My life is a joke
-Namjoon.
Taehyung baru saja mengundurkan diri. Yoongi juga sedang ambil jatah cuti selama seminggu. Keluarga Yoongi bilang Yoongi terlalu lama meluangkan waktunya diluar dan mereka ingin memiliki Family Time sendiri dengannya. Namjoon merasa tidak terlalu berat hati mengijinkan sahabatnya mengambil waktu cuti yang panjang. Toh sahabat karibnya itu sudah berbaik hati membantu kedai kopinya selama dua tahun belakangan ini. Sementara Seokjin, dia hanya berlagak seperti biasanya. Datang ke kedai selalu saja terlambat.
Pukul 10.00 pagi. Harusnya pagi dimulai dengan semangat baru kan? Nyatanya, Namjoon menghembuskan nafas dengan kasar saat melihat kekacauan di kedai kopi yang tidak sempat ia dan pegawai lainnya bereskan sebelum pulang. Memang sih, petang lalu pelanggan terlalu ramai dan membuat semua orang kewalahan sehingga beberapa pekerjaan tidak terlaksana. Ia harus membereskan kekacauan itu sebelum meletakkan tulisan 'Open' didepan pintu kedai. Dalam hati, Namjoon sekarang agak menyesali keputusannya dalam membebastugaskan beberapa temannya. Namun, di sisi lain Namjoon sadar bahwa ia harus memiliki hati seluas samudera kepada teman-temannya itu karena berkat mereka lah kedai kopinya bisa ramai seperti sekarang ini.
Tring~
Kedai kopi Namjoon memiliki banyak khas tersendiri. Salah satunya adalah lonceng kecil yang terletak dibalik pintu kedai, seperti pesona kedai kopi jaman dulu. Dan kini, lonceng itu berbunyi menandakan adanya seseorang yang masuk ke dalam kedai. Tanpa membalikkan tubuhnya yang sedang mengelap meja kedai, Namjoon menunjuk ember disudut ruangan.
"Sudah datang Jin hyung? Tolong ambilkan ember itu dong. Aku sibuk sekali. Tolong ya."
Namjoon lalu melanjutkan pekerjaannya dengan telaten. Ia mendengar langkah kaki dan sekilas melihat dari ujung mata ada yang berjalan mendekati ember tersebut. Tapi anehnya, ia tidak mendengar ocehan Seokjin sedikitpun. Biasanya, Seokjin adalah orang yang cerewet sekali bila dimintai tolong.
"Ini embernya." Ucap orang itu. Namjoon yang sedang mengepel lantai pun terdiam. Ia lalu berbalik dan terkejut saat mendapati laki-laki yang sedari lama ditaksirnya kini hadir dihadapannya.
"Bagaimana caramu masuk?" Hanya itu yang terucap dari bibir Namjoon.
Jimin lalu tertawa. "Ya dari pintu depan lah. Kan tidak dikunci."
"Ehem." Namjoon lalu berdehem dan dalam hati merasa malu karena menanyakan hal yang begitu bodoh.
"Mohon maaf ya, kedai belum buka untuk pelanggan." Lanjut Namjoon apa adanya. Memang benar sih, kedai belum siap untuk menerima pelanggan sedini ini. Apalagi menerima Jimin yang sangat manis ini sebagai pelanggan, ucap Namjoon dalam hati. Ia lalu mencoba mengingat apakah ia sudah mandi pagi itu dan kemudian merasa kakinya bergetar oleh rasa malu karena ingat pagi ini ia langsung terburu-buru menuju kedai tanpa membersihkan diri terlebih dahulu.
"Maaf kalau aku datang terlalu pagi. Kau terlihat kesulitan, jadi aku masuk untuk menawarkan diri. Apakah aku boleh bekerja di kedai ini?" Ucap Jimin sambil tersenyum canggung.
Namjoon yang sedari tadi melebarkan sudut bibirnya dengan bebas pun kemudian mengedipkan kelopak matanya dengan bodoh.
"Ya?" Tanyanya tidak mengerti.
Jimin lalu mengambil tangkai sapu pel yang dipegang Namjoon dan kemudian membantu Namjoon mengepel seluruh lantai kedai dengan cepat.
"Ya? Berarti aku diterima. Aku mulai bekerja hari ini ya bos!" Ucap Jimin dengan semangat.
Namjoon hanya terdiam mematung sambil memelototi Jimin yang dengan cepat mulai membersihkan seluruh ruangan. Namjoon tiba-tiba merasa sakit kepala. Tidak ada angin, tidak ada hujan. Bocah manis yang biasa ditaksirnya kini merekrut dirinya sendiri untuk bekerja di kedai Namjoon. Tapi ya tidak apa lah, pikir Namjoon. Meskipun pertemuan mereka hari itu terdengar konyol, diam-diam Namjoon berharap mereka bisa jodoh kedepannya.
Dari Namjoon yang bekerja siang malam tanpa henti di sebuah kedai kopi anti-mainstream bernama Kedai Kopi.
~~~
