapun ditempat itu kecuali dirinya. Naruto terdiam, dia tidak tahu harus melakukan apa sekarang, dia masih belum bisa berkonsentrasi dengan apapun yang dia tuju sampai dia kembali mengingat ucapan ayahnya sebelum dia tertidur.

Naruto bangkit, dia berdiri dan menepuk-nepuk celana dan seragam akademinya yang sedikit berdebu. Setelah selesai, Naruto mengamati rak-rak buku yang berada di dekatnya. Mata biru kusam nya melihat nama-nama kategori dari buku yang tersimpan di rak buku di sana, sampai dia berhenti di barisan buku dengan kategori buku sihir kelas rendah dan dia berjalan menghampiri barisan itu.

Naruto mencari. Satu demi satu dia cari buku yang membahas tentang Repairing Magic hingga akhirnya dia menemukan sebuah buku tipis yang berjudul 'Pengorbanan' dan dia membuka buku itu.

Pengorbanan, dengan mengorbankan bagian dari dirimu, kau bisa mewujudkan kekuatan apapun yang kau inginkan dengan batas waktu tertentu.

Naruto membaca kalimat demi kalimat yang tertulis dibuku tipis itu hingga akhirnya dia sampai dibagian akhir dari isi buku itu.

Korbankan dirimu dan dapatkan kekuatan yang melampaui batas, semakin besar pengorbananmu maka semakin besar juga kekuatan yang akan kau dapatkan, nyawamu adalah taruhan tertinggimu.

Naruto terdiam, setelah membaca kalimat terakhir itu, dia kemudian meletakkan buku itu kembali ke tempatnya semula.

'Pengorbanan, sihir terlarang yang bisa digunakan oleh siapapun dengan diri sendiri yang dijadikan korban. Sekali dikorbankan siapapun tidak akan bisa disembuhkan bahkan oleh Mystical Magic Recovery, sekalipun.'

Naruto terdiam memikirkan itu, dirasa tidak ada gunanya karena membutuhkan pengorbanan untuk mendapatkan kekuatan dia akhirnya melupakan sihir itu karena kekuatan yang didapat juga memiliki batas dan itu tidak berguna dengan bayaran yang sangat mahal.

Naruto kemudian kembali mencari tanpa menyadari bahwa letak buku yang habis dia baca itu seharusnya bukan ditempat buku sihir kelas rendah.

"Sudah aku duga buku yang membahas tentang Repairing Magic itu tidak ada disini karena sihir itu sangat mudah digunakan. Huh~"

"Kenapa Tō-san mengatakan tipe sihir itu bukan sihir sembarangan? Ah sudahlah, nanti aku tanyakan saja pada Tō-san atau Kā-chan. Untuk saat ini aku pergi menenangkan diri saja baru setelah itu berlatih."

'Terlebih lagi, aku harus mencari cara untuk menambah kapasitas Mana milikku yang hanya satu poin, huh~'

Dengan itu Naruto berjalan pergi dari lemari buku tersebut dan menuju pintu keluar perpustakaan, tujuannya tempat yang indah dan sepi sekaligus menyejukkan. Atap gedung Akademi yang selalu sepi dan bisa melihat pemandangan yang indah sekaligus bisa merasakan hembusan angin yang menyejukkan, suasana yang dibutuhkan oleh hati dan pikirannya saat ini adalah disana.

Keesokan harinya.

"Hya, hhat, hyat!"

Wush~ Wush~ Swush~

Ayunan pedang kayu itu membelah udara menimbulkan suara khas sesuatu yang terayun dengan kuat. Naruto saat ini sedang berlatih seni berpedangnya yang memang sejak sebelum dia masuk ke Magic Academy sudah dia miliki meski baru tahap pemula.

Lagi-lagi hari ini dia tidak masuk ke dalam kelasnya dan tidak ada yang peduli apa yang dia lakukan dan Naruto sendiri juga tidak peduli meski dia akan dikeluarkan dari akademi sekalipun karena tidak masuk disetiap pelajaran. Masuk pun juga percuma karena Repairing Magic sejak awal dibangunnya Magic Academy tersebut memang tidak ada pelajaran tentang sihir langka yang tidak berguna menurut semua orang di Kerajaan Starlight itu, setidaknya itu yang diketahui secara luas.

Repairing Magic adalah tipe yang baru beberapa tahun ini ditemukan dan tipe itu benar-benar tidak berguna menurut semua orang karena tanpa sihir itupun seseorang tetap bisa memperbaiki benda rusak apapun dan para bangsawan bahkan lebih memilih membuang benda-benda yang sudah rusak dan membeli yang baru ketimbang memperbaikinya.

Naruto tidak akan peduli dengan pendapat orang lain tentang sihirnya, selama ayah dan ibunya percaya bahwa sihirnya itu hebat, itu sudah cukup meskipun ayah atau ibunya tidak mau memberitahu apa yang membuat sihir itu hebat dengan alasan agar dirinya bisa lebih keras berusahanya untuk menggapai tujuannya.

Namikaze Style: Triple Slash

Naruto melakukan tebasan beruntun dengan kecepatan yang dia miliki, tebasan dari kiri atas ke kanan bawah begitu juga sebaliknya diakhiri dengan tebasan vertikal dari atas ke bawah.

Teknik sederhana yang membutuhkan kecepatan, namun untuk saat ini Naruto bisa dibilang tidak memiliki kecepatan yang dibutuhkan untuk memaksimalkan teknik tersebut.

Naruto sudah berlatih kurang lebih dua jam di Training Field khusus dirinya sendiri yaitu atap gedung Academy yang selalu sepi sehingga dia tidak akan terganggu oleh siapapun disana.

Keringat membasahi setiap inci tubuhnya karena cukup lama berlatih, apa lagi ditambah atap gedung itu panas saat ini karena matahari sudah berada diatas kepalanya.

Naruto menghentikan latihannya dan mendudukkan dirinya begitu saja, lalu merenung sambil menatap langit yang dihiasi awan putih yang bergerak perlahan.

'Hah~ hah~ aku masih jauh dari tujuanku, aku harus segera menemukan cara meningkatkan kapasitas Manaku sebelum mempelajari sihir-sihir perbaikan yang umum diketahui. Huft~ aku juga perlu memahami arti kalimat yang Tō-san katakan tentang Repairing Magic bukan sihir sembarangan.'

Naruto terus memikirkan itu sambil menatap langit, dia menikmati hembusan angin yang menerpa tubuhnya dengan lembut. Naruto memejamkan matanya dan menghirup udara sebanyak yang dia bisa, lalu menghembuskannya kesar sambil membuka matanya yang terpejam.

"Selain berpedang, sepertinya aku harus berlatih seni bela diri tangan kosong untuk menambah kemampuanku."

Bergumam pelan, Naruto kemudian bangkit dan melanjutkan latihannya tapi kali ini dia melatih seni bela diri tangan kosong miliknya.

Hari demi hari Naruto lewati dengan segala hinaan yang dia dapatkan, tapi dia berusaha mengabaikan mereka semua yang menghinanya, dia berusaha sabar dengan nasibnya saat ini, ya, untuk saat ini karena dia masih lemah.

Jika orang bilang pengguna Repairing Magic itu adalah sampah, maka dirinya sebagai pengguna akan menumpuk sampah-sampah itu hingga menjadi gunung. Apa maksudnya itu? Maksudnya dia akan menjadi gunung yang bisa meletus dan menghancurkan mereka yang tertawa terhadapnya. Sederhananya, dia akan balas dendam dengan caranya sendiri.

Naruto saat ini berjalan menuju ke perpustakaan untuk mencari buku yang mungkin bisa memberinya informasi tentang cara meningkatkan kapasitas Mana, dia sekali lagi mengabaikan kata-kata hinaan yang tidak perlu untuk ditulis, cukup bayangkan saja seburuk-buruknya yang bisa dibayangkan.

Sekitar lima menit dia berjalan, akhirnya pintu menuju perpustakaan sudah dapat dia lihat di depan sana. Naruto sedikit mempercepat langkahnya dan setelah sampai didepan pintu perpustakaan, dia berhenti dan menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan.

Naruto perlahan menggerakkan tangannya untuk membuka pintu perpustakaan itu, namun baru saja dia ingin menggenggam gagang pintunya, pintunya itu terbuka menampakkan seorang gadis cantik berambut hitam panjang berkacamata dengan wajah datar.

Naruto tahu siapa gadis itu, dia adalah gadis yang sama yang pernah menolongnya beberapa hari yang lalu dari penganiayaan para siswa lainnya, kalau tidak ditolong oleh gadis itu dia mungkin berakhir babak belur akibat dikroyok para siswa yang menurutnya tidak layak disebut siswa, mereka lebih cocok disebut bandit dari pada siswa academy.

Naruto menarik kembali tangannya dan bergerak ke samping bermaksud membiarkan gadis itu lewat. Mengerti maksud pemuda dihadapannya, gadis itu berjalan keluar namun tidak langsung pergi, dia berhenti sejenak dan mengatakan sesuatu.

"Kalau kau mencari Repairing Magic Book, di perpustakaan ini tidak ada, buku itu hanya ada di perpustakaan milik keluarga kerajaan. Permisi."

Naruto terdiam, dia menatap punggung gadis itu dalam diam, dia bertanya-tanya kenapa gadis itu mengatakan itu? Tidak ingin ambil pusing, Naruto memilih untuk mengesampingkan tentang buku yang dimaksud oleh gadis itu karena tujuannya saat ini adalah mencari informasi tentang cara tercepat meningkatkan kapasitas Mana miliknya, dengan begitu mungkin dia bisa melakukan sesuatu dengan sihirnya. Contohnya mencari senjata legendaris yang rusak terus perbaiki dengan sihirnya atau mempelajari sihir-sihir Repairing baru yang belum pernah ada, mungkin yang satu itu boleh juga.

Naruto melangkah memasuki perpustakaan dan membatin.

'Repairing Magic, sihir perbaikan? Apakah sihir ini berhubungan dengan semua jenis kerusakan? Aku hanya bisa mencoba jika kapasitas Mana milikku mencukupi, huh~'

[To Be Continue]

Author Note:

Um… halo. Aku cuma iseng aja pengen bikin cerita kayak gini, maaf kalau gak bagus ya.

Cerita ini aku bikin karena kepengen aja, lanjut gak lanjut tergantung nanti belakangan hehe :v

Jangan terlalu berharap, n sampai jumpa…

Cyaaa In Next Chapter!

Azking's v2 Out!!!