Disclaimer:

Aku bukan pemilik dari setiap karakter yang akan terlibat dicerita ini, aku hanya meminjam/menggunakan karakter tersebut. Semua karakter adalah milik pengarang mereka masing-masing.

Naruto milik Masashi Kishimoto dan High School DxD milik Ichiei Ishibumi.


[Arc 1: Magic Academy]

[Chapter 4: Worst Type Magic - Bagian IV: Pertarungan]


Di asrama laki-laki, lebih tepatnya di kamar Namikaze Naruto. Terlihat sang penghuni kamar sedang duduk di ranjangnya sambil menatap beberapa koin emas di telapak tangannya dengan ekspresi lelah. Dia menghela nafas dan memasukkan koin emas tersebut ke dalam dompet berbentuk kodok berwarna hijau.

Dia kemudian bergerak turun dari ranjangnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk melakukan ritual paginya sebelum berangkat ke Academy. Setelah selesai, dia mengenakan seragam Academy miliknya dan berjalan ke luar tanpa memperhatikan gaya rambutnya yang acak-acakan.

Ckleck!

Membuka kunci.

Krieet!

Lalu membuka pintu dan keluar dari kamar asramanya tersebut. Dia kemudian menutup dan kembali mengunci pintu asramanya lalu berjalan pergi sambil membatin.

'Aku perlu mencari cara untuk mendapatkan uang, kalau hanya mengeluarkan saja yang ada aku akan kelaparan kedepannya.'

Pemuda itu, Naruto menghela nafas sambil mengingat peraturan Academy yang melarang siswa-siswinya keluar lingkungan Academy tanpa alasan yang mendesak. Hanya mereka yang mengambil misi yang diizinkan untuk keluar tapi masalahnya adalah, khusus untuk para siswa dan siswi, mereka wajib mengikuti suatu organisasi ekstrakurikuler atau klub.

Dan itulah masalah terbesarnya, tidak mungkin ada klub yang mau menerima pengguna tipe sihir kelas rendah seperti dirinya. Bahkan syarat untuk masuk klub-klub yang ada di Magic Academy tersebut kebanyakan mencari seseorang yang 'berbakat' dan dirinya tidak terhitung sebagai orang berbakat tersebut.

Naruto sudah memikirkan masalah keuangannya ini sejak klan Namikaze jatuh dari kasta bangsawan dan hal itu menyebabkan Ayah dan Ibunya terpaksa harus melarikan diri atau mereka akan membuat seluruh penduduk wilayah Namikaze menderita karena aturan tidak tertulis di Kerajaan Starlight itu yang bisa dibilang tidak masuk akal.

Aturan itu berbunyi, [Setiap klan bangsawan yang pewarisnya 'cacat' kedudukannya akan turun menjadi rakyat jelata, dan semua harta klan tersebut akan diambil oleh klan bangsawan lain jika klan bangsawan lain mau menerima mantan klan bangsawan tersebut sebagai penduduk di wilayah mereka. Sedangkan untuk pihak klan yang jatuh tersebut, mereka tidak lagi memiliki hak untuk menempati wilayah kekuasaan mereka karena mereka sudah bukan bangsawan.] Aturan itu berlaku untuk semua klan bangsawan yang ada di Kerajaan Starlight. Meski bukan aturan tertulis, pihak Kerajaan sendiri tetap membiarkan aturan itu ada meski itu akan membuat kejadian seperti kehilangan klan bangsawan yang ada tersebut.

Setidaknya sudah ada dua klan bangsawan yang jatuh sebelum klan Namikaze dan kabar mengenai dua mantan klan bangsawan ini justru begitu mengenaskan meski tidak diketahui kebenarannya. Klan yang pertama jatuh adalah Bael dan yang kedua adalah Hyōdō.

Untuk klan Bael sendiri, mereka berhasil mendapatkan kebangsawanan mereka kembali dengan cara 'menghilangkan' nama pewaris mereka yang cacat tersebut dan memiliki pewaris baru yang layak sebagai pewaris klan bangsawan tersebut. Dan untuk klan Hyōdō sendiri, kabarnya mereka menjadi 'budak' klan Astaroth yang merupakan salah satu dari lima klan bangsawan yang paling berpengaruh di Kerajaan Starlight. Entah benar atau tidak kabar itu.

Gara-gara kabar itulah Ayah dan Ibu Naruto memutuskan untuk kabur dari Kerajaan Starlight menuju Kerajaan lain. Pengecut memang, tapi demi kebahagiaan para penduduk apapun pasti akan dilakukan oleh mereka karena mereka adalah orang yang lebih mementingkan penduduk dari pada yang lainnya.

Kembali ke cerita.

Naruto terus berjalan sampai akhirnya dia bertemu dengan Issei dan Lee yang juga sedang menuju ke Academy.

"Pagi, Issei, Lee."

Menyapa mereka dan berjalan bersama menuju ke Academy.

"Pagi, Naruto."

"Pagi, Naruto-kun."

Setelah itu mereka bertiga pun melanjutkan perjalanan mereka menuju Academy sambil mengobrol.

"Hei, Issei, Lee,"

"Ada apa, Naruto?"

"Iya, ada apa, Naruto-kun?"

"Kalian selama ini dapat uang dari mana?"

Issei terdiam sambil menunjukkan ekspresi yang sulit diartikan dan itu tidak lepas dari perhatian Naruto. Lee yang mendengar itu sempat terdiam sesaat namun tidak lama setelah itu dia merespon pertanyaan Naruto.

"Kalau aku dengan mengambil misi bersama Guy-sensei, meski itu hanya dua minggu sekali. Itu pun jika Guy-sensei tidak sedang menjalankan misi sendiri seperti sekarang."

Naruto yang mendengar itu terdiam dan membatin.

'Jadi jika bersama seorang Guru bisa mengambil misi, ya?'

"Kalau kau, Issei?"

Issei masih terdiam saat mendengar itu, dia kemudian menghela nafas dan menjawab.

"A-aku masih dikirimi uang bulanan oleh orang tuaku, Naruto."

Setelah mengatakan itu, Issei terlihat mengepalkan tangannya kuat. Naruto yang melihat itu menaikkan sebelah alisnya dan dia mengingat sesuatu.

'Kalau tidak salah, Hyōdō menjadi bagian dari Astaroth dan…'

Naruto tidak melanjutkan pemikirannya setelah mengingat kabar mengenai keluarga Issei tersebut meski tidak tahu itu benar atau tidak kabar itu.

"Begitu, bukannya kau memiliki alasan lain untuk menjadi kuat, Issei. Jika selama ini kau hanya ingin membuat 'dia'mu itu mengakuimu, bukankah lebih baik jika kau berusaha untuk membuat orang tuamu kembali berjaya seperti dulu?"

Mendengar ucapan Naruto membuat Issei terdiam, dia kemudian menatap ke arah Naruto seakan mata dan pikirannya telah terbuka lebar saat ini.

"Kau benar, Naruto. Sepertinya aku terlalu jatuh ke dalam jurang sampai tidak bisa naik ke atas lagi. Baiklah, untuk kedepannya aku akan melupakan dia dan berusaha demi orang tuaku."

Issei mengatakan itu dengan tekad kuat terpancar dari sorot matanya. Mendengar ucapan Issei membuat Naruto tersenyum kecil.

"Begitu lebih baik, lupakan saja orang asing yang mencampakkan-mu dan berusahalah demi orang tuamu, Issei."

"Yosh! Untuk memulai itu kau harus berlatih dengan keras, Issei-kun! Pertama-tama kau harus push-up 1000 kali…"

Dan ucapan Lee itu pun membuat Issei pucat sedangkan Naruto hanya sweatdrop melihat betapa semangatnya pemuda berambut mangkok dan beralis tebal tersebut membahas latihan. Satu hal yang muncul di kepala Naruto dan Issei saat mendengar ucapan Lee tersebut.

'Dasar, Monster latihan…'

Kelas 1-C, Divisi Campuran.

Naruto saat ini ada di kelas 1-C, divisi campuran. Hari ini adalah hari dimana kelas divisi tersebut memberikan pelajaran mengenai dasar-dasar untuk menjadi seorang Knight. Bisa dibilang hari ini adalah pelajaran untuk murid-murid yang memilih divisi Knight dan di tiap pelajaran di kelas tersebut murid yang divisinya tidak ada pelajaran, bebas mau masuk atau tidak ke dalam kelas tersebut.

Naruto duduk mendengarkan seorang Guru laki-laki yang memiliki bekas luka di hidungnya, Guru itu bernama Umino Iruka. Iruka terlihat menulis beberapa kalimat di papan tulis.

I. Berani.

II. Percaya diri.

III. Pantang menyerah.

IV. Setia.

V. Bijaksana.

"Satu, berani. Seorang Knight harus memiliki keberanian untuk menghadapi segala rintangan ataupun masalah apapun terlepas dari kepribadian diri sendiri yang tidak sama satu dengan yang lainnya. Bagi seorang Knight, keberanian ini adalah hal yang wajib untuk dimiliki karena dalam suatu pasukan, para Knight lah yang akan berdiri memimpin pasukan tersebut."

"Dua, percaya diri. Punya keberanian tapi nol percaya dirinya, sama saja bohong kalau seperti itu. Kepercayaan terhadap diri sendiri juga sangat penting bagi seorang Knight karena para Knight diharuskan untuk memimpin suatu pasukan dan terkadang mengambil alih komando. Knight tanpa kepercayaan diri akan cenderung melakukan sikap bertahan tanpa memiliki kepercayaan diri untuk membalas serangan yang datang. Keberanian dan kepercayaan diri wajib dimiliki oleh seorang Knight."

"Tiga, pantang menyerah. Untuk yang ini tidak perlu untuk dijelaskan dengan panjang lebar, cukup mendengar kalimat pantang menyerah saja kalian harusnya sudah tahu ini wajib atau tidaknya."

"Empat, setia. Jangan menjadi Knight kalau kalian mampu menghianati rekan-rekan kalian. Bagi seorang Knight pantang hukumnya menghianati rekan atau teman, yang mana teman bagi seorang Knight merupakan sisi tumpul dari pedang yang membunuh musuh dan sisi ini bisa digunakan untuk melindungi diri. Jadi kesetiaan wajib dimiliki oleh para Knight karena Knight ini sendiri berarti ksatria dan tidak ada seorang ksatria yang pantas disebut ksatria tanpa kesetiaan."

"Lima, bijaksana. Berbicara mengenai kebijaksanaan, setiap orang sepertinya harus memilikinya tapi mengingat masa sekarang ini… jangankan kebijaksanaan, anak-anak semakin berani bertingkah terhadap orang tua mereka. Jadi ini tergantung seberapa dewasanya pemikiran kalian sebagai manusia. Tapi untuk menjadi seorang Knight kalian setidaknya harus memiliki sedikit saja kebijaksanaan ini agar kalian tidak terjatuh ke dasar jurang dalam yang disebut, kesombongan."

Iruka menjelaskan satu persatu yang dia tulis di papan tulis. Setelah selesai, Iruka menatap setiap wajah murid didiknya yang memiliki ekspresi yang serius mendengarkan penjelasannya kecuali satu orang, dan orang itu tidak lain adalah Naruto yang saat ini sedang menguap pertanda dia bosan dengan pelajaran yang sedang dijelaskan oleh Iruka barusan.

Iruka yang melihat pemuda bernama lengkap Namikaze Naruto tersebut hanya menghela nafas pasrah. Sejak pemuda itu masuk ke kelasnya pemuda itu selalu saja terlihat menguap meski Iruka yakin muridnya yang satu itu mendengarkan penjelasannya seperti murid didiknya yang lain. Iruka tidak bisa menyalahkan pemuda itu karena siapapun pasti akan berubah 180 derajat dari sifat aslinya jika mengalami penghinaan, penganiayaan, dan diskriminasi kuat terhadap status yang dimilikinya saat ini yang dikatakan sebagai pecundang terbaik tahun ini.

Iruka kemudian mengalihkan tatapannya kearah seorang pemuda berambut pirang pucat dan memiliki mata abu-abu. Pemuda itu bernama Kiba Yūto, dia adalah salah satu korban eksperimen dimasa lalunya dan merupakan salah satu siswa dari divisi Knight yang bisa dikatakan sebagai siswa berbakat.

Iruka kemudian kembali menatap papan tulis dan berbicara.

"Ingatlah untuk selalu menjadi seorang Knight sejati, jangan hanya nama saja yang 'Knight', kalian harus memiliki kelima sifat ini untuk mencapai tingkat lanjut dari jalan seorang Knight."

Setelah mengatakan itu, Iruka menatap semua muridnya sekali lagi dan kembali berbicara.

"Untuk pelajaran dasar menjadi seorang Knight cukup itu saja karena kalian masihlah memiliki banyak waktu untuk mempelajarinya sendiri dengan berpedoman pada kelima sifat yang Sensei tulis ini. Jadi, sampai ketemu lagi di pelajaran divisi Knight berikutnya. Memang di sayangkan kelas kita hanya setengah jam pelajaran perhari karena kita berbagi kelas dengan divisi lainnya. Setelah ini adalah pelajaran untuk divisi Medic, kalian diizinkan untuk tetap di kelas meski sudah berganti pelajaran. Sensei sendiri menyarankan untuk kalian agar tetap tinggal karena mungkin saja kalian akan mendapatkan pelajaran yang berharga dari divisi Medic yang merupakan garis hidup terakhir seorang prajurit. Sekian untuk apa yang ingin Sensei katakan dan selamat melakukan aktifitas kalian masing-masing."

Selesai mengatakan itu, Iruka membereskan alat-alat mengajarnya dan bergegas keluar dari kelas 1-C, divisi campuran. Setelah kepergian Iruka, semua murid langsung keluar dan hanya menyisakan Naruto yang sedang melamun. Sekitar sepuluh menit kemudian berdatangan murid-murid perempuan berjumlah 25 orang dan tidak ada satupun diantara mereka yang berjenis kelamin laki-laki.

Naruto yang sedang melamun akhirnya hanya mampu mendesah pasrah saat seorang siswi berambut pirang pucat duduk di tempat duduk tepat di sampingnya, padahal dia mau keluar dari kelasnya tersebut tapi sepertinya sudah terlambat ketika siswi berambut pirang pucat tersebut menatapnya dengan tatapan merendahkan.

"Ara, ternyata si Loser ingin belajar Medic."

Siswi tersebut berbicara dengan nada mengejek meski tidak terlalu jelas karena kalimat yang siswi itu katakan merupakan kalimat biasa. Naruto yang mendengar itu hanya menghela nafas saja dan tidak merespon perkataan siswi berambut pirang pucat tersebut.

Merasa perkataannya diabaikan oleh pemuda yang memiliki gelar 'The Best Loser of The Year' tersebut, membuat siswi itu mendengus kesal dan kembali bicara.

"Huh, jadi pecundang saja sombong, biarku beritahu kau sesuatu,"

Siswi itu menghentikan perkataannya dan mengubah posisinya menghadap ke arah Naruto. Dengan tatapan tajam miliknya siswi itu kemudian melanjutkan.

"Aku putri bangsawan Senju, namaku Senju Tsunade jadi kau harus menghormatiku, Loser!"

Naruto hanya menatap siswi bernama Senju Tsunade tersebut dengan wajah datar. Naruto kemudian bersuara dengan nada datar dan dingin.

"Oh begitu."

Singkat, padat dan sangat jelas apa maksud dari dua kata yang meluncur dari mulut Naruto tersebut, apa lagi dua kata itu diiringi oleh wajah datar tanpa ekspresi miliknya dan jangan lupakan nada dingin yang bikin merinding bagi siapapun yang mendengar dua kata yang jelas dan padat tersebut. Intinya, Naruto tidak peduli dengan siapa atau apa status siswi bernama Senju Tsunade tersebut. Tapi berkat respon itu, sang Senju terlihat wajahnya sudah memerah karena kesal, tidak hanya itu saja, efek uap juga mengepul dari telinganya yang juga memerah.

Dengan urat-urat kekesalan, siswi bernama Senju Tsunade tersebut berdiri hingga menimbulkan bunyi keras saat kursi yang dia duduki bergeser dari posisi semula dengan kasar. Tsunade kemudian mencengkam kerah seragam Academy Naruto dan dia juga bersiap dengan sebuah kepalan tangan kanan yang terlihat menakutkan.

"Kau! Rasakan ini!"

Tsunade langsung menggerakkan tangannya yang terkepal kuat itu ke wajah Naruto yang hanya diam dengan wajah datar.

"Berhenti!"

Tsunade menghentikan niatnya itu dan menoleh dengan kesal ke arah sumber suara yang menyuruhnya berhenti tersebut. Seketika Tsunade langsung diam saat seorang wanita berambut merah sudah ada di dalam kelas tersebut dengan wajah serius yang mengintimidasi. Tsunade tahu siapa wanita itu, dia adalah…

"Okā-sama!"

Ya, wanita berambut merah itu adalah ibu dari Senju Tsunade dan wanita berambut merah itu bernama Uzumaki Mito, dia juga merupakan seorang Guru di Magic Academy tempat Naruto belajar sihir? Ah, maksudnya disiksa.

Mito menatap anaknya dengan wajah serius, dia kemudian berjalan mendekati tempat duduk Tsunade dan berdiri sambil melipat tangannya di bawah dadanya.

"Jadi, kenapa kau lagi-lagi ingin memukul orang, hm… Senju Tsunade?"

Tsunade meneguk ludahnya dengan susah payah, dia berkeringat sambil melirik ke berbagai arah.

"I-itu, aku tidak…"

"Hm?"

Naruto yang melihat kejadian itu hanya menghela nafas, untung saja siswi itu sudah melepaskan dirinya dan sekarang dia harus mengatakan beberapa hal dan keluar dari kelas. Setidaknya itu yang muncul dipikirannya sebelum itu dihapus oleh sang Senju Tsunade yang mengatakan sesuatu…

"A-aku hanya ingin mengajarinya sopan santun, Okā-sama, dia,"

Tsunade menunjuk ke arah Naruto yang menatap hal itu dengan datar.

"Dia tidak menghormatiku dan mengabaikanku saat aku bicara."

Lanjutnya menjelaskan. Mito menaikkan sebelah alisnya, dia menatap Naruto yang masih setia dengan wajah datarnya.

'Dia… anaknya Kushina-chan.'

Mito terdiam saat tatapannya bertemu dengan iris biru safir milik Naruto. Dia tahu kenapa pemuda itu menjadi seperti sekarang ini padahal dulu pemuda yang merupakan anak temannya itu begitu ceria dan murah senyum. Hatinya begitu bersih tanpa noda tapi sekarang dia hanya dapat melihat wajah yang memiliki kemiripan mencapai 90% dengan ayahnya itu hanya menampilkan ekspresi datar saja disana.

Tenggelam dalam pemikirannya sendiri membuat Mito tidak sadar bahwa anaknya saat ini sedang menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Tsunade tahu maksud tatapan ibunya itu dan untuk dirinya secara pribadi sebenarnya dia tidak terlalu peduli dengan kebangsawanan, dia melakukan hal tadi karena dia memiliki alasan tersendiri… mungkin seperti masa kecil yang indah.

Tsunade memejamkan matanya dan berbicara.

"Jadi mau sampai kapan Okā-sama menatap dia?"

Tanya Tsunade dengan nada tegas yang dicampur dengan kesal sambil membuka matanya kembali dan menatap tajam ibunya. Mito sedikit tersentak, dia kemudian menatap anaknya dan berdehem ringan lalu berbicara.

"Ehem, baiklah karena waktu kita sedikit Sensei akan melanjutkan pembelajaran. Dan…"

Mito menatap Naruto dengan ekspresi serius.

"Namikaze-kun, tolong tetap di kelas karena setelah ini Sensei ada perlu denganmu dan Tsunade. Kalian berdua harus menjelaskan kejadian tadi sampai sedetail mungkin."

Lanjutnya tegas, Mito kemudian berbalik dan berjalan ke depan kelas. Tsunade hanya menghela nafas lega tapi beberapa detik berikutnya dia kembali berkeringat.

'Sepertinya aku akan dimarahi lagi…'

Tsunade kembali duduk dengan pasrah saat menyadari nada tegas ibunya yang mengatakan dengan jelas tujuannya. Di sisi lain Naruto hanya diam duduk di kursinya meski di dalam hatinya dia tidak ada bedanya dengan Tsunade pemikirannya.

'Menyebalkan…'

Jam 15:25 PM.

Setelah pelajaran tentang menjadi seorang Medic dan interogasi dadakan dari sang guru Medic yang bernama Uzumaki Mito selesai. Naruto berjalan lelah menuju ke asramanya, namun di tengah perjalanan dia dihadang oleh seorang pemuda berambut pirang yang merupakan salah satu dari lima Prince of Academy.

"Hei, kau mau kemana, Loser?"

Naruto menatap pemuda dihadapannya itu dengan datar.

"Raiser Phenex. Ada apa kau menghalangi jalanku?"

"Cih, aku akan menghajarmu, Loser. Aku tidak akan menerima penghinaan yang kau lakukan padaku sebelumnya begitu saja. Jika sebelumnya ada yang menghalangi maka kali ini kau akan aku buat hancur sampai sehancur-hancurnya karena tidak akan ada yang menghalangiku kali ini."

Raiser menyeringai kejam sambil memperlihatkan lingkaran sihir yang mengeluarkan kobaran api di tangan kanannya. Pemuda keturunan Phenex tersebut mengangkat tangan kanannya ke depan dan menembakkan sebuah bola api kecil ke arah kepala Naruto. Melihat serangan dari pemuda Phenex tersebut tidak membuat Naruto takut, dia hanya menggeser sedikit tubuhnya kesamping dan membiarkan bola api itu melesat melewati samping kepalanya begitu saja.

Raiser yang melihat itu langsung menembakkan bola-bola api lain ke arah Naruto tapi Naruto berhasil menghindari semua serangannya dengan mudah. Melihat serangannya gagal lagi membuat Raiser sedikit kesal, dia kemudian melapisi tangannya dan melesat menerjang Naruto.

"Rasakan ini, Loser!"

Tinju berlapis api melesat mengincar kepala Naruto namun tinjuan itu berhasil dihindari dengan memiringkan kepalanya. Naruto kemudian meninju perut Raiser meski pemuda Phenex tersebut berhasil melompat mudur menghindari pukulan Naruto tersebut. Naruto menyipitkan matanya saat melihat Raiser melompat mundur menghindari tinjuan darinya.

'Jadi begitu ya…'

Naruto membatin saat menyadari sesuatu. Naruto tentunya tidak ingin diam dan menerima serangan dari lawannya, dia juga akan maju untuk menyerang dan itu dia lakukan saat ini. Melesat dengan kecepatan yang lumayan, Naruto menyerang Raiser dengan tinjuan tangan kanannya.

Buk!

Raiser menahan serangan Naruto dengan menyilangkan lengannya, dia kemudian menyelimuti lengannya tersebut dengan api. Tidak ingin terbakar, Naruto menarik tangannya dan menendang perut Raiser yang tidak sempat bereaksi terhadap serangan itu.

Buagh!

"Ugh, sialan kau, Loser!"

Raiser mengumpat kesal saat rasa sakit dia rasakan di bagian perutnya meski sedetik kemudian rasa sakit itu hilang entah kemana. Naruto melompat mundur mengambil jarak aman dan memperhatikan gerak gerik Raiser. Observasi, begitulah yang sedang dilakukan Naruto saat ini.

'Dia memang bisa merasa sakit meski hanya sedetik. Pantas saja klan Phenex begitu membanggakan garis darah regenerasi mereka.'

"Kau, aku tidak akan bermain-main kali ini, Namikaze! Bersiaplah, aku tidak akan menahan diri!"

Raiser melesat cepat ke arah Naruto dan menyerangnya dengan tinju berlapis api miliknya. Tidak hanya itu saja, Raiser menciptakan lingkaran sihir dalam beberapa kesempatan disaat Naruto sedang menghindari tinjuan berlapis api miliknya.

Naruto terus menghindari serangan Raiser sampai membuat Raiser semakin kesal karena serangannya berhasil dihindari semua. Raiser kemudian melompat mundur dan menciptakan lingkaran sihir besar khas klan Phenex dan menembakkan bola api besar ke arah Naruto.

Blaar!

Bola api itu menghantam tanah tempat Naruto berdiri. Raiser yang melihat itu tertawa mengejek.

"Hahaha, matilah Loser, sampai kapanpun kau berusaha kau tidak akan bisa mengalahkanku!"

Tinggalkan Raiser yang merasa senang, disisi lain Naruto saat ini sedang berdiri cukup jauh dari lokasi ledakan dari serangan Raiser tersebut. Naruto berhasil melompat mundur sejauh mungkin sebelum serangan bola api besar milik Raiser mengenainya. Debu menutupi jarak pandangnya sehingga dia tidak dapat melihat Raiser yang saat ini sedang tertawa. Naruto tidak mengerti kenapa pemuda Phenex itu tertawa padahal serangan pemuda itu sama sekali tidak mengenainya.

Naruto kemudian menunduk dan dia mengambil sebuah batu seukuran kepalan tangannya. Naruto melempar-lemparkan batu itu di tangan kanannya, lalu tidak lama setelah itu dia melempar batu itu ke arah Raiser dengan memanfaatkan suara Raiser yang sedang tertawa.

Duak!

"Ap- sialan! Siapa yang berani melempar batu padaku! Keluar kau brengsek! Kalau berani tunjukkan dirimu!"

Naruto yang mendengar itu hanya menghela nafas, dia kemudian mengingat pertarungannya dengan Uchiha Sasuke.

'Sepertinya budak Uchiha yang satu ini benar-benar bodoh, di tempat sepi yang cukup jauh dari gedung Academy mana mungkin ada orang lain selain yang sedang dia lawan. Kenapa orang seperti dia bisa disebut berbakat?'

Naruto tidak mengerti tentang orang yang disebut berbakat tersebut, dia sendiri tidak percaya bakat itu ada karena yang dia percayai di dunia ini yang ada hanyalah kerja keras dan sesuatu yang di sebut bakat itu tidak lain adalah hasil dari kerja keras tersebut namun disebut berbakat sejak lahir karena keturunan bangsawan besar, apa itu serius?

Kalau begitu bukannya dirinya yang merupakan keturunan dari Kīroi Senkō dan Akai Chishio no Habanero, pemimpin klan termuda sepanjang sejarah kerajaan Starlight dan seorang Sealing Master of Uzumaki terbaik yang pernah ada, seharusnya memiliki sesuatu yang disebut bakat tersebut? Entahlah, Naruto tidak mengerti tentang bakat-berbakat tersebut karena yang dia tahu hanya kerja keraslah yang akan menentukan apa seseorang pantas disebut hebat.

Naruto terdiam, dia tidak menanggapi teriakan Raiser yang marah karena dia timpuk menggunakan batu. Seharusnya pemuda Phenex itu menyadari siapa yang melakukan itu terhadap dirinya. Beberapa menit kemudian debu yang menutupi pandangan Naruto dan Raiser menghilang dan terlihatlah ekspresi marah di wajah Raiser di kejauhan yang sedang menatap ke arah Naruto.

"Namikaze! Jadi kau yang melempar batu tadi? Dasar Loser brengsek! Aku akan menghancurkanmu kali ini, bersiaplah sialan!"

Raiser mengobarkan api besar yang menyelimuti seluruh tubuhnya, dia kemudian memunculkan sepasang sayap api di punggungnya dan terbang. Wujud Raiser saat ini terlihat seperti seekor burung yang terbakar api.

Phoenix Mode

Raiser terbang melesat ke arah Naruto dengan kecepatan yang sangat tinggi. Naruto melebarkan matanya saat melihat Raiser dalam hitungan detik sudah ada di depannya sambil melayangkan tinju berlapis api.

Phoenix Punch

Buagh! Syuuut!

Blaar!

Naruto terkena pukulan berlapis api milik Raiser tepat di pipi kirinya sehingga membuatnya terlempar dengan kuat dan berhenti setelah menabrak pohon. Raiser yang belum puas hanya dengan satu serangan kembali terbang ke atas dan menciptakan lingkaran sihir besar, dari lingkaran sihir itu melesat seekor burung api besar menuju ke tempat Naruto menabrak pohon.

Phoenix Blaster

Kyaaakk!

Duuaaar!

Burung api besar itu berteriak khas burung elang dan menghantam telak lokasi Naruto berada. Kobaran api memenuhi area sekitar tempat Naruto tadi terlempar menabrak pohon. Raiser yang melihat itu masih belum merasa puas, dia melesat ke lokasi Naruto dan mencari keberadaan pemuda Namikaze tersebut. Setelah Raiser menemukan Naruto, dia berjalan menghampirinya masih dengan tubuh yang terbakar oleh api miliknya.

Naruto disisi lain sudah terlihat tidak berdaya, luka bakar memenuhi sekujur tubuhnya. Seragam Academy miliknya sudah terbakar habis dan hanya menyisakan celananya saja yang saat ini sedang terbakar. Naruto masih sadarkan diri, dia meringis kesakitan karena seluruh tubuhnya terasa sangat panas dan sakit. Kulitnya melepuh akibat terbakar api, apa lagi kakinya yang saat ini celananya masih dibakar oleh api dan itu sangat panas. Naruto ingin berteriak tapi dia sudah terlalu lemah untuk bisa melakukan hal itu.

Rasa panas itu benar-benar sangat menyiksanya, dia tidak menyangka lawannya itu akan benar-benar menyerangnya dengan brutal, dia bahkan bisa mendengar langkah kaki yang mendekatinya saat ini dan dia yakin sekali pemilik dari suara langkah kaki tersebut pasti pemuda bernama Raiser Phenex tersebut. Naruto hanya mampu terdiam menahan panas di seluruh tubuhnya, dia terbaring lemah di tengah kawah hasil ledakan dari serangan Raiser.

Raiser berhenti berjalan ketika sudah sampai ditempat Naruto, dia menghilangkan api yang menyelimuti tubuhnya. Terlihatlah wajah Raiser yang menatap Naruto dengan pandangan merendahkan, dia kemudian membungkuk dan mencengkram leher Naruto lalu mengangkatnya.

Raiser menatap mata Naruto yang terbuka sedikit dan berbicara.

"Heh, Loser sepertimu seharusnya jadi budak bangsawan sepertiku. Menyesal lah karena telah menghinaku dan ayahku. Kau hanya pecundang menyedihkan yang tidak tahu dimana tempatmu berada."

Bruk!

Raiser menjatuhkan tubuh Naruto dengan kasar, dia kemudian berbalik berniat untuk pergi, tapi setelah dia mengambil satu langkah Raiser berbalik lagi dan kembali mencengkram leher Naruto sekali lagi.

"Benar juga, Loser sepertimu tidak perlu ada di Magic Academy ini. Jadi…"

Raiser menggerakkan tangan kanannya yang bebas ke arah kedua mata Naruto.

"Lebih baik kau tidur saja selamanya, atau begini saja…"

Raiser memunculkan api kecil di ujung jari telunjuk dan tengahnya.

"Aku ambil penglihatanmu, kau tidak butuh penglihatan ini karena itu percuma… kau tidak akan pernah bisa mengalahkan siapapun, Loser."

"Aaarrghh!"

Raiser menusukkan kedua jarinya yang terbakar api tersebut ke kedua mata Naruto membuat Naruto berteriak kesakitan dan akhirnya pingsan karena tidak sanggup mempertahankan kesadarannya akibat rasa panas di kedua matanya.

Bruk!

Raiser kembali menjatuhkan tubuh tidak berdaya Naruto dan segera pergi meninggalkan tempat itu sebelum ada siswa-siswi yang melihat perbuatannya tersebut. Sepeninggalan Raiser, seorang siswi datang ke tempat itu dengan ekspresi datar namun memiliki sorot mata yang memancarkan kekhawatiran disana. Siswi tersebut kemudian berjalan ke tempat yang memiliki kerusakan cukup parah disana dan hilang sudah wajah datarnya ketika melihat apa yang ada di tengah kawah disana.

Siswi tersebut menutup mulut mungilnya dan mata violetnya melebar dibalik lensa kacamatanya. Dengan ekspresi cemas yang muncul di wajah cantiknya, siswi tersebut berlari menghampiri Naruto yang terbaring dengan sekujur tubuhnya penuh dengan luka bakar. Siswi tersebut kemudian menciptakan lingkaran sihir biru kecil dan mengeluarkan air dengan intensitas sedang yang diarahkan pada celana Naruto yang masih terbakar dan hampir membakar habis seluruh kain tersebut.

Air yang muncul dari lingkaran sihir yang dibuat siswi tersebut memadamkan api yang membakar celana Naruto. Siswi tersebut bergerak kesamping tubuh Naruto dan bersimpuh disana menghiraukan bekas hitam ditanah akibat terbakar tersebut. Siswi tersebut menggerakkan tangan mungilnya untuk menyentuh dada Naruto dengan lembut, dan beberapa saat kemudian lingkaran sihir biru muncul seukuran dengan telapak tangan siswi tersebut dan dari lingkaran sihir itu keluar cahaya hijau lembut yang menyebar hingga menyelimuti seluruh tubuh Naruto.

Healing Magic: Cure Heal

Siswi tersebut bergumam lirih, dia menatap prihatin pemuda Namikaze yang terbaring tidak berdaya tersebut. Siswi tersebut kemudian melihat bekas terbakar di bagian mata pemuda Namikaze tersebut. Otak cerdasnya memproses informasi itu dengan cepat.

"Siapa… siapa yang tega melakukan semua ini?"

Suara dingin itu meluncur dari mulut mungil siswi tersebut, dia menghentikan sihir penyembuhan miliknya dan menggerakkan tangannya ke arah mata Naruto. Siswi tersebut kemudian secara perlahan membuka kelopak mata Naruto yang terpejam. Syok, itulah yang dirasakan oleh siswi tersebut saat melihat bola mata pemuda Namikaze tersebut rusak akibat terbakar api. Siswi tersebut menarik tangannya kembali dan mengepalkan tangannya kuat menahan amarah yang muncul di hatinya saat menyaksikan bola mata pemuda Namikaze tersebut terbakar cukup parah.

"Aku pasti akan menemukan pelakunya, orang seperti itu harus mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya. Namikaze-kun, maafkan aku karena datang terlambat. Sebagai ketua Dewan Siswa di Magic Academy ini aku kurang cepat bertindak. Ini adalah kesalahanku, maafkan aku..."

Siswi tersebut kemudian menghubungi seseorang dengan Moco di pergelangan tangan kirinya.

"Tsubaki, cepat ke A21 di jalan menuju asrama laki-laki."

Tut! Tut! Tut!

Siswi tersebut langsung memutuskan sambungan Moco-nya tanpa menunggu respon dari orang yang dipanggil Tsubaki tersebut. Sekitar 10 menit kemudian seorang siswi berambut hitam panjang dan memakai kacamata datang ke tempat itu. Siswi yang baru datang itu berjalan menghampiri siswi yang sedang berada di tengah kawah bersama Naruto yang pingsan.

"Kaichō, apa yang terjadi disini?"

Sang Kaichō menoleh ke arah siswi yang bertanya tersebut.

"Nanti saja penjelasannya, sekarang bantu aku membawa Namikaze-kun ke ruang kesehatan Academy."

Siswi yang tidak lain adalah seseorang yang dihubungi sang Kaichō dengan nama Tsubaki tersebut mengangguk mengerti. Mereka kemudian membawa Naruto ke ruang kesehatan Academy.

Ruang kesehatan Academy.

Kaichō dan Tsubaki membaringkan tubuh Naruto di salah satu ranjang yang ada di ruangan tersebut. Mereka kemudian saling pandang sesaat dan sang Kaichō berbicara.

"Aku akan mencari Shizune-san karena hanya dia yang memiliki Healing Magic tingkat tinggi di Academy ini. Tsubaki kau tetap disini dan jaga Namikaze-kun, aku tidak ingin orang yang melakukan penyerangan ini kembali untuk melanjutkan perbuatannya."

Tsubaki mengangguk mengerti.

"Ha'i, Kaichō."

Sang Kaichō melangkah keluar dari ruang kesehatan Academy tersebut setelah Tsubaki merespon ucapannya. Sepeninggalan sang Kaichō, Tsubaki mengalihkan perhatiannya ke arah tubuh Naruto yang terbaring tidak berdaya di atas ranjang. Tsubaki mengambil sebuah kursi dan duduk di samping ranjang tempat Naruto terbaring.

Tsubaki memperhatikan seluruh luka bakar yang ada di tubuh pemuda Namikaze tersebut dengan wajah khawatir. Dia menghela nafas, dia alihkan tatapannya ke wajah Naruto dan bergumam.

"Namikaze-kun, aku tidak menyangka ada seseorang yang tega melukaimu sampai seperti ini. Peraturan Academy ini masih belum cukup untuk melindungimu."

Tsubaki kemudian mengingat dua orang siswa lainnya yang juga senasib dengan pemuda Namikaze tersebut.

"Bahkan penyerangan ini lebih parah dari yang dialami oleh Hyōdō Issei dan Rock Lee."

Tsubaki terus saja memikirkan hal semacam itu hingga 15 menit kemudian sang Kaichō datang bersama orang yang merupakan salah satu guru Medic terbaik di Academy tersebut sekaligus pengurus ruang kesehatan Academy.

Shizune menatap khawatir ke arah ranjang tempat Naruto terbaring. Sebelumnya dia sudah mendapatkan penjelasan dari sang Kaichō tentang kejadian yang menimpa pemuda Namikaze tersebut. Sebagai teman dari ibu pemuda tersebut dia jelas tidak mungkin diam saja dan berpura-pura tidak peduli karena saat ini pemuda Namikaze tersebut sedang dalam kondisi kritis akibat terkena serangan kuat dari penyerangnya.

Shizune tidak perlu mengatakan apapun, dia langsung saja mendekati ranjang tempat Naruto terbaring dan segera melakukan tugasnya sebagai pengurus ruang kesehatan Academy tersebut. Shizune menjulurkan kedua tangannya ke dada Naruto, dia kemudian berkonsentrasi dan muncul sebuah lingkaran sihir hijau yang membesar hingga menutupi seluruh tubuh Naruto.

Healing Magic: Royal Heal

Setelah Shizune menyebutkan nama sihirnya, dari lingkaran sihir hijau itu keluar cahaya hijau kebiruan yang menyelimuti seluruh tubuh Naruto dan menyembuhkan semua luka di tubuh Naruto sampai tidak tersisa. Beberapa saat kemudian Shizune menghentikan sihirnya dan menghela nafas lega karena semua luka bakar di tubuh Naruto sudah sembuh total tanpa ada yang terlewat.

"Huh~ dengan ini Namikaze-kun akan baik-baik saja."

Ucap Shizune lega, dia kemudian mengalihkan perhatiannya ke arah sang Kaichō dan Tsubaki.

"Sitri-san, Shinra-san, Terima kasih sudah menolong Namikaze-kun dan membawanya ke sini. Dan Terima kasih juga karena sudah melakukan pertolongan pertama, Sitri-san. Kalau kau tidak melakukannya mungkin saja Namikaze-kun akan terlambat untuk diselamatkan."

"Tidak, Anda tidak perlu berterima kasih, Shizune-san. Ini terjadi karena aku kurang tegas mendisiplinkan murid-murid bermasalah disini karena mereka dilindungi nama bangsawan mereka."

Kaichō menggeleng pelan, dia juga menjelaskan kejadian itu terjadi karena dirinya yang kurang tegas dalam mendisiplinkan murid-murid di Magic Academy tersebut.

"Lalu bagaimana dengan mata Namikaze-kun, Shizune-san? Kedua matanya juga di serang, itu dibakar."

Lanjut Kaichō khawatir. Setelah mendengar itu, Shizune hanya menggeleng pelan dan memasang ekspresi menyesal.

"Sayangnya kedua bola mata Namikaze-kun rusak terlalu parah, meskipun itu bisa disembuhkan penglihatan Namikaze-kun akan menjadi sangat buram dan hanya Mystical Magic Recovery yang dapat menyembuhkannya secara total."

Kaichō dan Tsubaki terdiam, mereka tidak menyangka untuk menyembuhkan luka dimata pemuda Namikaze tersebut dibutuhkan sihir tingkat tinggi dari tipe Mystical Magic. Mystical Magic Recovery sendiri mampu menyembuhkan luka fisik se-parah apapun itu, kutukan bahkan bisa disembuhkan dengan sihir itu tapi masalahnya, sangat jarang ada pengguna Mystical Magic di Kerajaan Starlight.

Bangsawan Uchiha memang semuanya memiliki Mystical Magic tapi itu adalah garis darah yang mana itu sudah memiliki kemampuan tersendiri sejak awal dan tidak bisa mempelajari sihir dari tipe yang sama secara penuh karena Mystical Magic milik bangsawan tersebut berupa mata mistis dan bukan tipe normal.

"Begitu ya…"

Kaichō bergumam pasrah.

"Tapi bagaimana dengan Repairing Magic? Apa benar tipe sihir ini hanya untuk memperbaiki benda rusak?"

Perkataan Tsubaki sukses membuat sang Kaichō dan Shizune menatap ke arahnya dengan tatapan sedikit terkejut tapi kemudian mereka terdiam memikirkan kemungkinan bahwa sihir itu bisa memperbaiki kerusakan pada sesuatu yang lain karena selama ini belum ada yang bisa memperbaiki sesuatu selain benda rusak dengan sihir itu.

"Aku tidak tahu, Tsubaki-san. Jujur saja tipe sihir itu masih terbilang baru ada dan kemampuannya masih misterius meski kebanyakan orang sudah menetapkan bahwa tipe sihir itu merupakan tipe sihir tidak berguna karena hanya bisa memperbaiki benda rusak saja."

Shizune menjelaskan sambil menggeleng pelan. Beda Shizune, beda lagi dengan sang Kaichō, otak cerdas siswi tersebut berputar dengan segala kemungkinan yang ada dan pada akhirnya dia membuat suatu kesimpulan.

"Aku rasa tipe sihir itu bisa memperbaiki kerusakan tubuh, tapi dibutuhkan kapasitas Mana yang cukup untuk menggunakannya."

Tsubaki dan Shizune menatap ke arah Kaichō dengan ekspresi serius.

"Apa itu benar, Sitri-san?"

Kaichō mengangguk pelan sambil membenarkan letak kacamatanya.

"Ha'i, Shizune-san. Aku pernah membaca buku tentang sihir itu di perpustakaan keluarga kerajaan. Di buku itu dikatakan bahwa Repairing Magic lebih dari mampu membuat sebuah pohon tumbang kembali berdiri tegak. Artinya tipe sihir itu mampu memperbaiki kerusakan pada objek selain benda rusak. Pohon tumbang tidak terhitung sebagai benda rusak tapi sebagai kerusakan tubuh karena pohon adalah mahluk hidup meski tidak bergerak."

Kaichō menjelaskan sambil mengingat kalimat yang ada di Repairing Magic Book yang pernah dia baca.

"Kalau begitu mata Namikaze-kun bisa diperbaiki dengan tipe sihir itu,"

Tsubaki menghentikan ucapannya saat menyadari sesuatu.

"Ya bisa, Tsubaki. Tapi masalahnya di Magic Academy ini yang memiliki tipe sihir itu adalah orang yang membutuhkan sihir itu saat ini dan orang itu kapasitas Mana miliknya sangat kecil bahkan lebih kecil dari kapasitas Mana milik bayi yang baru lahir."

Kaichō menjelaskan dan mereka sekali lagi menemukan jalan buntu untuk menangani masalah yang menimpa salah satu murid di Magic Academy tersebut.

Kaichō menghela nafas pasrah, dia kemudian mengalihkan perhatiannya ke arah ranjang tempat Naruto terbaring. Setelah itu Kaichō menatap Shizune dengan ekspresi serius.

"Shizune-san, tolong jaga Namikaze-kun, aku dan Tsubaki akan melakukan sesuatu tentang masalah ini. Masalah ini harus diadili agar tidak menjadi kebiasaan lebih lanjut di kalangan anak-anak bangsawan lainnya. Kalau begitu kami permisi dulu, Shizune-san. Ayo, Tsubaki."

"Ha'i, Kaichō."

Mereka berdua membungkuk sebentar kepada Shizune dan Shizune juga membalasnya.

"Ya, kalian harus menegakkan keadilan di Academy ini, setidaknya jika di Academy ini keadilan ditegakkan maka siswa-siswi yang lulus dari sini mungkin akan membawa keadilan itu keluar hingga menyebar ke seluruh penjuru kerajaan ini."

Kaichō dan Tsubaki mengangguk mengerti, mereka berdua kemudian berbalik dan pergi meninggalkan ruang kesehatan Academy tersebut. Setelah kedua anggota Organisasi Dewan Siswa tersebut keluar, Shizune mengalihkan perhatiannya ke arah Naruto dan membatin.

'Kushina, maafkan aku, aku tidak bisa melindungi putramu. Tapi aku akan melakukan apapun untuk menyembuhkan mata putramu, Kushina.'

[To Be Continue]

Author Note:

Yah halo!

Chapter 4 sudah ditayangkan di layar kaca Anda :v

Di chapter ini Naruto tepar dan hampir dead tapi untungnya ada si datar berkacamata yang datang menolongnya, taukan siapa dia?

Di cerita ini Tsunade aku buat menjadi seumuran dengan Naruto yaitu 17 tahun. Kenapa? Err biar gak mainstream Tsunade jadi tua mulu :v

Uzumaki Mito aku buat jadi ibunya Tsunade, masalah rambut yang beda itu karena Tsunade memiliki warna rambut kakeknya. Kakeknya disini adalah karakter oc dan sudah mati. Untuk ayah Tsunade adalah Hashirama dan dia masih hidup. Termasuk kakek legend Uchiha, yaitu Madara yang entah ada dimana dia.

Dibagian atas juga aku sedikit menjelaskan alasan kenapa Issei membenci Diodora, meski benar tidaknya masih belum jelas dan kenapa Issei tidak memiliki tekad untuk mengembalikan kejayaan keluarganya karena dia mendapatkan surat bahwa mereka baik-baik saja. Ini adalah sedikit penjelasan yang tidak ditampilkan yang mungkin menjawab pertanyaan yang muncul di kepala kalian saat membaca fic ini dimana Issei hanya berjuang untuk membuat 'dia' mengakuinya. Tapi berkat Naruto, Issei akan berjuang untuk keluarganya.

Satu persatu karakter samar mulai terlihat lebih jelas, di chapter depan mungkin Naruto akan menggunakan sihirnya untuk pertama kalinya dan itu akan mengakhiri Chapter Worst Type Magic ini. Nanti kan kisah Naruto di chapter 5 yang akan ditayangkan entah kapan :v

Dan dibawah ini adalah balasan untuk beberapa review, cek dibawah mungkin saja pertanyaan kalian memiliki jawaban.


Sapun:

Jawabannya ada diatas. Untuk Issei, iya dia bakal ketemu Ddraig karena aku gak akan menghilangkan unsur dari DxD yang satu itu, Sacred Gear begitulah. Namun gak tau itu kapan terjadinya, masih lama.

Jeanne Alter d'Arc: Amin, makasih do'anya. Kau dan seluruh keluargamu juga semoga sehat selalu bro.

Dimas Kurosaki: Wah tanda sesuatu yang gelap dan mengerikan :v

Ok, ini udah lanjut dan kau juga selalu jaga kesehatan bro.

Nara sigembor: Masalah itu terjawab di chapter ini setengahnya, dan alasan lainnya Naruto tidak tahu apa penyebab pasti perkembangan Mana miliknya sampai begitu buruk seperti itu. Untuk syarat ya ada, Naruto setidaknya harus tau apa yang rusak itu baru dia bisa memperbaikinya.

Unlimited Lost Works: Wah makasih dan ya masih slow perkembangan Naruto, dia akan berkembang secara perlahan dengan penuh perjuangan dan melewati berbagai rasa sakit. Untuk teman baru itu akan muncul di chapter setelah Worst Type Magic selesai.

Tamu: Uh, ya terkadang memang ada yang seperti itu karena mungkin merasa gak sesuai dengan harapannya, ketika nemu fic yang menarik misalnya tapi kemampuan chara utamanya gak sesuai harapan jadi ya begitulah. Aku juga terkadang memikirkan hal itu tapi seperti yg kau katakan, jadilah Author fic mu sendiri karena fic itu karyamu dan pembaca adalah penilai karyamu. Jika ada sesuatu yang dirasa kurang, memberi saran adalah hal yang bisa dilakukan tapi jika sudah mencoba merubah alur, aku cukup meminta maaf karena aku gak akan menurutinya. Makasih udah membaca dan mereview fic abal-abal ini Reader-san.

Tamu - D. Madoka: Ok, dan ini udah update chapter 4-nya, ditunggu chapter selanjutnya.


Mungkin sampai di sini untuk A/N kali ini. Makasih untuk kalian semua yang udah menyempatkan diri untuk membaca cerita ini. Sampai jumpa di chapter depan…

Cyaaaa In Next Chapter!

Azking's v2 Out!!!