Lu ngapa mewek, Chic?

" ... kangen Kurama."

LU YANG SEGEL DIA, LU JUGA YANG NANGIS! GIMANA SIH?

"Ehe."

Para reader gak ada yang mau gorok makhluk ini, apa? Makin lama makin meresahkan.

"Ehe."

... aku lelah dengan semua ini.

-o-o-o-

The Prince and Princess of Nonsense

Aku siapa? Aku di mana?

-o-o-o-

Dua minggu sudah berlalu. Ngampus, makan Ramen Ichiraku, latihan rutin, makan Ramen Ichiraku, pertemuan dengan Dokter Shizune, makan Ramen Ichiraku; semua kulalui tanpa kesulitan berarti.

Aku tak heran, tepat pada Hari Perdamaian Dunia, si penulis sinting kembali berulah.

Dari pagi, aku sudah menuliskan satu entri di buku PR dari Dokter Shizune. Entri yang menjelaskan mimpi singkat.

Sebenarnya, mimpinya indah. Tak ada pertarungan hidup-mati. Tak ada darah. Aku adalah aku, di tengah kehangatan dan tawa bahagia Kutub Selatan.

Kalian tahu sendiri, kejadian sebenarnya tidak seperti itu. Dan kenyataan itu membuat suasana hatiku tak karuan.

Aku rindu Ayah, Ibu, Paman, Bibi, Pegawai Istana, dan semua rakyat Kutub Selatan. Aku ingin mereka kembali.

Aku tak sanggup menatap Sasuke. Teringat bahwa sosok yang kulihat waktu itu adalah ibundanya.

Ini tidak adil untuknya, tapi aku butuh ruang.

Aku sengaja bolos. Naik kereta jalur berlawanan dengan kampus. Aku pergi jauh ke arah selatan, melewati hutan liar. Mengunjungi gua tempat Shukaku disegel. Beberapa saat melakukan meditasi, hingga batinku lebih tenang.

Suasana hatiku masih buruk, tapi setidaknya aku sudah tidak ingin mengamuk pada dunia lagi.

Lalu, aku melakukan perjalanan pulang dengan langkah lebih ringan. Atas dasar kesialan, di daerah rawan tindak kriminal, aku hilang kesadaran.

Dan, disinilah aku sekarang. Terbangun di balik jeruji sebuah tempat pengap—mungkin gudang bawah tanah?—bersama perempuan berbagai rentang usia yang membuat sensor kosmikku pekat oleh rasa takut.

"Nomor 33 sudah bangun, Bang!" lapor salah satu pria yang berjaga di dekat jeruji.

Suara berat itu membuatku terkejut. Tiga puluh tiga. Sebanyak itu jumlah korban yang ada di sini!?

"Oh, sudah?" Satu orang pria lain mendekati jeruji. Dari cara dia membawa diri, aku yakin dia adalah pemimpin di sini. "Halo, Cantik."

Aku meringis. Sapaan dan caranya menatapku sangat menjijikan.

"Kau bukan target, tapi kami sengaja membawamu ke sini. Bos pasti senang. Diam di sana dan jadi anak manis, oke? Kau produk spesial."

Sudah kuduga, masih ada orang lain di balik operasi ini.

Sejauh ini, aku tidak khawatir. Semua sosok "penculik" yang ada di hadapanku tak terlihat pandai. Kalau saja mereka tidak menenteng senjata api, mereka sama sekali tidak terlihat berbahaya.

Bukan tidak "terlihat" pandai lagi. Ini sih sudah termasuk bodoh.

Maksudku, apa tidak salah mereka menculikku? Mereka bahkan tidak mengikat tanganku!

"Hey, aku punya penawaran," kataku.

Pria di hadapanku tertawa keji. "Tawaran apa, Manis? Apa kau tidak sadar posisimu seperti apa?"

("Aku menunggu, anak manis. Tutup portalnya sekarang, atau ... mau ayahmu jatuh juga?")

"Aku akan meminta Raja memberi kalian hukuman paling ringan jika kalian mau menyerahkan diri dan semua informasi yang kalian tahu." Aku melirik ke belakang. Memeriksa kondisi orang-orang yang dikurung bersamaku secara sekilas. "Kulihat ... tak ada yang terluka parah. Aku akan mencoba memaafkan kalian."

"Mencoba" adalah kata kuncinya.

Karena, sungguh, melihat ada empat anak-anak di sini, yang kuinginkan adalah memporak-porandakan segalanya.

(Di sudut ingatanku, aku mendengar gema jeritan anak-anak disertai ledakkan kuat.)

Pria itu tertawa lebih keras. "Meminta Raja memberi hukuman ringan? Kau pikir kau siapa?"

"Biar kuperkenalkan diri." Aku berdiri, meregangkan otot-ototku. "Aku alumni SAN Konoha, Naruto. Pernah dengar nama itu?"

Perempuan-perempuan di belakangku banyak yang terkesiap. Beberapa mengucapkan "avatar" dengan intonasi tidak percaya.

Para penculik terlihat waswas. Tapi karena pemimpin mereka tertawa, tak gentar sama sekali, mereka terlihat santai lagi.

Bagus. Biarkan mereka meremehkanku.

"Kau cuma bisa mengendalikan air. Kalau kau tidak sadar, di sini tidak ada air. Fuhu~ ini jackpot besar. Kira-kira berapa hargamu, ya?"

Aku berbalik, menghadap para korban. Kuhaturkan senyum simpul. "Siap-siap keluar. Kalau ada yang tak kuat jalan, tolong dibantu oleh yang lain," kataku pada mereka.

"Pfft! Memangnya kau bisa apa?"

Kebodohan pria ini sungguh membuatku terpukau.

"Sebelum kau berpikir avatar yang tak lagi bisa mengendalikan empat elemen itu lemah, sebaiknya kau ingat bahwa saat aku membongkar identitasku, aku bilang aku adalah anak Kepala Suku Air Selatan."

Apa dia tidak pernah dengar kalau bangsawan Suku Air diberi pelatihan khusus agar bisa menjadi ksatria garda terdepan?

Bagi kami, status bangsawan bukanlah kedudukan sosial. Tetapi, sebuah tanggung jawab melindungi.

("Ayah percaya kau bisa menjadi kebanggaan Suku Air Selatan.")

Bukankah sebuah kebetulan yang manis? Aku bisa merasakan bulan purnama menyapa di atas sana.

"B-bang! Kami tidak bisa bergerak!"

Bang Kot—si pemimpin penjahat bodoh—kaget melihat anak buahnya melucuti senjata mereka sendiri. Tapi, dia tak bisa melakukan apa-apa. Karena, segera setelah dia membalik badan, aku mengendalikan badannya juga.

Badan manusia mengandung sampai 75 persen air, ingat?

Kuraih santai kunci yang menggantung di sabuk Bang Kot. Aku membuka jeruji besi sambil bersiul.

"Terima kasih banyak, Avatar!" Suara tangis mulai terdengar dari para korban.

("Sssh. Tidak apa-apa, Putri Naruto. Gerhana ini tak akan menghalangi kami.")

Sementara mereka sibuk merayakan kebebasan, aku mengendalikan air ludahku dan air di partikel udara untuk menghancurkan senjata para penjahat.

Setelah yakin para korban benar-benar aman, aku lanjut berjalan ke depan Bang Kot. Kuberikan padanya senyum paling lebar.

"Terima kasih karena sudah menculikku. Tanpamu dan anak buahmu, aku tak mungkin tahu ada 32 orang yang butuh bantuanku di sini." Aku menepuk santai pundaknya. "Titip salam untuk algojo Kerajaan Bumi."

("Ingat gua dalam laut dekat dermaga selatan? Sarang rubah laut yang pernah kutunjukkan? Aku tahu arusnya agak kuat malam ini. Tapi aku butuh kau berenang dan bersembunyi di sana."

"Paman Iruka—"

"Sebuah kehormatan bisa melayanimu selama ini, Put—ah, tidak—Avatar."

"Tidak, kumohon ... PAMAN!"

"Vivat meridiano luna!")

Sasuke.

Aku butuh Sasuke.

.

Perlu waktu dua jam hingga akhirnya polisi bisa mengantarku pulang.

Sai yang membukakan pintu. Dia mengucapkan terima kasih pada pengantarku. Sekilas, senyumnya terlihat sangat ramah. Tapi, mereka yang kenal dekat sang kapten lidah perak pasti tahu kalau senyum itu palsu.

Dari sebelahnya, muncul Sasuke. Aku langsung menyambut uluran tangan sang pangeran, tak memprotes sedikit pun saat aku ditarik masuk begitu saja.

Aku tak yakin aku bisa protes meski aku punya cukup energi untuk melakukannya.

"Naruto!"

Aku tercekat. Di ruang tengah, Sakura dan Hinata berdiri. Mereka juga menungguku. Ekspresi keduanya terlihat sangat khawatir.

Tidak.

Aku belum siap menghadap mereka.

"Kamar," lirihku.

Genggaman Sasuke mengerat. Dia mempercepat langkahnya melewati ruang tengah. Mengabaikan dua gadis itu.

Hinata dan Sakura bergeming. Tak bertanya, juga tak mengejar. Mereka kawan yang baik.

Begitu mendapat privasi kamar, aku menyandarkan kepala di bahu Sasuke. Tetes demi tetes air mata mulai turun, tak lagi kuat kutahan.

"Maaf aku tak ada di sana," gumam Sasuke.

"Heh." Aku tertawa kecil. "Penjahatnya bodoh. Mereka bahkan tidak sadar kalau yang diculik adalah avatar. Cetek."

Bukan "penculikan" yang membuatku tak karuan. Tetapi, kilas balik ingatan yang mengiringinya.

Beberapa saat, posisi kami bertahan seperti itu. Aku yang bersandar pada Sasuke dan menangis tanpa suara. Sementara, dia memelukku dan membisikkan frasa penyejuk hati yang tak dapat kutangkap dengan jelas.

Setelah aku lebih tenang, Sasuke mengerang panjang. "Tuan Jiraiya akan membunuhku," ucapnya.

Mau tak mau aku tertawa mendengarnya. Bukankah tempo hari dia dengan lantang berani mengancam Jiraiya?

Ya ... walau cuma di depanku sih.

"Memangnya kenapa? Seingatku, kau tidak diminta jadi anjing penjagaku selama 24 jam?"

"Minggu lalu." Sasuke menghela napas. "Minggu lalu dia memintaku menjadi anjing penjagamu untuk hari ini."

"Ah."

Sasuke melonggarkan pelukannya. Saat aku menegadah, dia menatapku.

"Seharusnya aku ikut bolos dan menemanimu hari ini."

Um.

KENAPA AKU TIBA-TIBA MERASA SALAH TINGKAH?

"Kalau kau ikut bolos juga, kurasa tak mungkin aku dapat kesempatan menyelamatkan korban-korban itu. Lagi pula—" Aku memalingkan pandangan, menatap kancing teratas piama yang Sasuke kenakan. "—salah satu dari kita harus jadi sosok yang bertanggung jawab di ... hubungan ini. Let me be the troublemaker one. Ingat pamormu, Pangeran."

"Siapa peduli soal pamor!?" Sasuke menggeram.

"Hey!" Aku mengekek. "Dari pagi, aku yang minta jarak. Kau ... sekarang kau ada di sini. Itu yang penting."

Satu tangan Sasuke naik, menyingkirkan poni pinggirku ke belakang telinga. Kemudian, ruas-ruas jarinya menyentuh pipiku. Menguarkan sensasi hangat di dalam dada.

"Mau cerita? Atau ada hal lain yang bisa kulakukan untukmu, Putri?"

Aku tidak tahu mengapa panggilan itu terdengar berbeda jika Sasuke yang mengucapkannya.

"Aku tak mau memperjelas kilas balik hari itu dengan ... menceritakannya lagi." Aku meneguk ludah, ragu-ragu menatap matanya. "Cerita yang lain, gimana?"

"Apa pun untukmu," tegas Sasuke.

Aku menggeplak lengannya sambil menahan tawa. "Stop being so cheesy, dammit! I can't take you seriously!"

"Eh." Sasuke menyuruk kilat, mendaratkan kecupan ringan di pipiku. "Why not?"

Aku tertawa lagi. Aku yakin wajahku sangat merah saat ini. Tapi, fokusku tertuju pada ironi yang ada. "Just ... kau sadar waktu itu kau sama sekali tak pernah memperlakukanku seperti anak perempuan lain, bukan?"

"Bukankah aku masih melakukannya?" Sebelah alis Sasuke terangkat. "Aku tak ingat pernah berlaku seperti ini pada perempuan lain."

"Ngalusnya jago banget lu, Sas!" Tawa kali ini murni kulakukan untuk menutupi rasa malu.

Si Pangeran Sialan? Hanya menyeringai puas.

"Jadi, mau cerita apa?"

Aku mengangkat bahu. Gara-gara ulahnya tadi, aku lupa alternatif kisah yang ingin kubagi dengannya.

"Hm." Seringai di wajah Sasuke melembut, berubah jadi senyum simpul. Matanya turun ke leherku.

Saat tangannya menyentuh bandul kalung ukir pemberiannya, aku membeku di tempat. Pikiranku blank. Semua hal yang semula memenuhi kepala—bahkan sayup-sayup ingatan penyerangan—seolah sengaja dihempas demi memberi ruang untuk memerhatikan gurat ekspresi sang pangeran. Memetakan senyumnya.

Sebuah pikiran tiba-tiba terlintas begitu saja.

Aku ingin melihat senyum ini selamanya.

Ha.

Bucinnya Sasuke benar-benar menular. Aku tidak terlalu keberatan, sih. Senyum Sasuke saat ini benar-benar ... menyejukkan. Dia terlihat tenang tanpa beban.

Bahagia.

Suasana hatiku membaik begitu saja. Seolah sejak awal memang baik-baik saja.

"Aku tak pernah memberitahumu alasan pemilihan rune-rune ini, 'kan?" Sasuke menatapku lagi.

Sejenak, dia terdiam. Entah hanya berpikir atau mencoba memastikan kondisiku, aku tidak tahu.

"Tanpa kau beri tahu pun aku bisa menebaknya, Sasuke." Aku benci dengan aksara/bahasa kuno, tapi aku tidak berbohong soal ini. Sebesar apa pun rasa cintaku pada Konoha, aku tak mungkin lupa di mana akarku berasal.

Rune kuno itu penting bagi bangsa kami. Simbolis. Untuk itu, aku tetap mempelajari dan memahaminya.

Kalian ingat bagaimana fokusku di ujian praktek PJPD langsung buyar begitu Sasuke mengomentari soal kalung ini? Ikatan rune yang dipilih Sasuke adalah penyebabnya. Maknanya sangat dalam. Selaras dengan harapan yang tak pernah kuutarakan secara lisan.

"Aku tetap akan memberitahumu sekarang. Pura-pura tidak tahu saja, Nar." Sasuke terkekeh. "Aku memilih ikatan rune tressis. Ikatan paling solid, tertua, dari tradisi—ahem—pinang Suku Air.

"Tressis—terdiri dari tiga simbol. Yang pertama, simbol yang melambangkanmu. Halagaz: badai, bencana, tak terkendali, dll. Kupilih ini karena sejak awal, kau mengguncang hariku. Memporak-porandakan tapakan yang kuyakini selama ini. Unpredictable. Tak ada yang bisa menghalangimu. Bahkan titel avatar.

"Apa pun yang terjadi setelah kau menerima kalung dariku, aku tak mau itu menghalangimu. Mengubah. Membatasi. Aku ingin kau tetap menjadi dirimu sendiri. Fuck tradition. Kalau tiba saatnya nanti aku menduduki tahta utama Negara Api, kau bisa memimpin di sampingku jika itu yang kau inginkan. Aku tak butuh Trophy Wife."

Sejujurnya ... aku tidak terpikir sejauh itu.

Bucinnya, tolong. Sampai rela menendang tradisi negara, serius?

"Sas, memimpin negara itu tidak sama dengan memimpin OSIS."

Si kampret mengangkat bahu enteng. "Asal kau tak memulai perang dengan negara lain, we'll manage it somehow."

Aku terbayang gema tawa Raja Api Madara. Aku yakin avatar bejat itu bangga dengan kegeblekan cucunya ini.

"Simbol kedua, melambangkanku. Othala: tanah air, tempat asal, rumah, dll. Pertama kita bertemu, kau baru saja kehilangan segalanya. Aku ... harap, aku selalu bisa menjadi tempatmu pulang."

Coba kalian bayangkan posisiku sewaktu melawan Sasuke. Bagaimana aku bisa tetap fokus pada strategi, saat mataku menangkap rune dengan makna ini?

"Simbol terakhir ... lambang kita. Gebo: berkah. Cocok, bukan? Aku bersyukur dipertemukan denganmu. Aku bersyukur kau jadi temanku. Aku bersyukur dengan semua yang telah kita lalui bersama. Kau juga merasakan hal yang sama. Aku ingin hubungan kita—suka, duka—tetap menjadi berkah selamanya."

Kedua tangan Sasuke menangkup pipiku. Untuk beberapa saat setelahnya, dia kembali terdiam.

"Sas?" tegurku.

"Aku tahu aku tak bisa menghilangkan traumamu begitu saja." Mata Sasuke berubah sendu. "Tapi, kumohon ... selanjutnya, biarkan aku menemanimu. Biarkan aku membantumu mengisi hari ini di tahun-tahun selanjutnya dengan memori baru. Hingga suatu saat nanti kau bisa memandang hari ini sebagai hari biasa seperti hari-hari lain."

Pandanganku sedikit mengabur oleh air mata. Tetapi, kali ini, bukan air mata nelangsa.

"Trims." Sebagian dari diriku menuntut untuk menambahkan, "Habis nobar sinetron sama Sai, ya? Puitis banget hari ini."

Wajah Sasuke langsung tertekuk. "Kau mengacaukan suasananya!"

"Eh. Kau sendiri yang bilang kau ingin aku tetap jadi diriku!"

"Aku sudah berlaku romantis gitu kau malah—"

"Gak cocok! OOC!"

Sasuke memutar bola mata. Senyum kembali terukir di wajahnya saat aku tertawa.

Tatapannya beberapa saat kemudian mengikis tawaku.

"Sudah puas tertawa, Putri?"

.

Lalu, apa yang Sasuke lakukan setelah itu akan menjadi memori yang terus kuputar di Hari Perdamaian Dunia tahun-tahun selanjutnya.

.

.

.

Untuk penulis sialan, aku punya satu pertanyaan.

KENAPA KAU MENULIS CHAPTER INI SAMBIL MENDENGARKAN LAGU "AMA NO JAKU"?

AKU JADI TERBAWA MELANKOLIS, SIALAN!

DAN BUKANKAH PENUTUPNYA TERDENGAR AMBIGU JIKA DIAKHIRI BEGITU? SASUKE 'KAN CUMA—

"Shut up, atau aku akan membuatmu berpisah dengan Ramen Ichiraku di cerita ini, Naruto."

... ampun, Ndoro.

"Anak pintar!"

Meresahkan. Penulisku sangat meresahkan!

"Aw, makasih."

Aku tidak sedang memujimu, sialan.


Next: Acungan Jari Tengah Pertama