Bagi Namjoon, hari itu terasa sangat panas sekali. Meskipun ia bekerja di coffee shop yang berAC super, rasanya ia ingin sekali melepas semua pakaiannya dan berbaring di lantai untuk mendapatkan hawa dingin yang ia mau.

"Panas sekali." Keluhnya pada Seokjin, manajer sekaligus pemilik kedai kopi itu. Seokjin dengan apron hitamnya menyusun beberapa gelas kopi yang baru saja dicuci Taehyung, bocah pekerja keras yang hanya bisa bekerja dengan benar di bagian cuci mencuci.

"Begitulah hyung. Memang suasananya sedang tidak mendukung." Sahut Taehyung dari balik pintu ruangan yang menghubungkan meja kasir dan gudang minuman. Ia kemudian berdiri dan menatap kerumunan pelanggan yang memang sedikit over hari ini. Seokjin hanya tersenyum singkat dan berkata, "Jangan patah semangat ya." Ia memberikan senyum semangat dan melanjutkan pekerjaannya mengeringkan gelas yang baru dicuci.

"Semangat sih semangat, tapi AC supernya perlu diganti hyung." gerutunya lagi. Ia memasang wajah tidak suka dan kemudian merasa salah tingkah saat melihat pelanggan yang tanpa disadari telah berdiri didepannya sejak tadi.

"Hai." ucap laki-laki itu. Matanya yang sipit seperti tersenyum kepada Namjoon dan membuat perut Namjoon serasa diisi oleh ribuan kupu-kupu yang ingin migrasi.

"Oh... Silahkan pesanannya..."

Namjoon lalu tersenyum ramah kepada laki-laki didepannya. Ia kemudian menatap laki-laki itu dan mendapati tatapan balik dan juga senyuman pula.

"Ice americano satu. Take away." Jimin menyebutkan pesanannya dan kemudian mengeluarkan dompet untuk membayar tagihan pesanan.

"Seokjin hyung, ice americano satu. Take away ya." Teriaknya. Ia lalu kembali tersenyum kepada Jimin selagi mengambil uang kembalian Jimin dari mesin kasir.

"Terima kasih." balas Jimin menerima uang kembalian itu. Bibirnya yang merah terlihat sangat padu dengan kulit putihnya. Bibir itu mengerucut sedikit saat Jimin kesusahan memasukkan uang kedalam dompetnya dan Namjoon langsung merasa tubuhnya menjadi semakin panas. Sialan, pikirnya.

Beberapa saat kemudian, Seokjin memberikan pesanan Jimin yang kemudian diambil Jimin dengan senyuman lebar. Matanya menatap Seokjin dan Namjoon bergantian lalu menundukkan kepalanya.

"Terima kasih banyak." ucap Namjoon saat Jimin beranjak untuk pergi dari Coffee shop tersebut.

Namjoon berdehem ketika melihat pinggul Jimin bergerak saat ia dengan lincah menggeser badannya untuk menghindari seseorang yang masuk ke coffee shop itu dengan langkah terburu-buru.

"Damn."

Menoleh, Namjoon mendapati Seokjin telah berdiri disampingnya dan juga melihat apa yang baru saja ia lihat. Ia kemudian menendang kaki kiri Seokjin.

"Aw! Sialan, apa-apan sih kau ini?" Seokjin menggerutu sambil memegang bagian kakinya yang baru saja di tendang Namjoon. Tidak menghiraukan Seokjin, mata Namjoon mengarah kembali ke arah Jimin yang telah memegang kenop pintu masuk kedai kopi tersebut. Jimin lalu menoleh sebentar, menatap Namjoon, dan memberikan kedipan singkat kepada Namjoon.

"Holy shit..." Namjoon mengucapkan itu tanpa sadar. Ia tidak percaya apa yang baru saja dilihatnya.

"Pantatnya tidak akan bolong jika kau tatapi seperti itu Joon. Matamu tidak punya laser." Yoongi yang ternyata tadi berpapasan dengan Jimi menyenggol lengan Namjoon dan menyuruhnya untuk geser.

"Selanjutnya!" teriak Yoongi menyuruh pelanggan selanjutnya untuk memesan minuman mereka.

Namjoon lalu berdecak tidak puas.

"Tidak heran kau langsung naksir dia sejak pertama kali datang dulu hyung." Taehyung berteriak dari gudang sambil mengatakan itu.

"Diam kau."

Namjoon lalu mengasak rambutnya sambil tersenyum senang. Ia lalu menggigit kecil bibir bawahnya dan memegang bajunya seperti orang bodoh. Sampai-sampai, Seokjin jengah sendiri melihatnya dan melemparnya sebungkus penuh botol plastik kopi. Namjoon hanya mengaduh sedikit tapi tetap terus tersenyum. Bertemu crushnya dihari yang panas seperti ini sudah menjadi penyegaran yang sangat berarti baginya.