Disclaimer:

Aku bukan pemilik dari setiap karakter yang akan terlibat dicerita ini, aku hanya meminjam/menggunakan karakter tersebut. Semua karakter adalah milik pengarang mereka masing-masing.

Naruto milik Masashi Kishimoto dan High School DxD milik Ichiei Ishibumi.


[Arc 1: Magic Academy ]

[Chapter 2: Worst Type Magic - Bagian II: Teman ]


Sudah satu jam Naruto berada di perpustakaan, dia sudah membaca cukup banyak buku namun semua informasi yang dia dapatkan belum bisa berguna untuknya saat ini.

Naruto menutup bukunya yang kesekian, dia menghela nafas setelah selesai membaca buku berjudul 'Kristal Sihir' itu. Naruto menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi yang dia duduki lalu terdiam sambil berpikir.

'Semuanya butuh kekuatan untuk meningkatkan Mana, satu-satunya yang tidak sulit hanya dengan berlatih.'

Naruto menatap langit-langit perpustakaan dengan ekspresi lesu diwajahnya, dia kemudian berdiri dan melakukan peregangan untuk melemaskan otot-ototnya yang sedikit kaku karena duduk cukup lama, setelah itu dia mengambil semua buku yang habis dia baca dan berjalan untuk mengembalikan buku-buku itu ke tempatnya semula.

Setelah buku terakhir selesai dia simpan ditempatnya, Naruto kembali mencari buku lainnya di rak buku dengan kategori khusus dimana buku-buku di rak itu berisi buku yang ditulis oleh seseorang dan bukan buku umum. Setelah beberapa saat mencari dia akhirnya menemukan buku yang dia butuhkan sekarang yang memiliki judul 'Boost of Mana' karena setelah Naruto membuka buku itu dia langsung disuguhkan sebuah kalimat yang begitu menarik perhatiannya.

Jumlah Mana milikmu sedikit? Jika seperti itu coba cara-cara dibawah ini untuk meningkatkan kapasitas Mana milikmu dengan cukup cepat.

No. 1: Berlatih

Berlatih adalah cara termudah untuk meningkatkan kapasitas Mana milikmu dan dengan berlatih kau akan memiliki visualisasi pengalaman yang mengagumkan dari seorang yang pekerja keras. Metode latihan untuk setiap orang berbeda meski terkadang ada yang sama tergantung seberapa cepat perkembangan Mana milikmu saat berlatih.

Apakah perkembangan Mana milikmu cepat? Lambat? Atau biasa saja? Ayo coba metode dibawah ini.

Jika perkembangan Mana milikmu cepat, cobalah untuk fokuskan latihanmu terhadap fisikmu dan seni bertarungmu.

Jika perkembangan Mana milikmu lambat, cobalah untuk fokuskan latihanmu terhadap spiritualmu, karena terkadang perkembangan Mana yang lambat dipengaruhi oleh kurangnya daya tahan jiwamu. Daya tahan jiwa, adalah suatu hal yang sangat penting untuk dimiliki karena dalam pertarungan hidup dan mati, daya tahan jiwamu lah yang akan menentukan hidup matimu, hal ini sama dengan siapa yang menyerah pertama dialah yang kalah.

Untuk meningkatkan daya tahan jiwamu kau harus melatih mental, ketenangan, konsetrasi, dan semua hal yang berhubungan dengan spiritualitas. Solusi terbaik untuk melatih semua itu kau membutuhkan kesabaran dan tekad yang kuat karena tanpa kedua hal itu kau pasti tidak akan tahan berlama-lama berdiam diri dalam kesunyian kecuali untuk latihan mentalmu yang bisa kau latih dilingkungan hidupmu seperti menghadapi monster yang lebih kuat darimu atau menerima serangan yang langsung menuju batinmu.

Jika perkembangan Mana milikmu biasa saja, cobalah untuk berusaha lebih keras lagi dibandingkan dengan biasanya, seperti memperpanjang waktu latihanmu dan mencoba berbagai metode latihan fisik dan spiritual yang sesuai denganmu. Karena kau adalah orang yang normal maka tidak perlu ada yang harus kau khawatirkan, jadi berusahalah.

Naruto yang sudah selesai membaca cara pertama terdiam dan membatin.

'Latihan mental ya… ironisnya mereka malah jadi guruku secara tidak langsung, haha…'

Naruto tertawa hambar mengingat apa yang dia alami beberapa hari belakangan ini. Dia kemudian kembali membaca cara kedua yang menurutnya sangat mudah dan sangat sulit, itu karena...

'Yang kedua lewat, aku tidak punya banyak uang untuk membeli item peningkat kapasitas Mana. Berikutnya.'

No. 3: Kontrak Monster

Jika kau termasuk ke dalam golongan orang-orang yang nekat, cobalah cara yang satu ini, meski sangat tidak disarankan karena taruhannya adalah nyawamu.

Rank atau apapun milikmu tidak akan mempengaruhimu, tidak ada syarat khusus untuk melakukan Kontrak Monster. Semua orang bisa melakukan kontrak dengan Monster apapun dengan nyawa sebagai taruhannya karena kaulah yang akan mencari Monster yang ingin kau kontrak dan itu harus mempertaruhkan nyawamu untuk menghadapi bahaya yang sangat besar. Jika kau ingin melakukan Kontrak Monster pastikan kau melakukannya dengan Monster yang memiliki kecerdasan karena kau mungkin bisa bernegosiasi dengannya. Setelah kau melakukan kontrak dengan Monster kapasitas Mana milikmu akan setara dengan Monster yang kau kontrak tergantung metode yang mana yang kau gunakan.

Ada beberapa metode untuk melakukan Kontrak Monster, coba baca dibawah ini.

No. I: Kontrak Sihir

Yang pertama ini adalah metode khusus untuk yang memiliki tipe Mystical Magic. Dengan sihir, pengguna bisa melakukan sihir kontrak pada siapapun dan sihir kontrak ini akan membuat pengguna dapat mengakses Mana milik siapapun yang dikontrak, pengguna bisa memberikan, menerima dan bahkan mengambil Mana seseorang secara permanen sehingga kapasitas Mana siapapun yang dikontrak akan tersisa satu poin.

No. II: Kontrak Darah

Untuk yang ini bisa dilakukan oleh siapapun, mudah cepat dan tidak butuh Mana, hanya saja metode yang satu ini memiliki keterbatasan yang dimana keterbatasan ini membuat pengguna metode hanya bisa meminjam Mana bukan meningkatkan kapasitas Mana miliknya sendiri.

No. III: Kontrak Jiwa

Yang satu ini kau akan menggabungkan jiwamu dan jiwa Monster yang ingin kau kontrak. Syaratnya adalah kau dan Monster yang ingin kau kontrak harus sepakat untuk berbagi nyawa karena kontrak jiwa ini sama saja dengan menggabungkan dirimu dengan Monster tersebut dan kau dan Monster tersebut akan saling terhubung secara batin, bisa dibilang dirimu adalah tubuh Monster yang kau kontrak sedangkan jiwa Monster yang kau kontrak adalah jiwamu.

Dengan metode ini kapasitas Mana milikmu akan setara dengan Monster yang kau kontrak dan kaulah yang memegang kendali atas kekuatan Monster yang kau kontrak, meski terkadang Monster yang kau kontrak justru malah ingin mengambil alih tubuhmu untuk dia kendalikan sendiri, ini adalah resiko yang kau dapatkan jika kau melakukannya. Kau juga bisa lepas kendali atas dirimu sendiri dan mungkin berakhir membunuh orang yang kau sayangi, pikirkan baik-baik jika kau ingin melakukannya.

Naruto kemudian terus membaca buku itu sampai habis dan setelah sampai diakhir dia melihat sesuatu yang mengejutkannya.

Boost of Mana, ditulis oleh Jiraiya.

'Jiraiya, Guru Tō-san dan Kā-chan.'

Naruto terdiam setelah mengetahui siapa yang menulis buku Boost of Mana tersebut, didalam buku itu juga tertulis daftar item-item peningkat kapasitas Mana namun membutuhkan biaya besar untuk membelinya karena itulah Naruto hanya membaca cara yang tidak membutuhkan biaya namun satu-satunya yang bisa dia lakukan hanya berlatih.

'Kontrak Monster. Jangankan untuk mencari Monsternya, keluar dari lingkungan Academy ini saja sudah susah, ini tidak berguna untukku, aku juga tidak ingin bergabung dengan Monster dengan cara ketiga, tapi cara kedua boleh juga karena kondisi yang aku butuhkan hanya agar aku bisa menggunakan sihirku disamping melatih fisik dan latihan spiritual.'

Naruto kemudian menghela nafas pelan dan mengembalikan buku hasil karya Jiraiya tersebut yang sangat jelas berasal dari pengetahuan orang tersebut. Dia kemudian melangkah pergi menuju keluar perpustakaan karena dia sudah mendapatkan apa yang dia cari untuk meningkatkan kapasitas Mana miliknya, yaitu latihan.

Di atap gedung Academy kini terlihat Naruto sedang duduk bersila sambil memejamkan matanya dengan kedua tangannya dia letakkan diatas lututnya. Ya, dia saat ini sedang menerapkan metode latihan yang dia dapatkan dari buku buatan Jiraiya tadi, dia sedang melatih konsentrasi dan ketenangannya meski sesekali alisnya berkedut gara-gara dia tidak tahan dengan posisinya saat ini, apa lagi terkadang deru nafasnya juga tidak stabil, ketika dia ingin tenang dia justru bernafas lebih lambat sedangkan jika saat sudah bernafas dengan lambat beberapa saat berikutnya dia akan menarik nafas dengan rakus seakan-akan dia kehabisan oksigen. Sulit baginya untuk tenang dengan kondisi seperti itu, apa lagi tidak ada orang berpengalaman yang melatihnya jadi dia hanya mengikuti instingnya saja meski tidak tahu bagaimana cara yang benar untuk melatih ketenangan yang merupakan awal dari konsentrasi.

Cukup lama Naruto berada diatap untuk melatih ketenangan dan konsentrasi miliknya, dia melupakan sesuatu yang penting untuk dilakukan oleh semua mahluk hidup yaitu…

Kruuyuk~?

Perutnya berbunyi karena hari sudah semakin gelap dan sejak sarapan pagi di kantin sampai sekarang dia belum makan apapun sama sekali. Naruto membuka matanya dengan perlahan dan dia menghela nafas pasrah.

"Sepertinya melatih ketenangan sulit sekali, rasanya tidak nyaman. Memang benar untuk melatih aspek ini membutuhkan tekad dan kesabaran. Tanpa tekad seseorang pasti menyerah dan tanpa kesabaran seseorang tidak akan bisa tenang, huh~ lebih baik aku pergi ke kantin untuk mengisi perutku."

Dengan itu Naruto berdiri dan melakukan sedikit peregangan lalu pergi dari atap menuju tempat makan untuk semua siswa-siswi di Academy tersebut.

Tidak perlu dijelaskan lagi, saat dalam perjalanan ke kantin dia langsung disambut dengan meriah oleh para penggemarnya dengan kata-kata 'pujian' yang menakjubkan. Naruto sekarang memperlambat langkahnya agar semakin lama mendengar kalimat demi kalimat yang begitu 'Wah' tersebut, yang berterbangan di sekitarnya seakan kalimat itu adalah sebuah lantunan lirik lagu kematian saking 'Wah' nya.

Abaikan itu, mari segera beralih ke kantin.

Sesampainya di kantin, Naruto juga disambut oleh berpasang-pasang mata yang memandangnya dengan berbagai jenis pandangan, seperti merendahkannya dan lain sebagainya meski ada dua orang yang saat ini sedang menatapnya iba, jika ingin tahu, tunggu sampai waktunya tiba.

Naruto mengabaikan hal itu, setidaknya peraturan di kantin melarang adanya kata-kata mutiara jenis apapun jadi hanya di kantin tempat yang cukup aman dari kalimat pujian para penggemarnya itu.

Naruto pergi untuk memesan karena memang semua siswa-siswi disana sudah memesan semua jadi tidak perlu antri. Setelah memesan makanan paling murah yang bisa dia pesan karena dia ingin berhemat, karena tidak ada pemasukan, dia perlu mencari cara untuk mendapatkan uang karena orang tuanya sudah tidak mungkin lagi untuk mengiriminya uang bulanan karena yah… mereka sudah pergi sebelum seluruh harta milik klan di ambil oleh seseorang.

Setelah memesan Naruto pergi mencari tempat duduk dan dia menemukan satu yang kosong di pojokan kantin, sejak kapan ada tempat duduk di pojokan kantin? Naruto mengangkat bahunya tidak peduli. Dia langsung saja berjalan ke tempat duduk itu sambil membawa makanan yang dia pesan. Setelah sampai dia berniat untuk meletakkan makanannya di atas meja dan untungnya dia mendengar suara seorang siswa yang berbisik dan dia terselamatkan, pasalnya tempat duduk itu ternyata adalah ilusi.

Huh~ menghela nafas, dengan pasrah dia memutuskan duduk di lantai dan makan dalam kesunyian diri sendiri sekaligus ditemani melodi kasar nyamuk yang berdengung disekitarnya.

'Latihlah mentalku kalian semua, suatu saat kalian akan menyesal karena tidak menyadari bahwa kalian telah menempa mental baja yang tidak akan gentar oleh apapun.'

Malam.

Di kamar asrama Naruto, kini pemuda berambut pirang itu sedang mencoba latihan seperti yang dia lakukan tadi sore. Latihan itu sederhana tapi untuk bisa menghasilkan sesuatu dari latihan itu cukup menguras kesabaran, kalau saja dia tidak punya cukup kesabaran sudah berteriak dia dari tadi karena dia masih kesulitan untuk tenang. Seandainya Naruto sadar, dia hanya perlu melatih pernapasannya agar stabil terlebih dahulu tapi yah sudahlah, itulah keterbatasan tidak memiliki guru yang membimbingnya.

Waktu terus berjalan, melintasi kegelapan malam untuk mencari jalan keluar dari kegelapan itu, untuk menemukan sang cahaya yang sedang tertidur dipelukan sang kegelapan.

Naruto berhasil tenang setelah ratusan kali gagal, dia terus dalam posisi bertapa diatas ranjangnya sampai tertidur karena mengantuk dan karena memang sudah terlalu larut malam untuk terbangun, dia bukan orang yang kuat untuk begadang semalaman.

Pagi.

"Hoaam~"

Naruto terbangun dari tidur dalam posisi duduk bersilanya, tidak perlu jam alarm untuk membangunkannya karena dia sudah terbiasa bangun pagi. Bukan gara-gara dia kebiasaan itu dia miliki, salahkan ibunya yang selalu mengibarkan bendera merah darah yang melambai-lambai untuk berperang dengannya jika tidak bangun.

Mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu dia menguceknya perlahan.

"Sudah pagi, ugh… tubuhku kaku gara-gara tidur seperti ini."

Naruto turun dari ranjangnya dan berdiri, lalu melakukan peregangan.

"Hari ini apa yang harus aku lakukan?"

Dia berpikir cukup lama sampai akhirnya dia mengangkat bahunya tanpa dapat apa-apa dari pemikirannya kecuali latihan.

Berjalan santai di pagi itu. Itu adalah pagi yang indah seharusnya, tapi melihat situasi yang dia hadapi saat ini membuatnya mau tidak mau hanya mampu menyiapkan diri karena…

"Hey, ingin bertarung denganku?"

Nada meremehkan itu meluncur keluar dari mulut seorang pemuda berambut model pantat ayam yang dia benci, Uchiha Sasuke. Tapi anehnya pemuda itu kali ini sendirian saja biasanya membawa beberapa teman-temannya yang hobi merendahkan orang lain.

"Uchiha Sasuke. Kali ini kau sendirian? Tidak membawa budak-budakmu itu bersamamu?"

Naruto membalas tatapan Sasuke dengan nada yang menyimpan hinaan didalamnya yang tentunya disadari oleh pemuda keturunan bangsawan Uchiha tersebut.

"Heh, untuk menghajarmu aku tidak perlu mereka."

Sasuke membalas datar, dia menatap Naruto dengan seringaian meremehkan.

"Begitu. Maaf saja aku tidak berniat bertarung. Permisi."

Mengatakan itu, Naruto melangkah pergi namun baru satu langkah dia ambil Sasuke sudah ada di depannya dengan sebuah pukulan.

Buagh!

Naruto menahan pukulan itu dengan menyilangkan lengannya.

"Hoo, sepertinya kau sudah bisa menahan seranganku sekarang, Pecundang."

Naruto tidak membalas, dia melompat mundur mengambil jarak dari Sasuke. Naruto menatap tajam pemuda berambut model pantat ayam itu.

"Ayo lihat seberapa hebat Martial Arts milikmu, Pecundang."

Setelah mengatakan itu Sasuke melesat cepat kearah Naruto dan melancarkan serangan bertubi-tubi yang berhasil Naruto hindari maupun tahan. Pertarungan itu tidak seimbang dari segi kekuatan tapi dari segi pemahaman sepertinya Naruto lebih unggul dari Sasuke terbukti saat Sasuke terkena pukulan demi pukulan dari Naruto yang bisa dibilang cukup kuat untuk seorang pemula dalam seni bela diri tangan kosong. Naruto bisa menyarangkan pukulan ke tubuh pemuda itu karena dia memahami pola serangan Sasuke sedangkan untuk dirinya, dia menggunakan serangan acak yang tidak bisa diprediksi.

Buagh!

Buagh!

Jual beli pukulan itu terjadi cukup lama sampai mereka melompat mundur mengambil jarak aman dari masing-masing. Terlihat ditubuh mereka berdua terdapat memar disana sini terutama diwajah Sasuke karena sepertinya pemuda itu tidak terlalu fokus saat menghindar.

"Harus aku akui, kau cukup hebat di Martial Arts, tapi itu tidak cukup untuk membuatmu menang dari seorang Mage."

Sasuke mengatakan itu dengan datar sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah karena sedikit kelelahan. Naruto sedikit lebih baik dari Sasuke kondisinya karena dia memang cukup bisa mengatur nafasnya, mungkin berkat latihannya semalam, siapa yang tahu.

"Aku tidak bisa menjadi Mage berkat sihirku, hanya tubuh ini yang bisa aku gunakan untuk menyerang."

Naruto membalas sambil menegakkan tubuhnya yang sebelumnya sedikit membungkuk. Dia menatap Sasuke yang juga menegakkan tubuhnya, mereka berdua saling tatap sebelum.

"Aku akan menghancurkanmu, Namikaze Naruto!"

"Seharusnya itu kalimatku, Uchiha Sasuke!"

"Hyaaat!!"

Mereka berdua terus bertarung dengan tangan kosong. Sasuke sepertinya memiliki suatu tujuan tertentu melakukan pertarungan itu dengan Naruto yang merupakan siswa yang disebut Loser terbaik tahun ini, entah apa tujuannya.

Pertarungan itu berlangsung selama kurang lebih tiga puluh menit sebelum akhirnya Naruto dikalahkan karena Sasuke menggunakan mata sakti klan Uchiha yang bisa membaca pergerakannya.

Sharingan itulah nama mata itu, mata itu merupakan Bloodline klan Uchiha yang bisa membaca pergerakan lawannya tiga detik lebih cepat dan masih memiliki kemampuan lain yang tidak diketahui oleh masyarakat luas. Mata itu termasuk ke dalam tipe Mystical Magic.

Jika ingin tahu, aku katakan seseorang bisa memiliki lebih dari satu tipe sihir dan klan Uchiha adalah klan bangsawan yang selalu memiliki lebih dari satu tipe sihir meski tipe sihir utama mereka adalah elemen api.

Naruto terbaring tidak sadarkan diri sedangkan Sasuke masih sadarkan diri meski kondisinya saat ini terbilang hancur, dia memiliki luka di wajahnya dan dari sudut bibirnya mengeluarkan darah, hari itu adalah hari pertama Uchiha Sasuke sang Mage jenius babak belur akibat bertarung dengan tangan kosong yang bukan keahliannya dan dia disadarkan oleh fakta itu, dia kekurangan aspek dalam pertarungan jarak dekat karena itulah berikutnya dia akan menjadi kuat di segala aspek, sihir maupun yang lainnya.

"Engh~ ugh… tubuhku sakit semua."

Naruto terbangun dari pingsannya dia kemudian mendudukkan dirinya lalu mengedarkan pandangannya kesegala arah dan menemukan dirinya berada di ruang kesehatan Academy, yang saat ini juga ada dua orang pemuda sedang terbaring di ranjang lain di ruang kesehatan Academy tersebut. Kedua pemuda itu, satu memiliki rambut coklat model mirip Captain Tsubasa sedangkan yang satunya lagi memiliki rambut hitam model mangkok. Dia tahu siapa mereka, yang berambut coklat itu bernama Hyōdō Issei sedangkan yang berambut model mangkok itu bernama Rock Lee. Mereka berdua kurang lebihnya mirip dengan dirinya, hanya saja mereka berdua adalah siswa tahun kedua sedangkan dirinya tahun pertama.

Hyōdō Issei itu memiliki tipe Body Magic, sedangkan Rock Lee juga sama saja dengan Issei, yang membedakan mereka berdua hanyalah, Issei payah dalam berlatih sedangkan Lee terlalu over dalam berlatih, ya mereka berkebalikan. Sedangkan dirinya sendiri berada ditengah-tengah mereka berdua.

"Sepertinya aku kalah lagi dan berakhir babak belur… huah~"

Naruto perlahan turun dari ranjangnya, dia kemudian berdiri lalu melangkah untuk keluar dari ruangan tersebut sebelum satu-satunya pengurus ruangan kesehatan Academy tersebut muncul entah dari mana dan memberikan ceramah penuh makna yang isinya begitu bermanfaat bagi mentalnya.

Satu langkah dia ambil, dua langkah, tiga langkah dan…

"Namikaze-kun, kau mau kemana?"

Oh, sial bagi Naruto karena seperti biasa setiap tiga langkah orang itu muncul entah dari mana, dia adalah seorang wanita berambut coklat sebahu yang menjadi pengurus ruangan kesehatan tersebut, wanita itu bernama Shizune.

Naruto dengan gerakan pelan menoleh kearah sumber suara tersebut dan dengan wajah datar dia menjawab.

"Latihan."

Dan tambah sial bagi Naruto karena wajah wanita itu langsung saja menjadi horor lalu sebuah kalimat ajaib meluncur mulus dari mulut wanita itu.

"Kembali berbaring disana dan bersiaplah menerima pelajaran!"

Yah, pelajaran yang dimaksud adalah nasehat orang dewasa untuk remaja 17 tahun seperti dirinya. Membosankan, namun bermanfaat.

Setelah mendengar ceramah panjang lebar dari Shizune, Naruto harus terpaksa berdiam diri di ruang kesehatan tersebut karena luka-luka ditubuhnya belum sembuh dan wanita itu tidak mau menyembuhkannya dengan Healing Type Magic miliknya, huh~

Apa alasannya coba?

"Sepertinya hari ini adalah hari sial lain bagiku."

Naruto bergumam pelan dengan nada pasrah.

"Ugh… sakit… huh? lagi-lagi tempat ini, huft~"

Issei terbangun dan dia meringis kesakitan saat menggerakkan tubuhnya, dia duduk lalu menatap sekitar sampai pandangannya terhenti di Naruto yang sedang diam dalam posisi terbaring telentang menatap langit-langit ruangan.

Issei tahu siapa pemuda itu, dan sejak hari pengecekan kapasitas Mana dan tipe sihir telah selesai pemuda itu sering sekali terbaring diranjang itu dan lagi-lagi dia tahu apa penyebabnya. Issei menghela nafas lalu terdiam menatap langit-langit ruangan itu.

"Sungguh dunia yang kejam ya, Namikaze-san."

Naruto yang mendengar itu melirik kearah Issei, dia tidak merespon apapun karena dia merasa pemuda itu belum selesai berbicara.

"Padahal kapasitas Mana bisa bertambah dan tipe sihir bisa dikembangkan, tapi kita harus menderita karena hal kecil seperti itu."

Naruto menatap langit-langit ruangan, dia kemudian menghela nafas. Issei memang bukan temannya, tapi seniornya itu sama dengan dirinya karena itulah dia bisa mengobrol dengan pemuda itu meski dia hanya bertemu di ruang kesehatan tersebut. Naruto yang baru bergabung dengan pemuda berambut coklat dan model mangkok itu di dunia penuh rasa sakit dan hinaan dan dalam waktu sesingkat itu dia sudah merasa tertekan meski berkat kata-kata ayahnya yang mendukungnya, dia bisa bertahan, seandainya dia tidak mendengar kata-kata ayahnya itu mungkin dia sudah menyerah dan bunuh diri karena terlalu menyakitkan. Dan kedua seniornya itu sudah lama mengalami penindasan yang seperti dirinya alami sekarang.

"Senpai, aku pikir mereka hanya terlalu bodoh untuk melihat potensi besar yang dimiliki oleh kita,"

Issei menoleh menatap juniornya tersebut, dia terdiam menunggu kelanjutan dari perkataan pemuda pirang itu karena dia sadar perkataan pemuda itu belum selesai.

"Body Magic milik Senpai adalah yang unik, sedangkan Body Magic milik Rock Lee-senpai juga unik, semua tipe sihir itu tidak menentukan perkembangan dari sihir itu sendiri. Contohnya saja, Body Magic Boosted milik senpai sendiri jika dilatih dengan baik pasti akan menjadi hebat karena senpai bisa memperkuat tubuh senpai sampai melampaui batas. Sedangkan untuk tipe sihirku,"

Naruto berhenti, dia kemudian bangun dari posisi berbaringnya dan menatap kearah Issei yang terdiam.

"Aku tidak tahu apa saja yang bisa diperbaiki dengan sihirku, tapi aku memiliki sebuah pemikiran, mungkin saja dunia busuk ini bisa diperbaiki dengan Repairing Magic."

Setelah mengatakan itu, Naruto kembali membaringkan tubuhnya.

Issei terdiam mendengar ucapan Naruto, dia kemudian tersenyum.

"Kau benar, aku pikir juga begitu. Meski tidak seperti apa yang kita bayangkan, pasti setiap tipe sihir itu hebat dengan cara penggunaannya sendiri."

Terjadi keheningan setelah Issei selesai berbicara, mereka berdua terdiam menikmati ketenangan ruang kesehatan tersebut yang jauh dari jangkauan siswa-siswi yang memiliki tipe sihir kelas atas.

Mereka adalah orang-orang yang terlahir dengan beberapa kesamaan, seperti sifat awal mereka yang heboh yang kini menjadi pendiam jika berhadapan dengan orang-orang yang mereka benci. Dingin bagai es di Kutub Utara yang tidak tahu kapan mencairnya. Namikaze Naruto yang dulu ceria dan murah senyum kini hilang digantikan oleh wajah datar tanpa ekspresi. Hyōdō Issei yang dulunya ceria dan mesum kini telah menjadi pribadi yang berbeda, ramah untuk teman dingin untuk lawan.

Mereka mungkin saja akan mengubah pandangan orang lain terhadap mereka suatu saat nanti dengan kekuatan yang mereka miliki. Namikaze Naruto dengan Repairing Magic dan Hyōdō Issei dengan Body Magic. Jangan lupakan satu orang lagi yang sedang tertidur atau pingsan yang juga seperti mereka berdua, Rock Lee yang tetap ceria meski akan langsung dingin jika berhadapan dengan orang-orang yang menghinanya, dia juga memiliki Body Magic sama seperti Issei.

"Hey, Namikaze-san, mau kah kau menjadi temanku?"

Naruto menoleh menatap seniornya itu dengan ekspresi terkejut. Apa baru saja seniornya itu mengajaknya berteman? Naruto ragu untuk menerima uluran pertemanan dari pemuda berambut coklat yang memiliki nasib sama seperti dirinya itu, dia bukannya tidak ingin memiliki teman tapi dia masih belum terlalu mempercayai pemuda itu saat ini.

Naruto kembali menatap langit-langit, dia kemudian menghela nafas dan dia terdiam setelah itu memikirkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi padanya jika dia berteman dengan pemuda itu, mungkin dia terlalu memikirkannya, pemuda itu tidak pernah menghinanya, pemuda itu juga mengalami nasib yang sama seperti dirinya.

Jadi apa yang membuatnya ragu?

"Sejujurnya aku masih tidak bisa mempercayai siapapun, Senpai. Tapi,"

Naruto bangun dan menatap Issei yang juga menatapnya.

"Mungkin mencoba memiliki rekan seperjuangan tidak buruk juga."

Issei yang mendengar ucapan Naruto tersebut, tersenyum.

"Hyōdō Issei, kelas 2-B. Bukan seorang Mage, tapi seorang Fighter. Salam kenal, Namikaze-san."

Naruto yang mendengar perkenalan Issei menanggapi itu dengan senyuman kecil yang tulus, dia berusaha untuk mempercayai pemuda berambut coklat itu, memangnya apa yang bisa terjadi pada dirinya untuk ke depannya? Dia mengangkat bahu, itu masalah nanti, sekarang waktunya mencoba.

"Namikaze Naruto, kelas 1-C. Sama bukan Mage, aku masih baru dan tidak pernah masuk pelajaran apapun, jadi…"

Naruto memperkenalkan diri dan diakhiri dengan mengangkat bahu. Sihirnya Repairing, divisi apa yang harus dia ambil? Tidak ada divisi yang cocok untuk tipe sihirnya kecuali Specialist, tapi mungkin dia akan memilih Knight.

Di Magic Academy, ada beberapa divisi yang bisa di pilih oleh para siswa-siswi Magic Academy tersebut. Divisi terbanyak peminatnya adalah Mage, ke-dua Knight, ke-tiga Fighter, ke-empat Medic, ke-lima Specialist.

Mage, Wizards atau penyihir tersebut merupakan tujuan awal dibangunnya Magic Academy namun karena divisi ini merupakan perkumpulan orang-orang yang memiliki tipe sihir kelas atas jarang sekali seorang pemilik sihir kelas tengah ke bawah masuk ke dalam divisi ini. Kebanyakan pemilik sihir kelas tengah ke bawah memilih menjadi Knight dan Fighter.

Knight, merupakan penyihir pengguna senjata seperti pedang dan senjata lainnya. Divisi ini adalah yang terbanyak pemilihnya karena setelah seseorang tahu tipe sihir mereka apa, mereka yang merasa tidak bisa masuk ke divisi Mage akan langsung memilih divisi Knight ini sebagai pilihan kedua mereka. Dengan senjata yang digabungkan dengan sihir jelas divisi ini bisa dibilang lebih unggul dalam banyak aspek bertarung karena menggunakan serangan jarak dekat, sedang bahkan hingga jauh tergantung seberapa mahir seseorang tersebut.

Fighter, untuk yang ini jelas seorang petarung jarak dekat. Divisi ini diisi oleh siswa-siswi yang memiliki Body Magic dan divisi ini adalah yang berada di urutan ke-tiga yang cukup banyak peminatnya karena kebanyakan siswa mau pun siswi yang memiliki tipe Body Magic memilih divisi ini untuk mereka masuki agar bisa memaksimalkan tipe sihir mereka meski lebih banyak yang memilih masuk ke divisi Knight karena lebih aman posisinya dari pada Fighter yang bertarung dengan tangan kosong.

Medic, tidak perlu di jelaskan panjang lebar, ini adalah divisi yang bisa di pilih oleh siswa-siswi yang hanya memiliki satu tipe sihir Healing saja. Support begitulah.

Specialist, divisi yang satu ini terdiri dari beberapa pengguna sihir tipe Crafting atau Maker dan tipe-tipe sihir lainnya. Divisi spesialis ini beranggotakan siswa-siswi dari divisi lain yang ingin fokus ke satu jalur saja. Contoh saja seperti Support, Defender, Crafter dan lain-lain. Support jelas kebanyakan pengguna Healing Type Magic, tapi masih ada yang lainnya. Defender adalah divisi Knight yang memilih membawa pedang dan tameng, Crafter jelas ini divisi pembuatan alat-alat tertentu meski sangat jarang seseorang memiliki tipe sihir Crafting atau Maker karena tipe ini termasuk langka. Kira-kira seperti itulah divisi-divisi yang ada di Magic Academy yang Naruto tempati saat ini.

"Mungkin aku akan memilih Knight, jika pedangku rusak aku bisa memperbaikinya dengan sihirku."

Issei yang mendengar ucapan Naruto tersenyum, dia kemudian mengarahkan kepalan tangan kanannya kearah Naruto dan berbicara.

"Yosh! Dengan ini kita resmi berteman, Namikaze-san."

Naruto yang mendengar itu hanya menghela nafas dan ikut tersenyum, dia lalu mengangkat tangannya sama seperti Issei.

"Panggil aku, Naruto. Sekarang kita berteman, Issei-senpai."

"Kalau begitu buang kata senpai itu, Issei saja cukup, Naruto."

Issei membalas ucapan Naruto dengan senyuman sampai suara seseorang mengalihkan perhatian mereka.

"Ugh…"

Rock Lee yang sejak tadi tertidur atau pingsan, kini mulai menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Lee perlahan membuka matanya yang terpejam itu dan dia kenal dengan tempat ini.

"Ruang kesehatan lagi."

Lee bergumam pelan, dia kemudian bangkit mendudukkan dirinya diranjangnya.

"Yo Lee! Kau latihan ekstrem lagi sampai jatuh pingsan?"

Lee mengalihkan perhatiannya pada orang yang berbicara itu yang tidak lain adalah temannya, Hyōdō Issei.

"Issei-kun? Ya mau bagaimana lagi, aku harus menjadi kuat agar bisa mengikuti The God of War. Kau tahu kan aku hanya punya tubuh ini sebagai senjataku."

"Haha, aku juga hanya punya tubuh ini sebagai senjata Lee, tapi aku tidak se-ekstrem kau saat latihan, tujuanku bukan Turnamen itu, kau tahu kan aku hanya ingin membuat 'dia' mengakuiku."

Lee terdiam sesaat sebelum tersenyum.

"Kau memiliki tujuan yang menyakitkan Issei-kun, kenapa kau masih ingin 'dia' mengakuimu?"

Lee bingung dengan temannya itu, 'dia' yang dimaksud temannya itu telah mencampakkannya setelah tahu kapasitas Mana dan perkembangan temannya itu sangat lambat. Jadi kenapa masih ingin mencari pengakuan dari 'dia' ini?

"Kau mungkin benar, tapi itu tidak masalah karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan membuat 'dia' mengakuiku meski tidak bisa bersama sekalipun. Setidaknya aku punya tujuan untuk berjuangkan?"

Issei mengakhiri ucapannya dengan senyuman.

Lee yang mendengar itu pun hanya mampu ikut tersenyum pada temannya itu.

"Kalau soal itu kau sepertinya sudah bertekad ya, Issei-kun."

"Hahaha, tentu saja. Oh ya, Lee, karena kita berteman maka,"

Issei menghentikan tawanya, dia kemudian melihat kearah Naruto yang kembali dalam posisi berbaring.

"Otomatis Naruto akan menjadi temanmu juga."

Lanjut Issei yang sukses membuat Naruto terbangun dan langsung menatap pemuda berambut coklat tersebut dan berkata.

"Apa maksudmu, Issei?"

Naruto sebenarnya mengerti maksud pemuda berambut coklat tersebut, hanya saja dia masih memiliki keraguan untuk berteman dengan seseorang karena itulah dia masih bertanya seperti itu, yah meski pemuda berambut model mangkok itu juga sama seperti dirinya tapi selain dari itu dia sama sekali tidak tahu apapun tentang pemuda itu. Termasuk Issei sih harusnya.

"Bukannya sudah jelas, Naruto. Lee adalah temanku jadi otomatis dia juga menjadi temanmu sekarang."

Issei menjawab pertanyaan Naruto yang menurutnya jawabannya sudah jelas meski tidak dijawab. Lee yang mendengar percakapan Issei dan Naruto menjadi semangat, dia mengepalkan tangan kanannya diarahkan ke arah Naruto.

"Yosh! Akhirnya nambah teman lagi, salam kenal Namikaze-kun!"

Lee dengan semangat memberikan respon positif akan bertambahnya temannya, dia bahkan tersenyum memperlihatkan giginya yang rapi.

Naruto yang mendengar ucapan Lee terdiam, dia sedikit berpikir tapi setelah itu dia tersenyum kecil untuk membalas ucapan Lee.

"Yah sepertinya aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun tentang kalian. Salam kenal, Rock Lee. Panggil saja aku Naruto sudah cukup."

"Kalau begitu panggil aku Lee, Naruto-kun."

Setelah perkenalan itu, mereka bertiga mengobrol untuk menemani mereka dari ketenangan ruang kesehatan yang jauh dari jangkauan siswa-siswi bangsawan lainnya yang jelas hanya bisa menghina mereka meski mereka tidak memiliki masalah apapun dengan anak-anak bangsawan itu.

Waktu terus berlalu, detik ke menit, menit ke jam, hingga tidak terasa hari itu pun ketiga pemuda yang baru saja menjadi teman tersebut habiskan dengan mengobrol diruang kesehatan sampai menjelang malam dan mereka akhirnya keluar dari ruang kesehatan untuk kembali ke asrama mereka masing-masing tanpa menyadari Shizune mengawasi mereka dari awal sampai akhir dengan dihiasi senyuman diwajahnya.

Shizune lalu menghubungi seseorang dengan Moco miliknya, dimana kode dari Moco orang yang dia hubungi itu seperti ini -14J5H1N4- yang tertampil di layar Moco miliknya. Jika diperhatikan baik-baik maka kalian akan menemukan nama seseorang dari kode tersebut.

[To Be Continue]

Author Note:

Hai kalian semua! Chapter 2 update!

Yah ternyata aku update juga, meski fic yang satu ini agak rumit jika memikirkan sistem kedepannya, tapi masa bodolah yang muncul idenya kayak gini apa boleh buat, semoga gk mengecewakan kalian.

Untuk chapter ini gk ada yang perlu aku katakan.

Oh balasan untuk beberapa review, cek dibawah ini siapa tahu pertanyaan kalian terjawab meski tidak bertanya.


Sapun: Jawabannya, tidak.

Nara sigembor: Aku tidak tahu apa ada sihir kayak gitu di anime. Repairing Magic itu sihir karangan ku yang muncul di kepala saat memikirkan sesuatu.

Dimas Kurosaki: Untukmu, Wah sekali :v sama kayak yang aku pikirkan.

sana-sini: Konsepnya memang kayak fic itu tapi alurnya jelas beda, dan lagi disini orang yang tipe sihirnya sudah jelas, gk akan bisa pake sihir lain kecuali sihir dalam kategori khusus. Contohnya jika seseorang memiliki tipe sihir elemen api misalnya, dia tidak bisa pake sihir lain kecuali yang khusus itu.

Tamu - Unlimited Lost: Jawabannya, tidak. Repairing Magic itu sudah jelas fungsinya untuk memperbaiki. Di chapter kali ini harusnya jawabannya sudah ada meski sedikit ambigu.

Mungkin segitu aja kali ya, untuk semua review yang minta lanjut ini sudah lanjut, Terima kasih sudah berkunjung dan membaca fanfiksi ini. Semoga terhibur meski hasil pemikiran seadanya, hehe.

Cyaaa In Next Chapter!

Azking's v2 Out!!!