.
.
Disclaimer :
Naruto Masashi Kishimoto
Highschool DxD Ichiei Ishibumi
.
Rating : M (Just for save)
Genre's : Adventure, Supernatural, Half-Humor, Fantasy, Little bit-Romance, etc...,
Pair : Naruto x Moka, (bisa berubah tergantung alur)
Warn : Always Mainstream idea!, Many more typo, alur acak!, OC Chara, OOC Chara, bad EYD, bahasa kaku dsb, and etc...,
Devil!Naru, OverPower!Naru, IceUser!Naru
.
Chapter 5 : Little Power
.
Occult Research Club, Night
Sring!
Sebuah lingkaran sihir berlambang keluarga Sitri tiba-tiba muncul di tengah ruangan yang membuat Rias tersenyum, begitupula Akeno, Kiba dan Koneko.
Sedangkan Issei dan Asia yang masih termasuk baru sedikit bingung dengan siapa yang menjadi pemilik lingkaran sihir di depan mereka.
"Ria-nee!"
Kemudian, terdengarlah suara familiar di telinga mereka semua. Senyuman di bibir Rias semakin melebar ketika mengetahui siapa pemilik suara tersebut.
Setelah efek cahaya menghilang, mereka semua dapat melihat Naruto melambaikan tangannya kearah mereka semua. Sedangkan Sona berdiri di belakang, memeluknya serta melingkarkan lengannya terhadap tubuh adiknya yang lumayan pendek tersebut.
Rias melihat itu dengan geli, walaupun dalam hati ia terkekeh ketika melihat sikap protektif sahabatnya tersebut.
"Mengantisipasi sebelum terjadi huh?" Cibirnya pelan yang membuat Ketua OSIS Kuoh itu mendengus pelan.
"Aku hanya tak ingin kemanisan adikku ternoda oleh cakar Queen milikmu itu." Balasnya kemudian, sedikit mengeratkan pelukannya.
Akeno, orang yang dimaksud oleh Sona kemudian cemberut terhadap Sona.
"Ara, jahatnya~" Gadis miko itu hanya memasang ekspresi halus serta senyuman dengan sebelah tangan menangkup pipinya sebelum melanjutkan kembali ucapannya.
"Ufufu, lagipula bukan salahku jika bersikap aku bersikap seperti itu pada Naru-kun imutmu." Ia terlihat tertawa kecil sembari menutupi mulutnya sedikit.
Naruto yang sedikit heran mengapa Rias tersenyum kecil, dan Akeno terkikik hanya memiringkan kepalanya dengan polos. Sebelum memutuskan untuk mengangkat bahu tanda tak perlu memikirkannya sebelum ia meminta Sona melepaskan pelukannya.
"Umm, Nee-chan. Bisa lepaskan aku?" Pintanya dengan sedikit ekspresi bingung ketika kakaknya tersebut mengeratkan pelukannya pada tubuhnya.
Sona menggelengkan kepalanya pelan kemudian meletakkan dagunya pada pucuk kepala adiknya itu. "Tidak, tetaplah seperti ini. Onee-chan tidak tau apa yang akan kamu lakukan nanti jika aku melepaskanmu." Balasnya dengan sedikit nada tegas dan paksaan walaupun terdengar sangat lembut di telinga yang lainnya.
Naruto mau tak mau mengerang kecil mendengar itu. "Ehh~? Tapi aku bukan anak kecil lagi!" Rengeknya sedikit memberontak kecil.
"Tidak." Sona membalas singkat dan mengeratkan kembali pelukannya yang membuat pemuda itu mengerang pasrah dan menurutinya.
Rias dan yang lainnya hanya tersenyum melihat interaksi kedua kakak beradik tersebut. Walaupun dirinya sudah sering melihatnya, tetapi mungkin bagi Issei dan Asia, ini merupakan pengalaman baru mereka karena dapat melihat sisi lain Kaichou mereka yang terkenal datar dan dingin di Akademi Kuoh tersebut.
"Baiklah, lebih baik kita segera berangkat. Malam akan semakin larut jika kita tak bergerak sesegera mungkin." Selanya dengan menepuk tangannya sedikit untuk menarik perhatian semua orang disana.
"Ara, padahal kau juga ingin memeluk Naru-kun bukan?" Akeno sedikit menggoda King-nya tersebut yang sukses membuat rona merah muncul di pipinya serta tatapan menyipit yang Sona berikan padanya.
"Diamlah." Gerutunya sebelum menyiapkan lingkaran sihir untuk mereka semua.
Sring!
Pewaris Gremory itu lalu menghilang di telan lingkaran sihir miliknya, meninggalkan Naruto dan Sona yang tak lama juga menyusulnya dengan lingkaran sihir keluarga mereka.
.
Unknown Place
Sring!
Dua buah lingkaran sihir yang memiliki lambang dan warna berbeda satu sama lain tercipta di dalam sebuah gedung usang dan bobrok yang terletak entah dimana, disalah satu sudut kota Kuoh.
"Ini tempatnya?" Issei terlihat memandang tempat sekelilingnya dan itu membuat bulu kuduknya berdiri, walaupun dia adalah iblis saat ini.
Kiba mengangguk. "Menurut koordinat yang diberikan, ya." Jawabnya sembari memandang sekitar dengan siaga, mengantisipasi jika sesuatu terjadi.
"Tetap waspada." Rias berujar dengan nada serius karena saat ini mereka berada dalam wilayah musuh.
Tap!
"Ara, lihatlah siapa yang datang ke tempat ini?"
Sebuah suara berat seorang wanita terdengar menggema di gedung kosong tersebut, yang membuat seluruh orang siaga. Terkecuali Naruto yang hanya diam dengan memejamkan matanya disertai menggeliat kecil, menikmati kegiatan Sona yang memainkan telinganya dengan lembut.
"Rambut itu, hahaha! Gremory bukan?" Tak lama kemudian muncul beberapa siluet cukup besar yang menampilkan sosok monster berwujud cukup aneh yang biasa mereka sebut dengan Stray Devil.
Rias menyipitkan matanya. "Jika kalian mengetahui siapa diriku, tentu saja kalian tau dimana tempat kalian berpijak bukan?" Nadanya mendingin.
Kuoh, walaupun hanya berupa pinjaman dari pihak Shinto untuk dirinya menikmati masa mudanya. Tentu saja itu bukan berarti tanpa bayaran atau timbal balik, dirinya juga melindungi kota ini bersama Sona sebagai ganti mereka meminjaminya.
"Hahaha! Tentu saja aku tau, karena itulah kami menunggumu disini untuk hal itu." Sosok monster itu kemudian menyeringai dan menampakkan sepenuhnya dirinya.
"Arachne." Akeno berbisik pelan ketika melihat tampilan monster di depannya. Sedangkan Issei menjerit pelan ketika melihat sosok menyeramkan itu. Oke, dirinya memang cabul, tapi jika terhadap wanita seperti itu tentu saja ia mengenal batasan!
Tentu, setelah mempelajari berbagai pengetahuan baik tentang dunia manusia maupun supranatural. Wajar baginya untuk mengetahui jenis monster apa di hadapannya ini.
"14 bidak, begitu. Kalian bersekongkol menghianati King kalian bukan?" Rias berkata dengan tenang ketika melihat jumlah dan tampilan sebenarnya dari mereka semua.
Arachne, yang nampaknya menjadi pimpinan mereka semua hanya tertawa jahat. "Khufufu, memangnya kalau benar kau ingin apa, Gremory?" Kedelapan matanya memandang Rias dan lainnya dengan arogan.
"Sederhana, memusnahkanmu. Tidak akan ada yang tau apa yang akan kalian lakukan terhadap manusia tak bersalah disini." Rias melipat tangannya di bawah dada besarnya.
Sekali lagi, lawan bicaranya hanya tertawa jahat mendengar itu. "Iblis? Melindungi manusia? Jangan membuatku tertawa Gremory! Kalian, cepat habisi mereka--"
"Mmh~, Onee-chan. J-Jangan sentuh itu."
"Ara, jadi ini titik lemahmu ya~?"
Tatapan mata mereka semua beralih kearah Naruto dan Sona yang sepertinya asik dengan dunia mereka sendiri. Rias dan Peerage miliknya mau tak mau dibuat sweatdrop dengan tingkah laku keduanya.
Dapat dilihat jika Sona saat ini tengah mengelus dagu adiknya serta menggigit dengan sensual telinga pemuda itu yang membuatnya mengerang, jangan lupakan juga dirinya yang masih memeluk tubuh Naruto. Tak menghiraukan dimana saat ini mereka berada.
Lain halnya dengan para Stray Devil, mereka semua terlihat menggeram ketika kedua iblis yang nampak seolah meremehkan mereka.
Pandangan Arachne tertuju kearah wajah tampan Naruto sebelum dirinya menyeringai kejam. "Kalian, bunuhlah semua bocah-bocah ini. Kecuali bocah berambut hitam itu, dia akan menjadi milikku." Perintahnya yang mendapat raungan monster di sekelilingnya.
Rias hanya menghela napasnya melihat itu sebelum memutuskan menghiraukan Sona dan fokus dengan pekerjaannya.
"Sepertinya bidak lainnya kecuali Arachne itu telah kehilangan pikiran mereka sendiri." Tutur Kiba setelah mengamati situasi saat ini.
Rias mengangguk. "Ya, Arachne memang terkenal dapat mengendalikan berbagai sesuatu dengan jaringnya, jadi mungkin itu wajar. Semua, bersiaplah!" Lanjutnya kemudian yang memasang posisi bertarung.
Akeno dengan segera merubah pakaian seragam miliknya dengan pakaian khas seorang pendeta perempuan atau seorang miko. Sebuah senyum sadis terpampang di bibirnya, ia lalu menjilat bibirnya dengan sensual.
"Ara ara, monster sepertimu ingin memiliki Naru-kun imutku? Aku merasa terhina, ufufu." Akeno mengangkat tangannya keatas, sebuah petir berwarna kuning dalam skala cukup besar tercipta sebelum menyambar sekaligus langsung membuat 3 dari mereka berubah menjadi abu.
Arachne yang melihat itu dari jauh hanya mendengus. "Pion? Tak terlalu berguna untukku juga." Cibirnya melihat bawahannya satu persatu musnah di tangan kumpulan bocah iblis miko di depannya.
Swussh!
Arachne dengan sigap menghindari bola berwarna merah gelap yang menerjang kearahnya dengan kecepatan tinggi, kedelapan matanya kemudian tertuju pada Rias yang berjalan dengan tubuh terselimuti energi merah.
"Tidak asik jika kau menghindarinya kau tau?" Rias berujar dengan senyuman lembut, bermaksud menghina iblis liar itu yang berhasil menghindari serangannya.
"Power of Destruction huh?" Gumam Arachne. Kekuatan itu memang ia akui sangat berbahaya dan dapat membunuhnya dalam sekejap. Namun tetap saja, jika berhasil di hindari itu semua tidak akan berarti.
Bibirnya kemudian membentuk seringai kejam. Sebuah pedang yang terbuat dari jaring kemudian tercipta di tangannya.
Rias yang melihat itu pun segera menyiapkan sihirnya, dan pertarungan keduanya pun di mulai.
.
Beralih dengan Kiba, pemuda pirang itu terlihat mengadu keahlian pedangnya dengan iblis liar yang sepertinya cukup lihai menggunakan pedangnya walaupun dia telah kehilangan pikirannya sendiri.
Trang!
Kedua pedang mereka berbenturan dengan sengit. Namun walaupun begitu Kiba sendiri hanya tersenyum penuh semangat, mengingat sangat jarang sekali iblis liar yang kehilangan kendali memiliki kemampuan seperti ini.
Kiba langsung melompat mundur untuk menjaga jarak, dan seperti perkiraannya. Monster itu langsung kembali menyerangnya dan tak memperdulikan apapun.
Knight Rias itu sedikit menarik napasnya pelan sebelum melesat dengan kecepatan kilat.
Slash!
Ia sedikit melirik kebelakang dimana iblis liar itu kini berubah menjadi abu setelah kepalanya terputus akibat terkena tebasannya.
"Yah, kini hanya tersisa kalian." Kiba lalu menatap ke sekelilingnya dimana masih ada sisa beberapa dari mereka.
.
Blaaar!
Koneko mendengus dengan wajah datar setelah tangan mungilnya menghempaskan iblis liar berukuran 3x lipat dari tubuhnya tersebut kemudian melemparkan benda-benda tajam yang membuat monster itu mati dan mengurai menjadi abu.
Iris emas miliknya melirik kearah Issei yang sedikit kesulitan ketika menghadapi salah satu benteng iblis liar tersebut.
"Menunduk." Ucapnya datar.
Issei yang mendengar itu segera menunduk dan dengan cepat, Koneko berlari serta memukul tepat di wajah iblis liar itu yang membuatnya terbang karena pukulannya.
Issei terlihat mengatur napasnya. "Terimakasih Koneko-chan." Ucapnya.
Koneko hanya mengangguk. "Kau perlu berlatih kembali, Ero-senpai." Tuturnya dengan wajah datar yang di balas anggukan setuju oleh pemuda berambut coklat tersebut.
Koneko lalu mengambil sebuah tiang besi panjang dan menusukkannya kepada iblis liar yang tadi ia pukul itu, dan dengan ini mereka hanya perlu membantu Rias yang menghadapi Arachne.
"Ayo." Koneko kemudian berlari ke tempat Rias berada bersama Asia. Issei yang melihat itu segera mengikutinya berlari untuk menyusul.
.
Rias nampak menarik napasnya dengan tenang setelah beberapa menit pertarungan mereka berjalan.
'Tidak kusangka dia memiliki tingkatan sejauh ini hanya untuk sekedar Stray Devil.' pikirnya, bukan berarti dirinya tak mampu. Hanya saja jika dia menggunakan sebagian besar sihir penghancurnya. Gedung ini tak akan bertahan dan dampak pertarungan mereka pasti akan terlihat oleh manusia.
Walaupun mudah mengatasinya, tapi tetap saja merepotkan, dan dirinya tak ingin itu terjadi.
"Buchou!"
Rias menoleh kearah Issei yang muncul bersama Koneko dan mendekat kearahnya.
"Bagaimana keadaan kalian?" Tanyanya.
Issei hanya mengacungkan jempolnya dan Koneko menganggukkan kepalanya yang berarti pekerjaan mereka telah selesai.
"Berarti tinggal Yuuto dan Akeno--"
"Ufufu, aku disini." Sela Akeno yang berjalan perlahan tak jauh dari mereka.
Tap!
"Maaf lama." Tak lama kemudian Yuuto pun juga tiba yang membuat Arachne mengangkat alisnya sebelum tertawa.
"Jika kalian semua disini berarti bawahanku yang tak berguna itu sudah mati. Yah, siapa yang peduli, aku bisa mencarinya lagi nanti" Ucapnya acuh tak acuh lalu memutuskan untuk memasang posisi bertarung kembali.
Wussh! Trang!
Monster itu berhasil menahan serangan kilat Kiba menggunakan salah satu kaki miliknya yang membuat Kiba melebarkan matanya.
"Apa kau tau? Kulit Arachne dikatakan memiliki kekuatan sekeras baja, hahaha!" Ia tertawa keras lalu menendang pemuda itu, menyebabkannya terlempar dan menabrak pilar bangunan.
Koneko yang melihat perhatian Arachne teralihkan, langsung berlari cepat kearahnya dan melayangkan pukulan melalui tangan mungilnya.
Tap!
Namun Arachne berhasil menahan pukulan itu menggunakan telapak tangannya yang membuat gadis kecil itu sedikit tersentak sebelum menyilangkan kedua tangannya guna menahan serangan balasan iblis liar itu.
Brak!
Koneko sedikit meringis kecil ketika punggungnya menabrak dinding gedung cukup kasar karena terpental setelah menahan pukulan yang di layangkan padanya.
"Koneko-chan!" Issei berteriak ketika melihat adik kelasnya itu terpental.
Dan teriakan itu sepertinya berhasil menyadarkan Naruto yang saat ini masih dalam buaian Sona, yang nampaknya juga menyadari teriakan itu. Sedikit rona merah muncul di pipinya ketika mode kakaknya aktif dengan Naruto di sekitarnya, yang membuatnya sedikit melupakan keadaan sekitar.
"Nee-chan dengar itu?" Tanyanya.
Sona mengangguk dan mencari-cari sumber suara kemudian mendapati Rias dan yang lainnya berada beberapa puluh meter di depan mereka.
"Disana." Naruto melihat kearah tempat yang ditunjuk Sona lalu keduanya pun segera menyusul Rias dan yang lain.
.
Ctar!
Arachne menahan petir Akeno menggunakan jaring miliknya sebelum memutuskan menyerang gadis itu yang membuat Akeno bersiaga.
"Khufufu, sihirmu mungkin hebat. Tapi, jika pertarungan jarak dekat, bisa apa kau untuk melindungi dirimu?" Arachne berujar dengan seringai kejam sembari terus melancarkan serangan kepada Akeno yang terus menghindarinya.
"Issei!" Rias memanggil nama pion miliknya untuk mengkodekan sesuatu.
"Aku mengerti!" Balasnya lalu mengaktifkan Boosted Gear di tangannya yang sedikit mengejutkan Arachne.
"Koneko-chan!" Issei berteriak memanggil Koneko yang terlihat berlari dengan cepat menuju Arachne.
"[Boosted Gear : Transfer]!" Suara mekanik dapat terdengar di dalam gedung.
Energi hijau menyelimuti tubuh Koneko yang membuat gerakannya semakin cepat. Hingga akhirnya gadis itu memberikan pukulan kuat tepat di wajah Arachne yang membuat iblis liar wanita itu terpental dan menabrak tembok dengan keras.
Rias kemudian berjalan perlahan mendekatinya di ikuti oleh yang lain. "Sudah selesai, Arachne." Ujarnya dingin. Namun, Arachne hanya terkekeh yang membuat pewaris muda itu menaikkan alisnya heran.
Arachne menyeringai. "Ya, untuk kalian!" Teriaknya.
Sebuah lingkaran sihir tercipta dan memunculkan jaring laba-laba terselimuti racun mematikan di udara.
Rias dan beberapa lainnya berhasil menghindari itu termasuk Issei yang masih seorang pemula, naluri naga yang berasal dari Sacred Gear miliknya membantu dirinya untuk menghindar.
Namun malang untuk Asia yang sedari awal tak memiliki keahlian bertempur. Dia hanya bisa menatap jaring laba-laba itu dengan terkejut karena terlalu tiba-tiba.
Rias menggertakan giginya ketika menyadari kecerobohannya. "Asia! Pergi dari sana!" Dirinya berujar cukup keras untuk menyadarkan Asia.
"Asia!" Issei berteriak dan secara reflek bergegas untuk menyelamatkan gadis itu walau menyadari semuanya sudah terlambat.
Wussh!
Udara dingin tiba-tiba saja menyapu mereka semua. Mereka kemudian melihat jika lantai yang mereka pijaki perlahan mengeluarkan embun es.
"Asia-senpai, kau baik-baik saja?"
Asia yang tadi menutup matanya pasrah kemudian mulai membukanya kembali ketika mendengar suara memanggilnya.
"N-Naruto-san?" Ucapnya dengan tergagap.
Naruto mengangguk dan tersenyum, membuat rona merah muncul di pipinya. Pemuda itu kemudian memutuskan untuk menjauhkan Asia dengan menciptakan jalan es kecil yang membuat gadis itu berseluncur lembut kearah Sona.
Rias dan yang lainnya bernapas lega ketika melihat Naruto berhasil menyelamatkan Asia. Terkecuali Arachne yang terkejut ketika serangan jaring spesial miliknya terhapus oleh es begitu saja.
Sebuah cemberut tercipta di wajah Naruto ketika melihat Arachne. Sejujurnya dirinya paling tidak suka untuk melawan mahkluk seperti ini, bukan karena dirinya takut kalah atau apa. Tapi, mahkluk ini menyeramkan! Hampir seperti monster seram mirip di film, walau menurutnya sedikit lebih baik karena mereka dapat di bunuh.
Tidak seperti hantu, yang tidak akan bisa di bunuh atau serang bagaimanapun caranya. Terkadang keluarganya akan menertawakan alasannya tentang ini yang membuatnya merengut, lagipula bukan salahnya juga.
"Hei Ria-nee, apa tidak masalah dia di bunuh?" Naruto menatap Rias dengan ekspresi polos di wajahnya.
Rias melipat tangan di bawah dadanya dan mengangguk. "Yup, dia akan membahayakan manusia jika di biarkan begitu saja." Balasnya singkat yang membuat Naruto mengangguk paham.
Di sisi lain, Arachne menggeram ketika bocah laki-laki itu bertingkah sombong di depannya, sebelum ia memutuskan untuk menggunakan kekuatan penuhnya.
"Kita lihat siapa yang terbunuh, bajingan!" Dengan segera, suara Arachne semakin memberat, di ikuti ukuran tubuhnya yang perlahan membesar.
Naruto sendiri memiringkan kepalanya. 'Baji--apa?' Dirinya mencoba mengingat-ingat kembali dan memutuskan untuk bertanya nanti pada kakaknya.
Iris violetnya perlahan mendingin sebelum ia menghilang dalam pandangan.
Arachne melebarkan matanya ketika Naruto sudah tak terlihat di hadapannya, sebelum sebuah suara terdengar di atasnya.
" All Freeze."
Wussh!
Dalam sekejap, seluruh bagian dalam gedung. Baik lantai, langit, maupun dinding seluruhnya membeku ketika Naruto mengucapkan kalimat singkat sederhana itu. Arachne sendiri juga ikut membeku hingga menyisakan kepalanya saja. Satu-satunya yang tidak membeku adalah Naruto, Sona, Rias dan Peeragenya.
"Wow!" Issei menatap sekelilingnya dengan kagum.
"Melihat ini membuatku sedikit bernostalgia." Rias berkata dengan senyuman tipis di wajahnya.
"Ara, apa maksudmu saat acara ulang tahun itu?" Tebaknya dengan ekspresi geli.
Rias terkekeh. "Begitulah."
"Sepertinya seluruh bagian dalam gedung membeku." Ujar Kiba saat melihat seluruh sudut gedung telah membeku kecuali mereka.
Di udara, Naruto terlihat melayang menggunakan sepasang sayap es lebar di punggungnya melihat dengan kerutan di wajahnya.
"A-Apa?! B-Bagaimana--?!" Arachne mencoba sekuat tenaga melepaskan diri tetapi bagaikan es sekeras berlian, dirinya tak dapat menghancurkan ini yang membuatnya sedikit ketakutan untuk pertama kalinya semenjak menjadi Stray Devil.
"S-Siapa kau sebenarnya?!" Tanyanya dengan menaikkan nadanya, disertai getaran ketakutan yang terdengar.
Naruto memiringkan kepalanya. "Aku? Aku Naruto Sitri." Balasnya dengan polos sebelum menciptakan tombak es berukuran besar.
"Maaf, tapi Ria-nee ingin kau di bunuh." Naruto berujar singkat sebelum mengarahkan tombak itu pada Arachne yang menatapnya takut.
"T-Tunggu--"
Swussh! Sressh! Pyaar!
Tombak itu dengan cepat menembus tubuh Arachne dari bagian kepalanya hingga bagian bawah, dan ajaibnya tidak ada darah yang keluar. Melainkan tubuhnya langsung membeku begitu tombak itu menembusnya, dan beberapa saat kemudian terpecah menjadi pecahan es di udara.
Selesai melakukan itu, Naruto melayang perlahan menuju tempat Rias dan kakaknya. Sayap es di punggungnya perlahan menghilang menjadi partikel es kecil.
"Umm, apa sudah selesai?" Naruto melirik ke sekitar yang tidak ada apapun selain mereka.
Rias hanya tersenyum sebelum tangannya terulur dan mengelus rambut pemuda itu dengan penuh kasih. "Yap, terimakasih atas bantuanmu." Ucapnya dengan lembut.
Naruto balas tersenyum dan mengangguk. "Kapanpun Ria-nee meminta." Balasnya.
Sona yang melihat itu segera menarik Naruto dari jangkauan Rias dengan memeluknya dari belakang kembali, membuat gadis Gremory tersebut mengangkat alisnya, sebelum senyum usil terpampang di wajahnya.
"Apa? Kau belum puas dengan menggigit telinganya?" Ucapnya dengan seringai jahil yang membuat sahabat masa kecilnya itu merona.
"Aku tidak tau apa maksudmu." Ia memalingkan wajahnya ke samping.
"Ara, kalau begitu, apa boleh aku melakukannya?" Akeno menatap Sona dengan senyuman khasnya.
Iris violet Sona kemudian menajam setelah mendengar ucapan Akeno. "Lakukan itu dan aku akan membekukanmu selamanya." Ujarnya dengan dingin yang membuat Rias terkekeh.
"Ufufu, jahatnya~" Balas Akeno yang sama sekali tak merasa terancam dengan itu.
Naruto yang sedari tadi mendengar percakapan ketiganya bersama yang lain memutuskan untuk menanyakan sesuatu yang memang ia ingin tanyakan sebelumnya saat melawan Arachne.
"Umm, Onee-chan?"
Sona mengerjapkan matanya ketika mendengar suara adiknya. "Ya?" Jawabnya dengan lembut.
"Emm, itu...apa Onee-chan tau arti dari bajingan?" Tanyanya dengan polos yang membuat sang kakak terkesiap sebelum membalik tubuh adiknya untuk menghadapnya.
"Darimana kamu tau kata itu?" Sona balik bertanya dengan nada rendah, mengutuk siapapun yang membuat adik manisnya mengetahui kata-kata terlarang itu.
"Eh? Y-Yah, monster tadi yang mengatakannya--"
Dengan cepat Sona menangkup kedua pipinya, untuk menghentikan adiknya melanjutkan ucapannya. "Naru-chan, lupakan itu mulai sekarang, oke?" Sona berkata sembari tersenyum padanya.
Naruto memiringkan kepalanya. "Kenapa?" Tanyanya polos.
Gadis itu menggelengkan kepalanya pelan. "Lupakan saja dan jangan pernah mengingat atau mengucapkannya lagi, oke? Atau Nee-chan akan meminta Kaa-sama menjemputmu pulang." Lanjutnya yang membuat Naruto melebarkan matanya.
"Mmm, baiklah." Ia menjawab dengan lemah. Walaupun masih sedikit penasaran.
Sona tersenyum dan mengecup pipinya. Menghiraukan Rias, Akeno dan yang lain memandangnya dengan sebutir keringat.
"Apa?" Tanyanya datar.
Rias melambaikan tangannya halus tanda tidak apa-apa. Memutuskan untuk mengabaikan perilaku sahabatnya. Menghadapi Sona yang bersikap datar memanglah merepotkan, tapi menghadapi Sona yang bersikap overprotektif lebih merepotkan daripada apapun dalam hidupnya.
Ia lalu memandang sekelilingnya, hanya warna biru sejauh mata memandang, bahkan dalam sudut terkecil sekalipun.
"Na-kun, bisa kembalikan ini? Sudah mulai terasa dingin disini." Rias meminta padanya dengan lembut dengan memeluk sedikit tubuhnya, guna menghangatkan diri.
Naruto mengangguk, sedikit lupa untuk mengembalikan keadaan gedung. "Ah iya." Pemuda itu kemudian menjentikkan jarinya, membuat es yang menyelimuti seluruh bagian dalam gedung terpecah menjadi butiran partikel kecil yang indah.
"Huft, senang udara menjadi sedikit hangat kembali." Issei mengelus lengannya, mencoba menghangatkan diri.
Naruto terlihat menatapnya bingung. "Eh, apa sedingin itu?" Tanyanya.
Issei, Asia, dan bahkan Kiba serta Koneko menganggukkan kepala mereka bersamaan.
"Umm, itu cukup dingin kau tau? Apa Naruto-san tidak merasakannya?" Tanya Asia padanya.
Sebelum Naruto dapat menjawab, Rias terlebih dahulu menyela dirinya. "Ah, apa aku tak memberitahukannya?" Ia memandang Akeno dan Sona yang mengangguk, serta keempatnya yang memandang bingung King mereka.
"Na-kun, walau pengguna es. Dia tak akan merasa kedinginan sedikitpun. Bahkan tubuhnya terasa lebih hangat daripada seseorang pada umumnya." Jelas Rias.
Inilah yang membuat beberapa iblis di Underworld heran. Pikirkan saja, mana ada iblis yang tahan dingin seperti apapun dan tubuhnya tetap hangat dimanapun dia berada?
Kini jawaban itu terjawab sudah, Naruto-lah iblis itu. Bahkan, kakaknya pun akan mengalami kedinginan jika berada di suhu terdingin sekalipun.
Walaupun terdengar aneh jika pengguna es mengalami kedinginan karena kekuatannya sendiri, tapi itu semua memang kenyataan. Serafall sendiri memang memiliki resistansi terhadap suhu dingin karena dapat memanipulasi es, Grayfia juga. Namun, bahkan jika keduanya berada di suhu terdingin dalam waktu lama. Tetap saja tubuh mereka, sekuat apapun akan mengalami kedinginan sebagai efek dari itu semua.
Tetapi, Naruto berbeda. Dalam suhu terdingin sekalipun, bahkan jika dia berada disana selamanya. Tetap itu tidak akan berpengaruh padanya, mengingat suhu tubuhnya sangatlah hangat dan nyaman. Lady Sitri dan dokter yang pernah membantu kelahirannya pun sedikit heran dan menganggap itu semua keistimewaan dirinya sejak lahir.
Dan yang paling utama, serta membuatnya iri adalah Sona dapat memeluknya sebagai penghangat sepanjang waktu!
"Eh, benarkah?" Asia nampak kaget sekaligus penasaran dengan itu.
Naruto perlahan berjalan dan memegang kedua tangannya. "Bagaimana?" Tanyanya dengan memiringkan kepalanya, membuat mantan biarawati itu merona.
Koneko menyaksikan itu dengan cemberut sebelum mendekati keduanya. "Naruto-sama, aku juga mau coba." Pintanya.
"Tentu." Naruto tersenyum padanya. Tidak menyadari wajah merona gadis di depannya.
Rias, Akeno dan Sona hanya tersenyum kecil melihat itu sebelum dirinya menghampiri adiknya dan memeluknya dari belakang.
"Baik, sudah cukup. Malam akan semakin larut, kembalilah ke rumah kalian dan bersiaplah untuk bersekolah besok." Ujarnya lalu menciptakan lingkaran sihir khas Sitri.
Naruto melambaikan tangannya kepada mereka sebelum lingkaran sihir itu menelan keduanya.
"Ufufu, protektif seperti biasanya." Akeno tertawa seperti biasanya ketika melihat kakak beradik itu pergi.
Rias hanya tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya pelan. "Yah, aku juga tentu akan seperti dirinya jika memiliki adik seperti Na-kun." Iris blue-green miliknya kemudian menatap anggota keluarganya.
"Baiklah, hari ini sudah cukup. Kita mendapat cukup banyak alasan untuk bertambah kuat setelah pertarungan ini." Ujarnya.
Akeno mengangguk setuju. "Ufufu benar, aku juga sepertinya harus kembali berlatih jika musuh membawaku ke dalam pertarungan jarak dekat." Mau tak mau gadis miko itu mengakui jika ucapan Arachne sebelumnya ada benarnya.
Rias menoleh kearahnya, sebelum kembali menatap yang lainnya. "Aku juga minta maaf kepada kalian karena tindakan cerobohku membuat kalian dalam bahaya, terutama dirimu, Asia." Rias meminta maaf pada yang lainnya mengingat serangan kejutan Arachne terakhir kali, itu masih sedikit terlintas dalam pikirannya.
"Eh?! A-Ah, Buchou tidak perlu meminta maaf! Lagipula itu termasuk salahku juga yang melamun." Asia mencoba menyanggah dengan melambaikan tangannya.
Rias hanya menggelengkan kepalanya dan sedikit tersenyum. "Mungkin, tapi tetap saja itu terjadi karena kecerobohanku. Untuk itulah mulai besok kita akan melakukan pelatihan kembali, karena tidak ada yang tau seperti apa musuh di luar sana." Ucapnya.
"Ufufu, mungkin kita bisa meminta Naru-kun beberapa saran?" Tutur gadis itu pada King-nya.
Pewaris Gremory itu menoleh kearah sahabatnya selain Sona, tangannya terlihat mengelus dagunya, mencoba berpikir. "Itu, ide yang tidak buruk kupikir. Tapi menurutku Na-kun bukanlah tipe pelatih seseorang, walaupun dia jenius dalam mengendalikan sihir. Terlebih..." Bibirnya membentuk cemberut ketika mengingat alasan utama Naruto tak akan membantu pelatihan ini.
"Ara, Sona-Kaichou tak akan mengizinkannya?" Tebak Akeno terkikik kecil.
Rias mendesah lelah. "Yap, aku terkadang sedikit kesal dengan sifat posesif miliknya itu pada Na-kun, dan parahnya lagi Na-kun dengan polos menerimanya." Gadis itu mengusap dahinya.
Karena kepolosannya, Naruto sendiri tidak terlalu memikirkan perlakuan Sona padanya, dan menganggap itu kasih sayang yang kakaknya berikan. Karena itulah, Sona atau Serafall memiliki keuntungan mereka sendiri dengan memiliki adik sepertinya.
Polos, manis, dan yang paling penting tentu saja sangat menurut, itu adalah impian setiap kakak perempuan yang memiliki adik laki-laki, jika dia pengidap brocon akut seperti Sitri bersaudari tentunya. Pernah mendengar kalimat, "Adik lelaki adalah mainan kakak perempuannya?". Kira-kira seperti itulah Naruto saat ini, walaupun lebih sekedar dari itu pada kenyataannya.
"Bagaimanapun, sebaiknya kita pulang. Berisitirahat yang cukup juga termasuk hal yang perlu dilakukan untuk iblis seperti kita." Ia memandang Akeno yang mengangguk dan membentuk lingkaran sihir khas Gremory.
Sring!
Dalam cahaya kemerahan, mereka menghilang dari gedung kosong yang sebelumnya menjadi saksi bisu pertunjukan kecil kekuatan Super Devil termuda dalam sejarah Underworld tersebut.
.
And cut...
.
TBC
.
Note :
Hmm, kedikitan kah? Mungkin iya, karena gua sengaja break disini karena pengen cepet up nih fict daridulu. Berhubung beberapa dari kalian juga pengen nih fict up lebih dulu dari The Absolute.
Dan yah, pertarungannya mungkin cukup membosankan karena gua sedikit bingung dalam meng-imajinasikannya, jadi nikmati apa adanya aja ya wkwk.
Lalu, scene Naruto pas kill Arachne itu kira-kira sama persis di episode Owari no Seraph yang berapa ya, lupa gua. Intinya, yang Yuu berubah jadi Shio no Ou. Inget scene tombak itu? Ya, kalo di sana abis ketusuk tombak pecah jadi garem, kalo di sini abis ketusuk tombak, pecah jadi es wkwk.
Mungkin itu aja dulu ya, selebihnya bisa PM aja. Terimakasih yang selalu setia menunggu dan fav fol rev. Sehat selalu bagi kita dan keluarga, aamiin.
See you later...
