.
.
Disclaimer :
Naruto © Masashi Kishimoto
Highschool DxD © Ichiei Ishibumi
.
Rating : M (Just for save)
Genre's : Adventure, Supernatural, Half-Humor, Fantasy, Little bit-Romance, etc...,
Pair : Naruto x Moka
Warn : Always Mainstream idea!, Many more typo, alur acak!, OC Chara, OOC Chara, bad EYD, bahasa kaku dsb, and etc...,
Devil!Naru, OverPower!Naru, IceUser!Naru
.
Chap 4 : A Mysterious Girl
.
Beberapa hari telah berlalu sejak bergabungnya Naruto di akademi Kuoh yang tentunya mendapat sambutan menarik yang sebagian besar berasal dari kaum hawa karena wajah tampan dan manisnya, terlebih lagi posisinya sebagai adik dari Sona yang menambah kepopulerannya.
Dan dibeberapa hari itulah Naruto harus melalui hari-hari yang melelahkan karena para gadis di kelasnya hampir setiap hari mencoba mendekatinya dan menghujaninya dengan berbagai macam pertanyaan serta permintaan.
Untungnya, ada Koneko yang selalu menolongnya dengan menyeretnya pergi dari kerumunan gadis di kelasnya dan ia sangat berterima kasih karena itu. Karena sepertinya, baik gadis dunia bawah maupun dunia atas, tak berbeda jauh.
Diantara mereka juga bahkan ada yang secara terang-terangan menyatakan cintanya yang hanya untuk mendapat tatapan tajam dari Koneko dan hal itu membuatnya hanya bisa tersenyum kaku.
Jika respon Koneko saja seperti itu, ia tak bisa menebak bagaimana jika Serafall sendiri yang mendengarnya. Karena bisa dibilang, terhadap masalah seperti 'ini'. Kakaknya itu agak sedikit err...entah bagaimana menyebutkannya, dan itu bahkan membuat ibunya hanya memijit kening melihat putri tertuanya tersebut.
Dan sekarang, di waktu istirahat. Seperti hari-hari sebelumnya, banyak siswi di kelasnya menghampiri mejanya dan mengajaknya untuk makan bersama.
"Ayolah Naruto-kun! Ikutlah bersama kami! Hanya sebentar saja kok! Please~." Salah dari mereka memohon dengan memasang wajah manis dan penuh harap yang membuat Naruto tersenyum canggung. Sungguh, ia bingung untuk berkata apa saat ini.
"Tidak! Jangan ikut dengannya! Ikut denganku saja! Kau pasti akan lebih puas jika bersamaku!" Teman gadis disebelahnya terlihat menyela.
"A-Apa katamu?!" Dan inilah respon sebaliknya yang pada akhirnya gadis di sekitarnya saling bertengkar, menentukan siapa yang pantas makan siang bersamanya.
"A-Ah..." Naruto ingin mencoba menghentikan mereka, tetapi entah kenapa kata-kata sangat sulit terucap dari bibirnya.
Sret!
Naruto tersentak kecil saat merasakan tangan mungil sekaligus lembut menarik tangannya dan menyeretnya keluar dari kelas. Siswi-siswi yang sedang ribut nampaknya tak menyadari jika pemuda yang menjadi incaran mereka sudah hilang dari tempatnya.
.
"Hah." Naruto terlihat membuang napas lega setelah lepas dari situasi tersebut. Iris violetnya memandang kearah samping, pada seorang gadis berambut putih yang memiliki tinggi sepantaran dengannya. Yap, dia adalah Koneko, gadis yang menarik tangannya di kelas tadi.
"Terima kasih untuk tadi, Koneko-chan." Naruto memberinya senyuman membuat gadis itu sedikit tersipu dan mengalihkan pandangannya.
"T-Tidak masalah." Koneko membalas dengan tergagap pelan, sial. Mengapa hanya melihat senyumannya saja dapat membuatnya seperti ini?! Tanpa diketahui pemuda Sitri itu, Koneko sedikit mencubit lengannya dengan kuat agar menghilangkan rasa gugupnya.
"Entah sampai kapan mereka akan seperti itu padaku." Dengan lemas Naruto berkata. Ini sudah kesekian kalinya terjadi, dan dirinya masih belum bisa mengatasi itu.
Sebenarnya mudah saja untuk menolak ajakannya, tetapi ia takut mereka akan kecewa atau marah padanya. Jadi, ia sedikit bingung dan ragu untuk membalas mereka.
Koneko menoleh kearahnya, "Jika begitu, bukankah kau bisa menolaknya dengan sopan?" Tanyanya, yang entah kenapa sedikit terdengar nada tak suka dalam perkataannya yang sayangnya tidak disadari pemuda Sitri tersebut.
"A-Aku takut membuat mereka kecewa." Naruto menggaruk pipinya gugup, sedari dulu ia selalu diajarkan untuk menghormati dan menghargai orang lain. Jadi, ia sangat hati-hati bertindak agar tidak membuat kecewa seseorang padanya, apalagi terhadap kedua kakaknya.
Diam adalah reaksi Koneko setelah mendengar itu, memang pemuda disebelahnya ini terkenal dengan sifat sopan serta lembut miliknya, dan hal itulah banyak yang menyebabkan para gadis di dunia bawah jatuh hati padanya.
Akan tetapi, sifat inilah yang menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Karena itu membuat dirinya kesulitan untuk menolak permintaan orang lain padanya. Bahkan jika itu hanya permintaan kecil saja, pemuda itu akan sangat menghargainya agar tak membuat kecewa orang tersebut.
Sepengetahuan dirinya, Naruto saat di dunia bawah selalu ditemani oleh Serafall. Jadi, kemungkinan Serafall lah yang sebagian besar berbicara untuk adiknya tersebut, mengingat betapa protektifnya Maou Leviathan terhadapnya. Bahkan ia pernah mendengar dari Rias jika Serafall pernah hampir membekukan salah satu bangunan di dunia bawah saat mendengar ada gadis yang mencium pipi adiknya.
Diperlukan ketiga Maou lainnya untuk menghentikan amukan Serafall saat itu. Selepas kejadian, terbentuklah peraturan baru tak tertulis di dunia bawah, yaitu jangan mendekati Naruto saat Serafall berada di dekatnya.
Gadis kucing itu kemudian menoleh kearah pemuda tersebut, "Naruto-sama, tak masalah jika kau sesekali menolak permintaan mereka. Lagipula mereka semua tak akan kecewa hanya karena hal itu." Koneko berkata dengan nada datar seperti biasanya.
"Eh? Benarkah?" Naruto memiringkan kepalanya.
Koneko mengangguk singkat, "Lagipula mereka bertemu denganmu setiap hari di sekolah, jadi mereka pasti akan mencobanya di kesempatan berikutnya."
Naruto mengangguk pelan, "Oh begitu. Jika seperti itu, mungkin selanjutnya aku akan menolak mereka dengan sopan. Terima kasih, Koneko-chan." Naruto kembali memberikan senyuman pada gadis kucing itu yang membuatnya kembali tersipu.
"S-Sama-sama." Balasnya pelan dengan pipi memerah.
Setelah beberapa saat berjalan di koridor, akhirnya mereka berhenti setelah menemui pertigaan.
"Kalau begitu kita berpisah disini, Onee-chan memintaku untuk pergi keruangannya saat istirahat, dah Koneko-chan!" Naruto melambaikan tangannya dengan ceria sambil berjalan menjauh dari gadis itu.
Koneko balas melambai pelan, masih dengan pipi yang sedikit memerah. Sebelum ia membuang nafas kecil, dan memutuskan untuk pergi ke kantin.
.
Sesampainya di depan ruangan OSIS, Naruto mengetuk pelan pintu di depannya dan diam untuk menunggu jawaban. Tetapi, setelah beberapa saat melakukan hal itu, dirinya tak kunjung mendapat balasan. Akhirnya ia memutuskan untuk membuka pintu itu.
Kriet
"Onee-chan?"
Di dalam, ia dapat melihat kakaknya sedang berbicara dengan gadis berambut pink panjang. Keduanya mengalihkan pandangan mereka padanya setelah mendengar pintu terbuka. Satu pertanyaan terlintas di benaknya, siapa gadis ini?
Sebelumnya
Sona hanya bisa menghela nafas lelah setelah mendengar alasan dari siswi di hadapannya ini. Seorang siswi cantik berpakaian akademi Kuoh, berambut pink panjang tergerai, serta memiliki iris merah darah yang membuatnya semakin terlihat mempesona.
"Aku tau jika dirimu itu pintar, Akashiya-san. Tetapi cobalah untuk tidak bolos di bulan ini. Kau sudah membolos sekitar 15x di bulan sebelumnya." Sona memijit keningnya pelan sambil membaca dokumen di tangannya.
Sedangkan, lawan bicaranya sendiri hanya memejamkan matanya dengan malas. Dirinya sudah terbiasa di panggil keruangan OSIS karena hal ini, dan ia tetap tak peduli akan hal itu.
"Aku hanya mengikuti kemana kakiku melangkah." Balasnya acuh tak acuh.
Dan Sona hanya memandangnya dengan keringat di dahi, sungguh ia bingung untuk dengan apa lagi mengurus siswi di depannya. Laporan dari para guru tentangnya selalu aja ada, dan itu membuatnya lelah untuk menanggapi.
Ketika ingin membalas ucapannya, suara pintu terbuka memotong itu semua. Mereka berdua dengan reflek alami segera menatap kepada seseorang yang membuka pintu tersebut.
Sekarang
"Onee-chan?"
Sona sedikit tersentak saat melihat Naruto yang melihatnya sambil memiringkan kepalanya. 'Aku lupa jika lagi tadi aku menyuruhnya kemari.' Pikirnya.
"Maaf jika aku tak mendengarmu tadi Naru-chan, masuklah." Ujar Sona dengan senyuman lembut.
"U-Umm." Naruto mengangguk pelan dan berjalan menuju sofa yang ada disana.
Sementara itu, gadis berambut pink yang menjadi lawan bicara Sona nampak menajamkan pandangannya setelah melihat Naruto tanpa diketahui kedua bersaudara itu.
Iris violet Sona lalu kembali pada gadis pink di depannya, "Intinya, aku memanggilmu untuk memberitahukan hal itu saja, Akashiya-san. Selanjutnya itu akan terserah pada dirimu. Karena urusan kita sudah selesai, kau boleh kembali." Sona meletakkan dokumen tersebut pada map dan merapihkannya.
Gadis yang dimaksud oleh Sona hanya memutar matanya kembali, "Aku akan mengingatnya." Ia membalas dengan singkat lalu memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut.
Tetapi, sesaat sebelum tangannya membuka pintu. Iris merahnya terlihat bersinar rendah saat menatap Naruto yang saat ini berbicara dengan Sona yang menepuk rambutnya lembut.
'Jadi dia adalah Naruto Sitri? Ufufu, Prince of Underworld ternyata lebih tampan dan imut dari yang di rumorkan. Aku tak heran jika banyak kalangan perempuan yang ingin memilikinya.' Iris merahnya masih memandang lekat Naruto.
Sudut bibirnya kemudian terangkat, di ikuti sebuah taring kecil yang muncul dari bibirnya. Membuatnya menjadi kian cantik, elegan, dan menakutkan disaat yang bersamaan.
'Tunggulah Naruto-kun, saat waktunya tiba. Aku akan menjadikanmu sebagai milikku, dan kau tak akan menolaknya~.' Iris merahnya semakin bersinar sesaat sebelum kembali seperti semula. Setelah itu ia akhirnya pergi dari ruangan tersebut meninggalkan kedua Sitri di dalam.
Dengan Sona dan Naruto. Mereka terlihat mengobrol kecil dan Sona sendiri hanya memasang senyum mendengar itu. Dirinya senang karena adiknya bisa beradaptasi di dunia manusia dengan baik. Beberapa saat kemudian, ia bangkit dan mengambil dua buah bento yang ia buat tadi pagi.
Memiringkan kepalanya, "Bento?" Naruto berkata dengan penuh tanya pada kakak keduanya itu.
"Kapan Nee-chan membuatnya?" Tambahnya sambil menatap Sona dengan iris violetnya.
Sona tersenyum lembut, "Saat kamu masih tidur tadi pagi." Jawabnya yang dibalas dengan 'O' dari pemuda itu. Mereka lalu memutuskan untuk menikmati istirahat di ruangan OSIS sambil sesekali mengobrol yang sebagian besarnya adalah Naruto, sedangkan Sona hanya tersenyum dan merespon dengan lembut.
.
Di tempat lain, tepatnya di koridor sekolah. Rias dan Akeno terlihat berjalan berdampingan. Di setiap langkah mereka, banyak siswi yang meneriaki dan mengagumi keduanya. Tetapi respon dari Rias hanyalah menghela napas kecil sedangkan Akeno tertawa kecil.
"Ngomong-ngomong Akeno, kau membawa itu kan?" Rias menoleh pada sahabatnya yang ikut memandang kearahnya.
"Ara, apa maksudmu bento? Ufufu, tentu. Aku membawanya sesuai permintaanmu." Balasnya dengan nada seperti biasanya yang membuat banyak murid laki-laki di sana terpesona oleh senyumannya.
"Bagus, kita akan memakan itu di ruangan Sona. Aku yakin dia saat ini sedang bersama Na-kun disana." Ucapnya dengan nada yang terlihat senang tetapi disertai helaan kecil di akhir.
"Ufufu, mengingat betapa populernya Naru-kun saat ini. Mungkin wajar saja jika Kaichou semakin protektif padanya." Akeno membalasnya dengan lembut.
Well, kepopuleran Naruto bahkan melebihi mereka sendiri saat ini, yang dikatakan sebagai Great Onee-sama. Jika dipikir lebih lanjut, memang sudah sewajarnya popularitas Naruto melebihi mereka. Karena Akademi Kuoh dulunya adalah sekolah khusus perempuan, tentu saja mayoritas murid perempuan masih melebihi dari murid laki-laki. Dan hal itulah yang mungkin mempengaruhi kepopuleran Naruto saat ini.
Sangat jarang menemukan siswa tampan di Akademi Kuoh. Karena kebanyakan dari murid laki-laki yang ada, hanya bergabung karena mayoritas disini merupakan perempuan. Jadi, tentu saja niat mereka bergabung sudah jelas. Satu-satunya murid laki-laki yang di sukai dan hormati para gadis sebelum kedatangan Naruto adalah Yuuto Kiba, yang merupakan Knight Rias sendiri. Sisanya, kemungkinan besar para laki-laki hanya bisa mengutuk Kiba dari jauh.
Saat kedatangan Naruto pertama kali pun, sebagian besar para siswa mengutuknya karena berwajah tampan, tetapi mereka harus menahan kutukan itu bulat-bulat karena ada konsekuensi dari hal tersebut.
Apa? Tentu saja sudah jelas, dengan posisi Naruto yang diketahui merupakan adik kandung dari Ketua OSIS Akademi Kuoh, terlebih lagi kedekatannya bersama Rias dan anggota klubnya yang diketahui baru-baru ini. Membuat mereka hanya bisa diam, mengapa? Jika mereka melakukan hal itu, sudah jelas jika seluruh gadis disini akan membencimu.
Mereka berdua terlihat berjalan dan menghiraukan tatapan penuh kagum yang diarahkan murid lain. Akeno berjalan dengan senyuman yang selalu terpatri di wajahnya. Berbeda dengan Rias yang hanya menatap kedepan serta sesekali menghela napasnya entah karena apa, dan hal itu tak luput dari perhatian Akeno.
Akhirnya, Akeno memutuskan membuka mulut setelah beberapa saat. "Apa kau memikirkan hal itu?" Tebaknya membuat Rias menoleh pada ratunya.
Respon dari pewaris Gremory tersebut hanya beruba anggukan dan desahan lelah. Ia terlihat memijit keningnya sesaat untuk mengembalikan ketenangannya.
"Para Tetua itu masih saja bersikeras untuk menjodohkanku dengan dalih menjaga keturunan murni. Cih, mereka pikir siapa mereka sampai mengatur kehidupan asmaraku." Rias berujar dengan nada penuh kekesalan dan kebencian.
Perjodohan inilah yang selalu mengganggu pikirannya sejak lama, dirinya bahkan sedikit kesal karena kakaknya tak bisa membantunya. Ia juga marah pada kedua orang tuanya karena menyetujui ini tanpa bertanya kepadanya terlebih dahulu.
"Lagipula tak ada yang cukup sudi untuk menikahi iblis menjijikkan seperti Raiser Phenex di Underworld." Tambahnya dengan sinis yang membuat Akeno terkekeh pelan.
"Yah, mengingat saat ini hampir semua gadis di Underworld lebih mengincar Naru-kun daripada ayam itu, ufufu." Ucapan Akeno ini hanya dibalas helaan napas kembali oleh Rias
"Berbicara tentang perjodohanmu, apa Naru-kun masih belum mengetahui ini?" Rias melirik Akeno sesaat lalu kembali memandang kedepan dan menggeleng pelan. Iris blue-green miliknya sedikit memancarkan aura keseriusan untuk beberapa saat.
"Belum, keluarga kami masih sepakat untuk menutupinya. Kau pasti tau apa yang akan terjadi jika Na-kun mengetahuinya bukan?" Ucapan yang terdengar sedikit serius yang keluar dari bibirnya membuat Akeno terdiam sesaat, yang menandakan gadis itu sepenuhnya mengerti apa yang dimaksud oleh Rias.
Melihat Akeno terdiam setelah mendengar itu, Rias memilih untuk menambahkan ucapannya. "Raiser itu terkenal dengan sifat brengsek miliknya di Underworld. Jika ia mengetahui kalau ayam menjijikkan itu akan dijodohkan denganku, Na-kun pasti akan langsung menyerang wilayah Phenex dan membunuhnya."
Bertahun-tahun kedekatannya bersama dengan Naruto, membuat ikatan antara keduanya menjadi lebih dalam. Bahkan Rias sendiri menganggap Naruto sebagai adiknya, dan dirinya juga mengetahui jika Naruto pun menganggapnya sebagai kakak perempuan, sama seperti Serafall dan Sona.
Dikarenakan secara teknis, Gremory dan Sitri sudah bersahabat sejak lama. Itu membuat dirinya sudah di anggap sebagai keluarga sendiri oleh para Sitri. Bahkan saat kecil dulu, tak jarang ia makan bersama keluarga Sitri karena Naruto yang mengajaknya, ataupun bisa sebaliknya.
Dan jika mengetahui bahwa seseorang yang ia anggap sebagai kakak sendiri akan dinikahkan kepada seorang bajingan, kira-kira akan seperti apa reaksinya? Seperti yang di duga, Naruto pasti akan marah besar dan akibat dari itu semua kemungkinan Underworld diharuskan mengalami musim dingin mendadak mengingat betapa besarnya kekuatan yang dimiliki bocah itu.
"Ufufu, aku penasaran apa yang akan terjadi saat waktunya telah tiba nanti." Akeno berujar dengan tertawa kecil. Walau dirinya sendiri memikirkan dengan dalam apa yang akan terjadi saat Naruto mengetahui hal itu.
Rias hanya mendesah lelah, "Kita hanya bisa berharap tidak ada sesuatu yang terlalu buruk terjadi, mengetahui seperti apa sifatnya saat ia menggunakan kekuatannya."
Naruto itu memang sosok iblis yang baik, polos serta sopan. Tapi jangan dikira ia tidak mempunyai sisi menyeramkan, ini hanya diketahui oleh beberapa orang saja. Diketahui dengan pasti, sifatnya akan berubah dari riang dan polos menjadi sedikit lebih kejam ketika menggunakan kekuatan iblisnya.
Dan ini sudah pernah terjadi saat pertarungannya melawan Sirzechs, tepatnya saat kenaikannya menjadi Super Devil. Dirinya mendengar sendiri dari ayah serta kakaknya, jika sifat Naruto berubah menjadi 180 derajat saat mengeluarkan sebagian besar kekuatan miliknya.
Mengingat statusnya saat ini, tentunya keluarga Phenex akan lebih menghindari konflik dengan keluarga Sitri. Dengan adanya Naruto serta Serafall pada Sitri, membuat mereka harus memikirkan dalam-dalam apa yang akan menjadi dampak ketika membuat masalah dengan kedua iblis kuat tersebut, terlebih lagi Naruto yang merupakan Super Devil.
Sebenarnya, itu bukanlah salah keluarga Phenex juga. Karena perjodohan antar pilar sudah diatur oleh Tetua Iblis, dan setiap kepala pilar hanya bisa menyetujuinya. Jika salah satu pihak yang dijodohkan menolak, maka itu bisa diselesaikan dengan sebuah Rating Game atau kesepakatan lainnya.
Dan Rias memilih Rating Game untuk membatalkan perjodohannya, untuk itulah tujuannya datang ke dunia manusia, yaitu mencari anggota gelar kebangsawanan miliknya untuk menghadapi Raiser ketika saatnya telah tiba nanti.
"Meskipun kematian Raiser akan membatalkan perjodohan bodoh ini. Tetap saja, itu pastinya akan menimbulkan masalah baru yang berdatangan." Rias bergumam pada dirinya sendiri dan nampak tenggelam dalam pikirannya sesaat.
Alasan mengapa mereka menyembunyikan ini dari Naruto tentunya sudah jelas. Tetapi, itu bukanlah satu-satunya alasan. Dikarenakan saat itu Naruto masih kecil, kemungkinan Lord dan Lady Sitri merasa Naruto tidak perlu mengetahuinya.
Akan tetapi, setelah beberapa tahun berlalu. Hubungan dirinya dan Naruto menjadi semakin dekat sebagai kakak dan adik, karena Sona sering mengajaknya bermain bersama, entah di wilayah Gremory ataupun Sitri.
Dan karena kedekatan itulah, rasa khawatir diantara mereka semakin besar. Ditambah dengan kekuatan yang dimilikinya, akan seperti apa reaksinya nanti? Pada akhirnya, mereka semua terpaksa merahasiakannya dari bocah itu termasuk Serafall dan Sona.
Dengan Naruto sendiri, tentunya dirinya yakin pemuda itu bahkan tak akan menahan diri saat mengetahui Raiser lah yang menjadi pasangannya. Setelah itu apa yang terjadi? Sudah dapat ditebak, mungkin pertarungan akan terjadi dimana para Maou akan bersatu untuk menghentikan bocah itu mengingat Sirzechs sendiri pernah kalah melawannya.
Rias kemudian menggelengkan kepalanya untuk menepis pemikiran itu saat ini. 'Hanya diam dan terus memikirkan itu tidak akan menyelesaikannya. Aku harus segera menjadi lebih kuat dan mencari anggota kebangsawananku yang lainnya.' Dan dengan pikiran itu, ia kembali fokus terhadap tujuannya saat ini, yaitu menuju ruangan OSIS.
.
Sesampainya di depan pintu, Rias langsung mengetuknya dengan pelan agar tak mengganggu seseorang di dalamnya seandainya jika Sona dan Naruto tak ada di sana.
"Hey Sona, ini aku. Apa kau di dalam?" Rias berbicara dari luar yang dapat didengar oleh Sona karena ia menggunakan sedikit sihir agar dapat terdengar olehnya.
Dikarenakan ruangan OSIS merupakan ruangan yang kedap akan suara, jadi memerlukan setidaknya suara cukup bising untuk terdengar hingga ke dalam dan dirinya membenci keberisikan, karena itulah menggunakan sedikit sihir akan lebih ramah lingkungan.
'Masuklah!'
Rias dan Akeno saling pandang sesaat ketika mendengar itu, sebelum mereka memutuskan untuk masuk ke dalam.
Kriet
"Hehe, maaf mengganggu-"
"U-Uhuk!"
Perkataan Rias terpotong oleh Naruto yang tersedak karena makanan. Sona memberikan cemberut pada adiknya itu lalu mengambil sapu tangan dan mengelapkannya pada bibir pemuda itu.
"Bukankah sudah kubilang jangan berbicara ketika makan hm?" Sona berujar lembut dan dengan telaten mengelap bibir pemuda yang menjadi adiknya tersebut.
"Hehehe, maaf." Naruto menggaruk pipinya dengan canggung dan melanjutkan kegiatan makannya. Tidak menyadari kehadiran Rias dan Akeno di dalam ruangan.
Selesai melakukan hal itu, perhatian Sona lalu teralih pada kedua teman masa kecilnya. "Tak biasanya kalian kemari." Katanya dengan singkat.
Rias terkekeh pelan dan Akeno hanya memasang senyum. Mereka berdua duduk pada sofa yang berada di sebrang Sona dan Naruto. Akeno lalu mengeluarkan dua bento miliknya yang ia simpan dalam penyimpanan sihir, dan tentunya membuat Naruto menyadari kehadiran mereka.
"Ah, Ria-nee! Ake-nee!" Naruto menyapa mereka dengan nada riang yang membuat suasana hati Rias menjadi sedikit lebih tenang dengan senyuman itu. Seperti biasa, hanya Naruto lah yang menjadi penenangnya ketika banyak hal yang mengganggu pikirannya.
Mungkin ia harus melakukan negosiasi pada Sona agar meminjamkan adiknya itu, tentunya juga termasuk dengan Serafall. Dirinya harus tersenyum kecil ketika memikirkan apa yang terjadi jika benar-benar melakukan hal itu apalagi terhadap sahabat broconnya ini.
"Yah, hanya ingin makan bersama, itu tak masalah kan?" Jawabnya dengan enteng membuat Sona memutar matanya dengan bosan.
Mereka berempat memang sering makan bersama saat kecil dulu, jadi hal ini sudah biasa terjadi. Ah, dan juga tambahkan Seekvaira dan Sairaorg yang terkadang bergabung dalam grup mereka.
Memutuskan untuk mengangguk saja sebagai jawaban, tatapan Sona lalu menajam saat Akeno terlihat ingin memeluk Naruto yang sepertinya tidak sadar. Tidak ingin adik imutnya di peluk, ia lalu mencengkram lengan Akeno dengan kuat.
"Akeno." Sona berujar dengan rendah.
"Ufufu~." Hanya itulah respon yang berikan Akeno setelah mendapat tatapan datar dari Sona.
Mereka berempat lalu menghabiskan waktu di sana dengan penuh obrolan, walau terkadang Akeno masih mencoba membuat masalah pada Sona dengan memeluk Naruto yang hanya bisa tersenyum gugup pada keduanya.
.
Sore hari
Jam pelajaran terakhir baru saja selesai, Naruto saat ini sedang berjalan di koridor sambil menggaruk pipinya akibat masih sedikit pusing dengan pelajaran tadi. Tidak perlu di tanya apa yang membuatnya pusing saat ini.
'Aku heran bagaimana Nee-chan bisa menguasai semua mata pelajaran di sini.' Pikirnya dengan melihat-lihat ke sekitar halaman sekolah.
Jika diperhatikan, Akademi Kuoh memang terlihat lebih mewah dan elegan daripada akademi kebanyakan. Mungkin karena campur tangan keluarga Gremory menjadi faktor itu semua mengingat Kuoh merupakan wilayah yang di pinjam Fraksi Iblis dari jajaran Shinto.
Karena terlarut dalam pikirannya, tanpa di sadari, ia menabrak seorang gadis berambut pink yang menyebabkannya jatuh terduduk sedangkan Naruto masih bisa menyeimbangkan posisinya.
Bruk!
"U-Uh!"
"O-Ow!" Ringis gadis itu yang jatuh terduduk sedangkan Naruto masih dapat menyeimbangkan tubuhnya.
Naruto mengelus wajahnya yang sedikit sakit saat bertubrukan, benda apa yang ia tabrak? Sekilas ia merasakan sensasi dingin saat benda itu mengenai wajahnya.
"M-Maaf, kau tidak apa-apa?" Naruto mengulurkan tangannya dengan senyum canggung.
'Ah.' Pemuda itu melihat kalung rosario yang melingkar di leher gadis pink tersebut, pantas saja terasa sedikit dingin.
"Tidak apa-apa, terima kasih." Gadis itu menerima uluran tangan Naruto lalu berdiri dan membersihkan roknya dari debu.
Naruto baru menyadari jika gadis di depannya ini merupakan gadis yang tadi berbicara dengan kakaknya di ruangan OSIS tadi siang. Dan melihat dari postur tubuhnya yang sepantaran dengan Rias dan yang lainnya, ia dapat menebak jika gadis ini juga berada pada tahun ke 3.
"M-Maaf senpai, aku melamun tadi." Naruto menundukkan kepalanya sebentar yang mendapat respon lambaian tangan.
"Ufufu, tidak apa-apa. Salahku juga yang tidak memerhatikan jalan." Ia memasang senyum kecil, yang jika di perhatikan lebih lanjut memiliki banyak arti tersembunyi di dalamnya.
"Ara~, kau pasti Naruto Sitri bukan? Perkenalkan, namaku Moka, Akashiya Moka. Kau boleh memanggilku Moka-senpai atau Moka-chan, Naruto-kun~." Moka tersenyum dengan sensual pada pemuda di hadapannya ini.
'Ah~, jika dilihat dari dekat ternyata ketampanannya melebihi ekspektasiku. Aku tak sabar untuk memilikinya ufufu~.' Gadis itu menjilat bibirnya sesaat diikuti taring miliknya yang sekilas muncul.
Naruto menatapnya dengan senyum canggung, "N-Naruto Sitri, kau juga bisa memanggilku Naruto, Moka-senpai." Balasnya dengan santun yang membuat senyuman Moka melebar.
"Muu~, panggil saja aku Moka-chan Naruto-kun!" Rengeknya.
"Eh? T-Tapi..." Naruto sudah diberitahu oleh Sona bahwa di dunia atas, posisi senior ataupun junior cukup diperhatikan.
"Ayolah~, itu tidak sulit bukan?" Moka perlahan mendekat kearahnya dan memeluk lengan kanannya.
"B-Baiklah." Dirinya memutuskan untuk memenuhi permintaan gadis itu saja daripada memperpanjangnya. Apalagi dengan posisi Moka yang saat ini menempel dengannya. Sejujurnya, baru kali inilah ada seorang perempuan selain orang terdekatnya yang melakukan ini padanya.
"Ufufu, begitu dong~." Moka tersenyum senang masih dengan memeluk sebelah lengannya. Tanpa diketahui iblis muda tersebut, seringai kecil terbentuk di bibir tipis Moka.
Beberapa saat kemudian, Moka menatap jam tangan miliknya yang sedikit bergetar. Sebuah cemberut tercipta diwajahnya, padahal ia masih ingin menikmati ini sebentar.
"Ara, sepertinya aku harus pergi. Kalau begitu, kita akan bertemu di lain waktu. Dah Naruto-kun~." Moka dengan berani mencium sebelah pipi pemuda itu yang membuat tubuhnya berdesir karena sensasi yang dirasakannya. Sedangkan Naruto memiliki rona kecil di pipinya karena itu.
Moka kemudian pergi sambil melambaikan tangannya dan berbalik. Dari jauh, Naruto hanya memiringkan kepalanya, bingung dengan tingkah senpainya tersebut. Kemudian, ia lebih memilih untuk menghiraukannnya saja dan melanjutkan langkahnya menuju ruangan Sona.
Dengan Moka sendiri, gadis itu dengan sekuat tenaga menahan dirinya yang saat ini sedikit err, terengah-engah serta pipinya yang dipenuhi rona merah. Kedua taring di bibirnya mencuat serta iris merah darahnya pun ikut bersinar redup.
'S-Sial, aku tak menyangka hanya dengan kontak fisik tadi akan seperti ini.' Pikirnya.
Benar, saat dirinya mencium pipi pemuda itu, entah kenapa hasrat miliknya tiba-tiba melonjak dan itu menyebabkan dirinya harus sekuat tenaga untuk tidak menerkam pemuda manis tersebut.
'Ufufu, aku penasaran dengan rasa darah miliknya, pasti akan terasa sangat nikmat.' Ia menjilat bibirnya ketika memikirkan hal itu.
Tunggu, darah? Yap benar, dirinya bukanlah manusia seperti murid lainnya. Bisa dibilang ia merupakan seorang vampir. Kalung Rosario miliknya lah yang menutupi aura vampir dirinya, jika tidak. Mungkin iblis yang berada disini, dengan kata lain Rias dan Sona. Pasti akan mendeteksi dirinya karena secara teknis Kuoh merupakan teritori milik Gremory.
"Tunggulah Naruto-kun, sebentar lagi kau akan menjadi milikku." Gumamnya dengan mata merah miliknya yang bersinar perlahan.
.
Beralih kepada pemuda Sitri tercinta kita kembali, saat ini ia sedang berjalan pulang bersama dengan Sona sambil sesekali berbincang kecil di langkah mereka.
"Ne, Onee-chan. Mengapa Ria-nee sering sekali melamun akhir-akhir ini? Apa terjadi sesuatu?" Tanyanya yang membuat Sona menoleh kepada adiknya.
Naruto baru sadar jika akhir-akhir ini Rias sering melamun dalam pandangannya, tetapi ia memilih mengabaikannya karena mungkin gadis yang sudah ia anggap kakak itu memikirkan sesuatu yang pribadi dan bukan haknya untuk mencampuri itu.
Tetapi, kekhawatirannya semakin besar ketika melihat Rias yang melamun siang tadi. Sangat jarang menemukannya melamun apalagi saat mereka berkumpul.
Sona sendiri masih terdiam beberapa saat setelah Naruto mengatakan itu. Dirinya tau dengan pasti mengapa Rias seperti itu. Keluarga mereka masih sepakat untuk tidak memberitahukan yang sebenarnya kepada pemuda itu karena banyaknya kemungkinan yang akan terjadi jika adiknya mengetahui hal tersebut.
Sebagai seorang kakak, dirinya takut jika adiknya yang sangat ia sayangi itu membencinya karena hal ini. Tetapi ibunya mengatakan untuk jangan terlalu memikirkannya, karena mereka sudah siap mengatasinya saat itu semua terjadi. Dan dengan terpaksa Sona harus ikut menutup rapat mulutnya mengenai itu.
Tangan putihnya kemudian terulur dan mengusap lembut surai hitam halus milik Naruto dengan lembut.
"Tidak apa-apa, kamu tak perlu khawatir. Lagipula Rias itu berada di tahun 3 sama sepertiku. Jadi mungkin banyaknya tugaslah yang membuatnya melamun. Saat dewasa nanti kamu pasti akan mengerti." Sona berkata dengan lembut dan mencium pipinya.
Cemberut kecil menghiasi wajah pemuda Sitri itu ketika sang kakak mengatakan secara tak langsung bahwa dirinya masih anak-anak.
"Aku juga kan sudah dewasa." Rajuknya dengan manis yang membuat Sona terkikik pelan dan memberikan kembali ciuman pada pipinya.
"Di mataku, kamu tetaplah adik kecilku yang imut. Jadi, tetaplah seperti ini, oke~?" Sona dapat melihat Naruto yang semakin cemberut ketika dirinya mengatakan itu, hal tersebut membuat ia mau tak mau tertawa kecil.
.
Skip
Malamnya, di apartemen tempat mereka tinggal. Naruto terlihat sedang mengerjakan pekerjaan rumah miliknya pada kotatsu yang terdapat di sana. Sedangkan Sona berada di sebelahnya serta sesekali mengoreksi jawaban salah dari adiknya.
"B-Begini?" Naruto menunjukkan hasil dari hitungan miliknya yang di periksa oleh Sona.
"Hmm, kamu salah lagi di sini. Bukankah Nee-sama sudah mengajarimu tentang perkalian?" Jawab Sona sambil memperlihatkan letak kesalahan yang dibuatnya.
Naruto menggaruk pipinya dan membuang muka dengan canggung, "M-Mau bagaimana lagi, aku kan kurang b-bisa dalam menghitung."
Sebenarnya bukan hanya itu saja alasannya. Dikarenakan Serafall yang mengajarinya, itu membuat Naruto agak sulit berkonsentrasi. Lagipula, bagaimana kau bisa berkonsentrasi jika orang yang mengajarimu selalu mencium dan memelukmu terus-menerus?!
Hal itulah yang membuatnya agak sulit memahami apa yang diajarkan Serafall padanya, karena hanya beberapa saat ia berkonsentrasi. Konsentrasi miliknya akan langsung pecah saat Serafall memeluk atau menciumnya, dan jika itu terjadi pikirannya akan tergganggu.
Ia sudah memberitahu ini pada ibunya tetapi yang ia dapatkan hanya tawa cekikikan saja tanpa ada niat membantunya sama sekali. Jadi, jangan salahkan dirinya jika ia sulit memahami pelajaran di sini!
Dan tentunya tak mungkin ia memberitahu Sona tentang hal tersebut. Jika kakak keduanya itu tau, ia yakin Sona pasti akan langsung mendatangi Serafall dan menceramahinya. Akibatnya, Serafall mungkin akan menghukumnya karena memberi tau Sona dengan memeluknya atau semacamnya, dan dirinya tak ingin itu terjadi.
Tanpa diketahui olehnya, Sona yang sedari tadi memperhatikan pemuda itu mengerti apa yang di pikirkan olehnya. Jawabannya hanya ada satu, pasti penyebabnya ada pada Serafall. Ia menghela napasnya sesaat ketika memikirkan itu.
'Aku tau dengan pasti kalau Nee-sama adalah penyebabnya, tetapi mungkin menanyakan itu padanya merupakan hal yang percuma.'
Walaupun enggan mengakui, Sona tau jika adiknya itu sebenarnya cukup pintar dalam berdalih walau tidak akan mempan terhadapnya. Tetapi tetap saja, dalihannya itu cukup hebat yang bahkan membuat Rias sendiri tertipu beberapa kali.
Menurut Sona secara pribadi, hanya dirinya lah yang setidaknya masih normal dalam keluarganya. Bukan berarti keluarganya aneh! Hanya saja, bertahun-tahun hidup bersama mereka. Membuatnya dapat mengetahui dan memahami beberapa hal sifat mereka.
Ayahnya yang seorang kepala keluarga saja bahkan bisa bersikap nyentrik dan terkadang asal bicara yang membuat ibunya menghajarnya. Sedangkan ibunya sendiri merupakan wanita yang lemah lembut tetapi terkadang membiarkan sisi yandere dan posesif memasukinya apabila itu menyangkut Naruto.
Serafall? Tidak perlu di tanya, kakaknya memiliki salinan sifat yang sebagian besar dari ayahnya, dilihat dari sikapnya itu. Lalu, Naruto? Well, ia pikir Naruto mungkin memiliki sifat yang sebagian besar dari ibunya. Mengingat pemuda itu sangat menurut padanya dan tak pernah membantah kecuali ada sesuatu yang di tutupinya. Seperti saat ia berumur 5 tahun dimana adiknya itu memakan puding miliknya. Walaupun Sona mengetahui Naruto memakan pudingnya, ia tak marah dan hanya bisa menahan tawanya saat bocah itu berdalih dengan alasan lucu.
Sona lalu menggelengkan kepalanya pelan, untuk saat ini. Mengajari Naruto adalah prioritas utamanya, mengingat jika Serafall yang tidak terlalu baik dalam hal mengajari.
Naruto yang melihat Sona menggelengkan kepalanya sedikit memiringkan kepalanya, "Nee-chan?" Tanyanya mencoba memastikan.
Drrtt!
Pandangan mereka teralih pada ponsel Sona yang bergetar di atas meja yang terletak beberapa langkah dari tempat mereka duduk.
"Sebentar oke?" Sona berujar dengan lembut padanya yang dibalas anggukan dan pemuda itupun melanjutkan kembali pekerjaannya. Ia berjalan menuju meja itu berada dan menyandarkan dirinya.
Sona melihat siapa yang memanggilnya, 'Rias?'
Klik
"Ada apa?" Jawabnya dengan singkat.
"Moshi-moshi hehe, maaf jika aku mengganggumu." Rias tertawa dengan canggung sebagai balasan.
"Sudahlah, ada apa kau menelponku di jam segini? Aku sedang membantu Naru-chan belajar saat ini." Sona berujar sembari memijit pelipisnya.
"Maaf, er...apa kau bisa membantuku? Seseorang memintaku untuk membersihkan Stray Devil yang ada di salah satu tempat di Kuoh. Menurut yang dikabarkan, mereka terdiri dari satu set penuh yang mengkhianati raja mereka sendiri." Jelasnya lalu terdiam beberapa saat.
"Y-Yah, kuharap kau bisa membantuku. Aku tau ini mendadak tapi, aku takut terjadi sesuatu yang tidak terduga." Tambahnya.
Sedangkan Sona, dirinya terdiam beberapa saat. Sangat jarang Rias meminta bantuannya apalagi jika itu masalah membersihkan iblis liar di Kuoh. Iris violetnya beralih kepada Naruto yang saat ini bisa dibilang tidak dapat berkonsentrasi kembali. Itu bisa diketahuinya ketika pemuda itu memilih memutar-mutar pulpennya, berbaring, menggambar sesuatu, dan lainnya.
'Mungkin angin malam bagus untuk menyegarkan pikiran.' Pikirnya dengan helaan kecil.
"Baiklah, aku akan membantumu." Balasnya kepada Rias yang sedari tadi menunggu jawabannya.
"Benarkah? Yosh! Kalau begitu, apa kau bisa mengajak Na-kun bersamamu? Sudah lama aku tidak melihat kekuatan indahnya." Rias berujar dengan riang.
"Iyaiya. Dimana kita bertemu?" Sona memutar matanya dengan malas ketika mendengar itu.
"Datanglah ke ruang klubku. Aku akan menunggumu di sini." Dan dengan itu, Rias menutup panggilan.
"Naru-chan." Panggilnya dengan lembut membuat Naruto yang berbaring dengan tatapan mengantuk menoleh kearahnya.
"Hmm?" Balasnya. Dari nada yang di keluarkan ia tau jika adiknya itu pasti sedang bosan.
Sona kemudian duduk dan meletakkan kepala Naruto di pangkuannya dan mengelus pipinya. Sedangkan pemuda itu hanya memejamkan matanya mencoba menikmati kenyamanan yang di berikan kakaknya.
"Rias mengajak kita untuk membersihkan iblis liar, apa kamu mau ikut?" Ujarnya dengan lembut.
"Eh?" Naruto seketika bangun dan menatap lekat Sona yang hanya tersenyum kecil melihat reaksinya.
"Benarkah?!" Ia mencoba memastikan hal tersebut yang dibalas anggukan oleh Sona.
"Kalau begitu ayo kita kesana!" Dan dengan itu, Naruto segera berlari ke kamarnya untuk mengganti pakaian. Sona menggelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya itu. Sebelum ia juga menyusul Naruto karena mereka tidur di kamar yang sama di apartemen yang hanya memiliki satu kamar tidur ini.
Beberapa menit kemudian terlihat keduanya sudah berganti pakaian, Sona mengenakan pakaian kasual miliknya, yaitu rok berwarna krem, baju berwarna ungu serta jaket hitam panjang yang mencapai roknya tak lupa sepatu dan kaus kaki panjang yang dipakainya. Sedangkan untuk Naruto, ia memakai celana serta baju berwarna hitam, sekaligus jaket hitam yang baru dipakaikan Sona padanya, ditambah syal merah yang melingkar di lehernya.
"Jangan terlalu berlebihan nanti, oke?" Ucap Sona sembari membenarkan letak syal adiknya.
"Umu." Naruto mengangguk dengan semangat.
Sejujurnya dirinya agak bersemangat dengan ini, sudah beberapa hari ia tidak meregangkan tubuhnya. Berbeda ketika di Underworld, hampir setiap hari ia melakukan latih tanding, entah itu dengan ayahnya, Serafall, Sairaorg atau bahkan Ruval Phenex, pewaris keluarga Phenex selanjutnya yang sering mengajaknya sparing ringan.
"Kalau begitu, kita berangkat sekarang." Sona kemudian menyiapkan lingkaran sihir khas Sitri, tak beberapa lama. Mereka berdua hilang dari tempat itu, meninggalkan sebuah apartemen yang kosong.
.
Dengan Rias
Sedangkan di ruangan klubnya, Rias menunggu sambil duduk di kursi tempat biasanya bekerja. Seluruh anggota peerage-nya pun sudah tiba dan hanya tinggal menunggu kedatangan Sona serta Naruto saja.
"A-Ano, B-Buchou. Apa kita sedang menunggu seseorang?" Mantan biarawati itu mencoba bertanya saat memperhatikan pewaris Gremory yang berdiam diri cukup lama dan tidak segera berangkat.
Rias menoleh kearahnya dan tersenyum, "Begitulah."
"Ara, boleh kutahu siapa yang tunggu itu?" Sambung Akeno, sedangkan Rias hanya tertawa kecil.
"Kalian akan mengetahuinya nanti." Ia mengedipkan sebelah matanya yang membuat seluruh anggotanya penasaran kecuali Akeno yang tertawa khas seperti biasanya, seolah mengetahui apa yang dimaksud oleh Rias.
And cut...
.
.
.
Note :
Err, berapa lama gua dah ga apdet? 1 bulan? 2 bulan? 3 bulan? Entah, ga merhatiin gua wkwk. Sebenernya nih kerangka chap 4 itu udah lama jadi, cuman karena guanya aja yang mager jadi ya gitulah, agak terbengkalai gitu. Syukurlah ada PM yang bisa ngebangkitin semangat gua buat lanjut nih fict.
Dan yep, gua udah mutusin kayaknya pair Naruto itu Moka, setelah beberapa pertimbangan. Dan tentunya Moka disini beda sama yang aslinya. Well, gua sendiri gak tau Moka di animenya kek gimana, gua cuma tau sedikit dari baca cross Naruto x Rosario Vampire.
Ada beberapa hal yang perlu gua jelasin di sini, pertama tentang Moka. Kepribadian Moka gua buat berbeda disini, yang gua ambil kebanyakan dari Outer Moka. Kedua tentang Naruto, tau Meliodas kan? Nah, tau pas Meliodas make mode iblisnya/Assault Mode? Kira-kira kayak gitu lah sifat Naruto pas menggunakan kekuatannya.
Btw, gua masih agak bingung tentang penyebutan semisal keluarga, pilar atau klan. Entah yang bener yang mana, tapi kayaknya gua untuk saat ini make keluarga/pilar dulu aja.
Tentang pakaian Sona, gua agak bingung bayanginnya, karena setau gua dxd kebanyakan berantemnya make baju sekola, setau gua sih, ga nonton animenya gua soalnya. Coba aja kalo mau tau search gugel ketik 'anime girl casual outfit' cari aja yang sesuai deskripsi. Pakaian Naruto? Ketik aja di gugel 'lucifer aegis orta', bedanya syalnya itu merah.
Duh, kayaknya udah kebanyakan nih AN-nya, padahal masih banyak yang pengen gua omongin tapi yah, next time aja lah. The Absolute kayaknya masih perlu gua pending dulu ya, maaf yang masih nungguin itu fict (kalo ada itu juga).
Thanks for fav, fol and supportnya serta yang paling penting, yang udah setia nunggu wkwk. Dah itu aja, see you.
Adios...
