Hal yang tidak pernah aku duga.

-Yoongi

Namjoon pernah mengalami patah hati yang sangat parah ketika mantan pacarnya yang dipacarinya selama lima tahun tiba-tiba mengaku telah menyelingkuhinya dan memutuskannya saat itu juga. Namjoon merasa sangat terpukul dengan kejadian tersebut dan merasa trauma berpacaran dengan seorang perempuan. Itulah yang kemudian membuatnya tertarik untuk pergi ke gay bar tidak jauh dari rumah sewanya.

Saat itu, Namjoon yang masih berumur 19 tahun merasa sangat liar dan merasa sangat berbeda dari biasanya. Dengan sedikit rasa tidak percaya diri, ia mulai berkenalan dengan banyak pria di bar tersebut dan akhirnya bertemu dengan Yoongi yang secara kebetulan bekerja sebagai bartender di bar tersebut.

"Hyung!" Ucap Namjoon setengah mabuk dan menelungkupkan wajahnya diatas meja. "Diselingkuhi dan diputusi pacar membuatku sadar bahwa aku bukan apa-apa."

Yoongi saat itu berusia 23 tahun. Selama 3 tahun ia bekerja di tempat itu, baru Namjoon yang memanggilnya dengan sebutan hyung. Rata-rata pelanggan memanggilnya dengan sebutan si manis. Hari-hari yang dilalui Yoongi selama bekerja terasa datar. Saat itulah Namjoon datang ke kehidupannya.

"Hyung? Bodoh, memangnya aku hyungmu." Balas Yoongi sambil menyiapkan minuman untuk pelanggan lain.

"Hyung, aku ini tidak bodoh, tampan, dan punya segalanya. Kenapa perempuan itu masih meninggalkanku?" Namjoon bertanya lagi. Kali ini wajahnya mengarah pada Yoongi yang ternganga mendengarkan kepercayaan dirinya yang meluap-luap itu.

"Sombong sekali kau bocah." Balas Yoongi merasa ilfeel.

Pertemuan mereka malam itu diakhiri dengan Namjoon yang menangis terisak-isak dan Yoongi yang harus mengangkat telepon dari kakak laki-laki Namjoon karena bocah itu sendirinya masih menangis dan tidak mampu mengangkat teleponnya yang berdering tiap satu menit sekali. Tak lama kemudian, beberapa orang suruhan kakak Namjoon datang dan menggotong Namjoon yang masih menangis. Lalu hari-hari Yoongi diisi dengan kedatangan bocah tersebut yang masih selalu menangis di akhir hari sampai pada hari dimana Namjoon mengajaknya untuk berhenti di tempat itu dan bekerja padanya. Yoongi tidak berpikir dua kali untuk mengiyakan permintaan bocah tersebut.

"Hari ini ayah dan kakak laki-lakiku akan datang. Mohon bantuannya ya semua!"

Namjoon mengumumkan hal tersebut lalu kemudian membungkukkan badannya segera setelah mereka melakukan briefing pagi itu di kedai. Yoongi hanya mengiyakan dan kemudian segera melanjutkan pekerjaannya. Ia melihat Jimin berjalan mendekati Namjoon dan melihat mereka berdua membicarakan hal-hal yang tidak ia ketahui. Ia membuang muka dan melanjutkan pekerjaannya.

Seokjin mendekatinya dan memberinya segelas air. Mengernyitkan dahi, Yoongi tidak paham apa maksud Seokjin.

"Untuk menyegarkan pagimu." Ucap Seokjin. Yoongi lalu mengambil air itu dan meminumnya dengan cepat.

"Thanks. Tahu saja kau." Balasnya singkat seraya memberikan gelas itu kembali ke Seokjin.

"Wajahmu tidak bisa berbohong tahu."

Yoongi hanya tersenyum dan kemudian melanjutkan pekerjaannya. Ia lalu melirik lagi ke arah Namjoon dan Jimin. Keduanya terlihat masih berbincang sambil tertawa. Membuang napasnya yang terasa berat, Yoongi tanpa sadar menghentikan gerakan tangannya yang sedang bekerja. Hari itu, Yoongi tidak pernah menduga bahwa dunia bisa menjadi lebih buruk dari dugaannya. Bertahun-tahun sudah ia bekerja bersama Namjoon. Meniti dan membangun karir bersama di dunia perkopian ini. Ia sudah sampai pada titik dimana tertawa bersama Namjoon ketika kedai tutup adalah hal yang paling menyenangkan harinya.

Ia tidak pernah menduga bahwa dikemudian hari, kebersamaannya bersama Namjoon akan terasa menyenangkan.

Ia tidak pernah menduga bahwa hatinya akan jatuh kepada bocah laki-laki yang menganggapnya hyung itu.

Ia tidak pernah menduga bahwa patah hati benar-benar akan membuatnya merasa bukan apa-apa, seperti kata Namjoon di hari pertama mereka bertemu.