Kenapa udah update lagi, oi? Bukannya lu ada kerjaan, Thor?

"Ini bukti cintaku padamu dan para pembaca, Nar."

Jangan jadikan kami alasan untuk melakukan prokrastinasi, Penulis Sialan!

"Aku lagi stres, ok? Aku butuh hiburan! Aku jengah dengan kehidupan!"

YA TAPI JANGAN CARI HIBURAN DENGAN NISTAIN HIDUPKU JUGA! GELUD KITA!

-o-o-o-

The Prince and Princess of Nonsense

Ini bukan kawinan, Bedebah

-o-o-o-

Sebentar lagi aku resmi dinyatakan sebagai alumnus SAN Konoha. Kalian percaya itu?

Rasanya seperti sebuah mimpi.

.

Um. Aku tak tahu harus memulai chapter ini dengan narasi seperti apa. Karena, jujur saja, perasaanku benar-benar berkecamuk.

Aku berangkat dari rumah dengan perasaan dongkol karena teman-teman sekelas memintaku ikut berkumpul padahal tak ada urusan apa-apa di sekolah. Tak tahukah mereka kalau tadi itu aku sedang sibuk bermalas-malasan!?

Lalu, tiba-tiba saja, aku mematung di depan gerbang sekolah. Teringat fakta kalau lusa nanti kami akan diwisuda. Dan ... jeng jeng jeng! Sampaikan salam manis pada perasaan tak diundang yang tiba-tiba menerjang.

Batinku berbisik, kenapa waktu berlalu begitu cepat?

Ya, aku bahagia karena bisa terbebas dari you-know-what. Tapi, hey! Aku masih betah berbuat ulah di sekolah ini!

Bisa dibilang, aku tak rela. Tak kusangka kelulusan akan terjadi secepat ini.

Padahal, waktu pertama kali Sasuke mengajukan keinginannya agar kami melanjutkan sekolah ke SAN Konoha, aku sangat terintimidasi. Tiap informasi yang kubaca tentang sekolah berstandar internasional ini membuatku ciut bukan main.

Maksudku, ini sekolah nomor satu seantero negara elemental! Terkenal dengan prestasinya yang luar biasa pula! Aku yang saat itu bawaannya masih malas belajar tentu saja akan merasa sangat ngeri. Bagaimana caranya aku bisa masuk ke sekolah elit ini?

... Sasuke seharusnya ambil jurusan keguruan juga. Anak-anak yang agak lamban menelan rumus sepertiku butuh guru seperti dia.

... sampai mana tadi?

Ah, ya. Aku mematung di depan gerbang dihantam memori dan perasaan bertumpuk.

Gerbangnya dikunci, omong-omong. Berhubung ini masih jam KBM bagi adik kelasku.

"Pak—" Aku menolehkan kepalaku kepada penjaga gerbang. "—ini saya mau masuk gak bakal dibukain gerbangnya? Harus berdiri berapa lama lagi sampai Bapak peka?"

Penjaga gerbang menyeruput kopi sejenak. "Gerbang terkunci tak pernah menghentikanmu sebelumnya. Kenapa sekarang harus Bapak bukakan?" katanya, tanpa menatapku sedikit pun.

Mendengar itu, aku hanya bisa menganga.

"Bapak dendam sama saya? Pak, saya gak sering terlambat sekolah loh! Cuma berapa kali itu!?"

Aku tak dihiraukan.

Sambil memanjat gerbang, aku berpikir: sepertinya asyik kalau kuhancurkan saja gerbangnya.

.

... um.

Tidak, tidak! Tidak jadi!

Sebesar apa pun kekesalanku kepada penjaga gerbang, rasanya tak sepadan dengan kemungkinan menghadapi amukan Bu Tsunade.

(Biar kulakukan selepas hari kelulusan saja. You know, agar bisa kabur ke Kerajaan Bumi setelahnya tanpa takut harus menghadap You-Know-Who dalam waktu dekat.

Bukankah aku sangat jenius?)

.

Sesampainya di kelas, aku hanya bisa menelan rasa dongkol. Kelasku kosong melompong. Tak ada penghuni selain meja, kursi, dan perabotan lainnya.

Masa, sih, mereka sudah bubar tanpa menungguku? Padahal aku langsung otw setelah mereka menuntutku hadir. Aku bahkan tidak mandi dulu!

Buru-buru kubuka ruang obrolan grup kelas.

.

[Markas Piyik Teroris]

Mei 8. 9.52 am

Avataramen : Aku udah di kelas woi! Kalian ada di mana!?

Ketua :

Faiprinsuke : lol. Lihat, bukan? Apa kataku? Dia pasti datang.

Bundarhara : Kasian wkwkwk

Ketua : Apaan njir. Kukira kagak mempan! Biasanya kan ni anak diajak ngumpul banyak alasan mulu! Ngomong otw, taunya malah otw molor!

Avataramen : ?

Avataramen : Mempan?

Giringneji : lol. Ngapain kita kumpul hari ini coba, Nar? Kan abis wisudaan kita ada rencana liburan bareng?

Avataramen : INI MAKSUDNYA LU SEMUA JAILIN GUA DOANG? KALIAN GA NGUMPUL?

Faiprinsuke : Anak pinter! Seratus untuk kamu :D

Avataramen : ASDFGHJKL

.

"Lah? Kok udah balik?" Jiraiya mengernyit melihatku merebahkan diri di sofa panjang sambil menggerutu.

"Tidak ada agenda kumpul. Aku dijahili satu kelas."

Sebagai wali yang baik, idaman, dan patut dijadikan panutan; Jiraiya menanggapi jawabanku dengan tawa membahana. Kesal, kulakukan headshot menggunakan bantal sofa. Tetapi, Jiraiya tak gentar. Tawanya masih mengudara untuk beberapa waktu setelahnya.

Aku membenamkan wajahku di sofa, mencoba menulikan telinga.

Lalu, aku dipaksa mengangkat wajah lagi saat Jiraiya mencolek pipiku. Kupandang tajam, yang diberikan padaku adalah senyum lebar.

"Ikut denganku saja, yuk!" ajaknya.

"Mengekorimu mengumpulkan referensi untuk novel mesum?" Aku mengernyit. "Tidak, terima kasih."

Jiraiya tergelak singkat. "Bukan itu. Aku mau menghiburmu sekaligus melakukan … apalah anak-anak sebayamu menyebutnya? Ah, ya, quality time! Bukankah itu adalah tugasku sebagai walimu? Aku janji akan membawamu makan ramen di Ichiraku juga."

Um.

Wow.

Quality time kami selama ini adalah latihan penuh baku hantam. Atau dia melakukan pekerjaan rumah sambil bercerita soal pengalaman hidupnya, sementara aku membantu mengoreksi ejaan novel mesum buatannya.

Pria ini kerasukan apa, tiba-tiba mengajakku melakukan quality time segala?

Ini sedikit mencurigakan.

"Kau baik-baik saja, Pak Tua Mesum?" tanyaku menyelidik.

Jiraiya salah tingkah. "Hei! Sebentar lagi kau meninggalkan apartemen ini untuk mengais ilmu di Kerajaan Bumi. Salahkah kalau aku ingin menghabiskan waktu denganmu, Naruto?"

Aku mengerjap. Apakah … rindu yang kudengar di sana?

Um.

Oi! Kenapa aku jadi ikutan canggung begini!?

Ya, sudahlah. Mari kita kesampingkan segala urusan. Sebaiknya aku fokus saja pada poin terpenting yang Jiraiya sebutkan tadi.

Ichiraku Ramen, AKU DATANG … !

.

"Coba pakai ini!"

Aku menatap jijik pada benda yang disodorkan Jiraiya padaku. Gaun cantik berwarna magenta dengan hiasan bunga-bunga.

Fyi, destinasi pertama kami ternyata adalah salah satu butik terkemuka di Konoha. Kalau kalian belum bisa menebak, kuberi tahu: aku sama sekali Tidak Senang.

Maksudku, quality time macam apa ini!? Bawa aku kepada Yayang Ramen Ichiraku sekarang juga!

"Ayo, cepat pakai!" Jiraiya tertawa lepas. Tawanya sungguh membuatku ingin menaboknya sekuat tenaga. "Kalau tidak, aku akan memberitahu Sasuke kalau sewaktu ulang tahunnya yang ke-9, kau—"

"IYA, KUPAKAI!"

Sejak kapan Pak Tua Mesum ini belajar mengancamku?

Aku masuk ke ruang ganti dengan tidak ikhlas. Kucoba gaun yang dimaksud dengan lebih tidak ikhlas. Begitu aku menghadap Jiraiya, dia memintaku berpose dan berputar. Tentu saja aku tidak mau!

"Aku ogah jadi objek fantasi buku-buku mesummu!" protesku tegas.

"Itu-Nar-yang benar saja!" Jiraiya gelagapan. "Yuck! Seleraku lebih tinggi dari itu!"

Apa yang kau implikasikan, Keparat!?

"Lagi pula, aku mengajakmu ke mari karena … kau mau wisuda, oi! Memangnya kau sudah menyiapkan gaun untuk acara Prom Night setelahnya?"

Eh?

"Ya belum, sih. Aku tidak punya gaun." Aku mengendikkan bahu. Aku tahu dress-code yang diminta adalah ballroom dress. Tapi, kalau aku menyeleweng, memangnya siapa yang akan protes? "Aku berniat memakai seragam upacara formal dari Chief Hisashi."

"No. Aku tahu kepribadianmu agak … begitulah. Tapi aku ingin kau tampil cantik. Aku tak mau anak waliku mempermalukan Pangeran Sasuke di depan orang banyak."

Pfft. Dia berkata seolah aku tidak rutin melakukannya di sekolah.

"Ganti pakai yang ini! Kau terlihat mengerikan dengan gaun itu!"

Sialan.

.

Entah berapa kali aku mencoba gaun yang berbeda, Jiraiya akhirnya berhenti melempar gaun lain.

"Sudah kuduga, memang tak ada yang benar-benar cocok."

Sialan.

"Kalau kau sudah menduga, kenapa kau menyiksaku begini!? Apa kau tidak tahu sebagian besar gaun yang kucoba tadi ribet banget buat dipakai!?" Kutendang udara sebagai pelampiasan kekesalan. Butik ini beruntung aku sudah tidak bisa mengendalikan udara.

"Iseng aja. Kapan lagi kau mau pakai baju cantik seperti ini?" Jiraiya cengengesan. "Pemanasan juga, buat fitting baju pernikahanmu dengan Pangeran Sasuke nanti."

Protesan yang hendak kulempar tertahan di tenggorokan. Aku meringis dengan wajah terasa panas.

Haruskah dia menyebutkan itu!? Aku baru mau lulus SMA, sialan!

Pemilik butik yang sedari tadi mendampingi Jiraiya menjelajahi gaun yang ada menepuk pundakku. "Tenang saja, kami sudah menyiapkan sesuatu."

Kemudian, dia menatap pegawainya penuh arti. Membuat sang pegawai bergegas masuk entah ke mana dan kembali dengan sebuah gaun yang membuatku terpana.

Itu adalah gaun tradisional Suku Air yang memiliki desain unik tergantung siapa pemakainya. Aku pernah melihat gaun serupa membalut cantik badan ibuku di acara-acara besar.

"Jiraiya—" Napasku tersekat.

"Aku tidak tahu detailnya tepat atau tidak. Referensi yang kudapat adalah sebuah foto lama dari Raja Fugaku." Jiraiya menggaruk pipi, kekehan yang-terdengar jelas diselipi rasa gugup. "Pencahayaannya agak kurang, jadi … bagaimana menurutmu?"

Tanpa peduli dengan situasi dan lokasi, aku melayangkan tinju ringan di ulu hati pria itu, lalu memeluknya erat.

"Kau tak bisa seenaknya menjahili lalu membuatku terharu begini!"

Ringisan Jiraiya bersambung tawa.

"Sama-sama, Naru. Omong-omong, bayar sendiri ya."

Kutarik yang tadi. Aku tidak terharu.

.

.

.

Hari kelulusan pun tiba.

Karena aku terlalu malas menjelaskan prosesi wisuda, kuberi kesimpulan saja untuk kalian. Acaranya kurang lebih sama dengan acara wisuda pada umumnya. Ada bagian membaperkan saat perwakilan murid (Sasuke) menyampaikan pidato perpisahan. Ada bagian menyesakkan saat satu per satu murid dipanggil untuk menerima gulungan diploma dan berpamitan dengan jajaran guru. Ada bagian heboh saat adik kelas dipersilakan menyampaikan salam perpisahan mereka baik secara general maupun personal.

Terakhir, sesi bebas yang diisi dokumentasi dan selfie sana-sini. Kelasku kompak memekik gara-gara Pak Kakashi tiba-tiba nyempil ikut berfoto tanpa masker keramatnya.

Singkat kata, sangat berkesan.

Selesai acara, alumnus baru dibubarkan. Tadinya aku berniat menghabiskan waktu yang tersisa sebelum prom dengan tidur siang. Sayang sekali, Sakura dan Hinata menyeretku ke salon yang letaknya tidak terlalu jauh dari apartemenku, atas persetujuan Jiraiya.

"Biar satu sekolah pangling melihatmu, Nar," kata mereka.

Aku sangsi.

Sewaktu patroli PORSENZAR pakai gaun Cinderella, okelah. Aku tak heran kalau murid yang ada terkejut. Penampilanku benar-benar tidak ada feminism-feminimnya. Aku tampil sangat berbeda dari biasanya.

Sekarang, warga sekolah sudah biasa melihat rambutku tertata rapi. Mencerminkan identitasku sebagai bangsawan Suku Air. Memangnya mereka bisa pangling? Aku cuma ganti baju dan dipakaikan make-up natural.

.

Pukul 7 malam, Sasuke datang menjemputku. Membuatku sadar, mungkin kata-kata Hinata dan Sakura ada benarnya juga.

Lihat saja, pertama menatapku, Sasuke sempat membeku dengan pipi merona. Lalu, dia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan mengerang panjang.

"Nar, siapa yang membawamu ke salon? I want to talk."

Wow. Dia terdengar benar-benar gelisah.

"Hinata dan Sakura," laporku enteng. "Kenapa memang?"

Selama beberapa saat, Sasuke sibuk mericau dengan suara rendah. Entahlah apa yang ia katakan. Lalu dia murunkan tangannya, menatapku dengan pipi yang ronanya semakin jelas.

"Girl, you look so beautiful that I want to lock you up so I'm the only one who can see you like this," katanya, tanpa memalingkan wajah.

"T-that's so cheesy, dammit!" Aku menggeplak lengan Sasuke kesal. "Bisa gak hal-hal berbau bucin gitu kau sebut pakai bahasa yang tidak kumengerti? Dengernya malu, woi! Malu!"

"Sori." Sasuke tersenyum kikuk. Dia meraih kedua tanganku, meninggalkan kecupan ringan di buku-buku jari. "Tak akan kulakukan, btw. Justru itu poinnya, bukan? Aku ingin kau tahu. Jujur nih, kau benar-benar—"

Sebelum dia lanjut mengatakan hal yang memalukan, aku langsung memotong, "Menyebalkan! Kau sangat menyebalkan, Pangeran Sialan!"

Sasuke tertawa. "Serius. Agak gak rela gitu kalau yang lain melihatmu cantik begini. Nanti pada naksir."

"Shut up! Ayo berangkat sekarang! Nanti telat!"

"Cie, salah tingkah."

SIALAAAAN!

.

Aku bersiul rendah melihat dekorasi estetik yang tertangkap mata. Lapangan terbuka SAN Konoha seolah berubah menjadi kafe malam ala-ala garden party. Salut untuk juniorku dari OSIS. Ini jauh lebih baik dari penataan yang dilakukan panitia angkatan kami. Sasuke pun setuju.

"Ya ampun, Kak Naru cantik banget!" Panitia di meja absen berseru heboh.

Aku memutar bola mata saat Sasuke langsung menggenggam tanganku erat. Dia ini apa? Binatang predator yang teritorial?

Sepertinya anak yang baru saja memujiku juga sadar. Karena dia tertawa dan meninju lengan Sasuke akrab. "Santai ae, Kak. Aku muji secara objektif nih! Kak Naru punya Kakak, kok!"

"Bagus kalau kamu sadar diri." Sasuke mengangkat dagunya, memasang pose angkuh main-main.

Kusikut dia, setengah sebal.

"Ya sudah. Selamat datang, Kak! Silakan masuk dan nikmati jamuannya!"

Aku langsung menarik Sasuke ke meja yang dihuni oleh sebagian teman sekelas kami. Ekspresi mereka lawak sekali! Aku berhutang ucapan terima kasih kepada Sakura dan Hinata.

Hanya Neji yang berhasil menepis keterkejutan dan mengeluarkan tawa. "Kerasukan apa lu dandan rapi gini, Nar?"

"Sialan lu! Belum pernah digigit anjing penjaga, ya!? Sas, gigit dia!"

Sasuke mencapit hidungku sambil menggerutu, "Maksudnya aku anjing penjagamu, gitu?"

Kutepis tangan dia. "Ya buktinya tadi di depan gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba menggonggong ke adek kelas, tuh?"

Aku sangat puas melihat rona merah di wajahnya. Makan itu, HA!

"Aku tidak menggonggong!"

"Ya. Cuma melototin kaya anjing siap nerkam, 'kan?"

"Sialan."

"Right back at you." Eh, omong-omong kenapa wajah teman-teman sekelas jadi kecut semua? "Kalian kenapa?"

Neji mengibaskan tangan. "Kalian berdua mojok aja jauh-jauh, sana! Ganggu pemandangan dan kedamaian."

"Ya elah kenapa pada sensi gitu? Perasaan di kelas juga aku biasa kaya gini sama Sasuke, 'kan? Kalian bakal kangen denger kita ribut dan tawuran, loh!"

Wajah-wajah kecut berubah semakin menyedihkan.

"Jangan ingetin kita mau pisah, anjir!"

"Gak cukup apa tadi pas wisuda baper berjamaah?"

"Ah, sial! Bakal kangen gobloknya elu di kelas nih, Nar!"

"Eh, kampret!" Aku menggeram tertahan. "Siapa itu yang ngomong? Enak aja ngatain goblok! Yang dapet peringkat dua hasil ujian itu siapa, heh!?"

"Gak tau, gak kenal. Dari kelas lain, kali? Ya 'kan, Sas?" Neji tersenyum sadis.

Sasuke, sebagai teman terdekatku selama lebih dari satu dekade sekaligus pemilik tahta peringkat satu, mengangguk enteng.

Ah, sial. Soal mengusiliku kenapa mereka ini kompak sekali?

Setelah itu, obrolan ringan melebur di antara kami.

Tak salah lagi. Aku akan benar-benar merindukan kebersamaan ini.

.

Di tengah acara, sebelum peserta dibebaskan berdansa mengikuti musik yang diputar, aku dan Sasuke diminta naik ke panggung.

MC berdehem setelah bagian prop memberikan satu mikrofon nirkabel padaku dan satu yang lain untuk Sasuke. Dia memulai, "Seperti yang kakak-kakak tahu, salah satu tradisi Prom Night di SAN Konoha adalah pemilihan Prom King+Queen. Biasanya ada tantangan kecil antara peringkat 1 dan 2 bersama plus one masing-masing untuk menentukan siapa yang akan dinobatkan.

"Kebetulan, tahun ini peringkat 1 dan 2 datang sebagai plus one satu sama lain. Jadi, kita buat penobatannya berbeda, oke?"

Ahahaha. Kenapa perasaanku tidak enak begini?

"Jangan tegang begitu, Kak Naru. Aku gak akan gigit, kok." MC mengedipkan sebelah mata, memancing tawa dari anak-anak lain. "Kita QnA aja dikit, gimana?"

Aku menghela napas panjang. "Aku izin pulang sekarang aja, boleh gak?"

Tawa terdengar semakin mengeras.

Sialan. Aku tidak bercanda. Aku benar-benar ingin pulang. Pertanyaan macam apa yang harus kujawab!? Perasaanku benar-benar tidak enak!

"Panitia sudah mengumpulkan pertanyaan dari peserta Prom malam ini dari jauh-jauh hari." What the heck!? Mereka sudah merencanakan ini dari kapan!? "Kami akan menanyakan pertanyaan yang paling banyak ditanyakan. Kalian siap?"

KAGAK!

Sasuke, di sebelahku, menghela napas. "Aku tidak janji akan menjawab, tapi … silakan."

MC mengangkat satu jari. "Oke, pertanyaan pertama! Kak Naruto dan Kak Sasuke ini akrab banget 'kan ya? Ada yang penasaran, nih. Bagaimana kalian bisa saling mengenal? Gimana First impression terhadap satu sama lain? Silakan dijawab!"

Sasuke tertawa tertahan. "Kesan pertamaku? Naruto ini anak yang tidak sopan."

"Dan kau pangeran menyebalkan. Masih sampai saat ini, omong-omong."

MC terlihat bingung. Kujelaskan dengan malas, "Kami pertama kali bertemu di Istana. Saat itu aku dibawa Jiraiya menghadap Raja Api. Kalau tidak salah … empat atau lima bulanan setelah penyerangan Kutub Selatan.

"Raja meminta Sasuke membawaku keluar agar para orang dewasa bisa berbincang serius. Saat pamit undur diri, aku melakukan penghormatan sebagaimana diajarkan mendiang orang tuaku. Dan … rupanya makhluk ini tersinggung. Dia langsung bilang padaku kalau aku tidak sopan. Yah, wajar sih. Saat itu dia tidak tahu kalau aku adalah Putri.

"Kalau soal kesanku … singkat cerita, baru bertemu dia sudah mengajakku baku hantam sampai basah kuyub. Tamat."

Aku mengacungkan jari tengahku saat teman-teman sekelas mulai menyoraki penjelasanku yang kurang niat.

MC menertibkan kembali audiens dengan mengetuk mikrofonnya. "Oke, pertanyaan kedua! Dari awal masuk, kalian sudah digosipkan berhubungan. Tapi, berdasar sumber terpercaya, hubungan kalian baru dimulai di kelas 2. Ceritain dong, kejadian apa yang membuat hubungan kalian berubah dari pertemanan biasa!"

Seketika semuanya heboh, dengan kehebohan paling ricuh berasal dari kelasku.

Aku menabok punggung Sasuke sepenuh hati. "Ini salahmu!" tudingku.

Sasuke, menyebalkannya, hanya tertawa tanpa dosa.

"Kalau kalian tidak tahu, si Bedebah ini—" Kutunjuk Sasuke menggunakan jari tengah. "—naksir primadona sekolah kita, Saudari Hinata Hyuuga. Singkat cerita kami liburan di Kutub Utara dan melihat Hinata pakai kalung khusus, you know, dan dia patah hati. Lalu seenaknya mengajakku jadi partner mahoannya di suatu sore. The audacity of this asshole. Tentu saja aku tidak mau dan mengajaknya baku hantam di tempat."

Er, kejadian aslinya kami baku hantam dulu sih. Kalau kalian tidak ingat, boleh buka lagi chapter 2 Avataramen is Now Online.

"Dan, entah bagaimana lama-lama dia jadi bucin dan menularkan kebucinannya padaku."

Sasuke mengerling. "Tapi kau tetap sayang, bukan?"

Tentu saja, itu memancing godaan masal. "CIEEE!"

Sasuke rupanya belum puas, karena selanjutnya dia menarik tanganku dan menggenggamnya lembut. Tambah menatapku dalam dengan senyum yang … asdfghjkl.

"Kau membuatku terdengar seperti menjadikanmu objek untuk move on dari Hinata." Sasuke terkekeh. "Kenyataannya tidak begitu. Untuk Hinata, jangan tersinggung ya."

Samar-samar kudengar suara Hinata menyahut.

Tapi, Sasuke tak mengacuhkannya. Fokusnya tertuju padaku. Sepenuhnya.

"Bagiku, Hinata itu … semacam idol crush. Rasa suka yang tumbuh dari kekaguman. Tidak lebih, tidak kurang." Sasuke mendengkus. "Bukan Hinata yang kubawakan bubur saat sakit, Nar. Bukan Hinata yang kupancing tawanya di penghujung hari yang melelahkan. Bukan Hinata yang duduk melahap ramen sambil mendengar keluhanku. Bukan Hinata yang tiap hari kurangkul untuk tertawa bersama. Di ujung senja, bukan senyum Hinata yang membuatku lega."

Fkjshgksrhgklsrnjgkrsk—

Terjadi keheningan selama beberapa saat. Sampai akhirnya Sai berdiri menggebrak meja, lalu berkoar, "CIUM! CIUM! CIUM!"

Sasuke langsung melepas tanganku. Dia merunduk untuk melepaskan sebelah sepatu, lalu melemparkannya ke arah sang sepupu.

"INI BUKAN ACARA KAWINAN, BEDEBAH!"

.

.

.

Bolehkah aku mengubur diri hidup-hidup?


Next: Pindahan!