...
"Gak ada komentar?"
Gak.
"Ooookay."
-o-o-o-
The Prince and Princess of Nonsense
Acungan Jari Tengah Pertama
-o-o-o-
Kegiatan harianku selalu diawali dengan lari pagi. Jika malamnya Jiraiya tidak begadang menggarap naskah, dia akan bergabung dan mengajakku sparring ringan. Perantauanku ke Kerajaan Bumi tak menghentikan rutinitas ini. Jiraiya selalu meneleponku di waktu yang sama setiap harinya, tepat setelah aku selesai mengganti baju tidurku dengan setelan olahraga. Dia menemaniku lari pagi.
(Lagi pula, status keanggotaan Tim Chigiri menuntutku untuk menjaga daya tahan tubuh. Coach Mochi memintaku tetap melanjutkan kebiasaan ini sebagai bagian dari latihan pribadi.)
Jadi, di sinilah aku sekarang. Lari pagi menyusuri bukit belakang komplek rumah kontrakan sambil menyimak ocehan Jiraiya dari earbuds nirkabel.
"Kau harus berhenti membuat editormu sakit kepala, Pak Tua." Aku tertawa kecil mendengar dia mendecih. "Aku serius! Kau sudah menulis selama berapa tahun, coba? Kau tidak bisa terus mengandalkanku sebagai proof-reader dibayar ramen!"
"Hm, yakin? Aku masih bisa mengirimkan file naskahku ke e-mailmu, Bocah. Yah, lumayan juga sekalian untuk referensi dengan Pangeran Sasuke."
Wajahku terasa panas.
"Aku tidak butuh itu!" sentakku.
Jiraiya tertawa terbahak-bahak di seberang sana. "Santai, santai! Bercanda. Aku tahu kalian anak-anak yang bertanggung jawab."
"Kalau kau ada di depanku, aku bersumpah akan menendang kau tahu."
Aku sangat puas mendengar ringisan ngilu Jiraiya setelah itu.
"Ahem. Omong-omong soal editor—" Jiraiya mengganti topik. "—saat tahu kau anak waliku, dia titip pesan."
Eh?
"Pesan?"
"Ya. Kalau kau tertarik menulis buku, hubungi dia."
Aku mengeritkan gigi. "Dunia sudah tahu apa yang terjadi. Apa lagi yang harus kujelaskan!?"
Aku kesal. Teringat awal-awal aku terbangun dari koma panjang. Banyak artikel bermunculan, memancingku untuk keluar. Mereka menuntut informasi lebih. Seolah kronologis yang disampaikan oleh juru bicara para pemimpin negara tidaklah cukup.
Aku sudah mengorbankan nyawaku. Nyaris mati, demi mereka. Sulitkah untuk membiarkanku hidup tenang sebagai gadis biasa, sekarang?
"Hei, kau tahu editorku. Dia tidak tertarik dengan profit mengeksploitasi trauma hidupmu." Jiraiya menghela napas. "Kalaupun kau menulis tentang pengalamanmu menjadi murid biang kerusuhan atau fanfiksi percintaan dengan Danzou—"
Itu ide yang sangat menjijikan! Hapuskan dari ingatanku, penulis sialan!
"—pun tak masalah. Dia hanya tertarik menggali potensimu sebagai penulis. Pikirkan saja, ok?"
"Aku tidak punya waktu untuk menulis." Aku bukan si penulis sinting yang nolep dan hobi halu.
Jiraiya mendengkus. "Proyek panjang, Naru. Kau tidak harus menyelesaikannya dalam tiga bulan atau lebih sepertiku."
"Ya, baiklah, terserah!" Aku memutar bola mata. "Kau akan datang di pertandingan pertamaku, bukan?"
"Kalau aku tidak lupa."
"Kalau tidak ... yang benar saja, Pak Tua! Aku sudah membelikanmu tiket pesawat!"
"Bffft. Iya, iya! Tentu saja aku akan datang! Sebegitu inginnya aku menonton pertandinganmu?"
Aku terbatuk gugup. Tentu saja aku ingin dia hadir di sana! Bagaimanapun juga, dia adalah figur—
"Kau lanjut saja lari paginya, ya. Aku mau istirahat dulu. Ohoho."
Panggilan terputus. Aku menghela napas sambil mengantongi earbuds.
Istirahat pantatmu!
Dia pasti melihat objek intip. Tak salah lagi, mencari referensi. Aku kenal dengan tawa mesumnya. Tak hanya sekali aku menyeretnya menjauh dari pemandian/sungai Negara Api setelah melayani pesanan Go-Dragon.
Aku melanjutkan lari pagiku dengan senyum menahan tawa.
Tipikal.
.
Selesai mandi, aku turun dan langsung melangkahkan kakiku ke dapur. Harum masakan yang tercium membuatku lapar, sih.
"Selamat pagi, Naru!" sapa Hinata dengan ceria saat aku melangkah masuk. Dia hanya menoleh sebentar untuk memperlihatkan senyum manisnya, kemudian fokus lagi di depan kompor.
Oh, ya. Hari ini bagian Hinata yang masak.
"Pagi, Hinata." Aku duduk di salah satu kursi meja makan, menyamankan diri. "Yang lain belum bangun?"
Hinata tertawa kecil. "Sai justru baru tidur beberapa saat yang lalu, setelah minta dibuatkan susu hangat. Habis nugas semaleman, katanya?"
RIP Sai.
"Sakura habis begadang juga. Mungkin sebentar lagi turun? Dia selalu ada kelas pagi, 'kan?"
RIP Sakura.
"Kalau Sasuke—" belum selesai Hinata menjawab, pintu kamar mandi lantai bawah—yang diakses lewat dapur—terbuka.
"Eh, Nar?" Yup, itu Sasuke. "Udah balik ternyata?"
Aku mengangkat bahu. "Belum, ini baru rohnya saja," jawabku asal.
Sasuke mendengkus. Dia menggelengkan kepala, lalu melangkahkan kaki ke sebelah Hinata.
"Ada yang bisa kubantu lagi, Hinata?"
"Ah, tolong ambilkan—"
Aku menopang dagu. Kuperhatikan bagaimana Sasuke membantu Hinata menyiapkan sarapan hingga akhirnya semua menu tertata di meja makan.
Kemudian, Sasuke mengambil tempat di sebelahku. Sementara Hinata duduk di depan kami.
Aku sengaja menunggu sampai mereka berdua melakukan suapan pertama. Berucap santai, "Kalian cucok banget pagi-pagi masak berdua."
Seperti rencanaku, keduanya tersedak secara bersamaan.
"Ah, Naru, maaf—aku—" Hinata gelagapan. Wajahnya merah padam.
Kulirik ke sebelah, Sasuke sedang mengusap wajah. Saat dia menatapku, ekspresinya masam. "Kau sengaja, ya?"
Aku memasang wajah tanpa dosa. "Apa? Aku hanya mengomentari hasil observasiku."
Sasuke mencapit hidungku. Sebelah alisnya terangkat. "Cemburu?"
"Aku tidak cemburu. Kau hanya membantu temanmu, sesuai perjanjian kita berlima soal masak-memasak." Aku mengangkat bahu. "Iseng aja."
"Hm." Kening Sasuke mengerut. "Jangan lakukan lagi, bisa? Aku tahu kau cuma bercanda. Tapi aku tak suka kalau kau bilang aku terlihat cocok dengan perempuan lain. Yang kumau itu kau."
Um. What.
Kepalaku nge-blank selama beberapa detik. Kemudian tersadar oleh Hinata yang terbatuk-batuk.
Mencoba menyingkirkan ... kalian tahu apa, aku inisiatif mengisi gelas Hinata.
"Maaf, Hinata," gumamku.
"Tak apa-apa!" Hinata mengipas tangan sambil tertawa ringan. Gadis itu melirik Sasuke, lalu terkikik. "Aku juga suka melihat interaksi kalian, kok. Manis."
Dammit. Haruskah kau menambahkannya, Hinata!?
Sasuke tersedak lagi. Komentar Hinata membuatnya salah tingkah.
Kuabaikan dia. Ini semua salahnya, titik!
"Kalian memberiku gambaran, hubungan seperti apa yang kuinginkan nanti." Hinata menghela penuh impi.
Aku mengangkat bahu. Kulanjutkan sarapan.
Satu suap. Dua suap. Tiga—
Tunggu sebentar. Ada yang salah dengan kata-kata Hinata tadi.
"Nanti? Apa maksudmu?" Sasuke menyuarakan pertanyaan yang ada di benakku.
Hinata tertawa kikuk. Gadis itu mengusap leher, lalu memalingkan pandangan. "Yah, nanti. Kalau ada yang meminangku juga."
Amboi! Hinata terlihat sangat menggemaskan ketika sedang malu-malu kucing begitu. Aku jadi—
Sebentar, apa katanya tadi?
"Kau belum dipinang?" Sasuke terdengar sangat tersinggung sampai-sampai aku terpancing untuk tertawa. Ekspresinya, ya ampun, pffft— "Lalu, kalungmu?"
"Ah, itu milik mendiang ibuku."
Oh, God. This is so gold.
"Shut up, Naruto," desis Sasuke.
Aku tergelak. "Aku belum bilang apa-apa, Sas!"
Ya ampun. Ternyata, selama ini—bfft!
"Shut up! Berhenti tertawa!"
"Gak bisa! Ini terlalu lucu! Pfft! HAHAHA ... !"
Perlu waktu dua menit sampai aku bisa menekan keinginan untuk tertawa. Kuabaikan Sasuke yang lanjut mengunyah dengan wajah tertekuk sebal. Kuarahkan perhatianku pada Hinata yang terlihat jelas kebingungan dengan responsku dan Sasuke.
"Ingat penjelasanku waktu Prom, Hinata? Sasuke sempat patah hati setelah melihatmu memakai kalung. Kami mengira kau sudah terikat."
Mengingat bagaimana sikap Sasuke yang kekanakkan, sampai tak mau berbicara secara langsung dengan Hinata selama beberapa minggu setelahnya ... aku mulai terkekeh-kekeh lagi.
Maksudnya, bukankah lucu? Sasuke patah hati oleh asumsinya sendiri!
"Sas, inget gak? Yang waktu di kedai ramen abis liburan dari Kutut, kau tiba-tiba teringat Hinata, terus—"
Sasuke mengerang. "Shut up!"
Oh, hoho. Lihat, wajahnya merona merah. Blushing parah.
Aku berniat lanjut menggoda Sasuke. Namun, kekehan Hinata mengalihkan perhatianku.
"Kalian lanjut deh. Aku sudah selesai makan. Aku mau siap-siap kuliah dulu, sekalian bangunin Sakura."
Aku melambaikan tangan pada Hinata sampai mataku tak bisa melihat sosoknya lagi.
Setelah itu, kukembalikan fokusku pada Sasuke. Aku bersiul. "So, Sasuke—"
"Ini tak mengubah apa pun," potong Sasuke. Dia memalingkan muka. "Sebelum aku 'patah hati' seperti katamu, aku sudah mulai menyadari siapa yang kusayangi. Dan itu bukan Hinata. For fuck's sake, aku bahkan tidak terlalu kenal dia. I know you, Naruto. It's always been you."
Halo, Pangeran Bucin. Sampaikan salam pada bogem mentah.
"Oi! Berhenti menonjokku setiap salah tingkah! Aku tak dapat menangkis semuanya, Naru!"
"Siapa peduli!? Salahmu sendiri!"
"Hey, aku hanya mencoba jujur! Bukan salahku kalau aku menyayangimu!"
"Shut up!"
Yak. Pagi yang indah.
.
.
.
Pertandingan Preliminer Bending-Battle Kota Tonbo diikuti oleh 16 klub. Masing-masing mengirimkan 3 regu tim putra, putri, dan campuran; juga satu orang untuk pertandingan solo.
Om Mochi menjebloskanku ke subka pertandingan solo.
Tawa sintingnya saat mengantarku ke ruang tunggu mulai bisa kumengerti maksudnya. Isi ruangan peserta BB solo ini heavy-hitter semua. Bisa terlihat dari badan mereka yang kekar. Apalah otot di tubuhku jika dibandingkan dengan mereka.
Kalau ini pertandingan gulat, sudah dipastikan aku kalah telak.
"Logo itu ... kau dari Tim Chigiri, Bocah? Aku tak pernah melihatmu sebelumnya. Anggota baru? Apa Zabuza sudah gila? Seharusnya kau bertukar dengan Iwashi!" Salah seorang peserta mengomentari kedatanganku.
Iwashi yang dia maksud adalah pengendali udara, salah satu anggota reguler senior yang kuhadapi pertama kali menjejakkan kaki di Gelarena. Dia peserta subka tim campuran.
Jujur, aku tersinggung.
"Katakan itu saat kau mengalahkanku di arena, Pak Tua!"
Pria itu tertawa lepas. "Aku suka nyalimu, Bocah! Sayang sekali, bulan tak dapat memberimu keberuntungan. Aku pengendali api."
Aku menyeringai. "Bagus. Kalau aku menang, terlihat jelas siapa yang pecundang."
Sementara pria itu tertawa, salah satu peserta yang memakai armor dengan kode warna pengendali air menghampiriku. Senyum di wajahnya tampak berbahaya, menantang.
"Siapa namamu?"
"Panggil aku Namikaze."
"Ho ... kau lawan pertamaku. Selamat bergabung, Namikaze. Semoga beruntung."
Andai saja dia tahu, bukan aku yang butuh keberuntungan.
.
"Pertandingan ke-3! Peringkat 2 Tonbo yang—"
Aku menyudahi pemanasan yang kulakukan. Kupejamkan mataku sejenak, melakukan meditasi berdiri dalam waktu singkat.
" ... melawan starter baru Tim Neraka: Namikaze!"
Kubuka mataku. Tanpa mengindahkan peserta lain yang masih menghuni ruang tunggu, aku melangkahkan kaki. Tegap menuju arena, diiringi sorak-sorai penonton.
"Mari kita lihat bagaimana jalannya pertandingan kali ini! Akankah No. 2 memperlihatkan kehebatannya pada newbie kita, ataukah Namikaze akan memanfaatkan status newbie-nya untuk menggoncang arena? FIGHTER SIAP?"
Aku memasang kuda-kuda.
Pria di hadapanku mengangkat sebelah alisnya. "Sebegitu gugupkah kau sampai salah menggunakan kuda-kuda pengendalian bumi?"
"Salah ... atau sengaja?" Aku menyeringai.
"MULAI!"
Begitu mendengar bunyi lonceng dimulainya pertandingan, aku mengibas kedua tanganku dengan arah berbeda. Mengempas air sebesar bola basket yang langsung kubekukan begitu menghantam kaki lawanku, membuatnya kehilangan pijakan.
Tanpa jeda, aku mencairkan kembali bongkah es itu, menjadikannya sulur air yang mengikat badan lawan dan melemparnya keluar arena.
Hening selama beberapa detik.
Kulakukan salam hormat.
Lalu, semua bersorak.
"AND, THAT'S IT, FOLKS! PEMENANGNYA ADALAH NAMIKAZE! UWOOOO! Jika itu caramu menyapa Dunia Bending Battle, Namikaze, kuberi kau nilai sempurna! AHAHAHA TAK BISA DIPERCAYA! Sepertinya tahun ini kita kedatangan fighter menarik, folks! Kami nantikan pertandinganmu selanjutnya, Namikaze!"
Di ruang tunggu, aku disambut oleh tatapan tak percaya dan beberapa mulut menganga.
Aku mungkin akan tertawa lebih lama kalau saja lawanku tadi tidak menghampiri dan memukul punggungku (main-main, tentu saja).
"Di mana Zabuza memungutmu, Namikaze?" tanyanya sambil tergelak.
"Di pinggir jalan," jawabku asal.
Secara teknis, itu memang kenyataannya.
"Aku menantikan pertandingan kita, Namikaze," ujar pria yang sebelumnya mengatakan lebih baik aku bertukar dengan Iwashi.
Wow. Satu pertandingan, aku sudah naik pangkat dari "Bocah" jadi "Namikaze".
"Omong-omong, namamu tak asing. Tapi rasanya itu bukan nama marga yang pasaran ... ?" celetuk seseorang.
"Kau bisa buka buku sejarah perang terakhir, kalau mau tahu."
"Hah? Apa maksudmu?"
Aku menulikan telinga, kembali bermeditasi. Tanpa kujelaskan pun, nanti mereka pasti akan tahu identitasku.
Malamnya, aku pulang mengantongi peringkat fighter solo No. 1 Tonbo.
Selama seminggu penuh setelahnya, media cetak dan daring penuh dengan headline berlampiran fotoku yang sedang mengacungkan jari tengah pada pihak pers yang menganggapku curang karena aku adalah avatar.
Artikel-artikel yang beredar menciptakan tiga kubu. Satu, kubu yang setuju kalau aku curang. Dua, kubu yang menyangkal kalau aku curang. Pihak ketiga, kubu yang terhibur dengan perseteruan dua kubu lain.
Aku masuk kubu ketiga, btw.
Aku sangat bangga dengan pencapaianku, tentu saja.
Apalagi, Coach Mochi mengumumkanku sebagai perwakilan Kota Tonbo ke tingkat provinsi di latihan minggu itu.
.
.
.
Setelah kehebohan soal avatar yang muncul sebagai starter baru Tim Neraka, hal menarik lain terjadi di minggu selanjutnya.
Tak ada yang aneh dari pagi. Aku lari pagi ditemani kicauan Jiraiya di telinga. Aku sarapan seperti biasa. Berangkat kuliah seperti biasa. Mengikuti kelas seperti biasa.
Sesaat sebelum pulang, hal menarik itu terjadi.
Aku mengernyit melihat ponselku dibanjiri notifikasi pesan singkat dan panggilan tak terjawab. Pasalnya, semua berasal dari Gaara. Ada hajat apa sang Pangeran Kerajaan Bumi menghubungiku?
"Naruto, aku duluan!" Kurotsuchi pamit.
"Iya!" balasku sambil mengantongi pakaian olahraga yang banjir keringat sehabis dipakai praktek tadi.
Di kelas kami, perempuan hanya ada dua orang. Jadi, tiap waktu praktek seperti ini ruang ganti serasa milik pribadi. Kosong melompong.
Kulirik angka penunjuk waktu di sudut layar, masih ada sekitar setengah jam lagi hingga Sasuke selesai kelas terakhir. Kuputuskan untuk membuka pesan dari Gaara, barangkali penting.
Walau aku sangsi, sih.
.
[Gaarawr]
Oct 7. 10. 23 am
Gaarawr: Nar
Gaarawr: lu balik jam berapa?
.
Tentu saja tak dijawab karena jam segitu aku sedang di tengah kelas.
.
11. 15 am
Gaarawr: Kata Sasuke lu kelas penuh hari ini? Shit.
Gaarawr: Kalo bisa, balik ntar pake penyamaran.
Gaarawr: Pokoknya jangan sampe ada yang bisa ngenalin lu.
Gaarawr: Jangan. Plis.
Gaarawr: Akan ada bencana.
.
Karena aku teman yang baik dan patut menjadi panutan, kuserap baik-baik apa yang Gaara sampaikan.
Lalu, kulakukan kebalikannya.
Aku meninggalkan gedung olahraga dengan aksesoris identitas lengkap dan rambut dikuncir half-do khas perempuan Suku Air.
Di depan parkiran gedung departemen PJPD, aku dicegat seorang laki-laki dengan kostum khas suku pedalaman Kerajaan Bumi. Tak lupa wajah menor dengan riasan suku yang sama.
"Naruto, 'kan? Temannya Gaara?" ujar laki-laki itu, memastikan. Setelah kuberi anggukan, dia melanjutkan, "Perkenalkan, Kankurou dari jurusan Seni Kriya."
Pantas saja Gaara berkali-kali mencoba menghubungi nomorku seperti orang panik.
Ini bencana yang dia maksud.
"Fotografer Gaara di acara PORSENZAR tahun pertama kami?" lisan berkata. Sedangkan batinku bertanya: Yang mendandaninya amat cantik seperti seorang putri saat ybs tidur dan membuatnya jadi juara pertama lomba kecantikan tanpa persetujuan ybs?
"Masterpiece-ku di tahun terakhir SAN Konoha." Kankurou melakukan hormat khas pemain pertunjukkan. "Dan kau, makcomblang yang membantu Gaara mendapatkan cintanya?"
Alias: yang menyarankan Gaara menembak dengan cara memberi bunga kaktus di depan satu sekolah hingga membuatnya menjadi bahan tertawaan berbulan-bulan?
"The one and only." Aku meniru gerakan hormat Kankurou.
"Senang akhirnya bisa bertemu denganmu, Naruto." Lelaki itu tersenyum lebar dan menjulurkan tangannya.
Kusambut uluran itu dengan senyum tak kalah lebar. "Sama-sama, Kak."
Jabatan tangan selesai, Kankurou celingak-celinguk. Seolah sedang memastikan tak ada yang akan menjadi saksi terjadinya transaksi gelap.
Yakin keadaan aman, lelaki itu sedikit mencondongkan diri agar bisa berbisik padaku.
"Aku ada satu permintaan, Naruto."
Ho ... ?
"Aku siap mendengar."
.
.
.
Iya, ceritanya kusudahi sampai sini. Kalian tak perlu tahu permintaan Kak Kankurou sekarang.
Hm? Pertemuan kami kurang menarik?
Yakin?
Apakah kalian tidak curiga, kenapa Kankurou baru menemuiku sekarang?
Bagaimanapun, aku tak cuma sekali mengunjungi Istana Kerajaan Bumi.
Next: Sabuko dan Monster Berekor
