Walau gak nyambung, aku suka judul chapter yang ini.
" … dasar barbar."
NGACA!
"Ehe."
Ehe terooos!
-o-o-o-
The Prince and Princess of Nonsense
Menuju tak terbatas dan mengacungkan jari tengah
-o-o-o-
Aku terseok-seok ke arah Sasuke. Saat jarak kami sudah cukup dekat, kulepaskan seluruh kendali tubuh. Kubiarkan Sasuke menopang berat badanku sepenuhnya.
Aku tak percaya ini. Setelah melalui perjuangan yang berat dan penuh pertumpahan darah, akhirnya … akhirnya … !
"Aku berhasil bertahan hidup," lenguhku diakhiri tangis buaya.
Sasuke, kurang ajarnya, malah tertawa. "Kau itu keluar ruang ujian saja seperti habis meninggalkan medan perang!" katanya kemudian, tanpa empati sama sekali.
"Ujian You-Know-What itu medan perang paling berbahaya, tahu!" protesku. Aku melepaskan diri, memberi jarak yang tak terlalu jauh agar aku masih bisa menampolnya jika situasi mengizinkan. "Aku pernah melawan veteran perang dan naga relik jahat. Itu tidak apa-apanya dibandingkan yang kuhadapi tadi!"
Maksudku, manusia macam apa yang tega nian menempatkan you-know-what di jadwal terakhir ujian? Apa mereka dungu? Ataukah diam-diam menyembunyikan sadisme? Apa mereka tidak tahu tegang dan stres yang dirasakan para murid bertumpuk di hari terakhir minggu ujian kelulusan?
Hei! Dalam kondisi stres di ujung ujian begitu, dipertemukan dengan angka atau peubah memusingkan hanya akan membuat kami optimis tidak bisa mengerjakan! Seharusnya ujian you-know-what ditiadakan saja, sialan!
Sentilan yang Sasuke lakukan pada jidatku memutus umpatan beruntun yang menggema dalam kepala. Aku memelototinya, sebal.
"Tak usah drama-drama segala. Kau sudah belajar dengan benar. Tadi kulihat juga lembar jawabanmu tak ada yang kosong, tuh?" Sasuke mengangkat sebelah alis mata.
Aku menyodok pinggangnya kesal. "Penuh jawabanku tak seperti penuh jawabanmu! Apa kau tahu berapa banyak soal yang berkali-kali aku hitung, sudah pakai rumus berbeda sekalipun, tak memberi hasil? Berapa juga yang berakhir aku cap-cip-cup? Yang berhasil kudapat hasilnya saja banyak yang aku masih tidak yakin kebenarannya!"
"Santai aja, lah! Kalau kita lihat jejakmu selama latihan ujian, 75-80% masih bisa kau dapat. Kalaupun dapat jelek, ya sudahlah, aku yakin hasil tes praktek jurusan nanti bisa mengimbanginya." Sasuke angkat bahu. "Masalahmu dengan matematika itu bukan karena lama menghitung. Otakmu cuma kurang kapasitas untuk memproses rumus turunan dengan cepat."
Sumpah-serapah berebut memenuhi kepalaku. "Wow. Makasih lo," kataku dengan intonasi yang sama sekali tidak berterima kasih.
Tentu saja, Sasuke menjawab ceria, "Sama-sama!"
Belum cukup sampai sana, Sasuke menepuk puncak kepalaku. Di wajahnya terpasang senyum ganteng minta di tempeleng pula.
"I hate you," desisku sepenuh hati.
Sasuke terkekek-kekek, sama sekali tidak peduli. "Jangan minder. Wajar kok kalau di waktu ujian terbatas begitu nilaimu jelek."
"Seriously, Prince?" Aku mengerang panjang. "Haruskah kulapor pada Raja Fugaku begini cara kau memperlakukan seorang putri?"
"Kau tahu aku hanya bercanda, Nar." Sasuke merangkulku dan bersiul tanpa dosa. "Lagi pula kalau putrinya kau, bukannya di depan Ayahanda kita sering tertangkap basah sedang mengacungkan jari tengah? Kau pikir protesanmu tak akan dianggap angin lalu?"
Iya juga, ya.
Ada yang lapar? Tanganku gatal ingin membuat sate pangeran.
… ah, sial. Aku lupa aku sudah tidak bisa melakukan pengendalian api.
Ada yang punya bensin dan korek api?
Sekalian tusuk satenya juga boleh, kalau kalian tidak keberatan.
"Jangan cemberut terus." Sasuke mencolek pipiku. "Kita mau maraton film, ingat?"
Maraton film setelah maso belajar memang terdengar menyenangkan.
Aku sedikit tidak enak perasaan, sih. Semoga saja ini hanya sisa-sisa penderitaan sehabis membantai ujian keramat you-know-what.
.
.
.
Seharusnya aku tahu. Secara teknis, aku memang bukan lagi seorang avatar. Akan tetapi, bukan berarti aku bisa mengabaikan instingku begitu saja.
"I-ini tidak seperti kelihatannya, Ayahanda!"
Aku menghela napas dari bawah Sasuke. Kulirik, Raja Api Fugaku bersedekap tak jauh dari kami. Aku bersumpah mendengar kikikan samar dari pelayan istana di luar kamar Sasuke.
Belum jelas?
Ingat soal maraton nonton film? Aku dan Sasuke melakukannya di kamar Sasuke. Setelah melalui minggu ujian menegangkan, tentu saja wajar jika kami berakhir ketiduran di sofa panjang bukan?
Beberapa menit yang lalu, aku terbangun dalam keadaan menjadi guling pengganti Sasuke. Mengingat jumlah makanan cepat saji yang kukonsumsi semalam, aku memutuskan tidak bolos olahraga rutin pagi ini. Makanya kubangunkan Sasuke. Dengan gerakan lamban kentara mengantuk, Sasuke bangkit. Tepat saat posisinya seperti sedang merangkak di atasku, pintu kamar Sasuke terbuka.
Dan, di sinilah kita sekarang. "Tertangkap basah" dalam posisi mencurigakan oleh Raja Api dan beberapa pelayan.
Bukankah ini terlalu klise?
"Sebaiknya kau menyingkir sebelum kutendang, Sasuke," gumamku.
Ini masih terlalu pagi, sialan!
Sasuke gelagapan, buru-buru mengambil posisi bersimpuh di lantai. Aku menyusul duduk santai, tetap di atas sofa.
… setidaknya sesantai yang kubisa di depan tatapan menghakimi seorang Raja Api.
Ini bukan pertama kalinya aku menginap atau tak sengaja tertidur di kamar Sasuke. Tetapi ini yang pertama setelah … ke-bucin -an Sasuke padaku. Bagaimana kalau Raja berpikir yang aneh-aneh? Aku khawatir, oke?!
"Aku tahu kalian sebentar lagi lulus, tapi aku tidak menyangka—" Raja Fugaku menghela napas. "—haruskah kusiapkan prosesi pernikahan sekarang juga?"
Prosesi matamu!
"Maaf, Raja Fugaku, aku harus menolak." Aku berusaha sekeras mungkin untuk tidak melirik Sasuke yang masih meniru suara katak terinjak. "Aku memang … yah pada putramu. Tetapi aku menolak menikah cepat dan melepaskan kemerdekaanku begitu saja, apalagi pada seorang Putera Mahkota yang mana aku harus siap jadi trophy wife di depan publik! Tak mau. No! Nada-nada!"
Oh, ayolah! Mengantongi ijazah kelulusan pun belum!
Lawak macam apa ini, penulis sialan?!
"Aku tak bisa melepaskan kalian begitu saja setelah—"
"Ayahanda, ayolah!" Sasuke mengeluarkan rengekan andalannya. "Aku memang sudah mengukirkan kalung untuk Naruto. Aku juga sesekali bercanda soal menjadikannya istriku, tapi aku belum siap menikah! Aku bahkan masih sulit membayangkannya sebagai … lebih dari teman! Apalagi istri!"
Aku menutup telinga, memberungut pada Sasuke. "Berhenti menyebutkan kata 'itu'!"
Sasuke balas membersut, "Kata apa? 'Teman'?"
"Bukan itu! 'Itu'!"
"Menikah?"
Aku meringis. "Itu juga, tapi bukan yang itu!"
" …. " Dahi Sasuke berkerut. "Istri?"
Aku menyilangkan tangan di depan wajah. "YA! Mulai sekarang, kata … 'itu' menjadi kata larangan nomor 79!"
Telunjuk Sasuke menudingku. Tetapi, apa pun yang hendak ia katakan terputus oleh suara tawa tertahan Raja Api Fugaku.
"Santai, anak-anak! Tak ada yang akan dinikahkan dalam waktu dekat. Aku hanya bercanda."
"Candaanmu tidak lucu!" koarku dengan Sasuke secara bersamaan. Serius! Beliau ini ingin kami jantungan apa bagaimana?
Raja Api mendengkus, terlihat berusaha menahan tawa untuk beberapa saat kemudian. Aku gatal ingin mengacungkan jari tengahku, kumplit dengan dua yang ada di kaki juga. Dorongan itu tertahan rasa heran saat mimik wajahnya melunak, tersapu kekhawatiran.
"Seharusnya aku mengatakan ini lebih cepat, tapi aku mengerti. Apalagi saat itu ujian sudah di depan mata. Kalian butuh waktu." Raja Api duduk di sofa tunggal. Gerakannya lebih santai, postur tak diatur untuk menunjukkan kesan wibawa. Belakangan jika privasi menghendaki, beliau memang lebih terbuka di depanku. "Apa kalian sudah mempertimbangkan kunjungan ke psikolog?"
Aku tersedak ludah.
Sasuke mencolok lututku, matanya memicing. "Aku sudah bilang dari awal semester. Konseling di sekolah saja kau kabur terus."
Aku balas mencolok pipinya kesal. "Raja bilang 'kalian', bukan cuma aku!"
"Setidaknya aku menghadap guru konseling!" Sasuke mendelik.
Sebelum aku sempat membalas kata-kata Sasuke dan menjadikan obrolan kami perdebatan tak bermutu seperti biasa, Raja Api menyela, "Kesimpulannya, aku ingin kalian mengunjungi psikolog. Ada sesi bersama, kalau perlu. Apa yang kalian hadapi itu tidak main-main. Apalagi kau, Naruto."
Aku meringis. Aku sadar betul apa yang sudah terjadi bukan hanya membuatku kehilangan kosmik avatar. Bekas trauma penyerangan Kutub Selatan saja aku tidak yakin sudah seratus persen berhasil diatasi.
"Kalian berencana melanjutkan studi di Kerajaan Bumi, bukan? Aku sarankan membuat janji pertemuan dengan psikolog di sana juga. Perlu kucarikan?"
Aku mengibaskan tangan, tertawa kaku. "Tak perlu, Yang Mulia. Sebelum ujian aku dapat rekomendasi dari Bu Tsunade, Dr. Shizune. Kalau tidak cocok bisa cari di sekitar."
"Atau manfaatkan fasilitas kampus." Sasuke menambahkan, mengangguk ragu.
"Shizune? Ah, kurasa rekomendasi yang bagus. Dr. Shizune sudah banyak menangani pasien veteran perang, terutama mereka yang terjebak survivor's guilt."
Aku tersentak, reflek berdiri.
"Naruto?"
Aku sadar, sangat-sangat sadar, kalau aku harus menghadap sesuatu yang menerkam bawah sadarku. Cepat atau lambat.
"Permisi, Yang Mulia. Aku pamit mau olahraga."
Bukan berarti aku siap melakukannya hari ini.
.
.
.
[Tim Pantang Modar]
Mei 19. 2. 02 am
Saiasukaart : Sasuke kan pengendali api
Saiasukaart : Naruto pengendali air
Saiasukaart : Nanti keponakanku jadi dispenser apa gimana?
5. 01 am
Avataramen : wtf
Avataramen : Minta dilempar dispenser rusak ya lu
Saiasukaart : :)
Avataramen : diem di tempat
7. 36 am
HinataH : hmmm aku mencium konspirasi
Sakurawr : HINATAAA HAHAHAHA
Sakurawr : btw, kau ngapain bangun jam segitu, Sai? Mikirin dispenser pula yaampun
Giringneji : lol
Gaarawr : Mungkin seharusnya kau tanya dulu ini Sai masih hidup apa g?
Gaarawr : (Tag Faiprinsuke) Sas, cek itu Sai masih bernapas apa kagak? Kalau bebeb lu dipenjara, emang kuat jadi jomblo lagi?
Faiprinsuke : Touche.
Saiasukaart : Aku masih hidup, kawan-kawan.
Saiasukaart : Perkenalkan, keponakanku. (swafoto dengan dispenser penyok, terlihat siluet manusia di belakang Sai)
Giringneji : Masih hidup dia rupanya
Avataramen : Not for long
Sakurawr : SELOW NAR
Avataramen : Selow hanya untuk orang yang lemah
Faiprinsuke : Naru
Avataramen : Wut? Mau gantiin? : )
Faiprinsuke : Cuma mau ngingetin jangan lupa sarapan
Giringneji : Bibit susis terdeteksi
Avataramen : Aku otw, Nej
Gaarawr : rip
Sakurawr : rip
HinataH : rip
Giringneji : rip diri yang ganteng ini
Giringneji : eh bukannya kalian bertiga ada sesi introgasi hari ini?
Faiprinsuke : *interview woi
Faiprinsuke : Yakali aja masuk univ ada sesi introgasi segala
Giringneji : Kalau introgasi itu ditanya-tanya, 'kan?
Saiasukaart : Interview juga ditanya-tanya. Gak ada bedanya
Faiprinsuke : …
Faiprinsuke : bukannya yang dapat tugas jadi begofren itu Naru? Kenapa kalian jadi gini?
Sakurawr : BEGOFREN
Avataramen : (Tag Faiprinsuke) I hate u
.
.
.
Secara sekilas, ruangan ini … terkesan hangat. Suster, yang menyambut dan memintaku menyamankan diri di sofa panjang atau bean bag yang tersedia, tetap bersikap profesional. Tetapi senyum di wajahnya tak luntur dan terasa tidak dibuat-buat meski aku sempat berniat balik badan bubar jalan.
Ruangan dan pelayanannya, jujur saja, memang terlihat nyaman. Tetapi sama sekali tak membantu mengurangi keteganganku.
"Putri Naruto, ya?" ujar sebuah suara lembut.
Aku meneguk ludah, mengangkat kepala. Seorang wanita berjalan ke arahku, lalu mengambil tempat duduk tepat di depanku. Sepertinya aku terlalu banyak membaca artikel-artikel dan cerita fantasi tidak penting, karena yang bisa kupikirkan hanyalah … wanita ini bisa menghipnotis dan mengakses alam bawah sadarku.
Bagaimana kalau aku dihipnotis membenci ramen seumur hidup? Itu seram sekali!
"Panggil Naru saja."
"Oke Naru, kau boleh memanggilku Dokter Shizune." Wanita itu tersenyum ramah, kedua matanya menyipit. "Kak—ah, maaf—Bu Tsunade sudah memberitahuku murid kesayangannya akan mengunjungiku dalam waktu dekat."
Aku? Murid kesayangan Bu Tsunade?
Tawa keluar begitu saja tanpa bisa kutahan. "Apa Dokter yakin Bu Tsunade tidak bilang aku ini murid yang paling sering membuatnya pening?"
Dokter Shizune memiringkan kepalanya, memasang ekspresi bingung. "Sama saja, bukan?"
Aku tertawa lepas. Kalau dia memang sengaja ingin aku lebih santai, maka dia berhasil dengan nilai sempurna.
Dilihat dari sikapnya yang menungguku selesai tertawa dengan sabar, tanpa ada teguran sama sekali, kurasa dugaanku memang benar. Aku tak perlu repot berburu psikolog yang cocok.
"Dokter bisa saja! Dan lagi … 'Kak'?" Aku coba melahap kail yang sebelumnya dilempar.
Senyum di wajah wanita itu membuatku balas tersenyum juga. "Ah, dulu Bu Tsunade kakak tingkatku di kampus. Omong-omong soal kuliah, Naru juga masuk universitas tahun ini 'kan? Daftar ke mana?"
"Univ Tonbo. Tadi baru pulang tahap wawancara."
"Lumayan dekat dari sini, syukurlah. Lancar?"
Aku cengar-cengir. "Kalau tidak lancar, tinggal demo di depan gerbang Tonbo saja bersama empat pemimpin negara di garis depan."
Kali ini Dokter Shizune yang berhasil kubuat tertawa.
Ya, aku yakin aku tak perlu berputar-putar mencari segala. Karena itu, kuberanikan diri untuk bertanya, "So … aku harus gimana? Mulai bercerita apa yang mengganggu pikiranku … atau apa?"
"Kalau kau tidak keberatan dan sudah siap, silakan. Kalau tidak … kita bisa membicarakan apa saja yang mau kau bicarakan."
"Meski gibahin keempat pemimpin negara?"
Dokter Shizune mendengkus. "Asal kau berjanji setelah sesi gibah selesai aku tidak akan disergap pasukan khusus dari empat negara, tidak masalah."
" … huh. Aku kira aku akan langsung diintrogasi atau dihipnotis untuk mengakui semua keresahanku."
"Memang banyak kesalahpahaman soal pengobatan penyakit kejiwaan. Yang banyak diketahui orang-orang dan digembar-gembor kebanyakan soal pasien skizofrenia, terutama mereka yang 'terlihat' dipaksa untuk berobat. Dan lagi, mengunjungi psikolog tak harus selalu masalah serius." Senyum Dokter Shizune tampak dibumbui keusilan saat matanya turun ke leherku. "Kalau kau mau menceritakan soal seseorang yang spesial juga boleh."
Aku? Curhat soal Pangeran Bucin, si pengkhianat yang menumbalkanku masuk duluan ke sini?
Dih, ogah!
"Mending juga gosipin Raja Angin Toneri yang masih jomlo!" sungutku. Dokter Shizune tertawa kecil menanggapinya. "Oh iya, Dokter jomlo gak? Siapa tahu minat, aku bisa kenalkan nanti," tawarku.
Dokter Shizune menggelengkan kepalanya. "Apa yang harus kau ingat, Naru, semua ini butuh proses. Aku akan menemani dan membimbingmu selama kau tidak keberatan denganku. Untuk sesi pertama ini aku hanya memintamu mengisi angket yang sudah disediakan. Setelah itu, kalau kau berkenan, kita diskusikan apa yang kau rasakan selama mengisinya. Bagaimana?"
Aku meneguk ludah, menatap kertas bertumpuk yang diletakkan Dokter Shizune di atas meja yang memisahkan kami.
"Ini isinya tidak ada soal matematika 'kan, Dok?"
Dokter Shizune mengekeh. "Ini bukan remedial you-know-what, Naru."
Aku memicingkan mata. Instingku berkata, Bu Tsunade tidak hanya menyebutkan kalau aku ini murid "kesayangannya".
Biar nanti saja kucari tahu apa yang mereka bicarakan di belakangku. Sekarang … waktunya mengisi ujian kejiwaan!
.
Aku keluar dari ruangan disambut oleh gelagat resah Sasuke. Sang Pangeran langsung bertanya padaku, "Bagaimana hasilnya?"
Aku mengembuskan napas berat, menepuk pundak Sasuke penuh simpati. "Semoga amalanmu diterima di sisi-Nya."
Sasuke menepis pundakku dan memberungut. "Apa sih, gak jelas!"
"Aman, kok!" Aku nyengir, mengacungkan dua jari tanda perdamaian. "Aku nyaman dengan Dokter Shizune. Semoga saja kau juga cocok."
Sasuke mencubit pipiku. "Jangan ke mana-mana sebelum aku selesai," geramnya. Anak itu balik badan, punggungnya hilang di balik pintu bercat coklat.
Salah kalau Sasuke kira kata-katanya itu akan membuatku rela diam sampai lumutan di ruang tunggu. Lagi pula, larangan ada untuk dilanggar; bukan begitu?
Aku hengkang dari sana sambil bersiul.
.
Ada satu hal yang spesial dari klinik jiwa tempat Dokter Shizune bekerja, yaitu kawasan pondok dan rehabilitasi purnakarya. Kabarnya, banyak dihuni oleh para pejuang perang yang banyak menghuni dokumentasi sejarah.
Seharusnya, kalau Danzou tidak cukup sinting untuk bermain-main dengan kosmik, Pak Tua itu sudah hidup damai dibiayai negara di tempat ini.
Jika kalian ingin masuk kawasan ini, perlu izin khusus. Tak sembarang orang bisa keluar-masuk. Itulah alasan mengapa aku hanya bisa duduk di taman, memerhatikan dari jauh.
Apa alasanku ke sini? Iseng saja, sih. Siapa tahu aku melihat wajah yang kuingat di salah satu dokumentasi buku sejarah? Bukankah itu keren?
"Aku masih tidak paham mengapa kau menyeretku ke hadapan Oonoki, Yagura."
Aku menganga. Baru saja aku iseng memikirkan soal sosok-sosok yang diabadikan di buku sejarah, aku mendengar nama "Oonoki" disebutkan! Beliau adalah rekan satu perguruan pengendalian angin Avatar Hiruzen. juga salah satu sosok panglima perang tertua yang masih hidup sampai saat ini!
"Oh, ayolah! Si pak tua itu tidak bilang, tapi jelas sekali dia rindu padamu juga!"
"Juga, katamu?"
Aku mengarahkan pandangan pada sumber suara. Ada dua pria berpakaian kasual sedang berjalan. Kutebak dari arah langkahnya, mereka baru saja meninggalkan kawasan purnakarya yang kusebutkan.
Yang menarik, selain topik obrolan mereka, penampilan salah satunya mengingatkanku pada Pak Kakashi. Bedanya, rambut yang bersangkutan berwarna hitam dan masker yang menutupi wajahnya berwarna putih.
"Kau tahu sendiri, Yagura, aku sedang sibuk. Kejuaraan sudah dekat, sementara—"
Salah satu pelatihan dari Jiraiya yang menurutku sangat berguna adalah latihan observasi. Dari kecil, Jiraiya membantuku mengasah kemampuanku untuk mengobservasi seorang individu, terutama dari gerak-gerik dan ekspresi wajah mereka. Selain itu, dia juga mengajariku bagaimana caranya mengatur ekspresi seolah kau hanya tak sengaja menatap, meski baru saja mengobservasi secara menyeluruh.
Kalau tak sengaja bertemu pandang dengan objek pengamatan, aku tinggal memutus pertama dan menatap ke arah lain, luwes begitu saja dan objek akan menganggapku seperti lampu jalanan yang numpang lewat.
Jadi, kenapa Pak Kakashi KW Super ini malah terpaku di depanku dengan mata membola?
Klontang!
Suara nyaring dari rantang yang menghantam lantai membuatku terlonjak. Kali ini perhatianku tertuju pada lelaki yang satunya lagi. Aku semakin tak paham saat melihat ekspresi lebih terbuka di wajahnya.
"N-naru?" gagap pria itu.
Huh?
Aku menoleh ke belakang, memastikan kalau-kalau ada alasan lain yang membuat kedua pria itu syok. Tak ada apa-apa. Berarti yang disebutkan tadi memang namaku?
"Uh, maaf, kalian kenal saya?" tanyaku memastikan.
Sepertinya pertanyaanku menyadarkan mereka akan sesuatu, karena wajah mereka berubah. Pria yang menyebutkan namaku langsung memungut rantang yang tadi jatuh, sedangkan Pak Kakashi KW Super menatap rekannya. Mereka sempat beradu pandang sebelum kembali menatapku.
"Kau benar Naru … ?"
Aku reflek bangkit dari tempat duduk dan menghindar saat tangan Pak Kakashi KW Super meraihku. Aku memicingkan mata, memasang posisi siaga.
Instingku tidak membaca ancaman, tapi aku tak akan tenang sebelum tahu identitas pria di depanku. Apalagi mereka tahu rupaku, yang mana membuatku teringat soal Teratai Merah saja selain orang-orang yang kukenali.
"Santai, santai!" Pak Kakashi KW Super tertawa. Dia menurunkan maskernya. "Aku tidak tahu kau masih ingat padaku apa tidak, tapi …."
Aku mengernyit melihat wajah pria itu. Banyak bekas luka di sana. Saat mataku terfokus pada mulutnya yang membentuk senyum bergigi, sekelebat ingatan lewat di kepala.
"Om … Mochi?" gumamku tak yakin.
Senyum di wajahnya melebar. "Momochi Zabuza siap melayani Anda, Yang Mulia," ujarnya sambil membungkukkan badan.
Aku menganga. "OM MOCHI!"
.
.
.
Karena aku baik hati dan tidak sombong, kugantung bagian ini sampai sini saja.
Jangan protes padaku! Protes pada penulisnya!
Bantai saja dia! Bantai!
Next: Kekuatan Orang Dalam
