...
" ... "
Lu kerasukan apa anjir, Chic?
"Ya elah. Update lama diprotes, update cepet diprotes. Mau lu apa dah, Nar? Di-discontinue?"
YA! BIAR LU BERHENTI MAININ HIDUP GUA, PENULIS SIALAN!
"Tidak semudah itu, Ferguso."
Pakyu, Chic.
"Sayang Naru juga, muah!"
Idih! Najis.
-o-o-o-
The Prince and Princess of Nonsense
Sparring Spartan Sialan
-o-o-o-
"Yo, Avatar! Apa kau rindu padaku?"
Kenapa?
Kenapa aku harus bertemu makhluk ini di sini?
"Halo, Gurus." Aku merunduk, menghindari sebutir kelereng yang dilontarkan pengendalian udara. "Bagaimana kabarmu?"
"Kabarku baik!" Ya, aku bisa melihatnya dari kecepatan kelereng yang kau kirim padaku, sialan! "Kuharap kau tidak berleha-leha selama aku tidak ada?"
Aku buru-buru meratakan badan dengan permukaan tanah, menghindari bola api yang dilepaskan oleh ... WAITEDEMINIT! KENAPA SHISHUI JADI ADA DUA?
Yang mengendalikan api ini punya rambut, sih.
"Jangan asyik sendirian, Shishui. Zabuza meminta kita berempat untuk menghajar anak ini bersamaan," kata Gurus Shishui berambut pada Gurus Shishui yang botak.
... um.
Tadi aku salah makan apa ya?
Tak tahan dengan semua kengerian ini, aku meratap, "Tolong bangunkan aku dari mimpi mengerikan ini! Satu Gurus Shishui saja cukup! Kenapa jadi ada dua begini!?"
Gurus Shishui berambut mengernyit pada Gurus Shishui botak. "Apa yang kau lakukan pada anak ini sampai trauma begitu, Shui?"
Gurus Shishui botak tersenyum. "Hanya latihan biasa."
A ha ha.
Latihan biasa, katanya.
Kalian ingat bagaimana dia melatihku dalam mengendalikan energi kosmik? Ingat bagaimana menyebalkannya dia? Kalikan 10.
Setelah aku sadar di Kutub Utara, Gurus Shishui menyertai kepulanganku dan Sasuke. Bagaimanapun, kosmikku masih belum stabil saat itu. Dan aku masih butuh terapi fisik. Dia yang membimbing dan mengawasiku.
Saat kuajukan permohonan untuk lanjut belajar agar bisa lulus bersama teman-temanku, Gurus menawarkan diri jadi tutor juga. Dan, dari sanalah dia tahu kelemahan terbesarku.
You-Know-What.
Sejak saat itu, sang biksu bedebah memanfaatkan kelemahanku untuk segalanya.
Aku ngotot ingin makan ramen terus? Boleh, silakan makan sambil mengerjakan 5 soal You-Know-What beranak-cucu.
Aku tidak sabar ingin melewati satu tahap terapi ke tahap selanjutnya? Boleh, lakukan sambil mengerjakan 5 soal tambahan.
Aku merasa bersalah atau tak pantas hidup lagi? Kalau begitu silakan nikmati 10 soal beranak-cucu.
BAGAIMANA AKU TIDAK TRAUMA, SIALAN!?
DAN, TOLONG, INI KENAPA GURUS SHISHUI JADI BERJUMLAH DUA?
AKU TERSESAT DI NERAKA, YA?
"Whoa, whoa! Tak usah panik begitu!" Gurus Shishui berambut tertawa geli. "Aku bukan Shishui, kok. Aku kembarannya. Namaku Obito. Sebuah kehormatan bisa berjumpa denganmu, Avatar Naruto."
Oh, jadi bukan Gurus Shishui toh. Yang berambut ini kembarannya, Obito.
ITU SAMA SEKALI TIDAK MEMBUATKU TENANG, SIALAN!
PENULIS KAMPRET! BERHENTI TERTAWA DAN UBAH PLOTNYA SEKARANG JUGA!
"Ahem." Om Mochi—sang pengkhianat—berdehem. Kulirik, dia duduk santai di salah satu dahan pohon. "Perkenalannya singkat saja ya. Kau sudah kenal Shishui, elemen udara. Kembarannya, Obito, elemen api. Kau tahu si Boncel—"
Yagura tentu saja langsung menyahut protes, "OI!"
"—elemen air. Dan yang terakhir, Haku, elemen bumi."
"Salam, Avatar."
Aku meneguk ludah. Haku terlihat ... normal. Senyumnya juga manis.
Aku masih kalut soal Gurus Shishui yang tiba-tiba eksistensinya berjumlah dua. Ke-normal-an orang ini membuatku semakin kalut.
Biasanya yang diam seperti ini yang paling mengerikan!
"Mereka semua pernah bertugas di Pasus Muda pimpinan ibumu. Aku meminta tolong agar mereka bisa menuntunmu menghapus refleks elemen lain. Tak boleh ada serangan fatal, tapi mereka bebas membuatmu babak belur."
Oi.
"Oke, silakan dihajar."
OI!
"Kalau kau kalah, 15 soal, ya!" Gurus Shishui bersiul sambil meluncurkan dorongan udara kuat ke arahku.
Terlambat menyingkir, aku terpelanting sampai jatuh tercebur ke waduk beberapa meter di belakangku.
Kalau kami sedang bertarung satu lawan satu, itu adalah gerakan bodoh. Membiarkan lawan mendapat amunisi kekuatan bukanlah hal yang patut dilakukan dalam pertarungan.
Namun, ini bukan pertarungan satu lawan satu.
Ini sama seperti "tes masuk" waktu itu. Hanya saja dengan tingkatan yang berbeda.
Jika sebelumnya aku diminta melawan beberapa atlet yang terbiasa bertanding bersama, kini aku menghadapi satu unit pasukan yang terbiasa bekerja sama menantang kematian.
(RIP otak. Maafkan aku, sepertinya malam ini kau akan duel maut dengan 15 soal mateMATIka.)
Saat kurasakan badanku ditarik oleh tekanan air yang kuat—tentu saja pelakunya pasti Yagura—hanya satu yang terpikirkan olehku:
Zabuza pantas mendapat julukan Pelatih Iblis.
Aku memberontak dari tekanan air. Kugerakkan tangan dan kaki secara berkesinambungan, sedemikian rupa, hingga akhirnya aku bisa ke permukaan dan menghirup udara.
Tanpa membuang waktu, kudorong badanku hingga sampai ke sisi lain waduk.
Gurus Shishui bertepuk tangan dua kali, lalu meninggalkan permukaan. Dia terbang ke arahku—
Sebuah pengalih perhatian. Haku, di sisi waduk sana, memasang kuda-kuda menyerang.
Aku melompat ke samping, mengikuti insting. Tepat saat itu pula, lempeng bumi mencuat, nyaris saja menghantam telak ulu hatiku.
"Itu refleks pengendali udara, bukan? Tidak seharusnya kau melakukan itu, Avatar."
"Gurus!? Sejak kapan kau di sana!?"
Aku sama sekali tak merasakan hempasan angin dari teknik terbangnya!
Gurus Shishui tersenyum. Lalu, Obito tiba-tiba melompat dari belakangnya.
"Tunjukkan kami darah Ksatria Selatan yang disebutkan oleh Zabuza!" seru sang pengendali api.
Aku berkali-kali mengelak, tapi kombinasi serangan keduanya tak dapat diremehkan. Tak butuh waktu lama hingga tubuhku kembali terhempas udara. Aku berakhir terkapar menatap bulan sabit.
Tiba-tiba saja, aku teringat kata-kata Avatar Madara.
"Selalu ingat siapa dirimu, Naruto. Menjadi avatar hanyalah bonusnya."
Ruang kosong bekas ikatan dengan naga spiritual masih bisa jelas kurasakan. Mengganggu.
Tapi, itu bukan satu-satunya ikatan yang kupunya, 'kan? Aku hanya perlu mengingat kembali dan fokus pada satu hal saja.
Bulan tak penuh, bukan berarti cahayanya tak sampai pada Bumi.
Air selalu mengikuti wadah, bukan artinya aku tak bisa lepas dari strategi Gurus Shishui dan kawan-kawannya.
Kalau aku tak bisa melawan mereka secara bersamaan, aku bisa mencoba merontokkan mereka satu per satu.
"Butuh time-out, Avatar?" Obito menahan bola api di tangan kiri.
Aku tahu harus mulai dari mana.
"Sebutan yang benar itu 'Putri', sialan!"
Untuk Ayah dan Ibu di nirwana, doakan anak kalian ini, ya!
Luna tuere nos aqua!
.
Latihan dinyatakan berakhir. Seperti dugaanku, aku kalah.
"Bagaimana menurutmu?" Om Mochi menopang dagu.
Obito menyeruput coklat hangat topping marshmellow hasil pesan daring lewat Go-Nyam, mendesah nyaman, lalu menatapku.
"Tak buruk, kurasa. Kita tidak perlu membuatnya lupa gerakan-gerakan pengendalian lain. Itu bisa jadi teknik pengecoh yang bagus. Dan bisa jadi gaya pengendalian unik.
"Kita hanya perlu membuat muscle memory-nya cepat tanggap mengisi elemen-elemen itu sepenuhnya dengan air. Dia juga pintar improvisasi. Kapten Minato dan Tuan Jiraiya melatihnya dengan benar. Golden egg, Bro. Bisa-bisa tim lu nambah sponsor, nih!"
"Mantap, bukan?"
Oi.
"Kalian tidak lupa aku masih di sini, 'kan?" tegurku.
Om Mochi mengibaskan tangan. "Mana mungkin aku lupa kalau sapi perah baruku ada di sini."
... Wat. De. Pak.
"Seharusnya kau minta uang komisi sudah memasukkan dia secara cuma-cuma ke tim, Buz. Kudengar anak ini jadi milyuner dadakan?"
Tak salah aku waswas pada doppleganger berambut dari Gurus Shishui ini. Dia sama menyebalkannya!
Gurus Shishui—yang baru saja selesai membantu Yagura menyembuhkanku—tertawa kecil. "Hati-hati diamuk majikannya," ucapnya.
Serius. Sampai kapan dia mau memanggil Sasuke "majikan"?
"Sampai kau melepasnya, Avatar."
Dammit. Dia dan kosmik sialannya!
Dan lagi—
"Berhenti memanggilku begitu, Gurus. Aku sudah bukan avatar lagi."
Gurus Shishui melukis senyum penuh intrik. "Kau yakin?"
Ha? Apa maksud—
"Ayo pulang, Obi."
"Oh, sudah selesai, Shui? Baiklah. Tadi kau parkir bison terbang di mana?"
"Depan Gelarena."
"Ok." Obito berdiri. Bekas minuman coklat ia lempar pada Yagura. Tanpa memedulikan protesan yang bersangkutan, dia melambaikan tangan padaku. "Sampai jumpa besok, Naruto!"
Lalu, dua pria kembar itu meninggalkan ruang tengah asrama Gelarena yang menjadi tempat perkara obrolan kami saat ini.
Tak tahan lagi, kusuarakan kebingunganku. "Apa maksudnya sampai jumpa besok? Besok 'kan tidak ada latihan?"
Om Mochi tergelak. Dia menepuk puncak kepalaku beberapa kali. "Tak usah dihiraukan," katanya.
Aku mengalihkan pandanganku pada Yagura.
"Kau akan tahu besok," katanya sambil mengangkat bahu.
Yakin mereka tak akan memberi jawaban meski kudesak, kuputuskan untuk mengganti topik pembicaraan.
"Bisa kalian ceritakan soal Ibu dan Ayah semasa perang?"
Jeda yang cukup panjang.
Sesaat, aku merasa bersalah telah bertanya. Tapi, aku tak bisa menahan diri. Aku rindu orang tuaku.
Ingatan lima tahun yang tersamarkan trauma itu tidak cukup.
Aku ingin mengenal mereka lebih jauh.
"Bahkan biografi mereka tak pernah mengulas hubungan interpersonal profesional mereka."
Yagura tiba-tiba meringis. "Aku tak yakin pamor ayahmu akan utuh seandainya hubungannya dengan Komandan dibongkar."
"Eh?"
"Si Boncel benar." Om Mochi tergelak singkat. "Pertemuan pertama mereka, ayahmu langsung KO sekali ditonjok ibumu."
Aku menganga. "Ditonjok?"
Yagura mengangguk. "Kapten Minato ... terkesima pada pandangan pertama. Dia tak sadar memuji ibumu cantik di depan semua anak buah mereka.
"Komandan malu berat, salting, refleks menonjoknya sampai KO."
Ah, deja vu.
Aku tahu kebarbaranku ini ada asal-usulnya.
"Aku tak menyalahkan jika Komandan sampai merespons begitu. Kata-kata Yang Mulia terlalu ... frontal. Bukan cuma memuji parasnya dengan berpuisi tiba-tiba, dia juga langsung bertanya apakah Komandan mau jadi ibu dari anak-anaknya."
... wow. Nyalimu, Ayah. Aku terpukau.
Tapi ya enggak langsung lamar pertama bertemu juga dong! Makan tuh bogem Ibu!
"Apa anak-anak jaman sekarang menyebutnya ... ? Ah, ya, bucin. Kapten Minato adalah definisi bucin yang sesungguhnya. Berkali-kali dapat bogem mentah, dia tak pernah menyerah."
"Sejak pertama aktif terlibat perang, ayahmu ditakuti oleh banyak orang baik dari pihak lawan maupun kawan. Tak hanya pencetus strategi ulung, dia juga ksatria tangguh.
"Bisa kau bayangkan, bagaimana pamornya di buku sejarah jika ikut dituliskan dia pernah rela berpakaian seperti wanita dan mendatangi sebuah pesta perayaan untuk menggantikan ibumu yang tak mau memakai gaun?"
Om Mochi mendengkus. "Jangan lupakan soal pencarian binatang-binatang eksotis. Hutan larangan pun ia terjang demi memenuhi keisengan Komandan. Bukankah dia juga pernah masuk ke hutan yang sama untuk mencari rumput teki biasa? Yang mana bisa ditemukan di lahan hijau mana saja?"
"Ah." Yagura mengusap wajah. "Penyelinapan pabrik ramen, jangan lupakan yang satu itu juga."
Om Mochi memijat pelipisnya. "Aku masih tidak percaya dia langsung merencanakan pencurian sempurna. Padahal dia bisa beli lewat pintu depan. Dan lagi yang dicuri hanya sebiji."
"Kejeniusannya menguap setiap berhadapan dengan Komandan."
"Kau benar."
Aku tidak tahu harus merasa terhibur atau menyesal telah bertanya.
"Jadi awalnya Ayah bertepuk sebelah tangan?" simpulku.
"Iya." Zabuza mengekeh. "Ibumu terhibur dengan 'kebodohan'-nya. Rasa terhibur itu lama-lama berubah menjadi rasa suka. Hingga akhirnya dia menerima kalung ayahmu. Dan kau tahu lanjutannya bagaimana."
Aku yakin cerita aslinya tidak sesederhana itu. Bagaimanapun, kisah mereka berlatarkan perang.
Apa pun itu, aku bersyukur mereka saling bertemu.
Kenapa? Ya ... kalau mereka tak bertemu, bagaimana mungkin aku bisa lahir!?
"Kau tidak menanyakan hal itu karena sedang ada masalah, bukan?" Yagura menopang dagu. Tatapan matanya tampak khawatir.
"Masalah?" beo-ku, gagal paham.
"Ya, masalah. Mana tahu kau berubah pikiran," kata pria itu sambil mengetuk bandul kalung yang kupakai. "Kulihat-lihat, Pangeran Sasuke agaknya terlalu protektif padamu. Hm, posesif? Kau bukan objek yang harus dikurung, Putri."
Apa maksudnya dengan—
"Sasuke bukan orang yang posesif."
Yagura tersenyum kaku. "Coba kau pikir baik-baik. Tadi saja kau latihan dia antar, 'kan? Kau juga sekarang pulang menunggu dia menjemput. Dia tidak membolehkanmu—"
Aku mengeritkan gigi, langsung menyela perkataannya. "Kau tidak tahu apa-apa, jangan menilai sembarangan!"
"Putri—"
"Sebentar, Yagura," potong Om Mochi. "Aku tahu korban hubungan tidak sehat memang biasanya tak sadar dengan perlakuan yang didapatnya. Tapi dari respons Putri Naruto, sepertinya ada alasan mengapa Pangeran Sasuke begini?"
"Ini bukan urusan kalian."
Tak peduli jika Om Mochi merupakan kawan dekat Ayah yang pernah ikut mengganti popokku, hubungan emosional kami tak sedekat itu sekarang.
"Akar Teratai Merah memang sudah dihapuskan. Aku juga berhasil memastikan tak ada yang bisa membangkitkan Naga Relik Kegelapan lagi. Tapi semua itu tidak berakhir tanpa jejak.
"Kalian ingat di mana kita bertemu? Ya, klinik kesehatan jiwa. Kurasa kalian bisa menebak dari sana."
Kekhawatiran berganti empati.
Tapi, itu tak cukup untuk mengempas rasa kesalku setelah mendengar Sasuke dihakimi secara sepihak.
"Sasuke bukan hanya laki-laki yang kebetulan mengikat komitmen denganku. Dia adalah rekan seperjuanganku, sahabat yang selalu ada di sisiku.
"Dia terlibat langsung dengan semua kekacauan Teratai Merah ini. Kuminta kalian tak mengatakan hal buruk tentangnya lagi.
"Aku pamit. Sasuke sudah sampai. Terima kasih untuk bimbingannya hari ini, Coach."
.
"Maaf." Saat mendengar satu kata ini dilontarkan Sasuke, aku menghela napas berat.
Firasatku tidak salah. Aku benar-benar merasakan kosmiknya secara samar.
"Kau mendengar dari mana?"
Sasuke meringis kecil. "Saat kau bertanya soal orang tuamu semasa perang."
Shit. Kalau begini, Sasuke menguping semua pembicaraanku dengan Yagura dan Om Mochi.
Ini tidak bisa dibiarkan.
"Nongki ramen dulu, yuk? Buka 24 jam juga 'kan?"
Aku buru-buru menarik Sasuke menaiki kereta kami. Perjalanan singkat itu diiringi dengan keheningan yang kurang nyaman. Rasanya sangat lega saat kereta akhirnya sampai di stasiun dekat rumah kontrakan.
Sambil berjalan ke arah kedai Ramen Ichiraku, aku menanyakan kegiatan Sasuke selama aku latihan.
Sasuke, si murid super rajin, rupanya menghabiskan waktu yang ada untuk membuka modul kuliah kelas-kelas awal yang ia dapat dari kakak tingkat kenalannya di jurusan Teknik Sipil. Kalau dia lanjut belajar begini, aku yakin setelah UTS atau UAS semester 1 dia siap naik ke tingkat 2.
Aku mendengarkan Sasuke berkicau soal teori dan materi yang tak begitu bisa kutangkap isinya. Setidaknya, Sasuke terlihat bersemangat saat membicarakannya.
Begitu sampai di kedai ramen, Sasuke kembali terbungkam.
"Apa yang diucapkan oleh Yagura jangan terlalu dipikirkan, Sas," mulaku.
Sasuke menggeleng. "Dia benar. Aku jadi ... terlalu protektif. Apakah kau tidak sadar? Sejak ... itu, aku selalu menuntut kabar darimu."
"Aku mengerti mengapa kau jadi begini. Aku yakin aku juga akan setakut itu jika peran kita dibalik, Sas. Beri dirimu waktu."
Lagi pula, aku tidak keberatan. Keprotektifan Sasuke belum masuk tahap berlebihan.
"Kalau kau merasa tidak tenang ... mungkin sebaiknya kau bicarakan hal ini dengan Dokter Shizune besok, Sas."
" ... oke."
Tak lama setelah itu, pesanan kami dihidangkan. Tanpa ba-bi-bu langsung saja kupatahkan sumpit agar bisa segera menyantap ramen nikmat.
Baru beberapa suapan, Sasuke membuka obrolan.
"Oh, ya. Bagaimana latihanmu tadi?"
Kilas balik latihan tadi membuatku meringis ngilu.
Berapa kali badanku dibuat terpelanting?
"Apa kau tahu kalau Gurus Shishui punya kembaran?"
Sasuke mengernyit. "Kembaran?"
"Iya. Tapi pengendali api sih. Aku nyaris jantungan mengira ada dua Gurus Shishui." Aku bergidik.
"Bukankah bagus kalau ada dua?" Sudut bibir Sasuke berkedut.
Si brengsek ini!
"Apa bagusnya, oi!?"
Sasuke mengerling jenaka. "Tutor Matematikamu bertambah."
Kuabaikan undangan pasti baku hantam itu.
"Jadi, ya, ternyata Om Mochi kenal dengan Gurus Shishui. Tadi aku diminta sparring melawan Gurus, kembarannya, Yagura, dan satu orang lain.
"Daripada sparring, lebih pantas disebut perburuan. Mereka semangat sekali membuatku babak belur. Badanku gempor, plis."
Sasuke tersenyum simpul. "Mau kusiapkan air hangat begitu sampai, nanti?"
... kenapa pertanyaan itu terdengar sangat domestik?
Aku tiba-tiba merasa malu, sial.
"Trims."
Sasuke mengangguk. "Omong-omong, kau siap untuk besok? Sudah dapat info akan bertemu dosen wali di mana?"
"Sudah. Diminta berkumpul dulu di gedung departemen." Aku mendesah. "Gak kerasa ya, kita besok resmi jadi mahasiswa Tonbo."
"Iya. Rasanya baru kemarin kau merengek pusing mengerjakan soal pembagian pecahan dan desimal."
" ... kenapa harus mengungkit hal itu, sialan!?"
Sasuke tertawa tertahan. "Jangan bikin masalah di hari pertama, Nar. Cukup di SAN Konoha saja kau—"
"Itu bukan salahku! Salah You-Know-Who!"
Obrolan ringan kami berlanjut hingga tetes terakhir kuah ramen mangkok ke-4 milikku.
.
.
.
Rasanya ada yang kulupakan.
Apa ya?
Next: Dunia Tak Selebar Daun Kaktus
(A/N)
Obito dan Shishui kubuat kembaran di sini. Because, why not? :D
Btw ini tadinya niat up besok. Tapi karena dari tadi aku gabut di tempat camp, akhirnya kulanjut. Dan rampung juga xD Yaudah up deh.
(Buat satu pembaca yang merasa ... G, INI GUA SENDIRI YANG NULIS, SIALAAAN XD )
Berkenan tinggalkan jejak?
