Omong-omong, kalian jangan tertipu label genre yang ada, oke?

Kalian tahu sendiri, Chic White itu ditaburi biji wijen.

"Yakali! Memangnya aku ini ayam rica-rica?"

Hm … boleh dicoba.

"Ah, shit."

JANGAN LARI WOI!

-o-o-o-

The Prince and Princess of Nonsense

Apa itu galau? Sejenis cincau?

-o-o-o-

Aku menatap lurus nyala obor mungil di tepi kanan altar yang kududuki. Membiarkan sukma terbawa kehangatan dan ketenangan dari penerangan remang Bilik Spiritual Kuil Api. Kunikmati semua itu, sementara kepalaku memutar balik tuntunan Biksu Shishui dalam meditasi kosmik.

Entah beberapa menit kemudian, keheningan pecah. Pintu danawa terbuka, diikuti suara tak asing di telinga.

"Sudah kuduga, kau ke sini."

Aku membalik badan, mengubah posisi duduk dari semula sila menjadi berselonjor. Dengusan kukeluarkan saat kulihat mata penggangguku bergerak gelisah.

"Gak usah lebay, Sas. Dua jam yang lalu kita masih bertemu di sekolah."

Sebuah jitakan mendarat mulus di kepalaku. Tentu saja aku tidak terima! Aku menggeram, berniat menyalak sang pengganggu—iya, si Pangeran Sialan yang selalu kalian tanyakan—dan meminta pertanggungjawabannya.

Aku langsung ciut begitu melihat ekspresi dingin di wajah yang bersangkutan.

Amboi, ibu-ibu PMS saja kalah seram!

"Terakhir kali kau menghilang tiba-tiba, kau berakhir sekarat. Sekarang kau memintaku tidak usah khawatir?"

baiklah, kuakui, itu memang terdengar agak bodoh—

"Uhh …." Aku tak tahu harus mengatakan apa padanya.

Sasuke mengusap wajah, mendesah panjang. Seolah dia baru saja menghadapi cobaan hidup paling berat sejagat. Dan, jujur saja, itu membuatku sedikit tersinggung.

Hey! Menghadapi kebucinanmu itu lebih menyusahkan, tahu!

"Setelah bimprof dengan Pak Kakashi, kau bolos begitu saja." Sasuke menatapku dengan pandangan menyelidik. "Kenapa?"

Aku angkat bahu. "Sekali-kali ingin coba bolos, biar kaya orang."

Kali ini pipiku yang jadi target kekerasan. Dicubit gemas dalam waktu singkat, tetapi dengan tenaga berlebih. Kubalas ulah dia dengan lemparan sepatu.

Sasuke, sayang sekali, bisa menangkisnya dengan mudah. "Kenapa?" tanyanya lagi, terdengar lebih menuntut jawaban.

Aku mengeritkan gigi. Sesak kembali kurasa tanpa aba-aba. Aku melompat turun dari altar, tiba-tiba saja merasa permukaannya terlalu beku untuk kududuki.

Sejenak, aku merasa kalut. Ingin menghancurkan sesuatu. Sesaat kemudian, aku terdiam, tertabrak sendu. Kupandangi Altar Api dengan tatapan rindu.

Itu adalah tempat tersegelnya Kurama.

Ya, aku rindu naga jelek yang satu itu! Masalah buat lo?!

Sepertinya Sasuke paham tanpa perlu kujelaskan dengan lisan. Karena yang kutahu, beberapa detik kemudian, aku sudah ditarik ke dalam pelukannya.

"Nangis aja kalau mau. Akan kupeluk sampai kau puas," bisik Sasuke.

"Kalau gitu gak mau. Ketekmu bau," kataku.

"Eh, sialan—"

Aku cengengesan.

Sasuke—0, Naruto—1!

.

"Jadi, bagaimana hasil bimprof-mu dengan Pak Kakashi?" tanya Sasuke.

Kami sudah meninggalkan kawasan kuil, berjalan menuju istana. Ada jadwal rapat akbar yang harus kuhadiri hari ini.

Aku angkat bahu. "Kau tahu sendiri aku masih belum kepikiran mau gimana. Tapi Pak Kakashi usul atlet bending battle atau guru PJPD, sih."

"Sarannya oke." Sasuke manggut-manggut. "Dua itu kemungkinan tidak akan membuatmu frustasi menghadapi You-Know-What."

Asem.

"Yah … sementara mungkin pilih keguruan PJPD dulu? Biar Pak Kakashi atau—lebih parah lagi—Bu Tsunade tidak mengomeliku. Aku belum tahu banyak soal bending-battle selain sistem kejuaraan solo yang kita pakai di Porsenzar sekolah." Lagi pula aku belum bertanya pada Jiraiya. Bagaimanapun, hak asuhku dia yang pegang. Perizinan formal, contohnya untuk pendidikan, masih butuh tembusan tanda tangan si Pak Tua Mesum yang satu itu.

"Aku ada usul lain sih, kalau kau berminat." Sasuke bersuara lagi. Ekspresinya—menyeringai tidak jelas sambil membuat alis bergerak naik-turun begitu—membuatku sedikit curiga.

Tetapi, aku tetap bertanya, "Apa?"

Seringai Sasuke semakin mengundang tinjuan. "Jadi istriku," katanya disertai kedipan sebelah mata.

Aku mengangkat satu kepalan tangan, melotot tajam padanya. "Disgusting. Mau kuhajar?"

Sasuke bersiul. Ancamanku sama sekali tidak mempan. Langkah si kampret malah terlihat lebih ceria. "Bilangnya disgusting, tapi kalung dariku masih kau pakai tuh?"

Kalian lihat, apa yang harus kuhadapi setiap hari?

"Mukamu juga merah, Tuan Putri."

"Matamu minus, ya? Kupikir cuma kelakuanmu yang minus."

Sasuke tertawa lepas. Gurat-gurat khawatir, jika sebelumnya masih tersisa, luntur di tengah tawa. Tak lama, Pangeran Kedua Negara Api itu menyeka sudut matanya yang berair, lalu menatapku. "Kamu lucu, Nar. Lupa ngaca, ya?" katanya kalem.

Serius, makhluk ini semakin bucin kenapa semakin ngeselin?

"Cie, ngambek." Sasuke bersiul lagi.

Aku mengerang, menendang bokong Sasuke sepenuh hati. Sialnya, tak kena. Dia berhasil menghindar. Pasti mantan ketua OSIS itu sudah memperkirakan bagaimana tanggapanku.

Kalau Kurama ada di sini, dia pasti meledekku, "Bucin ngeselin juga kau tetap sayang, bukan?"

Naga enggak ada akhlak, dia itu.

.

Singkat cerita, kami sampai di ruang rapat.

Sebenarnya aku enggan hadir. Dari awal masuk ruangan saja, keempat pemimpin negara elemental bersama ajudan masing-masing langsung memberi salam hormat padaku. Rasanya … aku tidak berhak.

Maksudku, aku sudah bukan avatar mereka lagi. Haruskah gestur mereka seperti itu?

Rapat dibuka oleh ajudan Negara Api. Topiknya apa? Kelanjutan nasib Shimura Danzou dan Teratai Merah.

Ah, jangan terlalu khawatir soal Kak Itachi dan kawan-kawan. Berhubung mereka sama sekali tidak berniat menghancurkan/menguasai dunia, hukuman yang diberi tidak se-serius Danzou maupun pengikut setianya. Mereka diberi misi untuk menuntaskan Teratai Merah yang tersisa, tanpa ekspos publik.

Yah … aku jelas paham mengapa Raja Bumi, Raja Api, Raja Angin, dan Ketua Suku Air Utara memilih untuk membungkam soal Kak Itachi dkk dari publik. Dunia sudah cukup gempar mengetahui salah satu pahlawan perang ternyata merencanakan kehancuran dunia, bahkan menjadi dalang utama di balik hancurnya Kutub Selatan. Belum lagi kabar miring soal terbunuhnya avatar, untuk kedua kalinya. Tak perlu menambah kericuhan lain setelah semua itu.

"Bagaimana, Putri Naruto? Anda setuju?"

Aku mengangguk singkat. "Jika kalian sepakat menyerahkan Tuan Danzou pada Kutub Utara, aku tidak masalah. Pastikan saja keamanannya. Perjalanan dari Negara Api ke Kutub Utara itu cukup jauh."

"Kalau begitu, pertemuan ini kita cukupkan sekian saja—"

He … ? Sudah selesai lagi?

Ternyata rapat tidak terasa membosankan selama kau tidak menyimak sungguh-sungguh, ya.

Eits, jangan protes dulu! Aku tidak menyimak bukan tanpa alasan! Aku tidak mau mendengar pembeberan kesalahan dan pelanggaran yang sudah Danzou lakukan selama ini. Aku jadi gatal menempelkan kaos kaki bau Jiraiya seperti yang kuancam padanya waktu itu.

Aku juga tidak mau diberi pengingat alasanku berpisah dengan Kurama.

Baru saja aku mau mengucap pamit, Hisashi—Kepala Suku Air Utara—menghentikan langkahku. "Bisa luangkan waktu sebentar?" tanya beliau.

Sasuke, sebagai pemilik "rumah", mengantar kami ke ruang jamu teh. Kukira dia akan pamit undur diri, menunggu di pintu sampai aku selesai atau langsung ke kamar menghajar tugas. Rupanya dia langsung mengambil tempat di sebelahku, duduk melipat tangan. Aku memutar bola mata melihanya.

Kau ini apa? Anjing penjagaku?

Kepala Suku Hisashi berdehem. Matanya sekilas melirik ke … leherku. Ini aku tidak akan ditawari jadi ibu tiri Hinata, bukan? "Sepertinya aku berhutang maaf padamu juga, Pangeran Sasuke?"

"Hutang maaf?" ulangku, gagal paham.

Juga? Maksudnya beliau ada hutang maaf padaku, begitu?

Sasuke membuang jauh-jauh tata krama yang selama ini selalu ia tunjukan di depan petinggi negara. Dia mengangkat dagunya dan memicingkan mata, seolah menantang pria di depannya untuk mengakui kesalahan.

"Sewaktu Anda masih belum pulih, Konsil Kutub Utara mengusulkan perjodohan dengan ksatria terbaik kami agar Anda menetap di Kutub Utara," jelas Kepala Suku Hisashi padaku.

… huh.

HUH?

Aku menganga menatap Sasuke. "Itu alasanmu menyeretku pulang sehari setelah aku sadar?"

Sasuke tidak menjawab, kukuh mengirim rasa tak suka pada lawan bicara kami lewat tatapan matanya.

"Kami salah. Seharusnya kami tahu di mana pun Anda berada, Anda tetap bagian dari kami, Putri Naruto."

Tepat setelah Kepala Suku selesai berbicara, ajudan meletakkan sebuah peti balok di depanku. Peti beludu biru dengan sulaman benang perak yang membentuk relief kebangsawanan Suku Air. Ukurannya tidak besar. Panjangnya kurang lebih setengah meter dengan tinggi kira-kira satu jengkal.

Saat peti itu dibuka, aku terpana. Isinya adalah setelan upacara formal beraksen biru, lengkap dengan emblem dan hiasan yang dijahit khusus untuk keluarga bangsawan. Selain itu ada dua aksesoris yang biasa dipakai sehari-hari oleh raja/ratu maupun putri/pangeran dari setiap negara elemental: anting dan handsock cincin khusus.

"Untuk yang lainnya menyusul. Jika Anda ada permintaan lain, ungkapkan saja. Kutub Utara akan berusaha sebaik mungkin untuk memenuhinya." Kepala Suku Hisashi dan ajudannya membungkukan badan. "Kami pamit undur diri."

Perhatianku terpusat pada anting dan handsock di dalam peti. Masing-masing berjumlah satu, alias hanya sebelah. Antingnya tak lebih besar dari kuku ibu jari, berbentuk lambang negara dengan hiasan berlian kecil yang sesuai, menyambung dengan potongan sutra khusus yang tergantung estetik. Untuk handsock … warnanya serupa dengan potongan sutra pada anting, menyambung sedikit membentuk cincin untuk jari tengahnya, bermahkotakan lambang negara juga.

(Kalau penjelasanku terlalu ribet dan sulit dimengerti, kalian boleh nyontek Google: Zen Wistaria dari serial Akagami no Shirayuki-hime. Kurang lebih sama dengan anting dan handsock yang dipakai Pangeran Zen. Si penulis sinting terinspirasi dari sana, katanya. Jangan minta dia gambar, btw. Dia noob.)

Aku menyentuh ukiran lambang Suku Air Selatan di anting tersebut dengan jari gemetaran. Tak usah ditanya, senyum lebar sudah pasti akan menempel di wajahku untuk beberapa jam ke depan.

Terakhir kali aku memakai benda yang serupa, aku masih balita.

Sudah berapa lama … ?

"Kalau mau nangis, nangis aja. Nanti kupeluk lagi." Sasuke mendengus.

Aku meninju bahunya, tertawa kecil. "Jangan cari-cari kesempatan, Brengsek! Aku lagi terhura, nih!"

"Terharu, Nar. Bukan terhura."

"Mentang-mentang mau ujian, gitu doang dikoreksi, dih!"

"Ya daripada nanti nilaimu jeblok?"

WOI!

"That's it! Kita sparring sekarang, Pangeran Sialan … !"

.

.

.

Keesokan harinya, aku berpose di depan Jiraiya. "Bagaimana menurutmu?" tanyaku.

Jiraiya tertawa geli, langsung merangkul dan mengusap kepalaku dengan gemas. Kulihat, matanya agak berkaca-kaca.

"Cocok. Mau kau pakai sehari-hari?"

Mau kujual. Yakali!

"Rencananya sih begitu. Mungkin antingnya kulepas kalau pelajaran PJPD saja." Aku menggigit roti lapis yang Jiraiya siapkan untuk sarapan hari ini, menelannya hati-hati sebelum berbicara lagi, "Oh ya, semalam kau ke mana? Rumah kosong melompong saat aku pulang."

"Yang Mulia memintaku ikut mengawasi pasukan khusus yang mengantar Danzou ke Dermaga Barat—" Jiraiya menjelaskan singkat. "—kenapa?"

Aku mengernyit melihat ekspresi khawatir yang kentara di wajah Jiraiya. Kemarin Sasuke, sekarang Jiraiya. Serius, sampai kapan mereka mau begini?

"Bukan masalah penting." Aku mengibas tangan, mendengus kecil. "Kemarin bimprof di sekolah. Aku dapat usul untuk mengambil studi lanjutan PJPD atau jadi atlet bending-battle. Aku mau minta pendapatmu."

"PJPD, ya? Kulihat, kau cukup menikmati waktumu jadi tutor si bocah Konohamaru itu. Coba saja dulu. Kalau dirasa tidak cocok, tak masalah kalau kau keluar atau pindah jurusan. Kau punya banyak waktu untuk mencari tahu apa yang ingin kau lakukan."

Aku membuang wajah, tak sanggup membalas tatapan Jiraiya. Kalimat terakhir darinya membuatku sedikit sesak. Jiraiya mengucapkannya dengan nada … lega. Aku jadi teringat malam pengakuanku pada dunia.

Pilu yang terbaca oleh kosmikku saat itu, kurasa tak akan kulupakan dalam waktu dekat.

wow. Benar-benar banting setir ini namanya. Kenapa drama sekali? Penulis sinting, awas kau!

"Kalau atlet bending-battle bagaimana?" tanyaku lagi.

Jiraiya mengernyit. "Bukankah akan menimbulkan kericuhan?"

"Kericuhan bagaimana?"

"Meski kau sudah tak bisa mengendalikan keempat elemen lagi, kau pernah bisa. Terhubung dengan sumber pengendalian terkuat pula." Jiraiya melipat tangannya. "Bukankah akan banyak protesan kalau kau terjun di dunia bending-battle?"

Iya juga, sih. Video pengakuanku mungkin sudah dihapus dari internet. Salinan yang masih tersebar, resolusinya buruk. Tapi dunia tahu nama dan status sosialku. Jika aku jadi atlet bending-battle, sama saja aku mengulang pengakuan saat itu. Aku yakin aku bisa tembus ke kejuaraan internasional. Bisa kalian bayangkan, berapa banyak protesan yang akan kuterima?

Dan berapa banyak kesempatan untuk membungkam mereka dengan acungan jari tengah?

"Oke, sudah kuputuskan. Aku akan jadi atlet bending-battle."

Aku bersiul, pamit berangkat sekolah. Tak mengindahkan Jiraiya yang mangap tanpa kata.

.

"MINGGIR!" Aku melangkah pongah ke dalam kelas. Kukibas rambut menggunakan tangan kanan yang terbalut handsock khusus pemberian Kepala Suku Air Hisashi. "PUTRI CANTIK MAU LEWAT!"

Seketika seisi kelas penuh oleh gelak tawa. Malah ada beberapa teman laki-laki yang ngakak sampai memukul-mukul meja.

"GAYA LU, PLIS!"

"PUTRI CANTIK DARI MYOBOKUZAN! BAJU AJA EDGY GITU!"

"AMPUN, NGAKAK WOI! PERFEKTO ENTRANCE, NAR!"

Kulangkahkan kaki ke bangkuku sambil menahan tawa.

"Terlambat datang saja masih sempat ngelawak ya, kamu!" Bu Tsunade, guru pelajaran pertama hari ini, menggeleng heran. Senyum lembut terkulum di wajahnya yang biasa terlihat sangar. "Mau Ibu kasih ulangan dadakan?"

Aku tersedak. "Bu! Kok gitu sih? Saya cuma telat satu menit, lo!"

Telat pun bukan salahku! Aku bertemu dengan Hinata di gerbang dan dibuat kelabakan karena anak itu menangis saat menyadari aku memakai aksesoris yang mirip dengannya. Saat kuantar dia ke kelasnya, yang mana satu kelas dengan Gaara dan Sakura, aku harus menghadapi tangis mereka berdua juga!

Aku nyaris dibantai teman sekelas mereka, tahu! Bisa sampai ke kelas dalam keadaan utuh dan selamat sentosa saja patut disyukuri!

"Ya sudah, kumpulkan PR-nya."

Well, shit.

"Uh … anu, saya belum selesai mengerjakan … ?"

Bu Tsunade memasang senyum manis. Dia juga berujar tak kalah manis, "Putri cantik boleh berdiri di luar sampai pelajaran saya selesai."

Tawa kembali menggelegar dari teman-teman sekelasku. Aku melangkah pasrah keluar kelas. Tak apalah, toh cuma disuruh berdiri di luar.

Seharusnya aku tak berpikir begitu.

"Istirahat makan siang nanti ke ruangan saya, ya," tambah Bu Tsunade, satu langkah aku meninggalkan kelas.

Aku meraung dalam hati. Tega niannya beliau memisahkanku dari menu ramen spesial hari ini.

Dunia memang tidak adil! Mana kompensasi yang pantas kudapatkan HAA?

.

Kutarik kata-kataku. Dunia masih cukup adil.

"Ayo, dimakan dulu!" Bu Tsunade tersenyum.

Saat beliau bilang aku harus ke kantornya, kupikir beliau akan mengomeliku atau meracuniku dengan latihan soal dan angka-angka terkutuk yang lebih gereget dari PR hari ini. Tahu-tahu, yang menyambutku adalah harum menggoda khas ramen spesial made in kantin sekolah.

Benar saja, saat masuk, Bu Tsunade sudah menungguku dengan satu mangkuk ramen yang kukira tak akan bisa kutemui hari ini.

"Terima kasih, Bu." Aku menyantap ramen itu dengan mata berkaca-kaca.

Jangan katai aku lebay. Rasanya mungkin tak senikmat ramen Ichiraku, tapi ini tetap ramen! Makanan paling enak sedunia! Bagaimana aku tidak terhura?

"Apa kau sudah mendatangi psikolog?"

Aku menyembur sisa kuah ramen terakhir yang baru saja kuseruput dari mangkuk. Bu Tsunade menahannya menggunakan pengendalian air. Dari kedutan di wajahnya, aku bisa menebak beliau memang sengaja.

Aku menyeka mulutku, menggerutu protes, "Enggak bisa nunggu saya selesai nelen, Bu?"

Bu Tsunade terkekeh. "Anggap saja hukuman hari ini karena kau belum menyelesaikan PR."

"Sejak kapan guru menghukum murid lewat menjahili saat makan?"

Bu Tsunade tak menjawab. Dia mengubah posisi duduk menjadi tegak. Dari ekspresinya, kurasa ia akan membuka obrolan serius. "Pak Kakashi melapor, kau masih bingung untuk bimprof. Kau juga tidak mendatangi guru konseling."

Ah.

"Untuk bimprof sudah ada jawaban, rencananya nanti pulang sekolah akan saya kabari Pak Kakashi. Kalau guru konseling—" Aku meringis. "—maaf, saya … lupa."

Bu Tsunade memutar bola mata. "Kau sadar fokusmu di kelas menurun drastis, bukan?"

"Apa maksud—"

"Naruto, ini tahun ke-3 kau belajar di sekolah ini. Kau bisa beralasan kau keteteran mengejar ketertinggalanmu di kelas. Kau mungkin bisa menipu yang lain. Tapi tidak mempan untuk cucu seorang avatar.

"Biar 'masalah' sudah selesai, beberapa hal perlu waktu agar bisa 'ikut' selesai." Bu Tsunade meraih lenganku, menggenggamnya lembut. Dia meletakkan sebuah kartu nama di telapak tanganku, menutupnya hati-hati. "Kusarankan kau ambil universitas di Kerajaan Bumi. Ada kenalanku di sana. Kau tidak perlu khawatir dia akan memperlakukanmu berbeda hanya karena kau adalah avatar."

Mungkin ada manfaatnya aku sudah tak bisa mengendalikan sisa elemen lain selain air. Kalau tidak, begitu keluar dari kantor kepala sekolah, aku yakin kartu nama di tanganku sudah hangus dilalap api.

.

.

.

Aku gagal paham. Bukankah ini terlalu berat untuk fanfiksi dengan rating T?

Penulisnya mabuk cilok apa bagaimana sih?!


Next: Menuju tak terbatas dan mengacungkan jari tengah


(A/N)

Sebuah review membuat saya kepikiran.

Kalian tahu Chic White itu cewek tulen, bukan? Apa masih ada yang mengira saya ini berbatang? /ngaistanah

Fav, fol, review selalu ditunggu.