Disclaimer:

Aku bukan pemilik dari setiap karakter yang akan terlibat dicerita ini, aku hanya meminjam/menggunakan karakter tersebut. Semua karakter adalah milik pengarang mereka masing-masing.

Naruto milik Masashi Kishimoto dan High School DxD milik Ichiei Ishibumi.


[Arc 1:Magic Academy]

[Chapter 3: Worst Type Magic - Bagian III: Trio Loser ]


Tap! Tap!

Naruto menangkap dua buah kepalan tangan yang mengarah padanya dari dua orang berbeda. Lee yang melihat serangannya ditangkap oleh Naruto menggunakan kakinya untuk menendang Issei.

Duak!

Issei menggunakan kakinya untuk menahan serangan Lee. Naruto yang melihat kesempatan, menarik kedua tangannya hingga Lee dan Issei tertarik kearahnya. Naruto lalu melompat dan melayangkan kedua kakinya ke arah perut Lee dan Issei yang sedikit terkejut dengan apa yang Naruto lakukan.

Buagh! Buagh!

"Ugh! Itu sakit!"

"Guhg!"

Bagaikan berayun, kedua kaki Naruto sukses dengan telak menghantam perut Issei dan Lee. Naruto terus menarik tangan kedua teman tandingnya itu hingga dirinya sendiri jatuh ke tanah dan dengan tanpa ampun Naruto semakin menguatkan tarikan tangannya bersamaan dengan mendorong kuat perut Lee dan Issei dengan kakinya hingga mereka terlempar ke sisi kepala Naruto atau ke belakang Naruto jika Naruto sedang berdiri.

Dugh! Bruk!

Naruto berdiri, berbalik untuk melihat kedua temannya yang terkapar karena kelelahan sekaligus diakibatkan ulahnya barusan.

"Hah~ hah~ hah~ … Mungkin sampai disini saja latihan kita, Issei, Lee."

Dengan terengah-engah, Naruto berbicara sambil menatap kedua temannya yang sedang terbaring telentang sambil mengatur nafas mereka yang terengah.

"Hah~ Ya, aku sudah tidak sanggup lagi bertarung."

"Hah~ Issei-kun, kau memang payah, berlatihlah dengan semangat! Aku masih sanggup untuk melanjutkan latihanku!"

Beda Issei, beda lagi dengan Lee yang dengan semangatnya yang masih membara mengangkat tangan kanannya ke udara sambil mengepal kuat.

"Itu kau, Lee! Aku tidak pernah latihan ekstrem sepertimu, ini saja aku sudah sangat kelelahan, huh~"

Issei membalas ucapan Lee yang mengejeknya payah dengan nada kesal.

"Hehehe, makanya latihan yang keras, Issei-kun, dengan begitu kita bisa menjadi kuat bersama, bertiga!"

Naruto yang mendengar percakapan kedua temannya tersenyum, dia mendongak menatap langit biru berhiaskan awan yang bergerak perlahan. Sudah dua minggu berlalu sejak dirinya berteman dengan Issei dan Lee, dan selama itu juga dia berlatih bersama mereka dan dia juga sudah masuk ke Divisi Knight meski untuk kelasnya, dia tetap tidak masuk karena yah, tidak ada pelajaran tentang tipe sihirnya.

Kelas di Magic Academy itu di jadikan dua kategori oleh pendiri Magic Academy. Pertama, kelas Umum dan kedua kelas Divisi.

Kelas Umum merupakan tempat untuk belajar teori sihir ataupun dasar-dasar untuk menggunakan sihir. Sedangkan untuk kelas Divisi merupakan tempat khusus untuk belajar lebih lanjut tentang jalan hidup para siswa kedepannya. Contoh, jika seorang siswa ingin menjadi Mage maka siswa tersebut akan masuk ke kelas Divisi Mage untuk mempelajari cara menjadi Mage yang hebat agar suatu saat nanti setelah siswa tersebut lulus dari Magic Academy dia telah menjadi Mage yang matang dan bisa memilih jalan hidup yang benar.

Naruto sendiri tidak pernah masuk ke kelas Umum tapi dia masuk ke kelas Divisi meski hanya saat pelajarannya adalah pelajaran khusus Divisi yang dia pilih yaitu Knight. Kelas Divisi terbagi menjadi dua kategori yaitu khusus dan campuran. Untuk kelas Divisi khusus ini adalah kelas Divisi khusus Mage sedangkan untuk kelas Divisi campuran merupakan kelas untuk Divisi Knight, Fighter, dan Medic.

Magic Academy dibangun untuk mendidik Mage berbakat namun seiring berjalannya waktu Magic Academy berubah menjadi seperti sekarang ini, karena itulah untuk Mage itu adalah khusus sedangkan untuk yang lainnya layaknya anak tiri.

Kembali ke cerita.

Naruto kembali menatap kedua temannya dan berjalan mendekati mereka.

"Ayo kita ke kantin, Lee, Issei."

Mendengar ajakan Naruto membuat Issei segera bangkit berdiri diikuti oleh Lee.

"Ayo, aku sudah lapar, hehe."

"Yah, mungkin latihanku sampai disini dulu, ayo Naruto-kun, aku juga sudah lapar."

Naruto mengangguk mendengar respon kedua temannya, setelah itu mereka bertiga berjalan meninggalkan tempat latihan Divisi campuran itu dengan ekspresi yang berbeda-beda.

Bukanlah hal baru bagi mereka bertiga ketika mereka berjalan beriringan menuju kantin Academy, mereka mendengar suara siswa-siswi mengejek mereka dan baru-baru ini mereka mendapatkan julukan Trio Loser dari siswa-siswi di Magic Academy tersebut. Dulu yang mendapatkan julukan itu hanyalah Issei dan Lee, namun ketika Naruto berteman dengan Issei dan Lee, julukan itu menjadi Trio dari yang awalnya Duo.

Bagi Naruto sendiri itu bukanlah masalah sama sekali karena dia sekarang sudah selangkah lebih maju ke masa depan dengan memiliki teman seperjuangan seperti dirinya itu adalah hal yang bagus, meski pada awalnya dia sendiri sedikit ragu untuk berteman dengan Issei dan Lee, namun pada akhirnya dia mulai akrab dengan mereka berdua karena memiliki banyak faktor kesamaan antara dirinya dan kedua temannya itu.

Naruto, Lee maupun Issei mengabaikan kata-kata hinaan dari setiap siswa ataupun siswi yang berpapasan dengan mereka, bagi mereka itu hanya seperti angin lalu setidaknya sampai siswa-siswa yang dikatakan sebagai Prince of Academy menghadang jalan mereka bertiga dengan ciri khasnya yang memandang rendah ke arah mereka bertiga.

Siswa-siswa yang disebut sebagai Prince of Academy tersebut tidak lain adalah Uchiha Sasuke, Hyūga Neji, Raiser Phenex, Diodora Astaroth, dan terakhir Vali Lucifer.

Melihat jalan mereka dihadang oleh Prince of Academy, membuat langkah mereka terhenti. Naruto menatap datar ke arah Sasuke, Lee hanya menatap datar ke-lima siswa dihadapannya, dan Issei menatap benci ke arah Diodora Astaroth entah karena apa.

Mereka saling tatap selama beberapa saat sebelum salah satu dari ke-lima Prince of Academy tersebut berbicara.

"Wah, lihat, Trio Loser mau lewat."

Yang berbicara itu adalah…

"Diodora!"

Issei menatap penuh kebencian terhadap pemuda berambut hijau tua tersebut yang baru saja berbicara.

"Hoo, aku suka pandanganmu, Hyōdō Issei."

Diodora membalas ucapan Issei dengan nada bicara yang menyiratkan akan ejekan dan merendahkan terhadap Issei.

"Issei-kun, tenanglah. Jangan membuat masalah disini."

Lee berbisik pelan untuk menenangkan pemuda berambut coklat tersebut dan itu berhasil karena Issei menghela nafas untuk menenangkan dirinya setelah itu.

"Wah wah, aku tidak menyangka kita bisa bertemu disini, pengguna tipe sihir sampah, Namikaze Naruto."

Naruto menatap orang yang baru saja berbicara itu, dia adalah seorang pemuda berambut pirang sama seperti dirinya. Orang itu adalah Raiser Phenex.

"Raiser Phenex, bangsawan menyedihkan yang mengandalkan sihir regenerasi klannya, lebih buruk dariku."

Sudah pernah dikatakan bukan? Wajah datar tanpa ekspresi adalah apa yang terlihat diwajah Naruto setelah menerbangkan kalimat hinaan terhadap pewaris klan bangsawan Phenex tersebut. Hal itu jelas membuat orang yang dihina menggeram marah karena tidak terima dirinya dihina oleh orang yang keluarganya sudah bukan bangsawan lagi sekaligus klan yang kabur dari Kerajaan Starlight gara-gara hal yang sama dengan penyebab kejatuhan klan tersebut.

"Sialan! Aku akan membunuhmu, Namikaze!"

Raiser yang marah bersiap untuk maju menyerang tapi dihentikan oleh Sasuke.

"Raiser, diamlah!"

Sasuke menatap tajam Raiser dengan Sharingan miliknya yang sudah aktif, hal itu membuat Raiser berdecak kesal tapi dia menurut.

"Namikaze Naruto, kau cukup punya nyali untuk menghina pewaris klan Phenex. Apa kau tidak tahu resikonya?"

Naruto menatap datar Sasuke yang juga menatapnya datar.

"Resiko? Hanya sebatas itukan? Phenex yang menantang seekor Naga bertarung dan berakhir dengan kekalahan yang memalukan."

Itu adalah cerita lama, cerita dimana Lord Phenex saat ini pernah menantang Raja Naga Tannin dan berakhir dengan kekalahan telak yang memalukan padahal Phenex itu begitu arogannya berkata bisa mengalahkan Raja Naga tersebut.

Raiser yang mendengar itu kembali tersulut emosinya tapi Neji menahannya untuk tidak menyerang karena itu akan melanggar peraturan Academy, bukan itu yang dipermasalahkan oleh Neji, tapi saksi mata yang begitu banyak di Koridor Academy itulah yang dia permasalahkan. Bisa rusak reputasi mereka sebagai Prince of Academy jika mereka menyerang Trio Loser duluan.

"Menarik, Namikaze. Untuk saat ini aku biarkan kau berjuang keras meski hasilnya sia-sia karena tipe sihirmu tidak berguna dalam pertarungan."

Naruto terdiam, itu memang benar setidaknya untuk saat ini karena dia saat ini sedang fokus untuk meningkatkan kapasitas Mana miliknya agar bisa menggunakan sihirnya.

"Begitukah? Aku harap kau tidak menyesal menilai rendah pada tipe sihirku, Uchiha Sasuke."

Setelah mengatakan itu, Naruto melangkah untuk melanjutkan perjalanannya diikuti oleh Lee dan Issei yang berjalan sambil menatap Diodora dengan tatapan benci.

Melihat kelompok Trio Loser pergi, Raiser menatap tajam Sasuke. Terlihat dia juga marah terhadap pemuda keturunan Uchiha tersebut karena membiarkan Trio Loser pergi.

"Sasuke! Kenapa kau biarkan mereka lewat!?"

Raiser jelas masih marah akan hinaan pemuda pirang keturunan Kīroi Senkō yang menghinanya berserta ayahnya, Lord Phenex saat ini. Dan kini amarahnya dia akan luapkan pada pemuda keturunan Uchiha tersebut yang sudah membiarkan penghinanya pergi begitu saja tanpa hukuman apapun.

Sasuke hanya menatap datar Raiser, dia kemudian berbalik untuk melihat ke arah Naruto pergi.

"Kau tidak mengerti, Raiser. Aku lebih tahu tentang dirinya daripada dirimu."

Setelah mengatakan itu, Sasuke kembali berbalik dan berjalan pergi. Tentu saja apa yang Sasuke katakan membuat teman-temannya yang lain bingung sekaligus heran dengan apa yang dimaksud oleh Sasuke tersebut.

'Repairing Magic… tipe sihir yang masih misterius kemampuannya...'

Batin Sasuke berjalan pergi mengabaikan teriakan protes dari Raiser yang masih marah dengan perbuatannya yang membiarkan putra Kīroi Senkō tersebut pergi begitu saja.

Kantin.

Kini Naruto, Issei dan Lee sudah ada di kantin. Mereka kemudian mencari tempat duduk di sisi samping kantin, setelah menemukan satu tempat duduk yang bisa mereka tempati bersama karena satu meja berisi empat kursi.

Naruto menyuruh Issei dan Lee untuk menunggu sedangkan dirinya yang akan memesan makanan. Singkat cerita setelah selesai memesan mereka makan dengan tenang di kursi mereka masing-masing diselingi dengan obrolan.

"Jadi Naruto, bagaimana perkembangan Mana milikmu sekarang? Apa masih sama?"

Issei menatap Naruto yang sedang memakan ramen yang dia pesan tadi.

"Ada sedikit perkembangan, setelah aku berpikir cukup lama, aku masih tidak tahu penyebab Mana milikku hanya meningkat beberapa poin saja. Kau sendiri bagaimana, Issei?"

Setelah menelan mie ramennya, Naruto menjawab dan balik bertanya.

"Setidaknya setelah menambah porsi latihan dan menyeimbangkan latihan fisik dan spiritual, kapasitas Mana milikku sudah bertambah cukup baik. Sekarang kapasitasnya 150 poin, setidaknya aku bisa menggunakan sihirku 15 kali peningkatan."

"Wah bukannya itu hebat, Issei-kun! 150 poin itu berada di Steel tiga akhir. Sebentar lagi kau akan menjadi Steel empat!"

Lee merespon saat mendengar ucapan Issei mengenai perkembangan Mana miliknya.

"Ahaha, itu belum seberapa Lee. Oh ya, kau sendiri bagaimana Lee? Kau kan selalu latihan ekstrem."

Tanya Issei sambil menatap Lee penasaran. Lee menatap Issei sambil tersenyum memperlihatkan giginya.

"Aku? Mana milikku 230 yang artinya aku Steel lima!"

Lee menunjuk dirinya sendiri saat mengatakan 'Aku' lalu setelah itu dia menjawab pertanyaan Issei dengan semangat.

"Ugh… aku tertinggal."

Issei bergumam dengan aura suram di atas kepalanya, pemuda berambut coklat itu juga menunduk.

"Yah setidaknya masih lebih baik dari pada aku yang hanya lima poin."

Naruto yang sudah menghabiskan ramennya merespon gumaman Issei yang terlihat depresi. Issei terdiam, dia kemudian menatap ke arah Naruto dengan ekspresi yang sulit diartikan.

"Kau kan baru beberapa minggu masuk Academy, Naruto, sedangkan aku? Aku sudah kelas dua umum dan masih Steel tiga, ugh… kenapa nasibku sangat menyedihkan seperti ini! Huhuhu…"

Issei berbicara dengan depresi, dia juga menangis gaya Anime dan membuatnya terlihat bodoh. Naruto yang mendengar itu terdiam, sebegitu buruknya kah perkembangan Mana teman berambut coklatnya itu? Jika dipikirkan lagi seharusnya siswa tahun kedua itu setidaknya berada di Rank Silver keatas tapi…

Naruto menatap kedua temannya itu dengan ekspresi yang sulit diartikan, dia juga berpikir tentang perkembangan Mana miliknya sendiri yang bisa dikatakan sangat buruk. Naruto, dia setidaknya sudah berlatih sejak masih di rumahnya sebelum masuk ke Magic Academy tapi Mana miliknya baru lima poin? Itu benar-benar tidak normal untuk perkembangan Mana miliknya yang sangat lambat itu. Pasti ada yang salah dengan dirinya…

'Setelah memikirkan itu, hm…'

Naruto terdiam saat mengingat sesuatu, ya, di salah satu buku yang pernah dia baca dulu di perpustakaan Academy.

'Jangan bilang itu penyebabnya…'

Naruto berdiri dan itu membuat kedua temannya menatap ke arahnya dengan ekspresi bingung diwajah mereka.

"Ada apa, Naruto?"

Issei bertanya bingung saat melihat Naruto tiba-tiba berdiri dengan wajah serius.

"Issei, Lee, tolong bayarkan ramenku, aku harus memastikan sesuatu."

Naruto tidak menjawab pertanyaan Issei, dia meletakkan uang diatas mejanya untuk membayar ramennya, tentunya dengan meminta Issei atau Lee memberikan uang itu ke kasir kantin. Naruto setelah itu bergegas keluar dari area kantin dan menuju ke suatu tempat di Academy tersebut.

Issei menatap ke arah perginya Naruto dengan bingung, dia kemudian memandang Lee dengan ekspresi bingung.

"Kau tahu sesuatu, Lee?"

Dan tentu saja Lee membalas dengan menggeleng pertanda tidak tahu.

"Mungkin Naruto-kun lupa sesuatu di asramanya."

"Hm, begitu ya."

Setelah itu mereka berdua melanjutkan makan mereka yang terhenti akibat terjadi sedikit obrolan barusan.

Setelah meninggalkan kantin, Naruto kini berjalan cukup cepat menuju ke suatu tempat yang lumayan sering dia kunjungi setelah dirinya masuk ke Magic Academy. Perpustakaan, ya, tempat itulah yang dia tuju karena dia mengingat sesuatu setelah memikirkan perkembangan Mana miliknya yang tidak normal. Di tengah perjalanan Naruto hanya mengabaikan setiap siswa maupun siswi yang berbisik tentang dirinya karena fokus pikirannya telah di ambil alih oleh sesuatu yang di ingatnya tadi.

Tidak butuh waktu lama, Naruto sekarang sudah dapat melihat bangunan perpustakaan yang memang terpisah dari gedung utama Academy. Bangunan perpustakaan itu terletak di samping kiri gedung Academy, Naruto berhenti setelah sampai tepat di depan pintu masuk perpustakaan, setelah itu dia memegang gagang pintu dan membukanya.

Krieet!

Bunyi pintu yang terbuka adalah apa yang bisa terdengar, Naruto masuk setelah itu menutup pintu, dia langsung berjalan ke arah sebuah lemari buku di bagian belakang tanpa memperhatikan sekitarnya sehingga dia tidak menyadari seorang gadis berambut hitam sebahu berkacamata memperhatikannya dari tempat duduk yang ada di pinggir dekat jendela.

'Namikaze-kun? Kenapa lagi dengannya?'

Batin gadis itu saat melihat Naruto berjalan dengan terburu-buru ke lemari buku bagian belakang.

Di tempat Naruto, dia saat ini tengah mencari suatu buku di rak buku dengan kategori khusus hingga akhirnya dia menemukan buku yang dia cari yaitu Boost of Mana, buku buatan Jiraiya. Naruto membuka buku itu dan membaca kalimat pada bagian Kontrak Monster.

'I-ini…'

Disana di buku itu tertulis kalimat yang sebelumnya menurutnya itu biasa saja tapi sekarang setelah menyadari kejanggalan pada perkembangan Mana miliknya yang sangat buruk dia justru melihat kalimat itu dengan cara berbeda yang bahkan mampu membuatnya terdiam.

Disana tertulis…

Yang pertama ini adalah metode khusus untuk yang memiliki tipe Mystical Magic. Dengan sihir, pengguna bisa melakukan sihir kontrak pada siapapun dan sihir kontrak ini akan membuat pengguna dapat mengakses Mana milik siapapun yang dikontrak, pengguna bisa memberikan, menerima dan bahkan mengambil Mana seseorang secara permanen sehingga kapasitas Mana siapapun yang dikontrak akan tersisa satu poin.

Naruto terdiam dengan ekspresi yang sulit diartikan, dia kemudian teringat sesuatu.

'Disaat hari kelahiranmu 17 tahun yang lalu, ada seseorang yang datang untuk membunuh Tō-san dan Kā-chan, Naruto. Tapi Tō-san berhasil mengalahkannya meski pada saat itu orang itu sempat melakukan sesuatu yang membuat Kā-chan mu sangat kesakitan, bahkan dokter kandungan yang menangani kelahiranmu hampir mati gara-gara sesuatu yang orang itu lakukan. Tapi Tō-san bersyukur karena tidak ada yang terjadi, semuanya selamat meski kondisi saat itu cukup buruk.'

Naruto yang mengingat perkataan ayahnya terdiam, dalam pikirannya saat ini, Naruto bertanya-tanya apa kah itu ada hubungannya dengan kondisi dirinya saat ini?

'Aku harus bertanya lebih lanjut tentang kejadian itu, Tō-san belum menyelesaikan cerita kelahiranku waktu itu.'

Naruto kemudian meletakkan buku buatan Jiraiya tersebut kembali ke tempatnya dan menatap Moco miliknya yang sekarang dia kenakan di pergelangan tangan kirinya. Setelah itu dia menekan tombol biru dan mencari sebuah nama dengan kode Moco milik orang yang ingin dihubunginya hingga ketemu nama 'Tō-san' yang memiliki kode - YYY1N470-. Naruto kemudian menekan tombol hijau untuk menghubunginya.

Benda berbentuk jam tangan itu kemudian berdering selama beberapa saat hingga akhirnya berhenti ketika sudah diterima oleh orang yang ada di seberang sana.

[Halo, Naruto.]

"Ah, halo Tō-san, apa aku mengganggu perjalanan kalian ke Camelot?"

[Tidak, kami sedang beristirahat saat ini, Nak. Jadi, ada masalah apa sampai-sampai kau menghubungi, Tō-san?]

"Um, begini Tō-san, aku ingin bertanya tentang tragedi dihari kelahiranku yang belum selesai Tō-san ceritakan."

[Oh cerita itu, kenapa kau bertanya tentang itu? Bukannya kau ingin mendengarkannya ketika berada dirumah?]

"Iya aku memang berniat begitu sebelumnya, tapi mengingat kalian sudah pergi menuju Camelot aku tidak bisa mendengarkannya dirumah. Jadi Tō-san, bisakah aku bertanya tentang cerita itu lagi?"

[Hm… baiklah tapi singkat saja ya karena Tō-san harus berburu dengan beberapa murid Tō-san.]

"Eh? Tō-san punya murid?"

[Iya, jadi… Tō-san mulai dari mana cerita itu?]

"Mungkin dari ketika orang misterius itu membuat Kā-chan kesakitan, Tō-san."

[Hm baiklah. Dengarkan baik-baik…]

"Baik."

[Pada saat itu ketika Tō-san bertarung dengannya, dia tiba-tiba saja masuk ke sebuah portal dan muncul ditempat Kushina yang sedang melahirkan. Kata dokter kandungan yang menangani proses kelahiranmu orang itu mengucapkan kalimat, 'Aku akan mengambil kehidupanmu, Kushina. Dengan Magic Contract, kau akan menderita karena telah salah memilih, selamat tinggal' katanya. Pada saat itulah dokter itu hampir mati karena berusaha untuk menyelamatkan Kā-chan mu. Ketika Tō-san sampai disana orang itu sudah tidak ada dan Kā-chan mu berteriak kesakitan saat itu tapi beruntung Tō-san berhasil membatalkan sihir yang coba digunakan oleh orang itu pada Kā-chan mu. Tō-san benar-benar bersyukur karena tidak ada yang terjadi karena orang itu telah gagal melakukan sihirnya, yah meski Tō-san kehilangan orang itu setelahnya.]

Minato selesai menceritakan tentang tragedi penyerangan yang dilakukan oleh orang misterius pada saat hari kelahiran Naruto. Sedangkan Naruto sendiri terdiam sambil memikirkan sesuatu.

[Jadi begitulah yang bisa Tō-san ceritakan padamu Naruto, oh ya Tō-san harus pergi berburu sekarang, jadi sampai disini dulu ya, Nak.]

"Ah, iya Tō-san, hati-hati saat berburu."

[Tentu saja, kau pikir Tō-san mu ini siapa? Hehehe.]

"Hehe iya, Kīroi Senkō no Tō-san!"

[Kalau begitu Tō-san tutup panggilannya. Lain kali kita lanjutkan lagi mengobrolnya.]

"Ha'i, Tō-san."

Tut! Tut! Tut!

Setelah itu Naruto terdiam sambil memikirkan tentang sihir yang coba digunakan oleh orang misterius yang menyerang ayah dan ibunya pada saat hari kelahirannya.

'Magic Contract? Apa itu sihir dari tipe Mystical Magic? Aku harus mencari tahu, ini jelas berhubungan dengan kejanggalan pada perkembangan Mana milikku.'

Naruto kemudian bergerak menuju rak buku tempat buku sihir kelas Heavenly berada, lalu mencari sebuah buku sihir tipe Mystical Magic.

Setelah mencari selama beberapa menit Naruto akhirnya menemukan buku yang dia cari dan membaca kalimat demi kalimat yang ada dibuku itu, setelah itu dia menutup buku sihir tersebut dan mengembalikannya ke tempatnya semula.

'Jadi benar, Magic Contract termasuk ke dalam Mystical Magic. Ini sama seperti yang tertulis di buku buatan guru Tō-san.'

Naruto kemudian berjalan menuju pintu keluar, dia perlu mencari informasi lain lagi tentang bagaimana caranya mengembalikan kondisi perkembangan Mana miliknya ke normal seperti manusia pada umumnya.

Dan lagi-lagi karena pikirannya fokus ke hal di atas, Naruto tidak menyadari bahwa gadis tadi mendengarkan pembicaraan antara dirinya dan ayahnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Gadis itu menatap kepergian Naruto sambil membatin.

'Apa yang Namikaze-kun pikirkan?... Eh…'

Gadis itu terdiam ketika sebuah kesadaran akan sesuatu melintas di kepalanya. Gadis itu kemudian menghubungi seseorang dengan Moco miliknya. - 53124F4LL- Yah seperti itulah petunjuknya.

Keesokan harinya, Naruto kini berjalan menuju ke Training Ground milik Divisi Campuran, tentunya Issei dan Lee juga berjalan bersamanya meski Naruto terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu sehingga membuat kedua temannya heran. Issei melirik ke arah Lee yang juga meliriknya seakan mengerti arti lirikan itu Lee menggeleng pelan pertanda dia juga tidak tahu apa yang sedang dipikirkan teman pirangnya itu.

Issei yang melihat Lee menggeleng akhirnya memutuskan untuk bertanya langsung kepada teman pirangnya itu.

"Ano… Naruto? Apa yang sedang kau pikirkan? Kau terlihat serius sekali memikirkannya."

Naruto yang mendengar suara Issei hanya menghela nafas dan tanpa menoleh dia menjawab.

"Bukan apa-apa, Issei. Aku hanya berpikir mungkin ada yang salah dengan perkembangan Mana milikku yang sangat lambat."

Issei yang mendengar itu terdiam sesaat, lalu dia mendongak menatap langit biru di atas sana.

"Aku pikir kau tidak perlu terlalu memikirkannya, Naruto. Jika kita berlatih dengan keras pasti suatu saat nanti perkembangan Mana milikmu, milikku dan milik Lee pasti akan meningkat cepat. Yah meski aku mengatakan itu aku bukanlah tipe orang seperti Lee yang hobi latihan ekstrem. Tapi aku yakin perkembangan Mana milikmu itu akan baik-baik saja nanti."

"Itu benar, Naruto-kun, mungkin perkembangan Mana milik kita bisa dikatakan lambat di bawah rata-rata perkembangan Mana manusia normal, tapi jika kita berusaha dan tidak menyerah kita pasti akan dapat mencapai tujuan kita, sesulit apapun itu tujuannya!"

Naruto terdiam mendengar ucapan kedua temannya itu, dia kemudian tersenyum sambil menoleh ke arah kedua temannya yang berjalan disisi sebelah kirinya dengan Lee berada paling kiri yang sedang tersenyum lebar hingga memperlihatkan giginya.

"Kalian benar, mungkin aku terlalu memikirkannya."

"Yosh! Ayo hari ini kita latihan dengan semangat Naruto-kun! Dengan begitu kita bisa cepat menjadi kuat untuk mengikuti turnamen tahun ini!"

Lee mengepalkan tangannya dengan semangat, dia meninju udara kosong di depannya.

"Yoosh! Hari ini aku akan push-up 1000 kali, sit-up 1000 kali, skuad-jump 1000 kali, dan mungkin lari dengan tangan 1000 putaran di Training Ground nanti!"

Naruto dan Issei pucat mendengar deklarasi semangat Lee yang mengatakan porsi latihannya hingga mencapai angka seribu dan apa-apaan lari dengan tangan itu!?

'Sepertinya si alis tebal sedang kerasukan…'

Batin Naruto pucat sambil geleng-geleng kepala.

'Glek, oi oi apa si mangkok berjalan ini serius mau latihan fisik segila itu!? Dari mana datangnya semangatnya itu!!?'

Issei tidak ada bedanya dengan Naruto, hanya saja dia sambil meneguk ludahnya tercekat. Issei juga berteriak dengan stress saat memikirkan asal usul semangat Lee yang berkobar seakan tidak ada habisnya. Issei bahkan sangat yakin bisa melihat mata pemuda mangkok itu berkobar dengan api yang membara yang seakan-akan bisa membakar apapun dalam sekejap. Issei setelah itu memijat pelipisnya yang terasa pening kemudian dia melirik Naruto yang kondisinya sama seperti dirinya.

'Tidak heran Naruto sampai syok mendengarnya, aku yang sudah lama berteman dengan si mangkok berjalan ini masih saja tidak percaya dengan hobi latihan ekstrem miliknya. Hah~ semoga saja tidak ada yang lebih membuat syok dari pada itu, aku tidak bisa membayangkan apa jadinya kondisi Naruto nanti jika seandainya si mangkok berjalan mulai memakai pakaian aneh yang bisa bikin muntah milik Guy-sensei, tidak! Jangan sampai si mangkok berjalan memakai itu!'

Batin Issei ngeri saat mengingat pakaian hijau ketat yang biasa di pakai oleh salah satu guru dari Divisi Fighter yang memiliki gaya rambut seperti milik Lee. Pakaian yang katanya khusus untuk petarung tangan kosong sejati itu benar-benar membuat Issei mau muntah saat melihatnya, beruntung guru yang sering memakai pakaian ketat itu sekarang sedang ada misi keluar Academy selama sebulan entah misi apa itu, jadi dia tidak perlu khawatir akan melihat guru itu berpose aneh dengan pakaian aneh itu di Training Ground.

Mereka bertiga terus berjalan dengan kondisi seperti itu hingga sampai ke Training Ground dan Lee yang membuat kedua temannya itu terkena serangan mental tidak menyadarinya sama sekali, pemuda berambut model mangkok itu bahkan masih berbicara tentang latihan ekstrem yang akan dia lakukan hari ini.

Training Ground, Divisi Campuran.

Naruto saat ini sedang berlari mengelilingi Training Ground divisi campuran tersebut. Dia terlihat berlari dengan santai dan di depannya ada Lee dan di belakangnya ada Issei yang juga ikut berlari. Beberapa menit setelah tiba, dia dan teman-temannya itu langsung melakukan pemanasan ringan terlebih dahulu baru setelah itu mereka berlari mengelilingi Training Ground tersebut.

Sudah sekitar 20 putaran mereka mengelilingi Training Ground dan terlihat Issei adalah yang paling terlihat kelelahan jika dibandingkan dengan Naruto apa lagi dengan si monster latihan Lee, jelas Issei tidak sebanding. Sekitar beberapa puluh menit berlari, Issei akhirnya menyerah, dia berhenti berlari dan beristirahat di bawah pohon yang ada di pinggir Training Ground tersebut.

Tiga puluh menit kemudian Naruto menyusul Issei beristirahat dibawah pohon yang sama dengan Issei dan yang tersisa sekarang adalah Lee yang masih bersemangat berlari bahkan pemuda mangkok itu masih terus menghitung jumlah putarannya padahal pemuda itu sudah mencapai beberapa ratus putaran dalam kurun waktu kurang dari satu jam tersebut. Naruto sendiri bukan beristirahat seperti Issei, dia melanjutkan latihannya, lebih tepatnya latihan spiritualnya dan hal itu tentu saja diikuti oleh Issei karena sejak Naruto menjadi temannya, Issei mengikuti gaya latihan Naruto yang masih bisa di jangkaunya berbeda dengan Lee yang hampir tidak mungkin dia mengikuti latihan monster seperti yang biasa Lee lakukan.

Issei juga tahu latihan spiritual yang dilakukan oleh Naruto itu begitu bermanfaat karena bisa meningkatkan ketenangan dan konsentrasinya, bahkan dia cukup yakin latihan seperti itu yang menurutnya hanya duduk-duduk bertapa tidak hanya melatih ketenangan dan konsentrasinya, dia cukup yakin bahwa kapasitas Mana miliknya menjadi lebih mudah meningkatnya entah kenapa bisa seperti itu Issei tidak tahu dan mungkin tidak perlu tahu asalkan latihan itu ada hasilnya maka itu sudah cukup menurutnya.

Di tempat Lee, si alis tebal itu masih setia dengan kecepatan sedang miliknya berlari mengelilingi Training Ground milik divisi campuran itu dengan semangat, dia juga sesekali berteriak untuk menambah semangatnya. Dia akan berusaha untuk menjadi kuat meski banyak orang yang mengejeknya pecundang, sampah, dan lain sebagainya, Lee tidak peduli. Bagi Lee, di akui oleh satu atau tiga orang sudah cukup, yang pertama gurunya dan kedua beserta ketiga adalah temannya, Lee sudah cukup puas meski hanya diakui oleh mereka bertiga namun meski dia puas dengan itu Lee akan terus berlatih hingga impiannya untuk ikut turnamen dunia The God of War bisa terwujud. Dan Lee sudah berjanji untuk yang satu itu pada dirinya sendiri dan juga dia berjanji pada gurunya bahwa dia akan berlatih dengan keras untuk mencapai tujuannya itu. Yah meski untuk sekarang sepertinya dia belum mampu untuk mengikuti turnamen itu tapi suatu saat nanti dia akan ikut turnamen itu dan menjadi juara meski bukan juara satu setidaknya dia bisa berada di urutan ketiga kalau bisa.

Lee terus berlari hingga mencapai 1000 putaran, setelah itu dia berhenti untuk memulihkan staminanya yang habis karena berlari mengelilingi Training Ground tersebut. Sekitar 15 menit dia beristirahat, Lee kemudian melanjutkan latihannya lagi dengan push-up 1000 kali, sit-up 1000 kali, skuad-jump 1000 kali dan terakhir disusul berlari dengan tangan mengelilingi Training Ground divisi campuran tersebut, targetnya 1000 putaran. Gila memang, tapi itulah yang namannya Rock Lee, selama dia masih sanggup maka dia akan terus berlatih sampai dia pingsan karenanya.

Training Ground, Divisi Campuran.

Sore, jam 15:30 PM.

Terlihat di Training Ground tersebut, Naruto, Lee, dan Issei sedang latih tanding seperti hari-hari sebelumnya dimana mereka bertarung bertiga, saling jual beli pukulan, tendangan dan bahkan Issei sampai menggunakan Body Magic Boosted miliknya hanya untuk bisa bertahan dari tendangan kuat dari Lee dimana setahu Issei tendangan pemuda mangkok itu begitu kuat dan menyakitkan karena itulah dia sampai harus memperkuat fisiknya dengan sihir miliknya itu untuk bisa bertahan dari tendangan pemuda mangkok temannya itu.

Sedangkan Naruto, dia cukup bisa menghindari serangan kuat dari Lee dan beberapa kali mampu mendaratkan pukulan terhadap pemuda tersebut.

Issei yang melihat kesempatan langsung melesat menerjang Naruto tapi Naruto menyadarinya dan dia melompat menghindari pukulan Issei yang sudah diperkuat dengan Body Magic Boosted miliknya. Lee tentu tidak diam saja, dia melompat tinggi ke arah Issei dan mengangkat satu kakinya lalu bersiap untuk menghantamkan tumitnya ke arah kepala Issei namun Issei masih bisa menghindarinya dengan melompat ke belakang, namun dibelakangnya sudah ada Naruto yang sudah siap dengan sebuah tendangan kaki kanannya.

'Sial, aku tidak bisa menghindarinya!'

Buagh!

"Gahh!"

Issei terlempar ke depan karena terkena tendangan Naruto yang cukup kuat. Lee yang melihat itu segera melesat ke arah Issei.

"Hyaaat!"

Tidak ingin terkena serangan kuat milik Lee, Issei dengan susah payah berusaha menyeimbangkan tubuhnya dengan mendaratkan kakinya ke tanah dan melakukan lompatan ke samping hingga serangan Lee hanya mengenai udara kosong. Melihat Issei menghindarinya, Lee kembali melesat ke arah Issei tapi dia terpaksa harus melompat ke belakang karena Naruto sudah melayangkan tendangan kaki kanannya sekali lagi.

Naruto yang melihat Lee melompat langsung melesat mengejarnya dan terjadilah jual beli pukulan dan tendangan disana sampai Issei melompat ke arah mereka dengan sebuah tendangan menukik. Naruto dan Lee melompat mundur menjaga jarak satu sama lain.

"Hah~ hah~ hah~ Oi hah~ bisakah kita berhenti? Hah~ aku sudah tidak kuat lagi. Hah~"

Issei yang sudah memisahkan kedua temannya terlihat berdiri kelelahan, dia menatap kedua temannya bergantian.

"Hah~ yah kau benar, hah~ mungkin sampai disini saja hari ini, Lee."

Naruto merespon dengan terengah-engah meski masih lebih baik dari pada Issei.

"Hah~ ya sepertinya sampai disini saja, hah~ aku juga sudah hah~ mau pingsan hah~"

Lee juga merespon ucapan Naruto sambil berusaha mengatur nafasnya. Wajar kalau Lee berkata seperti itu, setelah dia latihan ekstrem tadi pagi sampai siang, dia hanya beristirahat satu jam saja sebelum akhirnya ikut dalam latih tanding antara Naruto dan Issei yang sudah memulai duluan karena mereka berdua tidak se-ekstrem Lee di latihan tadi pagi, alhasil Lee terlihat sudah mau pingsan meski tentu saja dia masih bisa mempertahankan kesadarannya.

"Kita istirahat, hah~ setelah itu kembali ke asrama."

Issei dan Lee hanya mengangguk lemah saat mendengar ucapan Naruto, mereka bertiga kemudian berjalan ke pinggir Training Ground tersebut dan kembali beristirahat di bawah pohon.

Di sebuah ruangan di dalam gedung lama Academy, seorang pemuda bersurai pirang pucat menatap ke arah Training Ground divisi campuran tersebut. Pemuda tersebut memiliki wajah yang tampan dan memiliki mata abu-abu. Pemuda itu tersenyum kecil saat melihat ketiga siswa yang habis latihan itu.

'Trio Loser, kah? Aku pikir aku bisa berteman dengan mereka.'

Pemuda itu kemudian berbalik dan berjalan keluar dari ruangan tersebut dan kembali membatin.

'Aku akan berbicara dengan Sairaorg untuk merekrut mereka, sebagai sesama orang buangan…'

[To Be Continue]

Author Note:

Yah halo! Fic abal-abal ini lanjut lagi hehe.

Ehem, ternyata masih punya ide untuk lanjutin ni fic tapi yah fic ini bukan prioritas, ini cuma selingan aja biar gk sia-sia ide yang muncul.

Untuk chapter ini masih belum ada sesuatu yang terjadi yah, kebiasaanku itu, alur lambat n acak-acakan :v

Semoga gak mengecewakan dan dibawah ini adalah balasan untuk beberapa review, cek dibawah siapa tahu apa yang kalian pikirkan memiliki jawaban.


Ari Putra Bakati: Yap, 14J =KU, 5H1N4 taulah ini :v

Dimas Kurosaki: Biar gak bosan :v dan apa itu NH? Maap gk ngerti :v

Unlimited Lost Works: Syukurlah kalau dah balik akunnya bro. Dan iya kadang kayak gitu emang, untung sekarang udah aku catat email n password ni akun biar gk hilang lagi :v

Untuk Repairing Magic ya emang masih sekeluarga sama tuh sihir meski keluarga yang terbuang :v

Untuk Naruto dia gak akan dapat buku legendaris macam apapun tapi untuk ngecheat dia bakal punya kalau dia sadar :v

Terlebih lagi ingat di bagian awal chapter 1 disaat Naruto mengenalkan dirinya? Disitu dia mengajak untuk menjadi saksi kisah penuh akan 'rasa sakit' ini. Dan di chapter satu juga udah ada jawabannya, seperti yang aku bilang diatas 'untuk ngecheat dia bakal punya kalau dia sadar' :v

N makasih udah ngasih semangat bro, dan ini chapter 3 nya.

Tamu - D. Madoka: Um, iya kebanyakan gitu karena klo gk gitu kekuatan Naruto yah bakal gitu-gitu aja :v btw disini Naruto udah dapet kekuatan langka, Repairing Magic itu tipe sihir langka hanya saja di kategorikan sebagai sihir kelas rendah karena kemampuannya hanya diketahui untuk memperbaiki benda rusak.

Tamu - Liuto: Iya itu nama ibu Naruto.

Tamu - fyn: Jawabannya Repairing Magic mampu memperbaiki segala jenis kerusakan, masalahnya kapasitas Mana milik penggunanya cukup nggak? Yah itu aja masalahnya. Dan tidak ada batas waktunya, selama benda atau objek apapun itu masih punya wujud, benda itu bisa diperbaiki dengan syarat Naruto tahu itu benda apa. Karena itulah tipe sihir Naruto itu langka.

Konsepnya sederhana aja kok, intinya sihir perbaikan ini tergantung pada kapasitas Mana penggunanya.

Tamu - Dxd: Um, maaf bro sihir Naruto tidak akan diganti karena di fic ini sihir milik Naruto itu akan membawa Naruto mengalami yang namanya 'rasa sakit' jadi jika sihir Naruto di ganti Magic Maker itu tidak akan pernah terjadi yang namanya 'rasa sakit' itu. Sekali lagi maaf ya. N makasih udah mampir untuk membaca sekaligus mereview fic ini.

akashi sejiro: Err kayaknya nggak deh bro :v

Ok mungkin sampai disini aja dulu ya, silakan tinggalkan jejak kalian di kotak pos? Review maksudnya, makasih banyak buat yang udah baca n ngasih semangat untuk lanjutin fic ini, aku harap chapter ini gak mengecewakan kalian.

Cyaaaa In Next Chapter!

Azking's v2 Out!!!