Aku? Lebih lembut pada Sasuke?

Apa kalian lupa Pangeran Sialan satu itu pernah menonjokku hanya untuk menyadarkanku dari lamunan?

Kenapa dunia ini begitu tidak adil?

"Karena Spombob warnanya kuning."

... ngajak gelud?

"Kapan sih aku gak ngajak kamu gelud, Nar?"

Iya juga ya.

-o-o-o-

The Prince and Princess of Nonsense

Kekuatan Orang Dalam

-o-o-o-

Bicara soal Momochi Zabuza, aku … tidak begitu ingat. Memoriku tentang pria itu sangat samar-samar. Gambaran ingatan yang melintas di kepalaku terputus-putus dalam waktu dan situasi yang berbeda. Itu pun durasi masing-masing sangat singkat. Seperti kepingan puzzle terakhir dari beberapa puzzle berbeda yang dikumpulkan di satu tempat yang sama. Mustahil bisa disatukan membentuk puzzle utuh.

Tetapi, di antara kepingan-kepingan tak beraturan itu, aku melihat aku kecil duduk di pundaknya dan tertawa menggemaskan, sementara kedua orang tuaku berjalan di samping kami. Kalau tidak salah, aku juga pernah membaca nama Momochi Zabuza disebut sebagai sahabat karib dari Ayah di teks biografi.

Maka, ketika pria itu mengundangku makan siang bersama; aku tak khawatir untuk menerimanya.

(Kalaupun ternyata instingku salah, mereka punya niat jahat dan aku tak yakin bisa melawan keduanya, aku bisa menendang kejantanan mereka dan lari secepat mungkin. Itu selalu berhasil membuat laki-laki jatuh tak berdaya. Percaya padaku. Aku sudah membuktikannya berulang kali pada Jiraiya.)

Aku dibawa ke sebuah rumah makan yang lokasinya tidak terlalu jauh dari klinik. Desain interiornya menurutku cukup nyaman, walau biasa-biasa saja. Menunya penuh dengan makanan lokal Kerajaan Bumi. Satu hal yang spesial dari tempat ini dan kuyakin akan kuingat selalu adalah tawaran Zabuza untuk bebas pesan apa saja nanti Yagura yang bayar.

Makanan lokal tiap negara elemental punya cita rasa khas masing-masing dan semuanya enak. Apalagi kalau gratis.

"Seperti yang kukatakan tadi, Yang Mulia, aku adalah Momochi Zabuza. Panggil Zabuza atau Om Mochi, tidak apa-apa. Ini Yagura, panggil saja Boncel."

"Oi!" Yang dipanggil boncel langsung protes. "Yagura saja, Putri Naru. Anda mungkin tidak kenal saya. Saya adalah salah satu ... bawahan ibu Anda di penghujung perang."

He? Kenapa penjelasannya ada jeda begitu? Mencurigakan. Tapi aku tidak terlalu peduli juga, sih. Seperti kata dia, aku tidak mengenalnya.

"Aku ingat pertemuan terakhirku denganmu dan orangtuamu, Putri." Om Mochi menerawang keluar jendela. Matanya terlihat sendu. "Kunjungan kalian saat itu sangat singkat. Terputus begitu saja, seperti ada situasi darurat."

Ah.

Aku juga ingat. Hari itu adalah hari di mana orang tuaku mempelajari bahwa putri mereka adalah target utama organisasi berbahaya yang tak segan merenggut nyawa seseorang demi tujuan tak manusiawi.

"Situasi darurat ... hm, bisa dibilang begitu. Orang tuaku melihat putri mereka mengendalikan elemen lain untuk pertama kalinya." Aku mengetuk santai jariku ke atas meja. "Mereka sadar hidup kami akan berubah total sejak saat itu. Tak heran Ayah langsung memutuskan untuk pulang sebelum ada yang sadar akan kehadiranku."

Itu juga awal keprotektifan berlebih mereka padaku. Sampai-sampai aku tak boleh meninggalkan istana.

"Bertahun-tahun, aku berduka atas pembantaian Kutub Selatan. Aku sangat bahagia sekaligus sedih saat mendengar kabar bahwa kau masih hidup. Awalnya aku tidak percaya. Tapi ... setelah melihatmu, aku sangat lega."

"Aku bahkan tak ingat padamu, Om Mochi." Aku tertawa kecil. "Tapi aku juga lega, aku bukan darah Selatan yang terakhir."

"Mari kita sudahi pembicaraan soal duka ini." Yagura menyilangkan tangannya. Kulihat, matanya sejenak mendelik pada Om Mochi sebelum menatap ramah padaku. "Putri Naru sekolah di SAN Konoha, bukan? Kelas berapa sekarang? Apa kejadian dengan Danzou menghambat sekolahmu?"

Aku bergidik, tiba-tiba teringat hari-hari berat otakku dihantam materi dua semester sekaligus demi mengejar ketertinggalan.

(Awas saja kau, Danzou. Aku bersumpah akan menyumpal mulutmu dengan kolor bau Jiraiya jika kita diperkenankan Semesta bertemu kembali!)

"Aku lulus tahun ini," jawabku simpel.

Om Mochi manggut-manggut. "Ada rencana untuk melanjutkan?"

"Kebetulan tadi aku habis ikut tahap wawancara ujian masuk Univ Tonbo."

"Oh? Jurusan apa?" Yagura tampak tertarik.

"Pendidikan Guru PJPD."

Ekspresi terkejut keduanya membuatku agak tersinggung, jujur saja. Aku jadi teringat respons teman-teman sekelasku yang melongo berjamaah. Ada yang terang-terangan langsung berdoa meminta keselamatan nyawa bagi murid-muridku di masa depan. Seolah aku ini akan menjadi guru yang mengerikan.

Hei, aku tidak berurusan dengan You-Know-What seperti Bu Tsunade! Aku juga tidak ada niatan untuk mengikuti jejak Pak Kakashi dan cara mengajarnya yang kadang sangat meresahkan! Akan kubuktikan pada mereka, aku akan menjadi seorang guru yang bersahaja! Sasuke saja percaya!

... oh, sial.

Aku baru ingat ... Sasuke!

Tadi aku ke klinik bareng Sasuke! Mati aku!

Aku buru-buru mengeluarkan ponsel dari tas selempang yang kupakai. Benar saja, benda elektronik itu sudah dibanjiri pesan dan panggilan tak terjawab dari Sasuke. Lantas kupanggil balik nomor kontaknya.

Belum sempat kuucapkan seutas maaf, Sasuke sudah menggeram, "Berbaliklah, Tuan Putri."

Lamat-lamat kutolehkan kepalaku. Aku melihat sosok Sasuke berdiri di pintu masuk rumah makan. Aku tak akan terkejut semisal ponsel di tangannya sampai meleleh. Ekspresi wajahnya sama sekali tidak ramah.

"Oh, fak!" umpatku, meneguk ludah.

Sasuke mulai melangkahkan kaki cepat. Kedua tangannya terkepal erat.

"Kenapa, Putri?" tanya Yagura.

"E-eh, anu, ada setan!"

"Setan" yang kumaksud langsung menjawil pipiku keras. Dia mengomel panjang, "Kau ini! Sudah kubilang tunggu, malah mabur, kuubek-ubek klinik tak ketemu di mana pun! Eh ternyata malah kencan sama om-om gini! Kalau butuh papa gula, bilang padaku! Biar kuminta Ayahanda rutin mengajakmu kencan lagi!"

Tentu saja, aku tidak terima.

"Enak saja kau kata aku kencan dengan om-om! Aku diajak makan siang bersama kenalan orang tuaku!"

"Sama saja!"

"Dan lagi, hei! Pertemuan rutinku dengan Raja Fugaku waktu itu bukan kencan! Beliau menyewa jasa Go-Dragon-ku, Sas!"

Sasuke menghela napas panjang. Dia mengambil tempat duduk di sebelahku tanpa permisi. Matanya sempat memicing pada dua pria di hadapan kami, lalu dia mengernyit padaku.

"Kenapa kau tidak mengabariku dulu?" tanya Sasuke pada akhirnya. Dia terlihat masih kesal, tapi nada suaranya sudah normal.

Dan, itu tak akan bertahan lama. Percaya padaku.

"Er, anu, aku tidak ingat."

"Tidak ingat? TIDAK INGAT!? Kau ingin kujadikan Putri Panggang, HA!?"

Lihat, bukan?

Bagaimanapun, aku adalah bangsatfren Sasuke. Membuat Sasuke emosi adalah pekerjaan yang cetek dan wajib dilakukan.

"Sori."

Aku sama sekali tidak meminta maaf, btw. Justru, gatal ingin lanjut membuat Sasuke kesal. Namun, kuurungkan. Aku tidak mau diusir pemilik tempat ini sebelum selesai melahap makanan gratis.

"Ya sudah." Sasuke menghela napas lagi. Perhatiannya dialihkan kepada Yagura dan Zabuza. "Aku Sasuke, Pangeran Kedua Negara Api. Boleh kutahu siapa kalian berdua?"

Yagura dan Zabuza melakukan gerakan hormat sejenak. Keduanya tak menjawab, membiarkanku mengenalkan mereka. Seperti adab yang seharusnya.

"Ini Momochi Zabuza, salah satu pengawal ayahku pada masanya. Sedangkan ini adalah Yagura, bawahan ibuku di masa perang."

Sasuke mengangguk. "Maaf kalau si bedebah ini menyusahkan kalian. Sudah kebiasaan."

"Hei, tak sopan! Om Mochi, jangan tertawa!"

Sasuke mendengkus, tak peduli pada protesanku. Postur tubuhnya melunak saat melihatku berperilaku santai di depan Zabuza dan Yagura.

Aku tahu aku punya adab berperilaku yang meresahkan. Tapi, hei! Seperti yang berulang kali kusebutkan, aku tahu kapan wajib mempraktekkan adab itu! (Atau, setidaknya berpura-pura mempraktekkannya.)

"Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan Anda, Pangeran Sasuke."

"Sama-sama." Sasuke terdiam sejenak. "Maaf menyela pertemuan kalian, tapi aku tak bisa meninggalkan Naruto kelayapan sendiri."

Yagura tersenyum sopan. Sementara itu, Zabuza menatap kami bergantian. Sebelah alisnya naik.

"Ah, aku paham." Om Mochi terdengar geli. "Anda yang mengukir kalung itu, Pangeran Sasuke? Pilihan desain yang bagus, sangat cocok dengan Putri Naruto. Aku ragu anak-anak Suku Air zaman sekarang bahkan mengerti ikatan rune yang Anda buat. Riset yang Anda lakukan patut diapresiasi."

"Terima kasih, Tuan Zabuza." Kulirik, Sasuke sedang salah tingkah. Walau dia berusaha keras untuk tidak menunjukkannya.

"Zabuza saja, Pangeran. Aku bukan seseorang yang lantam dengan formalitas."

Wah, Om Mochi satu spesies dengan Sasuke! Aku tidak menyangka karena sejak awal dia terus memanggilku "Yang Mulia".

"Zabuza, kalau begitu."

"Oke—" Aku menjentikkan jari. "—sampai mana kita tadi?"

"Jurusan yang Anda ambil, Putri." Yagura terkekeh.

"Ah, ya! Aku ambil PG PJPD Tonbo. Ada masalah dengan itu?"

Yagura menunjuk Om Mochi menggunakan jempol kanannya. "Makhluk ini juga lulusan jurusan itu di Tonbo."

Oh? Kalau aku diterima, Om Mochi akan jadi senior satu almamaterku?

"Begitu, ya?"

"Iya. Saat ini, aku bekerja sebagai pelatih tim lokal Bending Battle."

Aku merasa Semesta memelukku dengan kebahagiaan. Aku tak perlu susah-susah mencari informasi dan koneksi lagi. Semesta menyuguhkannya begitu saja padaku.

"Om Mochi, tolong beri tahu aku caranya masuk tim lokal! Aku ingin jadi atlet!"

Bukankah ini sebuah kebetulan yang menyenangkan?

Ini sih rezeki anak baik dan rajin menabung di kedai ramen!

.

.

.

Selesai makan siang, kami pergi ke Gelarena alias Gedung Latihan dan Arena milik pemerintah kota. Om Mochi mengenalkanku pada beberapa atlet senior dan kelas menengah yang sedang pemanasan sebelum latihan. Aku diminta Om Mochi ikut pemanasan bersama mereka.

"Gear up, fighters!" Om Mochi memerintahkan semua anggota untuk duduk melingkar di depannya. Sementara aku berdiri di sampingnya. "Kita kedatangan tamu hari ini. Dia ingin bergabung dengan tim kita.

"Pasukan senior reguler, kalian siap-siap. Mari tentukan ini dengan BB sistem Battle Royale. Putri Naruto versus kalian semua."

Aku meringis, tiba-tiba teringat hari di mana Bu Tsunade tiba-tiba melemparku ke tengah-tengah pertarungan senior di sekolah. Tetapi, berbeda dengan saat itu ... lawanku kali ini adalah praktisi bending elemental terlatih.

"Apa tidak terlalu berat, Coach?" tanya seseorang, mewakili unek-unekku saat ini.

Masker Om Mochi bergerak. Entah bagaimana, aku membayangkan di balik kain itu terpasang senyum menyeramkan.

"Tim ini sudah punya komponen yang kuat. Jika Tuan Putri tak bisa menghadap pilar-pilar pilihanku, apa gunanya dia di tim ini? Apa manfaat yang dibawanya untuk tim kita?"

Kutarik observasiku di chapter sebelumnya. Om Mochi bukan Pak Kakashi KW!

Terbalik! Pak Kakashi-lah Zabuza KW! Om Mochi lebih mengerikan dari guru PJPD itu!

"Jadi, Putri Naruto—" Aku meneguk ludah saat Om Mochi menatapku dengan mata lebar yang berpendar sadis. "—masih mau bergabung dengan tim kami?"

Aku menolehkan kepalaku ke arah Sasuke, meminta pendapat. Sasuke menepuk pundakku dan tersenyum sendu.

"Senang mengenalmu selama ini, Nar."

"WOE—"

.

Singkat cerita, aku diminta berdiri di tengah-tengah arena berdiameter 30 m. Sebanyak 8 orang atlet senior mengelilingiku. Masing-masing elemen berjumlah sepasang, melawanku yang cuma sebiji pengendali air.

Batinku berbisik hiperbolis: apakah aku akan mati?

Saat itu juga, batin yang sama menjawab: tidak boleh! Kau baru saja akan terbebas dari You-Know-What! Kau akan membuang kesempatan ini begitu saja?

Tentu saja jawabannya mutlak. Aku belum puas menikmati hari-hari tanpa You-Know-What. Aku tak boleh mati di sini.

"Siap, fighters? MULAI!"

Aku mengempas tanganku gesit, mengendalikan air yang tersedia di gorong-gorong bawah arena secara makro. Berhasil mengempas dua pengendali udara yang tak siap dengan tekanan besar dari ombak air dadakan dan seorang pengendali tanah yang terlambat membenam kaki pada pijakan. Mereka dinyatakan gugur, keluar arena.

Lima pengendali yang tersisa menyerangku secara bergantian.

Otakku bergerak cepat. Berusaha menganalisa, memproses, dan memprediksi pergerakan mereka sementara aku mengelak dan menghindari serangan.

Apakah berhasil? Pfft, tentu saja tidak!

Melawan amatir seperti senior di sekolah secara bersamaan? Hal ringan.

Melawan profesional di arena yang diciptakan khusus untuk pekerjaan mereka? Tempat mereka biasa berlatih berjam-jam, berhari-hari? Bunuh diri.

Otakku auto-overdrive. Tak bisa mengakali serangan yang terus mengarah padaku sebanyak lima kali serangan yang telah kukeluarkan. Belum lagi, aku masih harus membiasakan diri membantah refleks penggunaan elemen lain yang belum bisa kutendang sempurna dari ingatan otak dan ragaku.

Saat aku bisa menghindari lidah api dari atas, hantaman bongkahan es menerjang perutku. Saat sabetan air berhasil kuelak, bongkahan batu membuatku terjungkal. Otakku tak bisa memberi sinyal yang lebih cepat. Alhasil, insting mengambil alih.

Setelah beberapa percobaan, satu pengendali api berhasil kudorong mundur. Tersisa empat.

Hajar, kena hajar, hajar. (Maaf, aku terlalu malas menjelaskannya. Semua terjadi begitu cepat! Aku tak tahu bagaimana harus mendeskripsikan tiap serangan-serangan yang melayang.) Dua pengendali air berhasil kukeluarkan dari arena. Tersisa dua.

Dua orang yang tersisa ini sepertinya tim Bending Battle cabang grup. Karena, sungguh, kerja sama mereka membuatku terpukau.

Terpukau dalam keadaan terkapar di luar arena.

Kepalaku pening. Analisisku berantakan, otak masih belum selesai memproses apa-apa saja yang terjadi tadi. Aku yakin nyeri yang kurasa di beberapa bagian badanku tak akan hilang dalam beberapa hari.

Tapi, ada hal yang akhirnya kurasakan setelah bertahun-tahun lamanya. Rasa semangat dan gairah yang kuat.

Aku memang sangat suka dengan pertarungan-pertarunganku selama ini. Latihan bersama Jiraiya, sparring dengan Sasuke, Bending Battle Porsenzar. Tapi, segala rasa itu selalu tertutup takut dan kekhawatiran. Tertanam di kepala, kalau semua gerakan itu kupelajari semata untuk bertahan hidup saja.

Sekarang, aku sudah terbebas dari ancaman maut. Dan, aku tersadar, baku hantam secara sportif memang sangat menyenangkan.

"Walau aku tidak lulus masuk tim, bolehkah aku berkunjung sesekali untuk ikut latihan? Atau setidaknya menonton kalian latihan?" ujarku begitu mendudukkan diri, mengabaikan juluran tangan dari Sasuke yang tampak sangat khawatir. "Plis, Om Mochi?"

Beberapa atlet tersedak menahan tawa saat mendengar nama panggilanku untuk pelatih mereka. Tetapi, Om Mochi tak menghiraukannya.

"Siapa bilang kau tidak lulus masuk tim? Kabari aku kapan kau mulai tinggal di Kerajaan Bumi. Saat itu pula kau wajib hadir latihan."

" ... tapi tadi aku kalah, Om. Tetap boleh masuk?"

"Aku hanya bilang kau harus berhadapan dengan tim senior reguler, bukan harus menang melawan mereka." Om Mochi tertawa. Dia menatap beberapa atlet terdekat. "Bagaimana menurut kalian?"

"Setuju, Coach! Line-up tahun ini kita kosong satu fighter untuk pertandingan solo, bukan?"

Om Mochi menatapku. Dan, lagi-lagi, aku membayangkan wajahnya memasang seringai menyeramkan.

"Siapa lagi yang lebih pantas mengisi posisi itu selain mantan Avatar?"

"Kita pasti menang, Coach!"

Aku merengut. "Bukankah kalian terlalu melebih-lebihkan? Kalau kalian lupa, aku hanya bisa mengendalikan air saja saat ini."

Om Mochi melipat tangannya di depan perut. Dia tertawa singkat. "Jangan khawatir soal itu. Kalaupun memang benar, akan kupastikan 'melebih-lebihkan' ini jadi kenyataan."

Karena Momochi Zabuza adalah seseorang yang memendam sadisme lebih parah dari Bu Tsunade, dia sengaja menggantung ucapannya.

"Siap-siap saja. Hari pertama latihan nanti, kupastikan kau tak akan bisa merasakan 206 tulang di tubuhmu."

Aku bergidik. Atlet-atlet di sekitarku ikut tersenyum mengerikan. "Selamat datang di tim, Putri Naruto!" sambut mereka, kelewat ceria.

"Fyi saja, karena sepertinya kau tidak tahu. Coach Zabuza terkenal dengan sebutan Pelatih Iblis. Dan kami adalah tim Neraka. Semoga kau betah!"

... aku mulai meragukan keputusanku untuk bergabung. Aku melipir ke arah Sasuke, merasa ngeri dengan situasi. Si Pangeran Sialan malah tertawa dan menepuk-nepuk pundakku.

"Sekali lagi kuulang, Nar. Senang mengenalmu selama ini."

"WOE—"

Bedebaaaah!

.

.

.

Catatan kaki: saat kubilang aku bingung bagaimana harus menjelaskan adegan pertarungan yang terjadi, itu aku bohong. Aku tidak bingung atau malas. Penulisnya saja yang mendadak lupa caranya menulis adegan gelud. Heran. Padahal dari kecil hobinya baku hantam. Mimbar mesjid saja pernah dia ajak baku hantam.

"Aibku jangan dibongkar, oit!"


Next: Ini bukan kawinan, Bedebah