"He? Tumben malah diem? Gak ada protes?"

Shut up.

"Aciaaaa saltingnya kebawa sampe sini!"

BERISIK! LU APA-APAAN SIH PAKE BIKIN ADEGAN YANG—YANG GITU SEGALA!

"Eh, yang baca pada suka tuh."

GUANYA NGGAK!

"Ah, masa?"

"Uhuk."

SHUT UUUUP!

-o-o-o-

The Prince and Princess of Nonsense

Pindahan!

-o-o-o-

Perempuan kalau bersiap-siap pergi bisa memakan waktu yang lama. Mayoritas manusia berkelamin laki-laki mempercayai pernyataan tersebut sebagai fakta.

Omong kosong macam apa itu, Bedebah!?

Aku melirik layar ponsel yang sedari tadi kugunakan sebagai penghambat rasa bosan. Terhitung dua jam lamanya sejak aku menginjakkan kaki di lantai kamar Sasuke. Tepat seperti dugaanku, saat aku sampai, Sasuke masih tidur. Tak sadar kalau waktu janjian kami sudah lewat.

Mau tahu apa yang lebih menyebalkan? Dia bahkan belum selesai berkemas!

Kurang lebih satu jam aku mengomeli Sasuke sambil membantunya memilah-milah pakaian dan barang yang akan dibawa ke Kerajaan Bumi. Setelah itu kutendang dia ke kamar mandi, sementara kurapikan semua barang-barangnya ke dalam dua buah koper berukuran besar.

Sampai sekarang, Sasuke belum menunjukkan tanda-tanda akan keluar! Menyebalkan sekali!

Tak tahan lagi, akhirnya aku menggedor pintu kamar mandi sepenuh emosi. "Sas, lagi ngapain sih di dalem? Ngitung jumlah tetesan air pake rumus Archimedes!?"

"Rumus yang mana? Rumus dan hukum temuan Archimedes itu bukan hanya satu!" Sasuke menjawab sambil menggerutu. "Sabar dikit, kek! Ini hari terakhirku bisa mandi kembang disiapkan pelayan istana!"

Sedang mandi kembang rupanya. Ritual kebangsawanan Negara Api yang secara aturan harus dimaklumi oleh tamu atau pengunjung istana lainnya. Ritual sakral yang dikatakan dilakukan untuk menjaga kesucian dan menjauhkan dari kemalangan.

Siapa peduli soal ritual tak berguna begitu!?

"Kuhitung sampai lima. Kalau kau tidak buru-buru keluar, kudobrak pintunya!"

"Woi—"

"Satu!"

"Nar—"

"Dua!"

"Sebentar lagi 'napa!? Baru sebentar juga!"

Sebentar, dia bilang? SEBENTAR?

Mana laki-laki yang suka mengeluhkan soal waktu siap-siap wanita? BAKU HANTAM DENGANKU, SINI!

"PERSETAN DENGAN HITUNGAN LIMA! KUDOBRAK PINTUNYA SEKARANG!"

"PENJAGA ... !"

Rest In Peace, pintu. Jasamu akan kukenang selalu.

"Nar—what the fuck—kenapa pintunya beneran didobrak, woi!?" Sasuke protes dari bak mandi yang tertutup tirai merah. Dia melanjutkan, "Bunyi apaan tuh tadi? Masa sampai lepas engselnya!?"

Aku mengangkat bahu, seketika itu pula langsung merasa bodoh karena Sasuke tak mungkin bisa melihatnya.

Jadi, kubilang padanya, "Siapa suruh mandinya lelet banget? Buruan keluar! Atau perlu sekalian kurobek tirainya, hm?"

"Robek ti—woi! Kau jadi cewek bebal amat sih!? Iya, aku selesai sekarang!"

Aku melihat jari Sasuke menarik pinggiran tirai. Baru kulihat sebagian wajah, dia kembali menutup tirainya.

"Kenapa ditutup lagi, oi? Katanya selesai!" protesku.

Sasuke mengerang. "Y-ya lu ngapain masih di situ? Keluar, Bego! Gimana aku bisa pakai baju kalau kau belum keluar!?"

Eh, iya juga ya. Aku lupa, ehe.

... omong-omong, Sasuke terdengar gugup begitu. Aku jadi gatal ingin menjahili.

"Pemanasan, Sas."

"APANYA YANG PEMANASAN? KELUAR KAU, AVATAR SINTING!"

Aku hengkang dari kamar Sasuke sambil tertawa lepas. Tapi, tawa itu hanya bertahan sesaat. Sebutan Sasuke tadi sedikit membuatku ... entahlah.

Aku tidak keberatan bagian "sinting", omong-omong. Aku sadar dan aku bangga.

Sementara "avatar"—

Memangnya aku masih pantas mendapat sebutan itu? Aku tidak bisa mengendalikan seluruh elemen lagi. Aku juga tak bisa menggantikan posisi Avatar Hiruzen sebagai konsultan akbar perkara internasional.

Aku hanyalah seorang putri tanpa eksistensi tanah air.

.

Ah, sial. Kenapa aku jadi galau begini?

Penulis sialaaan!

.

Beberapa menit kemudian, aku dan Sasuke diminta sarapan bersama Raja Fugaku. Ada yang mau dibicarakan, katanya. Kami duduk berhadapan, sementara beliau duduk di kursi utama ruang hidangan.

Selama santap sarapan berlangsung, tak ada satu pun kata yang terucap. Aku dan Sasuke sesekali bertukar pandang, sama-sama tidak enak perasaan atas sikap Raja Fugaku. Sejak undangan sarapan bersama terhatur, senyum di wajahnya betul-betul patut diwaspadai.

Selesai makan, Raja Fugaku berdehem. Beliau lalu bertanya santai, "Kalian jadi tinggal bersama?"

"Ya, Ayahanda," jawab Sasuke. Aku ikut mengangguk singkat sebagai pelengkap.

Mata sang raja melotot. Tajam, tegas, sekilas terlihat beringas. Wajahnya mungkin akan terlihat seram kalau saja bibirnya tidak berkedut menahan senyum seperti sekarang.

Ada yang tidak beres.

Percaya padaku.

"Aku tahu kalian sudah sepakat untuk mendeklarasikan hubungan kalian. Tapi, kalian sadar kalian belum menikah, bukan? Tidak pantas tinggal bersama. Bagaimana kalau Sasuke berani—"

Kalian lihat, kelakuan Raja Mulia yang satu ini?

Sebelum kata-katanya melebar ke mana-mana, segera kusela perkataan beliau, "Jangan membuatnya terdengar seolah kami HANYA tinggal BERDUA! Kami ngontrak bersama tiga teman lain!"

Raja Fugaku tertawa lepas. Terutama, setelah sadar anak bungsunya tengah salah tingkah dengan wajah merona.

"Ya, aku tahu kalian tidak berdua. Tapi, coba kau tengok Sasuke, Naru. Apakah kau tidak curiga apa yang dia bayangkan sampai responsnya begitu? Bagaimanapun, anakku itu laki-laki normal."

Tolong, aku sangat ingin melempar piringku ke kening pria ini. Persetan soal hukum pancung dan saudara-saudaranya!

"Ayahanda, kumohon ... hentikan!" rengekan ini sama sekali tidak digubris.

Saat Sasuke memutuskan untuk hengkang dan menyeretku bersamanya, Raja Fugaku melambai santai. "Hati-hati di jalan, anak-anak! Belajar yang benar!" pesannya diakhiri gelak tawa ringan.

Kuberi beliau satu acungan jari tengah.

.

.

.

Singkat cerita, kami sampai di rumah kontrakan.

Lokasinya strategis, hanya berjarak satu stasiun dari Universitas Tonbo dan dua stasiun ke Universitas Nami. Perjalanan ke stasiun pun hanya memakan waktu berjalan kaki kurang lebih sepuluh menit.

Satu nilai plus yang membuatku menyetujui ajakan Sai untuk sewa rumah bersama: di blok sebelah ada kedai Ramen Ichiraku cabang Kerajaan Bumi. Kesejahteraan perutku sangat terjamin di sini.

Hanya perlu berjalan kaki untuk bisa sampai ke nirwana. Bukankah mantap jiwa?

"Sudah selesai?" Sebuah suara merdu menyapa telingaku. Kulihat, Hinata menyembulkan kepalanya dari luar pintu yang terbuka.

Dia dan Sakura adalah dua sisa teman yang akan tinggal bersamaku mulai hari ini.

"Udah, nih!" Kuregangkan otot-otot, melepaskan penat. "Barangku cuma dikit. Yang bikin lama 'nata ulang posisi kamar."

Hinata tersenyum lembut. "Ke bawah, yuk! Yang lain lagi kumpul di ruang TV."

"Siap, Bos!" Kulakukan hormat militer padanya. Kikikan sang putri sungguh membuat hatiku merasa teduh.

Sampai di ruang TV, aku tertawa geli. Kulihat Sakura sedang rebahan menjajah sofa panjang, sementara Sai dan Sasuke bergulat di lantai.

Sepertinya seru, kalau kurekam dan kuviralkan.

"Mereka kenapa?" tanyaku.

"Habis rebutan remot TV, tuh!"

"Lah? Remotnya 'kan di tanganmu?"

"Iya, pas mereka mulai gelut remotnya kupungut." Sakura mengangkat bahu. "Gak tau dah kenapa masih lanjut gelut."

"Kenapa gak kamu lerai?"

Sakura mengangkat bahu lagi. "Mager."

Ya elah!

Kualihkan pandanganku. "Hinata?"

"Lucu lihatnya, kaya anjing kutub yang lagi rebutan betina."

Njir. Perumpamaannya, plis. Masa sih dua cucu Raja Api Agung—iya, si avatar bejat Madara—disamakan dengan anjing kutub yang sedang rebutan betina? Tidak ada yang lebih elit sedikit, apa?

"Taruhan siapa yang menang, mau?"

Double njir.

Maaf, Ketua Suku Hisashi. Sepertinya kami sudah mengotori kewarasan anakmu.

.

"Junk food, yuk!" celetuk Sakura, sekaligus menjadi terompet tanda gencatan senjata bagi Sasuke dan Sai.

Sekarang kami berlima duduk mengelilingi tablet milik Sakura yang menampilkan aplikasi pesan-antar daring dari sebuah restoran cepat saji. Dalam waktu singkat, berbagai macam makanan dan minuman masuk ke keranjang pesanan.

Setelah semua selesai memilih menu, tablet itu berpindah ke pangkuanku. Lalu, Sakura menyengir lebar.

"Silakan bayar, Putri Naruto."

Eh, kampret—

"Kok aku yang bayar, sih!?"

"Anggap aja PB, Nar."

"Hah? PB?"

"Yoi. Pajak Bucin."

Ah, elah. Punya temen gini amat!

Sebenarnya aku keberatan diminta membayar atas nama bucin. Apalagi yang mengusulkan lebih dulu bucin pada pangeran Kerajaan Bumi. Lagi pula, seharusnya Sasuke juga ikut bayar jika itu alasannya!

Tapi, tak apalah. Jumlah tagihannya tak akan mempengaruhi tabunganku yang bernominal bengkak. Segitu sih, cetek!

(Uhuk. Ternyata begini ya rasanya bisa jajan tanpa overthinking soal keperluan hidup.

Aku terhura.

Terima kasih karena sudah jadi manusia sinting yang membuatku jadi kaya mendadak, Danzou.

Peluk cium [pakai bongkah es kutub],

Naruto N.)

.

.

.

Tengah malam, aku terbangun oleh suara ketukan pintu.

Aku bangun dengan tidak ikhlas. Kunyalakan lampu kamarku dengan lebih tidak ikhlas. Setelah menghela napas tanda amat-sangat tidak ikhlas, kubuka pintu kamar.

"Naru—"

Seketika, aku membeku.

Pengetuknya tak lain dan tak bukan adalah Sasuke. Semua rasa berat hati lenyap digantikan kekhawatiran. Pasalnya, sensor kosmikku bisa merasakan kekalutan.

Apalagi saat tangannya meraih pergelanganku dan menggenggamnya cukup erat, demi bisa merasakan denyut nadi.

"Maaf. Sebentar saja," lirih sang pangeran. Diperhatikan lebih seksama, matanya terlihat berkaca-kaca.

Selepas penyegelan kosmik yang kulakukan, Shion maupun Gurus Shishui tak mengabari siapa pun. Bahkan tabib Kutub Utara diminta bersumpah untuk tutup mulut. Mereka khawatir antek-antek Teratai Merah akan menghabisiku.

Selama sebulan, Sasuke mengira aku telah meninggal dunia. Tak bisa kubayangkan bagamana kondisinya.

Dan lagi, walau Gurus Shishui akhirnya mengabari … Jiraiya bilang, kabar itu datang bersama pesan buruk kalau beliau dan para tabib tidak begitu optimis aku bisa bertahan.

Perasaan bersalah dan kata maaf dariku tak cukup untuk menghapuskan semua itu.

"Kenapa, Sasuke?" Aku melingkarkan tanganku yang bebas ke pinggang Sasuke, memeluknya hati-hati. "Mimpi buruk?"

Sasuke merengut. "Pake nanya!"

Aku mendengkus geli. "Gak usah ngegas, Sas. Aku nanyanya santai loh."

"Kau sih! Udah jelas pake nanya segala!"

Aku tertawa kecil. Kutepuk-tepuk pelan punggungnya. "Perlu kutonjok gak? Supaya kau yakin aku ada di sini? Nyata di depanmu?"

"Ya jangan ditonjok juga lah, Nar! Dasar cewek barbar."

Aku tersenyum saat Sasuke melepaskan genggaman tangannya dan balas memelukku. Dia sudah lebih tenang. Aku merasa leg—

Um.

Sebentar.

Apa itu tadi?

Aku merasakan sesuatu menyentuh pelipis—

ASDFGHJKL—

APA SASUKE BARU SAJA MENGECUP PELIPISKU!?

"Thanks for coming back, Princess. Aku tidak tahu bagaimana jadinya kalau kau benar-benar mati."

Ah.

Sial.

Kenapa mataku ikut berkaca-kaca?

"I'm glad to be back."

Entah mengapa, kata-kata itu terasa seperti sebuah kebohongan.

.

Ah, tidak.

Aku tahu mengapa.

Sejak awal, aku sudah siap menyambut kematian.

Aku dan kelima naga spiritual tidak memperhitungkan adanya peluang kecil kemungkinan ini.

Sama seperti Sasuke yang terkadang tidak yakin aku benar-benar ada di hadapannya … aku pun terkadang tidak yakin aku memang kembali ke dunia fana ini.

(Kalau saja penulisnya tidak brengsek, seharusnya kisahku sudah berakhir bahagia, sialan!)

.

.

.

Saat Om Mochi bilang di latihan pertama dia akan membuatku tak bisa merasakan 206 tulang di tubuhku, kukira itu hanya kiasan yang dilebih-lebihkan.

Aku salah.

"Gear up, Fighters! Waktu rehat sepuluh menit kalian sudah habis!"

"Baik, Coach!"

Wow. Mereka masih bisa menyahut semangat, walau kebanyakan terlihat jelas bangun dengan kaki gemetaran sehabis pemanasan spartan berisi beragam latihan daya tahan tubuh.

Tim ini gila. Isinya masokis semua!

Aku suka! HUAHAHA!

"Bagaimana, Putri Naru?" Om Mochi menyeringai. "Masih kuat?"

Aku meninju telapak tanganku dan balas menyeringai. "Ini belum seberapa!"

Ya. Latihannya tak jauh berbeda dengan latihan yang kudapat dari Jiraiya selama ini. Aku sudah terbiasa.

Lagi pula, rasanya sangat menyenangkan karena aku tidak tersiksa sendirian. Setidaknya walau aku merasakan kebas dari ujung kepala hingga ujung kaki, aku masih bisa menikmatinya dengan menertawakan tampang menyedihkan dari anggota lain.

"Oke, sekarang kita lanjut ke pembiasaan elemental!"

"Bring it on, Coach!"

"Oke, kalian lakukan seperti biasa. Untuk Naruto, ikut aku!"

Sementara yang lain mulai berkelompok sesuai pengendalian elemen masing-masing, aku mengekori langkah Om Mochi.

"Kita mau ke mana, Coach?" tanyaku.

"Lahan khusus untuk sparring."

He?

Entah berapa menit berjalan, jauh melewati gedung asrama atlet, Om Mochi akhirnya berhenti. Kami berada tak jauh dari sebuah bendungan. Rerumputan liar tumbuh subur di sekitar sini.

Sekilas, tempat ini mirip dengan tempat biasa aku berlatih bersama Jiraiya. Perbedaannya hanya dari sumber air dan sekelilingnya yang tidak tersembunyi lempeng gua.

Instingku mendeteksi sesuatu. Aku langsung menarik kepala. Tepat saat itu juga, aku melihat jarum es melesat cepat di depan wajahku.

Saat Om Mochi bertepuk tangan, kuberi dia pelototan tajam.

"Aku sudah mengonfirmasi hasil latihanmu bersama Tuan Jiraiya. Kuakui, kemampuanmu dalam mengendalikan kekuatanmu sangat hebat di bawah tekanan dan situasi seperti itu. Respons-mu juga bagus. Tapi kurasa muscle memory-mu terlalu bagus. Aku tahu seharusnya kau bisa mengalahkan tim regulerku."

"Kau terlalu berlebihan, Coach."

"Sama sekali tidak." Om Mochi tertawa lepas. "Aku memang menetap di Kerajaan Bumi selepas perang. Tetapi, aku tahu perkembanganmu. Dari kecil, kau jenius. Demi Lunar, kau sudah bisa menggunakan teknik penyembuhan di usia sangat belia! Kau juga dilatih langsung oleh Kepala Suku yang dinobatkan sebagai Ksatria Air terkuat sepanjang abad.

"Aku juga bukan pelatih baru, Putri. Apa yang kulihat saat pertarungan BB Battle Royale ... sebenarnya kau bisa menang kalau saja pertarungannya tidak dadakan.

"Karena terlalu mendadak, kau lebih banyak membiarkan instingmu yang maju duluan. Tapi, insting itu sudah bertahun-tahun terbentuk dengan empat elemen, bukan? Kau terdesak karena terlambat menghalau instingmu menggunakan elemen lain. Benar?"

Ya tidak salah, sih.

Aku memang kewalahan menangkis refleks penggunaan elemen lain. Tetapi, bukankah terlalu berlebihan jika menyebutkan aku bisa mengalahkan tim REGULER? Dari tim Neraka yang isinya orang-orang gila latihan ini?

"Tugas pertama mereka adalah menyingkirkan refleks itu. Agar instingmu terbiasa lagi mengandalkan air sebagai satu-satunya sumber pertahanan dan penyerangan."

... sebentar.

"Siapa yang kau maksud dengan 'mereka'?"

Om Mochi tak menjawab lewat lisan. Pria itu hanya memberiku isyarat gerakan dagu.

Saat kutolehkan kepalaku ke arah yang dimaksud, mataku menangkap empat sosok yang sedang meregangkan otot. Masing-masing menggunakan pakaian khusus yang terlihat seperti ... seragam Pasus Muda masa perang.

APA MAKSUDNYA INI, MOCHI!?

Salah satunya melambaikan tangan dan tersenyum lebar.

"Yo, Avatar! Apa kau rindu padaku?"

.

.

.

Fuck.

Siapa pun, tolong selamatkan aku.


Next: S3