"Kau lihat review chapter 5, Nar? Bukan cuma aku yang senang melihatmu menderita."

Kalian semua membagongkan.

"AHAHAHA!"

-o-o-o-

The Prince and Princess of Nonsense

Dunia Tak Selebar Daun Kaktus

-o-o-o-

Aku pernah bilang di prekuel fanfiksi sialan ini kalau duniaku dan dunia kalian itu tak jauh berbeda, bukan? Aku sangat bersyukur atas hal ini.

Salah satu perbedaan yang sangat kubanggakan adalah ... dunia kami sudah melepaskan tradisi ospek jauh sebelum aku lahir. Meski beberapa sekolah besar seperti SAN Konoha masih berlandaskan militer, tetapi tak ada yang namanya ajang "pembalasan senior" berlabel pengenalan lingkungan sekolah atau pelatihan mental.

Membentuk mental kuat itu tak harus melalui dibentak gara-gara kesalahan ghaib, kawan.

Jangan beralasan—di dunia kerja dan masyarakat—adik-adik kalian harus siap menghadapi jenis manusia brengsek yang tak segan menyalahkan walau yang disalahkan tak berdosa.

Seharusnya kalian membina mereka agar menjadi generasi yang tahu itu salah dan tak melakukannya pada generasi-generasi selanjutnya. Apa yang kalian lakukan malah memupuk generasi baru untuk berpikir itu tidak apa-apa, toh senior melakukan hal yang lebih parah.

Bagaimana lingkaran setan ini akan berakhir, kalau tak ada yang inisiatif maju dan memutusnya?

Enough is enough.

Dunia kalian harus belajar banyak dari dunia kami.

Pernah dengar psikologi manusia? Coba dipelajari baik-baik. Lebih kreatif lagi dalam berpikir. Jangan cuma kreatif dalam menghujat. Waktu pembagian otak semua ikut mengantri, bukan?

... er. Kenapa aku jadi membicarakan ini?

Maaf, maaf. Mari kita ulangi dari awal.

.

Hari pertamaku sebagai mahasiswa baru Universitas Tonbo diawali dengan menyimak sosialisasi singkat kakak tingkat seputar Departemen Pendidikan Jasmani dan Pertahanan Diri. Tak lupa apa-apa saja ekspektasi kampus terhadap kami.

Heran, aku sama sekali tidak mengantuk selama mendengarkannya.

Sosialisasi selesai, semua maba berpencar ke tempat janjian bersama dosen wali masing-masing. Karena mampir ke toilet dulu untuk memenuhi panggilan alam, alhasil aku sampai terakhir. Sudah ada empat mahasiswa lain di ruang kelas yang telah ditentukan.

"Uh, hai?" sapaku ragu.

Tiga mahasiswa membalas canggung. Satu sisanya melihatku dengan kening berkerut. Ekspresinya sekilas terlihat seperti orang yang kesulitan buang hajat.

Mau tak mau aku jadi mengendus udara.

Hm. Tak ada bau tak sedap. Berarti aku salah kira. Mungkin anak itu bukan sedang menahan rasa ingin berak, tapi sedang berpikir keras.

Mengabaikan mahasiswa yang terakhir itu, aku mengambil tempat duduk di kursi dekat jendela. Lalu, kutanya mereka, "Ini betul tempat kumpul doswal Prof. Nohara, bukan?"

Satu-satunya yang berkelamin perempuan selain aku mengangguk mantap. Dia tersenyum dan mata hitamnya tampak bersinar. "Aku Kurotsuchi."

Ah, iya. Aku belum mengenalkan diri.

"Salken, Kurotsuchi. Aku Naruto."

Satu yang berkacamata mengangkat tangannya. "Chojuro."

"Omoi," ucap singkat anak yang duduk di sebelah Chojuro. Dia kembali mengemut lolipopnya.

Lalu, kami bertiga menatap orang terakhir. Tapi, ekspresinya tidak berubah.

Benar bukan mau berak, 'kan? Sejauh ini udara masih terbebas dari polusi gas biologis.

"Heh," tegur Omoi pada orang itu. Dia bahkan menendang kaki kursi yang didudukinya. "Kami tanya namamu!"

Anak itu berdiri sambil menggebrak meja, lalu menunjukku. Sama sekali tidak menggubris Omoi.

"AVATAR!" serunya, terdengar terkejut sekaligus gembira.

... oi.

Yang benar saja? Padahal aku sudah sengaja tak memakai aksesoris bangsawan dan menguncir kuda rambutku. Aku juga pakai topi! Tetap ada yang mengenali?

Aku celingak-celinguk, pura-pura bego. "Mana?"

"KAU!"

Kurotsuchi ikut berdiri dari kursinya. Gadis itu terbelalak. "Hei, tadi kau bilang namamu Naruto? Bukankah di video viral SAN Konoha waktu itu avatar mengaku bernama Naruto? Putri Suku Air, 'kan? Kau pakai kalung khas suku air!"

Chojuro menyipitkan mata. "Itu topi SAN Konoha, 'kan?"

Aku merasa bodoh. Kenapa aku malah pakai topi sekolah?

Aku berniat menyembunyikan identitasku sebagai avatar untuk beberapa minggu pertama agar bisa melihat muka shock orang-orang Tonbo saat sadar selama ini mereka bercengkrama dengan avatar. Muka lawak jelek teman-teman sekelasku saat itu sangat menghibur, tahu! Aku butuh reka ulang!

"Kau serius avatar?" tanya Chojuro lagi, memutus monologku di dalam kepala.

Aku harus jawab apa, coba?

Aku bukan avatar, tahu.

Jawaban yang betul itu aku karakter utama dari cerita geblek yang ditulis oleh penulis brengsek!

Tapi, aku tak perlu menjawab. Aku diselamatkan oleh terbukanya pintu tersembunyi di sebelah papan tulis putih. Di sana, berdiri seorang pria berpakaian setengah formal dengan senyum lebar yang tak begitu asing di ingatanku.

"Halo, semua! Perkenalkan, aku Obito Nohara, dosen wali kalian."

Mampus! Itu kembarannya Gurus Shishui.

Ini yang kau maksud "sampai jumpa besok", sialan?

Kuangkat tanganku tegas. "Maaf, Prof, saya mau bertanya."

Obito tersenyum. "Silakan."

"Boleh ganti dosen wali, gak?" Aku mengabaikan tatapan bingung dari yang lain, fokus mempertahankan senyum sopan di wajah. Menahan keinginan untuk mengajak sosok pria itu baku hantam di tempat.

Aku yakin seratus persen ini bukan sebuah kebetulan.

Dia pasti sengaja memilihku sebagai anak walinya!

"Oh, boleh." Obito menyeringai. "Tapi kerjakan dulu 100 soal integral trigonometri, ya."

KAMPRET!

"KAU TIDAK BISA SEENAKNYA MEMAKAI METODE GURUS SHISHUI BEGITU, SIALAN!"

"Tentu saja aku bisa. Shishui bilang ini sangat ampuh. Buktinya kau juara umum ke-2 di SAN Konoha? Bukankah bagus kalau metode yang sama bisa membuatmu lulus cumlaude? Kakashi juga setuju."

... orang ini kenal Pak Kakashi? Kebetulan macam apa lagi ini!?

"Ah, ya, kalian pasti bingung ya? Bapak kenal dengan anak ini. Kita abaikan saja dia. Nanti kalau dibelikan balon juga normal lagi."

Oi!

"Mari kita lanjutkan perwalian pertama ini. Pertama-tama, Bapak ucapkan selamat datang di Departemen PJPD Universitas Tonbo. Bapak akan menemani dan membimbing kalian selama berkuliah di sini. Kalau ada apa-apa, konsultasi baik masalah kuliah atau masalah hidup, tak usah sungkan. Pintu kantor Bapak dan ruang chat pribadi akan selalu terbuka."

Sasuke, Kurama, Ayah, Ibu, siapa saja ... tolong.

Aku menyesal masuk jurusan PJPD.

Aku mau ternak monyet-kelelawar saja.

.

Setelah perwalian dibubarkan, aku diminta makan siang bersama Obito.

... haruskah kupanggil dia Prof. Nohara mulai sekarang?

"Jangan terlalu defensif dan panik begitu." Obito tergelak singkat. "Aku hanya bercanda soal yang tadi."

"Becandamu jelek," desisku.

Dia mengekeh. "Bagaimana Univ Tonbo sejauh ini?"

"Sesuai ekspektasiku." Alias, aku sudah menemukan celah berbuat ulah agar kehidupan kuliahku tidak membosankan.

"Berniat masuk UKM?"

"Entahlah. Kalaupun iya, aku akan memilih yang jadwalnya tidak tabrakan dengan jadwal latihan." Aku mendengkus. Apa aku pernah bilang kalau aku benci basa-basi? "Jadi, apa yang mau kau bicarakan sampai mengundangku makan siang begini? Kalau tidak ada, aku pulang sekarang juga."

Obito mengetuk meja selama beberapa saat. Dia terlihat menimang-nimang, menyeruput susu kocok sebentar, lalu menatapku serius.

"Sebenarnya Shishui melarangku untuk menanyakan ini, tapi aku tak bisa," mulanya. "Shishui bilang, saat kau membuka Ruang Suci Kuil Angin yang telah tersegel satu abad, di dalamnya ada gunbai. Itu gunbai bersejarah milik Raja Api Madara, 'kan?"

"Memangnya kenapa kau menanyakan hal ini?"

Obito menopang dagu. Ekspresinya agak sulit dibaca. Tapi, aku bisa merasakan pria ini sedikit ... tertarik?

"Anggap saja aku pemerhati sejarah."

Ini sedikit mencurigakan. Aku jadi ragu, haruskah kujawab?

"Kalau kujawab, ya, kenapa?"

Obito tertawa. Lepas, tapi singkat. "Kalau memang itu gunbai miliknya, berarti dia Avatar. Apa aku salah?"

Tak salah sih, tapi ... "Dari mana kau bisa menyimpulkan hal itu?"

"Dari mana ya?" Obito merapikan bekas makannya, lalu meninggalkan beberapa lembar uang tunai di meja. Lanjutan kata-katanya sama sekali bukan jawaban dari pertanyaanku. "Aku tak bisa mengatakan banyak hal, tapi—"

Untuk sesaat, ekspresi di wajahnya membuat bulu kudukku meremang.

"—berhati-hatilah dengan koloni, Naruto. Jaga Pangeran Sasuke baik-baik."

Pamit yang kuterima darinya setelah itu hanya berupa lambaian tangan.

.

.

.

Bahkan hingga giliranku menghadap Dokter Shizune tiba, kata-kata Obito tak berhenti menggema di kepala.

Ada yang punya semprotan pestisida anti cacing telinga? Kalau ada, tolong kirim ke duniaku secepatnya.

Aku tidak bisa tenang.

"Ada yang kaupikirkan, Naru?" tanya Dokter Shizune setelah puas melihatku mondar-mandir tidak jelas di depannya.

Bagaimana caranya aku menjelaskan pada Dokter Shizune kalau aku khawatir penulis sialan menyelipkan plot konspirasi lagi ke fanfiksi ini?

Aku sudah jengah dengan masalah memusingkan, sialan! Aku ingin jadi remaja normal seperti anak lain!

Yah ... mending kalau seperti penulis lain gitu ya. Biar tema berat, bahasanya mantap, eksekusinya juga cakep. Dengan resolusi luar biasa.

Lah, si penulis sinting ini?

Identitasku saja bocor gara-gara sepatu sekolah! Sangat tidak elit!

Organisasi yang dari awal digembar-gembor dan membuatku takut mati ternyata cuma sekumpulan anak yang ditipu oleh pak tua bau tanah!

Apa lagi yang akan dilempar padaku kali ini?

"Kalau kau tidak mau bicara soal itu, tak masalah." Dokter Shizune menepuk sofa empuk di sebelahnya. "Duduklah dulu. Sasuke bilang, kau bergabung dengan Tim Chigiri dan mulai latihan kemarin malam?"

Aku menghela napas. Aku duduk di hadapannya, berhubung masih belum merasa senyaman itu untuk menerima permintaan tadi. Kuberi tahu aku cukup menikmati dan tak sabar untuk latihan lagi.

Senyum di wajah Dokter Shizune tak berubah, tetap hangat dan menenangkan.

"Tak masalah, 'kan?"

Dokter Shizune terkekeh pelan. "Justru menurutku bagus, Naru. Tak sebentar waktu yang kau habiskan untuk berlatih keras demi bertahan hidup. Dengan begini, kau bisa menerima pengendalian sebagai bagian dari dirimu; bukan pertahanan dari kematian lagi."

"Ah."

"Aku punya sedikit hadiah untukmu." Dokter Shizune menunduk, mengambil sebuah kantong plastik dari kolong meja.

Aku meringis, melihat salah satunya adalah buku jurnal. Desainnya sama dengan yang Sasuke tunjukkan padaku sebelum aku masuk ke ruangan ini.

"Kau akan memberiku PR juga?" ringisku.

Dokter Shizune tertawa. "Sasuke sudah bilang padamu?"

"Dokter meminta dia menuliskan setiap pikiran buruk/kecemasannya. Apa aku juga harus melakukannya?"

"Sedikit berbeda." Dokter Shizune membuka halaman pertama, lalu menuliskan beberapa poin di lembar kosong tersebut. "Aku ingin kau menuliskan list trauma yang pernah kau alami. Dari yang terbaru—sesederhana kehabisan ramen sampai serumit pembantaian rakyatmu—hingga terlama, yang kau ingat.

"Baru setelah itu tuliskan jika kau punya pikiran buruk, peristiwa yang membuatmu berpikir begitu, dan skala emosimu dari 0-10. Kalau kau mengalami mimpi buruk atau kilas balik acak, aku ingin kau menuliskannya juga di sini. Ada yang mau ditanyakan?"

Hanya satu pertanyaanku.

"Kenapa punya Sasuke lebih sedikit!?"

Dokter Shizune tak menghiraukanku. Kali ini, dia menunjukkan dua buah ... tiket?

"Pergilah bersama Sasuke. Itu festival tahunan di Sabuko. Aku mendapatkannya dari seorang pasien. Kupikir, itu lebih kalian butuhkan."

Dia menyuruh kami ... kencan?

"Terakhir, resep—"

.

"Festival di Sabuko?" Langkah Sasuke terhenti.

Karena terlalu tiba-tiba, nenek yang berjalan di belakangnya mau tak mau jadi menabrak sang pangeran.

"Kalau jalan yang benar, Hatori!" seru sang nenek dengan garang.

"Eh, maaf Nek."

Aku meringis saat si nenek dengan entengnya memukulkan tongkat ke pantat Sasuke.

Tak cukup keras, sih. Tapi, walaupun tak meninggalkan luka, aku yakin harga dirinya terluka.

Apalagi, setelah itu si nenek menyodorkan satu bingkisan tembus pandang yang isinya bikini bermotif ... mencolok.

"Bawa, tuh! Buat adikmu!" katanya sebelum menarik Sasuke ke peron yang berlawanan dengan tujuan kami.

Aku mengekori sambil cekikikan seperti orang kesurupan. Kisaran 5 menit kami mendengar si nenek berkicau panjang lebar soal kelakuan tak sopan "Hatori" yang jalan duluan tak menunggu neneknya. Sampai akhirnya "Hatori" yang asli muncul dan membiarkan kami kembali ke peron sesungguhnya setelah meminta maaf.

"Makanya, kalau punya nenek udah pikun tuh dijaga baik-baik, Hatori! Apalagi lagi rame gini. Lepas 'kan tuh, neneknya! Dipegang erat-erat, dong!" godaku, sesekali menyikut Sasuke.

Sasuke menggerutu pelan. "Berhenti memanggilku Hatori."

Setelah kami berdiri aman di peron, aku melanjutkan pembicaraan kami yang terputus oleh nenek bikini. "Iya, aku dikasih tiket festival Sabuko."

Sasuke bergumam selama beberapa saat. "Kakanda pernah bilang padaku acaranya meriah. Sentralnya adalah lakon tradisional perpaduan Negara Api dan Kerajaan Bumi. Kalau kau mau, ayo pergi."

"Oke. Tak wajib pakai yukata atau semacamnya, 'kan?" Seingatku, acara-acara tradisional Kerajaan Bumi selalu menghimbau pengunjung memakai pakaian tradisional juga.

"Kalaupun harus, kau menyusup pura-pura jadi laki-laki saja." Aku merasakan tangan Sasuke menyentuh tanganku pelan-pelan, mengaitkan satu demi satu jari hingga akhirnya tanganku tergenggam utuh. "Awas saja kalau Sakura atau Hinata berani membelikanmu yukata."

Bucinnya, tolong.

"Yang membawaku membeli gaun untuk Prom waktu itu Jiraiya, tahu. Bukan mereka."

"Aku akan membuat Tuan Jiraiya di-ban di seluruh bar dan pemandian air panas yang ada di Negara Api kalau dia berani lagi." Sasuke menggeram.

Waduh. Jiraiya tak mungkin berani melawan kalau ancamannya seperti itu.

"Kalau Sai yang beli?"

"Kupecat dia jadi sepupu."

Aku tertawa. "Wah, kalau gitu sih si geblek malah bahagia, Sas! Katanya 'kan beban banget jadi sepupumu!"

"Sialan." Sasuke mencubit pipiku. Tak keras, hanya meninggalkan rasa nyeri beberapa detik saja.

Lagi pula, dia melakukannya sambil tersenyum.

Kualihkan pandanganku ke rel kereta, berusaha menenangkan detak jantungku yang tiba-tiba jadi tidak santuy.

Senyumnya, asdfghjkl—

Dan, kenapa kepalaku jadi hiperfokus pada tangan kami yang—

Damn it. Rasanya sangat hangat.

Nyaman.

Aku tak mau sensasi ini berakhir.

Tiba-tiba saja, dadaku terasa sesak. Perasaanku bercampur dengan sensor kosmik.

"Ah, keretanya penuh. Kayanya gak akan kebagian duduk. Jangan lepas tanganku, Nar."

"Ok."

Tak akan.

Aku tak akan pernah melepasnya lagi.

.

.

.

"AVATAR NARUTO! SELAMAT PAGI!"

"Hah? Avatar!?"

"Mana!?"

"DAIMARU BEGOO!"

Aku meringis melihat Daimaru—anak wali Prof. Nohara yang perwalian kemarin bisa mengenaliku—dibekap oleh Kurotsuchi. Gadis berambut pendek itu tampak panik melihat sekitar koridor gedung departemen seketika dipenuhi bisik-bisik gara-gara sapaan Daimaru yang kerasnya melebihi pengeras suara.

Aku menghampiri mereka.

"Santai aja, Kuro. Aku tak ada niatan menyembunyikan identitasku, kok." Ini bohong, kalian tahu sendiri. "Thanks udah nunggu. Mata kuliah pertama ke mana nih? Ada yang udah lihat denah?"

Oh, ya. Kebetulan, dari lima anak wali Prof. Nohara, kami bertiga satu kelas di semua mata kuliah. Makanya kami janjian ke kelas bersama.

"Aku udah liat." Kurotsuchi akhirnya melepaskan Daimaru. "Matkul pertama di lantai dua gedung ini. Yang kedua ... tadi kutanya kating, katanya di GKB Fakultas."

Oh, syukurlah, tak jauh. Hanya berjarak dua gedung departemen tetangga.

"Kalau begitu, ayo!" ajakku.

Kurotsuchi merangkulku, lalu kami berjalan menuju lantai dua.

Baru beberapa anak tangga, koridor yang baru saja kami tinggalkan seketika heboh.

"KITA SATU JURUSAN SAMA AVATAR!?"

"GAK MIMPI KAN GUE!?"

Aku menghela napas.

"Maklumi saja." Kurotsuchi mendengkus. "Jujur, aku juga kaget saat tahu satu dosen wali dengan sang Avatar. Kuyakin ini bukan pertama kalinya bagimu? Saat anak-anak SAN Konoha tahu juga pasti heboh, 'kan?"

Aku menanggapinya dengan tawa hambar tanpa membenarkan.

Sejujurnya, tidak. Ini berbeda dengan SAN Konoha.

Di SAN Konoha tak seperti ini. Kehebohan yang terjadi bukan karena mereka terkejut ada avatar—sang pengendali terkuat, mulia, jembatan spiritual, blablabla—di sisi mereka.

Mereka terkejut karena AKU adalah avatar.

Setelah kekejutan itu reda, semua kembali seperti sedia kala.

Karena sebelum mereka kenal Putri Naruto, avatar yang menyegel Naga Relik Kegelapan; mereka sudah kenal Naruto sang pembuat onar yang pernah mengibarkan kolor Pak Kakashi di tiang bendera.

Aku harap, tanggapan yang lain tak seperti Daimaru.

"Hari ini juga kau terlihat menakjubkan, Avatar Naruto!"

Aku tersanjung dia kagum sampai nge-fans padaku. Dia bahkan sampai meminta tanda tanganku segala sebelum kami berpisah kemarin.

Tapi, aku tak yakin kuat menghadapi kekaguman seperti ini setiap hari.

Aku memang sudah menerima takdirku sebagai avatar. Tapi, menjadi avatar bukanlah hal yang bisa kubanggakan.

Bagaimanapun, hati kecilku masih tak lelah berbisik:

Jika saja aku bukan avatar, Kutub Selatan tak akan musnah.

.

.

.

... sial. Ini entri pertama PR dari Dokter Shizune, ya?


Next: Aku siapa? Aku di mana?