"Selamat hari pahlawan, Putri Naruto."

... KAU KEMASUKAN APA ANJIR, CHIC!?

"Yah, kali-kali pengen nunjukin kalau gua ngehormatin lu."

KAU BISA LAKUKAN ITU DENGAN CARA STOP MEMAINKAN HIDUPKU, SIALAN!

"Ohoho ... dalam mimpimu, Ferguso!"

Pakyu!

-o-o-o-

The Prince and Princess of Nonsense

Sabuko dan Monster Berekor

-o-o-o-

"Nar—" Sai menatapku dari ujung kepala hingga ujung sepatu. "—kau yakin akan pergi dengan penampilan seperti itu?"

Aku mengernyit. "Memangnya apa yang salah dengan penampilanku?"

Sakura menyela jawaban Sai, "Kau terlihat seperti mau sparring dengan Sasuke! Bukan kencan!"

Aku menunduk, memastikan kalau aku tak salah memakai baju. Hm, sudah betul kok. Aku pakai celana kargo merah tua, hoodie coklat polos dengan dalaman kaos hitam, juga sepatu kets kasual. Terlihat seperti mau sparring dari mananya?

Terakhir kuingat, aku dan Sasuke tak pernah punya dresscode khusus untuk sparring, tuh?

"Kau bilang kau punya baju untuk kencan!?" protes Sakura. "Bohong!"

Wow, rude.

Pertama, secara teknis, aku tidak berbohong. Aku memang punya baju kencan, tapi bukan baju kencan seperti yang gadis itu bayangkan.

Kedua, bagaimana mungkin aku tidak cepat-cepat menjawab begitu saat Sakura bertanya sambil memasang wajah menyeramkan seperti di hari wisuda!?

Hei, aku bukan boneka manekin yang bebas ia dandani sepuasnya!

Sebelum aku sempat mengeluarkan unek-unek, sebuah tangan merangkul bahuku. Pelakunya menatap Sakura dengan sebelah alis terangkat. "Apa yang salah dengan baju Naruto?"

Ketiga, orang ini—iya, Sasuke—yang memintaku jangan terlihat cantik.

(Sebenarnya aku terpikir muncul di hadapan Sasuke sehabis guling-gulingan di lumpur, biar afdol. Tapi suara tawa Kurama menghantui bawah sadarku. Aku tidak mau diejek mirip monyet kelelawar lagi, walau hanya dalam imajinasi, TITIK!)

"Well, Sasuke, kalian sudah biasa main berdua." Sakura melipat tangannya. "Kau juga malah pakai kaos dan jaket biasa begitu! Tak mau cari suasana baru, apa?"

Aku menganga, tak percaya. Suasana baru, Sakura bilang?

Apa gunanya peralihan kostum? Bucinnya Sasuke sudah jelas membuat segalanya terasa berbeda, sialan! Aku tak butuh dia berpenampilan ganteng! Pikirkan kesehatan jantungku, sialan!

"Kami pakai apa bukan urusanmu, 'kan?" Sasuke mendengkus.

Sakura tersentak. Rasa bersalah terlihat jelas di raut mukanya. Gadis itu menciut, tergagap, "B-bukan gitu maksudku, Sasuke."

Tak tahan dengan tatapan tak ramah sang sepupu pada teman merah muda kami, Sai berdiri. Dia menoyor jidat Sasuke dan memberikan senyum "malaikat" tipikal.

"Sensi amat kau belakangan ini, Pangeran. Santai dikit, Bego." Sai menatap Sasuke tak gentar. "Maksudnya si Jambu, apa kalian tidak mau mencoba seperti remaja lain? Kau jelas tertarik pada penampilan cantik Naruto. Dan sebaliknya, aku tahu kau suka penampilan Sasuke saat Prom, Nar."

Um.

Sekakmat, njir.

Terkutuklah kau, Avatar Madara, karena telah menurunkan gen ganteng-tapi-songong di keluarga kerajaan!

"Jangan menyangkal—" Sungguh, semakin lama senyum di wajah Sai semakin terlihat menyebalkan. "—aku bisa melihatnya. Jelas. Dari kalian berdua. Kalian pikir, kenapa aku sampai berkoar seperti itu?"

Sasuke mencengkram bahu Sai, mendorongnya ke samping. "Aku tak pernah bilang aku tak suka."

Itu sebuah kewajaran, bukan? Hal yang logis. Sasuke menyukaiku.

(Jadi, kenapa jantungku malah tidak karuan begini!?)

"Hm?" pancing Sai.

"Sekali lagi, aku tak pernah bilang aku tidak menyukainya." Sasuke merengut. Pipinya tersapu rona tipis. "Tapi, bukan berarti Naruto harus selalu seperti itu! Tak ada yang salah dengan Naruto seperti biasanya! Dia tetap cantik!"

Sai tertawa lepas. Dia menepuk pundak Sasuke, kemudian berlalu ke arah kamarnya.

Tersisa Sakura yang tengah menganga dengan wajah memerah.

"Aku—wow." Sakura menggeleng singkat. Matanya tertahan lama padaku. "Aku tarik kata-kataku tadi. Kalian tidak butuh 'suasana' baru. Begini saja ... tidak apa-apa."

"Baguslah kalau kau mengerti, Sakura," kataku. Dari ujung bibirnya yang berkedut, aku yakin dia menangkap sarkasme dari kata-kataku.

"Good job, Sasuke. Sekarang aku paham bagaimana Naruto bisa luluh dan berakhir jatuh hati." Sakura mendesah penuh impi, seperti Hinata tempo hari.

Hei, jangan membuatnya terdengar seolah aku adalah Putri Kegelapan yang hati bekunya dihangatkan oleh Pangeran Hangat Berkuda Putih!

"Apa sih, Ra! Gak jelas banget lu! Sana lanjut nugas!" usirku.

Sakura berjalan menjauh sambil mengikik seperti penyihir jahat.

Melirik Sasuke, aku dihadapkan dengan senyum ganteng minta dihajar.

"Bilang 'gak jelas' ke Sakura, tapi kau salah tingkah tuh?"

"Sasuke, shut up."

Kenapa?

Kenapa aku dikelilingi makhluk-makhluk sialan seperti mereka?

.

Seperti hang-out rutin lainnya, kami sengaja meninggalkan segala atribut yang mengidentifikasi status sosial agar bisa berbaur bebas. Walaupun wajahku memang sempat viral, bukan berarti anonimitas adalah suatu kemustahilan.

Ini salah satu manfaat materi operasi senyap-rahasia PJPD di SAN Konoha bagi kaum bangsawan. Terkadang, kami butuh beraktivitas tanpa ada yang mengenali. Dengan, atau tanpa agenda khusus.

Aku bersyukur atas hal ini.

Jadi, tak ada yang memperhatikan bagaimana badanku bergetar begitu kami melewati loket masuk Festival Sabuko.

"Naru, kenapa kau di belakangku?"

("Naru, tetap di belakang Ayah!")

Fuck. Napasku mulai terasa berat.

Aku mencengkram ujung hoodie yang kupakai. Kupusatkan semua indra pada lingkungan sekitar.

Musik tradisional koloni yang bertabrakan dengan obrolan heboh dan jeritan semangat, tapi tetap enak didengar. Aroma berbagai penganan jalan dari berjajar-jajar stan yang dipenuhi lautan manusia. Warna coklat, hitam, dan merah yang memenuhi sebagian besar desain festival sebagai identitas koloni. Terakhir, suhu udara malam yang dingin tapi tak sampai membekukan badan.

Budaya koloni dan kutub itu sangat jauh berbeda. Suasananya juga berbeda. Segalanya berbeda di sini.

Lalu, mengapa badanku merasa terperangkap di malam perayaan itu?

"Oh, fuck! Maaf, Naru, aku tak berpikir—" Pandanganku tertutup warna merah tua dan coklat—kaos dan jaket yang dipakai Sasuke. Hidungku juga diserang aroma yang lebih familiar—parfum Sasuke. Gabungan keduanya membuatku terlepas sejenak dari bayangan gelap. "—mau pulang saja?"

Aku meneguk ludah. Pulang terdengar—

Tidak.

Sasuke sudah menantikan festival ini. Matanya terlihat bercahaya saat kami akhirnya sampai di tanah koloni.

Meski aku tak mau mengakuinya keras-keras, aku juga menantikan hari ini.

"Kita masuk saja, Sasuke," putusku dengan suara bergetar.

Sasuke melonggarkan dekapannya, menatapku dengan kening mengerut. "Kau yakin?"

Aku mengangguk ragu. "Aku harus—tidak, kupikir—perlu melakukan ini."

Sasuke tersenyum lembut. Tangannya menggenggam tanganku. Grounding. "Kalau kau berubah pikiran, segera beri tahu aku," pesannya.

(Mata ungu itu masih terbuka tanpa cahaya. Ekspresi panik seolah terkunci, berhias tetesan merah.

Merah.

Merah.

Darah.

"IBU! AAAAAH!"

"Kesempatan kedua, Putri."

"A-yah! LEPASKAN AYAH! TOLONG! NARU TIDAK TAHU MAKSUD BIBI!"

"Jawaban keliru."

"T-tidak, Naru mohon ... AYAH!"

Senyum terkulum di antara genangan merah.

"Ayah percaya kau bisa menjadi kebanggaan Suku Air Selatan."

"Chief!"

"Bawa Naruto pergi, Iruka!")

Aku menarik napas dalam-dalam, menempelkan pipi di lengan Sasuke.

Fokus, Naruto. Fokus pada saat ini. Fokus pada Sasuke. Fokus pada Sasu—

"Tak apa, Naru. Aku ada di sini."

Mungkin, sebaiknya jangan terlalu fokus.

Ingatanku agak ... samar setelah itu.

Kilas balik malam penyerangan tak berhenti berputar. Sebagian besar terdengar seperti musik latar yang tidak begitu penting, sementara sisanya membuatku merapatkan diri dengan Sasuke. Tetapi, ada hal lain yang membuat ingatanku kacau.

Segala gestur Sasuke selama membawaku menjelajahi seluruh bagian festival meraup konsentrasiku. Dan entah bagaimana, membuat proses berpikirku tersendat. Bahkan, saat kami duduk di depan panggung lebar dan menonton pertunjukan teater, aku sama sekali tak bisa menangkap cerita yang ditampilkan.

Kecuali potongan kecil dari komentar Sasuke.

"Huh? Bukankah seharusnya tak ada yang menyelamatkan budak itu?"

"Hm ... mereka mengubah sedikit dari dongeng aslinya, ya?"

"Ho, kreatif juga."

"Aku lupa soal perang ini. Mungkin nanti harus lihat catatan lagi—"

"Oh, ya. Aku pernah baca di arsip kerajaan—"

"Jadi teringat kata Kakanda—"

Hal yang Sasuke lakukan hanya memeluk pinggangku dan bersandar di bahu. Tapi—

Aku tidak bisa berkonsentrasi—

Sedikit pun.

Tahu-tahu, penonton bertepuk tangan dan mulai meninggalkan area lesehan untuk menonton. Pertunjukan selesai.

Sasuke bergumam. Napas hangatnya yang terasa dekat membuatku—

Ugh.

"Tak buruk. Bagaimana menurutmu, Naru?" tanya Sasuke.

"Ya," jawabku sekenanya, sesuai pemahamanku. Yang mana tidak paham sama sekali tadi jalan ceritanya seperti apa.

Sasuke berdiri duluan. Tangannya langsung terulur untuk membantuku berdiri. "Masih ada sedikit waktu sebelum pertunjukan kembang api. Mau melakukan sesuatu?" tawarnya.

"Melakukan apa?"

"Entahlah. Ada ide?"

"Mau coba maling? Di sini banyak target, 'kan?" usulku sambil nyengir.

Sasuke tertawa. Dia menggenggam tanganku, lalu membawaku berjalan lagi. Jauh dari kerumunan.

"Kita lihat kembang apinya dari sini saja," ucap Sasuke begitu kami sampai di gerbang anak tangga terakhir menuju kuil. Lokasinya berada di kaki bukit, sehingga kami bisa melihat lokasi festival dengan cukup baik dari sini.

"Dari mana kau tahu tempat ini? Kak Itachi?" tanyaku.

Sasuke memalingkan wajah. "Aku cari di gugel."

He? "Niat banget."

Sasuke mengangkat bahu. Mata hitamnya kembali terarah padaku. Berpendar lembut, selaras dengan sentuhan tangannya di pipiku. "Festival Sabuko itu sangat ramai. Jaga-jaga, kalau kau mulai tak nyaman. Kau mungkin pintar menyembunyikannya, tapi kau selalu lebih siaga di tengah kerumunan. Dari kecil. I want you to enjoy our time, so, yeah."

Aku tertawa kecil. Kusandarkan kepalaku di bahu Sasuke. Dia menyambutnya, langsung mendekapku. Berbagi kehangatan.

Ini bukan hal yang asing.

Terkadang, setelah lelah sparring di tempat latihan biasa kami, Sasuke merangkulku. Kami bersandar di salah satu batang pohon, sambil menatap langit atau riak tenang danau.

Yah, sebenarnya selain status hubungan, tak banyak hal yang berubah dari interaksi kami. Aku jadi penasaran.

"Soal kata-kata Sai dan Sakura tadi ... benar tidak apa-apa?"

Sasuke menatapku, sebelah alisnya terangkat. "Sejak kapan kau peduli tanggapan orang?"

"Aku tak peduli tanggapan mereka." Aku mengekeh. "Tapi aku peduli tanggapanmu, Sasuke."

Aku cukup puas, saat melihat pipinya sedikit merona. "Yah, tak apa."

"Yakin?"

Sasuke mengalihkan pandangannya ke depan. Raut wajahnya melembut. "Kalau kau mau memangkas rambutmu seperti dulu juga aku tidak keberatan. Membuatku dikira maho atau menjadi wanita tercantik di dunia, tak masalah selama itu memang yang kau inginkan. Ingat, halagaz. Jadilah dirimu sendiri, Putri."

Inikah yang kau maksud saat itu, Ayah?

"Jangan menyesalinya."

"Tak akan." Sasuke tertawa singkat. "Kau sendiri?"

Ditanya begitu, aku menyeringai.

"Bucinmu kadang menyebalkan—" Aku pura-pura terkejut, seperti baru menyadari sesuatu. "—eh, tidak bucin pun menyebalkan sih. Aku baru sadar, duh, kau memang pangeran yang menyebalkan. Tapi, biar begitu, kau tetap othala bagiku."

"Ah—oke."

Wow. Aku harus sering-sering membuat Sasuke salah tingkah.

Dia terlihat menggemaskan, sial.

Rasanya nyaman, duduk menatap sebaran lampu-lampu festival dan hiruk-pikuk manusia dari sini. Merasakan diafragma Sasuke naik-turun mengikuti napasnya yang tenang. Merasakan tangannya sesekali memainkan helai rambutku.

Lalu, rasa nyaman itu terhempas tegang.

Bunyi ledakan mulai terdengar, bersahut-sahutan, disertai jeritan.

("Salam, Avatar. Kami datang menjemputmu."

"Penjaga! Lindungi Putri Naruto apa pun yang terjadi!"

"Kalian pikir kalian mau pergi ke mana?")

" ... ru, hei! Ssh, tak apa. Tak ada gerhana. Kau bisa mengendalikan air," bisikan Sasuke membuatku mengerjapkan mata.

Ah, ya. Aku bisa merasakannya.

Bulan masih ada—tak penuh.

Aku menarik napas dalam-dalam, mengeratkan cengkraman tanganku pada jaket Sasuke.

Hangat. Ini—tidak dingin.

Aku berada di Sabuko—bukan Kutub Selatan.

Bersama Sasuke.

Ya, Sasuke.

Fokus pada Sasuke.

"Kembang apinya di langit, Naruto." Aku merasakan tangan Sasuke menyentuh daguku, menegadahkan kepalaku pelan-pelan. "Jangan lihat ke bawah. Lihatlah ke atas."

Aku mendengar suara ledakan lagi. Tapi, bukan asap hitam yang kulihat.

Sinar adiwarna yang mempesona.

Seketika, aku terpaku. Mataku membola, berusaha menangkap penampakan singkat bentuk-bentuk cahaya warna-warni dari kembang api. Napasku tercekat—terpesona.

"Indah," gumamku.

Sasuke tertawa kecil. Dia menanggapi, "Ya. Sangat indah."

"Warna apa yang sangat indah, menurutmu?" tanyaku, murni penasaran, tanpa mengalihkan pandangan.

Apakah kembang api yang berwarna biru? Dari dulu Sasuke cenderung menyukai warna biru.

"Warna pirang."

"Oh, bukan bi—" Tunggu sebentar. Otakku nge-hang. Memang ada kembang api yang berwarna pirang?

Saat aku menolehkan kepala, yang kulihat ... Sasuke sama sekali tidak menatap langit. Mata hitamnya terkunci padaku ditemani senyum asdfghjkl.

Oh. Pirang.

"Itu klise banget, Sas."

Senyum Sasuke melebar jadi seringai. "Begitukah? Tapi, kok, kelihatannya kau suka?"

Aku mengusap wajah, mengerang panjang. "Shut up, Jerk!"

Sasuke cengengesan. Lalu, tangannya kembali menyentuh daguku agar kami bertemu pandang. Bertahan seperti itu selama beberapa saat.

Aku yang tak kuat dipandangi terus dengan tatapan seperti itu, akhirnya melepas pertanyaan, "Ada apa?"

"Kau benar-benar luar biasa, kau tahu?" mula Sasuke. "Sangat kuat. Berani."

Dia tak perlu menjelaskan lebih luas agar aku mengerti maksudnya. Ini tentang aku yang memilih menghadapi traumaku hari ini. Tetap melangkah, meski kilas balik pahit menyergap dan berniat membelenggu kepalaku.

Enggan kuakui, tapi—

"Itu karena kau ada di sini."

Sasuke tergelak singkat. "Dan, aku akan selalu berada di sisimu. Aku sudah menjanjikan hal itu, bukan?"

Aku tak tahu apa yang mendorongku.

Senyum dan tatapan lembut Sasuke yang diselipi determinasi? Luapan rasa syukur di dalam sanubari? Kehebohan festival yang dipenuhi kebahagiaan dan harapan? Ataukah gabungan keseluruhannya?

Entahlah.

Yang aku tahu, tanganku bergerak mengikuti impuls, meraih kerah Sasuke.

"Terima kasih, Pangeran."

.

.

.


Next: Pedang Lunar