.
.
Disclaimer :
Naruto Masashi Kishimoto
Highschool DxD Ichiei Ishibumi
.
Rating : M (Just for save)
Genre's : Adventure, Supernatural, Half-Humor, Fantasy, Little bit-Romance, etc...,
Pair : Naruto x Moka (?) (Bisa berubah seiring cerita)
Warn : Always Mainstream idea!, Many more typo, alur acak!, OC Chara, OOC Chara, bad EYD, bahasa kaku dsb, and etc...,
Devil!Naru, OverPower!Naru, IceUser!Naru
.
Chapter 6 : Just a Normal Day
.
Sona Apartment
Sona membuka kedua matanya secara perlahan, gadis itu sedikit menguap sebentar sebelum mencoba untuk mengubah posisinya menjadi duduk, jika saja tidak ada tangan yang menahan tubuhnya untuk melakukan itu.
Kedua iris violetnya kemudian mendapati pemilik tangan yang melingkari pinggangnya tersebut, tak lain dan tak bukan adalah adik laki-laki kesayangannya, tengah tertidur dengan wajah damai dan sedikit senyuman di wajah manisnya.
Tangannya terulur untuk mengusap rambut hitam milik pemuda itu. Sangat lembut, itulah kesan yang tak pernah hilang dari benaknya. Dirinya bahkan heran mengapa rambut adiknya bisa selembut ini, rambut ibunya, Serafall dan dirinya saja tidak selembut Naruto.
Mungkinkah karena perawatan yang dilakukan mereka bertiga kepadanya? Tapi Sona rasa itu tidak mungkin, karena bagaimanapun juga, keluarganya selalu memakai shampoo dengan merk yang sama.
'Sangat pulas, kamu pasti lelah bukan?' Bibirnya membentuk senyuman tipis ketika terus memandangi wajah tidur Naruto.
Meskipun ini bukan pertama kalinya Naruto terlihat selelah itu, tapi Sona cukup mengerti dengan semua yang di alami adiknya akhir-akhir ini. Yah, gadis-gadis di dunia manusia memang terkadang lebih ekspresif dan aktif daripada gadis-gadis di Underworld.
Beberapa menit setelah puas memandangi adiknya, Sona memutuskan untuk melepaskan dengan lembut pelukan Naruto lalu duduk dan meregangkan otot tubuhnya yang kaku karena tidur.
"Masih jam 5 pagi ya? Hmm, kupikir bersiap lebih awal tidak ada salahnya." Gumamnya sebelum turun dari tempat tidur untuk membersihkan dirinya.
.
- Skip Time -
Di jalan menuju Akademi Kuoh, terlihat Sona dan Naruto yang berjalan berdampingan, kedekatan mereka membuat orang-orang sekitar mudah menduga jika keduanya mungkin bersaudara, dilihat dari kemiripan antara warna rambut dan mata keduanya.
"Nee-chan~, bukankah masih terlalu pagi?" Naruto berujar pada kakaknya dengan nada yang terdengar sedikit setengah mengantuk. Bahkan dia juga terlihat berjalan sambil memejamkan matanya, dengan Sona yang menggandeng sebelah lengannya, dia tak perlu khawatir untuk menabrak sesuatu di jalan.
Pewaris Sitri tersebut melirik adiknya sebelum tangan kirinya terjulur dan mengusap lembut surai hitam miliknya. "Kamu pasti tau Nee-chan adalah Ketua Dewan Siswa di Kuoh bukan? Jadi, biasakan dirimu oke?" Dia mengakhiri itu sebelum mengecup singkat pipi adiknya.
Sebenarnya, Sona bisa saja membiarkan adiknya berangkat lebih lama darinya, tapi satu hal yang ia khawatirkan adalah, kemungkinan jika Naruto tertidur di apartemen. Tidak dapat di pungkiri jika adiknya itu tidak tahan terhadap kantuk, bahkan sekecil apapun rasa kantuknya, Sona yakin Naruto bisa tertidur kapan saja.
Dirinya sengaja sedikit memaksa adiknya untuk berangkat bersama agar setidaknya dia bisa sedikit terbiasa dengan aktivitas ini. Bagaimanapun, berinteraksi sosial di dunia manusia adalah hal baru baginya.
Mengingat saat di Underworld Naruto belum pernah sekalipun bergabung dalam Akademi--ah tidak, Sona menggelengkan kepalanya kemudian ketika mengingat hal ini.
Seingatnya dengan jelas, Naruto sebenarnya pernah di daftarkan oleh ayahnya pada akademi di Underworld, namun itu tidak bertahan lama karena yah, satu hal dan hal itu yang membuat hampir semua iblis disana sweatdrop.
Mengapa? Jawabannya hanya satu, itu semua karena Raven Sitri, atau ibunya sendiri. Sona mengingat dengan jelas ketika hari itu terjadi, dimana Raven berubah menjadi wanita yandere ketika melihat Naruto di kelilingi oleh gadis-gadis iblis serta ibu mereka karena terpikat oleh keimutan dan kemanisannya.
Dibutuhkan hampir seluruh staff akademi untuk menghentikan kemarahan ibunya, bahkan Yondai Maou sendiri sampai datang untuk meredamkan kemarahan seorang ibu yang marah tersebut.
Dimulai dari hari itulah Underworld mulai mengenal Raven Sitri sebagai Yandere Son-complex. Mereka bahkan sedikit bersimpati kepada Minato yang selalu berkeringat dingin ketika menghadapi istrinya dalam mode yandere tersebut.
Sona menghela napas lelah, jika ada sebuah vote di seluruh dunia untuk siapa yang paling posesif di dunia ini maka dia hanya akan menjawab satu hal dengan datar, tegas dan sangat yakin, yaitu Raven Sitri.
Walaupun tak di pungkiri jika dirinya dan Serafall hampir sama posesifnya, tapi bahkan sifat posesif mereka berdua tidak mendekati Raven yang pernah hampir melawan Yondai Maou karena sifat Yandere Son-complex miliknya.
Terkadang dirinya mendengus serta mengejek orang-orang ketika mendengar mereka mengatakan bahwa dia dan kakaknya sangat posesif terhadap Naruto. Oh ayolah, andai saja mereka melihat Raven ketika memasuki mode yandere miliknya saat sikap posesifnya aktif.
Biarpun ibunya sesekali berusaha menyembunyikan sifatnya itu, tetap saja semuanya sudah terbongkar pasca kejadian yang disebut oleh penduduk Underworld sebagai Chaos of The Mother tersebut.
.
Meanwhile
Raven yang saat ini tengah merajut syal berwarna merah di depan tungku api yang ada di mansion Sitri, terlihat bersin sesaat sebelum pikirannya menerawang terhadap sesuatu.
"Ara~, aku yakin ada seseorang yang membicarakanku sekarang~" Wanita cantik beranak tiga itu terdengar bersenandung kecil.
Siapapun itu, Raven tidak mempermasalahkan dirinya menjadi bahan pembicaraan asalkan jangan bayi manisnya. Ya, asalkan jangan Naruto imutnya. Wajahnya kemudian terlihat menggelap dengan senyuman khas seorang yandere.
'Ufufu, jika ada seseorang yang mencoba merebut Naru-chan-ku, aku hanya perlu menebasnya, bukan?' Dia terkikik kecil ketika memikirkan hal itu, sebelum melanjutkan merajut syal untuk putra imutnya. Oh Raven, andai kau tau jika yang kau maksud itu adalah Sona.
Wanita itu juga tidak menyadari jika Minato melihatnya dari persimpangan ruangan dengan keringat kecil ketika melihat istri tercintanya terkikik menyeramkan.
Satu hal yang pasti dirinya tau, istrinya itu pasti memikirkan sesuatu yang sadis terhadap seseorang.
.
Kembali kepada Sona yang saat ini tengah merinding entah karena hal apa. Namun, gadis itu kemudian menggelengkan kepalanya dan melihat Naruto di sebelahnya sebelum alisnya berkerut.
Bisa dilihat jika pakaian adiknya itu tidak tertata cukup rapi, seperti 2 kancing seragam yang tidak dimasukkan, serta dasi yang kendur, kemudian ditambah rambutnya yang sedikit acak-acakan karena tersapu angin pagi akibat kelembutannya.
Sona menghentikan langkahnya kemudian, bersamaan dengan Naruto yang masih berjalan dengan mata terpejam ikut berhenti karena tangannya masih di peluk oleh kakaknya itu.
Jarak keduanya sendiri dengan akademi hanya tinggal beberapa meter saja, gerbang Akademi Kuoh pun sudah terlihat dengan jelas. Juga, siswa dan siswi disekitar yang kebetulan melihat keduanya pun ikut berhenti untuk menyaksikan interaksi kedua kakak beradik tersebut.
Cemberut kecil terbentuk di bibir tipis pewaris Sitri tersebut saat melihat penampilan tidak rapih adik kesayangannya.
"Apa yang Nee-chan katakan tentang menjaga kerapihan padamu hm?" Sona berkata dengan nada lembut sambil membenarkan kancing seragam, dasi serta merapihkan rambut halusnya. Namun alisnya sedikit berkedut ketika rambut hitam adiknya kembali bergerak ketika terkena hembusan angin pelan.
"Mmm." Naruto hanya mengerang ketika Sona menyentuh rambutnya.
'Yosh.' Sona mengangguk kecil setelah selesai merapihkan penampilan adiknya, untuk sedetik kemudian sweatdrop ketika rambutnya kembali bergerak saat angin sejuk pagi hari yang membuatnya acak-acakan.
"Masih mengantuk?" Sona menyentuh sebelah pipinya dengan lembut. Naruto mengangguk pelan sambil menguap kecil.
"Nee-chan~, apa tidak bisa kita pulang saja?" Naruto nampak menatap kakak keduanya itu dengan raut wajah sayu yang membuat Sona merona tipis melihat kemanisannya yang meningkat.
Tangan putih mulusnya terjulur dan menangkup wajah Naruto dengan penuh kasih. "Sayang, bukankah kamu sendiri yang meminta kesini?" Ujarnya dengan lembut.
Naruto sedikit cemberut sebelum dia bergerak memeluk Sona dan meringkuk di dada kakaknya sambil tangannya melingkari pinggang ramping gadis itu, membuat Sona sedikit terhuyung sesaat.
"Tapi aku ngantuk~. Nee-chan, pulang saja ya?" Naruto mendongak di pelukan Sona, memandangnya dengan iris violet yang sedikit berkaca-kaca.
'Uhhh.' Sona hampir saja tergoda untuk menurutinya jika saja dia tidak teringat pesan ibunya.
Menarik napas sesaat, Sona mencoba menenangkan dirinya untuk tidak bertindak berlebihan karena tingkah manis adiknya.
Sepintas ide kemudian terpikir di benaknya. "Baiklah, tapi nanti Naru-chan sendiri yang menjelaskannya pada Kaa-sama, oke?" Sona mengelus rambut hitamnya dengan senyum penuh arti di wajahnya.
Senyumannya semakin melebar ketika Naruto sedikit melebarkan matanya.
"E-Ehh?!...E-Emm, t-tapi..." Pemuda itu nampak memasang wajah gugup saat Sona mengatakan itu padanya.
Ketua Dewan Siswa Kuoh itu terkekeh dalam hatinya. Biarpun ibunya sangatlah menyayangi adiknya ini serta bersikap sangat lembut padanya, tetap saja sebagai orang tua tentunya dia tak akan membiarkan Naruto bersikap seperti ini.
Memang, Raven mungkin tidak akan marah, ah ralat. Tidak mungkin ibunya bahkan dapat memarahi Naruto mengingat betapa sayangnya wanita itu pada putra bungsunya. Namun tetap saja, sebagai orang tua dia terkadang perlu bersikap tegas kepada seluruh anak-anaknya, terutama tentang perilaku mereka.
Walaupun ketegasan itu menurut Sona sangatlah lembut ketika Raven melakukannya pada Naruto, berbeda jika Raven kepada Serafall, yang dimana bahkan membuat Maou Leviathan itu berkeringat dingin ketika ibunya marah kepadanya.
Sona ingat terakhir kali Raven bersikap tegas kepada adiknya, tepatnya ketika adiknya itu berumur sekitar 5 tahun, dan itu berakhir dengan lucu menurutnya karena setelah Raven melakukan itu, Naruto meminta maaf padanya dengan sedikit menangis yang membuat Raven panik, meninggalkan Minato, Serafall dan dirinya sweatdrop ketika melihat wanita yang mereka cintai itu berusaha dengan panik menenangkan Naruto
Mulai dari situlah dia sadar ibunya tidak pernah memarahi Naruto sejak peristiwa itu. Walaupun Sona tau jika ibunya memarahi adiknya dengan tutur bahasa lembut, tetapi mungkin karena sikap polos dan manis Naruto, bocah itu menganggap jika Raven mungkin marah dan kecewa terhadapnya.
Karena tidak tahan, Sona akhirnya tertawa kecil melihat gelagat Naruto yang gugup setelah dia mengatakan itu.
"Ufufu~, hanya bercanda." Sona menepuk lembut kepala Naruto, menghiraukan pemuda itu yang cemberut manis pada kakaknya.
"Mmm, Onee-chan~!" Rajuknya kemudian akan melepaskan pelukannya terhadap Sona.
Tetapi gadis itu menahannya dan memeluk sedikit erat adiknya serta mencium pucuk kepalanya. "Baiklah baiklah, maaf oke?" Ucapnya dengan membujuk Naruto setelah dia melepaskan pelukannya.
Namun Naruto masih cemberut padanya dan dia memalingkan wajahnya dari Sona dengan lucu untuk menjawab ucapannya.
Tidak tahan dengan keimutannya, Sona segera menarik adiknya kedalam pelukan hangat kembali yang membuat Naruto mengerang ketika pelukan kakaknya itu sedikit kuat.
'Sangat imut~' Sona memekik dalam hatinya sambil memeluk Naruto dengan gemas.
"Mmmh...Onee-chan...lepaskan aku~" Pemuda itu berkata dengan susah payah karena teredam oleh dada berukuran sedang milik Sona.
Sona tersenyum manis. "Baiklah~, tapi maafkan Onee-chan, oke?" Ujarnya dengan lembut yang membuat Naruto terdiam dengan pilihan sulit itu.
Jika dia tidak menurutinya, maka pasti Sona akan terus memeluknya, dan jika dia menurutinya maka sama saja dirinya kembali kalah oleh kakaknya disini seperti yang sering terjadi ketika dalam situasi seperti ini.
Memikirkan itu membuat Naruto cemberut dan merengut kecil, bukan berarti dia tidak suka dengan pelukan dari kakaknya atau apa, tapi terkadang kakaknya lupa tentang berapa lama dia memeluknya sehingga dirinya terjebak di pelukan dalam waktu lama, terlebih lagi Serafall yang lebih dari bersedia untuk memeluknya selama satu hari penuh.
Tak mendengar jawaban, Sona mengeratkan pelukannya sambil berkata dengan senyum manis. "Naru-chan~?" Ucapnya yang membuat Naruto mau tak mau mengerang.
"Iyaaa, Naru maafkan! Jadi, lepaskan aku~" Rengeknya dengan manis yang membuat Sona tertawa dengan lembut, sebelum gadis itu menurutinya. Sona juga menyempatkan untuk mengecup singkat pipi putih adiknya sebelum melepaskan pelukannya.
"Ufufu, anak pintar~" Ujarnya yang membuat Naruto sedikit cemberut, karena tak menganggap itu sebagai pujian, membuatnya hanya mendapat kikikan dari kakaknya.
Kedekatan mereka berdua cukup menyita hampir sebagian besar siswa dan siswi yang ada di tempat itu. Beberapa siswi terlihat memekik dan memandang interaksi keduanya dengan mata berbentuk cinta, terutama tingkah Naruto yang menurut mereka sangat imut. Sedangkan para siswa terlihat memandang Naruto sedikit iri karena memiliki kakak seperti Sona.
Keduanya juga tak luput dari perhatian Rias dan Peerage miliknya yang menatap dengan ekspresi berbeda. Rias sendiri sweatdrop melihat sifat brocon sahabatnya yang tak pernah hilang.
'Entah aku harus iri terhadap Sona yang memiliki adik seperti Na-kun, ataupun kasihan pada Na-kun karena memiliki keluarga protektif dalam hidupnya.' Renungnya dalam pikiran ketika mengingat Raven dan Serafall.
"Ara ara~" Kalian pasti tau dari siapa suara ini berasal.
Yuuto hanya tersenyum kecil, Asia hanya memiringkan kepalanya polos sedangkan Koneko hanya cemberut dan sedikit cemburu dengan kedekatan Sona pada pemuda target cintanya itu.
'Uwoo, mungkinkah Kaichou pengidap incest?!' Lain lagi dengan Issei yang memikirkan hal di depannya menuju hal yang lebih dalam. Membayangkan kedua kakak adik itu bersama, di suasana gelap dan--yah, tidak perlu dijelaskan lebih jauh apa yang ada di pikirannya saat ini.
Tetapi, sebenarnya Issei tak akan pernah menduga jika pikirannya sejujurnya tidak salah sedikitpun, ya, mungkin.
"Brocon seperti biasa bukan?" Rias berkata dengan nada sarkas saat berjalan mendekati sahabat masa kecilnya itu bersama peerage miliknya.
"Ara Ara~" Akeno menanggapi ucapan King-nya itu dengan sebelah tangan yang menangkup pipi kanannya sambil wajahnya membentuk senyuman menggoda seperti biasa.
Baik Sona maupun Naruto sedikit terkejut ketika mendengar suara Rias dan melihatnya berjalan mendekat kearah mereka berdua.
Rona merah cerah mulai terbentuk di pipi Sona saat mendengar ledekan pewaris Gremory tersebut yang kemudian membuatnya mendengus.
"Diamlah, otaku." Gerutunya.
Kini sebaliknya, Rias lah yang sedikit merona ketika mendengar balasan Sona yang menyebutnya otaku, walaupun tidak salah, tetap saja dia malu jika di panggil itu di depan umum! Terutama di sekitar peerage miliknya, cukup Akeno saja yang terkadang meledek hobinya ini.
Salah satu Great Onee-sama itu kemudian melipat tangannya di depan dada. "H-Hmph, setidaknya l-lebih baik dari seseorang yang brocon sepertimu." Balasnya tak mau kalah yang membuat Sona menatapnya tajam yang dibalas tatapan tak kalah tajam olehnya.
"Aku tak ingin mendengar itu dari orang yang sering menonton anime bergenre tak senonoh seperti dirimu, weaboo." Sona membalas dengan tajam yang membuat Rias sedikit tertohok karena sebutan weaboo dan merona karena genre terlarangnya diketahui oleh Sona.
"A-Apa katamu?!" Rias dengan segera mendekat dengan wajah memerah pada Ketua Dewan Siswa Kuoh itu.
Sona tersenyum angkuh melihat sahabatnya itu termakan ucapannya. "Kau mendengarku, Rias weaboo." Ujarnya yang membuat Rias semakin menggeram walaupun rona merah memenuhi pipinya.
"Brocon sesat!"
"Weaboo-neet!"
"A-Apa?!"
Keduanya berdebat dengan hinaan masing-masing, dimana Rias malah semakin frustasi karena hinaan temannya yang menyakiti hatinya tersebut, dan yang lebih buruk adalah dia tak bisa memikirkan hinaan balasan untuknya.
Naruto memiringkan kepalanya melihat keduanya terus bertengkar kecil, tangannya kemudian terjulur dan menarik pelan seragam Akeno yang sedari tadi menyaksikan pertengkaran keduanya dengan senyuman khas miliknya.
"Ara?" Akeno mengedipkan kedua matanya ketika merasakan tarikan pada seragamnya sebelum melihat Naruto yang menunjuk kedepan, dimana kakaknya dan Rias saling beradu mulut.
"Hei Ake-nee, apa yang mereka bicarakan?" Naruto kemudian menoleh kearah Akeno sambil memandangnya dengan tatapan polos, tidak menyadari rona merah di pipi Akeno semakin terang.
Sedetik kemudian Naruto tersentak ketika Akeno menariknya ke dalam pelukan, yang membuatnya sedikit bingung dengan tingkahnya.
'Manisnya~' Akeno memekik dalam hatinya sebelum terkikik kecil.
"A-Ake-nee, ada apa?" Bocah itu bertanya yang tak mendapat jawaban dari gadis itu.
Sedangkan yang lain menyaksikan itu dengan beragam, Asia yang tertawa gugup, Koneko yang semakin cemberut, Kiba yang mengelus dahinya, Issei yang semakin iri dengan situasi Naruto.
'Kenapa...?! Kenapa pria tampan selalu memenangkan semua gadis?!' Dalam pikirannya Issei terus merutuki nasibnya karena tidak bernasib sama seperti adik kelasnya itu.
Pertama adalah kakaknya (Sona), kedua yaitu teman kakaknya (Rias dan Akeno), kemudian gadis sepantarannya (Koneko dan Asia), lalu siapa lagi?! Ibu-ibu muda atau tante-tante?! Issei terus berpikir semakin dalam di kepalanya sendiri mengenai Naruto, yang membuat Kiba melihatnya dari samping dengan sweatdrop.
Akeno tersenyum tipis karena kapan lagi dia akan mendapat kesempatan memeluk Naruto dengan gratis seperti ini ketika ada Sona disekitarnya, berterima kasihlah pada Rias yang memberinya kesempatan ini.
Sesaat kemudian dia melepaskan pemuda itu kembali dan menyaksikan perdebatan Sona dan Rias masih berlanjut, yang bahkan membuat mereka tidak memerhatikan lingkungan sekitarnya, tentu ini akan menjadi tontonan menarik untuk murid lainnya.
"Ufufu, tidak apa-apa. Mereka hanya sedang membicarakan sesuatu tentang kelas mereka saja." Gadis miko itu menepuk pelan rambut halus pemuda Sitri tersebut yang mengangguk paham.
"Umm, begitu. Tapi aku masih tidak mengerti apa itu brocon atau weaboo. Onee-chan dan Riri-nee selalu mengucapkan hal itu ketika mereka berbicara." Naruto menggumamkan kata-kata itu pelan, namun Akeno, Asia, Issei dan Kiba masih mendengarnya dengan jelas, mengingat indra pendengaran mereka berbeda dari manusia.
Sebenarnya tidak jarang Naruto mendengar kata-kata itu ketika Sona dan Rias berdebat, namun setiap kali dia menanyai apa artinya keduanya langsung berhenti berdebat dan langsung menjadi akrab kembali, yang membuatnya hanya menatap mereka dengan bingung. Dia sedikit tau apa itu otaku (Itupun juga Rias mencampuri sedikit kebohongan di dalamnya), tapi tidak dengan weaboo ataupun brocon.
Akeno sedikit berkeringat kecil dengan sebutan Rias lainnya yang Naruto ucapkan. Sejujurnya Naruto memang menyebut Rias dengan beberapa sebutan berbeda, mungkin karena pengaruh Venelana di sekitarnya saat mereka masih kecil.
Ria-nee, Riri-nee, Ri-nee, bahkan Riicchan-nee pernah dia ucapkan karena Venelana dan Sirzechs yang membuat Rias malu karenanya, namun gadis itu pasrah menerimanya setelah melihat ekspresi manis dan polos Naruto saat mengatakan itu, tentu siapa yang akan tega menolaknya setelah melihat wajah polos tanpa dosa seperti itu.
Di sisi lain, Issei sedikit kaget setelah mendengar ucapan pemuda yang menjadi adik Sona-Kaichou tersebut.
"Ehh?! Apa Naruto-san tidak tau arti dari itu?" Ucapnya dengan wajah tak percaya, seharusnya dengan kedekatan mereka pemuda itu minimal tau arti dari sebutan tersebut.
Yah, jangan salahkan dia Issei. Mengingat Sona dan Rias selalu menghindari dan mengubah topik ketika Naruto bertanya mengenai hal itu karena mereka malu jika Naruto mengetahui arti dari sebenarnya sebutan tersebut.
Bahkan Raven saja pernah membuat Venelana dan yang lainnya termasuk berkeringat dingin ketika mereka hampir menjelaskan arti dari Son-complex kepada Naruto yang bertanya dengan polos, namun pada akhirnya dihentikan paksa oleh Raven karena wanita tersebut tak ingin putra imutnya mengetahui hal itu.
Naruto menoleh kearah senpai berambut coklat tersebut. "Um, apa senpai tau artinya?" Balasnya balik bertanya kepada Issei.
Issei melipat kedua tangannya dengan menganggukkan kepalanya. "Tentu saja." Jawabnya sedikit bangga, berpikir dia sedikit lebih berpengetahuan dari adik kelasnya tersebut.
"Woah benarkah? Kalau begitu, apa bisa beritahu aku?" Pinta Naruto dengan wajah sedikit penasaran dan bersemangat karena akhirnya dia akan mengetahui arti dari kata-kata tersebut.
"Khuhuhu, tidak masalah." Balas pemuda berambut coklat itu dengan nada bangga miliknya.
Tanpa mereka sadari, Sona dan Rias yang sedikit berhenti berdebat mendengar percakapan keduanya, dan itu membuat mata kedua gadis pewaris klan ternama di Underworld tersebut melebar.
Jika ada satu orang yang tak ingin mereka biarkan tau tentang fakta ini adalah pemuda kesayangan mereka, yang tak lain dan tak bukan adalah Naruto Sitri!
Akeno yang ternyata melihat reaksi keduanya hanya tersenyum seperti yang dirinya biasa lakukan, karena mengetahui apa yang akan terjadi setelah ini. Begitupula Kiba yang hanya tertawa canggung, Koneko yang mendengus sambil bergumam tentang Issei bodoh dan semacamnya serta Asia yang hanya menyaksikan interaksi mereka dengan polos.
"Baiklah, dengarkan baik-baik oke? Brocon dan weaboo itu adalah--guohh!" Baru saja ingin memulai penjelasannya, tiba-tiba saja Issei merasakan kedua tangan yang mendorongnya kuat, menyebabkannya terpental dan berakhir dengan terbaring di jalan dengan mata memutih.
"A-Aku merasakan sesuatu yang kuat mendorongku tadi." Gumamnya setengah sadar, merasakan sedikit sakit di punggungnya karena mendarat cukup kasar.
"Aaaa I-Issei-san!" Gadis itu nampak tergagap melihat pemuda itu kini terbaring di tanah.
Sona dan Rias yang merupakan pelaku dari ini semua hanya berdehem pelan disertai rona merah tipis yang ada di kedua pipi mereka.
"N-Nah Naru-chan, lebih baik kita segera ke dalam oke?" Sona nampak mencoba mengalihkan perhatian adiknya.
"E-Ehh? T-Tapi..." Naruto melihat Issei yang terbaring dengan khawatir.
"Dengarkan Onee-chanmu ya Na-kun? L-Lagipula Issei adalah pemuda yang kuat, hanya saja mungkin dia sedang kelelahan hari ini." Rias ikut mencoba mengalihkan perhatian Naruto.
"Rias benar, jadi ayo kita masuk oke?" Tanpa menunggu jawaban adiknya, Sona langsung membawa adiknya ke dalam dengan menggandeng lengannya.
"T-Tunggu O-Onee-chan..."
Naruto hanya bisa pasrah ketika kakaknya menghiraukannya dan terus menyeretnya masuk ke dalam akademi. Keduanya terus berjalan semakin jauh meninggalkan Rias bersama peeragenya yang masih berada di luar gerbang.
'Fyuh, hampir saja.' Rias menyeka sedikit keringatnya, lega karena berhasil mengalihkan pemuda itu.
"Ufufu, apa sebegitu tidak inginnya kau jika Naru-kun mengetahui arti itu?" Goda Akeno padanya, mengundang cemberut kecil dari King-nya.
"Aku hanya tak ingin dia kecewa dengan hobiku, itu saja." Dalihnya, karena sebenarnya dirinya tak ingin jika Naruto tau bahwa dia juga terkadang mendalami hobinya terlalu jauh.
Akeno hanya memandangnya dengan geli, sejujurnya dia yakin, sangat yakin malah. Bahwa Naruto tak mungkin kecewa karena Rias memiliki hobi seperti itu, lagipula bukankah mereka sudah sering menonton bersama ketika masih kecil? Atau mungkin...Gadis penjaga kuil itu menyeringai kecil ketika mengetahui maksud sebenarnya dari Rias yang tak ingin Naruto ketahui tentang dirinya.
"Ara~, begitu kah~?" Akeno membalas dengan nada menggoda padanya, membuat kedua pipinya semakin merona.
"Diamlah." Gerutunya kemudian lalu berjalan kearah gerbang, menghiraukan Akeno yang terkikik, lalu tak lama gadis itu juga mengikuti jejak King-nya, diikuti oleh yang lainnya.
.
- Skip Time -
"Baiklah, sampai disini dulu pelajaran kita. Harap kerjakan dengan teliti dan hati-hati." Setelah mengatakan itu, guru cantik yang di panggil Asagi-sensei itu keluar dari 10-A, kelas dimana Naruto dan Koneko saat ini berada.
Beberapa siswa ada yang langsung menggunakan kesempatan ini untuk mengobrol satu sama lain, ada juga yang langsung membuka kotak bekal miliknya dan menyantapnya saat itu juga, menghiraukan tatapan sweatdrop yang lainnya.
Sedangkan para siswi terlihat menyatukan meja untuk mengerjakan soal matematika Asagi-sensei bersama-sama mengingat itu cukup sulit.
Tetapi diantara itu semua, sepertinya hanya Naruto yang menatap catatan di depannya dengan sebutir keringat.
'B-Bagaimana ini? Aku tidak mengerti sama sekali!' Pikirnya dengan panik.
Dirinya tak ingin bergantung pada kakaknya terus menerus, tapi dia juga tak tau jika bertindak sendiri itu terkadang sedikit menyulitkan!
Gelagat dan gerak-geriknya yang panik membuatnya mendapat perhatian dari beberapa teman sekelasnya yang sweatdrop, ketika melihat murid paling terkenal di akademi mereka bertingkah seperti ini.
Sedikit harapan terlintas dalam pikirannya ketika melihat punggung kecil Koneko di depannya. Tangannya kemudian terjulur dan menyentuh pelan bahu mungil gadis itu.
Koneko yang merasakan tangan seseorang menyentuhnya kemudian menoleh dan mendapati Naruto menatapnya dengan penuh harap, membuatnya sedikit merona karena ketampanan dan kemanisannya hanya membuat itu lebih baik untuk di pandang.
"Naruto-sam-ah, N-Naruto-kun?" Koneko meralat ucapannya dengan sedikit gugup, lupa jika mereka ada di dalam kelas.
"U-Umm, apa kau bisa...membantuku mengerjakan ini?" Naruto bertanya dengan gugup sambil menggaruk sebelah pipinya menggunakan jari telunjuk kanannya.
Koneko hanya memiringkan kepalanya sebelum iris emasnya melihat catatan rapih Naruto di mejanya. Dia tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.
"Tentu." Jawabnya yang membuat Naruto tersenyum senang.
"K-Kalau begitu." Naruto mulai mengerjakan tugas itu bersama dengan gadis kucing tersebut.
Keduanya terlihat sangat akrab, dimana Naruto mudah untuk tersenyum dan tertawa kecil yang membuat gadis lawan bicaranya sedikit tersipu ketika melihat senyumannya.
Tanpa mereka sadari, kegiatan mereka tak luput dari perhatian para siswi yang sedikit cemberut karena kedekatan keduanya. Pada akhirnya beberapa dari mereka pun memutuskan untuk bergabung dengan kedua pasangan itu.
"Ara, keberatan jika aku bergabung?" Erica, salah satu primadona di kelas mereka dengan segera menyatukan mejanya dengan meja Naruto.
"Eh? Tentu!" Naruto hanya mengangguk sambil tersenyum pada gadis berdarah setengah Italia tersebut, membuatnya terkikik pelan. Berbeda dengan Koneko yang cemberut melihat tingkah Erica.
"Erica, curang itu tidak adil." Yuzuru, salah satu dari Yamai bersaudari berkata dengan datar tetapi juga ikut menyatukan mejanya dengan meja Naruto di tempat yang kosong.
Alis Koneko berkedut sekali.
"Yuzuru, kelakuanmu tidak sesuai dengan perkataanmu kau tau?" Nishimura berkata dengan sebutir keringat kecil di dahinya.
Kaguya hanya mengangguk sambil mendengus menyetujui ucapan Nishimura. "Lihat siapa yang berbicara, kan Naruto-kun?" Kaguya menyenggol bahu Naruto yang tertawa canggung ketika semakin banyak gadis mengurubungi mejanya saat ini.
Alis Koneko berkedut untuk kedua kali.
"Woah, catatanmu rapih sekali! Bahkan melebihi catatan Kokomi-chan!" Charlotte terlihat meletakkan sebelah tangannya di bahu pemuda itu.
"Eh benarkah?" Gadis yang dimaksud mendekat dan melihat isi catatan Naruto yang memang sangat rapih, bahkan tulisannya pun sangat bagus, seperti melihat tulisan pada komputer.
"Wah benar." Kokomi melihat catatan pemuda itu dengan kagum, dirinya sendiri terkenal dengan tulisan rapih dan indahnya di Akademi Kuoh, bahkan Sona saja terkadang pernah memintanya menulis tangan mengenai sebuah perihal sesuatu.
"Ufufu, setidaknya tidak ada atau - energi seperti Kokomi." Erica menyeringai kecil pada gadis berambut merah muda itu yang warna pipinya kini menyamai rambutnya.
"Erica!"
"Ara~"
Alis Koneko berkedut untuk ketiga kalinya.
Charlotte sedikit menutup sebelah matanya ketika merasakan rambut halus Naruto menyentuh pipinya dan itu cukup menggelitik baginya.
Penasaran, dia kemudian mencoba menyentuh surai hitam pemuda tampan itu, seketika kedua matanya sedikit melebar sebelum binar memenuhinya.
'Sangat lembut! Aku seperti memegang sebuah bulu saja--tidak, lebih dari ini!' Pikirnya dengan tak percaya.
"Naruto-kun, apa rahasiamu untuk mempunyai rambut selembut ini?!" Charlotte bertanya dengan penuh semangat dan terus memainkan rambut hitamnya.
Alis Koneko berkedut untuk keempat kalinya.
Kaguya yang penasaran karena reaksi berlebihan Charlotte juga memutuskan untuk ikut menyentuh rambut Naruto hanya untuk mendapatkan reaksi yang sama.
"I-Ini, rambutku saja tidak selembut ini!" Ucapnya dengan terkejut dan terus memainkan rambut pemuda itu dengan gemas bersama Charlotte.
Naruto sedikit mengerang dengan sebelah mata tertutup. "Mmm, bisakah kalian berhenti?" Pintanya dengan lemah kepada Charlotte dan Kaguya yang memainkan rambutnya.
""Tidak sampai kami tau rahasiamu!"" Balas mereka serempak.
Alis Koneko semakin banyak berkedut ketika kegiatan dihadapannya semakin menjadi-jadi, pada akhirnya gadis itu tidak dapat menahannya kembali dan ingin memarahi mereka namun sesuatu kemudian menyelanya lebih dulu.
"K-Kaichou."
Beberapa dari mereka sedikit terkejut dengan kedatangan Sona ke kelas mereka yang sudah dapat semua orang tebak jika dia mencari siapa disini.
Iris violetnya nampak mencari-cari ke sekeliling kelas untuk menemukan dimana adik imutnya berada, sebelum akhirnya dia menemukannya. Dimana saat ini Naruto tengah di kerubuni oleh gadis-gadis yang berjarak sangat dekat dengannya, bahkan dua diantara mereka terlihat bermain-main dengan rambut hitam indahnya.
Kini giliran alis Sona yang berkedut ketika menyaksikan adik imutnya sedang 'dianiaya' oleh gadis-gadis itu. Dia kemudian berjalan mendekat sambil tersenyum penuh makna yang dimaksudkan kepada gadis-gadis disana.
"Ara~, sepertinya kalian bersenang-senang bukan?" Ucapnya dengan nada datar walau bibirnya membentuk senyum.
Mereka langsung berkeringat kecil lalu memalingkan muka untuk berpura-pura tidak tau, terkecuali Charlotte dan Kaguya yang sedang asik dengan kegiatan mereka sebelum keduanya menyadari jika suasana sedikit sepi dan memutuskan berhenti untuk melihat sekitar, yang kemudian melihat Sona memberikan keduanya senyuman penuh makna, membuat mereka berkeringat dingin.
"A-Ah." Charlotte dengan gugup menghentikan kegiatannya dan memalingkan wajahnya begitupula Kaguya.
Naruto yang merasakan tangan mereka berhenti kemudian membuka matanya dan melihat mereka dengan bingung karena semuanya terlihat memalingkan muka sambil berkeringat kecil, sebelum dia menyadari jika kakaknya ada disini.
"Nee-chan?" Ucapnya sedikit kaget karena tidak menyadari kedatangan Sona.
Senyum dingin Sona menjadi hangat ketika mendengar ucapan manis adiknya. "Karena terlalu lama Nee-chan memutuskan untuk mengecekmu, ternyata kamu sedang terjebak bersama mereka disini." Ujarnya dengan lembut lalu berjalan mendekat ke mejanya.
Matanya sedikit melirik catatan Naruto sebelum dia mengambil lengan adiknya dan menuntunnya berdiri.
"Sekarang, ikut Onee-chan oke?" Sona tak menunggu jawabannya dan langsung membawa Naruto pergi tak lupa juga mengambil buku catatannya.
"E-Ehh? T-Tapi aku belum menyelesaikannya..." Naruto berusaha memberitahunya disela-sela tuntunan Sona.
"Tak apa, Onee-chan akan membantumu nanti." Balas Sona dengan lembut.
Naruto yang akhirnya mengalahpun membiarkan kakaknya membawanya pergi, dia kemudian sayup-sayup mendengar ucapan dari teman-temannya.
"Muu~, Sona-senpai pelit~" Kaguya cemberut melihat itu.
"Ara, tak kusangka Kaichou benar-benar protektif ufufu~" Erica hanya tertawa melihat tingkah Ketua Dewan Siswa mereka yang jarang terlihat tersebut.
"Padahal aku masih ingin memainkan rambutnya..." Gumam Charlotte, sedikit kecewa.
Koneko sendiri hanya merengut pelan, sembari diam-diam mengutuk teman-temannya karena mengganggu waktu berduaan--ah, waktu belajarnya dengan Naruto-sama-nya, serta mengutuk sifat protektif dan posesif Sona.
Dengan Sona, dia hanya mendengus mendengar ucapan siswi itu sembari menyeret Naruto bersamanya.
'Tunggu sampai mereka melihat mode yandere Kaa-sama setelah ini.' Sona merinding ketika mengingat ibunya memasuki mode menyeramkan itu.
Selain posesif, ibunya juga sepertinya terobsesi dengan putranya sendiri. Oh ayolah, mana ada seorang ibu yang menyimpan banyak sekali boneka rajutan miniatur putranya sendiri di dalam ruangan khusus?!
Bahkan bukan hanya boneka rajutan, melainkan dakimakura, poster, koleksi foto, dan sebagainya yang berhubungan dengan Naruto ada lengkap di ruangan itu!
Ayahnya sendiri yang mengetahui itu hanya berkeringat dingin dan berkata padanya dengan panik.
'Sayang, h-hiraukan saja itu oke? Jika i-ibumu tau, kita akan dalam bahaya!'
Itulah yang Minato ucapkan padanya dan pada akhirnya Raven mengetahui jika mereka bertiga tau tentang 'Ruangan Khusus' Naru-chan miliknya karena Serafall memergoki ibunya secara tak sengaja memasuki ruangan yang menurutnya mencurigakan tersebut.
Katakan saja, Raven langsung memasuki mode yandere dan terus bergumam layaknya psycho dengan terus mengucapkan...
'Aku akan menghapus ingatan kalian ufufu~'
Mengingat itu membuat Sona semakin merinding. Untung saja mereka bertiga berhasil membujuk Raven bahwa mereka tidak akan memberitahu Naruto mengenai ini.
Dari sanalah pertaruran khusus tak tertulis dalam keluarga mereka tercipta, yaitu jangan pernah menyinggung Raven mengenai Naruto.
Tapi, bahkan dengan ada aturan tak tertulis seperti itu, baik Minato dan Serafall terkadang tak sengaja melanggarnya yang menyebabkan mereka menerima hukuman dari Raven. Sona menghela napasnya, tak menyadari tatapan bingung Naruto karena tingkahnya itu.
Mengapa tidak ada yang normal dalam keluarganya? Pikirnya dengan lelah.
Oh Sona, seandainya kau sadar jika kau juga termasuk dalam apa yang kau maksud dengan tidak normal itu.
.
TBC
.
Note :
Pertama-tama dan paling utama, gua ucapin terimakasih buat yang selalu setia nunggu nih fict walau apdetnya selalu lama dan ga nentu. Ada beberapa faktor yang bikin nih fict lambat apdetnya, terutama waktu luang yang gua miliki. Tau lah kalo orang pulang kerja tuh gimana, rasanya megang hp aja agak males karna cape wkwk, bawaannya pengen istirahat tidur aja, apalagi kalo udah rebahan.
Dan untuk chapter ini, sebenernya gak ada yang spesial sih, cuman gua sengaja buat chapter ini agak halus karena ya memang sengaja aja. Tadinya pengen masukin Xenovia/Irina, tapi gua pikir mungkin bisa nanti lah, antara next chap/nextnya lagi.
Bagaimanapun juga, di fict ini scene pertarungan gak bakal terlalu banyak. Yah, ada pertarungan, tapi gak terlalu sering, ada kalanya banyak mungkin pas konfliknya udah terlihat jelas. Jadi untuk awal sekarang, masih adem suasananya wkwk. Entah menurut kalian seru/menarik atau ngga itu terserah pada penilaian kalian sendiri, karena gua juga buat fict hanya untuk kesenangan pribadi dan FFN untuk perantara berbagi kesenangan itu.
Tentang Raven, search aja Raven RWBY, Dan sifat posesifnya dia juga gua adain karena dia emang sifatnya agak begitu juga rata-rata di Crossover Naruto x RWBY wkwk. Satu lagi, Raven disini juga cukup kuat, dan bagaimana kekuatannya di fict ini akan terungkap sepanjang cerita.
Lalu, karakter yang jadi temen Naruto itu gua ambil dari beberapa sumber dan mereka cuma unsur pelengkap kelas aja. Kayak, Charlotte (Tantei Shindeiru), Kaguya/Yuzuru (DaL), Erica (Campione), Nishimura (Ansatsu Kyoushitsu), Kokomi (GI), dan akan ada lagi beberapa nanti.
Mungkin segini dulu aja, maaf kalo gua belum bales reviewnya karena AN-nya dah kepanjangan juga wkwk. Pengen di bales lewat PM cuman agak ribet juga bales review lewat PM kalo pake chrome di hp karna mode desktop FFN dah ilang. Pakai apk pun kayaknya sistem review apk sama yang di web agak beda, soalnya di email gua masuk tapi di apk nya ga ada.
Makasih yang masih setia nunggu, baca, fav, foll. Sehat selalu untuk kita dan keluarga.
See you~
