Tumben kemaren jumlah word-nya 2k doang?

"Terlalu banyak feelings Nar. Berat aing ngetiknya. Ngikut baper."

Awokwokwok rasain!

"So, gimana rasanya—"

AKU GAK DENGER, LALALALALA!

"Dih. Aku cuma mau nanya gimana rasanya jadi atlet perwakilan kota. Mikir apa lu salting gitu?"

B-bukan apa-apa!

-o-o-o-

The Prince and Princess of Nonsense

Pedang Lunar

-o-o-o-

Jika ada yang bertanya, akan kujawab seniorku ini cuma sedikit sial.

Sial apa, kau tanya? Sial karena kebetulan mengusikku saat aku terjebak di mode bacok-bacok.

Memang, dari kecil Jiraiya melatih dan memastikan agar kemampuan pengendalianku terlepas dari ikatan emosi. Dengan begitu, amarahku tak akan berujung menyakiti. Tetapi, ia tak pernah melarangku melepas tinju pada manusia kurang ajar.

Lagi pula, aku sudah tak menggenggam kekuatan avatar. Tak ada petuah bijak dan ikatan tanggung jawab yang bisa menghentikanku, bukan? Di sini aku hanyalah seorang maba—remaja dewasa—yang dalam menghadapi kebrengsekan kakak tingkat masih butuh validasi lewat baku hantam.

Setelah melalui segala yang terjadi di Avataramen is Now Online, aku optimis kebebalan si penulis sinting sudah mutlak dan tak perlu dipertanyakan lagi. Tapi, maksudku ... ayolah! Beberapa hari ini suasana hatiku sedang tidak stabil! Kenapa aku dipertemukan dengan manusia semacam ini?

("Ingat apa kata Sasuke? Kau selalu berbuat ulah di sekolah. Biar konsisten, kutambah saja."

Eh kampru—)

"Aku hanya bercanda!" sanggah korban bogem mentahku. Tangannya sibuk menutupi pipi yang sudah pasti akan membengkak dalam waktu dekat.

Aku mungkin akan melayangkan bogem nomor dua kalau saja temannya tak segera berdiri di hadapannya sebagai penghalang.

"Apa tadi katamu? Bayangkan enaknya jadi avatar, mendapat uang sebanyak itu? Kau ingin jadi aku gara-gara hal itu?" Aku mengeritkan gigi. "Candaanmu sama sekali tidak lucu, Bung."

"Tunggu!" sang tameng menyilangkan tangan. "Kami hanya—"

"Kau ingin semua uang itu?" potongku langsung, tak peduli mereka mau menjelaskan apa. "Ambil! Ambil semuanya! Sekalian dengan trauma dan tanggung jawab yang harus kupikul selama ini! Aku hanya ingin jadi anak normal!"

Bedebah macam apa yang ingin jadi aku!? Mereka tidak ikut mengantri sewaktu pembagian otak atau bagaimana!?

(Apakah kalian tak tahu bagaimana frustrasinya aku menghadapi penulis sialan ini!?)

"Siapa tahu kalian lupa, aku MENYAKSIKAN negaraku hancur! Aku melihat rakyatku dibantai di segala penjuru! Aku melihat bagaimana sinar kehidupan lenyap dari mata kedua orang tuaku! Aku bahkan menjejak genangan darah ayahku sendiri! Saat aku masih balita!

"Tak hanya itu ... aku harus menyerahkan jiwa dan ragaku, menyambut kematianku sendiri, demi keselamatan dunia sialan ini! Kalian ingin jadi aku? SILAKAN! KARENA AKU MEMBENCINYA!"

"Maaf, Avatar Nar—"

"Putri, Bung." Aku menggeram rendah. "Putri Naruto."

"M-maafkan kami, Putri Naruto!"

"Sekarang enyahlah, sialan!"

Dua orang itu lari terbirit-birit. Satu lirikan tajam, orang-orang di sekitar—yang berhenti untuk menonton keributan kami—turut bubar jalan. Menyisakan aku dan satu orang di ujung koridor.

"Naruto." Itu Prof. Nohara.

Sial.

Sial.

Sialsialsialsial—

"Apa?" Segera setelah tanggapan dingin itu keluar dari mulutku, aku meringis.

"Kau butuh izin sisa kelas hari ini?" Kulihat, hanya pengertian yang disampaikan oleh mata Prof. Nohara.

Tapi, dadaku masih panas. Kepalan tanganku mengerat, mulai bergetar. Apa yang terlintas di kepalaku adalah:

Simpati ini bentuk rasa kasihan.

Dan aku tidak sudi dikasihani.

"Tidak, terima kasih Prof. Aku baik-baik saja." Aku memasang senyum sopan dan membungkukkan badan sejenak—bermaksud pamit.

Prof. Nohara tidak menerima begitu saja. Saat aku berada dalam jangkauan, beliau mencengkram sebelah pundakku dan tersenyum hangat.

(Untuk sesaat, aku teringat sosok bengis tak asing—)

"Maaf, aku salah bicara." Kekehan Prof. Nohara sungguh membuat bulu kudukku meremang. "Tadi bukan pertanyaan, tapi perintah. Aku tak bisa membiarkanmu masuk kelas praktek seperti ini, Naruto. Pulanglah! Jangan lupa kerjakan tugas matkulnya nanti."

Aku meninggalkan gedung perkuliahan dengan napas memburu.

Perlu beberapa jam rebahan di kamar hingga akhirnya aku sadar bahwa aku baru saja diberi izin membolos oleh dosen waliku hanya karena beliau melihatku ribut dengan senior perkara hidup. Di saat, mungkin, di luar sana banyak dosen yang lebih tegas dan menuntut mahasiswanya memiliki mental robot.

Aku termasuk beruntung, bukan?

(Lalu, kenapa perasaan ini tak mau enyah juga?)

.

Pukul 5 sore, Sasuke pulang. Awalnya aku ingin mengajaknya sparring, tapi niat itu kuurungkan saat melihat ekspresi di wajahnya.

"Capek?" tanyaku.

Sasuke mengekeh singkat. "Lumayan," jawabnya sebelum mendudukkan diri di sofa panjang.

"Mau kubuatkan sesuatu?" tawarku.

Baru saja aku membalik badan ke arah dapur, tanganku digenggam olehnya. Kemudian, dia menarikku hingga berakhir di pangkuannya.

"Jangan ke mana-mana," gumam Sasuke di tengkukku, "aku butuh isi ulang daya, sebentar saja. Biar Sai yang membuatkanku teh."

Dari dapur, Sai menggerutu, "Aku bukan pelayanmu, woi!"

Sasuke hanya tertawa pelan menanggapinya, sambil mengatur posisiku agar lebih nyaman. Sedangkan aku, terjebak dengan rasa malu berat.

Lanjut enggan, tapi tidak dilanjut pun ... bagaimana, ya ... rasanya nyaman.

Kampret sekali.

Alhasil, aku pura-pura tidak peduli dijadikan bagai boneka peluk.

"Oh, ya. Pak Obito mengabariku kalau dia menyuruhmu pulang karena ada masalah di kampus?"

... pengkhianat!

"Singkat cerita ... ada kating brengsek. Aku esmosi, hampir baku hantam."

"Hampir?" Sasuke tertawa geli. "Kemajuan."

Sialaaaan!

Jangan membuatku terdengar seolah aku ini rutin mengajak orang baku hantam!

Kau adalah sebuah pengecualian!

"Ada yang bisa kulakukan untuk menghiburmu, Nar?" Sasuke ganti menawarkan.

Hm ... apa, ya? Ditanya begitu, aku malah tidak tahu harus menjawab apa.

Dipikir-pikir ... aku sudah tak ingin sparring untuk melampiaskan kekesalan. Perasaan itu belum menghilang sepenuhnya, tapi ... aku merasa lebih ... tenang?

Hell. Ternyata isi daya yang Sasuke maksud berlaku dua arah.

Aku bersyukur Sasuke tak dapat melihat wajahku di posisi kami. Habislah sudah kalau dia tahu wajahku seratus persen terbakar rasa malu.

"Tak apa. Aku sudah membaik, kok," kataku pada akhirnya.

"Membaik karena aku?"

Bedebah ini—

Aku yakin seringai mengundang baku hantam akan menyapaku jika aku menolehkan kepala untuk menatap wajahnya.

"Pede banget, lu!"

"Harus, dong!"

"Dih!"

Sasuke mengekeh. Tangannya naik, menyentuh dan memainkan bandul kalungku selama beberapa detik. Setelah itu dia menggeser posisiku ke sebelahnya.

"It's good to be home," bisiknya, sebelum mengecup pelipisku dan hengkang sambil tertawa.

Meninggalkanku sendirian di sofa, disoraki oleh Sai dalam keadaan menutup wajah karena baper tingkat dewa.

Dia itu, kelakuannya semakin lama benar-benar—

Fhfjfkfkgkggkfhfk.

"Oi." Sai mencolek pipiku. Senyum malaikat-nya tampak semakin menyebalkan saat kupelototi dia. "Daripada di sini dan mengumpati sepupuku yang bulol itu, lebih baik kau membantuku masak. Yuk!"

Aku mendelik. "Kenapa aku harus membantumu?"

"Aku masak untuk calon suamimu juga loh." Haruskah kau menyebut Sasuke dengan itu, sialan!? "Kau tak khawatir? Mana tahu aku berniat memasukkan racun ke porsi makannya demi merebut tahta negara."

Aku tiba-tiba terbayang hubungan Sasuke dan Sai berubah. Dari dua sepupu yang menunjukkan kasih sayang dengan cara ribut 24 jam, menjadi dua sepupu yang menghalalkan segala cara demi tahta dan kuasa selayaknya tokoh sinetron kesukaan emak-emak.

Bfft. Tidak cocok.

"Kalau tahu itu tujuanmu, aku yakin Sasuke akan meminum racunnya secara sukarela."

"Kau yakin?" Sai tertawa singkat. "Aku sangsi dia legowo meninggalkan calon istrinya begitu saja."

Serangan kedua telah dilancarkan. Aku tak bisa diam!

"Jangan memanggilku begitu, kampret!"

Sai mengangkat sebelah alis mata. "Sasuke 'kan memang calon suamimu? Kalau begitu sah-sah saja memanggilmu calon is—"

"No ... ! Stop—"

"Aku tidak mengerti dengan kalian. Jelas-jelas Sasuke membuatkan kalung pinangan untukmu yang kemudian kau terima tanpa protesan. Bahkan kau balas memberi Sasuke hadiah pinangan sesuai budaya kami. Kelakuan kalian pun bikin diabetes, tuh. Apa yang salah dengan menyebutmu—"

"Oke, oke! Aku bantu kau masak! Berilah ampunan untuk telingaku yang malang, sialan!"

Sai menutup mulut dengan sebelah tangan. Dibanding tawa singkat sebelumnya yang jelas dibuat-buat, tawa tanpa suara ini terasa lebih nyata.

Mahasiswa jurusan Seni Murni itu pun melangkah ke dapur duluan. Aku mengikutinya sambil sesekali menepuk pipi—berusaha menghapuskan sebutan "itu" dari kepala.

Selama beberapa saat, fokusku berhasil dialihkan pada sayur-mayur yang kumutilasi atas perintah koki hari ini. Potong, potong, potong. Tanganku bergerak semi-otomatis.

Belum puas membuatku tersipu, bacotan Sai berlanjut.

"Orang lain—misal si Gaara tuh—sebelum jadian saja sudah halu tak terbatas. Mengigau menyebut Sakura istrinya lah, permaisurinya, dan lain-lain. Sedangkan kalian ... serius sudah, menyebut statusnya malah malu seolah baru pertama kali menyatakan cinta. Aneh sekali."

Ha. Mau bagaimana lagi. Rasanya masih-fhgfhjsgjklkh. Aku terlalu biasa menyebutnya sahabat bangsat dan iterasi serupa di dalam kepalaku. Jadinya—

Eh, tunggu.

Diingat-ingat ... memangnya kami pernah menyatakan—itu?

"Ah." Tanganku berhenti menggerakkan pisau. Terperangah.

"Kenapa, Nar?" heran Sai.

"Aku baru sadar—"Aku mengerjap. "—kami tak pernah benar-benar menyatakan—you know."

"Hah?"

"Maksudku," gagapku, "kami tahu soal perasaan masing-masing. Tapi ... tak pernah confess secara langsung. Seperti yang kuceritakan di prom, Sasuke iseng 'mengajakku' mahoan. Aku yakin seratus persen itu cuma candaan. Awalnya.

"Lalu—um—tahu-tahu ... aksinya menunjukkan serius? Tak lama juga dia bilang mau membuatkan kalung untukku dan ... fuck it, aku tak tahu bagaimana menjelaskannya—dan kenapa pula aku menjelaskan padamu begini! Intinya, aku tak yakin kami pernah mengakui secara gamblang!"

"Kau serius?"

"Dua rius, Sai."

Kalaupun pernah terucap kata-kata ... begitu, biasanya terimplikasikan. Ingat pengakuan publik yang Sasuke lakukan saat prom?

"Sebenarnya berapa banyak langkah pdkt yang kalian lompati!?" Sai tergelak-gelak. "Jadi, Sasuke menawarimu kalung begitu saja? Tak ada bilang naksir atau bahkan bilang ingin jadi pacar, sebelumnya?"

"Kelakuannya memang makin menunjukkan bucin sih, tapi ya ... begitulah."

"I mean ... aku bisa melihat, love languange kalian memang bukan dari afirmasi, tapi ... ini terlalu ... it's so ... you,I can't even—" Perkataan Sai menggantung. Tapi, wajahnya masih memasang senyum geli. "Ini tak akan menjadi masalah, bukan? Kalau kau keberatan, sebaiknya kau sampaikan langsung pada Sasuke."

Aku buru-buru menggelengkan kepala. "Tidak, tidak! Aku baru sadar saja. Aku tidak mempermasalahkan soal ini."

Segala hal yang telah Sasuke lakukan, semua keisengannya, ngalusnya; kurasa semua sudah menggambarkan lima huruf satu kata—yang biasa dielukan remaja bucin—itu. Lebih dari cukup.

Apatah arti sebuah kata jika dibandingkan dengan ketenangan yang kurasakan dari kosmik Sasuke setiap bersamaku?

Sai bersiul. "Sial, aku iri pada kalian."

"Sabar ya. Nanti ada masanya kau pensi jones."

"Bitch."

"Languange, fucker!"

.

Ketika tengah malam tiba dan lagi-lagi Sasuke mengetuk pintu kamarku, aku khawatir bukan main. Sasuke jelas sekali terlihat lelah dengan kesibukannya hari ini. Bagaimana dia bisa fokus kelas pagi kalau terganggu mimpi buruk lagi?

Namun, rasa khawatir itu tersubstitusi heran. Sebab, senyum merekah yang menyambutku di balik pintu.

"Ikut aku, ya?"

"Huh?"

Sasuke masuk tanpa permisi ke kamarku. Tangannya langsung menyambar jaket tebal di pinggir lemari, memakaikannya padaku. Kemudian, aku dibawanya ke halaman rumah.

Di mana telah terparkir sebuah bison terbang. "Malam, Avatar." Juga pemiliknya yang menyebalkan.

"Gurus Shisui," sapaku setengah hati. Aku kembali menatap tersangka pengganggu tidurku, agak menuding. "Apa maksudnya ini, Sasuke?"

Sasuke mengangkat bahu. "Nanti kau tahu."

Riang yang kurasakan dari kosmiknya membuatku tak tega untuk menaruh curiga. Maka, saat dia memberi isyarat naik, kulakukan.

Aku sedikit tercekat begitu bison terbang mengudara. Aku merindukan sensasi ini. Terbang. Bersama Kurama.

Aku benar-benar merindukannya.

Genggaman hangat di tangan menarikku kembali ke kesadaran. Mengahalau agar aku tak terperosok pada pikiran dan emosi negatif yang belakangan sangat mudah kuselam.

Dikelilingi oleh kosmik positif, rasanya sulit bagiku untuk menahan senyum. Apa pun yang menungguku di ujung perjalanan, sepertinya tak akan buruk. Tak mungkin buruk, lebih tepatnya.

Namun, destinasi kami jauh sekali dari dugaanku.

Aku dibawa ke waduk belakang Gelarena, tempatku dilatih ketat oleh Shishui dan kawan-kawan pasus. Apa yang membuatku terperangah adalah wujud waduk tersebut. Hilang sudah bendungan dan sebaran air luas, bergantikan balok-balok bangunan es yang dibentuk seperti altar istana.

Altar—yang biasa digunakan untuk upacara adat Suku Air—itu dikelilingi oleh Coach Zabuza, Sai, Hinata, Yagura, dan ... Jiraiya? Mereka semua memakai jubah upacara adat.

"Apa yang—"

Suara tawa terdengar dari samping kiri. Obito menghampiriku, memakaikan jubah dengan desain yang berbeda. Desain yang pernah Ayah perlihatkan padaku saat—

Aku mengerjapkan mata. Sesaat, pandanganku buram. Di sana, Jiraiya menggenggam sebuah pedang mengkilap. Mengacungnya, tanda permulaan. Aku tahu apa ini.

"Delapan belas tahun silam, di bawah sang Lunar, engkau hadir. Majulah Mahkota Selatan, jejak sapa sang Lunar!" ucap Jiraiya tegas.

Ini adalah Upacara Matur Mahkota. Upacara yang dilaksanakan ketika pewaris kepala suku menginjak usia 18 tahun.

Aku mengatur napasku, berusaha menenangkan diri. Kulangkahkan kakiku menuju altar. Tetap berusaha menahan tegapnya badan saat prosesi upacara terus dilanjutkan. Membiarkan para pengendali air bergantian menunjukkan jurai kuno sebagai pendukung azimat upacara. Menyambutnya dengan azimat pribadi yang entah bagaimana masih kuhafal di luar kepala.

Hingga sampailah pada tahap terakhir upacara. Aku menerima jurai elemen air dari Zabuza dan yang lain, mengendalikannya pesat membentuk kubah yang mengelilingi kami. Diisi cahaya teknik penyembuhan, meniru pancaran semu rembulan. Kemudian membuatnya lepas menjadi butiran salju.

"Corporis tua." Fisik.

"Anima." Jiwa.

"Cogita." Pikiran.

"Elementum." Elemen.

"Vita." Hidup.

Ditutup deklarasi bersama-sama, "Fluit cum aqua, opacum lunee!"

Biarkan mengalir bersama air, dinaungi sang Lunar.

Kemudian, pedang di tangan Jiraiya diberikan padaku. Senyum pria itu tersapu sedikit sendu.

"Pedang ini dibuat dari campuran lelehan armor peninggalan kedua orang tuamu," jelas Jiraiya, untuk mengisi keheningan—karena aku masih tak dapat berkata-kata. "Gagangnya hablur ekstrak kristal gua Naga Spiritual Bulan. Aku tak tahu pedang seperti apa yang mendiang ayahmu siapkan untuk upacara ini, tapi ... semoga kau menyukainya."

Suka? Apa dia bercanda?

"Mana mungkin aku tak suka! Kalian ... kalian merencanakan ini untukku?" Sejak kapan?

Jiraiya menepuk kepalaku, tersenyum lebar. "Ini ide Pangeran Sasuke."

Aku refleks menolehkan kepala. Di sana, Sasuke disikut oleh Obito, langsung mengusap belakang leher dan mengekeh.

"Aku tahu kau sangat menghormati tradisi suku-mu, jadi ... yah. Bagaimana menurutmu?"

Sasuke bertanya bagaimana menurutku? Apa dia dungu!?

Sasuke tidak berhubungan baik dengan tradisi negaranya sendiri! Dia bahkan sempat membenci aturan dan tatanan yang harus dilakukannya sebagai seorang pangeran! Dia merencanakan ini? Di belakangku?

Bahkan saat aku tak punya negara untuk membuat titel "Putri" ini berarti?

"Titip dulu." Kuberikan pedangku ke tangan Jiraiya lagi. Tanpa ba-bi-bu langsung kutancap langkah secepat yang kubisa, menerjang Sasuke dengan pelukan erat.

Sasuke menyambutku dengan tawa ringan. "Happy birthday, Princess. Terima kasih sudah hadir di dunia ini."

Air mataku pecah. Bedebah ini—

Aku—

Aku benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa. Perulangan terima kasih yang sudah kulakukan sedari tadi rasanya tak cukup. Kebahagiaan meluap tanpa bisa kutahan. Aku merasa—penuh.

Segalanya bertumpuk. Perasaanku membuncah.

Aku berbisik lirih, "Te amo, Princeps." Pikirku, tak ada hal lain yang bisa mewakili—semua ini, selain kata-kata itu.

Tawa renyah Sasuke memekatkan kehangatan di antara kami.

"Me amo, quoque."

ASDFGHJKL—

.

.

.

Bagi yang tidak paham, di atas itu aku menyatakan, "Aku sayang padamu, Pangeran."

Yang mana dijawab oleh Sasuke dengan: "Aku sayang padaku juga."

Jadi, jangan salahkan aku kalau setelah itu kami baku hantam.

Bedebah kau, Pangeran Sialan!


Next: Kebetulan? Atau—