.

.

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

Highschool DxD © Ichiei Ishibumi

.

Rating : M (Just for save)

Genre's : Adventure, Supernatural, Half-Humor, Fantasy, Little bit-Romance, etc...,

Pair : Naruto x ?

Warn : Always Mainstream idea!, Many more typo, alur acak!, OC Chara, OOC Chara, bad EYD, bahasa kaku dsb, and etc...,

Devil!Naru, OverPower!Naru, IceUser!Naru

.

Japan, Kuoh City

Sring!

Terlihat di sebuah gang kecil di pinggiran kota Kuoh, tercipta lingkaran sihir berwarna biru dan berlambang keluarga Sitri.

Tempat sekitar nampak bercahaya akibat sinar cukup terang yang muncul dari lingkaran sihir tersebut, setelah cahaya menghilang terlihatlah seorang pemuda berambut hitam memakai pakaian kasual sedikit mewah tetapi cukup untuk membuat kaum hawa terpesona walau hanya melihatnya.

Pemuda yang tak lain dan tak bukan adalah Naruto Sitri itu terlihat memandang daerah sekitarnya sebelum ia keluar dari gang dan melihat ke sekeliling yang nampak suasananya sedikit sepi. Mungkin hal yang wajar, karena di jam segini kebanyakan masyarakat sedang beraktivitas.

Naruto lalu mengambil secarik kertas di saku celananya yang di berikan oleh Ayahnya tadi.

"Hmm." Pemuda itu tampak bergumam pelan setelah melihat minimap yang ada pada secarik kertas di genggamannya.

"Aku sekarang berada di sini, sedangkan Akademi Kuoh berada di..., Ahh aku bingung! Mau minimap atau apapun tetap saja aku tak mengerti soal ini!" Ucapnya dengan sedikit kesal, terbukti dengan kertas yang kusut akibat genggaman kuat tangannya.

Ia lalu menghembuskan nafas pelan untuk meredakan emosinya. Daripada berdiam diri disini, mungkin lebih baik ia berkeliling saja dan bertanya kepada masyarakat sekitar.

Dengan demikian, pemuda itupun memutuskan untuk pergi dari sana dan menuju ke balai kota yang merupakan pusat dari aktivitas masyarakat kota Kuoh berada.

.

"Woahh." Iris violet pemuda Sitri itu nampak sedikit berbinar begitu melihat kondisi sekitar di balai kota Kuoh. Dapat terlihat disana ada beberapa benda yang nampaknya asing bagi dirinya. Seperti mobil, motor, ataupun gedung pencakar langit.

Para gadis yang ada di sekitarnya terlihat memerhatikan pemuda itu dengan rona merah di pipi mereka, hal yang sangat langka bisa mendapati seorang pemuda berparas sangat tampan di kota seperti ini.

"Ah." Naruto kemudian teringat sesuatu, ia kembali mengambil secarik kertas dari sakunya dan melihatnya.

"Are? Apa ini?" Gumamnya heran begitu ia merasakan ada lipatan lain pada kertas itu. Ia lalu membukanya dan dapat terlihat jika itu adalah pesan lain yang di tuliskan oleh Ayahnya.

'Ayah tau kau tidak akan paham dengan yang tadi, jadi Ayah sengaja membuatmu pergi ke tengah kota agar kau bisa dengan mudah mencari jalan, disana kau hanya perlu mengikuti papan penunjuk jalan yang ada dan jika masih bingung coba tanyakan saja pada warga sekitar, dan jangan lupa selalu jaga kesehatanmu.' Naruto menghela nafas kecil setelah membacanya.

Ia lalu berjalan pelan hingga sampai di sebuah tiang yang memiliki lampu hijau dan merah, ia sedikit memiringkan kepalanya karena bingung. Ia lalu teringat kembali dengan pelajarannya bersama Serafall, kalau tidak salah juga kakaknya itu membuatkannya sebuah catatan kecil yang berisi gambar juga.

'Ah ini dia.' Pikirnya, ia lalu membuka lembar demi lembar hingga akhirnya menemukan apa yang ia cari sembari juga ia melihat-lihat yang lainnya.

'Are? Jadi benda beroda empat itu bernama mobil? Nama yang aneh untuk benda yang aneh.' Pikirnya absurd. Tak lama kemudian itu memutuskan untuk berjalan-jalan sedikit lagi, entah itu mengunjungi berbagai tempat, seperti game center, kedai ramen, bahkan ia jalan-jalan tidak jelas ke mall.

.

"Hah, aku lelah." Setelah puas berkeliling, Naruto akhirnya memutuskan untuk langsung ke Akademi Kuoh saja karena ia lelah. Sekarang, ia sedang berada di taman untuk beristirahat sebentar setelah cukup lama berkeliling. Ia juga sudah sedikit mengetahui dimana Akademi Kuoh berada dan hanya tinggal berangkat saja kesana.

Pemuda itu tampak memandang langit yang terdapat awan bermacam-macam bentuk sembari pikirannya melayang entah kemana.

'Walau dunia manusia cukup menyenangkan tapi tetap saja terasa sepi jika hanya aku sendiri.' Pikirnya, ia juga tampak sesekali cemberut karena memikirkan hal itu.

'Apa aku pulang saja lagi ya ke rumah? Tapi nanti pasti Nee-chan akan memelukku terus.' Ia kemudian mengacak-acak rambutnya pelan. Entah kenapa sikapnya yang sekarang berbeda dari minggu sebelumnya, dimana ia bersemangat ingin ke dunia manusia tetapi sekarang malah berniat untuk pulang.

Yah, hal yang wajar bagi seorang Naruto Sitri. Rata-rata iblis di Underworld sudah mengetahui jika pemuda itu merupakan tipe pemuda yang mudah bosan terhadap sesuatu. Kecuali jika ia sedang bersama dengan kedua kakaknya, entah karena sedari kecil ia selalu di tempeli oleh Serafall dan Sona atau hal lainnya, mungkin hal itu yang membuatnya tidak bisa lepas dari kakaknya.

Ia berhenti mengacak-acak rambutnya lalu bersandar di bangku dan menghela nafas pelan. Tidak ada gunanya juga memikirkan hal itu, memang ia sangat ingin tinggal di dunia manusia, saat mendengar Sona akan tinggal dan hidup mandiri di sini pun sebenarnya ia ingin ikut, tetapi Raven dan Serafall tak mengizinkannya karena khawatir. Sekarang ia tahu mengapa ibu dan kakaknya itu khawatir terhadapnya dulu.

"Ano..."

Naruto yang mendengar sebuah suara di dekatnya langsung menoleh keasal suara yang ternyata berasal dari seorang gadis berambut coklat panjang bermata senada dengan rambutnya yang kepalanya terdapat bando berwarna biru serta memakai seragam sekolah.

Terlihat dari mata gadis tersebut memandang Naruto dengan pandangan err sepertinya antara bingung dan kasihan. Naruto sendiri melihat gadis itu dengan sedikit memiringkan kepalanya membuat sang gadis sedikit tersipu karena tingkah polos pemuda tampan di hadapannya.

"Ya?" Balas Naruto sembari memandang gadis itu, gadis yang menurut ia cukup manis untuk seorang manusia- ah tunggu sebentar!

'Iblis? Apa ia dari peerage Nee-chan atau Ria-nee?' Pikirnya bertanya-tanya setelah merasakan jika energi yang dimiliki gadis di depannya itu bukan merupakan energi manusia normal pada umumnya, melainkan energi seorang iblis. Jika ada iblis di sini maka cukup mudah untuk menduganya, itu antara peerage Sitri atau Gremory. Karena kota Kuoh sendiri merupakan kota yang berada di bawah perlindungan keluarga Gremory atas izin dari fraksi Shinto.

Gadis itu, atau Reya Kusaka masih menatap Naruto dengan sedikit rona merah di pipinya, ia tak sengaja melihat pemuda itu yang bingung dari kejauhan. Berhubung ia berada disini, mungkin tak masalah untuk membantunya dan lagi ia juga sebenarnya merasakan sesuatu yang familiar ketika melihat pemuda itu, rasanya seperti mirip dengan seseorang yang dekat dengannya tapi ia tak tahu siapa itu.

"M-Mm, aku melihatmu bertingkah seperti bingung dan kesal dari jauh, boleh kutahu apa yang terjadi? Mungkin barangkali aku bisa membantumu." Ucapnya lembut disertai senyuman ramah.

Naruto yang mendengar tujuan dari gadis itu menanyainya pun sadar jika ia bertingkah sedikit berlebihan tadi. Yah, ia memang sering bersikap seperti itu bahkan di mansion atau dunia bawah sekalipun, ia tidak bisa menyalahkan dirinya karena memang seperti itulah sifatnya sedari kecil. Selalu memikirkan hal terlalu berlebihan yang berujung dengan kebingungan bagi dirinya sendiri.

"M-Maaf tentang itu." Balasnya sembari mengusap bagian belakang kepalanya dengan senyuman canggung.

"Y-Yah habisnya aku bingung apa pilihanku ini sudah tepat atau tidak." Jelasnya membuat Reya menatapnya cukup intens, sebelum gadis itu memutuskan untuk duduk di sebelahnya.

"Hm begitu, boleh kutahu kenapa bisa seperti itu?" Ucap Reya, ia juga tampaknya mulai merasa nyaman dengan pemuda itu. Karena entah kenapa saat berada di sekitarnya ia merasa sejuk sekaligus nyaman yang membuatnya merasa ingin terus berada di sekitar pemuda itu.

"Mmm, awalnya aku merasa sangat antusias ke kota ini tetapi setelah kupikir-pikir aku jadi sedikit ragu." Terang Naruto sambil menggaruk rambutnya dan memasang senyum kaku.

"Tak perlu dipikirkan terlalu berlebihan, kau hanya perlu menikmatinya perlahan dan biarkan itu berjalan dengan sendirinya, pasti nanti dirimu akan terbiasa." Balas Reya dengan senyuman manisnya yang sama sekali tidak berpengaruh terhadap Naruto.

"Begitu, aku mengerti."

"Ah ngomong-ngomong kita belum berkenalan, perkenalkan namaku Reya Kusaka, dan kau?" Tanya Reya sembari menjulurkan tangan kanan mulusnya.

"A-Ah, aku Naruto, Naruto Sitri." Balas Naruto lalu menjabat tangan Reya dengan senyuman menawan miliknya.

"Mohon bantuannya, Naruto-sa-ehhhhh!? Sitri!?" Pekik Reya yang secara spontan berdiri dan melepas jabatan tangan mereka lalu menatap Naruto dengan teliti.

Naruto sendiri hanya memiringkan kepalanya dengan bingung diikuti jari telunjuknya yang menggaruk pipinya.

"E-Errr, apa ada yang salah?" Tanyanya dengan senyuman gugup karena mendengar pekikan gadis remaja di depannya.

"S-Sitri katamu tadi!?"

"Y-Yeah."

Reya memicingkan matanya menatap Naruto, ia lalu memerhatikan Naruto, mulai dari ujung rambut sampai ujung kakinya, sampai ia akhirnya sweatdrop karena baru menyadari hal tersebut.

'Ah aku baru sadar bahwa ia memiliki kemiripan dengan Kaichou, jadi ini yang kurasakan tadi saat pertama kali melihatnya.' Pikirnya dengan sebutir keringat di dahinya.

Ia lalu menghela nafas kecil lalu kembali duduk dan mencoba menenangkan dirinya, sementara Naruto memandangnya dengan penuh tanda tanya.

"Boleh kutahu apa hubunganmu dengan Kaichou?" Tanya Reya.

"Kaichou?" Balas Naruto memandangnya bingung.

"Sona Sitri." Ujar Reya singkat yang di tanggapi dengan cepat oleh Naruto.

"Ah, dia Nee-chan ku."

Kali ini Reya kembali sweatdrop mendengarnya, pantas saja memiliki kemiripan, toh mereka bersaudara. Tetapi ia sedikit menaikan alisnya. Kaichou tak pernah memberi tahu mereka jika ia mempunyai seorang adik, karena yang mereka tahu jika ia hanya memiliki seorang kakak saja, dan itu adalah Serafall Sitri atau sekarang di panggil Leviathan. Yah, mungkin wajar saja karena selama ini mereka, peerage miliknya kecuali Tsubaki belum pernah sekalipun mengunjungi Underworld.

"Kalau begitu, kau pasti sudah mengetahui jika aku iblis bukan?" Naruto mengangguk menjawab itu.

"Yah, sejak awal aku memang sudah merasakan banyak aura di kota ini, baik iblis maupun malaikat jatuh sekalipun." Ujar Naruto dengan pose mengingat.

"Ah, ada juga yang ingin kutanyakan, apa kau dari peerage Nee-chan?" Tanya Naruto penuh harap pada tatapannya. Reya membalas itu dengan anggukan sembari memandang Naruto dengan sebutir keringat karena tingkahnya.

Sret!

"E-Epp!"

Reya nampak terkesiap ketika Naruto mendekatkan wajahnya, ia tak bisa menahan rona merah yang muncul di pipinya karena menyaksikan wajah rupawan serta manis pemuda Sitri itu.

"Kalau begitu, apa kau bisa mengantarkanku padanya!?" Pinta Naruto dengan penuh semangat.

"Aku mengerti aku mengerti! Jadi jauhkan sedikit w-wajahmu, t-terlalu dekat, kau tahu?" Balas Reya masih dengan rona merah memenuhi wajahnya.

"Ahhh, maaf!"

Reya lalu menenangkan detak jantungnya setelah Naruto kembali mengambil jarak diantara mereka.

"M-Maa, tidak masalah, aku hanya sedikit kaget tadi. Kalau begitu lebih baik kita ke akademi, aku yakin Kaichou juga pasti menungguku." Ucap Reya.

Mereka berdua lalu berdiri dan berjalan berdampingan, sesekali mereka mengobrol dalam perjalanan mereka menuju Akademi Kuoh.

- Skip -

Kuoh Academy

Akademi Kuoh, sebuah sekolah yang terletak di kota kecil Jepang, sebuah sekolah yang memiliki tampilan seperti sekolah di eropa sana. Dengan desain bangunan yang terasa seperti gabungan antara klasik dan modern ala eropa bercampur jepang menjadikan akademi ini merupakan akademi yang mempunyai infrastruktur terbaik di Jepang.

Akademi Kuoh dulunya merupakan akademi yang di khususkan oleh murid perempuan saja, tetapi dengan sedikit adanya perubahan. Mereka mengubah sistem akademi dengan memperbolehkan murid laki-laki masuk ke akademi ini.

Jadinya, sekarang Akademi Kuoh yang dulunya mayoritas perempuan berubah menjadi campuran, walau murid laki-laki hanya sekitar 30% saja yang mendaftar di akademi ini. Hal itu tentu menjadi surga dunia bagi murid laki-laki yang berhasil masuk ke akademi itu, karena mereka akan di kelilingi banyak perempuan disana.

Bersama dengan Naruto dan Reya, mereka saat ini berada dekat dengan Akademi Kuoh. Hanya tinggal beberapa puluh meter saja mereka akan sampai di pintu gerbang masuk akademi.

"Woah, akademi ini ternyata cukup mewah juga ya." Ucap Naruto sembari melihat-lihat ke sekitar akademi setelah mereka melewati gerbang. Reya sendiri memasang senyum di wajahnya mendengar itu.

"Begitulah, menurut kabar yang beredar, dulu pemilik akademi ini berasal dari Eropa, mungkin karena itu ia mendirikan akademi dengan mirip arsitektur yang ada di sana." Terang Reya yang membuat pemuda itu manggut-manggut mengerti.

"Kalau begitu, jika memang sebagus ini, kenapa sebagian besar murid disini perempuan?" Tanya Naruto, Reya kemudian melirik ke sekitar halaman akademi yang terdapat banyak murid yang bermayoritas perempuan.

"Hmm, itu karena dulunya akademi ini di khususkan untuk perempuan saja. Tetapi beberapa bulan yang lalu mereka memutuskan untuk memperbolehkan murid laki-laki masuk ke akademi ini." Jawabnya.

Naruto hanya mengangguk dan ber oh ria. Ia melihat sekeliling akademi dimana hampir semua murid perempuan memandang kearahnya dengan tatapan penuh cinta serta bisik-bisik yang membuatnya berkeringat.

'Hei-hei coba lihat, siapa yang bersama dengan Reya-senpai itu?'

'Hah? Mana-mana?'

'Kyaa, dia tampan dan juga manis!'

'Apa dia pacarnya Reya-senpai?'

'Mungkin saja. Hah, jika saja ia single, aku akan mencoba mendekatinya.'

'A-Apa katamu!? Dia itu hanya cocok padaku tahu!'

'Grr, jangan terlalu percaya diri kau ya!'

'H-Hei, bisa kalian berhenti bertengkar? M-Mereka melihat kita.'

'Kyaaa!'

'Ngii, tatapan dan tingkah mereka membuatku takut.' Pikir Naruto dengan merinding, walau rata-rata gadis bangsawan di dunia bawah juga terkadang memandangnya seperti itu, entah kenapa tatapan para gadis di bumi sedikit membuatnya takut.

'Andai ada Nee-chan di sampingku.' Pikirnya sembari memeluk dirinya sendiri, menggigil akibat tatapan gadis di sekitarnya.

Di dunia bawah ia biasa berjalan-jalan dengan Serafall di sampingnya, mengapa? Sejujurnya, sejak promosi dirinya ke Super Devil, tingkah gadis bangsawan di sana makin menjadi-jadi hingga ia takut keluar sendiri karena mereka akan segera mengerubunginya jika melihat dirinya. Karena itu ia selalu meminta Serafall menemaninya saat ingin keluar mansion.

Reya melirik kearah Naruto yang sepertinya merinding dengan reaksi gadis Akademi Kuoh dan itu membuatnya tersenyum canggung.

'Y-Yah, mungkin karena jarangnya melihat laki-laki membuat mereka seperti itu. Apalagi jika melihat rupanya yang bisa di bilang tampan dan manis.' Pikir Reya sambil memandang Naruto seksama dengan sedikit rona merah di pipinya.

'B-Baka! Apa yang kupikirkan!? Dia itu adik dari Kaichou! Sadarilah posisimu Reya!' Pikirnya gelagapan begitu tersadar dengan apa yang ia pikirkan.

Reya kemudian membuang nafas pelan untuk menenangkan dirinya kembali sembari terus berjalan di korido akademi untuk pergi ke ruang OSIS.

"Ngomong-ngomong kita akan kemana?" Tanya Naruto pada Reya di sampingnya.

"Ruang OSIS, kemungkinan Kaichou berada di sana bersama dengan peerage-"

Ucapan Reya terputus ketika mendengar teriakan para murid perempuan yang membuat ia dan Naruto mengalihkan pandangannya.

'Kyaa! Itu Kaichou-sama!'

'Seperti biasa Kaichou-sama masih terlihat anggun dan tegas.'

'Ahh, andai aku saudari Kaichou-sama, pasti akan sangat menyenangkan mempunyai kakak sepertinya.'

'Kau terlalu banyak bermimpi! Lagipula Kaichou-sama tidak perlu adik bodoh sepertimu!'

'A-Apa kau bilang!? Ngajak ribut hah!?'

'Grrr, siapa takut!?'

Akhir dari percakapan mereka membuat Reya dan Naruto sedikit sweatdrop. Reya sendiri memandang itu dengan sedikit keringat di dahinya, walaupun dirinya sudah sering melihat itu.

Naruto dan Reya lalu melihat kearah depan dimana mereka mendapati seorang gadis berkacamata beriris violet dengan rambut model bob yang membuatnya terlihat anggun, cantik dan tegas secara bersamaan.

Gadis itu terlihat di kelilingi oleh beberapa murid di sekitarnya, murid-murid yang mengelilinginya juga dapat dikatakan berwajah cantik, pengecualian untuk seorang pemuda berambut pirang yang menjadi satu-satunya laki-laki diantara mereka.

Iris Naruto membulat melihat sosok gadis di depannya, binar pun memenuhi matanya. Dengan merentangkan tangannya, ia segera berlari kearah gadis itu.

"Nee-channn!"

Bruk!

""""Ehhhh!?""""

Murid di sekitar nampak bereaksi dengan berteriak kecil begitu melihat seorang pemuda tampan berambut hitam yang berlari dan tiba-tiba memeluk sang Kaichou dengan erat. Akan tetapi bukan itu yang membuat mereka terkejut, melainkan dengan Naruto yang memanggil Sona dengan sebutan 'Nee-chan'.

Peerage Sona sendiri nampak memandang kaget pada kejadian di depannya. Terlebih dengan Sona sendiri yang saat ini berusaha menyeimbangkan dirinya saat ia di peluk erat oleh pemuda itu.

Naruto yang memeluk Sona nampak menenggelamkan wajahnya pada dada kakaknya itu dan menggesekkannya. Jujur, ia rindu dengan sensasi nyaman dari kakak yang lainnya ini.

"Nee-chan, aku merindukanmu." Ucapnya dengan nada manja yang membuat semuanya memandang ia dengan menganga bahkan Reya juga yang tadi bersamanya.

"Ugh, apa yang terjad-Naru-chan!?" Sona sedikit kaget ketika mengetahui siapa pelaku yang memeluk dirinya.

"Lama tak bertemu, Nee-chan." Balas Naruto yang mendongak untuk menatap Sona dengan senyuman khasnya.

Grep!

"Kenapa kamu tak bilang padaku jika ingin datang sekarang? Kalau tahu Nee-chan akan menjemputmu tadi pagi." Ujar Sona sembari mendekap erat adiknya itu di dadanya yang membuat mereka semua lagi-lagi menganga, karena tak menyangka jika pemuda tampan itu benar-benar adik dari Kaichou mereka, apalagi anggota peeragenya.

"Ehehe, aku ingin berjalan-jalan melihat kota dulu." Balas Naruto membuat Sona menghela nafas pelan. Ia masih memeluk erat adiknya tak memperdulikan tatapan murid di sekitarnya, yah jika itu untuk Naruto maka ia tak akan memperdulikan apapun, bahkan Rias, sahabatnya saja ia acuhkan jika sedang bersama Naruto.

"Dasar, tapi selamat datang di sini. Aku juga merindukanmu, maaf kalau aku jarang mengunjungi mansion." Ujar Sona sembari mengelus pelan surai hitam adiknya dengan lembut.

"Tidak masalah, aku tahu Nee-chan pasti sibuk disini. Lagipula di sana ada Sera-neechan yang menemaniku." Jawab Naruto membuat Sona tersenyum kecil.

"Begitu, syukurlah." Ucapnya masih memeluk dan mengelus rambut adiknya sampai ucapan Tsubaki, bidak Queen dari peeragenya membuka suara.

"A-Ano, K-Kaichou?" Ujarnya dengan nada terbata.

Sona lalu tersentak pelan dan melirik ke sekitar dimana murid-murid masih memandangi ia dan Naruto. Menghela nafas pelan, ia lalu melepas pelukan Naruto membuat pemuda itu menatapnya. Sona lalu melirik Tsubaki dari ujung matanya sembari menghela nafas kembali.

"Sebaiknya kita pergi keruangan OSIS sekarang, aku akan menjelaskannya nanti. Ayo Naru-chan." Ucapnya, setelah mengatakan ia segera menggandeng Naruto dengan lembut, mereka berdua pun berjalan berdampingan menuju ruang OSIS. Karena tinggi Naruto sedikit lebih rendah beberapa senti darinya, maka itu memudahkan ia untuk menggandeng adiknya.

Tsubaki dan yang lain memandang Sona dengan sebutir keringat, sepertinya King mereka itu melupakan mereka disini.

"Hah, sebaiknya kita ikuti Kaichou segera, kau juga Reya." Ajak Tsubaki, kemudian ia berjalan mengikuti Sona pergi tadi. Mereka yang melihat itu segera mengikuti langkah Tsubaki.

"Apa pemuda itu benar-benar adik Kaichou ya?" Tanya gadis berambut merah kecoklatan yang nampak memasang pose berpikir.

"Kalian akan mengetahuinya nanti." Balas singkat Tsubaki.

'Hah, tak kusangka Naruto-sama di perbolehkan ke dunia atas mengingat betapa protektifnya Leviathan-sama terhadapnya.' Pikirnya dengan setetes keringat.

- Skip -

OSIS Room

"Apa kamu sudah sarapan?" Tanya Sona lembut pada Naruto yang masih menempel erat padanya.

"Sudah kok." Balas Naruto.

"Begitu, baguslah. Kau mempunyai kebiasaan malas sarapan pagi sejak dulu." Ujar Sona lalu mengelus pelan pipi Naruto. Ia sangat menjaga kebutuhan dan pola hidupnya adiknya itu. Jadi jangan salahkan dia dengan sikap Naruto saat ini karena itu semua berasal dari didikannya bersama dengan Serafall.

"Itukan dulu." Balas Naruto sedikit merajuk lalu melanjutkan kembali bermanja-manja pada kakaknya itu, Sona hanya tersenyum kecil dan mengelus pelan rambutnya.

Di sisi lain, anggota peerage miliknya memandang itu dengan mulut melebar, sangat jarang melihat sikap Kaichou mereka seperti ini.

Terlihat juga salah satu serta satu-satunya anggota laki-laki peerage Sona yang memandang tak suka terhadap Naruto. Lantas ia pun berdiri dan menunjuk kearah Naruto.

"Hei brengsek! Jauhkan dirimu dari Kaichou! Berani sekali kau mengaku sebagi adik-"

Freeze!

Mereka semua kecuali Sona terkejut ketika tiba-tiba saja tubuh pemuda berambut pirang bernama Saji itu membeku seluruhnya.

"Berisik sekali." Mereka tersentak ketika mendengar nada dingin Naruto.

"Iblis rendahan sepertimu berani berbicara seperti itu di depanku?" Ucap Naruto dingin.

Sikapnya yang tadi riang dan manja secara tiba-tiba berubah 180 derajat menjadi datar dan dingin.

Aura dingin yang kian menguat menguar dari tubuhnya membuat ruangan OSIS perlahan membeku, hal itu membuat mereka semua memasang posisi siaga kecuali Tsubaki yang hanya diam dengan setetes keringat di dahinya.

Naruto melepas pelukannya terhadap Sona dan mulai berdiri dan memandang kepada Saji yang saat ini membeku. Ia paling membenci orang yang mengganggu dirinya saat bersama kakaknya, tak peduli siapapun itu. Apalagi jika orang itu tak tahu apa-apa dan asal bicara di hadapannya.

Naruto mengangkat satu tangannya bersiap untuk membunuh Saji tetapi itu di hentikan oleh Sona yang memeluknya dari belakang dan mengelus pipinya.

"Tenanglah, dia hanya belum tahu saja siapa dirimu jadi, maafkan sikapnya oke?" Ujar Sona mencoba menenangkan adiknya itu, ia mengusap pelan pipinya lalu mengecupnya.

Naruto terdiam sesaat sebelum ia menghela nafas pelan, dengan jentikan jari, tubuh Saji yang membeku segera kembali seperti semua begitu juga dengan ruangan OSIS. Ia jatuh terduduk dan langsung di hampiri oleh kedua gadis di belakangnya.

"Kau tidak apa-apa Saji?" Tanya gadis berambut merah kecoklatan.

"Y-Yeah, terima kasih Tomoe, Yura." Ucapnya pada gadis berambut merah kecoklatan yang bernama Meguri dan gadis berambut biru yang bernama Yura. Ia kemudian mencoba berdiri perlahan dan memandang takut pada Naruto.

"Sekarang, ayo kenalkan dirimu pada anggota peerageku, Naru-chan." Ujar Sona yang di balas anggukan pelan olehnya.

"A-Ah, maaf untuk yang tadi. Perkenalkan, namaku adalah Naruto Sitri, anak bungsu dari Lord dan Lady Sitri serta adik dari Serafall Leviathan dan Sona Sitri, salam kenal dan mohon bantuannya, Nee-san sekalian." Ucap Naruto memperkenalkan dirinya ala bangsawan yang di akhiri dengan memberikan senyuman menawan miliknya yang membuat para gadis memerah karena kemanisannya.

"S-Salam kenal juga, Naruto-sama." Balas mereka kecuali Tsubaki secara serempak begitupula Saji yang membungkuk untuk meminta maaf soal tadi akibat sikap kurang ajarnya.

"Jangan dipikirkan, kau hanya belum tahu tadi, dan maafkan aku juga karena berlebihan, senpai." Balas Naruto ramah terhadap Saji yang menghela nafas lega mendengarnya.

"Kau benar-benar belum berubah Naruto-sama." Ujar Tsubaki membuat Naruto melihat kearahnya dan menggaruk pipinya pelan.

"Y-Yah, aku hanya bingung bagaimana berinteraksi dengan orang yang belum pernah kulihat." Balasnya sedikit canggung yang membuat Sona menghela nafas kecil kemudian tersenyum dan mengelus rambutnya.

"Sekarang, giliran kalian untuk memperkenalkan diri." Ucapnya pada peerage miliknya.

"Aku yakin kau pasti mengetahui siapa aku, Naruto-sama." Ujar Tsubaki yang di balas anggukan pelan oleh Naruto yang tersenyum padanya.

"Aku Tomoe Meguri, Knight dari Kaichou." Ucap gadis berambut merah kecoklatan yang menolong Saji tadi.

"Tsubasa Yura, Rook dari Kaichou, salam kenal Naruto-sama." Setelah itu giliran gadis berambut biru yang juga ikut menolong Saji.

"Momo Hanakai, Bishop dari Kaichou." Kali ini terlihat gadis berambut putih yang membungkuk kearahnya.

"Reya Kusaka, Bishop dari Kaichou." Ia melihat Reya yang juga sedikit membungkukkan badan padanya.

"Eto, Ruruko Nimura, Pawn dari Kaichou, salam kenal Naruto-sama." Naruto melihat gadis berambut coklat yang di kepang dua membungkuk kearahnya.

"Sekali lagi aku minta maaf atas sikapku tadi, namaku Genshirou Saji, salam kenal Naruto-sama." Dan kali ini adalah yang terakhir yaitu Saji.

Teng!

Terdengar suara bel yang menggema di seluruh akademi membuat Sona berdehem pelan untuk mendapat perhatian dari anggota peeragenya.

"Karena bel sudah berbunyi, kita akan lanjutkan ini nanti. Untuk sekarang kalian kembalilah ke kelas, dan Tsubaki, lakukan patroli seperti biasa, nanti aku akan menyusul." Ujar Sona.

"Ha'i!" Balas mereka serentak, setelah itu satu persatu mereka keluar dari ruangan hingga menyisakan Naruto dan Sona saja di dalam.

"Patroli?" Tanya Naruto bingung setelah mereka semua keluar dari ruangan.

"Seperti kegiatan pengawasan untuk menemukan murid yang melanggar aturan disini." Jawab Sona, ia lalu berjalan dan menuntun Naruto untuk tiduran di sofa dengan berlandaskan pahanya sebagai bantal.

Naruto sendiri nampak menikmati perlakuan Sona yang mengusap kepalanya dengan lembut. Ia memejamkan matanya untuk menikmati lebih dalam sensasi nyaman ini. Melihat reaksinya Sona membentuk senyum lembut, ia merindukan kegiatan seperti ini bersama adiknya.

"Bagaimana kabarmu?" Tanyanya.

"Hmm, seperti biasa." Balas Naruto seadanya membuat Sona menghela nafas.

"Seperti biasa yang bagaimana hm?" Tanyanya kembali.

"Y-Yah, seperti Sera-nee yang selalu memelukku, Tou-san yang sering membuat marah Kaa-san, Sirzechs-sama yang sering lari dari tugasnya hingga mendapat omelan dari Grayfia-nee dan para gadis bangsawan yang selalu mencoba mendekatiku." Ucapnya sambil menggaruk pipinya pelan karena mengingat hal tersebut.

Di sisi lain Sona yang mendengarnya hanya menghela nafas kembali dan memasang senyum khas yang hanya ia tunjukkan pada Naruto dan keluarganya. Terkadang, menjadi terkenal itu cukup merepotkan, apalagi adiknya itu penyandang gelar iblis muda terkuat sepanjang sejarah yang tentunya membuat pilar keluarga lain gencar untuk menjodohkan mereka dengan adiknya.

"Begitu, kamu pasti kerepotan." Katanya masih dengan mengelus pelan rambut adiknya.

"Y-Ya, tidak terlalu sih, karena ada Sera-nee juga yang selalu menemaniku." Balasnya membuat Sona mengangguk paham.

"Beberapa bulan tidak melihatmu, sepertinya kamu sudah berubah ya." Ujar Sona memandang Naruto dengan senyuman kecil membuat pemuda itu menatapnya.

"Berubah?" Tanyanya bingung.

"Seperti dirimu yang bertambah manja ini." Jelas gadis itu dengan memberikan senyuman menggoda pada adiknya yang membuat pemuda itu sedikit malu.

"T-Tidak salah bukan jika seorang adik manja pada kakaknya sendiri?" Ucap Naruto yang menyembunyikan wajahnya dengan menenggelamkannya pada perut langsing Sona.

"Ufufu, aku hanya bercanda. Tentu saja kamu boleh bermanja-manja padaku kapanpun kamu mau kok. Lagipula mana mungkin aku menolak adik kecil yang imut sepertimu." Balas Sona yang kemudian memeluk Naruto erat.

Naruto hanya diam saja karena ia masih sedikit malu, dan membiarkan Sona memeluk dirinya erat.

Sona tersenyum kecil melihat sikap adiknya, ia kemudian mengalihkan pandangannya pada jam yang terpajang di dinding ruangan.

"Saa, lebih baik sekarang kita pergi. Karena Nee-chan setelah ini akan berpatroli, maka sebaiknya kamu menunggu di ruangan'nya' saja." Ujar Sona lalu melepas pelukannya dan berdiri membuat Naruto menatapnya.

"Eh? Pergi kemana?"

"Kamu akan tahu nanti." Balasnya dengan mengedipkan sebelah mata.

"A-Ah, aku mengerti." Pemuda itu lalu mengangguk pelan. Kemudian mereka berdua keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju tempat yang dituju dengan Sona yang menggandeng lengan adiknya itu.

.

Setelah beberapa saat, akhirnya kedua kakak dan adik itu sampai di tempat yang terdapat sebuah bangunan tua yang memiliki tampilan sedikit ala eropa yang letaknya tak jauh dari akademi.

Desainnya yang seperti itu tentu saja membuat pemuda Sitri tersebut merinding karena memikirkan bagaimana jika ada makhluk jadi-jadian yang bernama hantu di sana.

Sona hanya terkekeh pelan melihat reaksinya, ia kemudian menepuk pelan pipi adiknya.

"Tak perlu takut, tidak ada apa-apa kok di dalam." Katanya mencoba menenangkan Naruto yang sedikit gelisah.

"B-Benarkah?"

"Iyaa. Geez, sepertinya sifat penakutmu itu belum sembuh juga ya." Ucap Sona sembari menarik lembut kedua pipi adiknya.

"H-Hwabisnya mau gwimanwa lagwi."

"Ufufu, iyaiya Nee-chan paham, kalau begitu ayo kita kedalam." Ucapnya lalu melangkah ke dalam bangunan tua tersebut dengan memeluk lengan adiknya.

"T-Tunggu-"

Belum sempat ia berkata, kakaknya itu terlanjur menariknya kedalam gedung tersebut dan tentunya membuat ia secara reflek memeluk lengan Sona erat sebagai perlindungan. Sona terkekeh kecil dan terus melangkah ke dalam.

.

Naruto memandang sekitar dengan pandangan heran, perbedaan bangunan ini antara luar dan dalamnya ternyata sangat berbeda 180 derajat. Jika dari luar bangunan ini terlihat tua dan tidak terawat, maka di dalamnya adalah kebalikan dari hal tersebut. Di dalam bangunan itu malah sangat bersih dan rapi serta desain ruangannya yang berbau eropa.

Mereka akhirnya tiba di sebuah ruangan yang terdapat pintu. Sona segera menghampiri pintu tersebut dan mengetuknya pelan.

Tok! Tok!

"Ha'i, silahkan masuk!"

Naruto tersentak ketika mendengar balasan dari dalam, Sona sendiri hanya tersenyum kecil melihatnya.

"Dengar kan? Tidak ada hantu disini." Ucapnya, membuat Naruto mendengus pelan dan mendapat balasan tawa kecil dari sang kakak.

Kriet!

"Ara ara, tidak biasanya Kaichou berkunjung kema-Ara?" Nampak gadis berambut hitam yang bermodel rambut di ikat kuda itu menghentikan kalimatnya ketika melihat ternyata sang Kaichou tidak datang sendiri.

"Sona kah? Tak biasanya kau kemari." Ucap seorang gadis berambut merah panjang yang duduk di sebuah kursi dilengkapi dengan meja di depannya.

"Maaf mengganggu Rias, aku hanya ingin menitipkan dia di ruangan klubmu sampai pulang sekolah nanti. Hora, Naru-chan." Balas Sona lalu memerintahkan Naruto agar masuk yang sedari tadi menunggu di luar karena tak berani ke dalam.

"I-Iya."

"Are?" Beo Rias dan gadis berambut hitam itu melihat siapa yang datang.

"Huh? Ria-nee? Ake-nee?" Naruto memiringkan kepalanya ketika melihat sosok yang dikenalnya.

"Ahh~, Naru-kun, kau datang karena ingin menemuiku bukan~?" Gadis berambut hitam itu dengan cepat bergerak kearah Naruto dengan merentangkan tangannya bersiap memeluk pemuda itu.

"Berhenti sampai di situ, Akeno." Ujar datar Sona dengan menggenggam kerah baju Akeno erat. Akeno sendiri masih merentangkan tangannya pada pemuda itu yang hanya di tatap Naruto dengan sebutir keringat di dahinya.

"Ara, protektif seperti biasa nee, Sona." Balas Akeno yang ternyata gadis bergaya rambut ikat kuda tersebut.

Pluk!

"Muu~, kenapa tak bilang padaku jika ingin berkunjung kemari, Na-kun~?" Ucap Rias yang dengan kecepatan kilat sudah memeluk pemuda itu erat dan menenggelamkan wajahnya pada dada besarnya.

"R..Ria-nee...a..aku tak bisa...be...bernafas..." Naruto mengucapkan itu dengan susah payah karena Rias memeluknya terlalu erat.

Sona melihat Rias dengan tajam karena kelakuan sahabatnya itu yang dengan seenak jidatnya memeluk adik imutnya.

Sret!

"Jauhkan gumpalan lemakmu itu dari adikku baka-Rias!" Ucap Sona dengan kesal, gadis itu melepaskan Akeno dan berjalan kearah Rias yang masih memeluk adiknya kemudian memisahkan mereka berdua membuat Rias cemberut.

"Kamu tak apa-apa?" Tanya Sona dengan nada khawatir sambil memeriksa wajah Naruto.

Rias yang melihat sifat overprotektif Sona hanya mendengus pelan, begitu pula Akeno yang hanya tertawa kecil.

"Kau terlalu berlebihan Sona." Ucapnya dengan malas tetapi hanya di acuhkan oleh sahabatnya itu.

"Hah, lupakan hal barusan, duduklah." Rias lalu duduk di sofa yang ada pada ruangan itu di ikuti Akeno yang juga duduk di sampingnya. Melihat itu Sona juga segera duduk bersama dengan Naruto.

"Jadi? Bisa kau ceritakan padaku? Kita semua tahu bukan Na-kun tak di perbolehkan ke dunia atas?" Ujarnya yang membuat Sona menghela nafas kecil.

"Sebenarnya, minggu lalu Tou-san dan Kaa-san sudah memutuskan untuk menyekolahkan Naru-chan di dunia atas, itu juga setelah membujuk Nee-sama dengan susah payah." Jawabnya.

Rias mengangguk pelan, "Begitu, aku mengerti. Jadi, ada hal apa kau datang kemari? Ahh~, apa jangan-jangan kau ingin memberikan Na-kun padaku ya~? Jika benar seperti itu~, maka dengan senang hati aku menerima-"

"Tentu saja hal itu tak akan kulakukan." Sela Sona datar.

"Dan menjauhlah darinya Akeno." Tambah Sona yang menahan lengan Akeno saat berusaha memeluk Naruto, entah sejak kapan gadis itu bergerak.

"Ara ara ufufu~" Akeno hanya membalas itu dengan tawa khas miliknya.

Sona kemudian menghela nafas kembali dan mulai menjelaskan maksud kedatangannya.

"Aku hanya ingin menitipkan Naru-chan di ruanganmu hingga pulang sekolah nanti, karena hari ini aku harus berpatroli. Jika ia tetap berada di ruang OSIS, aku takut jika ada guru yang melihatnya walau Tou-san sudah mendaftarkannya ." Jelasnya yang membuat Rias mengangguk.

"Hmm, aku tak masalah dengan itu. Lagipula~, jika kau ingin menitipkan Na-kun padaku selamanya pun tak masalah-"

"Tentu saja itu mana mungkin kulakukan." Rias hanya cemberut ketika Sona kembali menyelanya.

"Kalau begitu aku akan pergi berpatroli, maaf jika merepotkanmu, dan Naru-chan, tetaplah disini sampai Nee-chan menjemputmu kembali, oke?" Ucap Sona sambil memegang pipi adiknya lalu mengecupnya, ia tersenyum ketika mendapat anggukan dari sang empu.

Setelah itu Sona berdiri dan berjalan untuk keluar dari ruangan dengan melambaikan tangannya kecil pada Naruto.

"Saate-"

Grep!

"Ufufu, kini giliranku untuk memelukmu Naru-kun~"

"Sudahlah Akeno, lepaskan Na-kun. Kau juga harus kembali ke kelas bukan?" Ujar Rias begitu melihat Akeno memeluk erat lengan pemuda Sitri tersebut. Naruto hanya berkeringat ketika menyaksikan tingkah ratu Rias itu.

"Ufufu, kau tidak seru Buchou." Balasnya yang di balas helaan nafas oleh gadis berambut merah panjang itu.

"Kalau begitu aku akan pergi duluan Buchou, dah Naru-kun~" Akeno lalu pamit pada mereka berdua sambil memberikan kedipan mata pada pemuda itu dan meniupkan ciuman padanya.

"Y-Yah, Ake-nee sedari dulu memang belum berubah. Ia selalu saja menggodaku walau tahu Nee-chan pasti akan menghentikannya." Ucap Naruto memandang kepergian Akeno dengan tatapan sedikit sweatdrop.

"Ufufu, begitulah. Maa, beberapa menit lagi juga aku harus kembali ke kelas. Mumpung aku masih berada disini, mungkin aku bisa memberimu sesuatu agar tidak bosan." Ujar Rias lalu berjalan menuju lemari yang ada di sudut ruangan.

"Sesuatu?" Tanya Naruto.

"Hum, kamu pasti akan menyukainya." Angguk Rias sambil mengirimkan Naruto sebuah kedipan mata yang lagi-lagi membuat pemuda itu mengeluarkan sebutir keringat karena tingkahnya.

'Ria-nee juga masih tetap seperti ini. Hah~, aku heran kenapa mereka begitu ingin dekat sekali denganku.' Pikir Naruto lelah, ia terkadang begitu heran dengan tingkah gadis di sekitarnya.

Tidak Rias, tidak Akeno dan tidak juga gadis bangsawan lainnya di dunia bawah, selalu saja seperti itu jika sedang bersamanya. Mungkin jika Serafall dan Sona ia tidak terlalu ambil pusing karena mereka berdua adalah kakaknya, lagipula ia sendiri sering bermanja-manja pada kedua kakaknya itu.

Tetapi ia sendiri sedikit memahami mengapa Rias dan Akeno seperti itu padanya, karena yah mereka berdua itu teman masa kecil dari kakaknya, Sona. Jadi, sedari kecil dulu ia memang sudah dekat dengan sahabat kakaknya itu dan mereka juga sudah seperti itu padanya sejak dulu yang bahkan ia sendiri tidak tahu sudah berapa kali kakaknya marah terhadap mereka berdua karena mencoba mendekati dirinya.

Sret!

Naruto lalu tersadar dari pikirannya ketika Rias kembali duduk di depannya dan meletakkan beberapa benda di atas meja yang ada di depan mereka.

Ia melihat apa saja benda-benda tersebut dan seketika itu pula dirinya kembali sweatdrop. Lihat saja, puluhan komik, manga dan dvd anime terpampang jelas di hadapannya.

'A-Ah, aku lupa jika Ria-nee itu otaku.' Pikirnya sambil tersenyum canggung. Masih jelas di ingatannya dahulu ketika Rias memaksanya untuk menonton anime yang selalu di hentikan oleh Sona.

"Ada apa?" Tanyanya ketika melihat reaksi Naruto. Pemuda itu sontak gelapapan ketika ditanyai oleh sang gadis.

"A-Ah tidak ada apa-apa."

Rias lalu berdiri kembali dan menuju ke dapur untuk mengambil beberapa camilan yang ia miliki kemudian ia letakkan di atas meja.

"Maaf jika hanya ada ini saja." Ucap Rias membuat Naruto tersentak pelan.

"A-Ah tidak perlu meminta maaf! Aku yang harusnya minta maaf karena sudah merepotkan Ria-nee." Sergah Naruto sambil menggerakan tangannya berusaha menghentikan Rias dari menyalahkan dirinya sendiri.

"Ufufu iyaiya tak apa kok, lagipula mana mungkin kamu menyusahkanku." Balas Rias tersenyum kecil melihat tingkah pemuda itu, masih lucu seperti biasa. Hah, andaikan pemuda yang menjadi adik Sona itu seumuran dengannya maka ia yakin jika dirinya akan jatuh hati padanya. Sayangnya ia hanya menganggap pemuda itu sebagai adiknya, terkadang ia sedikit iri pada Sona karena mempunyai adik seperti Naruto.

Ia lalu berjalan kemeja tempatnya duduk tadi lalu mulai mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda akibat kedatangan kakak beradik Sitri itu.

"Ngomong-ngomong Ria-nee, apa yang lain juga berada di sini?" Tanya Naruto sembari memakan cemilan Rias serta melihat-lihat ke sekitar ruangan.

"Hmm, yang lain? Ah maksudmu peerageku?"

"Uhm."

"Mereka semua sedang berada di kelas sekarang. Ah aku juga baru saja mendapatkan 2 anggota baru loh." Ujar Rias lalu menghentikan pekerjaannya kemudian berjalan kearah Naruto lalu duduk di depannya.

"Ehh? Benarkah? Bukankah dulu hanya Koneko-chan, Kiba-san dan Gasper?" Balas Naruto memandang gadis itu.

"Memang, aku baru saja mendapatkan mereka beberapa hari yang lalu, dan salah satunya adalah pemegang [Boosted Gear] dan yang satu pemegang sacred gear penyembuh. Yah, walaupun sifat dari pengguna longinus itu cabul." Jelas Rias yang juga ikut memakan camilan di depannya.

Naruto mengangguk mengerti, "Begitu, kalau begitu aku ucapkan selamat pada Ria-nee." Ucap Naruto memberikan gadis itu sebuah senyuman khas miliknya yang membuat Rias terdiam, lalu tiba-tiba saja ia memeluk erat wajah pemuda itu.

"Ufufu, terima kasih~. Kau memang baik seperti biasanya, aku sangat iri pada Sona kau tahu?" Ujar Rias padanya yang membuat Naruto sedikit canggung karena pelukan tiba-tiba itu dan ucapannya.

Rias lalu melepaskan pelukannya dan memandang jam di dinding. Ia kemudian berdiri dan berjalan menuju pintu.

"Kalau begitu aku juga akan kembali ke kelas dulu, kau disini saja yang betah oke~? Ohya, jika ingin menonton dvd itu kamu tinggal masuk saja ke kamarku, mengerti~?" Ucapan Rias di balas anggukan paham oleh pemuda itu karena ia sedang mengunyah. Rias tersenyum melihat balasannya, ia lalu pergi sambil melambaikan tangannya.

Kini, di ruangan klub itu hanya tersisa Naruto seorang diri saja. Ia kemudian menghela nafas lelah dan memutuskan untuk merebahkan dirinya di sofa panjang itu.

"Hah, aku sendirian lagi." Ucapnya sembari cemberut dan memandang langit-langit ruangan.

"Jika aku pergi berjalan-jalan di sekitar sekolah aku yakin pasti akan membuat keributan dan Nee-chan pasti akan memarahiku." Gumamnya.

Ia kemudian mendudukkan dirinya dan mengambil salah satu dvd yang di berikan Rias padanya.

'Dvd kah...'

'Err, Kiss x Sis? Yosuga no Sora?'

Setelah lama menimbang-nimbang, ia akhirnya memutuskan untuk menonton semua dvd itu di kamar Rias.

"P-Permisi." Ucapnya ketika memasuki kamar Rias.

'Jadi ini kamar Ria-nee, cukup rapih kurasa. Suhunya juga sangat membuat nyaman siapapun yang masuk.'

Ia lalu melihat sebuah TV LED berukuran cukup besar disana serta berbagai peralatan elektronik lainnya. Matanya menangkap pada sebuah perangkat yang biasanya digunakan untuk memutar dvd, ia kemudian duduk di pinggiran kasur queen-size milik Rias.

"Err, ini alat untuk menggunakannya bukan?" Ia lalu mengingat-ngingat kembali dulu ketika dirinya dipaksa menonton anime oleh gadis itu.

Pemuda itu kemudian memutuskan untuk menonton anime yang berjudul Yosuga no Sora terlebih dahulu tanpa mengetahui apa yang akan ia lihat kedepannya.

Ting!

Ia menyalakan alat itu sekaligus juga dengan TV di depannya, ia lalu mengambil beberapa jarak dari TV itu, karena Serafall selalu mengingatkannya agar jangan terlalu dekat ketika menonton sebuah TV.

Beberapa menit telah terlewati sekaligus juga beberapa episode yang sudah ia tonton. Tetapi lama kelamaan ia sedikit merona ketika menyaksikan anime yang sedang di setelnya itu, rona di wajahnya semakin merah bahkan uap mulai muncul di telinganya ketika menyaksikan adegan tak senonoh yang disajikan anime itu.

Ia kemudian mengambil bantal dan menenggelamkan wajahnya yang memerah pada bantal itu.

"WAHH! ANIME APA INI!?"

.

Sementara itu di suatu kelas, terlihat Rias yang tersenyum jahil memikirkan reaksi Naruto saat menonton dvd anime yang di berikan olehnya.

'Ufufu, aku penasaran bagaimana reaksinya, ahh~ aku yakin itu pasti sangat lucu~' Pikirnya dengan rona merah di pipinya saat membayangkan itu.

And cut...

.

TBC

.

Note :

Yah, gimana kabar kalian semua? Gua harap baik-baik aja sih ya wkwk dan seperti biasa gua selalu update fict lebih dari 2/3 bulan.

Gimana ya, selain males dan stuck ide, gua juga ada kesibukan laen di RL. Terlebih bulan-bulan kemaren itu bener-bener sibuk gua, mau lanjutin fict juga otak blank wkwk.

Dan untuk situasi sekarang..., Err gua harap sih kalian baik-baik aja dan selalu jaga diri dan kesehatan kalian dengan baik, tau sendiri kan sekarang negeri kita ini lagi kayak gimana? Dan untuk kebaikan diri sendiri & orang lain, stay home aja :v wkwk. Malah UN & Ujikom di tiadakan lagi wkwk, kayaknya angkatan gua paling nyesek & riweh nih anjir lah :v.

Kita doakan supaya mereka yang terjangkit virus corona semoga di sembuhkan, dan juga kita yang tidak kena semoga di hindarkan. Apalagi sekarang mau bulan puasa kan ya.

Dan gua juga ucapin terima kasih sama orang yang udah baca dan nunggu fict gua ini atau yang lainnya, jujur ga nyangka gua bisa tembus 100 foll/favs dalam satu chapter gitu. Dan untuk update, tenang aja, kalo udah selesai juga bakal gua publish, tergantung ide ngalir aja. Untuk kali ini gua ga bahas review dulu, sorry wkwk.

Oke, segitu dulu, jangan lupa selalu jaga kesehatan!...

Adios...